en
Feedback
•°أحب الصالحين ولست منهم•°

•°أحب الصالحين ولست منهم•°

Open in Telegram
748
Subscribers
No data24 hours
-27 days
-1930 days
Posts Archive
_Di Indonesia kita menyebutnya 'Ibu rumah tangga" tapi dalam bahasa arab ia dikenal sebagai rabbatul bait" yang berarti ratu
_Di Indonesia kita menyebutnya 'Ibu rumah tangga" tapi dalam bahasa arab ia dikenal sebagai rabbatul bait" yang berarti ratu didalam rumah_ _Begitulah cara islam memuliakan wanita, ia terjaga dan terlindungi di dalam rumahnya. Menjaga harta dan kehormatan suami, mencetak generasi rabbani, tahta tertinggi dan sebaik-baiknya karir wanita shalihah_ _"Agama Adalah Nasihat"_

_Di Indonesia kita menyebutnya 'Ibu rumah tangga" tapi dalam bahasa arab ia dikenal sebagai rabbatul bait" yang berarti ratu
_Di Indonesia kita menyebutnya 'Ibu rumah tangga" tapi dalam bahasa arab ia dikenal sebagai rabbatul bait" yang berarti ratu didalam rumah_ _Begitulah cara islam memuliakan wanita, ia terjaga dan terlindungi di dalam rumahnya. Menjaga harta dan kehormatan suami, mencetak generasi rabbani, tahta tertinggi dan sebaik-baiknya karir wanita shalihah_ #risalahdakwah #milisitauhidmedia _"Agama Adalah Nasihat"_

Kecantikan seorang Perempuan hakiky - -إنَّ الجَّمَالَ لَدى‏ٰ الفتاةِ ثلاثةٌ ، دِينٌ ، وعِلمٌ واحتِشامُ رِدائِها🖤. - Kecantikan seorang perempuan ada pada tiga hal ,yaitu: agama, ilmu pengetahuan dan kesopanan dalam pakaiannya.🤍

Dari Perkataan Ulama Millah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -Rahimahullahu Ta'ala- berkata: "Dalam sunan An-Nasa-i dan Ibnu Maja
Dari Perkataan Ulama Millah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -Rahimahullahu Ta'ala- berkata: "Dalam sunan An-Nasa-i dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah -Radhiyallahu'anhu- bahwa Nabi -Shallallahu'alaihi wa Sallam- bersabda: (Hukum hudud yang dilaksanakan diatas bumi itu lebih baik daripada mereka diberi hujan selama empat puluh hari pada waktu pagi.). Hal ini dikarenakan kemaksiatan merupakan sebab berkurangnya rizki dan menumbuhkan rasa takut terhadap musuh, sebagaimana Al-Kitab dan As-Sunnah telah menunjukkan hal itu, sehingga apabila berbagai hukum hudud telah ditegakkan, maka akan tampak keta'atan dan mengurangi kemaksiatan kepada Allah Ta'ala, sehingga rizki dan pertolongan Allah bisa diraih". [Majmu' Fatawa]

Sangat bermanfaat untuk kita baca 👆

Atau kita bermalam di gurun dan sahara, terusir dan terlunta-lunta, sama saja apakah salah seorang dari kami dijebloskan ke penjara sebagai tahanan, atau bermalam di rumahnya dengan penuh aman dan kebahagiaan, sama saja_* *_apakah kita selamat dan mendapat ghanimah, atau kami terluka dan terbunuh, dan kemenangan bagi kami adalah ketika kami hidup sebagai muwahhid, kufur kepada thaghut dan_* *_merealisasikan al-wala’ wal bara’ dan menegakkan dien. Jika kami meraih itu maka kami menang, apa pun keadaannya kita tetap menang. Ini adalah_* *_kenyataan, demi Allah, dan bukan sekedar slogan, telah digariskan dengan darah oleh orang-orang jujur dari tentara dan pemimpin Daulah Islamiyah._* *_Maka siapa yang tidak seperti ini keadaannya walau berada di barisan kami, maka dia bukan bagian dari kami, dia pasti akan terlihat atau keluar dari kami walau setelah waktu lama_* *_“Maka hendaknya berperang di jalan Allah orang-orang yang telah menukar kehidupan_* *_dunia dengan Akhirat, maka siapa yang berperang di jalan Allah lalu dia terbunuh atau_* *_menang maka Kami akan memberikan kepada mereka pahala yang besar.”_* (An-Nisa : 74)__ Selesai perkataan beliau Ya Allah teguhkan kami, para mujahidin dan kaum muslimin di atas jalanMu Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. *TAHUN 2024* Para pemerhati dunia pergerakan tentu faham tentang impian 2024, namun ternyata itu benar² sebatas mimpi. Beruntunglah orang-orang yang cita-cita mulianya direalisasikan menjadi kenyataan dan bukan impian di atas kasur lapuk semata. Impian cita-cita tegaknya khilafah di tahun 2024, para pe-mimpinya sampai tidak rela bila mimpi itu menjadi kenyataan di tahun 2014, mereka panatik dengan angka 2024 Laa haula wa laa quwwata illa billah Maka angka 2024-pun menerangkan mimpi mereka sebagai aib, kerugian dan kehancuran. Hasbunallah wa ni'mal wakiil Benarkah mereka punya impian khilafah? atau mimpi berbaris mencoreng 2024?! Hasbunallah wa ni'mal wakiil Beruntunglah orang-orang yang azam kebaikannya bukan sebatas mimpi Allahu a'lam

