ch
Feedback
🔐🏡 مفتاح دار السعادة

🔐🏡 مفتاح دار السعادة

前往频道在 Telegram

أهلا وسهلا بك Pembimbing & Penasihat: Al-Ustadz Abu Abdillah Achmad Syarifudin Al Jakarty Hafizhahullah Mukim di Lampung. Melalui: Ummu Abdillah Al-Hamdan Aisyah Hafizhahallah

显示更多
3 757
订阅者
无数据24 小时
+157
-1230
帖子存档
MESKI SELURUH AIR SEMESTA MEMBASAHI, TAKKAN MAMPU MENSUCIKAN PENDOSA INI 🔥 ➖➖➖➖➖➖➖ 🌐 Turut publikasi: http://t.me/MiftahDaa
MESKI SELURUH AIR SEMESTA MEMBASAHI, TAKKAN MAMPU MENSUCIKAN PENDOSA INI 🔥 ➖➖➖➖➖➖➖ 🌐 Turut publikasi: http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah

WAHAI ORANG TUA, JAGALAH LISANMU DARI MENDOAKAN KEJELEKAN UNTUK ANAK-ANAKMU 🌿 ➖➖➖➖➖➖➖ 🌐 Turut publikasi: http://t.me/Miftah
WAHAI ORANG TUA, JAGALAH LISANMU DARI MENDOAKAN KEJELEKAN UNTUK ANAK-ANAKMU 🌿 ➖➖➖➖➖➖➖ 🌐 Turut publikasi: http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah

Berbaur Tanpa Terikat 📮Al-Hasan bin Manshur rahimahullah berkata: رُبَّ مُعْتَزِلٍ لِلدُّنْيَا بِبَدَنِه، مُخَالِطِهَا بِقَل
Berbaur Tanpa Terikat 📮Al-Hasan bin Manshur rahimahullah berkata:
رُبَّ مُعْتَزِلٍ لِلدُّنْيَا بِبَدَنِه، مُخَالِطِهَا بِقَلْبِهِ، وَرُبَّ مُخَالِطٍ لَهَا بِبَدَنِه، مُفَارِقِهَا بِقَلْبِهِ، وَهُوَ أَكْيَسُهُمَا.
Ada orang yang menarik diri dari dunia dengan fisiknya, namun hatinya justru larut di dalamnya. Dan ada orang yang fisiknya berbaur dengan dunia, namun hatinya benar-benar telah berpisah meninggalkannya. Dan tipe yang kedua inilah yang paling cerdas di antara keduanya. —Siyar A'lam an-Nubala – Syamsuddin Adz-Dzahabi (Jilid 11, Halaman 384) ======= Sumber: ⏩ https://t.me/salafy_enrekang/1122 Turut publikasi: 🌐http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

.... Setelah ditelusuri lebih dalam, fitnah yang menimpa sebagian syabab —selain mereka yang mengalami futur, awam— secara umum dapat dibagi menjadi tiga keadaan. Pertama, mereka yang secara terang-terangan menyeberang dan "melompati pagar", lalu bergabung dengan Hizbiyyin Turotsiyyin. Kelompok ini sudah jelas sikap dan arahnya. Kedua, mereka yang secara tegas menyatakan penentangan terhadap Hizbiyyin. Namun, mereka memiliki cara pandang sendiri yang cenderung lebih moderat dan merasa lebih unggul daripada para Asatidzah yang telah lebih dahulu berkiprah dan berjasa dalam dunia dakwah. Karena itu, perbedaan antara kelompok pertama dan kelompok kedua sangat tipis. Namun, pada kondisi tertentu, terkadang keduanya bertemu dalam satu kondisi. Ketiga, mereka yang menolak kedua bentuk di atas. Hanya saja, mereka masih menyimpan luka batin terhadap beberapa orang, bukan semuanya, mungkin hanya satu atau dua orang saja. Kelompok ketiga ini, insyaallah, masih lebih diharapkan kesembuhannya dan umumnya lebih mudah didudukkan permasalahannya. Inilah di antara problem yang kita hadapi dalam lima tahun terakhir. Semoga Allah Ta'ala memperbaiki keadaan kita semua serta memberikan taufik untuk tetap istiqamah di atas kebenaran. ======= Sumber: ⏩ https://t.me/abuhazim_faris/3340 Turut publikasi: 🌐http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

