en
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Open in Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Show more
1 855
Subscribers
-124 hours
No data7 days
+530 days
Posts Archive
Hai, ketemu lagi di Sudut Meja. Kita terbiasa mengisi daya ponsel ketika baterainya hampir habis. Namun, seberapa sering kita
Hai, ketemu lagi di Sudut Meja. Kita terbiasa mengisi daya ponsel ketika baterainya hampir habis. Namun, seberapa sering kita menyadari bahwa diri kita juga membutuhkan waktu untuk mengisi ulang energi?

Oleh: Arisdiansah Saya "Mentakjubi" KEADILAN Allah dari pengalaman mendampingi banyak bisnis owner secara personal, bagaimana
Oleh: Arisdiansah Saya "Mentakjubi" KEADILAN Allah dari pengalaman mendampingi banyak bisnis owner secara personal, bagaimana mereka mengembangkan bisnis dan kehidupannya. To the point, saya mau sedikit bercerita. Suatu hari saya ngobrol dengan seorang bisnis owner, pengusaha keturunan Chinese yang level bisnisnya sudah ratusan milyar. Beliau bercerita tentang "kesumpekannya" menghadapi pajak dan juga banyaknya fraud di perusahaannya. Ibarat kata, masalah ini yang bikin beliau "sumpek". Makan ga enak, tidur juga ga enak. Di momen yang lain, saya ketemu dengan buruh tani yang mengalami kesulitan ekonomi. anggap saja beliau "sumpek" memikirkan biaya untuk pendidikan anaknya. Rasanya sama persis. Makan mungkin jadi ga enak tidur ga enak, berfikir bagaimana bisa mendapatkan uang sesegera mungkin. Dan saya mendapati disinilah letak keadilan Allah. Apa yang terjadi di kepala seorang milyader dan juga buruh tani tadi itu sama persis. Otak kita itu "BUTA WARNA", otak tidak bisa melihat masalahnya itu apa, respon atas kedua masalah tadi itu mekanismenya sama persis. Sama...Kortisol naik, pencernaan terganggu, otak bagian amigdala "meronta2", saraf vargus mentrigger stimulus dari otak membuat jantung berdetak lebih kencang, lambung memproduksi zat asamnya secara berlebihan otot2 simpatetik menegang, dst dst. Sama persis. Demikian juga dengan hormon kebahagiaan (dhopamine) yang bakal keluar dari yang pengusaha karena deal dapat project milyaran, dengan buruh tani yang kambingnya melahirkan 2 ekor anakan kambing yg sehat. Apa yang ada di otak sama persis. Sensasinya sama persis. Senangnya, sama persis. Itulah yang membuat saya semakin meyakini, bahwa apa yang ada di dunia ini sebenarnya sama persis. entah si miskin atau si kaya,atau yang middle seperti kebanyakan kita, ketiganya punya peluang kebahagiaan dan penderitaan yang sama. Standar dan bentuknya saja yang kita yakini berbeda. Kalau sudah masuk ke otak dan mentrigger aktivitas hormonal, rasanya tetap sama. Kita perlu berhenti sejenak untuk mulai menimbang kembali untuk menemukan bentuk kebahagiaan yang sejati. kebahagiaan yang bisa jadi sebenarnya sudah kita miliki. Berhentilah, dan coba lihat kebelakang #INISIATIF #TGIF

Coba tengok kanan-kiri dan bantu colekin dong para calon jawara kompetisi kita kali ini👀🏆 Ada nggak rekan pegawai/ TAD di unit kerja kita yang style rambutnya keren seperti Mullet, Comma Hair, Buzz Cut, French Crop, atau gaya khas lainnya? 👌 Sekalian juga nih, colekin jg rekan kita yang sedari dulu terkenal dengan kumisnya yang punya aura “kewibawaan” 🥸 Daftar sekarang!! (Deadline: Minggu, 20 September 2026) https://forms.gle/vvcZGhYemYgBGMWv9

Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Sejak tadi malam saya melanjutkan membaca Homo Deus karya Yuval Noah Harari dan sud
Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Sejak tadi malam saya melanjutkan membaca Homo Deus karya Yuval Noah Harari dan sudah sampai pada bab yang berjudul The Great Decoupling. Menurut saya, ini salah satu bagian yang sangat menarik. Yang membuat saya semakin kagum adalah fakta bahwa buku ini diterbitkan 10 tahun yang lalu, pada 2016. Namun, banyak hal yang dituliskan Harari tentang perkembangan teknologi terasa semakin relevan dengan apa yang kita alami hari ini. Tentang AI yang awalnya membantu manusia menyelesaikan pekerjaan, kemudian berkembang menjadi agentic AI yang mulai mampu melakukan pekerjaan dan bahkan mengambil keputusan kognitif atas nama kita. Bab ini disebut The Great Decoupling karena Harari mencoba menunjukkan sebuah kemungkinan besar: bahwa kemajuan teknologi pada akhirnya akan memisahkan intelligence (kecerdasan) dari consciousness (kesadaran). Dan ada satu kalimat yang menurut saya cukup menggelitik: “Humans are in danger of losing their value, because intelligence is decoupling from consciousness.” (Manusia terancam kehilangan nilainya karena kecerdasan mulai terlepas dari kesadaran). Teknologi bukan lagi sekadar alat yang kita gunakan. Perlahan, teknologi juga mulai ikut mengarahkan keputusan yang kita ambil. Mari kita lihat hal yang sangat sederhana. Ketika Google Maps mengatakan, “belok kiri,” kita mengikuti. Ketika algoritma merekomendasikan video, musik, buku, atau berita, kita mengikutinya. Bahkan dalam sesuatu yang jauh lebih besar seperti pilihan politik, algoritma dapat menentukan informasi apa yang kita lihat, berapa kali kita melihatnya, dan akhirnya membentuk cara kita memandang seseorang atau sebuah isu. Yang menarik, semua itu sering terjadi tanpa kita merasa sedang diarahkan. Kita merasa sedang memilih. Kita merasa keputusan itu sepenuhnya berasal dari diri kita sendiri. Lalu muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: Apakah kita benar-benar masih memiliki free will (kehendak bebas)? Jangan-jangan teknologi di masa depan bukan hanya menjadi semakin pintar dalam mengambil keputusan untuk kita, tetapi juga semakin pintar dalam membuat kita percaya bahwa keputusan tersebut adalah keputusan kita sendiri. Mungkin tantangan terbesar manusia di era AI bukan lagi bagaimana menjadi lebih pintar daripada mesin. Tetapi bagaimana tetap menjadi manusia yang sadar, ketika semakin banyak keputusan dalam hidup kita dapat dibuat, dipengaruhi, dan bahkan diprediksi oleh mesin. Karena mungkin pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah kemampuan kita untuk berpikir, tetapi kemampuan kita untuk menyadari mengapa kita berpikir seperti itu. Dan mungkin, The Great Decoupling bukan hanya tentang masa depan teknologi. Tetapi tentang masa depan sisi kemanusiaan kita sendiri. Buku apa yang sedang Anda baca pagi ini? Have a nice day! ❤️ #INISIATIF

📣CALLING ALL DUTA & TAD 🎁 Siapa bilang jadi Duta cuma soal kerja dan kontribusi? Sesekali, waktunya show off style juga don
📣CALLING ALL DUTA & TAD 🎁 Siapa bilang jadi Duta cuma soal kerja dan kontribusi? Sesekali, waktunya show off style juga dong 😎 WELCOME TO DUTA STYLE BATTLE 2026 🇮🇩 2 (Dua) Kategori Lomba (Pegawai dan TAD) 🥸 • Kontes Gaya Rambut • Kontes Kumis
🎁Ada 6 souvenir menarik untuk 3 orang terbaik dari masing-masing kategori 🏆
Kamu atau rekanmu punya rambut yang selalu on point? Atau kumis yang sudah jadi signature look? Gassssss, daftarkan dirimu atau rekanmu sekarang (Deadline: Minggu, 20 September 2026) https://forms.gle/vvcZGhYemYgBGMWv9
Kira-kira siapakah yang bakal jadi style icon tahun 2026 ini?
Stay tuned di Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT) https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#DutaStyleBattle2026 #KontesGayaRambut #KontesKumis