{ وَإِذَا جَآءَتۡهُمۡ ءَايَةٞ قَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ حَتَّىٰ نُؤۡتَىٰ مِثۡلَ مَآ أُوتِيَ رُسُلُ ٱللَّهِۘ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ حَيۡثُ يَجۡعَلُ رِسَالَتَهُۥۗ سَيُصِيبُ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ صَغَارٌ عِندَ ٱللَّهِ وَعَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا كَانُواْ يَمۡكُرُونَ } [Surat Al-An'am: 124] _Dan apabila datang suatu ayat kepada mereka, mereka berkata, “Kami tidak akan percaya (beriman) sebelum diberikan kepada kami seperti yang diberikan kepada rasul-rasul Allah.” Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras karena tipu daya yang mereka lakukan._ Iqomatuddin adalah salahsatu misi kerasulan, pendahulunya adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat, maka para penegak di akhir zaman pun adalah para hamba-hamba Allah yang gigih dalam mengikuti manhaj Rasulullah dan para sahabat, meneladani sifat-sifat mereka dalam iqamatuddin, Ilmu, Pengamalan, Kesabaran, Pengorbanan serta menjual dunia demi akhirat Begitulah sifat para pengusung Khilafah di akhir zaman, mereka penggenggam kebenaran dengan penuh sabar di hari-hari panjang yang sulit, hingga mereka layak disebut "Orang yang bersabar demi agamanya seperti menggenggam bara api" Allah telah memilih para hamba pembawa mahkota khilafah, mahkota Iman dan manhaj, mahkota Tauhid dan Sunnah, mereka pemilik tekad sekuat baja serta izzah bak gunung yang tinggi, para hamba Allah yang memandang terpenggalnya leher merupakan sebuah kehormatan daripada meletakkan mahkota kemulyaan Islam. Maha benar Allah, tak terbayang bila mahkota kemulyaan itu berada di tangan orang-orang yg rapuh, mungkin sebentar saja dia meletakkannya, atau menjualnya atau menukarnya dengan permainan murahan tanpa tanggung jawab Aku semakin kagum dengan bintang yg berkilau Tatkala aku melihat serpihan batu-batu cadas yang rapuh Bandingkan para penjual itu dengan para pendekar yang menunaikan janji! subhanallah wallahu akbar Tak sedikitpun kita bergembira dengan ketergelinciran manusia, namun kita tengah menyaksikan bahwa pada saatnya Allah tampakkan ayat, saat Allah tampakan hukuman yang memalukan akibat dari menyelisihi kebenaran. نسأل الله العفو والعافية في الدنيا والأخرة Diantara keberkahan Al jama'ah adalah dikaruniai para pemimpin yang lurus manhajnya, jujur dalam perbuatannya serta mendapat pertolongan Allah dalam tekad, kesabaran dan pengorbanan, kelurusan manhaj dan kegigihan tekadnya hingga tersusun sebagai warisan yang berharga, benar, warisan dari para syuhada pembawa cahaya perjuangan, yang telah berlaku bagi mereka ungkapan "Darah para syuhada adalah Api dan cahaya" *SELALU MEMOHON TSABAT DAN ISTIQOMAH KEPADA ALLAH* Namun kitapun jangan terpedaya oleh setan di saat 'afiyah (keselamatan) Allah ta'ala anugerahkan kepada kita, jangan lantas membuat diri kita 'ujub, jangan lantas mengucapkan perkara yang batil, karena hanya Allah yang maha tahu tentang orang-orang yang selamat sebenarnya, terkadang seseorang lahiriyahnya tampak selamat sementara batinnya terpapar berbagai syubhat dan syahwat Berbekallah dengan ilmu dan taqwa, perbanyak muhasabah dan istighfar, bila kita dapati kebaikan pada diri kita maka pujilah Allah, ketahuilah bahwa semua itu semata-mata atas pertolonganNya dan karuniaNya, dan bila kita dapati keburukan maka jangan menyalahkan kecuali kepada keteledoran diri kita sendiri, segeralah kembali ke jalan Allah dan bertaubat *KEMENANGAN HAKIKI* Kemenangan hakiki adalah istiqamah dalam ketaatan, dalam taqwa dan Iman, dalam berpegang kepada Aqidah dan manhaj yang shohih Assyeikh Abu Muhammad Al adnaniy rahimahullah berkata : *_Kita berperang karena ingin taat kepada Allah dan ingin mendekatkan diri kepada-Nya, dan kemenangan adalah jika kita hidup dengan kemuliaan dien kita atau mati di atasnya. Sama saja apakah Allah karuniakan kepada kita tamkin.

