Rumi Institute
Open in Telegram
2 604
Subscribers
-224 hours
-127 days
-3630 days
Posts Archive
2 604
Jumah Mubarak
Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat . . .
(QS al-An’am [6]:96)
Ada saat Tuhan membelah malam di dalam diri. Ada malam yang tidak turun dari langit, melainkan tumbuh diam-diam di dalam hati.
Mata kita terbuka, tetapi hati masih terlelap. Kita berjalan di antara cahaya dunia, namun belum melihat siapa yang menyalakan cahaya. Lalu Tuhan datang sebagai Fāliq al-Iṣbāḥ—Yang membelah kegelapan dan menyingkapkan fajar.
Sebagaimana Dia membelah malam hingga cahaya pagi perlahan menampakkan wajahnya, demikian pula Dia dapat membelah gelapnya jiwa hingga sesuatu yang selama ini tersembunyi mulai tampak di dalam hati.
Kata Maulana Rumi dalam Ghazalnya:
Wahai Yang Mahamulia,
dari-Mu datang kesejukan subuh
dan cahaya pagi yang membangunkan jiwa.
. . .
Sebab Engkaulah
yang memberi tanpa meminta kembali,
membuka tanpa menyimpan kunci,
menyingkapkan cahaya
kepada hati yang telah lama menanti pagi.
Mungkin selama ini kita mengira, kitalah yang mencari pintu menuju singgasana-Nya. Padahal sebelum langkah kita sampai ke pintu, Dia telah lebih dahulu membukakan pintu itu. Kita hanya perlu terjaga. Sebab azan fajar bukan hanya suara yang memanggil tubuh untuk bangun dari tidur. Ia adalah panggilan rahasia kepada ruh, “Bangkitlah, tidakkah engkau ingin melihat cahaya?”
Maka hakikat perjalanan ruhani bukan mencari cahaya, melainkan membiarkan Tuhan membelah malam yang selama ini kita pelihara di dalam diri. Sebab ketika Dia menjadi Fāliq al-Iṣbāḥ dalam hati, kegelapan tak perlu diusir. Ia akan pecah dengan sendirinya. Dan dari celah-celahnya, fajar akan datang—membawa seribu pintu, serta kunci-kunci yang sejak lama telah berada di tangan kita sendiri.
el-Jabir
2 604
Jumah Mubarak
Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi . . .
(QS al-An’am [6]:79)
Ibrahim memandang bintang, lalu bulan, kemudian matahari. Ia melihat cahaya yang datang dan pergi, terbit lalu tenggelam. Namun hatinya tidak berhenti pada cahaya yang tampak. Ia terus berjalan, hingga berkata, “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi.”
Rumi pun dalam Ghazalnya berbisik kepada hati:
Jangan letakkan wajahmu pada wajahnya,
agar wajahmu dari Sang Raja segala raja
menerima cahaya keagungan,
seperti matahari menerima cahaya.
Maulana Rumi sedang mengingatkan, jangan terlalu lama menatap wajah dunia hingga lupa kepada Dia yang menciptakan segala wajah. Jangan berhenti pada bulan, sebab bulan hanya menerima cahaya. Jangan terpukau oleh matahari, sebab matahari pun bukan sumber cahaya.
Apa yang kita kagumi di dunia hanya jejak semata. Keindahan adalah tanda. Cahaya adalah isyarat. Wajah-wajah yang kita cintai hanya cermin yang sesaat memantulkan keindahan-Nya.
Maka perjalanan seorang pencari bukanlah meninggalkan dunia, melainkan menembus dunia. Ia melihat bunga, tetapi terus berjalan mencari Sang Pemberi keindahan. Ia melihat matahari, tetapi mencari Sang Pemberi cahaya. Ia mencintai wajah, tetapi tidak berhenti pada wajah. Ia memandang segala sesuatu, tetapi hatinya hanya menghadap kepada Yang Esa.
Sebab yang membuat kita tersesat bukan karena kita melihat terlalu banyak, melainkan karena kita berhenti pada apa yang kita lihat. Maulana Rumi berkata, “Apalah arti matahari, jika dari pancaran keindahan-Nya, seratus matahari dan bulan memperoleh cahaya?”
el-Jabir
2 604
Pernahkah engkau mendengar suara atau musik, sampai air matamu mengalir ?
Nada, suara dan irama merupakan jalan untuk menyentuh kembali rasa yang telah lama terlupakan.
Saatnya menghadirkan hati, pikiran dan tubuh untuk mendengar kejujuran pengalaman di dalam diri.
Datanglah dengan segala rasamu. Alunan handpan & singing bowls akan menemani setiap langkahmu—agar tubuh beristirahat dan napas menemukan ritmenya kembali.
