en
Feedback
Sastra Pembebasan

Sastra Pembebasan

Open in Telegram

Kumpulan para pecinta sastra yg bukan hanya mencintai keindahan tapi ingin mengembalikan kehidupan Islam

Show more
1 379
Subscribers
No data24 hours
No data7 days
No data30 days
Posts Archive
Mengalami yang dilandasi ilmu dan iman tentu akan berbeda dengan mengilmui dan mengimani tanpa mengalaminya. Yang pertama ilmunya menyatu dg iman dan amal. Yang kedua ilmunya hanya bertumpu pada kesadaran akal, tapi ia sulit merasakan manisnya iman dan amal. (Uus Rusad) https://t.me/SastraPembebasan

Kita tak bisa merasakan kehadiran dan tak bisa memandangNya karena dohir dan bathin kita terhalang oleh dosa. Kita akan merasakan kehadiranNya dan merasakan dipandangNya ketika dohir penuh ketaatan, qolbu kita bening dan hanya Dia yang kita ingat. Dan kita bisa memandangNya( atas izinNya) di saat ruh kita bercahaya, cahaya yang lahir atas karuniaNya, bukan karena amal soleh kita. (Uus Rusad) https://t.me/SastraPembebasan

Wahai diri, berkacalah terus pada cerminmu sendiri, agar engkau tak lagi sibuk berharap mata manusia memperhatikan wajahmu. Cukuplah Allah yang memandang wajahmu sebagai harapanmu agar engkau tak lagi kecewa dan terluka ketika manusia berpaling darimu. (Uus Rusad) https://t.me/SastraPembebasan

Sajak Sang Murid Uus Rusad Aku mencarimu untuk mencariNya Aku merindukanmu untuk merindukanNya Aku mencintaimu untuk mencintaiNya Saat aku takut kehilanganmu, semakin takut lagi aku kehilanganNya Janganlah kau tinggalkan diriku saat aku merasa jauh denganNya Kini dzikirku hampa saat aku jauh darimu yang menjadikanNya menjauhiku Jika DiriNya menginginkanku langsung menujuNya tanpa hadirnya dirimu, maka tunjukkanlah jalan yg lurus, mudah, dan cepat menujuNya darimu dengan izin kehendak, dan kuasaNya Jika engkau ditunjuk olehNya untuk menemaniku mendapatkan cintaNya, janganlah engkau patahkan rinduku dengan sepinya sapa doamu untukku Namun jika aku harus berjalan sendiri menujuNya karena kehendakNya, maka jangan kau putuskan cintaku padamu karenaNya https://t.me/SastraPembebasan

Kekuatan dakwah Islam kaffah yg diperjuangkan para pengembannya, perlahan namun pasti, Allah akan menangkan. Dan itu harus disadari oleh para pejuangnya, bahwa semua keberhasilan yg diraih, bukan lahir karena kekuatan para pengembannya, tapi Allah dengan Maha Rahmaan RahiimNya menutup aib dan dosa para pengembannya. Jadi, tak usah merasa "Aku yg paling berjasa, aku yg paling soleh, aku yg paling cerdas, dan aku yg paling banyak melaksanakan amanah". Tapi, Bertasbihlah, bertahmidlah, dan beristighfarlah tak henti agar karunia Allah tak henti menolong dan melindungi dakwah ini. https://t.me/SastraPembebasan

Takdir adalah bahasa cintanya Allah yang sering tak dimengerti oleh manusia, ketika hawa nafsu terlalu angkuh untuk ditundukkan oleh kesadaran iman. Hingga tak jarang tangis dan tawa diterima dengan nafsu yang membuat hidup hanya berharap Allah selalu kabulkan keinginan manusia, bukannya keinginan manusia yang selalu ikuti inginnya Allah.(Uus Rusad) https://t.me/SastraPembebasan