[======] *MOHONLAH KESELAMATAN* { إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱرۡتَدُّواْ عَلَىٰٓ أَدۡبَٰرِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡهُدَى ٱلشَّيۡطَٰنُ سَوَّلَ لَهُمۡ وَأَمۡلَىٰ لَهُمۡ } _Sesungguhnya orang-orang yang berbalik (kepada kekafiran) setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, setanlah yang merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka._ [Surat Muhammad: 25] { ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُواْ لِلَّذِينَ كَرِهُواْ مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ سَنُطِيعُكُمۡ فِي بَعۡضِ ٱلۡأَمۡرِۖ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِسۡرَارَهُمۡ } _Yang demikian itu, karena sesungguhnya mereka telah mengatakan kepada orang-orang (Yahudi) yang tidak senang kepada apa yang diturunkan Allah, "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan," tetapi Allah mengetahui rahasia mereka._ [Surat Muhammad: 26] Berbalik setelah iman kepada kufur, setelah mukmin menjadi kafir, terjadi pada seseorang terkadang karena ucapan mukaffir (yang menyebabkan kufur) atau perbuatan atau keyakinan mukaffir, masing-masing dari tiga hal ini dapat mengakibatkan kemurtadan apatah lagi bila terkumpul ketiga-tiganya, wa laa haula wa laa quwwata illa billah Hal itu terjadi karena berbagai sebab, adakalanya karena kebodohan terkadang karena hubbud-dunya terkadang karena dengki, atau manhaj yang bengkok dari awal, atau berubah di tengah perjalanan, atau hilangnya kesabaran dalam menempuh panjang dan jauhnya jalan serta bertubi-tubi cobaan, Melalui bermacam sebab ini setan menggelincirkan manusia kepada kekufuran dan riddah Tak luput dari itu adalah orang-orang yang berjalan untuk menegakkan agama Allah Syeikh Abu Muhamad al adnany rahimahullah berkata : *_Sungguh kami telah melihat berbagai keadaan pada orang-orang yang berjalan di jalan jihad ini; di mana di antara mereka ada orang yang berjalan sedikit saja terus tidak lama berselang dia berbelok di awal perjalanan dan ia berhenti di awal ujian, dan di antara mereka ada yang berjalan sampai pertengahan perjalanan kemudian ia tidak kuat memikul gangguan dan_* *_menanggung berbagai_* *_kesulitan kemudian dia diam sejenak dan akhirnya keluar, dan di antara mereka_* *_ada orang yang sampai mendekati akhir perjalanan kemudian kehilangan kesabaran sehingga akhirnya terpuruk, dan_* *_sesungguhnya mereka itu semuanya berstatus sama dengan status orang yang sama sekali tidak pernah melangkah di jalan ini._* Selesai perkataan beliau Jangan beranggapan bahwa berbaliknya orang-orang yang berbalik, terpuruknya orang yang terpuruk disebabkan ketegasan dakwahnya, atau sikap kerasnya terhadap orang-orang kafir di masa lalu, sungguh tegas dalam mendakwahkan kebenaran serta sikap keras terhadap musuh Allah yang dilakukan dengan ikhlas dan benar adalah amal sholih yang diridhoi Allah ta'ala, dan amal sholih akan mendatangkan ridho Allah bukan ketergelinciran Ketergelinciran dan keterpurukan itu diakibatkan manhaj yang bengkok, cenderung kepada kesenangan dunia dan mengikuti hawa nafsu dan setan yg terkutuk Keterpurukan akibat penerapan udzur jahil yang terlalu longgar, keterpurukan akibat bengkok dalam menghukumi anshar thoghut, berlonggar-longgar dalam batasan "ikroh", tertipu dengan "maslahat dakwah" yang palsu. *KEBERKAHAN BUMI MA'RAKAH* Peristiwa di bumi Syam beberapa waktu lalu menyingkap banyak hakikat yang sebelumnya tersembunyi, menyingkap Mukmin dan Munafiq, Pejuang dan pecundang, menyingkap Penegak agama yang sesungguhnya dengan para penggembos dan para pemburu kepentingan, menyingkap siapa sesungguhnya yg teguh dalam menggenggam Al wala' wal baro', siapa yg menunaikan karakter thoifah manshuroh sejati, siapa para pembela Tauhid dan Sunnah yang sesungguhnya. Setelah kobaran api di bumi syam yang panasnya menjalar hampir ke seluruh belahan bumi, benar benar mengungkap mana mutiara yg sesungguhnya Satu persatu pihak yg dulu tajam lisan penuh fitnah dan hujatan, rapuh dan tumbang ibarat rumput layu yg segera lumat, laa haula wa laa quwwata illa billah *ALLAH MAHA TAHU DI MANA MELETAKKAN TUGAS KERASULAN*