THE FINAL REVEAL, THE CHAMPIONS, & THE STORY 🏆 Perjalanan CX126 bukan perjalanan satu malam. Dari 126 Kantor Cabang, melewat
+8
THE FINAL REVEAL, THE CHAMPIONS, & THE STORY 🏆 Perjalanan CX126 bukan perjalanan satu malam. Dari 126 Kantor Cabang, melewati berbagai tahapan hingga Grand Final, setiap finalis membawa satu hal yang sama: semangat untuk terus menghadirkan Customer Excellence 🇲🇨 Congratulations to all CX126 Champions! 🔥 https://www.instagram.com/p/DdBI8rECe1Q/?stkn=MWgzZndqc2FlMG40NQ==

Manusia Sakti Oleh: Hendra Hendarin Saat anda menanam pohon, maka anda sudah berperan membantu menopang kehidupan, karena poh
Manusia Sakti Oleh: Hendra Hendarin Saat anda menanam pohon, maka anda sudah berperan membantu menopang kehidupan, karena pohon adalah sumber hidup bagi sekitarnya; kumbang, burung, ulat, manusia, dll. Saat anda memberi makan kucing, anjing, anda menopang kehidupan -membuat mereka melanjutkan hidup. Saat anda menciptakan lapangan pekerjaan, anda menopang hidup orang banyak. Secara ekstensif, setiap pegawai yang bekerja akan juga menopang kehidupan keluarganya. Bahkan saat anda bekerja demi keluarga, artinya anda melakukan life-support, menyinambungkan kehidupan, supporting, sustaining, extending lives, paling tidak bagi anggota keluarga yang anda tanggungjawabi. --- Matahari, bulan, bintang, lautan, sungai, gunung, hutan, semuanya hadir sebagai life-support, mendukung dan menyinambungkan hidup. Dalam bahasa mainstream, life-supporting adalah Dharma, sedangkan life discouragement, atau menjadi hambatan bagi pengembangan hidup, adalah adharma. --- Saat anda mendukung kehidupan, maka anda tengah berperan sebagai pipa, selang, dan keran air kehidupan, yang menyalurkan daya hidup bagi sekitar anda; alam dan manusia. Semakin tinggi level anda, semakin besar kapasitas dan kapabilitas anda dalam menjadi saluran pendukung kehidupan bagi yang lain, semakin besar pula alam akan menyokong anda dengan daya hidup alam. Sebaliknya, saat anda tak berperan dalam menjadi life-support, anda adalah kayu mati, dead wood, atau pipa mampet, keran macet. Pada kasus ini, maka tak akan ada air yang akan mengalir pada selang yang mampet. Air hanya mengalir pada pipa yang lancar. Semakin lancar dan besar saluran, makin besar pula volume arus yang secara otomatis mengalir pada saluran ini. --- Manusia yang dipilih oleh alam untuk melakonkan peran penting adalah mereka yang memiliki kapasitas dan kapabilitas besar dalam menjadi saluran penyinambung kehidupan, mereka adalah manusia-manusia pilihan yang memiliki daya dan kemampuan besar (çakti) dalam menyalurkan daya dari sang maha daya. Cahaya yang berperan sebagai utusan dari sanghyang Sinar. Ini sebabnya mereka disebut sebagai makhluk cahaya, light-workers. Manusia çakti bukanlah manusia yang kebal dibacok atau tak mempan ditembak. Namun adalah manusia yang "dipercaya" untuk mengemban tugas besar alam. Para mesiah dan Avatar bukan orang yang punya "ilmu Kanuragan", namun mereka adalah orang-orang sakti, orang-orang pilihan dengan misi yang besar bagi alam dan manusia Mari kita bercermin, seberapa besar peran kita dalam mendukung kehidupan di luar diri kita sendiri. Karena secara kategori besar, manusia dibagi menjadi dua kelompok, yakni manusia yang melayani diri sendiri, dan manusia yang menjadi pelayan bagi kehidupan di luar dirinya, yang melayani kepentingan hajat hidup alam dan manusia yang banyak. #INISIATIF

