en
Feedback
الفوائد النـافعة

الفوائد النـافعة

Open in Telegram

Berbagi kumpulan faidah bermanfaat berdasarkan manhaj salafus shalih. Silakan repost tanpa ditambah dan kurangi, semoga channel ini bisa bermanfaat untuk admin dan pembaca, dan menjadi amal jariyah. Bila ada komentar, DM ke IG: @alfawaaid_annaafiah

Show more
1 787
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days
Posts Archive
Selanjutnya kita bahas mengenai Idhul Adha 👇👇👇👇

🌻 Takbir Muthlaq dan Muqayyad 🌻 Takbir terbagi menjadi 2 macam, yakni takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dgn waktu) dan takbir muqayyad (dikaitkan dengan waktu). Takbir awal Dzulhijjah bersifat muthlaq, yang artinya tidak dikaitkan dgn waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh saja dilakukan di pasar dll. Sedangkan takbir muqayyad, yakni takbir yg dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah. Takbir muqayyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga waktu Asar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat dzuhur hari nahr (10 Dzulhijjah) hingga hari tasyriq yang terakhir. Jelasnya yang dijelaskan oleh syaikh shalih al ushaimi hafidzahullah adalah Takbir muthlaq pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dimulai dari malam pertama dari 10 hari tersebut, dimana keesokan harinya sebagai awal bulan. Takbir muthlaq tersebut terus berlanjut hingga hari terakhir dari hari tasyriq yakni hari ke 13. Selanjutnya bila tiba hari Arafah, disyariatkan untuk takbir muqayyad (yang dimulai dari) setelah shalat fajar (dan dilanjutkan) setelah shalat fardhu 5 waktu. Takbir muqayyad ini terus berlanjut hingga shalat asar hari terakhir dari hari tasyriq. Pelaksanaan takbir muqayyad di akhir shalat fardhu 5 waktu selama 5 hari (hari Arafah, hari raya idul adha, dan hari2 tasyriq) secara langsung setelah salam dengan menghadap kiblat. Minimalnya diucapkan sekali dan utamanya sebanyak tiga kali. Namun bila ingin dilebihkan maka tidak mengapa. Wallahuta'ala a'lam 📝 t.me/af0sa

Kita lanjut kepembahasan takbir muthlaq dan muqayyad 👇👇👇👇👇

Dan perbanyaklah doa sapu jagat di hari tasyriq
Dan perbanyaklah doa sapu jagat di hari tasyriq

🌹Idhul Adha🌹 Yakni hari raya qurban yang termasuk hari raya terbesar dan yang paling utama diantara 2 hari raya umat islam.. Berdasarkan dari hadits Abdullah bin Qurth, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: إن أعظم الأيام عند الله تعالى يوم النحر ثم يوم القر “ Sesungguhnya hari yang paling mulia disisi Allah adalah hari raya qurban kemudian hari al qar” HR. Ahmad dan lainnya. Lalu, apasih yaumul Qar itu?? Yaumul Qar adalah hari ke 11 dibulan dzulhijjah setelah hari raya qurban. Dinamakan yaumul qar (hari menetap) karena orang2 yang haji pada waktu itu menetap di Mina setelah mereka menyelesaikan manasik haji mereka, yakni thawaf ifadhah dan berqurban,kemudian mereka beristirahat disana. Lalu mengapa hari tersebut menjadi mulia?? Karena pada hari itu ibadah haji disempurnakan dan pada hari itu pula orang-orang yang berhaji dan selain mereka diperintahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah qurban yakni menyembelih hewan-hewan qurban disertai dengan shalat, dzikr dan doa. Setelah idhul adha berlalu, akan datang setelahnya hari2 tasyriq. Dari sahabat Nubaisyah alhudzali radhiallahu anh, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: أيام منى أيام أكل وشرب وذكر الله “Hari-hari di Mina adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berdzikir kpd Allah” (HR. Muslim) Nah, hari-hari tasyriq inilah yang disebut dengan ayyaamul ma’dudat (hari-hari yang telah ditentukan) yakni 3 hari setelah hari raya idhul adha. Sebagaimana firman Nya dlm surah al baqarah واذكروا الله في أيام المعدودات “ Dan berdzikirlah kpd Allah pada hari-hari yg telah ditentukan “ Dan yang paling utama diantara ke 3 hari tersebut adalah hari yang pertama yakni yaumul qarr.

