en
Feedback
Cerita Edgar Hamas

Cerita Edgar Hamas

Open in Telegram

Tulisan-tulisan, opini dan cerita tentang diri, kehidupan, sejarah hingga peradaban

Show more
4 586
Subscribers
No data24 hours
-77 days
-430 days
Posts Archive
"Masa Ini Akan Berlalu..." Edgar Hamas | @ceritaedgar Pernah dengar kisah seorang raja yang memiliki cincin bertulis "masa ini akan berlalu?" Ia kisah singkat, tentang seorang raja bijak yang selalu diingatkan dengan kalimat "masa ini akan berlalu" setiap kali ia mendengar sebuah laporan dari menteri-menterinya. Ketika ada laporan tentang hal buruk dan itu sampai ke telinga sang raja, ia pun sempat gelisah dan khawatir berlebih. Namun ia melihat cincinnya dan membaca "masa ini akan berlalu." Gelisahnya hilang. Ia tahu masa buruk tak akan selamanya. Maka ia fokus membenahi masalahnya. Pun ketika ada kabar gembira yang membuat semua orang bersorak-sorai, sang raja pun kembali menoleh melihat cincinnya, "masa ini akan berlalu." Tadinya ia senang berlebihan. Namun setelah diingatkan oleh tulisan itu, ia kembali tenang. Ia senang, namun tak terlena dan bereuforia. Siklus, itu adalah kuncinya. Sang raja jadi bijak karena tahu masa buruk tak akan selamanya. Masa senang pun tak akan berlama-lama. Sebab ia mengerti bahwa hidup berputar. "Masa ini akan berlalu", kini coba kau renungkan. Jika kau sedang sedih, ketahuilah ia tak akan selamanya. Pun bagi siapapun yang berbuat zalim. Kau mengira mereka akan di atas selamanya? Mengira bahwa mereka tak terkalahkan? "Masa ini akan berlalu", yang zalim akan hilang. Yang di bawah akan naik. Yang tenggelam akan timbul. Yang dizalimi akan menang. Termasuk di Gaza, Palestina. Semua ada masanya. Semua ada waktunya. Yang sedang naik daun akan ada saatnya hilang. Yang terkenal akan redup. Yang berkuasa akan usai. Semua yang di bumi itu fana. Akan usai. "...tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal..." (Ar Rahman 27)

Follow the Generasi Shalahuddin Berilmu channel on WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaSJ3ki7z4kYgFRzuT2N

Produktif Ala Nabi di Bulan Ramadhan Puasa Nabi ﷺ merupakan puasa yang produktif, puasa yang Nabi kerjakan bukan puasa yang m
Produktif Ala Nabi di Bulan Ramadhan Puasa Nabi ﷺ merupakan puasa yang produktif, puasa yang Nabi kerjakan bukan puasa yang membuat malas. Dengan alasan berpuasa, tidak menjadikan Nabi bermalas-malasan. Nabi menjadi orang yang produktif dan menyebarkan kebaikan serta amalan sholih di bulan Ramadhan. Lalu, bagaimana cari kita agar tetap produktif seperti Nabi? Sahabat, mari ikuti kajian inspiratif dalam rangkaian acara "Tarhib Amazing Ramadhan 1445H" #PulangDenganBahagia bersama: Edgar Hamas @cerita.edgar Senin, 4 Maret 2024 Pukul: 20.00 WIB Live Youtube: Cinta Quran Foundation Live Instagram: @cerita.edgar Ajak Sahabat dan keluarga juga ya untuk ikut menyaksikan acara keren ini! #AmazingRamadan #HarusKena #ramadhan #tarhibramadan #bulanramadhan #indonesiacintaquran #cintaquran #cintaquranfoundation

OTW RAMADAN 🔜 🔸 Bisa bertemu Ramadan ialah hadiah dari Allah SWT. 🔸 Ramadan HARUS BANGET kita manfaatkan dengan maksimal.
OTW RAMADAN 🔜 🔸 Bisa bertemu Ramadan ialah hadiah dari Allah SWT. 🔸 Ramadan HARUS BANGET kita manfaatkan dengan maksimal. Temukan cara agar Ramadan kali ini jadi momen bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah dalam webinar bersama narasumber terbaik ✨ “Tarhib Ramadan: Refleksi Keteguhan Palestina” 👳‍♀️ Ustadz Edgar Hamas 📌 Ahad, 25 Februari 2024 ⏰ Pukul 10.00 - 12.00 WIB 📹 Zoom dan YouTube Live Daftarkan dirimu segera! ↩️ s.id/OTWRamadan Atau klik link di bio @lazucare Informasi: Hotline UCare Indonesia +62 8222 333 9773

