en
Feedback
𓂃ׄ ʝ᮫ִ⍺݂֘ꬼִֺꬼִֺ⍺݂֘ȶׅ֠ꭎ᮫ֹᥣֹׄ ƙ᮫࣪ჩִ֠ꭎ᮫ֹᥣֹׄժּׄ ៹

𓂃ׄ ʝ᮫ִ⍺݂֘ꬼִֺꬼִֺ⍺݂֘ȶׅ֠ꭎ᮫ֹᥣֹׄ ƙ᮫࣪ჩִ֠ꭎ᮫ֹᥣֹׄժּׄ ៹

Open in Telegram

𝅄ֺ 🐿️ αssαlαmu'αlαikum, hαii αhlαn wα sαhlαn ! 𓂃 jαngαn menunggu kemαtiαn bαru menjαdi orαng bαik, tp jαdilαh orαng bαik dαn tunggulαh kemαtiαn. since ⦂ 27.04.2021 contαct : @jkanythingBot

Show more
2 904
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days
Posts Archive
Repost from Ahmed_Bafagih
• Wajib menyemarakkan perayaan Maulid Nabi, khususnya di zaman ini • Pembacaan maulid, termasuk ibadah yang paling mulia & pe
+1
• Wajib menyemarakkan perayaan Maulid Nabi, khususnya di zaman ini • Pembacaan maulid, termasuk ibadah yang paling mulia & penguat iman

Repost from Ahmed_Bafagih
Berkenaan momen kelahiran Nabi ﷺ Berikut kuis ringan perihal Nabi ﷺ, dengan harapan semakin mengenal & merindu pada Beliau 🤍 https://forms.gle/txfSM1Whu3wb1drU9

Ada 2 hal yang membuat orang tua durhaka pada anaknya. Ingin tau apa saja? Yuk simak dalam video ini; https://youtu.be/0mXaog1S3lA

Kesederhanaan Rasulullah Suatu hari ‘Umar bin Khaththab r.a. menemui Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam di kamar beliau, lalu ‘Umar mendapati beliau tengah berbaring di atas sebuah tikar usang yang pinggirnya telah lapuk. Jejak tikar itu membekas di belikat beliau, sebuah bantal yang keras membekas di bawah kepala beliau, dan jalur kulit samakan membekas di kepala beliau. Di salah satu sudut kamar itu terdapat gandum sekitar satu gantang. Di bawah dinding terdapat qarzh (semacam tumbuhan untuk menyamak kulit). Air mata ‘Umar bin Khaththab r.a. meleleh. Ia tidak kuasa menahan tangis karena iba dengan kondisi pimpinan tertinggi umat Islam itu. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam melihat air mata ‘Umar r.a. yang berjatuhan, lalu bertanya “Apa yang membuatmu menangis, Ibnu Khaththab?” ‘Umar r.a. menjawab dengan kata-kata yang bercampur-aduk dengan air mata dan perasaannya yang terbakar, “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis, sedangkan tikar ini membekas di belikat Anda, sedangkan aku tidak melihat apa-apa di lemari Anda? Kisra dan Kaisar duduk di atas tilam dari emas dan kasur dari beludru dan sutera, dan dikelilingi buah-buahan dan sungai-sungai, sementara Anda adalah Nabi dan manusia pilihan Allah!” Lalu Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab dengan senyum tersungging di bibir beliau, “Wahai Ibnu Khaththab, kebaikan mereka dipercepat datangnya, dan kebaikan itu pasti terputus. Sementara kita adalah kaum yang kebaikannya ditunda hingga hari akhir. Tidakkah engkau rela jika akhirat untuk kita dan dunia untuk mereka?” ‘Umar menjawab, “Aku rela.” (HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Ahmad) — Dalam riwayat lain disebutkan: ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sebaiknya Anda memakai tikar yang lebih lembut dari tikar ini.” Lalu, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab dengan khusyuk dan merendah diri, “Apa urusanku dengan dunia? Perumpamaan diriku dengan dunia itu tidak lain seperti orang yang berkendara di suatu hari di musim panas, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi) — Betapa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam sangat sederhana. Ia menyadari bahwa akhirat jauh lebih berharga daripada dunia dan seisinya.

Belas Kasih Rasulullah Suatu saat di bulan Ramadhan para sahabat duduk-duduk bersama Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam. Tiba-tiba seorang laki-laki datang dengan panik dan berkata, “Ya Rasulullah, celaka saya!” Rasulullah bertanya, “Apa yang terjadi padamu?” Laki-laki itu menjawab, “Saya telah melakukan hubungan badan dengan istri, padahal saya sedang berpuasa Ramadhan.” Lalu Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya, “Apakah ada seorang hamba sahaya yang kamu merdekakan?” Dia menjawab, “Tidak.” Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya lagi, ‘Mampukah kamu melakukan puasa selama dua bulan berturut-turut?” Kembali dia menjawab, “Tidak.” Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya lagi, “Apakah kamu mampu memberi makan sebanyak enam puluh orang miskin?” Lagi-lagi dia menjawab, “Tidak.” Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam terdiam sejenak lalu pergi. Para sahabat dan laki-laki itu terdiam. Tak lama kemudian, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam datang membawa sekeranjang kurma seraya bertanya, “Mana orang yang tadi bertanya itu?” Laki-laki itu menjawab, “Saya di sini.” Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Ambillah kurma ini dan bersedekahlah dengannya.” Laki-laki itu bingung. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah sedekah ini harus saya berikan kepada orang yang lebih miskin daripada saya? Demi Allah, tidak ada satu keluarga pun di antara dua perkampungan ini yang lebih miskin daripada saya!” Mendengar jawaban dengan kata-katanya ini, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam tertawa hingga tampak gigi gerahamnya. Beliau tersenyum, lalu bersabda, “Jika demikian, berilah keluargamu makanan dengan kurma ini.”