Hidup di dalam hati orang-orang yang kita tinggalkan bukanlah sebuah kematian 🤲 Oleh: Arisdiansah Kita tidak tahu kepastian
Hidup di dalam hati orang-orang yang kita tinggalkan bukanlah sebuah kematian 🤲 Oleh: Arisdiansah Kita tidak tahu kepastian kehidupan seseorang setelah kematiannya, apakah dia Husnul khatimah atau tidak. Kita hanya bisa mendoakan kebaikan. Tetapi ketika seseorang meninggal dengan meninggalkan value dan keteladanan kebaikan yang terus "diwariskan" ke orang-orang yang masih hidup, maka dia telah meninggal, tetapi amalnya tetap "hidup" dan tidak akan pernah putus. Kita terlahir ke dunia dalam kondisi menangis, sementara orang menyambut kita dengan bahagia. Semoga kita bisa mati dengan kebahagiaan, sementara sangat banyak orang yang mengantar kepergian kita dalam keadaan menangis. Thanks buat mereka yang mendahului kita dah mengajarkan kita semua tentang legacy. Semoga Husnul khatimah, semoga semua perjuanganmu menjadi amalan tidak terputus sampai hari akhir nanti. #INISIATIF

INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN 😭 Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE Bapak @Achmed_id. Semoga segala
INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN 😭 Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE Bapak @Achmed_id. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhum kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin 🤲 Selamat jalan, Pahlawan JKN 🥀

Oleh: Dedi Priadi Ketika ombak terlalu ganas untuk berlayar, nelayan-nelayan itu tidak duduk diam menunggu atau mengeluh. Mer
Oleh: Dedi Priadi Ketika ombak terlalu ganas untuk berlayar, nelayan-nelayan itu tidak duduk diam menunggu atau mengeluh. Mereka beralih fokus pada perbaikan jaring. Inilah inti dari disiplin mengisi waktu senggang. Disiplin bukan hanya tentang bekerja keras saat kondisi mendukung, melainkan tentang memilih untuk tetap produktif ketika pintu utama pekerjaan seolah tertutup rapat. Jiwa yang solutif melihat kendala sebagai perintah untuk berbenah. Laut yang bergejolak memberi sinyal: tinggalkan pencarian ikan sementara, alihkan energi pada penguatan jaring yang akan menghasilkan panen di masa depan. Rencana alternatif nelayan-nelayan itu bukanlah sekadar "melakukan hal lain," tetapi melakukan hal yang esensial. Mereka mempertajam alat, memperbaiki yang rusak, memastikan mereka siap optimal saat cuaca cerah kembali. Filosofi ini mengajarkan kepada kita untuk menghargai kemajuan tersembunyi. Seringkali, kemajuan terbesar tidak terlihat di permukaan, melainkan dalam upaya sunyi memperbaiki keahlian, meninjau balik strategi, dan memperkuat fondasi karakter. Dengan kita mengubah krisis menjadi waktu persiapan, kita membangun keunggulan kompetitif tersembunyi. Ketika orang lain baru mulai mengikat tali, kita sudah berlayar dengan jaring yang jauh lebih kuat dan efektif. Hikmahnya, jangan biarkan krisis membuat kita tidak bergerak. Disiplin terbesar kita terletak pada kemampuan untuk mengubah masa jeda menjadi momentum, memastikan setiap badai hanyalah sesi pemeliharaan untuk kesuksesan yang lebih besar. #INISIATIF

Menolak Pindah Tugas 🌹 Oleh: Cholis Mahsun Bapak saya dulu PNS guru agama SD dan MI, pindah tugas sudah beberapa kali. Terak
Menolak Pindah Tugas 🌹 Oleh: Cholis Mahsun Bapak saya dulu PNS guru agama SD dan MI, pindah tugas sudah beberapa kali. Terakhir tugasnya di MI Gemaharjo 1 kecamatan Watulimo (wilayah pegunungan) dengan jarak tempuh dari rumah sekitar 18 km dengan kondisi jalan waktu itu masih lumayan sulit, aspal banyak yang lepas dan berlubang besar, beberapa kali jatuh sendiri dan kecelakaan dengan orang lain. 2 Oktober tahun 2000 suami saya dilantik jadi Wakil Bupati Trenggalek. Saat itu bapak saya bertugas di MI Gemaharjo 1 sudah 5 tahun, pensiun masih kurang 4 tahun lagi. Sekitar 6 bulan setelah suami menjabat Wabup, bapak saya ditawari oleh Kemenag (Kandepag waktu itu) pindah tugas di MI Kendalrejo Durenan yang jarak tempuhnya hanya 1 km dari rumah. Kebetulan waktu itu ada kekosongan guru karena pensiun. Tapi Bapak saya menolak, dengan alasan menghindari persepsi negatif orang. Bapak tidak mau ada orang yang menilai bahwa kepindahannya karena KKN (karena menantunya jadi Wabup) 🔥 Karena terus didesak, sampai waktu itu Bapak minta ke suami saya untuk menyampaikan ke pihak Kemenag bahwa bapak tidak usah dipindah. Biarlah tetap di MI Gemaharjo 1 sebagai guru sampai pensiun. Akhirnya Bapak menyelesaikan tugas gurunya tetap di MI Gemaharjo 1 selama hampir 10 tahun sampai pensiun. Sampai segitunya Bapak menjaga nama baik semuanya..👍❤️ MasyaAllooh.. Tabarokalloh..🤲 #INISIATIF #TGIF