Bismillah... - Lelah dalam perjuangan ? - Ghiroh mulai sirnah ? - Futur mulai terus menyelimuti seakan menghangatkan agar ter ninabobok kan pada lubang jurang lebih dalam lagi ? Pertama" perjuangan dalam istiqomah ini untuk siapa ? Untuk Allah ? Untuk rasullullah? Sudah jelas jawaban nya *TIDAK*, melainkan untuk diri kita sendiri dalam keselamatan diri kita dan keluarga kita. Memanglah sangat sulit menggenggam bara api iman di akhir zaman itulah resiko, Rasulullah bersabda : "Mengenggam iman di akhir zaman bagaikan menggenggam bara api" (HR.At Tirmidzi) Sudah pasti dalam perjalanan mengenggam bara api diri kita akan terasa amat panas pedih perih hingga terluka inilah jalan para nabi. Sedangkan sudah jelas kata Rasulullah dunia ini adalah penjara bagi orang beriman, dan syurga bagi orang *KUFFAR* ... Rasulullah bersabda : "Sungguh dunia ini adalah syurga bagi orang kafir, dan penjara bagi orang beriman" (HR.bukhari dan Ahmad) Sekarang fenomena yang sudah lebih dulu mengenal Tauhid lebih banyak berpaling dari al haq ... Jika kita hendak jujur menempu jalan para nabi, kita harus pintar" dalam muhasabah diri dan mengambil ihtibar dari saudara" kita di belahan bumi sana yang lebih sangat teramat kesusahan dari pada kita di sini, namun mereka tetap Istiqomah meniti hingga bahkan tertati" dalam memijaki jalan al Haq ini mengorbankan emosinal perasaan mereka terhadap istri, suami, bahkan anak hingga sanak saudara nya ada yang terbunuh oleh musuh" islam, ada juga meninggalkan keluarga nya untuk menggapai seruan sang illahi ... Sungguh inilah ujian ... Jikalau kita kokoh dalam menggenggam bara api iman ini sungguh itulah sebuah kemenangan dalam lautan fitnah yang sebagai mana kara Rasulullah bersabda kan, "Fitnah ini akan terus membesar meluas merebak kemana" hingga titik puncak nya muncul nya dajjal (laknatullah)" (HR.Abu Daud) Allah berfirman : "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi?" (Q.s Al-‘Ankabuut : 2) Dan sebuah ayat juga menggambarkan seorang rasul dan sahabat" nya saja perna sampai mengeluh atas ujian para nabi. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Q.s Al-Baqarah ayat 214) Maka tetaplah bersabar jangan sampai terlena terhadap bujuk rayu azzazil dan bala tentara nya dan nafsu kita yang hendak menjerumuskan kita ke jalan yang Allah tidak senangi sehingga kita bermaksiat pada Allah, dan membohongi diri kita sendiri dengan selama kita berbuat baik maka akan masuk syurga, sungguh jika hal itu dapat memasukan kita pada syurga para nabi dan sahabat nya tidak akan berdarah" hingga meregang nyawa nya .... Baraqallah fiikum ... isbir walakal jannah