sticker.webp0.13 KB

Bismillah sebentar lagi Dzulhijjah, ana akan up ulang mengenai Takbir Muthlaq dan Muqayyad yang biidznillah bisa kita lakukan nanti.

Kecintaan terhadap proses belajar adalah hal yang hendaknya dibangun pada diri-diri kita. Karena betapa sering kita mendapati diri kita atau sekeliling kita, yang tidak sabaran dalam proses belajar itu sendiri. Entah tidak sabar karena menemui pelajaran yang sulit yang kemudian futur dan berujung mundur, entah tidak sabar ketika menghadapi ego yang ingin langsung berhadapan dengan pelajaran yang berat, dan masih banyak lagi ketidak sabaran yang seringkali kita hadapi atau sekitar kita dalam proses belajar. Dan kita membutuhkan tadarruj dalam menuntut ilmu (step by step). Maka cintai dan hargailah setiap proses dalam hidup kita, agar kita memahami apa itu perjuangan, agar kelak kita bisa merasakan manisnya buah dari proses kehidupan, biidznillah. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: أخي لن تنال العلم إلا بستة، سأنبيك عن تفصيلها ببيان: ذكاء، وحرص، واجتهاد، وبلغة، وصحبة أستاذ، وطول زمان. “Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, akan aku kabarkan padamu perinciannya degan jelas: (Yakni) kecerdasan, kemauan keras, semangat, bekal yang cukup (harta), bimbingan guru, dan waktu yang lama.” (Diwan Syafi’i) 📝t.me/af0sa

photo content

Setiap kita ketika hendak shalat pasti berwudhu terlebih dahulu, akan tetapi pada banyak kesempatan, seseorang hanya ingin mewujudkan syarat ibadah saja, dan hal ini tidaklah mengapa (diperbolehkan) dan tujuanpun akan dicapainya. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih tinggi dan penting dari hal itu: 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮: Jika engkau hendak berwudhu, hadirkanlah perasaan bahwa engkau sedang melaksanakan perintah Allah, yaitu dalam firman-Nya pada Quran Surah Al-Maidah:6. Dengan demikian, terwujudlah makna ibadah pada dirimu. 𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮: Jika engkau sedang berwudhu, hadirkanlah perasaan bahwa engkau sedang berittiba' (mengikuti petunjuk) kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, sebab beliau bersabda: من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين (لا يحدث فيهما نفسه غفر له ما تقدم من ذنبه) "Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia salat dua rakaat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari, kitab al Wudhu'u) Dengan demikian sadarilah bahwa engkau telah mewujudkan dua syarat ibadah (Ikhlas dan Mutaba'ah) 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮: Berharaplah pahala dari Allah dengan wudhumu itu, sebab wudhu menghapuskan dosa-dosa, maka hilanglah dosa-dosa yang dilakukan tangan bersama tetesan air wudhu terakhir setelah selesai mencuci tangan. Demikian pula anggota wudhu lainnya. Ketiga makna yang agung ini terkadang kita melupakannya. Demikian juga Ketika engkau akan salat, engkau memulainya dengan menghadirkan perasaan akan perintah Allah, dalam firmannya: و أقيموا الصلاة "Dan dirikanlah shalat". (QS. Al-Baqarah: 43), kemudian engkau sadar bahwa engkau sedang berittiba' pada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, dimana beliau bersabda: صلوا كما ىأيتموني أصلي "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat". (HR. Bukhari Kemudian disertai mengharap pahala dari-Nya, sebab shalat merupakan penghapus dosa di antara dua waktu shalat. Dan ibadah-ibadah lainnya. Hal seperti ini telah hilang dari kita, oleh karena nya engkau dapatkan kami (semoga Allah senantiasa memaafkan kita) tidak terwarnai oleh pengaruh-pengaruh ibadah sebagaimana seharusnya. Sedangkan kita telah mengetahui bahwa sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, akan tetapi siapa diantara manusia setelah melaksanakan shalat pikirannya menjadi berubah (baik), dan shalatnya mampu mencegah dari berbuat keji dan munkar kecuali sedikit saja, sebab tujuan utamanya hilang tidak terwujud. -Kitab Syarh Hadits Arba’in, syarh hadits ke 23, hal. 279- 281, Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin. 📝t.me/af0sa