Repost from Ahmed_Bafagih
• Bersholawat dalam keadaan lalai / tidak sadar. • Apakah bersholawat harus khusyu’..?
+1
• Bersholawat dalam keadaan lalai / tidak sadar. • Apakah bersholawat harus khusyu’..?

Memuliakan Tetangga Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Jibril tidak henti-hentinya berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, hingga aku beranggapan bahwa ia akan mewarisi” ( Mutafaq Alaih) Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah memuliakan tetangganya.”(Mutafaq Alaih)”"

Memberikan hadiah, karena hal ini dapat menumbuhkan kecintaan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai wanita-wanita muslimah, jangan sekali-kali seorang tetangga menganggap remeh untuk memberikan hadiah kepada tetangganya walaupun Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah menyatakan bahwa hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas memberikan isyarat ditekankannya memberikan hadiah walaupun dengan sesuatu yang sedikit/kecil, dan ditekankannya menerima pemberian/hadiah walaupun sedikit/tidak berarti. (Fathul Bari 5/244, 245) Hadiah dapat memberikan pengaruh secara maknawi, bukan materi semata. Sungguh yang namanya hadiah walaupun kecil/sedikit akan dapat menumbuhkan cinta dan menghilangkan kedengkian.

Mudah dalam memberikan bantuan, menziarahinya, menjenguknya di kala sakit, dan berbagai bentuk kebaikan walaupun hanya sekedar menampakkan wajah yang berseri-seri kepadanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun sekedar menampakkan wajah yang berseri-seri ketika bertemu saudaramu.”(HR. Muslim no. 2626, dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)

Poin Penting!!! Poinnya adalah terdapat perbedaan antara kemaksiatan yang mendatangkan penyesalan dengan kemaksiatan yang tidak mendatangkan penyesalan bagi pelakunya. Ada orang yang melakukan maksiat sembunyi-sembunyi namun penuh penyesalan. Orang tersebut bukanlah orang yang merobek tabir untuk menerjang yang haram. Karena asalnya orang semacam itu mengagungkan syari’at Allah Ta’ala. Namun ia terkalahkan dengan syahwatnya. Adapun yang bermaksiat lainnya, ia melakukan maksiat dalam keadaan berani, congkak, sombong tanpa tunduk dan rendah diri kepada peraturan Allah Yang Maha Tinggi, Itulah yang membuat amalannya terhapus. (lihat penjelasannya dalam Syarh Zaad Al-Mustaqni’, no. pelajaran 332, oleh Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi) Maka jika anda terus menerus istighfar dan bertaubat, setiap berbuat salah selalu berusaha kembali kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun di tengah malam dengan shalat tahajud mengharap kasih sayang dan ampunan Nya Yang Maha Luas, maka Allah Yang Maha Mulia akan mendatangkan pahala yang berlimpah, menghapus dosa, pahala amalan yang telah dilakukan dengan ikhlas akan kembali, karena Dia lah Yang Maha Pengasih Dan Penyayang bagi para hamba Nya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufiqNya, agar kita dapat menjauhi dosa dan maksiat di kala sepi dan kala terang-terangan. Aamiin Ya Rabbana. Wallahu Ta’ala A’lam. Dijawab dengan ringkas oleh: Ustadz Fadly Gugul S.Ag.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda, لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا “Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.” Tsauban bertanya, “Wahai Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.” (HR. Ibnu Majah, no. 4245. Dan Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Maka maksud hadits di atas tidak terlepas dari 3 penjelasan para ahli ilmu; 1. Yang dimaksud mereka menerjang larangan Allah Ta’ala dikala sepi yaitu orang-orang yang memiliki sifat kemunafikan, inilah yang menunjukkan keadaan orang-orang munafik, walaupun kemunafikan yang ia perbuat adalah kemunafikan dari sisi amal, bukan i’tiqad (keyakinan), hanya saja mereka menyembunyikan keburukan mereka dari hadapan manusia agar tidak diingkari. Mereka pun pada akhirnya mengakui hal tersebut kelak pada hari kiamat, karena Allah Yang Maha Kuasa mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang ada di dalam hati mereka. 2. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam “إذَا خَلوا بِمَحَارِمِ الله” tidak hanya berarti bahwa pelaku dalam hadits Tsauban melakukan apa yang dilarang Allah tatkala bersendirian di rumah! Namun dapat diartikan bahwa mereka terkadang melakukan hal tersebut bersama dengan kawan-kawan dan orang yang semisal dengannya. Dengan demikian, dalam hadits ini terkandung penjelasan perihal mereka bersama-sama bersembunyi dari pandangan manusia, bersepakat secara rahasia, saling memaklumi keadaan untuk melakukan apa yang dilarang Allah Ta’ala, bukan berarti bahwa setiap dari mereka menyendiri di rumah masing-masing menerjang larangan Allah. 3. Mereka yang disebutkan dalam hadits ini disifati dengan kalimat “ينتهكون محارم الله” (menerjang larangan Allah). Sifat ini menunjukkan akan penghalalan mereka terhadap larangan Allah Ta’ala tersebut atau menunjukkan bahwa mereka sangat melampaui batas dalam melakukannya dalam kondisi tersebut. Melampaui batas karena mereka merasa aman dari makar dan siksa Allah Yang Maha Kuasa, serta absennya perhatian mereka bahwa sebenarnya Allah Yang Maha Tahu pasti mengetahui perbuatan mereka. Oleh karena itu, mereka berhak memperoleh hukuman berupa gugurnya amalan shalih yang telah dikerjakan oleh mereka.