photo content

Renungan dan Doa Tentang Harta (Bagian Dua) Ya Allah, jauhkanlah aku dari harta yang dapat memiskinkan hidupku—miskin di akhirat, miskin amal soleh, miskin kebaikan, miskin pahala, miskin dari petunjuk-Mu, miskin dari pertolongan-Mu, miskin dari kebenaran-Mu, miskin dari infak untuk kepentingan dakwah dan jihad, serta miskin dari rasa syukur atas harta yang Engkau karuniakan padaku! Ya Allah, jadikanlah harta yang aku miliki hanya untuk mewujudkan segala bentuk penghambaanku pada-Mu! Ya Allah, aku hanya ingin hartaku diperuntukkan berbisnis dengan-Mu, tidak dengan selain diri-Mu. Sehingga aku tak akan pernah miskin , tak akan pernah rugi dan tak akan pernah diperhamba untuk memuja harta. Sebab, aku yakin dengan janji-Mu, jika aku bersyukur (membelanjakan hartaku sesuai dengan syariat-Mu dan penuh keikhlasan), maka Engkau akan menambahkan hartaku, dan Engkau akan memberikan kebahagiaan hidupku dunia dan akhirat—in syaa Allah. Ya Allah, miskinkan aku dari harta, jika kekayaanku semakin menjauhkanku dari akidah dan segala syariat-Mu, semakin membuatku sombong kepada manusia atas harta yang aku miliki, dan semakin aku tak peduli lagi kepada umat dan agama-Mu karena lebih mencintai harta daripada mencintai Engkau dan Rasul-Mu! Ya Allah, kayakanlah aku dengan harta, jika kemiskinanku membuat aku kufur nikmat, membuatku selalu menghinakan diri di hadapan manusia karena ketiadaan harta yang aku miliki, dan membuatku tak bisa berjuang untuk menegakkan agama-Mu di muka bumi ini! Ya Allah, jadikanlah kaya atau miskinku tetap berada dalam ketundukan dan ketaatan atas segala sesuatu yang Engkau dan rasul-Mu kehendaki! Ya Allah, jika Engkau beri aku amanah berupa kekayaan, maka teguhkanlah keyakinan hidupku bahwa harta yang aku miliki hakekatnya hanyalah titipan dan amanah yang harus aku pergunakan hanya untuk mengharapkan pahala dan ridho-Mu semata! Ya Allah, berilah padaku keyakinan bahwa ketika aku mengeluarkan harta untuk dibelanjakan hanya di jalan-Mu, pasti Engkau akan menggantinya dengan pahala yang berlimpah—semakin aku banyak memberi, semakin banyak aku menerima! Ya Allah, jauhkanlah aku dari sifat kikir, pelit dan sifat egois dari harta yang aku miliki! Sebab, jika semua itu ada pada diriku, sungguh hakekatnya aku telah membangun dan melanggengkan kebangkrutan, kemiskinan, kesengsaraan dan kemelaratan di dunia, serta aku telah mempersiapkan neraka sebagai tempat tinggalku kelak di akhirat karena aku tak mau mengeluarkan sebagian hartaku untuk aku belenjakan di jalan dakwah dan jihad. Nauudzubillah! Ya Allah, jika aku miskin dari harta, maka kayakanlah imanku untuk selalu memberi kebaikan, kejujuran dan kebenaran di setiap hela nafas hidupku, baik aku dalam keadaan sempit atau lapang; dalam keadaan sakit atau sehat; dalam keadaan kuat atau lemah; dan dalam keadaan muda atau tua! Selengkapnya: https://nuurunalaanuurin.com/renungan-dan-doa-tentang-harta-bagian-dua https://t.me/SastraPembebasan