Setiap kita ketika hendak shalat pasti berwudhu terlebih dahulu, akan tetapi pada banyak kesempatan, seseorang hanya ingin mewujudkan syarat ibadah saja, dan hal ini tidaklah mengapa (diperbolehkan) dan tujuanpun akan dicapainya. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih tinggi dan penting dari hal itu: 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮: Jika engkau hendak berwudhu, hadirkanlah perasaan bahwa engkau sedang melaksanakan perintah Allah, yaitu dalam firman-Nya pada Quran Surah Al-Maidah:6. Dengan demikian, terwujudlah makna ibadah pada dirimu. 𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮: Jika engkau sedang berwudhu, hadirkanlah perasaan bahwa engkau sedang berittiba' (mengikuti petunjuk) kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, sebab beliau bersabda: من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين (لا يحدث فيهما نفسه غفر له ما تقدم من ذنبه) "Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia salat dua rakaat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari, kitab al Wudhu'u) Dengan demikian sadarilah bahwa engkau telah mewujudkan dua syarat ibadah (Ikhlas dan Mutaba'ah) 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮: Berharaplah pahala dari Allah dengan wudhumu itu, sebab wudhu menghapuskan dosa-dosa, maka hilanglah dosa-dosa yang dilakukan tangan bersama tetesan air wudhu terakhir setelah selesai mencuci tangan. Demikian pula anggota wudhu lainnya. Ketiga makna yang agung ini terkadang kita melupakannya. Demikian juga Ketika engkau akan salat, engkau memulainya dengan menghadirkan perasaan akan perintah Allah, dalam firmannya: و أقيموا الصلاة "Dan dirikanlah shalat". (QS. Al-Baqarah: 43), kemudian engkau sadar bahwa engkau sedang berittiba' pada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, dimana beliau bersabda: صلوا كما ىأيتموني أصلي "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat". (HR. Bukhari Kemudian disertai mengharap pahala dari-Nya, sebab shalat merupakan penghapus dosa di antara dua waktu shalat. Dan ibadah-ibadah lainnya. Hal seperti ini telah hilang dari kita, oleh karena nya engkau dapatkan kami (semoga Allah senantiasa memaafkan kita) tidak terwarnai oleh pengaruh-pengaruh ibadah sebagaimana seharusnya. Sedangkan kita telah mengetahui bahwa sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, akan tetapi siapa diantara manusia setelah melaksanakan shalat pikirannya menjadi berubah (baik), dan shalatnya mampu mencegah dari berbuat keji dan munkar kecuali sedikit saja, sebab tujuan utamanya hilang tidak terwujud. -Kitab Syarh Hadits Arba’in, syarh hadits ke 23, hal. 279- 281, Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin. 📝t.me/af0sa