Dari Abu Ubaidah ke Abu Ubaidah @edgarhamas Founder Gen Saladin Saya selalu suka dengan bagaimana para pejuang di Gaza menjadikan sejarah Islam sebagai inspirator mereka melawan musuh-musuhnya. Seperti alasan dipilihnya nama "Abu Ubaidah" sebagai juru bicara militer yang kata-katanya membuat musuh tak bisa tidur sekaligus melegakan umat. Dalam nasyid Hayyu Rijalil Qassamiye, Abu Ubaidah digambarkan oleh pejuang Gaza dengan sebuah syair, "Wahai orang bertopeng, wahai pemilik kaffiyeh merah; kengerian bagi yahudi. Wahai Abu Ubaidah bertekad kuat, teriakmu adalah mesiu." Dipilihnya nama itu punya alasan yang kuat. Abu Ubaidah adalah nama asli dari Amir bin Abdillah, sahabat Rasul yang sangat istimewa. Umar saja sampai pernah berkata, "kalau Abu Ubaidah masih hidup, aku akan memilihnya untuk menjadi khalifah." Beliau adalah komandan tertinggi pasukan muslimin saat membebaskan Al Aqsha. Jika Khalid adalah panglima yang paling mengerti teknis dan strategi tempur, maka Abu Ubaidah adalah komandan sekaligus juru bicara yang didengarkan oleh semua orang. Beliau dipercaya oleh Abu Bakr, dimuliakan oleh Umar, dan dihormati oleh seorang Khalid. Radhiyallahu Anhum. Dr Saud Ghandur Al Maimuni menulis tentang sifat Abu Ubaidah dan alasan mengapa ia bisa menyatukan 'dua matahari kembar' seperti Sang Umar dan Sang Khalid, "karena beliau sangat rendah hati dalam sikapnya, dan sangat diteladani dalam rasa kecintaannya pada sesama orang beriman." Manusia istimewa seperti Abu Ubaidah ini, Allah takdirkan jadi komandan tertinggi bebasnya Al Aqsha di zaman generasi terbaik. Kamu bisa bayangkan kan seistimewa apa beliau? Hingga suatu kali Umar pernah duduk bersama para sahabat dan berkata, "apa yang kalian inginkan terjadi?" Sahabat lain mulai menjawab, "aku ingin punya banyak emas agar bisa ku infakkan di jalan Allah", yang lain pun menjawab serupa. Tapi Umar menjawab, "aku mengandaikan sebuah rumah yang penuh dengan orang seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, dan aku jadikan ia rekanku dalam ketaatan." Para pejuang di garis depan sedang mengajari kita satu hal: kalau kamu mau jadi umat yang terbaik, maka teladani generasi terbaik. Senada dengan yang Imam Malik nasihati, "generasi akhir umat ini takkan bisa terbaiki kecuali dengan hal yang menjadikan generasi awalnya terbaik."

Al Aqsha, The Beautiful Storyline Edgar Hamas, Founder Gen Saladin Salah satu penjelasan Syaikh Mahmud Shiyam seorang pakar Kepalestinaan yang saya paling ingat adalah ini, "jika Ka'bah dianugerahi Allah dengan kemuliaan yang agung, Allah anugerahkan pada Al Aqsha keindahan." Kenapa indah? Beliau meneruskan, "Al Aqsha nikmat dipandang." Al Aqsha ada di sebuah negeri bernama Palestina yang terkenal dengan kesuburan tanaman, indahnya pepohonan dan tetap memesona bahkan saat diselimuti salju. Namun ada satu hal yang beliau katakan pula, "selain indah tempatnya, jalan cerita tentang Al Aqsha pun indah alurnya." Di sekitar Al Aqsha, ada kisah tentang perjalanan Nabi Musa mendidik Bani Israil, cerita Nabi Daud yang diberi singgasana raja untuk dakwahnya, serta kisah Nabi Sulaiman yang islamkan Ratu Bilqis. Di atasnya pula, ada kisah Nabi Zakaria yang tak pernah kecewa berdoa pada Allah. Storyline tentang Al Aqsha padat dengan cerita hidup manusia-manusia terbaik. Baginda Rasul ﷺ pun dihadiahi shalat di Al Aqsha memimpin para nabi dan rasul saat peristiwa Isra Mi'raj. Masjid dengan sejuta cerita itulah yang menciptakan cerita-cerita hebat hari ini dan nanti. Kini dalam pusaran "Badai Al Aqsha", para pejuang di sana dan kita yang tersebar di penjuru dunia ini menyambut panggilan Al Aqsha lagi. Seakan-akan masjid itu memanggil kita untuk melanjutkan narasi besar yang belum usai. Kisah panjang sebuah umat melawan ketidakmungkinan! Maka, apa yang diperlukan kita untuk melanjutkan kisah itu? Ketahuilah jalan ceritanya sejak awal. Pahami bagaimana alurnya berjalan. Resapi magnet Al Aqsha yang jadi titik temu kisah-kisah hebat itu; dan kau putuskan, apakah mau berpartisipasi melengkapi narasi kebangkitan ini?

