Ask The Experts
Open in Telegram
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo π²π¨ https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Show more1 823
Subscribers
+224 hours
+107 days
+1930 days
Posts Archive
1 824
Janji durasi meeting sejam, telat setengah jam, ya cuma bisa setengah jam sama Saya. Fix. Lock. Gak ada nambah-nambah waktu. Selain ngasih pelajaran, juga supaya gak dzalim sama jadwal berikutnya. Kan kasihan.
Semoga dipahami ya, termasuk Saya kenapa banyak diam dan gak begitu ramah di berbagai forum, karena sebenernya Saya gak mau orang lain ekspektasi ke Saya berlebihan, itu bakal jadi beban di langkah Saya berikutnya.
Semua mitra Saya udah ngerti dan faham gimana Saya. Apalagi orang-orang terdekat. Maka ketika mereka udah tahu Saya begini, blak-blakan, relatif keras, dan mereka berkenan, itu modal yang besar untuk kerjasama jangka panjang.
Bahagia hidup seperti ini, gak jadi badut. π
Semoga bermanfaat & menginspirasi.
Boleh dishare, kalau memang dirasa perlu.
1 824
SINDROM BADUT
Sumber: FB Dewa Eka Prayoga
InsyaAllah sudah kebal. Mungkin sudah sampai taraf sudah gak berasa apa-apa lagi. Ketika Saya mendapati orang-orang ngomongin Saya di belakang,
"Dewa itu sombong..."
"Dewa itu kalo ngomong gak dikemas-kemas, blak blak an banget..."
"Dewa itu gak ramah, dingin banget jadi orang..."
Merespon hal itu Saya jujur gak gitu bereaksi, karena banyaknya yang berpendapat begitu adalah mereka yang gak kenal dekat. Tapi Saya bahagia juga dengan brand personal yang seperti itu, karena di alam bisnis ini kita gak bisa jadi badut.
Nah.. gimana maksudnya? Kenapa kok tiba-tiba Saya ngomongin badut. π€‘
Sadar gak sadar, pastinya Anda pun tahu, badut itu menghibur semua orang. Memang begitulah tugas badut, membuat semua orang senang, membuat semua orang tertawa. Walau harus bertindak konyol. Itulah badut.
Dalam dunia bisnis yang Saya geluti, tidak sedikit kawan-kawan pengusaha yang memilih peran sebagai badut, pengennya disenangin banyak orang. Membahagiakan semua orang.
Misalnya ketika suppliernya gak sanggup memenuhi ekspektasi produksi, harusnya kan ganti supplier, cari vendor baru yang kompetitif, yang kualitasnya nyampe. Namun, gak sedikit yang responnya:
"Gak enak aku, sama dia sudah lama, kalo putus sama dia nanti gimana, gak enakan..."
Akhirnya supply produk yang menurun kualitasnya, yang gak ngejar kuantitasnya, tetap dipertahankan. Positioning Brand jadi jatuh, karena value gak terdeliver dengan baik. Dan repeat order jadi anjloo, karena produknya emang jelek. Akui dan sadari saja sudah.
Ketika misalnya tim sudah gak perform, harusnya direposisi, harusnya dimutasi, harusnya diganti. Namun, gak sedikit yang kemudian juga merespon,
"Udahlah jangan, gak enak, udah kayak sodara, masak harus dimutasi, apalagi dikeluarin, dipertahanin aja, cari cara lain."
Akhirnya organisasi jadi terbebani dengan toxic. Tim yang gak perform malah tetap dipertahankan, padahal gak bisa ngejar hasil, gak mampu eksekusi program. Enggan dievaluasi. Enggan dikritik. Enggak berubah.
Jangankan di dunia bisnis, di dalam dunia dakwah dan filantropi pun, dimana Saya juga mendevelop DeEP Foundation, itu juga yang Saya sampaikan secara konsisten kepada para leader di Foundation:
Jangan karena gak enakan, kita malah ngezalimin penerima manfaat. Tim dipenuhi oleh orang-orang yang gak perform, donasi turun, donatur gak ter-engage dengan bener.
Tim yang gak perform harus dididik, didorong atau bahkan dipaksa bertumbuh, dibangunkan sistem yang bisa jadi bikin gak nyaman. Ya jangan gak enakan, kalo mau tumbuh, udah pasti gak nyaman.
Kembali ke bahasan badut.
Saya udah saklek banget, Saya bukan badut yang harus menyenangkan semua orang. Itu gak mungkin. Dan memang gak bisa. Maafin.
Pemimpin bisnis, pemimpin organisasi, para leaders, pasti mengambil keputusan. Walau resikonya dianggap ini itu, diomongin, dighibahin, dan dinethinkin, itu gak masalah, yang penting maslahat organisasi tercapai.
Sekarang Saya balikβ¦
Kita mempertahankan vendor yang gak perform, cuma alasan gak enakan, akhirnya brand dan salesnya turun, pelan-pelan malah gak sanggup bayar operasional tim, pelan-pelan malah mecatin SDM satu demi satu. Itu malah zalim ke semuanya. Sadar woy!
Kita mempertahankan pola distribusi yang sudah gak relevan, distributor yang gak perform masih juga dikasih hak ekslusif. Akhirnya barang gak gerak. Atas nama gak enakan. Atau atas dasar kekeluargaan. Akhirnya bangkrut rame-rame. Lebih ngeri lagi. Horror coy!
Kita mempertahankan tim yang gak jelas kontribusinya, gak kompeten, atas nama persaudaraan, atas nama gak enakan, ya sulit kalo begini, lama-lama tenggelam ramai-ramai, berjamaah. Bangkrut dot com.
Maka sekali lagi, jangan jadi badut, jadilah pemimpin bisnis yang tegas, punya sikap.
Saya ngerti banget, bahkan dengan tim Saya sendiri, mereka sulit lentur jadwal sama Saya. Saya juga suka kasihan sama mereka, tapi inilah Saya, jadwal fix, gak ada ngaret-ngaret. Saya ya begini, terserah mau dianggap gak punya perasaan. Kalau gak suka dan gak terima, udahan aja partnerannya. Resign.
1 824
Nama: Fenny Virginia Sandra Dewi
Jabatan : Staf UR dan Anti Fraud PMP KC Mataram
Asal: Mataram
Riwayat penempatan:
1. Staf PMR Divre XII Papua dan Papua Barat (2015) *Divre yang sekarang berubah nama menjadi Kedeputian Wilayah
2. Staf Administrasi Pemasaran KC Jayapura (2015-2017)
3. Staf KLOK Lombok Utara KC Mataram (2017-2020)
4. Staf PIPP KC Mataram (2020-2022)
5. Staf UR dan Anti Fraud PMP KC Mataram (April 2022-Sekarang)
1 824
[Bisa Disebarkan]
Berhati hatilah jika menerima pesan sebagai berikut, beberapa saat lalu muncul berita bahwa ada chat Whatsapp mengatasnamakan kurir atau pihak lain yang berusaha memanipulasi pengguna whatsapp untuk mendownload file yang dikirimkan
Saat ini, modus tersebut sudah menggunakan nama BPJS Kesehatan, tetap berhati2 dan waspada jika menerima pesan tersebut, jangan sekali2 mencoba mendownload file yang dikirimkan, dikarenakan file tersebut berisikan malware dan dapat mengambil data yang ada di HP kita
Available now! Telegram Research 2025 β the year's key insights 