IN THIS ECONOMY, JANGAN SAMPAI SAKIT 💪 “Iuran JKN yang dibayar saat kita sehat bukan sekadar biaya, tetapi tempat kita menitipkan rasa aman.” - Wawan Mulyawan (Ketua Umum Perdokjasi)

Oleh: Iqbal Aji Daryono Namanya duwe anak abege, ya gini ini. Bapaknya diajak jajan ke Wizzme. Nggak mau nggudeg ceker apa se
Oleh: Iqbal Aji Daryono Namanya duwe anak abege, ya gini ini. Bapaknya diajak jajan ke Wizzme. Nggak mau nggudeg ceker apa sego koyor, dia tu. Sampe sana, barulah si bapak dicurhati. Tentang aktivitasnya di sekolah dan kesibukannya yang belakangan ini hampir setara sepak terjang Gus Ipul itu. Tentang teman-temannya. Tentang beberapa masalahnya. Tentang lain-lainnya (gak bisa saya kode di sini, beberapa gurunya ada di frenlis saya wkwkwk--ngapunten nggih Pak Guruuu hihihi). Apa pun itu, saya selalu menyampaikan dari dulu: senangkan hatimu kalau dapat masalah. Hanya dengan masalah kamu bisa tumbuh lebih cepat. Bahkan ketika kemarin dia final lomba ngeband itu, saya secara khusus WA dia untuk memuji tim juri. Sebabnya, salah satu juri keren sekali, dan ia juga bicara tentang masalah. Persisnya, masalah terkait penampilan para finalis. Ibu juri bilang, "Teruslah berlatih bersama. Nanti kalian akan semakin tahu bahwa kalian tidak sedang bermain musik sendiri-sendiri. Kalian akan memahami peran masing-masing, mengerti seberapa porsi yang harus dimainkan. Tahu porsi, itu penting sekali." Tahu porsi. Itu kata kunci yang saya tekankan berulang kepada anak wedok abege saya. Betapa banyak manusia di muka bumi ini yang ngertinya cuma merangsek ke depan, mengejar prestasi, tanpa peduli dengan porsi. Seolah prestasi adalah kunci kematangan hidup yang paling haqiqi. Sementara, mengerti porsi diri sendiri dalam orkestra kehidupan tuh mutlak pentingnya. Dari situ, kita gak terlalu lemes saat dibutuhkan, tapi juga gak terlalu agresif saat sebenarnya sedang gak layak mengambil ruang. Prestasi memang perlu. Tapi, saya katakan tadi padanya sambil nyetir menuju Wizzme, jauh di atas prestasi adalah karakter. Dan, proses dalam meraih prestasi itulah yang akan mematangkan karakter dia, sejengkal demi sejengkal. "Nanti, yang paling kamu rasakan manfaatnya setiap saat bukanlah sertifikat hasil prestasimu. Tapi karakter yang terbentuk dari prosesmu itu," ucap saya. "Bapak kan juga bertahan hidup bukan dengan prestasi," saya sambung petuah saya, lengkap dengan gaya egosentris seorang bapack-bapack wkwkkk. "Bapak gak pernah juara ini-itu, menang ini-itu gak ada. Tapi Bapak bisa menjalani hidup dengan kualitas yang relatif baik ya sebagian karena social life yang baik, emosi yang bisa dibilang stabil, siap tarung dan gak takut ambil risiko, gak gampang ambruk karena cemoohan orang...." Tentu, kali ini saya belum menyampaikan padanya bahwa bapaknya juga mengembangkan skill ndolob: menjilat atasan dan menggendam klien 😛. Tapi, ah, yang menjijikkan gitu mendingan nanti-nanti saja. Harus saya pastikan dulu kalo dia ogah jadi politisi dan makhluk sejenisnya hoahaha! #INISIATIF