Bismillahirrahmanirrahim

photo content

Dan Kini, Tetaplah Jadi Juru Bicara Mereka Edgar Hamas, @cerita.edgar, Founder Gen Saladin Kau tahu apa yang membuat kita seakan-akan melakukan kejahatan hari-hari ini? Ya, ketika kita seperti melihat jutaan rakyat Gaza sedang mati pelan-pelan sementara kita melihat di layar gawai kita. Melihat dalam keadaan perut kenyang, di atas kasur empuk. Apalagi hari terus berjalan. Oktober sudah ke tengah November, dan kita mulai lupa. Kita mulai abai. Kita mulai merasa tak terjadi apa-apa. Kelengahan itulah yang musuh tunggu. Maka mari buat mereka patah, buat mereka tahu bahwa kita tak akan lengah lagi, tak akan mudah lupa. Peliharah rasa bersalah itu dan kemudian lakukan sesuatu. Orang-orang Gaza sudah sampai pada ungkapan, "kami sendirian, Umat Islam meninggalkan kami. Kami berjuang sendiri, dunia telah begitu kejam." Jangan tinggalkan mereka. Jadilah kau juru bicara, buat mereka. Seperti tekad Syaikh Hassan Al Husaini, "aku telah berjanji pada diriku untuk menjadi suara Gaza di tengah ujian berat ini." "Aku ingin menjadi suara yang mewakili teriakan mereka yang hilang karena bombardir tak pernah berhenti, suara bagi mereka yang terjebak di reruntuhan!" Konsistensi dan kepedulianmu kini adalah juru bicara bagi mereka yang tak sempat lagi berkata-kata. Share dan narasimu adalah juru bicara bagi mereka yang tak lagi sempat menghela napas. "Apakah yang aku lakukan berarti?" Ya, jika itu dilakukan oleh jutaan mata hati yang hidup! Aku tahu hidup kita pun punya problema. Aku tahu persoalan di kantor, kampus dan tempatmu hidup pun terus bergulir. Tapi, bukanlah Rasul bersabda, "dan Allah akan menolong seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya"? Di situlah letak keberkahan yang kau butuhkan. Pembelaan ini adalah kesempatan kita mengumpulkan amal shalih. Kepedulianmu bermakna bagi ibu-ibu para syuhada. Suaramu mewakili anak-anak Gaza penghafal Qur'an. Agar kelak di penghakiman Allah, dan ketika orang-orang yang syahid di Gaza ada di hadapan kita, kita punya hujjah!

Gas?
Gas?