Di antara satu nada dan keheningan setelahnya, kamu akan menemukan kedamaian *_dan CINTA_* yang ternyata selalu Ada di dalam dirimu 🤍
*Jumat, 21 Agustus 2026*
14.00–16.00 WIB
📍 Sehati Art Center, Bintaro
With
🌷el-Jabir — Handpan Practitioner
🌷Saski — Singing Bowl Facilitator
Investasi 222k/person
BCA 2370094805
an Sacha Saskia
Complimentary for every soul joining the journey :
🍵Ice matcha latte
💧pristine mineral water
🌿freshcare double inhaler
Contact Person
0818934993 (saski)
2 604
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 🌿
Ada satu ayat dalam Surat At-Taghabun
yang sering mengejutkan orang ketika pertama kali membacanya:
"Sesungguhnya di antara pasangan dan anak-anakmu
ada yang menjadi musuh bagimu."
Sekilas terdengar keras —
seolah Al-Qur'an mengajak kita menjauhi keluarga.
Tapi para sufi membacanya dengan lensa yang berbeda.
"Musuh" di sini bukan berarti orang yang membencimu.
Ia adalah sesuatu yang menghalangimu —
tanpa kamu sadari, tanpa bermaksud buruk,
bahkan dengan cara yang terasa sangat menyenangkan.
Ketika cinta kepada keluarga menjadi begitu besar
hingga kita mulai membuat keputusan
bukan berdasarkan apa yang benar,
tapi berdasarkan apa yang menyenangkan mereka —
di sanalah "permusuhan" itu terjadi.
Bukan permusuhan mereka terhadap kita.
Tapi permusuhan keterikatan kita
terhadap perjalanan jiwa kita sendiri.
Para sufi tidak mengajarkan untuk tidak mencintai keluarga.
Mereka mengajarkan cara mencintai
yang tidak membuat kita kehilangan diri.
Inilah salah satu pembahasan yang menanti di kajian ini.
✨ KELAS TAFSIR SUFI SURAT AT-TAGHABUN
🌿 Bersama: Muh. Nur Jabir — Direktur Rumi Institute
📅19, 26 Agustus, 2, 9 September 2026 (4 Pertemuan)
⏰ Pukul 20.00 WIB | 📍 Via Zoom Meeting
📌 Pendaftaran: bit.ly/tafsir-atTaghabun
🗳️ Infak Sukarela: Bank BCA 7740563518 (a.n. Ali Abdussalam)
📞 Informasi: 081574015177
Wahai jiwa — adakah yang tanpa disadari, menghalangimu?
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 🌿
Admin Rumi Institute
2 604
Jumah Mubarak
Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.
(QS al-Hajj [22]:46)
Iblis tidak selalu datang dengan wajah yang menakutkan. Kadang ia datang mengenakan jubah. Ia berbicara tentang taubat, mengisahkan kematian, mengutip hikmah, bahkan mengajak kita mengingat Tuhan. Tetapi bukan karena ia mencintai kebenaran, tetapi karena ia tahu, kebenaran adalah pakaian yang paling mudah membuat manusia lengah.
Seperti kisah seekor burung dalam kitab Matsnawi, burung itu tidak tertipu oleh rerumputan. Ia tertipu oleh kesalehan yang dipakai sebagai penyamaran. Sejak awal, hati burung itu telah berbisik, "Ini bukan rumput." Namun bisikan itu tenggelam oleh beberapa butir biji yang berkilau di tanah.
Begitulah nafsu. Ia tidak memadamkan cahaya hati. Ia hanya menawarkan sesuatu yang lebih nyaman dipandang. Sedikit demi sedikit, mata berpaling dari cahaya, lalu hati mulai meragukan apa yang semula telah diketahuinya.
Rumi seakan berkata, "Jangan hanya bertanya, apa yang diucapkannya. Lihatlah, dari mana ucapan itu dilahirkan." Sebab satu kalimat yang lahir dari hati yang bersih, mampu menghidupkan jiwa. Sedangkan seribu nasihat yang lahir dari nafsu, hanya akan menambah lelap manusia.
Jadi siapakah pemburu itu? Tak hanya orang lain, tetapi juga diri kita sendiri. Ia adalah diri kita yang lihai berbicara tentang ikhlas, namun diam-diam mencari pujian. Yang fasih menyebut nama Tuhan, tetapi masih ingin dipandang manusia. Yang mengajak orang lain meninggalkan dunia, sementara diam-diam memungut serpihan-serpihannya. Betapa halus penyamarannya. Bahkan dirinya sendiri sering tidak menyadari bahwa ia sedang berburu.
