en
Feedback
Rindu Surga (Motivasi Quran)

Rindu Surga (Motivasi Quran)

Open in Telegram

Ahmad Khoirul Anam, Penulis 3 buku Motivasi Menghafal Quran. Cek Instagram: @rindu_surga_ Yuk ajak temen-temen gabung di channel ini untuk semakin banyak menebar manfaat ⬇️⬇️⬇️

Show more
4 368
Subscribers
-124 hours
-157 days
-7030 days
Posts Archive
TANGISAN PENGHAFAL QURAN Ada yang menangis karena hafalan tak kunjung tuntas Ada yang menangis sebab perjuangan ini terasa begitu menguras tenaga Ada yang menangis sebab lelah selalu datang bersama bisikan menyerah Ada yang menangis tersebab gagal saat setoran dan harus mengulang lagi dari awal Saat bibir tak mampu lagi menjelaskan, hati tak cukup luas menampung segala derita, dan lisan tak kuasa merapal doa-doa, air mata menjadi satu-satunya cara mengungkapkan rasa. Tidak apa-apa.. menangislah... dan, Dengarkan sebuah kalimat yang kubuatkan untukmu. Bahwa, ada air mata, yang tetes-tetesnya sanggup memadamkan api neraka. Ia-lah air mata dari tangisan seorang hamba karena takut kepada Rabb-Nya Aku tahu tangismu berbeda, aku tahu air mata itu belum sempurna tanda ikhlas, sebab kebanyakan tangisan karena hafalan adalah tangisan dari rasa lelah. Tapi, menangis juga butuh latihan, kan? Jika kita tak pernah menangis, bagaimana mungkin air mata ini akan terbiasa menetes untuk Allah? tangismu adalah tanda lembutnya hatimu.. Hari ini, kita menangis karena lelahnya perjuangan yang menimpa, besok semoga kita mulai menangis karena tersungkur takut pada Rabb kita, tersebab Al-Quran yang selalu kita baca. . Setidaknya, dengan menangis, kamu menjadi lega. Dengan menangis, kamu tersadar betapa lemahnya raga. Dengan menangis, menjadikanmu terbiasa mengangkat tangan dalam doa. Dan, setidaknya, kamu menangis dalam perjuangan yang mulia. Menangislah... Sesekali kita memang butuh nenangis, sembari memberi sedikit jeda dalam perjuangan. Sesekali Kita perlu menteskan air mata, agar sadar bahwa Allah selalu ada, dan agar kita tak pernah berhenti meminta. Belajarlah seperti Yaqub, yang meski kisahnya dipenuhi pilu dan tangis, tapi hatinya tak pernah menyerah menggantungkan harap pada Allah semata. Menangislah sebagaimana maryam, yang nyaris menyerah menanggung beratnya ujian takwa, tapi sanggup bangkit kembali karena segera menyadari.. Allah selalu ada sisi. Menangislah.. Merendah pada-Nha dalam pasrah.. Tapi jangan pernah menyerah... ~ Ahmad Khoirul Anam @rindu_surga_ #TipsMenghafal #MotivasiQuran

Iya benar

TIDAK MURAJAAH ADALAH HUKUMAN Banyak penghafal Quran mengira, meninggalkan murajaah akan mendatangkan hukuman dari Allah. Seolah-olah hukuman itu sesuatu yang datang kemudian, berupa hafalan hilang, kesempitan, kegelisahan, sebagai akibat dari tidak murajaah. Ya, itu memang benar. Tapi, ada yang lebih dalam daripada itu: Tidak murajaah itu sendiri adalah hukuman. Ketika hati tidak lagi gelisah saat jauh dari Al-Qur’an, itulah tanda hukuman itu sedang bekerja. Ketika rutinitas murajaah semakin merenggang, itulah tanda bahwa hubungannya dengan Allah sedang merenggang. Maka yang paling perlu ditakuti bukan sekadar lupa hafalan, tetapi saat lupa itu tidak lagi terasa sebagai kehilangan. Yang paling mengerikan itu bukan saat kehilangan hafalan karena tidak murajaah, tapi pada saat tidak murajaah tak membuat hati gelisah, padahal ia sedang dihukum. itulah hukuman yang paling halus… namun paling menyakitkan. ~ Ahmad Khoirul Anam @rindu_surga_

Ketika hafalan terasa mudah, itu bukan karena kuatnya ingatan kita. Tapi karena Allah sedang membukakan pintu penjagaan-Nya. Dan ketika hafalan terasa hilang atau sulit dijaga, itu bukan semata kelemahan otak, tapi bisa jadi karena hati yang mulai jauh dari-Nya. Maka jangan pernah merasa bangga dengan banyaknya hafalan. Karena bisa jadi, yang membuat hafalan itu menetap bukan usaha kita, tapi rahmat-Nya yang belum dicabut. Seorang penghafal Al-Qur’an sejatinya sedang membawa amanah besar. Bukan hanya untuk mengingat, tapi untuk membuktikan bahwa dirinya layak menjadi penjaga kalam Allah di bumi, dengan akhlak, dengan amal, dengan keikhlasan. Jagalah hafalan dengan menjaga hati. Karena Al-Qur’an tidak menetap di hati yang lalai, apalagi yang penuh maksiat. Ia memilih tempat yang bersih, yang rindu kepada Rabb-nya. Dan ingatlah… jika hari ini kita masih mampu mengingat satu ayat, itu bukan karena kita pantas—tapi karena Allah masih berkenan menitipkannya. Selenglapnya: https://www.instagram.com/p/DXIPeLqEx2q/?igsh=NjB1aG1pdmRzZjBq