Dari 126 Kantor Cabang, kini 10 terbaik melaju ke Grand Final CX126 🏆 Perjalanan ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi t
+8
Dari 126 Kantor Cabang, kini 10 terbaik melaju ke Grand Final CX126 🏆 Perjalanan ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi tentang bagaimana setiap Kantor Cabang terus bertumbuh, melakukan improvement, dan menghadirkan Customer Excellence yang semakin berdampak Kini, 10 finalis siap memberikan yang terbaik di babak terakhir. Siapa yang akan menjadi The Best of The Best? 👑 Siapa jagoanmu? Drop nama KC pilihanmu di kolom komentar yah 👇 https://www.instagram.com/p/Dcw9HeHgYu3/?igsi=MWVyZ2VscmN2eWp3aA==

Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Tidak semua hal perlu dijawab. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Dan tidak
Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Tidak semua hal perlu dijawab. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Dan tidak setiap keheningan harus diisi dengan kata-kata. Seiring bertambahnya pengalaman, kita belajar bahwa diam bukan berarti lemah. Justru kemampuan untuk tetap tenang ketika orang lain ingin memancing emosi adalah bentuk kekuatan. Dalam sebuah konflik, sampaikan apa yang perlu disampaikan dengan tenang, lalu berhenti. Dalam sebuah percakapan, dengarkan tanpa terburu-buru memikirkan jawaban. Dalam sebuah wawancara atau presentasi, jangan takut pada jeda. Kadang, beberapa detik keheningan justru membuat kata-kata kita memiliki bobot lebih besar. Orang yang selalu berbicara mungkin terlihat percaya diri. Tetapi orang yang tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam menunjukkan sesuatu yang lebih dalam, yaitu kendali atas dirinya sendiri. Kekuatan bukan hanya tentang seberapa baik kita berbicara. Kekuatan juga tentang kemampuan untuk tetap diam ketika diam adalah pilihan yang paling bijaksana. Buku apa yang Anda baca hari ini? Have a nice day! ❤️ #INISIATIF

Oleh: Dedi Priadi Ini adalah kisah nyata, bagaimana kejujuran dapat menyebar berkah dan sekaligus menuntut pengorbanan. Kemarin sore, selepas saya mengajar kelas Kepemimpinan & Integritas di Lemhannas RI, ada seorang peserta -- katakan namanya Pak T-- tak sengaja bertemu saat kami berdua hendak memesan transportasi online di pelataran depan kantor Lemhannas. Beliau menyapa saya terlebih dahulu. Setelah memperkenalkan diri, beliau langsung curhat dan mendiskusikan salah satu bahasan materi yang baru saya ajarkan. "Pak Dedi, apa yang bapak sampaikan tadi benar sekali. Kita harus mengusahakan apa yang keluarga makan itu bersumber dari rezeki yang halal, tidak abu-abu," tutur Pak T. "Saya merasakan hasilnya, Pak. Anak-anak saya pintar-pintar, Pak. Salah satu anak saya bahkan beberapa kali mendapatkan medali olimpiade sains di tingkat nasional. Tahun lalu ia malah jadi perwakilan Indonesia dalam olimpiade sains tingkat Internasional. Sekarang dia sedang persiapan ujian SAT, karena rencananya dia akan kuliah S1 di Eropa." tambah Pak T dengan nada bangga. "Oh alhamdulillah, Pak. Bersyukur, anak-anak Bapak cerdas," timbal saya yang mencoba mendengar seksama curhatan Pak T. Setelah curhat tentang anaknya, Pak T kemudian menceritakan bagaimana ia berjuang untuk jujur. "Saya pernah dua periode menjabat Ketua Bawaslu daerah. Saya tahu, ada banyak "uang aneh" mungkin masuk kalau kita tidak kuat iman. Maka, di hari pertama saya bilang ke teman-teman anggota lainnya "Rezeki kita itu sudah Allah tentukan, maka jangan aneh-aneh urusan uang ya, kita bekerja profesional saja. Allah nanti pasti bantu," tegas Pak T. "Alhamdulillah, setelah dua periode saya menjabat, tidak satu pun di antara kami memiliki masalah karena korupsi. Padahal banyak Bawaslu lain setelah menjabat kena kasus korupsi," sambung Pak T. "Sampai suatu ketika, saya tertarik memiliki jabatan lebih tinggi lagi: menjadi Ketua KPU daerah. Maka saya ikuti semua proses menjadi Ketua KPU daerah, termasuk 𝘧𝘪𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘱𝘳𝘰𝘱𝘦𝘳 𝘵𝘦𝘴𝘵. Singkat cerita, saya berpotensi kuat untuk menjadi ketua. Sampai di ujung tes, saya diminta panitia untuk kesanggupan membayar uang 500 Juta ke partai. Di titik itu saya ragu: saya lanjutkan atau mundur," tambah Pak T. "Seketika itu saya telpon istri saya, saya ceritakan perihal permintaan uang itu. Dan istri saya menjawab, "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘒𝘦𝘵𝘶𝘢 𝘒𝘗𝘜, 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘫𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢?" Mendengar kata-kata istri saya merasa terpukul. Dan saat itu juga saya memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai calon Ketua KPU daerah." tutur Pak T dengan sedikit lantang. Dalam sela waktu yang singkat itu, saya kemudian menimpali cerita Pak T itu dengan sebuah kutipan materi saya di ruang kelas: "Banyak hikmah memelihara kejujuran ya, Pak. Dengan mencoba bertindak jujur, Bapak mungkin tidak akan memiliki banyak teman, tetapi yakinlah Bapak akan akan selalu mendapatkan kawan-kawan yang tepat karena kejujuran Bapak." Pesanan motor online Pak T keburu sampai, dan percakapan kami berakhir dengan memori pengalaman yang indah malam itu. #INISIATIF

Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Ada satu kalimat menarik yang saya temukan pagi ini, masih dari buku What I Wish I
Oleh: Iwan Kusworo Selamat pagi, Sahabat! Ada satu kalimat menarik yang saya temukan pagi ini, masih dari buku What I Wish I Knew About Luck. “People tend to engage more deeply when they feel understood, and showing that you’ve taken the time to learn about their perspectives creates a foundation of trust and mutual interest.” Orang cenderung lebih merasa engage dalam sebuah percakapan ketika mereka merasa dipahami. Kalimat ini mengingatkan saya pada sebuah kebiasaan yang saya lakukan setiap kali akan bertemu orang baru, entah itu untuk meeting, training, interview, atau sekadar diskusi santai. Saya biasanya akan meluangkan waktu untuk melakukan riset kecil terlebih dahulu. Riset kecil yang saya maksud bukan sesuatu yang rumit. Hanya berbekal smartphone yang ada di genggaman saja. Yang saya lakukan adalah googling nama mereka. Dari sana saya bisa melihat profil LinkedIn mereka untuk mengetahui perjalanan karirnya. Bisa juga dengan membuka media sosialnya untuk melihat hal-hal yang mereka sukai. Dan kalau beruntung, terkadang saya menemukan artikel yang pernah mereka tulis atau video yang pernah mereka buat. Dengan melakukan ini, akan membantu saya dalam memahami perspektif mereka. Hal-hal apa yang penting bagi mereka. Apa yang mereka kerjakan sehari-hari. Bahasa seperti apa yang biasa mereka gunakan. Topik apa yang membuat mereka bersemangat. Bahkan terkadang, hal-hal apa yang membuat mereka kesal. Salah satu contoh yang pernah saya alami adalah ketika saya mengetahui dari media sosial seorang peserta training bahwa yang bersangkutan memiliki hobi bersepeda. Saat sesi berlangsung, saya menggunakan contoh kasus yang berkaitan dengan sepeda. Kelihatannya sederhana. Tetapi efeknya luar biasa. Percakapan menjadi lebih hidup. Peserta lebih mudah terhubung dengan materi yang sedang dibahas. Dan saya merasa ada hubungan yang lebih personal yang terbangun di dalam ruangan. Menurut saya, ini bukan sekadar bentuk persiapan. Ini adalah bentuk penghormatan. Kita menunjukkan bahwa waktu mereka cukup berharga sehingga kita mau meluangkan waktu untuk mengenal mereka terlebih dahulu. Sebagian orang mungkin menyebut ini stalking. Tetapi dalam kamus saya, ini namanya research. 😊 Dan semakin sering saya melakukannya, semakin saya menyadari bahwa hubungan yang baik sering kali tidak dimulai dari kemampuan berbicara. Melainkan dari kesediaan untuk mendengarkan dan memahami terlebih dahulu. Jadi kalau dalam waktu dekat Anda akan bertemu seseorang yang baru, mungkin pesan yang ingin saya sampaikan: Do your homework first. Kenali orangnya sebelum Anda menjabat tangannya. Karena terkadang connection yang paling kuat justru dibangun bahkan sebelum pertemuan itu dimulai. Buku apa yang sedang Anda baca hari ini? Happy a nice day! ❤️ #INISIATIF