Bismillaah.. Ini harus menjadi pegangan bagi para orang tua.. terutama ibu... Bagaimanakah seseorang bisa mendapatkan anak yang shalih? Ternyata semua itu berawal bukan sedari mendidik anak ketika telah lahir. Namun faktor utama adalah pada istri yang shalihah. Karena istri adalah madrasah awal di rumah. Kalau suami salah memilih atau membina istri menjadi baik, maka keadaan anakmu ikut serba salah. Kalau suami menyerahkan pada istri yang shalihah, anaknya jelas ikut shalih. Karena yang sehari-hari bertemu dengan anak di rumah adalah ibunya. Makanya orang Arab mengatakan, الأُمُّ هِيَ المدْرَسَةُ الأُوْلَى فِي حَيَاةِ كُلِّ إِنْسَانٍ “Ibu adalah sekolah pertama bagi kehidupan setiap insan.” Allah Ta’ala berfirman, وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ “Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al-Baqarah: 221) Kalau istri shalihah yang dipilih pasti akan mendapatkan keberuntungan. Karena, تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ “Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”. (HR. Bukhari, no. 5090 dan Muslim, no. 1446; dari Abu Hurairah) Istri juga harus baik akhlaknya dan benar-benar berpegang pada agamanya. Cobalah lihat penilaian kaum Maryam kepada Maryam ketika ia melahirkan Isa tanpa bapak, يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 28) Maksud ayat tersebut adalah bapak Maryam itu adalah orang shalih, tak mungkin anaknya adalah orang yang berperilaku jelek. Ibunya pun wanita shalihah, tak mungkin anaknya menjadi wanita pelacur. Jadi awalnya dari orang tua, anak itu menjadi baik. Bagi yang sudah terlanjur, tinggal memperbaiki diri. Moga dengan istri menjadi baik, keadaan anak pun menjadi baik. Namun sebenarnya bukan hanya dari istri, suami juga memegang peranan. Suami hendaklah yang baik. Sehingga keduanya akan mendapatkan anak yang shalih/shalihah. Semoga Allah memberkahi keluarga kita menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. ~ Fiqh Tarbiyah Al-Abna__

Hijrah mereka tersebut bukanlah yang pertama dari hijrah-hijrah Ahlu Haq di setiap zaman, namun ianya berhubungan dengan peristiwa-peristiwa alami yang sebagian besar terjadi, Allah Ta'ala berfirman: {Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Rabb mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu.} [Ibrahim: 13]. Jadi, pilihannya di setiap zaman adalah sama: entah berbaur ke dalam masyarakat jahiliyah dan ridha dengan agama maupun duniawi mereka, atau berperang, hijrah serta berpisah dengan keluarga dan teman. Pada tahap penting tersebut, masing-masing manusia akan memilih menurut agamanya, dan mereka yang mendapat taufiq adalah berkat taufiq dari Allah Ta'ala semata. Di antara yang harus diperhatikan dalam peristiwa di hari tersebut adalah pendirian Musa -'Alaihissalam- ketika dia berkata: {Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.}, dia tidaklah mengetahui yang ghaib, akan tetapi dia begitu sangat yakin bahwa pertolongan dari Allah Ta'ala itu pasti, dan ianya akan datang tatkala asbab-asbab dunia terputus untuk mencapainya. Oleh karena itu, seorang mukmin haruslah (terlebih dahulu) mengambil asbab-asbab lalu kemudian meningkatkan keyakinannya pada pertolongan Allah Ta'ala sekalipun tampaknya jauh, sebagaimana jauhnya pikiran Bani Israil akan terbelahnya lautan di hari Asyura, keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta'ala: {Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.} [Yusuf: 110] Sungguh, para kafir penjahat berada di bawah pendengaran dan penglihatan Allah Ta'ala, Dia memberi tangguh mereka bertahun-tahun, tatkala Dia hendak menimpakan kepada mereka Dia tidak akan melepaskan mereka, akan tetapi sesungguhnya Allah Ta'ala hendak menguji para hamba-Nya dengan mereka disaat Dia memberi mereka kekuatan dan kekuasaan, ketenaran dan harta, maka orang yang lemah imannya tergoda oleh mereka dan menyerah kepada mereka karena takut atau tamak, agar terpisah dari barisan kaum Mukmin, sedangkan kaum Mukmin berjalan di atas bashiroh terhadap urusannya, adapun tentang perintah-perintah para thaghut ini, maka dia mengingkari mereka dan mengibadahi Allah dengan memerangi mereka dan mengganggu kehidupan mereka, meskipun perbedaan kemampuan kedua belah pihak sangat besar. Sesungguhnya hari Asyura dalam aqidah kaum Muslimin adalah teladan perjalanan Ahlu Iman dan kelanjutan perseteruan antara mereka dengan orang-orang bathil. Allah Ta'ala bisa saja menurunkan pertolongan-Nya kepada Nabi Musa dan kaumnya sejak pertama kali mereka ditindas oleh fir'aun yang sewenang-wenang, akan tetapi ianya adalah sunnah yang terus berlanjut yang tidak akan berubah dan tidak akan berganti bahwasanya pertolongan tidak akan datang tanpa ujian yang bertubi-tubi. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan. Artikel An-Naba'