Maka para arif tidak hanya memohon ilmu, mereka juga memohon hati yang bening. Sebab ilmu dapat dihafal oleh siapa saja. Tetapi hanya hati yang bersih yang mampu membedakan antara cahaya Ilahi dan cahaya yang sedang menyamar. Dan hanya hati yang hidup, yang mampu mengenali Sang Kekasih.
el-Jabir
2 604
Jumah Mubarak
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah.
(QS al-Baqarah [2]:207)
Kedekatan kepada Ilahi, tak pernah diukur dari seberapa lama kita berdiri di hadapan Sang Raja. Ia diukur dari seberapa dalam kita mengenal isi hati Sang Raja.
Maulana Rumi mengisahkan hamba sahaya bernama Ayaz yang mengabdi kepada Sang Raja. Dalam kisahnya, bahkan Ayaz mengalahkan tiga puluh para amir raja dalam pengabdian.
Jika tiga puluh amir mendengar perintah. Ayaz mendengar maksud. Jika mereka menangkap kata-kata. Ayaz menangkap kehendak. Jika mereka menyelesaikan tugas. Ayaz menyempurnakan amanah.
Itulah sebabnya, satu langkah Ayaz lebih bernilai daripada tiga puluh langkah mereka. Sebab yang menggerakkan Ayaz bukan sekadar akal, melainkan cinta.
Orang yang belum mengenal, hanya menunggu perintah demi perintah. "Apalagi yang harus kulakukan?" "Apa lagi yang harus kutanyakan?" Ia berjalan sejauh kata-kata mampu menuntunnya.
Tetapi seorang pecinta telah belajar membaca bahasa yang tidak terucapkan. Sebelum perintah selesai diucapkan, hatinya telah berangkat. Sebelum isyarat diberikan, jiwanya telah memahami. Karena cinta selalu lebih dahulu mengerti daripada lisan.
Demikianlah hubungan seorang pejalan dengan Tuhannya. Ia tidak hanya melaksanakan apa yang diperintahkan. Ia menjaga apa yang dikehendaki. Ia tidak hanya bertanya, "Apa hukum-Nya?" Tetapi juga bertanya, "Apa yang dicintai-Nya?" Sebab syariat mengajar tangan untuk taat. Sedangkan makrifat mengajar hati untuk peka.
Seorang pejalan selalu berusaha menjaga hatinya selaras dengan kehendak Ilahi. Ketika hati telah selaras dengan Kehendak-Nya, perintah tidak lagi terasa sebagai beban. Ia berubah menjadi kerinduan.
Ketaatan tidak lagi lahir karena takut akan hukuman, tetapi malu jika terlambat memenuhi panggilan Kekasih. Itulah maqam yang diisyaratkan Maulana Rumi melalui Ayaz. Bukan tentang seorang pelayan yang lebih cerdas daripada para menteri. Melainkan tentang sebuah hati yang telah begitu dekat dengan Rajanya, sehingga ia memahami kehendaknya bahkan sebelum kehendak itu selesai diucapkan.
el-Jabir
2 604
Jumah Mubarak
Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki,
(QS Ali ‘Imran [3]:169)
Kita mengira kematian adalah akhir perjalanan. Padahal bagi para pecinta, kematian hanya saat, ketika sang burung menemukan langitnya kembali. Yang kita sebut kehilangan, mereka sebut perjumpaan. Yang kita tangisi sebagai perpisahan, mereka rayakan sebagai kepulangan.
Maulana Rumi selalu mengingatkan kita, “Keluarlah dari penjara "aku", agar engkau memasuki singgasana-Nya yang tak bertepi.” Selama manusia masih menggenggam dirinya sendiri, ia akan selalu takut kehilangan. Tetapi ketika dirinya telah tenggelam dalam Tuhan, apa lagi yang dapat direnggut darinya?
Qur'an melukiskan keadaan itu dengan begitu indah, "Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [QS 3:170]
Ayat itu tidak mengatakan bahwa mereka sibuk memandang surga. Tidak pula mengatakan mereka sibuk menghitung kenikmatan. Yang pertama kali disebut adalah “kegembiraan”. Betapa hati mereka telah dipenuhi oleh Tuhan, sehingga bahkan setelah meninggalkan dunia, cinta mereka kepada saudara-saudaranya di bumi belum pernah padam. Mereka bergembira menantikan saat orang-orang yang masih berjalan di dunia akan menyusul dalam keselamatan, tanpa rasa takut dan tanpa kesedihan.
Beginilah sifat cinta. Ia tidak berhenti di batas kematian. Ia tetap mengalir dari alam ruh kepada alam dunia. Inilah yang ingin diisyaratkan Maulana Rumi ketika berkata, “Jiwa akan bergabung dengan jiwa-jiwa yang suci, di sebuah negeri yang tidak lagi mengenal pertikaian.”
