𓂃ׄ ʝ᮫ִ⍺݂֘ꬼִֺꬼִֺ⍺݂֘ȶׅ֠ꭎ᮫ֹᥣֹׄ ƙ᮫࣪ჩִ֠ꭎ᮫ֹᥣֹׄժּׄ ៹
Open in Telegram
𝅄ֺ 🐿️ αssαlαmu'αlαikum, hαii αhlαn wα sαhlαn ! 𓂃 jαngαn menunggu kemαtiαn bαru menjαdi orαng bαik, tp jαdilαh orαng bαik dαn tunggulαh kemαtiαn. since ⦂ 27.04.2021 contαct : @jkanythingBot
Show more2 904
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days
Posts Archive
HUKUM MENINGGALKAN SHALAT
Pertanyaan :Apa hukumnya orang yang sengaja meninggalkan shalat? Sudah diberitahu dan dinasehati dengan segala cara tetap saja tidak mau shalat, bahkan pernah berkata “dunia ini kiamat kalau aku shalat”. Mohon penjelasannya.
Shalat hukumnya wajib bagi setiap muslim. Shalat merupakan amalan yang akan pertama kali dihisab oleh Allah di hari Akhir nanti. Shalat merupakan pembeda antara muslim dengan kafir. Maka barangsiapa yang meninggalkan shalat, berarti ia telah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim, dan ini merupakan dosa yang paling besar di antara dosa-dosa yang besar.
Dalilnya adalah :
رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
“Pokok segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Ahmad & At-Tirmidzi).
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim).
Maka orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja karena mengingkari wajibnya shalat hukumnya adalah kafir, murtad, dan keluar dari Islam berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta kesepakatan para ulama, karena berarti ia telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Umar bin Khattab –radhiyallahu ‘anhu– pernah berkata bahwa sesungguhnya tidak ada bagian apapun dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat. Jadi salah besar bila ada orang yang beranggapan bahwa keislamannya cukup dengan hati atau yang terpenting hatinya yang shalat, dsb.
Para ulama menghukumi orang yang meninggalkan shalat menjadi 3 :
1. Orang yang meninggalkan sholat karena lupa, maka tidak ada hukum baginya. Begitu juga dengan orang yang tidak tahu jika meninggalkan shalat itu hukumnya kafir, maka ia dihukumi sebagai orang yang bodoh. Ia tidak dihukumi kafir, tetapi wajib atasnya untuk mencari ilmu dan wajib bagi yang telah tahu untuk memberikan pengetahuan tersebut atasnya.
2. Orang yang mengetahui dan mengakui wajibnya shalat tapi shalatnya tidak rutin alias bolong-bolong. Maka orang yang demikian dihukumi sebagai seorang muslim secara zhahir, tapi juga sekaligus sebagai orang munafik. Dan wajib atas kita untuk senantiasa mengingatkan dan berlemah lembut kepada orang-orang yang demikian untuk memperbaiki shalatnya.
3. Orang yang mengetahui bahwa shalat itu wajib tapi tidak mau melaksanakannya karena malas atau enggan, maka menurut pendapat ulama yang paling benar adalah ia dihukumi kafir dan telah keluar dari Islam. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh Imam Ahmad dan sebagian besar ulama dikalangan sahabat dan tabi’in.
Wallahu a’lam.
Sumber rujukan :
Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, pada bab Shalat.
Maksiat terbesar itu adalah malam 1 Januari dan yang paling menyedihkan adalah umat Nabi Muhammad ﷺ yang ikut merayakan nya , mereka tidak sadar kalau merek sudah melukai hati Rasulullah ﷺ.
Sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan cara makan, beliau juga memberikan teladan tentang cara minum. Cara Rasulullah SAW minum adalah sebagai berikut:
Berniat minum karena ibadah kepada Allah SWT
Memulai minum dengan basmalah: “Bismillah“;
Minumlah dengan tangan kanan;
Tidak bernafas dan meniup air minum di dalam wadah;
Beliau bernafas 3 kali ketika minum. Hembusan nafasnya di luar gelas;
Tidak minum langsung dari teko/ceret;
Dianjurkan lebih minum dalam keadaan duduk (walaupun dalam keadaan berdiri juga diperbolehkan);
Menutup tempat minuman pada malam hari;
Bersyukurlah dengan minuman yang ada dan tidak boleh mencelanya;
Ucapkan hamdalah, “Alhamdulillah“, setelah minum.
Cara Bicara Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam.
Seiring dengan sifat dan sikap beliau yang agung, tutur kata Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam pun sangat mengagumkan. Berikut adalah beberapa hal tentang tutur kata beliau berdasarkan keterangan para sahabatnya:
1. Beliau berbicara dengan nada perlahan;
2. Beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan terang sehingga mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya;
3. Dalam berkomunikasi, beliau memperhatikan tingkat intelektualitas dan pemahaman lawan bicaranya;
4. Tutur kata beliau sangat teratur, setiap untaian kata tersusun rapi;
5. Beliau sudi mengulang perkataannya agar dapat dipahami.
“Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku. (Peliharalah sholat dan santuni orang-orang lemah di antaramu)”.
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii” – “Umatku,umatku, umatku” Dan, pupuslah kembang hidup manusia yang mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wasalim ‘alaihi.
Detik-detik Akhir Rasulullah
Pagi itu, matahari mulai naik, namun burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya. Di suatu mimbar, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dengan suara terbata memberikan petuahnya, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Al Qur’an dan sunnah. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Utsman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Aku tidak tahu Ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dia kenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Ialah malaikat maut,” kata Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam.
Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepadanya, mengapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?” , tanya Rasululllah Shallahu ‘alaihi wa Sallam dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata jibril. Tapi ternyata hal itu tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”. “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini”, lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu, Jibril?” tanya Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam pada Malaikat penghantar wahyu itu. “Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi.
Aisyah pernah meminta Rasulullah agar berdoa untuk beliau..
"Ya Rasul, doakan lah aku"
Kemudian Rasulullah pun berdoa dengan berkata
"Ya Allah, ampunkanlah dosa Aisyah, baik dosa yang telah lalu mahupun yang akan datang, dosa yang terang mahupun yang tersembunyi.."
Aisyah ketawa gembira mendengar doa Rasulullah lalu Rasulullah bertanya..
"Ya Aisyah, adakah kamu gembira dengan doaku tadi?"
"Sudah tentu..bagaiman mungkin aku tidak bahagia dengan doamu ya Rasul" jawab Aisyah..
Aisyah r.a bercerita..
"Waktu itu aku sedang haid..aku minum pada sebuah gelas lalu memberikannya kepada Rasulullah..lalu Baginda segera mengambilnya dan meletakkan mulutnya pada bibir gelas tempat aku meletakkan mulutku dan meminumnya.pada hari lain..aku juga sedang haid..aku mengigit daging pada tulang lalu aku berikan kepada Rasulullah...kemudian Baginda meletakkan mulutnya ditempat aku meletakkan mulutku pada tulang tersebut.."