Bismillah Asyura Adalah Hari Kaum Muslimin Banyak kaum Muslimin yang jahil akan hakikat tentang beberapa syi'ar-syi'ar Islam sebagai akibat dari penyimpangan yang disengaja yang dimasukkan oleh sekte-sekte sesat ke dalam beberapa syi'ar-syi'ar ini, seperti yang dilakukan para sufi dalam hijrah Nabi, kelahiran, perjalanan Isra' dan Mi'raj, dan lainnya, dan seperti yang dilakukan rafidhah di bulan Allah yaitu Muharram dan bulan-bulan lainnya yang mana mereka mencoba untuk menciptakan ritual-ritual baru yang mengganggu syi'ar-syi'ar Islam dan membenturkannya dengan hujjah yang lemah lagi dusta, akan tetapi bid'ah penghancur ini takkan dapat menghalangi matahari sunnah dan cahayanya yang terang. Pada hari Asyura, Musa -'Alaihissalam- pergi bersama kaumnya dari Mesir, melarikan diri membawa agama mereka, setelah bertahun-tahun dikuasai dan ditindas dengan dibunuhnya anak-anak laki-laki, dan dibiarkan hidup anak-anak perempuan, maupun jenis ujian lain yang pasti berlaku untuk Ahlu iman di setiap zaman. Taktala thaghut fir'aun mengetahui tentang mereka, dia keluar bersama tentaranya mengejar Nabiyullah Musa dan kaumnya ke tepi laut, sehingga mereka yang melarikan diri membawa agamanya berada dalam situasi yang sulit, antara laut yang tidak dapat mereka seberangi dan musuh yang tidak mampu mereka lawan, ketika telah hilang segala asbab-asbab dunia tentang keselamatan, mereka berkata: {Sungguh kita benar-benar akan tersusul.}, akan tetapi Firman Allah tentang jawaban Musa -'Alaihissalam- kepada mereka, yang yakin akan pertolongan Rabbnya: {Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.}, maka Allah Yang Maha Agung memerintahkan laut yang merupakan salah satu ciptaan-Nya, untuk terbelah menjadikan jalan yang kering untuk dilalui oleh mereka yang ditindas agar mereka selamat, kemudian ditutup dengan gelombangnya pada fir'aun dan tentaranya untuk membinasakan mereka, dalam adegan yang mengerikan. Telah nampak jelas di dalamnya kekuatan Allah Ta'ala, pertolongan-Nya untuk hamba-hamba-Nya, dan siksaan-Nya untuk musuh-musuh-Nya. Hari tersebut telah menjadi di antara hari hari Allah yang Allah perintahkan Musa -'Alaihissalam- untuk mengingatkan kaumnya dengannya, Allah Ta'ala berfirman: {Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah".} [Ibrahim: 5], maka setelah itu Nabiyullah Musa terus berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta'ala atas pertolongan-Nya yang nyata demikian juga Bani Israel terus berpuasa setelahnya. Dan ketika Nabi Muhammad -Shallallahu'alaihi wa Sallam- memasuki Madinah, ia menyadari bahwa orang-orang yahudi berpuasa pada hari itu, maka Rasulullah -Shallallahu'alaihi wa Sallam- berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa dalam banyak hadits masyhur, karena kita kaum Muslimin lebih berhak atas Musa -'Alaihissalam- daripada orang-orang yahudi kafir yang mendistorsi dan merubah, sehingga Asyura akan tetap hadir di benak kaum Muslimin, hari yang menjadi renungan di dalamnya untuk kaum Muslimin yang tertindas di bumi akan dekatnya pertolongan Allah kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka, lalu membinasakan musuh mereka dan mengangkat mereka sebagai khalifah di bumi setelah Dia melihat dari mereka upaya keras tanpa henti dalam menjalankan apa yang Allah Ta'ala perintahkan kepada mereka, yakni tauhid, jihad, dan menolong agama. Yang harus direnungi oleh seorang Muslim berkaitan hari ini adalah hijrahnya Musa -'Alaihissalam- serta kaumnya dari tanah mereka dan pengorbanan mereka dengan rumah maupun harta mereka demi keselamatan dalam agama, juga membebaskan diri dari berdampingan dengan orang-orang dzalim serta memisahkan diri dari mereka.

