𓂃ׄ ʝ᮫ִ⍺݂֘ꬼִֺꬼִֺ⍺݂֘ȶׅ֠ꭎ᮫ֹᥣֹׄ ƙ᮫࣪ჩִ֠ꭎ᮫ֹᥣֹׄժּׄ ៹
Open in Telegram
𝅄ֺ 🐿️ αssαlαmu'αlαikum, hαii αhlαn wα sαhlαn ! 𓂃 jαngαn menunggu kemαtiαn bαru menjαdi orαng bαik, tp jαdilαh orαng bαik dαn tunggulαh kemαtiαn. since ⦂ 27.04.2021 contαct : @jkanythingBot
Show more2 904
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days
Posts Archive
Mengibaskan Seprei Saat Hendak Tidur
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullaah bin ‘Umar, telah menceritakan kepadaku Sa’iid bin Abu Sa’iid Al-Maqburiy, dari Ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian hendak tidur di pembaringannya, maka hendaklah ia mengibaskan kasurnya dengan kainnya karena sesungguhnya ia tidak tahu apa yang berada di atasnya sepeninggalnya, kemudian ucapkan, bismika Rabbi wadha’tu janbiy wa bika arfa’uhu in amsakta nafsiy farhamhaa wa in arsaltahaa fahfazhhaa bimaa tahfazha bihi ‘ibaadakash shaalihiin (Dengan namaMu Wahai Tuhan, aku baringkan punggungku dan dengan namaMu aku mengangkatnya, dan jika Engkau menahan diriku maka rahmatilah aku, dan jika Engkau melepaskannya, maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga hamba-hambaMu yang shalih).”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 6320; Shahiih Muslim no. 2716]
Mendahulukan Kaki Kanan Saat Memakai Sandal Dan Kaki Kiri Saat Melepasnya
Dalilnya diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhaariy rahimahullah :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا انْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ لِيَكُنْ الْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullaah bin Maslamah, dari Maalik, dari Abu Az-Zinaad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian memakai sandal, maka hendaklah memulai dengan kaki yang kanan, dan apabila melepasnya hendaklah memulai dengan kaki yang kiri, agar yang kanan menjadi yang pertama kali mengenakan dan terakhir melepasnya.”
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 5856; Shahiih Muslim no. 2099]
Membaca Sayyidul Istighfar
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Allahumma anta robbii laa ilaha illa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu. Abu-u laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzambii. Fagh-firlii fainnahu laa yagh-firudz dzunuuba illa anta.
Artinya:
“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku pada-Mu (yaitu aku akan mentauhidkan-Mu) semampuku dan aku yakin akan janji-Mu (berupa surga untukku). Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku. Oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (Dibaca 1 x)
Faedah: Barangsiapa mengucapkan dzikir ini di siang hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati pada hari tersebut sebelum petang hari, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa yang mengucapkannya di malam hari dalam keadaan penuh keyakinan, lalu ia mati sebelum pagi, maka ia termasuk penghuni surga.
Menu Makanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
An-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu menyebutkan kondisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Saya melihat Nabi kalian melipat perutnya seharian penuh, tidak mendapatkan makanan yang dapat mengisi perutnya walaupun itu kurma yang paling jelek”. (H.R Muslim). ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami adalah keluarga Muhammad selama sebulan kami tidak menyalakan api kecuali hanya sekedar kurma dan air”. (HR. al-Bukhari). ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu berkata, “Keluarga Muhammad semenjak tinggal di Madinah tidak pernah kenyang dari makanan yang terbuat dari gandum selama tiga hari berturut-turut sampai beliau meninggal”. (HR. al-Bukhari).
Keseharian Rasulullah di Rumahnya.
Dari al-Aswad radhiallahu ‘anhu berkata, “saya bertanya kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya ?”. ‘Aisyah menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu membantu keluarganya, jika waktu shalat telah masuk beliau berwudhu dan pergi untuk shalat”. (HR. Muslim). Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Rasulullah menjahit bajunya, sendalnya dan melakukan apa yang selayaknya dikerjakan para lelaki di rumahnya” (HR. Ahmad dengan sanad Shahih). ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ditanya, “Apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumahnya?” Dia menjawab, “Beliau adalah manusia selayaknya manusia biasa, beliau membersihkan kotoran yang menempel pada bajunya, memerah susu dan mengurus dirinya”. (Lihat: Shahih al-adab al-mufrod: 419).