Bebaskan Al Aqsha di Kepalamu Oleh @edgarhamas Founder Gen Saladin Di tengah narasi yang saling bertempur riuh tentang Palestina, banyaklah kita sebutkan lagi doa ini, "Allahumma arinal haqqa haqqa, warzuqna ittiba'ahu..." "Ya Allah, tunjukkanlah pada kami bahwa yang benar adalah benar, dan anugerahi kami kemampuan untuk mengikutinya." Sedih rasanya, ada seorang khatib yang mengatakan bahwa Palestina biarlah urusan Palestina karena ini hanyalah masalah politik semata. Kecewa rasanya, ketika mendengar seorang yang punya kapasitas untuk cerdaskan umat, tapi ia berkata bahwa Zi*n15 berhak duduki Gaza. Saya kernyitkan dahi, ketika beberapa akun-akun dakwah mengatakan Qubbatus Shakhrah itu buatan yahudi. Yang lain lagi mengatakan bahwa pejuang Palestina itu buatan zi*n15. Sementara itu, musuh begitu leluasa membunuhi 7000+ saudara kita, dan dunia Islam malah sibuk berdebat. Ada orang yang tahu mana kebenaran, tapi ia gagap menyampaikan. Ada yang merasa mengikuti kebenaran, ternyata yang ia yakini salah fatal. Pemandangan itu masih terjadi hari ini. Pantaslah seorang guru pernah berkata, "Al Aqsha dijajah dulu secara pemikiran sebelum militer." Kita tidak bergerak karena kita ragu-ragu dan tanpa ilmu. Keraguan itu bukannya membuat kita belajar dan mencari ilmu, malah pasrah dan merasa nyaman dalam dekapan kejahilan. "Al Aqsha dijajah dulu secara pemikiran sebelum militer, maka untuk membebaskannya: ilmuilah!" Agar kita tahu bahwa Palestina adalah negeri Anbiya, latar pejuang dari berbagai zaman yang berpusat di Al Aqsha, hingga Ibnu Umar berkata, "ia dibangun oleh para nabi, dijadikan tempat mukimnya para nabi." (Mu'jamul Buldan) Bukan sekedar masalah politik lokal dan rebutan tanah. Agar kita tahu bahwa Allah menyebut Al Aqsha digandengkan dengan Masjidil Haram dalam bentangan Al Qur'an yang mulia. Agar kita tahu bahwa bahkan sebelum wafatnya, Rasul perintahkan ribuan sahabat untuk berangkat menuju Syam demi membebaskan tanah Isra Mi'raj nan bersahaja! Dan agar kita tahu bahwa jalan membebaskan Al Aqsha adalah visi sang Abu Bakr, kecintaan Al Faruq dan jalan kesatrianya Khalid. Nama-nama itu, adalah bintang generasi terbaik yang tinggalnya di Madinah. Namun, dari Madinah mereka membelah jarak agar melihat Al Aqsha merdeka!

Insyaallah Sabtu malam, pendaftaran bisa ke nomor yang tertera ya kawan-kawan
Insyaallah Sabtu malam, pendaftaran bisa ke nomor yang tertera ya kawan-kawan

Suaramu, Ketikanmu; Adalah Peluru @edgarhamas Jika kamu merasa suaramu di media sosial tak bermakna untuk Palestina, kamu salah. Bayangkan ketika seorang pejuang di sana lelah, lalu ia berniat mundur dan menyerah; tapi ia melihat di gawai dan berita lokalnya bahwa dunia Islam mendukung perjuangannya. Itulah napas barunya! Hashtag, tweet, caption, story Instagram; meskipun kita bukan influencer dengan berjuta followers, tapi jika kita lakukan bersama-sama ia akan jadi gelombang yang membuat dunia sadar dari sihir media zionis. Perasaanmu bahwa suaramu tak akan didengar, adalah harapan musuh. Salah satu fakta nyata zionis adalah anggaran besar mereka untuk media. Selain untuk menutup yang terjadi di Palestina, mereka ingin perjuangan bebaskan Al Aqsha hilang dari pikiran bangsa Arab serta Umat Islam. Dan diammu, pesimismu, punya saham buat keberhasilan mereka. Namun perhatikan apa yang kamu bagikan. Konfirmasi lebih dulu sebelum kamu sebarkan. Suarakan dengan ilmu, perhatikan referensi, sumber gambar dan video yang kamu bagi. Jangan blunder. Fokus pada edukasi yang produktif; bukan debat kusir apalagi menyebar hoax. Berizzahlah.