Hijrah mereka tersebut bukanlah yang pertama dari hijrah-hijrah Ahlu Haq di setiap zaman, namun ianya berhubungan dengan peristiwa-peristiwa alami yang sebagian besar terjadi, Allah Ta'ala berfirman: {Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: "Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami". Maka Rabb mewahyukan kepada mereka: "Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang zalim itu.} [Ibrahim: 13]. Jadi, pilihannya di setiap zaman adalah sama: entah berbaur ke dalam masyarakat jahiliyah dan ridha dengan agama maupun duniawi mereka, atau berperang, hijrah serta berpisah dengan keluarga dan teman. Pada tahap penting tersebut, masing-masing manusia akan memilih menurut agamanya, dan mereka yang mendapat taufiq adalah berkat taufiq dari Allah Ta'ala semata. Di antara yang harus diperhatikan dalam peristiwa di hari tersebut adalah pendirian Musa -'Alaihissalam- ketika dia berkata: {Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.}, dia tidaklah mengetahui yang ghaib, akan tetapi dia begitu sangat yakin bahwa pertolongan dari Allah Ta'ala itu pasti, dan ianya akan datang tatkala asbab-asbab dunia terputus untuk mencapainya. Oleh karena itu, seorang mukmin haruslah (terlebih dahulu) mengambil asbab-asbab lalu kemudian meningkatkan keyakinannya pada pertolongan Allah Ta'ala sekalipun tampaknya jauh, sebagaimana jauhnya pikiran Bani Israil akan terbelahnya lautan di hari Asyura, keadaan ini sebagaimana firman Allah Ta'ala: {Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.} [Yusuf: 110] Sungguh, para kafir penjahat berada di bawah pendengaran dan penglihatan Allah Ta'ala, Dia memberi tangguh mereka bertahun-tahun, tatkala Dia hendak menimpakan kepada mereka Dia tidak akan melepaskan mereka, akan tetapi sesungguhnya Allah Ta'ala hendak menguji para hamba-Nya dengan mereka disaat Dia memberi mereka kekuatan dan kekuasaan, ketenaran dan harta, maka orang yang lemah imannya tergoda oleh mereka dan menyerah kepada mereka karena takut atau tamak, agar terpisah dari barisan kaum Mukmin, sedangkan kaum Mukmin berjalan di atas bashiroh terhadap urusannya, adapun tentang perintah-perintah para thaghut ini, maka dia mengingkari mereka dan mengibadahi Allah dengan memerangi mereka dan mengganggu kehidupan mereka, meskipun perbedaan kemampuan kedua belah pihak sangat besar. Sesungguhnya hari Asyura dalam aqidah kaum Muslimin adalah teladan perjalanan Ahlu Iman dan kelanjutan perseteruan antara mereka dengan orang-orang bathil. Allah Ta'ala bisa saja menurunkan pertolongan-Nya kepada Nabi Musa dan kaumnya sejak pertama kali mereka ditindas oleh fir'aun yang sewenang-wenang, akan tetapi ianya adalah sunnah yang terus berlanjut yang tidak akan berubah dan tidak akan berganti bahwasanya pertolongan tidak akan datang tanpa ujian yang bertubi-tubi. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan. Artikel An-Naba' #risalahdakwah #milisitauhidmedia