Di sana tidak ada iri. Tidak ada persaingan. Tidak ada lagi "aku" dan "milikku". Yang ada hanya lautan kasih yang memantulkan Cahaya Ilahiyah. Maka jangan terlalu takut jika dunia mengambil sesuatu dari diri kita. Jangan terlalu cemas jika kehidupan meluruhkan satu demi satu apa yang selama ini kita genggam.
Barangkali Tuhan sedang mengajari kita melepaskan, agar tangan kita cukup lapang untuk menerima apa yang tidak pernah musnah. Sebab yang benar-benar hidup bukanlah mereka yang masih berjalan di atas bumi. Yang benar-benar hidup adalah mereka yang telah hidup di dalam Allah. Dan siapa yang telah hidup bersama-Nya, tak lagi mengenal kematian. Ia hanya berpindah dari satu taman menuju taman yang lebih indah nan luas.
el-Jabir
2 604
Jumah Mubarak
Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
(QS Ali ‘Imran[3]:167)
Menurut Maulana Rumi, di dalam diri setiap manusia ada seorang wazir. Ia tidak mengenakan mahkota, tidak duduk di singgasana, dan tidak memerintah dengan senjata. Ia berbicara dengan suara yang sangat halus. Ia menyamar sebagai niat baik, tampil sebagai kebajikan, dan sering kali memakai pakaian agama.
Di hadapan orang lain, ia tampak sebagai penasehat yang saleh. Namun di ruang hati, ia adalah pembisik yang menjerat. Karena itulah para sahabat Nabi tidak hanya bertanya tentang bagaimana memperbanyak ibadah. Mereka bertanya tentang sesuatu yang lebih dalam: bagaimana nafsu yang tersembunyi dapat menyusup ke dalam amal yang tampaknya suci.
Mereka ingin mengetahui bagaimana seseorang dapat berdiri dalam shalat, namun diam-diam menyembah dirinya sendiri. Bagaimana seseorang dapat berbicara tentang Tuhan, tetapi yang dicari sesungguhnya adalah pujian manusia. Bagaimana seseorang dapat menangis dalam doa, tetapi air mata itu masih mengalir untuk kepentingan ego yang belum mati.
Banyak orang mencari cahaya, tetapi sedikit yang berani melihat bayangan dirinya sendiri. Banyak yang berbicara tentang cinta Ilahi, tetapi sedikit yang bersedia membakar segala kepentingan pribadi di dalam api cinta itu.
Selama "aku" masih menjadi pusat perhatian, selama itulah Tuhan belum sepenuhnya menjadi tujuan. Para arif berkata, musuh yang paling sulit dikalahkan bukanlah musuh yang berada di luar benteng. Musuh yang paling sulit dikalahkan adalah yang duduk di dalam benteng dan berbicara dengan suara kita sendiri.
Ketika tabir-tabir itu akhirnya tersingkap, seorang hamba akan melihat bahwa selama ini yang menghalanginya dari Tuhan bukanlah dunia, bukan manusia lain, bukan pula setan. Melainkan bayangan dirinya sendiri yang berdiri di antara dirinya dan ILahi. Saat bayangan itu lenyap, hati menjadi jernih. Saat hati menjadi jernih, cahaya memancar. Dan ketika cahaya memancar, tidak ada lagi yang tersisa selain Dia.
Muh. Nur Jabir
2 604
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 🌿
Besok, Surat Al-Hadid akan kita buka kembali.
Di empat pertemuan berikutnya,
kita akan menyelami bagian-bagian yang belum sempat kita sentuh —
Tentang cahaya yang berjalan di depan orang-orang beriman,
dan bagaimana hati bisa menjadi salah satu yang memilikinya.
Tentang pertanyaan yang Allah tujukan langsung ke hati kita —
yang para sufi sebut sebagai cermin paling jujur dalam Al-Qur'an.
Tentang besi yang diturunkan dari langit,
dan apa artinya bagi setiap hal berat yang kita pikul dalam hidup.
Dan tentang kebebasan batin —
yaitu hati yang tidak goyah oleh apa pun
yang datang dan pergi di dunia ini.
Empat pertemuan. Setiap Rabu malam.
Mulai 15 Juli, via Zoom.
Terbuka untuk peserta baru maupun yang sudah mengikuti sesi pertama.