photo content

Renungan dan Doa Tentang Harta (Bagian Satu) Aku tanya diriku, siapa aku? Apakah aku yang hanya berpikir makan? Apakah aku yang hanya berpikir hura-hura? Apakah aku yang hanya membelanjakan harta untuk kepentingan wajah, tubuh dan perut semata? Apakah aku yang hanya suka memamerkan pakaian, rumah, mobil, perhiasan dan kekayaan lainnya, yang hanya untuk mendapatkan pujian dan penghormatan bahwa aku orang kaya dan terhormat? Untuk apa sebenarnya aku hidup? Apakah aku dilahirkan hanya untuk minum ASI saat bayi; dibelikan pakaian dan mainan baru ketika jadi anak-anak; masuk sekolah hingga tak terasa sudah menjadi sosok remaja; aku pun dikenalkan oleh dunia pada lawan jenis untuk menjalin cinta atas nama syahwat dan nafsu hingga tak terasa telah dewasa? Apakah hidupku hanya untuk bekerja cari uang, menikah, lalu punya anak; aku beli rumah, barang-barang mewah, kendaraan mewah, bangun villa, menabung uang di bank yang digitnya sudah tak terhitung, membeli tanah ribuan hektar, dan mendirikan perusahaan yang berpuluh sampai ratusan cabang? Semua itu aku lakukan demi anak, istri dan keluargaku agar hidup mereka di dunia bahagia dan sejahtera. Tak terasa aku pun akhirnya membeli sepetak tanah, dan aku pun tinggal (mati) di dalam tanah tersebut. Sesaat aku tersentak. Aku baru menyadari ternyata hidupku hanya untuk menunggu mati. Hidupku yang dihabiskan hanya untuk kepuasan raga belaka. Sungguh aku baru sadar, ketika kematian tiba, hidupku tak memberi apa-apa, dan aku tak menjadi siapa-siapa. Aku hanya menjadi tulang belulang yang akhirnya menjadi tanah sebagaimana pertama kali aku diciptakan. Lantas, dimanakah kini istriku yang cantik, yang dulu aku berjuang mati-matian dengan kebohongan dan penuh kemaksiatan untuk mendapatkan cintanya? Dimanakah kini hartaku yang dulu berlimpah yang tak kenal lelah untuk terus mengumpulkannya hingga aku lupa zakat, infak, shadaqoh dan aku melupakan Allah selama aku mencari dan mengumpulkan harta dunia? Aku tak pernah peduli dari mana hartaku, dan dengan cara apa aku mendapatkannya. Yang penting, tujuanku tercapai bahwa aku adalah orang kaya, aku dihormati dan disegani banyak orang. Dimanakah pangkat dan jabatan yang dulu aku sangat memuja dan membanggakannya, yang dijadikan sebagai kekuatan untuk menaklukan dan menghancurkan siapa saja yang melawan dan menyerangku? Dan sungguh caraku untuk mendapatkan kekuasaan, aku selalu menghalalkan segala cara, penuh muslihat, kelicikan, kebohongan, sikut sana, sikut sini, menjilat, membebek sampai aku berani membunuh kebenaran yang ada pada jiwaku. Dimanakah anak-anakku yang cantik, tampan, kaya dan bergelar? Dulu aku didik mereka untuk mencintai harta, tahta dan rupa, bukan aku didik untuk berpegang pada akidah, syariat dan kebenaran Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan. Selengkapnya: https://nuurunalaanuurin.com/renungan-dan-doa-tentang-harta-bagian-satu https://t.me/SastraPembebasan

photo content

AKU BERPIKIR, AKU TEMUKAN CINTA Hidupku sebenarnya sederhana ketika aku hendak mendapatkan cinta yang dapat membimbingku selalu berada dalam langkah yang benar. Aku hanya membutuhkan keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang benar, cinta dengan sendirinya akan selalu hidup dalam keyakinan yang benar. Untuk mendapatkan keyakinan cinta yang benar, aku harus berangkat dari sebuah pemikiran yang benar. Menurut Anita Tylor, berpikir artinya proses penarikan kesimpulan. Bambang Sumantri, mendefinisikan berpikir sebagai perpaduan otak dengan energi dalam proses mengolah informasi, baik yang datang dari diri sendiri maupun yang datang dari luar diri. Berbeda dengan Jujun S. Sumantri, berpikir diartikan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Sedangkan Syaikh Taqiyuddin dengan pemikiran yang cemerlang mampu mendefiniskan akal, pemikiran, atau kesadaran sebagai pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak, yang disertai adanya informasi awal yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. Aisyah ra. pernah berkata bahwa siapa saja yang menjadikan Allah SWT sebagai akalnya, maka beruntunglah orang tersebut. Begitu juga Rasulullah saw. Bersabda: “Tidak beriman salah seorang diantara kamu sampai hawa nafsu (keinginan)nya mengikuti (tunduk) terhadap apa yang aku bawa (Islam)”. Pada hadits lain dikatakan: “Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga aku berada dalam pikirannya ketika ia berpikir”. Selengkapnya https://nuurunalaanuurin.com/aku-berpikir-aku-temukan-cinta https://t.me/SastraPembebasan

