3 305
Subscribers
No data24 hours
-107 days
-2730 days
Posts Archive
3 305
Keluarga besar #GenerasiTarbiyah
Mengucapkan:
Selamat Hari Raya Iduladha, 10 Dzulhijjah 1446 H.
تقبل الله منا ومنكم
Semoga Allah menerima (amal ibadah) dari kami dan dari kalian.
Tahun ini, maafkan kami karena masih qurban perasaan lagi. Belum mampu menyembelih selain ego, harap yang tak terpenuhi, dan keluh kesah yang diam-diam tumbuh.
Tapi kami belajar, bahwa qurban bukan hanya tentang hewan yang disembelih, melainkan tentang hati yang rela melepaskan dan jiwa yang berserah sepenuhnya.
Semoga yang belum bisa berqurban tahun ini, Allah cukupkan rezekinya dan lapangkan jalannya di waktu yang terbaik. Dan semoga setiap niat baik dicatat sebagai amal yang diterima.
Untuk kalian yang diam-diam berjuang, menjaga niat tetap bersih, menundukkan diri, dan terus melangkah dalam kebaikan—kalian luar biasa.
Selamat bergembira, kawan.
📷 @tarbiyah.generation
3 305
World.
Mereka ingin menghapus sebuah nama, sebuah tanah, sebuah bangsa—dengan tekanan, pembatasan, dan narasi yang direkayasa. Namun yang terjadi justru sebaliknya: kesadaran tumbuh. Dari jalan-jalan kecil hingga mural di kota besar, Palestina hidup di hati yang menolak diam.
Saat sebagian suara dipadamkan, gema justru datang dari penjuru lain. Palestina tak pernah benar-benar sendiri—ia hidup di hati banyak orang, menjelma jadi simbol keteguhan di tengah luka, harapan di tengah sunyi yang disengaja.
Kini bukan lagi soal titik di peta, tapi di mana hati memilih berpijak. Palestina hadir sebagai nurani yang terjaga—mengalir dalam doa, tumbuh dalam empati yang menembus sekat. Ia mengingatkan kita: selama hati masih hidup, kebenaran tak bisa dipadamkan.
Mereka berkata, “Palestina akan hilang.” Namun dunia menjawab: “Kami semua Palestina.” Bukan hanya dalam nama, tapi dalam sikap, dalam pilihan-pilihan kecil yang penuh makna.
Jangan biarkan cerita mereka padam, kawan.
📷 @tarbiyah.generation
3 305
Quiet.
Di dunia yang makin bising oleh konten dan tren, memilih berpihak seringkali dianggap berlebihan. Tapi Palestina tak butuh simpati yang sebentar—mereka butuh kita tetap sadar, bahkan ketika semua orang mulai kembali ke rutinitas.
Saat algoritma tak lagi menampilkan derita, dan berita mulai sunyi, kita diuji: apakah kepedulian kita sungguh tulus, atau hanya ikut arus. Karena keberpihakan sejati tidak menunggu momen viral, ia hidup dalam kesadaran yang tak berhenti.
Boikot bukan hanya tentang produk—ini tentang nurani. Tentang memilih tidak nyaman, demi mereka yang direnggut kenyamanannya. Tentang mengatakan: "Aku tidak akan jadi bagian dari kejahatan, walau lewat hal sekecil uang belanja."
Berpihak bukan soal teriak paling lantang. Tapi tentang bertahan paling lama. Dalam doa, dalam sikap, dan dalam pilihan harian. Selama ketidakadilan masih terjadi, berpihak adalah satu-satunya jalan untuk tetap menjadi manusia.
Suara kecilmu berarti—teruskan, kawan.
📷 @tarbiyah.generation
3 305
Thief.
Mereka datang dengan senjata, mengusir yang tinggal, menghancurkan yang berdiri, lalu mengklaim milik orang lain. Tapi dunia tahu—dan sejarah mencatat—tanah yang dicuri tak pernah berpindah hak di mata kebenaran.
Palestina bukan sekadar wilayah di peta. Ia adalah rumah bagi doa yang tak henti, luka yang belum sembuh, dan harapan yang diwariskan. Hak boleh dirampas, nyawa boleh melayang, tapi cinta pada tanah ini tak bisa dihancurkan.
Pencuri bisa mengambil rumah dan menghapus jejak, tapi tak bisa mencuri sejarah, menggantikan cinta, atau memadamkan keyakinan. Ia tetap pencuri—bukan pemilik.
Palestina tetap Palestina. Hidup di senyum anak-anak di tengah reruntuhan, di peluk ibu yang menggenggam kunci rumahnya, dan di suara hati yang tak akan diam sampai keadilan kembali tegak.
Mari terus menjadi suara bagi mereka, kawan.
📷 @tarbiyah.generation
