en
Feedback
#GenerasiTarbiyah

#GenerasiTarbiyah

Open in Telegram
3 305
Subscribers
No data24 hours
-107 days
-2730 days
Posts Archive
Lanjutan 2.0. 11 hari sudah Syawal berjalan. Lebaran mulai tenang, baju baru tergantung, kue hampir habis. Tapi satu yang jangan ikut reda: semangat taat yang dulu kita jaga kuat saat Ramadan. Ramadan bukan sekadar tamu, tapi guru kehidupan—mengajarkan sabar, ikhlas, dan konsistensi. Saat ia pergi, pelajarannya jangan ikut hilang. Inilah ujian sesungguhnya: apakah kita hanya baik di bulan mulia, atau sedang membentuk diri jadi lebih mulia. Taat bukan soal tanggal di kalender, tapi tentang pilihan setiap hari. Ketika azan tak lagi diiringi suara tadarus massal, ketika malam tak lagi dihiasi tarawih berjamaah—saat itulah kebaikan diuji. Mampukah kita menjaga ritme ibadah meski suasana tak lagi sama? Mari lanjutkan napas kebaikan. Biarlah Ramadan pergi, asal taat tetap tinggal di hati. Sebab Allah menilai bukan hanya di puncak ibadah, tapi juga di sepi—saat kita memilih untuk tetap istiqamah. Selamat melanjutkan kebaikan, kawan. 📷 @tarbiyah.generation

photo content

photo content

photo content

Lanjutan. Ramadan boleh saja usai, tapi bukan berarti perjalanan ibadah kita ikut selesai. Justru sekarang ada satu amalan istimewa yang bisa jadi bukti kesungguhan kita: puasa 6 hari di bulan Syawal. "Barang siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh." (HR. Muslim) Puasa ini bukan hanya soal menambah pahala, tapi juga menjaga ritme. Setelah Ramadan, semangat ibadah sering kali menurun. Nah, puasa Syawal adalah cara kita menunjukkan bahwa ketulusan itu bukan musiman. Ini tentang konsistensi, bukan sekadar suasana. Kamu tidak harus menjalaninya sendiri. Ajak teman atau keluarga agar saling menguatkan. Bisa dicicil, bisa bertahap. Yang penting, niatnya tulus dan langkahnya ikhlas. Kadang, amalan sederhana seperti ini justru bisa menghidupkan kembali semangat yang sempat meredup. Selamat melanjutkan kebaikan, kawan. 📷 @tarbiyah.generation

photo content

Keluarga besar #generasitarbiyah Mengucapkan : Selamat Hari Raya Idulfitri, 01 Syawal 1446 H. تقبل الله منا ومنكم Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian. Di hari yang fitri ini, mari kita kembali ke nol, bukan sekadar reset sesaat, tapi benar-benar bersih dari dosa dan kesalahan. Meminta maaf itu mudah, tapi apakah benar-benar tulus? Jangan sampai seperti bensin oplosan—tampak jernih, tapi ada campuran yang meragukan. Maka dari itu, dari hati yang paling dalam, kami memohon maaf lahir dan batin. Janji, ini tulus, bukan oplosan! Semoga kemenangan ini bukan hanya seremonial #sekalisetahun, tapi awal dari perjalanan baru untuk terus memperbaiki diri. Kebaikan yang telah tumbuh selama Ramadan semoga tetap terjaga dan menjadi bagian dari keseharian. Selamat bergembira, kawan. 📷 @tarbiyah.generation

photo content

photo content

photo content

Janji 2.0. Ramadan hampir berlalu, pintu ampunan masih terbuka lebar. Namun, mengapa hati tetap terasa berat? Mengapa kebiasaan buruk masih sulit ditinggalkan? Mungkinkah dosa yang menumpuk telah mengeraskan hati hingga hidayah tak lagi terasa? Kita selalu berjanji, tahun ini akan lebih baik—lebih taat, lebih dekat dengan Allah. Namun, jika Ramadan pun tak mampu mengubah kita, lalu kapan? Adakah jaminan kita masih bertemu bulan suci berikutnya? Ataukah janji ini hanya terus diulang tanpa pernah ditepati? Bulan penuh berkah ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari dosa yang mengotori jiwa. Jika hati tetap tak tergugah, mungkin bukan Ramadan yang kurang memberi pengaruh, melainkan kita yang terlalu lama membiarkan dosa membelenggu. Kesempatan untuk kembali masih terbuka. Jangan tunda, jangan sia-siakan. Sebab, bisa jadi ini peluang terakhir sebelum hati semakin gelap dan hidayah semakin jauh. Selamat berbenah kembali, kawan. 📷 @tarbiyah.generation

photo content

photo content

Fana. Berjam-jam kita menahan lapar dan dahaga, lalu dalam hitungan menit, semua itu sirna. Perjuangan terasa panjang, tetapi kepuasan datang begitu cepat—dan hilang lebih cepat lagi. Begitulah hidup, penuh usaha dan penantian, tetapi kenikmatannya hanya sementara. Kita mengejar banyak hal: harta, jabatan, pengakuan. Saat didapat, rasanya luar biasa. Namun, berapa lama bertahannya? Seperti lapar yang reda sekejap, kesenangan dunia pun berlalu tanpa kita sadari. Selalu ada yang baru untuk dikejar, selalu ada yang terasa kurang. Ramadan mengajarkan kita untuk tidak tertipu oleh kesementaraan. Bukan hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga mengendalikan ambisi yang tiada ujung. Bukan sekadar berbuka setelah puasa, tetapi memahami bahwa hidup bukan sekadar memenuhi keinginan. Jangan habiskan hidup mengejar yang cepat berlalu. Sebab, yang tersisa kelak hanyalah amal dan bekal menuju kehidupan yang lebih kekal. Selamat berbenah kembali, kawan. 📷 @tarbiyah.generation

photo content

Janji. Ramadan lalu, kita berjanji akan berubah. Kini Ramadan kembali, tetapi apa yang benar-benar sudah kita perbaiki? Atau janji itu hanya sekadar diucapkan tanpa pernah ditepati? Kita ingin dekat dengan Allah, tetapi salat masih ditunda. Bertekad meninggalkan maksiat, tetapi selalu ada alasan. Ramadan datang membawa kesempatan, namun kembali diabaikan. Sampai kapan? Sampai semuanya terlambat? Jangan sia-siakan bulan suci ini, karena waktu tidak menunggu dan usia tidak memberi kepastian. Jika masih diabaikan, apakah kita yakin masih memiliki kesempatan tahun depan? Allah kembali memberi peluang untuk bertobat dan memperbaiki diri. Jangan tunggu besok, jangan tunggu nanti. Sebab Ramadan bisa menjadi panggilan terakhir sebelum semuanya terlambat. Selamat berbenah kembali, kawan. 📷 @tarbiyah.generation

photo content

photo content

photo content

photo content