Perabot Rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Dari Tsabit berkata, “Anas bin Malik mengeluarkan tempat minum yang terbuat dari kayu dan sangat tebal serta dibalut dengan besi”. Anas berkata: “wahai Tsabit ini adalah tempat minum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau minum air, sari buah, madu dan susu darinya”. (HR. Tirmidzi). Ibnu Qoyyim rahimahullah dalam kitab “Zad al-Ma’aad” berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai bejana dari batu yang digunakan untuk wudhu, tempat mencuci baju dari kuningan, nampan dari kuningan, tempat sisir, tempat celak, nampan yang terdiri dari 4 sisi dan dibawa 4 lelaki, mangkok, karpet yang ujung-ujungnya terdapat anyaman, Sa’ad bin Zuroroh menghadiahkannya kepada beliau”.
Tempat Tidur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di atas alas dan terkadang di atas kulit, tikar, lantai, kasur dan terkadang diatas kain hitam. Tempat tidur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbuat dari tali yang dianyam, begitu juga bantalnya. Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Saya menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu beliau sedang tidur di atas tikar yang membekas pada pinggangnya, saya menangis”. Beliau berkata, “Apa yang menjadikanmu menangis ?” saya berkata, “Raja Kisro dan Qoisar tidur diatas kain sutra sedang engkau tidur diatas tikar”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perumpamaanku dan dunia ini adalah tidak lain seperti pengendara yang berlindung di bawah pohon kemudian dia meninggalkannya”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad Shahih). Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian mengatakan demikian, karena tempat tidur Kisro dan Qoisar akan berada di neraka, sedang tempat tidurku ini pada akhirnya akan berada di surga”.
Kamar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kamar-kamar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibangun di atas pelepah kurma, tembok-temboknya terbuat dari batu-batu yang disusun dengan tanah liat, atapnya terbuat dari pelepah kurma. al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Saya masuk rumah istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa khilafah Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu, saya dapat memegang atapnya dengan kedua tanganku”. (Lihat: Shahih adab al-mufrod: 450). Dari Dawud bin Qois berkata, “Saya melihat kamar-kamar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbuat dari pelepah kurma yang terbalut dengan serabut, saya perkirakan lebar rumah ini, antara pintu kamar dengan pintu rumah kira-kira 6 atau 7 hasta, saya mengukur luas rumah dari dalam 10 hasta, dan saya kira tingginya antara 7 dan 8, saya berdiri dipintu ‘Aisyah saya dapati kamar ini menghadap Maghrib (Maroko)”. (Lihat: Shahih adab al-mufrod: 451).
Lemah lembut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalh figur yang penuh kasih sayang dan kelemahlembutan. Allah ta’ala berfirman,
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128)
Kasih sayang dan kelemahlembutan beliau nampak pada Hadits-hadits berikut:
1. Kisah Arab Badui yang Kencing di Masjid
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tatkala kami dimasjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang A’rabi (Arab dusun) kencing di masjid, maka para sahabat menghardiknya, “Mah mah (yaitu pergi/tinggalkan)”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jangan kalian hardik, biarkan dia (jangan putus kencingnya)”.
Parasahabat membiarkan A’rabi tersebut untuk menunaikan kencingnya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya masjid-masjid tidak boleh untuk kencing, tetapi dipergunakan untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur’an”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat-sahabatnya, “Sungguh kalian diutus untuk memudahkan dan tidak untuk menyulitkan, guyurlah air kencing tadi dengan satu ember air”.