photo content

Doa dalam "Keterasingan" Uus Rusad Ya Allah, jika keterasingan hamba adalah kehendakMu dan ada dalam ridhoMu, jadikanlah hamba sebagai hambaMu yang tak henti memberi manfaat pada sesama hanya karena taat dan berharap cintaMu! Ya Allah, jika keterasingan hamba ada dalam murkaMu, ampunilah atas segala kejahilan dan dosa hamba, dan kembalikanlah keterasingan hamba ada dalam ridhi, ampunan, dan cintaMu! Ya Allah, jika Engkau takdirkan dan Engkau meridhoi hamba yang hina dan jahil ini mendapatkan sahabat sejati yang sama-sama berharap ridho dan cintaMu, pertemukanlah hamba dengannya, dan ikatlah persahabatan kami dengan iman dan karena berharap cintaMu sampai tiba ajal kami! Ya Allah, jika kesendirian hamba karena teguranMu untuk mengingatkan atas segala dosa dan kezoliman hamba pada sesama selama bergaul dengan mereka, ampunilah seluruh dosa dan kezoliman hamba, dan turunkanlah pertolonganMu dan kuasaMu agar hamba mampu meminta maaf dan mengembalikan hak-hak mereka yang telah hamba ambil tanpa hak, yang semuanya hamba lakukan semata-mata berharap ampunan dan cintaMu! Selengkapnya https://nuurunalaanuurin.com/doa-dalam-keterasingan https://t.me/SastraPembebasan

"Iblis menjadi makhluk celaka disebabkan oleh lima hal: (1) tidak mengakui dosa, (2) tidak menyesali perbuatan dosanya, (3) tidak mencela dirinya sehubungan dengan dosa yang dilakukannya, (4) tidak bertekad untuk taubat, dan (5) putus asa terhadap rahmat Allah. Sebaliknya Nabi Adam As berbahagia disebabkan lima hal: (1) mengakui dosa, (2) menyesali atas dosa yang dilakukannya, (3) mencela dirinya sehubungan dengan dosa yang dilakukannya, (4) cepat-cepat bertaubat, dan (5) tidak putus asa terhadap rahmat Allah." (Muhammad bin Ad-Duriyyi) https://t.me/SastraPembebasan

Menasehati itu mudah. Yang berat itu menerima nasehat. Dan yang lebih berat lagi adalah melaksanakan nasehat. Karenanya, janganlah dulu bangga menjadi para pemberi nasehat, jika nasehat itu belum menjadi amal yang sudah melekat pada diri pemberi nasehat. #NasehatUntukDiriSendiri https://t.me/SastraPembebasan

Ketika engkau sering menyalahkan orang lain, saat itu engkau merasa tidak bersalah. Dan saat hidup sering dihiasi merasa tidak bersalah, maka selama itu pula engkau tidak akan pernah mau bertobat dan kembali pada Allah. Dan sikap itulah yang membuat cahayaNya tidak akan pernah masuk pada hatimu. Meskipun engkau mungkin selalu merasa dekat denganNya. (Uus Rusad) https://t.me/SastraPembebasan

Diriwayatkan dari al-Mughirah ibn Uyainah bahwa Nabi Dawud a.s. bermunajat, “Ya Allah, bagaimana bisa aku bersyukur kepada-Mu sedangkan Engkau yang memberi nikmat kepada-Ku dan Engkau pula yang memberiku rasa nikmat untuk bersyukur, lalu Engkau menambahkan lagi nikmat-nikmat yang lain. Sungguh semua nikmat berasal dari-Mu, begitu pula kemampuanku untuk bersyukur berasal dari-Mu. Jadi, bagaimana aku sanggup bersyukur kepada-Mu, ya Tuhanku?” Lalu dikatakan kepadanya, “Sekarang kau mengenal-Ku, hai Dawud dengan sebenar-benar pengenalan.” (Sumber: Imam Ahmad, "al-Zuhd", hal. 66; M. Khalid Tsabit, "RIDHA", hal. 278, QAF: 2021)