✨ KELAS TAFSIR SUFI SURAT AL-HADID
Sesi Kedua — Melanjutkan dari Sesi Sebelumnya
🌿 Bersama: Muh. Nur Jabir — Direktur Rumi Institute
📅 Setiap Rabu — 15, 22, 29 Juli & 5 Agustus 2026
⏰ Pukul 20.00 WIB | 📍 Via Zoom Meeting
🔢 4 Pertemuan — Sesi Kedua
📌 Pendaftaran: bit.ly/tafsir-alhadid-dua
🗳️ Infak Sukarela: Bank BCA 7740563518 (a.n. Ali Abdussalam)
📞 Informasi: 081574015177
Bagi yang baru bergabung: tersedia akses rekaman sesi pertama.
_Wahai jiwa — jangan sampai terlewat._
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 🌿
Admin Rumi Institute
2 604
Jumah Mubarak
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu . . .
(QS Ali ‘Imran [3]:133)
Tuhan telah memanggil, sementara jiwa masih menunda, "Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu." Kata Maulana Rumi dalam Ghazalnya, “Alangkah baiknya jika engkau menyingkirkan kemalasan itu.” Keduanya menuntun kita pada satu rahasia batin bahwa, jalan menuju Tuhan bukan terhalang oleh jauhnya tujuan, melainkan oleh lambannya langkah hati.
Maulana Rumi berpesan dalam Ghazalnya:
Nyalakanlah api,
batu pemantik ada di tanganmu,
Yusuf-mu bersamamu,
sekalipun engkau berada di dasar sumur.
Yusuf yang kita cari telah berada dalam diri, meskipun kita merasa masih berada di dasar sumur. Api yang akan menyalakan perjalanan pun telah ada di tangan. Yang diperlukan hanya keberanian untuk melangkah.
Maulana Rumi mengingatkan, hati yang membeku tidak akan mencair dengan angan-angan, melainkan dengan langkah. Sebagaimana es meleleh karena gerak dan panas, demikian pula hati hidup kembali ketika bersegera memenuhi panggilan-Nya.
Jadi bersegeralah. Setiap tarikan menuju Ilahi adalah kemenangan. Setiap detik yang digunakan untuk mengingat-Nya adalah perjalanan pulang. Sebab Sang Raja yang telah memelihara kita saat kita jauh, telah menyiapkan karunia yang tak terlukiskan ketika kita tiba di hadirat-Nya.
Maka bersegeralah. Bukan dengan kaki, melainkan dengan hati. Bukan menuju tempat yang jauh, melainkan menuju Dia yang sejak awal lebih dekat daripada diri kita sendiri.
Muh. Nur Jabir
2 604
Jumah Mubarak
Katakanlah, “Wahai Ahli Kitab! Marilah kita menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun . . .
(QS Ali ‘Imran [3]:64)
Banyak orang mendengar seruan itu sebagai ajakan untuk berbicara. Sebagian mendengarnya sebagai undangan untuk menyepakati sebuah keyakinan. Namun para pecinta mendengarnya sebagai sesuatu yang lain: panggilan untuk pulang.
Sebab kata “ta‘ālaw” bukan sekadar "datanglah", melainkan "naiklah". Naiklah dari tanah menuju langit, dari diri menuju Tuhan, dari keramaian nama-nama menuju kesatuan yang tak bernama.
Ketika seruan itu hadir dalam batin jiwa, Maulana Rumi menjawab dalam Ghazalnya:
Kami berasal dari langit,
akan beranjak ke langit.
Kami berasal dari lautan,
akan kembali menuju lautan.
Seluruh perjalanan manusia, sesungguhnya bukan perjalanan menuju sesuatu yang baru. Ia hanyalah perjalanan kembali: dari cabang menuju akar, dari ombak menuju lautan, dari huruf menuju makna, dan dari "aku" kepada "Dia".
Orang-orang arif menyadari, berhala tidak selalu terbuat dari batu. Ada berhala yang terbuat dari pujian. Ada berhala yang terbuat dari ambisi. Ada berhala yang terbuat dari ketakutan. Bahkan ada berhala yang bersembunyi di balik kata "aku". Betapa banyak orang telah menghancurkan berhala di luar dirinya, tetapi masih bersujud kepada dirinya sendiri.
Maka “ta‘ālaw" Marilah naik.
Mari kita tembus sempitnya jalan yang lebih halus dari lubang jarum, meninggalkan rumah-rumah khayalan yang selama ini disebut "milikku", melepaskan nama, bentuk, dan segala penanda yang memisahkan.
Muh. Nur Jabir
2 604
Jumah Mubarak
“Wahai Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu . . . ”
(QS Ali ‘Imran [3]:55)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang peristiwa Isa as, tetapi juga tentang perjalanan ruh manusia: ada yang diangkat menuju Tuhan, ada yang ditenggelamkan oleh keterikatannya kepada dunia.
