FORUM SAKINAH
Open in Telegram
Chanel ini berisi ilmu-ilmu seputar keluarga dan parenting
Show more5 915
Subscribers
+224 hours
+27 days
+6130 days
Posts Archive
5 915
4. Pembentukan jiwa
Pembentukan jiwa anak-anak dapat dilakukan dengan memberikan perhatian dan kasih sayang, seperti belaian, bermain dan bercanda bersama, menyatakan rasa sayang secara lisan, memberi hadiah dan sebagainya. Contoh pembentukan jiwa dalam mendidik anak sholeh dan sholehah pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya Al-Adab al-Mufrad bahwa Abu Hurairah ra. Berkata, “Saya mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku, Rasulullah saw. memegang dengan kedua tangannya kedua telapak cucunya, Hasan dan Husain. Kedua telapak kaki mereka di atas telapak kaki Rasulullah saw. Kemudian beliau berkata, ‘Naiklah.’ Lalu keduanya naik hingga kedua kaki mereka berada di atas dada Rasulullah saw. Kemudian beliau berkata, ‘Bukalah mulutmu.’ Kemudian beliau menciumnya dan berkata, ‘Ya Allah saya mencintainya dan sungguh saya mencintainya.’”
5. Pembentukan intelektual anak
Allah SWT meninggikan derajat ahli ilmu dibandingkan dengan ahli ibadah. Orang tua bisa memberikan motiavasi menuntut ilmu, baik itu ilmu agama maupun sains dan teknologi. Untuk ilmu agama status mempelajarinya adalah fardhu ain, sedangkan untuk sains dan teknologi statusnya adalah fardhu kifayah. Ketika mendidik anak sholeh dan sholehah, orang tua harus dapat membimbing anak-anak memahami hukum-hukum Islam, mencarikan guru yang tepat, mendorong anak mempelajari bahasa Arab dan bahasa asing lain yang diperlukan, mengarahkan anak sesuai minat ilmiahnya.
Kita mungkin pernah mendengar kisah Imam Syafii yang dapat menghafal Al Quran di usia belia (7 tahun). Hal tersebut tidak lepas dari peran Ibu Imam Syafii kecil dalam mengajarkan Islam kepada beliau, memilihkan guru yang tepat dan memotivasinya. Hingga akhirnya dalam usia belasan tahun Imam Syafii sudah dapat memberikan fatwa dan pengajaran.
6. Mengajarkan interaksi dengan masyarakat
Dalam mendidik anak sholeh dan sholehah, mengajarkan berinteraksi dengan masyarakat akan menimbulkan kepedulian dan tanggung jawab anak terhadap persoalan umat. Anak dapat diajak untuk melihat kehidupan petani dan diajak untuk peduli dengan mereka. Anak juga bisa sembari diajarkan hukum-hukum Islam tentang pergaulan ketika berinteraksi dengan masyarakat. Diajarkan tentang pertemanan yang baik. Pahamkan juga kepada anak mengenai peran mereka dalam membantu masyarakat sehingga anak-anak kita tidak menjadi generasi yang apatis.
Itulah 6 cara mendidik anak sholeh dan sholehah dengan tepat dalam menghadapi dunia modern saat ini. Mendidik anak memang tidaklah mudah, butuh kesabaran dan ketelatenan. Kami tambahkan beberapa dalil tentang keutamaan yang akan didapat jika kita memiliki anak sholeh atau kita mendidik anak dengan benar sesuai tuntunan syariat Islam.