*Semua Hafalan Milik Allah* “Dahulu, aku mengira, dengan menghafal Al-Qur’an, aku sedang menjaga Al-Qur’an…” “Ternyata, Al-Qur’an-lah yang menjagaku. Karena semua hafalan milik Allah, dan Allah-lah yang menjaga-Nya” “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an, dan Kami pula yang akan menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9) Aneh, ada yang tak berani mulai menghafal, sebab takut hafalan hilang, takut tak bisa menjaganya. Padahala, sejak awal, Allah sudah mengambil alih penjagaannya. Faktanya, hafalanmu… bukan benar-benar milikmu. Ia bukan sekadar hasil kuatnya ingatan, rajinnya murajaah, tapi bagian dari penjagaan Allah di bumi. Engkau hanya dipilih… untuk menjadi salah satu penjaga itu. Bukan pemiliknya. Namun, pilihan itu bukan tanpa konsekuensi. Penghafal Al-Qur’an tidak boleh hanya mengulang ayat, tapi juga harus membuktikan dirinya layak. Layak menjadi wakil Allah dalam menjaga Kalam-Nya. Bukan hanya di lisan, tapi juga dalam akhlak, dalam pandangan, dalam langkah, dalam setiap keputusan. Maka, jika hafalan itu sering hilang dari hati, mungkin bukan karena Allah tidak menjaga… tapi karena kita belum menjaga diri. Belum layak. Maka jangan hanya sibuk menambah hafalan, tapi sibukkanlah diri memperbaiki kelayakan. Agar Allah tetap memilih kita… menjadi bagian dari penjaga Al-Qur’an-Nya.

WAHAI PENGHAFAL QURAN, BERSABARLAH.. Aku tahu, dulu kamu sering bermimpi tuk menjadi penghafal quran, membayangkan betapa keren-nya bisa hafal 30 juz lalu membacanya dari ingatan tanpa perlu lagi melihat mushaf, juga membayangkan betapa hebatnya menghafalkan 600-an halaman berbahasa arab dan mengucapkannya dengan begitu indah dan fasih. Saat hafalan-mu beranjak banyak: 3, 7, 10 juz, atau lebih dari itu, kamu merasa semuanya tidak semudah yang pernah dibayangkan. Bahkan, menurutmu mimpi itu semakin jauh, terlalu berat untuk diwujudkan. Celakanya lagi, keputusan 'menyerah' mulai membisik pelan dalam pikiran. Ah, nampaknya kamu sudah keliru. Tak ada impian yang menjauh. Yang ada, kesungguhan dan tekad yang menurun dan kian melemah. Jika rasa ini yang sedang kamu alami, maka cobalah tuk mengingat-ingat lagi, bahwa dahulu, saat kamu belum punya pijakan untuk berdiri, kamu pernah bermimpi sangat tinggi. Cita-citamu melayang ringan bagaikan anai. Sekarang, saat kamu sudah mulai berlari, mengapa tiba-tiba kamu takut tak sampai? Jangan buru-buru menyerah. Kamu hanya sedang diuji. Seperti hujan dan badai yang datang menghantam diri, saat kamu tetap teguh menahan pijakan kaki, Allah akan hadiahkan pelangi di ujung perjuangan ini. Allah tahu kamu sering menangis melawan penat. Allah tahu kamu sering menyendiri sunyi dalam malam pekat. Allah tahu kamu telah mengobarkan banyak nikmat. Allah tahu semuanya begitu berat. Allah pun tahu, kamu nyaris kehabisan takad. Tapi dengarkan ini, tak ada yang bisa aku katakan kecuali bersabarlah. Bukankah kita takkan bisa merasakan indahnya cahaya, jika tak pernah tahu rasanya gelap? Bukankah kita takkan bisa menikmati istirahat, jika tak pernah tahu rasanya penat? Ah, Allah hanya ingin, agar kelak kita tersungkur bahagia, sebab mampu merasakan nikmatnya keberhasilan, setelah mati-matian berjuang melawan lelah, yang nyaris membuat menyerah. Bersabarlah... ~ Ahmad Khoirul Anam IG @rindu_surga_ #MotivasiQuran