Qur'an mengisahkan dua gerak yang berlawanan. Yang satu adalah Isa yang diangkat menuju Ilahi, yang lain adalah Qarun yang ditelan bumi bersama segala yang dibanggakannya. Keduanya bukan sekadar kisah masa lalu. Keduanya adalah rahasia yang terus hidup di dalam diri setiap insan.
Di dalam hati kita ada Isa yang rindu pulang kepada asalnya. Ia ingin terbang meninggalkan sangkar dunia, melepaskan beban-beban yang mengikat ruh. Ia mengenal bahwa dunia persinggahan semata, bukan tujuan. Ia mendengar panggilan yang datang dari langit ruhani, "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu."
Namun di dalam diri yang sama, ada pula Qarun yang sibuk menghitung miliknya. Ia membangun rumah-rumah bagi keakuannya, mengumpulkan pujian untuk kebesarannya, menyangka bahwa keselamatan terletak pada apa yang dapat digenggam oleh tangannya.
Isa ingin naik.
Qarun ingin memiliki.
Isa melihat Tuhan.
Qarun melihat dirinya.
Karena itu seluruh perjalanan ruhani sesungguhnya adalah pergulatan antara dua tarikan tersebut.
Setiap kali seorang hamba melepaskan kesombongan, Isa dalam dirinya naik selangkah. Setiap kali ia membanggakan dirinya, Qarun dalam dirinya tenggelam semakin dalam.
Kata Maulana Rumi dalam Matsnawi:
Betapa banyak kawan dan orang-orang besarmu.
Sekarang saya bertanya, “Di mana?”
Kau jawab, “Mereka telah pergi!”
Teman baikmu sudah naik ke Surga tertinggi,
kawan jahatmu telah tenggelam ke dasar bumi.
Akhirnya di antara semuanya,
kau tanpa penolong dan tanpa kawan,
seolah hanya api yang tersisa dari sebuah karavan.
O, Kawan yang gagah berani!
Pegang erat-erat kainNya,
hanya Dia yang tak butuh dari atas dan bawah.
Muh. Nur Jabir
2 604
Jumah Mubarak
Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedang aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?” Dia berfirman, “Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.”
QS Ali ‘Imran [3]:40
Ketika Nabi Zakaria as bertanya, “Bagaimana mungkin?” Berarti ia sedang memandang dari jendela sebab-sebab. Tetapi Tuhan menjawab dengan membuka pintu yang lebih luas, "Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."
Di hadapan kehendak-Nya, usia tua bukan penghalang, kemandulan bukan penghalang, bahkan kemustahilan pun bukan penghalang. Sebab Tuhan tidak tunduk kepada hukum yang Dia ciptakan; hukum-hukum itulah yang tunduk kepada-Nya.
Maulana Rumi menyebutnya sebagai “karunia cinta”—saat rahmat Ilahi datang menyentuh hati, seluruh perhitungan akal menjadi luluh. Tidak lagi terpaku pada apa yang mungkin dan tidak mungkin, melainkan memandang kepada Dia yang mampu menjadikan segala sesuatu terjadi.
Orang yang hidup dengan sebab akan selalu bertanya, “Bagaimana mungkin?” Namun orang yang mabuk oleh cinta akan berkata, “Jika Dia menghendaki, apa yang mustahil?”
Di situlah cinta menjadi jalan menuju tauhid: ketika hati berhenti bersandar kepada kemampuan dirinya dan mulai bersandar kepada Kehendak Yang Maha Kuasa. Sebab pada akhirnya, bukan sebab yang melahirkan keajaiban, melainkan Tuhan yang setiap saat berfirman kepada alam semesta: “Kun! Jadilah.”
Kata Maulana Rumi:
Orang-orang berkata,
“Semoga akhirnya menjadi baik dan terpuji.”
Namun bagi kami,
akhir yang baik telah datang
itulah karunia cinta.
Aku menutup mulutku,
tetapi cinta telah membuka sayapnya
di dalam hati para hamba Tuhan.
Karunia cinta
tak dapat dibatasi oleh apa pun.
Di sini hanya ada keesaan cinta,
tidak ada dua.
Entah engkau yang ada,
atau cinta yang ada,
atau karunia cinta itu sendiri.
Muh. Nur Jabir
2 604
Jumah Mubarak
Katakanlah, “Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu nyatakan, Allah pasti mengetahuinya.”
(QS Ali ‘Imran [3]:29)
Di hadapan manusia, kita masih bisa menyembunyikan luka, dosa, bahkan tipu daya hati. Terkadang kita menyembunyikan semua itu dengan kata-kata, pakaian kesalehan, bahkan dengan air mata. Tetapi di hadapan Ilahi, rahasia batin lebih terang daripada matahari di siang hari.