Bismillah Asyura Adalah Hari Kaum Muslimin Banyak kaum Muslimin yang jahil akan hakikat tentang beberapa syi'ar-syi'ar Islam sebagai akibat dari penyimpangan yang disengaja yang dimasukkan oleh sekte-sekte sesat ke dalam beberapa syi'ar-syi'ar ini, seperti yang dilakukan para sufi dalam hijrah Nabi, kelahiran, perjalanan Isra' dan Mi'raj, dan lainnya, dan seperti yang dilakukan rafidhah di bulan Allah yaitu Muharram dan bulan-bulan lainnya yang mana mereka mencoba untuk menciptakan ritual-ritual baru yang mengganggu syi'ar-syi'ar Islam dan membenturkannya dengan hujjah yang lemah lagi dusta, akan tetapi bid'ah penghancur ini takkan dapat menghalangi matahari sunnah dan cahayanya yang terang. Pada hari Asyura, Musa -'Alaihissalam- pergi bersama kaumnya dari Mesir, melarikan diri membawa agama mereka, setelah bertahun-tahun dikuasai dan ditindas dengan dibunuhnya anak-anak laki-laki, dan dibiarkan hidup anak-anak perempuan, maupun jenis ujian lain yang pasti berlaku untuk Ahlu iman di setiap zaman. Taktala thaghut fir'aun mengetahui tentang mereka, dia keluar bersama tentaranya mengejar Nabiyullah Musa dan kaumnya ke tepi laut, sehingga mereka yang melarikan diri membawa agamanya berada dalam situasi yang sulit, antara laut yang tidak dapat mereka seberangi dan musuh yang tidak mampu mereka lawan, ketika telah hilang segala asbab-asbab dunia tentang keselamatan, mereka berkata: {Sungguh kita benar-benar akan tersusul.}, akan tetapi Firman Allah tentang jawaban Musa -'Alaihissalam- kepada mereka, yang yakin akan pertolongan Rabbnya: {Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.}, maka Allah Yang Maha Agung memerintahkan laut yang merupakan salah satu ciptaan-Nya, untuk terbelah menjadikan jalan yang kering untuk dilalui oleh mereka yang ditindas agar mereka selamat, kemudian ditutup dengan gelombangnya pada fir'aun dan tentaranya untuk membinasakan mereka, dalam adegan yang mengerikan. Telah nampak jelas di dalamnya kekuatan Allah Ta'ala, pertolongan-Nya untuk hamba-hamba-Nya, dan siksaan-Nya untuk musuh-musuh-Nya. Hari tersebut telah menjadi di antara hari hari Allah yang Allah perintahkan Musa -'Alaihissalam- untuk mengingatkan kaumnya dengannya, Allah Ta'ala berfirman: {Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah".} [Ibrahim: 5], maka setelah itu Nabiyullah Musa terus berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta'ala atas pertolongan-Nya yang nyata demikian juga Bani Israel terus berpuasa setelahnya. Dan ketika Nabi Muhammad -Shallallahu'alaihi wa Sallam- memasuki Madinah, ia menyadari bahwa orang-orang yahudi berpuasa pada hari itu, maka Rasulullah -Shallallahu'alaihi wa Sallam- berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa dalam banyak hadits masyhur, karena kita kaum Muslimin lebih berhak atas Musa -'Alaihissalam- daripada orang-orang yahudi kafir yang mendistorsi dan merubah, sehingga Asyura akan tetap hadir di benak kaum Muslimin, hari yang menjadi renungan di dalamnya untuk kaum Muslimin yang tertindas di bumi akan dekatnya pertolongan Allah kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka, lalu membinasakan musuh mereka dan mengangkat mereka sebagai khalifah di bumi setelah Dia melihat dari mereka upaya keras tanpa henti dalam menjalankan apa yang Allah Ta'ala perintahkan kepada mereka, yakni tauhid, jihad, dan menolong agama. Yang harus direnungi oleh seorang Muslim berkaitan hari ini adalah hijrahnya Musa -'Alaihissalam- serta kaumnya dari tanah mereka dan pengorbanan mereka dengan rumah maupun harta mereka demi keselamatan dalam agama, juga membebaskan diri dari berdampingan dengan orang-orang dzalim serta memisahkan diri dari mereka.

Dari Abu Hurairah -Radhiyallahu'anhu-, bahwa Rasulullah -Shallallahu'alaihi wa Sallam- bersabda: (Puasa yang paling utama set
Dari Abu Hurairah -Radhiyallahu'anhu-, bahwa Rasulullah -Shallallahu'alaihi wa Sallam- bersabda: (Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah yaitu Muharram, sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.) [HR. Muslim] An-Naba'