Sumber: kaosbapaksholeh.com
t.me/forumsakinah
5 915
6 Cara Mendidik Anak Sholeh dan Sholehah Dengan Tepat
Mendidik Anak Sholeh dan Sholehah adalah tugas bersama ayah dan bunda. Tidak bisa beban mendidik anak sholeh dan sholehah hanya diberikan kepada Ibu saja. Dalam kehidupan modern ini, tantangan untuk mendidik anak semakin besar. Betapa tidak, tayangan media elektronik, internet, media cetak banyak yang mengajarkan budaya yang jauh dari nilai-nilai Islam. Sungguh suatu hal yang tidak kita inginkan bukan, jika anak-anak kita menjadi orang yang durhaka pada kita, bahkan menjadi orang yang mengingkari sunnah serta menentang syariat dari Nya. Naudzabillah min dzalik
Allah SWT akan memberikan keutamaan mendidik anak berupa pahala amal jariyah bagi orang tua yang dapat mendidik anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Tentunya hal tersebut menjadi dorongan motivasi tersendiri dalam mendidik anak. Semangat saja tidak cukup, perlu bekal yang cukup dalam mendidik anak sholeh dan sholehah. Diantara point-point dalam mendidik anak sholeh dan sholehah adalah pembinaan keimanan, pembinaan dan pembiasaan ibadah, pendidikan akhlaq, pembentukan jiwa, pembentukan intelektual serta pembinaan interaksi sosial.
1. Membina keimanan anak
Dalam mendidik anak sholeh dan sholehah, pembinaan keimanan dilakukan dalam dua cara yaitu, mengajarkan keyakinan bahwa Allah senantiasa melihat perbuatan kita dan menanamkan rasa takut kepada Allah SWT. Dengan keyakinan bahwa Allah SWT melihat perbuatan setiap hamba, diharapkan anak akan selalu berbuat sesuai dengan perintah Nya. Tentunya orang tua harus dapat membangun pemikiran yang argumentatif sesuai dengan taraf berikir anak mengenai keberadaan Sang Pencipta terlebih dahulu. Dengan adanya rasa takut terhadap Allah SWT diharapkan anak akan senantiasa menjauhi perbuatan dosa dimanapun dia berada, dalam keramaian maupun sendirian.
2. Membiasakan beribadah pada anak
Patutlah kita mendengar perkataan Dr. Said Ramadhan al-Buthi dalam mendidik anak sholeh dan sholehah, “Agar akidah anak tertanam kuat dalam jiwanya, ia harus disirami dengan air ibadah dengan segala ragam dan bentuknya. Dengan begitu akidahnya akan tumbuh kokoh dan tegar dalam menghadapi terpaan badai dan cobaan kehidupan.”
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang anak tumbuh dalam ibadah sampai ajal menjemput dirinya, melainkan Allah akan memberi dia pahala setara dengan 99 pahala shiddiq (orang-orang yang benar dan jujur).”
Mengajarkan anak ibadah dilakukan dengan mengajak anak melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan kemudian ibadah-ibadah sunnah. Seperti sholat wajib 5 waktu, puasa ramadhan, sholat sunnah dhuha, puasa senin kamis dan sebagainya. Orang tua harus pandai memberikan keteladanan dalam mengajarkan ibadah kepada anak-anak.
3. Pendidikan akhlak dan adab
Akhlak adalah perangai yang dibentuk. Anak-anak mencontoh akhlaq dari lingkungan sekitarnya, terutama orang tua. Dalam mendidik akhlaq anak sholeh dan sholehah peranan teladan orang tua sangat besar. Orang tua harus mampu menjadi contoh pertama dalam mengajarkan akhlaq terpuji seperti jujur, bersabar, rendah hati dan sebagainya. Orang tua juga harus bisa mendeskripsikan akhlaq-akhlaq tercela kepada anak, sehingga anak dapat menghindarinya. Orang tua terkadang harus tegas ketika anak melakukan akhlaq tercela, terutama jika hal tersebut terjadi berulang kali. Rasulullah SAW pernah memberi sanksi kepada anak yang mengkhianati amanah dengan menjewer telinga anak tersebut. Imam an-Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Adzkar: Kami meriwayatkan dalam kitab Ibnu Sinni dari Abdullah bin Bisir ash-Shahabi ra. Yang berkata: “Ibuku pernah menyuruh aku menemui Rasulullah saw. dengan membawa setandan anggur. Namun, aku memakan sebagian anggur itu sebelum menyampaikan-nya kepada Rasulullah saw. Tatkala aku sampai di hadapan Rasulullah saw., beliau menjewer telingaku sambil berkata, ‘Wahai yang mengkhianati janji.’