Tipu daya batin itu kadang bukan dosa besar yang tampak, tetapi rasa “aku”, merasa suci, merasa lebih tinggi, merasa aman dari pengawasan Ilahi. Dan justru penyakit batin seperti itu paling sulit dikenali oleh diri sendiri.
Namun betapa lembut Tuhan menutupi aib hamba-Nya. Anehnya, manusia sering menjadikan tabir kasih itu sebagai keberanian untuk terus melampaui batas. Padahal setiap dosa yang tidak segera melahirkan istighfar perlahan akan mengeraskan hati.
Lihatlah Adam. Ketika tergelincir, ia tidak bersembunyi di balik alasan. Ia turun dari singgasana keakuan menuju tanah kerendahan, lalu mengetuk pintu ampunan dengan air mata pengakuan.
Sebab orang yang benar-benar mengenal Tuhan bukanlah yang merasa paling suci, melainkan yang paling malu ketika menyadari bahwa seluruh isi hatinya selalu terbuka di hadapan Sang Maha Mengetahui segala rahasia.
Kata Maulana Rumi dalam Matsnawi:
Apa pun tipu daya dan makar di hatimu,
begitu terang bagi kami seperti siang hari.
Jika kami menutupimu karena kebaikan kami kepada hamba,
mengapa kau masih melampaui batas dengan wajah tanpa malu?
Belajar dari ayahmu, ketika Adam jatuh dalam dosa,
dengan sukarela ia turun ke singgasana kerendahan.
Saat ia menyaksikan Sang Maha Mengetahui segala rahasia,
ia bangkit berdiri melantunkan istighfar.
Muh. Nur Jabir
2 604
Eid Mubarak
Hati seorang mukmin adalah Ka‘bah yang tak terbuat dari batu. Ia dibangun dari kerinduan, ditegakkan dengan rahasia, dan diselimuti dengan cahaya makrifat Ilahi.
Langit yang luas dengan gugusan bintangnya tak sanggup memuat-Nya, bumi dengan seluruh gunung dan lautnya tak mampu menanggung-Nya, namun hati seorang hamba yang bening dapat menjadi tempat turunnya rahmat Ilahi dan tajalli-Nya. Maka betapa agung rumah itu, dan betapa malangnya orang yang merobohkannya dengan kelalaian.
Segala lintasan yang melintas dalam hati bagaikan para peziarah yang bertawaf di sekeliling Ka‘bah. Ada lintasan yang datang dengan pakaian dzikir, menundukkan kepala di hadapan Yang Mahaagung, lalu pergi dengan aroma ketenangan dan kedamaian. Ada pula lintasan yang datang dengan gaduh dunia, membawa debu syahwat dan suara kesia-siaan.
Tetapi Tuhan dengan kasih-Nya tidak segera menghukum hati, hanya karena lintasan yang lewat di dalamnya. Sebab lintasan hanyalah musafir; ia datang dan pergi. Selama tangan dan lidah belum menjadikannya nyata, Tuhan masih membuka pintu maaf-Nya. Bukankah para peziarah di Ka‘bah juga datang dengan berbagai keadaan: ada yang khusyuk, ada yang lalai, ada yang sibuk dengan selain-Nya? Namun rumah suci itu tetap menerima putaran mereka semua.
Maka, jagalah hati sebagaimana kita menjaga tanah haram. Jangan biarkan berhala kecil bernama riya, dengki, dan kesombongan tinggal di dalamnya. Sebab hati diciptakan bukan untuk menampung dunia yang fana, melainkan untuk menerima kehadiran Sang Kekasih.
Di dalam Ka‘bah ada Hajar Aswad yang menjadi tempat baiat, di dalam hati manusia juga ada rahasia sebagai tempat turunnya ma‘rifat dan penyaksian. Di sanalah Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada hamba, tanpa rupa, tanpa arah, tanpa bagaimana.
Maka orang arif tidak sibuk menghias wajahnya, tetapi membersihkan rumah batinnya. Karena ia tahu: Tuhan tidak memandang bentuk tubuh, melainkan melihat apakah rumah hati itu masih dipenuhi hiruk-pikuk dunia atau telah lapang untuk cahaya-Nya.
Kata Maulana Rumi:
Cermin hati harus dibersihkan.
Zat karatnya adalah keakuan,
debunya adalah dunia.
Jika engkau bersihkan,
cahaya-Nya akan tampak jelas di sana.
Muh. Nur Jabir
2 604
Jumah Mubarak
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami.”