Lanjutan Part 2 Dunia Sedang Bergerak dari “Knowledge Economy” ke “Intelligence Economy” Perubahan ini sesungguhnya mencerminkan transisi global yang lebih besar. Dunia kini bergerak dari ekonomi berbasis pengetahuan menuju ekonomi berbasis kecerdasan. Pada era sebelumnya, universitas cukup menghasilkan lulusan yang memahami teori dan prosedur kerja. Namun di era AI, kemampuan seperti itu semakin mudah digantikan mesin. Yang kini dibutuhkan adalah manusia yang mampu: * berpikir lintas disiplin, * menggabungkan teknologi dengan kreativitas, * memecahkan masalah kompleks, * memahami data, * mengintegrasikan AI dengan dunia nyata, * serta mampu beradaptasi cepat terhadap perubahan. Karena itu, banyak jurusan lama mulai dianggap terlalu sempit, terlalu teoritis, atau tidak cukup fleksibel menghadapi revolusi industri baru. Indonesia Perlu Membaca Sinyal Ini dengan Serius Apa yang terjadi di China sebenarnya menjadi peringatan penting bagi perguruan tinggi di Indonesia. Banyak kampus di Indonesia masih menggunakan struktur kurikulum yang dibangun untuk kebutuhan industri 20–30 tahun lalu, sementara dunia kerja berubah jauh lebih cepat dibanding kemampuan kampus beradaptasi. Ancaman terbesar bukan hanya pengangguran lulusan, tetapi munculnya “irrelevant graduates” — lulusan yang memiliki ijazah tetapi kompetensinya tidak lagi dibutuhkan industri. Kondisi ini sangat berbahaya karena: * teknologi AI berkembang eksponensial, * otomasi industri semakin murah, * perusahaan semakin mengurangi middle skill jobs, * dan kebutuhan industri bergeser ke talenta multidisiplin. Perguruan tinggi yang tidak cepat bertransformasi berisiko menghasilkan lulusan dengan daya saing rendah. Jurusan Masa Depan Tidak Lagi Berdiri Sendiri Model pendidikan masa depan kemungkinan besar tidak lagi berbasis jurusan yang kaku seperti sekarang. Yang berkembang adalah model hybrid interdisciplinary programs, misalnya: * AI + Energi * AI + Kesehatan * AI + Pertanian * AI + Manajemen Risiko * AI + Pendidikan * AI + Psikologi * Green Energy + Digital System * Robotics + Manufacturing * Data Science + Public Policy Dengan kata lain, masa depan bukan hanya tentang “apa jurusannya”, tetapi seberapa mampu seseorang menggabungkan teknologi, kreativitas, data, dan problem solving dalam satu kompetensi terpadu. Penutupan Jurusan Bukan Tanda Kemunduran Banyak orang salah memahami bahwa penutupan jurusan berarti kegagalan pendidikan. Padahal justru sebaliknya. Dalam banyak kasus, itu menunjukkan keberanian melakukan adaptasi. China tampaknya menyadari bahwa mempertahankan jurusan yang tidak relevan hanya akan memperbesar pengangguran terdidik dan membebani ekonomi nasional. Karena itu, restrukturisasi pendidikan tinggi dilakukan secara agresif agar universitas benar-benar menjadi mesin penghasil talenta strategis bagi masa depan negara. Pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Jurusan apa yang populer hari ini?” Tetapi: "Kompetensi apa yang tetap dibutuhkan manusia ketika AI, robotika, dan otomasi mengambil alih sebagian besar pekerjaan rutin dunia?” 🙏🙏🙏 #INISIATIF #HappyWeekend

Ask The Experts - Statistics & analytics of Telegram channel @commit_asktheexperts