Setiap kita ketika hendak shalat pasti berwudhu terlebih dahulu, akan tetapi pada banyak kesempatan, seseorang hanya ingin mewujudkan syarat ibadah saja, dan hal ini tidaklah mengapa (diperbolehkan) dan tujuanpun akan dicapainya. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih tinggi dan penting dari hal itu: 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗮: Jika engkau hendak berwudhu, hadirkanlah perasaan bahwa engkau sedang melaksanakan perintah Allah, yaitu dalam firman-Nya pada Quran Surah Al-Maidah:6. Dengan demikian, terwujudlah makna ibadah pada dirimu. 𝗞𝗲𝗱𝘂𝗮: Jika engkau sedang berwudhu, hadirkanlah perasaan bahwa engkau sedang berittiba' (mengikuti petunjuk) kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, sebab beliau bersabda: من توضأ نحو وضوئي هذا ثم صلى ركعتين (لا يحدث فيهما نفسه غفر له ما تقدم من ذنبه) "Siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian ia salat dua rakaat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu" (HR. Bukhari, kitab al Wudhu'u) Dengan demikian sadarilah bahwa engkau telah mewujudkan dua syarat ibadah (Ikhlas dan Mutaba'ah) 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗴𝗮: Berharaplah pahala dari Allah dengan wudhumu itu, sebab wudhu menghapuskan dosa-dosa, maka hilanglah dosa-dosa yang dilakukan tangan bersama tetesan air wudhu terakhir setelah selesai mencuci tangan. Demikian pula anggota wudhu lainnya. Kemudian disertai mengharap pahala dari-Nya, sebab shalat merupakan penghapus dosa di antara dua waktu shalat. Dan ibadah-ibadah lainnya. Hal seperti ini telah hilang dari kita, oleh karena nya engkau dapatkan kami (semoga Allah senantiasa memaafkan kita) tidak terwarnai oleh pengaruh-pengaruh ibadah sebagaimana seharusnya. Sedangkan kita telah mengetahui bahwa shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar, akan tetapi siapa diantara manusia setelah melaksanakan shalat pikirannya menjadi berubah (baik) dan shalatnya mampu mencegah dari berbuat keji dan munkar kecuali sedikit saja, sebab tujuan utamanya hilang tidak terwujud. -Kitab Syarh Hadits Arba’in, syarh hadits ke 23, hal. 279- 281, Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin.

photo content

Pada apa yang kita anggap remeh sebelumnya kepada orang lain, ternyata hal tersebut sangat bernilai dalam kehidupannya. Entah pertolongan kecil yang kita perbuat, atau sebatas nasihat penyemangat, atau sebatas mengajari ilmu dari apa yang Allah titipkan, atau bahkan senyuman hangat dikala perasaannya sedang gundah gulana. Kadang kala kita tidak pernah tau, hal kecil apa yang ternyata menghantarkan pada banyak kebaikan, dan kadang kala kita juga tidak pernah tau hal kecil apa yang ternyata menghantarkan pada banyak keburukan. Maka sebelum berbuat, ada baiknya kita memikirkan terlebih dahulu apa dan bagaimana yang kelak menjadi perbuatan dan ucapan yang akan kita berikan. Ingatlah akan firman-Nya bahwa: “Maka barangsiapa mengerjakan kebajikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya” (QS: Az-Zalzalah: 7-8) Segala hal kecil dan besar dalam hidup ini, semua memiliki balasan dari Allah baik di dunia ataupun di akhirat nanti, maka jangan pernah kita meremehkan hal-hal kecil tersebut. #ntms 📝t.me/af0sa

Bagi orang yang bertaubat, (mereka) memiliki kebanggaan, tak ada yang menyamai kebanggaannya dikarenakan Allah senang dengan
Bagi orang yang bertaubat, (mereka) memiliki kebanggaan, tak ada yang menyamai kebanggaannya dikarenakan Allah senang dengan taubatnya. 📝t.me/af0sa

Yaa Rabb.. Bila ternyata aku semakin jauh dari-Mu, maka tegurlah aku, sadarkanlah aku. Agar aku tak berlama-lama di jalan yang Engkau benci, agar aku selamat dari malapetaka di akhirat nanti