5 915
❤️ KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH (SAMARA) ❤️
Assalamu'alaikum
Konsep rumah tangga 'samara' dikenalkan oleh Allah SWT kepada kita lewat Firman-Nya; "Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah ia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang berfikir." (QS Ar Rum [30]: 21). Maha Suci Allah dengan segala Firman-Nya. Yang telah menuntun kita dalam segala aspek kehidupan ini.
Dari ayat tersebut di atas kita juga sering mendengar istilah sakinah, mawaddah wa rahmah ini dari doa-doa yang dikirimkan oleh sahabat dan kerabat kepada mempelai saat menikah. Ucapan semoga sakinah mawaddah warahmah sudah sering kita dengar. Namun, apakah kita sudah benar-benar memahami arti kata-kata tersebut?
1. As-Sakinah
As-Sakinah berasal dari bahasa Arab yang bermaksud ketenangan, ketenteraman, kedamaian jiwa yang difahami dengan suasana damai yang melingkupi kehidupan rumahtangga. Ketenangan dan ketentraman inilah yang menjadi salah satu tujuan pernikahan.
Dimana perasaan sakinah itu yaitu perasaan nyaman, cenderung, tentram atau tenang kepada yang dicintai di mana suami isteri yang menjalankan perintah Allah Ta'ala dengan tekun, saling menghormati dan saling toleransi. Dari suasana tenang (as-sakinah) tersebut akan muncul rasa saling mengasihi dan menyayangi (al-mawaddah), sehingga rasa tanggungjawab kedua belah pihak semakin tinggi. Di dalam keluarga sakinah itu pasti akan muncul mawaddah dan rahmah.
2. Al-Mawaddah (Kasih Sayang)
Al-Mawaddah ditafsirkan sebagai perasaan cinta dan kasih sayang. Dimana perasaan mawaddah antara suami isteri ini akan melahirkan keindahan, keikhlasan, dan saling menghormati yang akan melahirkan kebahagiaan dalam rumah tangga.
Melalui al-mawaddah, pasangan suami isteri dan ahli keluarga akan mencerminkan sikap lindung melindungi dan tolong menolong serta memahami hak dan kewajiban masing-masing. Sikap al-mawaddah ini akan terpancar tidak hanya sebatas antara suami istri tapi juga meliputi seluruh anggota keluarga dan masyarakat.
3. Ar-Rahmah (Belas Kasihan)
Ar-Rahmah itu sendiri yang mempunyai makna tulus, kasih sayang dan kelembutan. Dari kata-kata tersebut dapat dijelaskan bahwa rahmah berarti ketulusan dan kelembutan jiwa untuk memberikan ampunan, anugerah, karunia, rahmat, dan belas kasih.
Jadi Ar-Rahmah itu dimaksudkan dengan perasaan belas kasihan, toleransi, lemah-lembut yang diikuti oleh ketinggian budi pekerti dan akhlak yang mulia. Dengan rasa kasih sayang dan perasaan belas kasihan ini, sebuah keluarga ataupun perkawinan akan bahagia. Kebahagiaan amat mustahil untuk dicapai tanpa adanya rasa belas kasihan antara anggota keluarga.
Membina sebuah rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah tentu saja tidak semudah mengatakannya. Hal itu terjadi karena ia melibatkan sedikitnya dua pihak yaitu suami dan istri. Kalau struktur kejiwaan satu orang saja begitu kompleks dan rumit, dapat dibayangkan betapa rumitnya kehidupan bersama yang melibatkan dua manusia. Apalagi kalau ditambah dengan anak-anak. Maka, dibutuhkan kemampuan untuk mengatasinya. Dalam Islam kemampuan itu bernama iman dan ilmu yang dengan keduanya akan membuat seseorang memiliki derajat jauh lebih tinggi daripada yang lain baik di dunia maupun di akhirat (Al Mujadalah 58:11).
Anonim
t.me/forumsakinah