A’rabi itu berkata, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati selain kami”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sungguh engkau telah mempersempit perkara yang luas.”(Muttafaqun ‘alaihi)
Jujur
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Sesungguhnya kejujuran itu mengantarkan pada kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan ke surga. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa berkata jujur hingga dia disebut sebagai "shiddiq" dan sesungguhnya dusta itu mengantarkan pada kejahatan dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka. Sesungguhnya seseorang yang senantiasa berdusta dia akan dituliskan di sisi Allah sebagai "kadzdzab" (sang pendusta)". (HR. Bukhari dan Muslim)
Anas RA berkata, "Dalam hampir setiap khutbahnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam selalu berpesan tentag kejujuran. Beliau bersabda, 'Tidak ada iman bagi orang yang tidak jujur. Tidak ada agama bagi orang yang tidak konsisten memenuhi janji'." (HR Ahmad, Bazzar, Thobroni)
Rosululloh bersabda ;" tinggalkanlah urusan yang meragukanmu, lakukanlah suatu pekerjaan yang tak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran itu menyebabkan ketenangan sedangkan dusta menyebabkan kebimbangan( keraguan.)" (HR.Turmudzi)
Dari hadits tentang kejujuran yang tertera diatas dapat disimpulkan bahwa kejujuran itu sangatlah istimewa, bahkan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sendiri menyampaikanya hampir di setiap khutbahnya.
Sayidatina ‘Aisyah menceritakan “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.”
Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang, ‘Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?’ ‘Tidak, ya Umar.. Alhamdulillah, aku sihat dan segar.’ ‘Ya Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergeselan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit…’ desak Umar penuh cemas. Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat untuk menahan rasa lapar baginda. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda. ‘Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?’ Lalu baginda menjawab dengan lembut, ‘Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin,menjadi beban kepada umatnya?’ ‘Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.’
Cinta Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada Istri
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat mencintai dan lembut pada istri-istrinya. Berikut adalah contoh sikap luar biasa beliau yang harus diteladani oleh setiap suami:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah menyusahkan istrinya. Jika pakaiannya koyak, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menampalnya sendiri tanpa menyuruh isterinya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu bertanggung jawab mencari nafkah untuk keluarganya. Contoh: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak segan membantu istrinya di dapur. Contoh: Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap dimasak untuk dimakan, sambil tersenyum Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sering memanggil istrinya dengan panggilan mesra. Contoh: Aisyah r.a. dipanggil dengan panggilan Khumaira (yang kemerah-merahan) oleh beliau.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mendesak istrinya menyediakan makanan. Contoh: suatu ketika, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pulang pada waktu pagi. Beliau pasti sangat lapar saat itu. Tetapi dilihatnya tidak ada apapun untuk sarapan, bahkan yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka beliau bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit pun tergambar raut kesal di muka beliau.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat marah ketika melihat seorang suami sedang memukul istrinya. Contoh: suatu saat beliau melihat seseorang memukul istrinya. Beliau menegur, “Mengapa engkau memukul istrimu?” Orang itu menjawab, “Isteriku sangat keras kepala! Sudah diberi nasihat dia tetap bandel juga, jadi aku pukul dia.” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata lagi, “Aku tidak menanyakan alasanmu, aku bertanya mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu dari anak-anakmu?”
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tetap lembut dan santun kepada istri. Rasulullah selalu memperlakukan istrinya sangat istimewa sekalipun beliau adalah pemimpin umat Islam tertinggi, bahkan saat itu adalah pemimpin terbesar di dunia.
Cara Tidur Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam
Tidur diawal malam
Di antara tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidur di awal malam, berdasarkan hadits dari sahabat Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat isya dan berbincang-bincang setelahnya (setelah shalat Isya’).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, “Hal itu karena tidur sebelum shalat Isya
akan menyebabkan ia tertidur sampai keluar dari waktu shalat Isya. Sedangkan begadang setelah shalat Isya’ dapat menyebabkan tertidur hingga tidak melaksanakan shalat Shubuh, terlambat dari waktu shalat yang afdhal (utama), atau tidak bisa melaksanakan dari shalat malam.” (Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari)
Begadang di malam hari diperbolehkan jika ada maslahat (kebaikan/manfaat)-nya. Al-Imam Al-Bukhari meletakkan sebuah bab dalam kitab Shahih-nya dengan judul “Bab Begadang dalam rangka Menuntut Ilmu”.
Al-Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Umar bin Al-Khaththabradhiyallahu ‘anhu:
“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begadang bersama Abu Bakar membicarakan urusan kaum muslimin, dan aku bersama mereka.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)
Melakukan shalat witir sebelum tidur
Dianjurkan bagi orang yang khawatir tidak bisa melaksanakan shalat witir sebelum subuh agar melaksanakanya sebelum tidur. Hal ini berdasarkan hadits dari sahabat Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu:
“Kekasihku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berwasiat kepadaku dengan tiga perkara: berpuasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Muslim)