SURAT TERBUKA: Curhatan Al-Quran Kepada Kita Aku sering diajak pergi ke acara-acara pernikahan. Tubuhku dibungkus sangat rapi. Lalu aku dijadikan mahar oleh seorang laki-laki. Selesai pernikahan aku disimpan di lemari. Bertahun-tahun aku seorang diri, hingga suatu saat tubuhku koyak di sana-sini, oleh tikus yang sering menengokku setiap hari. Aku gak rela. Aku gak rela diperlakukan seperti ini. Agar kau tahu, aku hadir untuk membimbing kehidupanmu. Mestinya aku mengisi seluruh kehidupanmu. Mestinya aku menjadi sumber inspirasi keseharianmu. Mestinya aku menjadi penuntun hidupmu. Seharusnya aku menjadi teman paling setiamu. Tapi nyatanya aku hanya jadi ban serepmu. Saat ada keluargamu yang sakit barulah kau baca beberapa ayat dariku. Saat ada keluargamu yang meninggal, barulah beberapa lembar kaubaca untuknya. Saat langkahmu sempoyongan, Saat hidupmu dirundung duka, saat langit serasa akan runtuh menjatuhimu, saat gelombang kehidupan dan batu karang menerjang, saat dadamu terasa sesak oleh pedihnya kehidupan, saat tubuhmu letih dan lelah oleh beratnya beban permasalahan, saat wajah-wajah di sekelilingmu tak lagi bersahabat, saat teman-temanmu meninggalkanmu, saat saudara-saudaramu menjauhimu, barulah kau ingat aku. Barulah kau cari-cari aku. Kalao boleh iri, sebetulnya ingin sekali aku seperti ipad atau HP-mu. Yang kemana-mana ia diajak serta. Kemanapun kau pergi ia diajak selalu. Kemanapun kau duduk, ia ada di genggamanmu. Berkali-kali dalam sehari ia kau ajak ngomong. Berpuluh-puluh kali tangan lembutmu membelai-belai wajahnya. Bahakan dalam menjelang tidurmupun ia kau ajak di pembaringanmu. Aku ingin sekali seperti dia. Tapi aku lihat sediri, kau begitu akrab dengan HP atau Ipadmu. Sementara aku, kau biarkan aku seorang diri. Aku jarang sekali kau buka. Tulisan-tulisan, huruf-huruf, kalimat-kalimatku jarang kau baca. Bahkan tubuhku jarang kau sentuh. Kau biarkan aku merana, dan hanya berteman setia dengan debu kotor yang menutupi seluruh wajahku. Bukankah kau tahu, sebenarnya akulah yang akan mendatangkan kedamaian hidupmu saat aku kau baca? Bukankah kau tahu, akulah yang mengundang malaikat penghuni langit turun membawa rahmat, saat kau bersama-sama temanmu berkerumun menyimak diriku? Bukankah kau tahu, aku pembimbing hidumu yang sesungguhnya? Bukankah kau tahu, akulah penuntun hidupmu yang paling setia? Bukankah kau tahu, akulah penyelamat hidupmu dunia akhirat? Yang akan menerangimu di alam kubur yang gelap? Yang akan meneduhkanmu di tengah panasnya padang mahsyar? Yang menggandeng tangamu masuk ke surga? Lalu, mengapa sering kau campakkan aku dari kehidupanmu? Ketahuilah bila kau terus begini, suatu saat penyesalan akan datang menghampirimu. Dan sesal kemudian tiada guna. Sudah banyak teman-temanmu yang di alam kubur sana, bilang kepadaku. Katanya: “ya laitani qoddamtu lihayati, mengapa hidupku dulu begitu, jauh darimu”. “Ya laitani kuntu turaba, mohon aku jadi debu saja, gak kuat aku disiksa siang malam”. Kata Allah: “Tidak, kau adalah manusia. Kau harus tetap manusia dan gak bisa berubah jadi apapun. Kau harus mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatanmu”. Mudah-mudahan curhatanku ini kau dengar baik-baik, kegelisahanku selama ini kau simak dengan seksama, kemurunganku kau senangkan dengan sepenuh hati, keresahanku kau perhatikan dengan segera. Sebelum segalanya terlambat. Sebelum ajal datang menjemput. Demikian curhatan al-Quran kepada kita. Muslih Qurtubi 17 Ramadhan 1438 H https://t.me/SastraPembebasan

photo content