Yang Mereka Gemakan Adalah Harapan dan Cita-cita @edgarhamas, Founder Gen Saladin Alih-alih mengabarkan rasa pesimisme dan kepasrahan, teman-teman kita di Palestina justru sebenarnya ingin memberi kita pesan tentang harapan dan cita-cita. Ketika pesawat tempur musuh beterbangan di langit, mereka sudah sampai di level: kami ini tentaranya Penguasa Langit! Ketika musuh menghancurkan semua terowongan bawah tanah dan memutus semua pipa-pipa penyalur air bersih, mereka sudah sampai pemahaman nyata doa ini, "Ya Allah, tidak akan ada yang bisa memberi apa yang Kau tahan, dan tidak ada yang bisa menahan apa yang Kau beri..." Allahuakbar! Mereka menamai gerakan kali ini sebagai "Badai Al Aqsha", agar kita sebagai Umat Islam ikut merasakan gemanya. Ini semata-mata bukan untuk bendera negara atau perjuangan batas geografis semata. Ini adalah kisah tentang "Daud" melawan "Jalut" untuk membebaskan Masjid Al Aqsha. Kisah yang sebenarnya terjadi adalah tentang sebuah umat yang sedang dibangunkan dari tidur panjangnya. Bukan sesempit konflik politik dan rebut-rebutan tanah. Palestina adalah "bagian dari akidah kita", tutur Syaikh Ali Muhammad Muqbil. Bumi Isra dan Mi'raj-nya Rasulullah. Mereka sedang mengingatkan kita tentang keadilan Umar bin Khattab saat membebaskan Baitul Maqdis, menggugah kita untuk membaca lagi kebijaksanaan Shalahuddin saat menghadapi musuh. Mereka mengingatkan bahwa Umat ini tidak akan pasrah dan tunduk, karena Nabinya adalah Muhammad! Hari-hari ini akan menentukan apakah Gaza akan menjadi "sejarah baru", atau "tinggallah sejarah." Apakah perjuangan ini akan membangunkan umat dari tidur panjangnya. Di detik-detik terberat, justru pertolongan Allah hadir. Berkali-kali sejarah telah mengisahkannya padamu.

Emang Boleh Sepeka Itu? (Tadabbur Surat At Taubah 40) @edgarhamas Salah satu momen yang barangkali akan meruntuhkan 'sok kuatnya' kita, adalah ketika seseorang tanpa ada angin dan badai tiba-tiba bertanya, "kamu lagi nggak baik-baik aja ya?" Kita seperti dibaca olehnya, tepat di halaman terpenting; saat orang-orang sama sekali tak peduli. Ketika yang lain membaca kita sebagai orang kuat dan tangguh, selalu tersenyum dan teguh padahal di dalamnya terseok-seok; lalu kita terbaca bahwa kita tak baik-baik saja. Saya pun pernah akhirnya menangis sesenggukan karena pertanyaan sederhana itu, "kamu ga baik-baik aja ya?" Seseorang yang mampu membaca kita, biasanya ia pun pernah melalui badai hidup yang sama, cobaan yang sama bahkan lebih berat. Maka ia melihat cukup dari menunduk lesunya kita, atau dari helaan napas yang berat sambil duduk terkulai di kursi. Dari mata sayu yang kurang tidur itu. Dan kau tahu? Ada kisah manusia paling tajam kepekaannya pada seseorang terabadikan dalam Al Qur'an. Di saat harus melakukan misi berat antara hidup dan mati, dikejar oleh pembunuh dengan janji upah sangat tinggi. Kalimat itu terucap di gelap gua nan sempit, "jangan bersedih..." Ialah baginda Rasulullah. Gua Tsur nan sempit dan gelap itu beliau jadikan tempat bersembunyi bersama sahabatnya, Abu Bakr. Padahal beliau sendiri sedang terancam, tegang dalam kejaran musuh. Tapi beliau tenangkan Abu Bakr, "Jangan engkau bersedih, sungguh Allah bersama kita.” (QS At Taubah 40) Bagaimana rasanya menjadi Abu Bakr dalam situasi itu? Bisa saja Rasul tak berkata apa-apa, tak melakukan dan menasihati apa-apa. Tapi, Rasul tenangkan sahabatnya; karena Rasul peduli. Beliau peduli pada keadaan orang lain bahkan di saat paling berat. Shalallahu alaihi wasallam. Jika bertemu orang yang mampu membaca bahwa dirimu sedang tak baik-baik saja saat yang lain tak peduli, pasti kau akan mengenangnya dalam memori teristimewa. Dan, begitulah Abu Bakr menjadi perisai dan pembela Rasul paling perkasa. Karena Rasul peduli pada sahabat-sahabatnya. "Kala itu Rasul sedang berhadapan pada tugas besar bernama hijrah yang dirongrong kaum musyrikin" kata Syaikh Abdullah Balqasim, "tapi, beliau tidak lupa untuk menghibur sahabatnya yang bersedih. Maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak peduli pada sahabat kita." masyaAllah! Aku tahu kita seringkali tak baik-baik saja. Kamu bisa saja tak peduli, bisa saja tak pakai hati, karena kamu sendiri sudah remuk redam. Tapi percayalah, salah satu hal yang kau butuhkan untuk mengobati kusamnya hidup itu adalah peduli. Dunia sudah kejam, kita jangan ikut-ikutan.