FASE KEHILANGAN DALAM MENGHAFAL Ada yang putus asa, sebab tengah mengalami kehilangan dalam menghafal. Bagaimana jika aku katakan: kehilangan adalah fase yang pasti dialami setiap penghafal. Bukan kamu saja. Iya. Sebab jika kita tak pernah mengalami kehilangan, kita takkan pernah tahu betapa sakitnya berpisah dari Al-Quran. Kehilangan selalu ada, agar raga terus berjuang, tangan senantiasa menengadah, dan lisan selalu merapal doa-doa. Apakah kamu berpikir, saat kita menghafal satu ayat, maka iya akan kuat begitu saja dalam ingatan? Tidak! Ayat tersebut sesakali menghilang pergi, dan menunggu apa yang kita lakukan setelah itu. Mengajarnya, ataukah mengabaikannya. Ini saya sebut sebagai 'Ujian Kesetiaan'. Mereka yang kesetiannya teruji, takkan hanya diam berdiri. Semangatnya membara, mengejar demi mendapatkannya lagi. Tapi yang kesetiannya lemah, memilih diam dan pasrah, sebab tak sanggup menghadapi hantaman rasa lelah. Sebab itulah, mereka kalah. Ingat ini. Jika hafalan dengan mudah begitu saja lekat dan tak pernah lepas, bagaimana kita tahu 'siapa yang benar-benar berjuang, dan siapa yang begitu lemah mudah berputus asa?' Cepat atau lambat, fase 'kehilangan' pasti akan kita temui. Saat itu terjadi, pilihannya hanya dua: Berjuang mengambilnya lagi, atau menyerah dengan kondisi. Seberat apapun yang kamu rasakan, pilihlah yang pertama. Sebab bagi para pejuang, menyerah bukanlah pilihan. ~ Ahmad Khoirul Anam @rindu_surga_ #MotivasiQuran #TipsMenghafal

UNTUKMU YANG HAFALANNYA SEDANG HILANG Kutuliskan ini, teruntuk dirimu, yang sudah punya hafalan, tapi tengah mengalamai kehilangan. Rasanya, terlalu kejam jika aku katakan, "melupakan hafalan adalah dosa besar." Sebab itu, Aku lebih suka mengatakan, "Tidak apa-apa. Selagi kau menyesalinya dan berjanji tuk kembali memperjuangkan." Barangkali, Inilah salah satu makna 'Al-Quran itu mudah'. Al-Quran tidak hanya mudah dihafalkan, tapi juga 'mudah memaafkan.' Allahmemaafkan semua pengabaian yang telah kita lakukan -atas segala keterlupaan, kekhilafan, dan kelalaian- asalkan kita mau kembali memperjuangkan. Untukmu yang tengah mengalami kehilangan... Malam ini, bangunlah pada sepertiga malam. Berdirilah sholat pada penghujung malam yang kelam. Lakukan dengan penuh kekhusyuan sementara semesta mendengarkan diam. Pada sujud yang tenang, ucapkan penyesalan ini dari hati yang paling dalam: "Ya Allah, maafkan aku karena telah melalaikan Al-Quran. Tapi hari ini, aku berjanji untuk kembali memperjuangkan. Ya Allah, berilah aku kekuatan. Perkenankanlah aku menjadi keluarga-Mu, Ya Rahmaan." Menangislah... Menangislah sejadi-jadi.. Sampai air mata mengobati luka dalam hati... Kita memang layak menangis kepada Rabb Ilahi, sebab hadiah besar telah Allah beri, sedangkan kita terus saja mengingkari tanpa pernah menyadari. Menangis di hadapan manusia tanda kelamahan, tapi menangis di hadapan Allah adalah kepasrahan yang akan melahirkan kekuatan. Setelah sesalmu malam nanti, lembaran perjuangan baru menanti. Kita, sudah kehilangan banyak lembaran yang berarti. Jangan mau kehilangan lagi! Mulai hari ini, tak usah banyak tertawa lagi, tak usah menyia-nyiakan waktu lagi, tak usah juga terlalu menyalahkan diri, dan... mulailah berteman baik dengan sepi. Sebab dalam sendiri, kita akan menyadari, betapa keramaian, menghasilkan banyak kesia-siaan terjadi. Menyendiri-lah bersama Al-Quran dalam sunyi. Berjanjilah. Sungguh-sungguh berjanji, bahwa kau akan berjuang sampai mati, dan takkan menyia-nyiakannya lagi. Sekarang lah waktunya kembali, selagi raga masih sanggup berdiri. Selalu ingat ini, bahwa janji yang selalu kita ingkari, hanya menumbuhkan kesakitan berkali-kali. Seperti jatuh, jika sudah berkali-kali, bukan tidak mungkin, kita akan kehilangan kekuatan untuk bisa bangkit lagi. Pada akhirnya, hasil takkan mengkhianati perjuangan. Sekeras apa kau berjuang setelah ini, akan menentukan hasil di kemudian hari. Bukankah kita selalu diingatkan ini, "Allah takkan mengubah nasib seorang hamba, hingga ia mengubahnya sendiri." Berjuanglah! Kehilangan di hari ini, semoga menjadi bahagia yang besar saat bertemu lagi. Nanti.