en
Feedback
Flutter Indonesia Bookmarks Channel

Flutter Indonesia Bookmarks Channel

Open in Telegram

Channel yang berisi kumpulan bookmark dan link penting untuk belajar Flutter dan Dart. Untuk pengembangan aplikasi Android dan iOS (Cross Platform) sekaligus.

Show more
609
Subscribers
No data24 hours
-27 days
-630 days
Posts Archive
How to Make Your Antigravity Agent Skills Configurable (Without Forking Them) https://www.freecodecamp.org/news/make-your-antigravity-agent-skills-configurable-without-forking-them/

Seamless Flutter Hooks Integration with BlocSignal via signals_hooks - DEV Community https://dev.to/gde/seamless-flutter-hooks-integration-with-blocsignal-via-signalshooks-55e

How to Build a Production-Ready Flutter CI/CD Pipeline with GitHub Actions: Quality Gates, Environments, and Store Deployment https://www.freecodecamp.org/news/how-to-build-a-production-ready-flutter-ci-cd-pipeline-with-github-actions-quality-gates-environments-and-store-deployment/

Learn How AI Agents Are Changing Software Development by Building a Flutter App Using Antigravity and Stitch https://www.freecodecamp.org/news/learn-how-ai-agents-are-changing-development-by-building-a-flutter-app/

Pernah minta AI membuat fitur sederhana, tapi yang keluar malah kode super kompleks yang merusak fitur lain? 🤯 Saat kita langsung melompat dari "Ide" ke "Kode" (vibe coding) dengan AI, ada dua musuh besar yang sering bikin proyek berantakan: 1️⃣ "Context Lost" (AI Lupa Ingatan) Semakin panjang kodenya, AI sering kali "lupa" dengan aturan awal. Awalnya sepakat pakai Clean Architecture dan penamaan database tertentu, eh di tengah jalan AI malah bikin aturan sendiri. Hasilnya? Kode jadi inkonsisten dan susah di-maintain. 2️⃣ "Scope Creep" (Fitur Siluman) Rencana awal di dokumen cuma minta dibikinkan tombol "Login Email". Tapi tiba-tiba AI berinisiatif menambahkan integrasi Google Login, Apple Login, sampai sistem caching pakai Redis. Kelihatannya keren, tapi ini bikin over-engineering, membengkakkan budget waktu, dan memicu bug baru yang tidak terprediksi! Inilah kenapa kita harus memperlakukan AI bukan sekadar sebagai "mesin ketik", melainkan sebagai tim engineering yang butuh disiplin! Sebagai solusinya, Anda dapat langsung mencoba metodologi SDLC menggunakan Custom Agent berbasis Spec Driven Development yang telah dirangkum secara komprehensif dalam repositori proyek Awesome Copilot Indonesia! 🚀 Di dalam metodologi ini, berbagai tugas diorkestrasi ke beberapa Agent spesifik untuk "menjaga kewarasan" proyek sebelum satu baris kode pun ditulis: 🕵️‍♂️ Clarification Analyst: Menginterogasi dokumen ide awal agar tidak ada celah ambiguitas. 🏛 Specification Architect: Mengunci desain arsitektur dan istilah baku (CONTEXT.md) agar AI Developer tidak "lupa ingatan". 📋 Planner Architect: Memecah desain menjadi rencana kerja yang konkret dan terukur. ⚖️ Artifact Consistency Checker: Bertindak sebagai "polisi" yang mengaudit dokumen agar tidak ada Scope Creep atau "fitur siluman" yang menyelinap masuk! Dengan pendekatan ini, proses pengembangan software dengan AI menjadi jauh lebih aman, terprediksi, dan terstruktur. -------- Semua prompt, alur kerja, dan metodologinya sudah terbuka secara open-source. Silakan pelajari dan coba terapkan di proyek Anda: 📖 Baca konsep lengkapnya di Medium: https://medium.com/javascript-indonesia-community/dari-ide-ke-kode-dengan-sdlc-2-0-mengorkestrasi-custom-agent-ai-dalam-metodologi-github-spec-kit-88861eccfa3e 🌐 Eksplorasi Web Repository: https://gulajavaministudio.github.io/awesome-copilot-id/ 📦 Catatan Rilis di GitHub (Bantu berikan ⭐️ jika bermanfaat!): https://github.com/GulajavaMinistudio/awesome-copilot-id/releases Menurut teman-teman, tantangan terbesar apa lagi yang sering kalian temui saat menggunakan AI untuk coding harian? Yuk diskusi di komentar! 👇 #SoftwareEngineering #SpecDrivenDevelopment #VibeCoding #ArtificialIntelligence #SDLC #GitHubCopilot #TechCommunityIndonesia #OpenSource