(QS Ali ‘Imran [3]:8)
Ada luka yang lebih sunyi daripada kehilangan dunia, yaitu ketika hati dijauhkan dari Tuhan setelah pernah mengenal cahaya-Nya. Karena itulah para pecinta tidak pernah membanggakan ilmu, ibadah, atau tangisan mereka. Mereka tahu, hati berada di tangan-Nya. Hari ini bercahaya, esok bisa gelap bila rahmat-Nya dicabut.
Maka mereka berdoa, “Ya Tuhan, jangan palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk.”
Maulana Rumi melihat manusia sebagai jiwa yang terus terancam oleh dirinya sendiri. Tubuh dapat mengoyak ruh, ego dapat mencuri cahaya batin, bahkan pakaian kemuliaan dapat berubah menjadi tirai kesombongan. Terkadang tangan kita sendiri memakan kaki kita: akal melayani nafsu, dan hidup menjauh dari asalnya.
Tidak ada penderitaan yang lebih pahit selain terpisah dari-Nya. Sebab tanpa perlindungan Allah, segala sesuatu hanyalah kegelisahan yang saling menghancurkan.
Karena itu para arif tidak meminta dunia, melainkan penjagaan: agar hati tetap lembut, jiwa tetap hidup, dan langkah tidak dipisahkan dari orang-orang yang ridha kepada-Nya.
Kata Maulana Rumi dalam Matsnawi, Kitab I:
Tak ada derita yang lebih pahit
selain berpisah denganMu.
Tak ada sesuatu kecuali
keterguncangan tanpa perlindunganMu.
Pakaian kami merampok pakaian kami.
Raga kami mengoyak jiwa kami.
Seolah tangan kami memakan kaki kami.
Apa ada jiwa yang selamat tanpa perlindunganMu?
Muh. Nur. Jabir
2 604
Jumah Mubarak
Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki.
(QS Ali ‘Imran [3]:6)
Tuhan ingin berpesan, bahwa manusia sejak mula bukanlah milik dirinya, melainkan titipan rahasia Ilahi yang dibentuk dalam kelembutan kasih-Nya.
Tuhan menghadirkan gambaran tentang tangan tak terlihat yang menenun wujud manusia di dalam kegelapan rahim. Sebelum mata mengenal cahaya dunia, sebelum lidah mampu menyebut nama-Nya, Tuhan telah lebih dahulu memeluk manusia dalam samudra penciptaan. Rahim ibu menjadi mihrab pertama tempat takdir dituliskan, tempat ruh disiapkan untuk menempuh perjalanan menuju-Nya.
Kata Maulana Rumi dalam Matsnawi, Kitab III:
Dia menganugerahkan bentukmu di dalam tubuhnya,
Dia memberikan kemudahan dan kebiasaan padanya selama kehamilan.
Ibumu menyangka kau bagian yang tersambung dengannya,
Rencana Ilahi memisahkan apa yang telah tersambung.
Tuhan menyiapkan ribuan kreasi dan rancangan,
sehingga ibumu jatuh hati padamu.
Maulana Rumi memandang rahim bukan sekadar tubuh, melainkan taman kasih Ilahi. Seorang ibu mencintai anaknya karena Tuhan meniupkan cinta ke dalam dadanya. Air susunya mengalir karena Tuhan melembutkan hatinya. Bahkan kegelisahan dan pengorbanannya selama mengandung adalah bentuk ibadah sunyi yang ditanamkan Tuhan dalam fitrahnya.
Sang ibu menyangka janin itu bagian dari dirinya, padahal Tuhan sedang menyiapkan rahasia perpisahan: memisahkan yang menyatu agar seorang anak belajar menempuh jalan hidupnya sendiri.
Karena itu, hak ibu begitu agung; sebab pada dirinya terpancar jejak rahmat Ilahi. Namun Rumi mengingatkan, di balik cinta ibu ada Cinta yang lebih purba dan lebih abadi. Tuhanlah yang menciptakan ibu, menumbuhkan kasih di hatinya, menciptakan payudara dan susu, serta mempertemukan ayah dan ibu dalam satu takdir kehidupan. Maka berbakti kepada ibu sejatinya adalah membaca tanda-tanda Tuhan pada wajah kasih sayang manusia.
Seorang pejalan memandang ibunya dengan cinta, tetapi melalui cinta itu ia memandang Tuhan. Ia mencium tangan ibunya, namun hatinya bersujud kepada Dia yang menenun kehidupan di balik tangan itu. Sebab pada akhirnya, seluruh perjalanan cinta bermuara kepada satu hakikat:
bahwa kita datang dari Tuhan, dibesarkan oleh kasih-Nya, dan akan kembali tenggelam dalam pelukan-Nya.
Muh. Nur Jabir