"Dan Madinah itu lebih baik buat mereka, jika mereka mengetahuinya..." Sabda Rasulullah ﷺ tersebut terpampang dengan tulisan besar di gerbang hotel tempat saya menginap di Kota Madinah bersama @umroh.peradaban . Hadits ini, bagi saya bermakna sangat dalam. Rasulullah ﷺ mengatakannya sambil sekaligus menanamkan visi nan jauh untuk umatnya. "Negeri Syam akan dibebaskan, dan orang-orang membawa keluarganya keluar dari Madinah menuju ke sana, dan (padahal) Madinah itu lebih baik buat mereka jika mereka mengetahuinya." Kemudian Rasulullah ﷺ menyebut negeri Yaman dan Iraq yang kala itu megah dan sejahtera pula. Tapi Rasul ﷺ tetap mengulang sabdanya, "Madinah lebih baik, jika mereka mengetahui." Madinah, kala itu, memang tak sekaya Yaman, tak semakmur Iraq atau seberkilau Syam jika dilihat dengan kacamata keduniaan. Namun, lihatlah dengan baik: di Madinah ada kemurnian. Negeri hijrahnya Rasul ﷺ, dagangannya didoakan berkah oleh Nabi, siapa yang sabar atas panasnya akan diberi syafaat, dan jangan lupa apa kata Nabi pada orang-orang Madinah, "hidupku adalah dengan kalian, pun wafatku pun dengan kalian." Ya, Madinah akan seberkilau itu bagi siapapun yang memahami betapa pentingnya ia dalam sejarah Islam.

photo content

Kalau Jalan-jalan, Ajak Juga Hati @edgarhamas Kalimat ini sangat berarti buat saya ketika melakukan perjalanan, "hal yang paling indah sejatinya bukanlah yang dilihat atau disentuh; melainkan yang dirasakan." Ia membuat perjalanan, sesederhana apapun, menjadi bermakna. Bahkan dari senyuman petani teh yang pulang dari sawah. Ya, petani teh yang tidak saya kenal. Ia naik ke sebuah bus memanggul bawaan. Sebelum naik, ia kumpulkan kekuatan lalu mengucap basmalah diiringi shalawat. Shalawat itu, entah mengapa, terngiang di benak saya hingga kini, melecut saya untuk menghargai setiap momen dengan zikir. Padahal ia hanya naik bus. Hanya beberapa puluh menit ia naik, mulai dari Temanggung sampai dekat ke Wonosobo. Ia tidak berbicara pada saya. Kami tak saling menyapa, hanya saling melempar senyum. Tapi momen itulah yang jadi inspirasi saya: ternyata seringan itulah mengucap shalawat. Dari situlah saya sadar bahwa perjalanan sejati bukanlah tentang kaki yang melangkah atau kamera yang memotret. Ia juga mesti menghadirkan hati, mata hati. Dan sejak itu, saya terbiasa mempelajari sejarah dan hikmah sebuah tempat sebelum mengunjunginya. Hari-hari pertama di Mesir, saya dapat dua buku yang sangat bagus. Fadha'il Mishra wa Mazaya Ahliha karya Dr Musa Syarif, dan Gift of The Nile karya Idris Tawfiq. Dua buku itu jadi kacamata saya memandang Mesir, yang ketika sampai pertama kali sempat kaget, tapi jadi terpesona. Sebelum melanjutkan perjalanan menuntut ilmu ke Madinah, saya sengajakan untuk berjalan di jalanan vintage belakang Al Azhar, untuk mencari buku tentang keutamaan Madinah. Dan ketemu, kitab berjudul Fadha'il Al Madinah. Buku itu juga yang menjadi kacamata saya melihat kota Nabi. Semua itu, agar perjalanan yang saya alami jadi bermakna. Saya memang datang ke Mesir tahun 2015, tapi lewat buku-buku, saya jadi bisa bayangkan derap pasukan Amr bin Ash, atau takbir Shalahuddin dari bentengnya sesaat sebelum melaju ke Baitul Maqdis. Reflecting on experience! Kau boleh jalan jauh-jauh, tapi jangan lupa ambil hikmah dari setiap langkah dan pandanganmu di sana. Ada masa lalu yang membentuknya, ada sejarah panjang yang merangkainya, bahkan ada cinta dan air mata di setiap jengkalnya; meski yang kau lihat hanya bangunan usang dan tua.