▪️ ••┈┈✺ ﷽ ✺┈┈•• ▪️ SAAT LANGKAH PULANG, AIR MATA PUN BERLINANG ••• ​Selepas Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc –hafizhahullah wa waffaqah– selesai menyampaikan materinya pada penghujung rangkaian Daurah Pantura 1448 H, suasana di dalam masjid mulai riuh. Sebagian jemaah tampak bergegas merapikan barang dan beranjak keluar, bersiap menempuh perjalanan pulang menuju daerah masing-masing. ​Di tengah hilir mudik dan derap langkah kaki tersebut, Al-Ustadz Abu Nabil At-Tuwasza –hafizhahullah wa waffaqah– selaku moderator mengambil mikrofon untuk memandu penutupan rangkaian Daurah Pantura 1448 H. Suara beliau menggema, mengalirkan untaian kalimat yang seketika mencuri perhatian dan menggetarkan jiwa:
​“Kini tibalah saatnya kita berpisah, namun semoga yang berakhir hanyalah pertemuan kita, bukan hidayah yang Allah titipkan di dalam dada. Biarlah kaki melangkah pulang ke rumah masing-masing tetapi jangan biarkan hati berpulang dari jalan Allah,...”
​ Kalimat itu tiba-tiba menggantung di udara. Beliau terdiam, tenggorokannya tercekat. Di antara sayup-sayup kegaduhan jemaah yang hendak pulang, terdengar helaan napas yang berat—beliau tak lagi kuasa menahan buncahan tangis yang membendung di dada. Keheningan mendadak merayap di sekitar meja taklim, membuat jemaah yang masih bertahan di dekat beliau ikut larut dalam rasa haru yang menjalar. ​Sambil berjuang keras menyeka air mata perpisahan yang perlahan tumpah, beliau kembali melanjutkan. Suaranya kini terdengar bergetar hebat, berat, memecah kesibukan siang itu dengan ketulusan yang mendalam:
​“Jika selama hari-hari ini ada air mata yang jatuh karena takut kepada Allah, jangan biarkan ia mengering tanpa bekas. Jagalah agar ia menjadi saksi di hadapan Rabb semesta alam. Jika di sini lahir tekad untuk berubah, jangan biarkan ia padam diterpa kesibukan dunia. Sebab, hidayah adalah nikmat yang paling mahal, dan istiqamah adalah karunia yang paling sulit dipertahankan.”
​Kalimat terakhir itu ditutup dengan isak yang coba diredam, namun getarannya telanjur menembus relung hati siapa saja yang mendengar. Kata-kata dari meja taklim itu bukan lagi sekadar formalitas penutupan acara, melainkan cambuk sekaligus pelukan hangat yang menahan langkah-langkah kaki yang hendak pergi. ​Masjid yang semula terdengar riuh oleh derap persiapan pulang, mendadak diselimuti rasa takzim yang pekat. Beberapa jemaah tampak menyeka sudut mata mereka yang basah, menyadari bahwa kepulangan kali ini membawa pundak yang lebih berat—pundak yang memikul amanah besar bernama istikamah. Daurah telah usai, lembaran catatan mungkin telah ditutup, namun tangis perpisahan siang itu akan terus bergema di dalam dada, mengingatkan kami untuk tidak membiarkan hati ini berpulang dari jalan-Nya. ✍🏻 Admin @CatatanThuwailib ======= Sumber: ⏩ https://t.me/CatatanThuwailib/2456 Turut publikasi: 🌐http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

MENGAPA SULIT UNTUK ISTIQAMAH
Banyak orang ingin berubah menjadi lebih baik, tetapi tetap berada di lingkungan yang dahulu menjadi sebab jatuhnya mereka ke dalam kesalahan. Salah satu sebab seseorang sulit istiqamah bukan karena ia tidak ingin berubah, tetapi karena ia masih berada di sekitar hal-hal yang dahulu sering menyeretnya kepada dosa. 📮 Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Bāz rahimahullah berkata¹: وَمِنْ أَسْبَابِ التَّوْبَةِ أَيْضًا وَالِاسْتِقَامَةِ عَلَيْهَا صُحْبَةُ الْأَخْيَارِ وَالتَّأَسِّي بِهِمْ فِي أَعْمَالِهِمُ الصَّالِحَةِ وَالْبُعْدُ عَنْ صُحْبَةِ الْأَشْرَارِ "Di antara sebab yang membantu seseorang untuk bertaubat dan tetap istiqamah di atas taubatnya adalah bersahabat dengan orang-orang baik, meneladani amal-amal shalih mereka, dan menjauh dari pergaulan orang-orang buruk." Perkataan ini menunjukkan bahwa taubat tidak cukup hanya dengan penyesalan, tetapi juga membutuhkan sebab-sebab yang membantu seseorang tetap bertahan di atasnya. 🔐 Dan di antara sebab terbesar itu adalah lingkungan yang baik; teman yang mengingatkan, mencontohkan kebaikan, dan menjaga seseorang dari kembali kepada dosa. Seseorang yang berada di tengah orang-orang shalih akan lebih mudah melihat kebaikan, terdorong untuk menirunya, dan lebih kuat menjaga dirinya. Sebaliknya, lingkungan yang buruk sering menjadi pintu yang menghidupkan kembali kebiasaan lama yang pernah ditinggalkan. 🌿 Seseorang yang ingin menjaga taubatnya harus berani menilai siapa yang layak menemaninya dalam sisa perjalanan hidupnya. Karena tidak semua teman membawa seseorang lebih dekat kepada Allah. Sebagian justru perlahan menariknya kembali kepada jalan yang dulu telah ia tinggalkan. Menjaga taubat bukan hanya tentang meninggalkan dosa, tetapi juga meninggalkan jalan yang bisa mengantarkan kembali kepadanya. Sebab dosa sering kali tidak datang sendiri, tetapi kembali melalui pintu-pintu lama yang masih dibiarkan terbuka.
📚
Catatan Referensi
: ¹ Ibnu Bāz, ‘Abdul ‘Azīz bin ‘Abdillāh (w. 1420 H). Kutub ad-Da‘wah (al-Fatāwā). 1/252. ======= Sumber: ⏩ https://t.me/Salafy_Raja_Ampat/2166 Turut publikasi: 🌐http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

MENGAPA ANDA TIDAK BELAJAR ❓ ➖➖➖➖➖➖➖ 🌐 Turut publikasi: http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah
MENGAPA ANDA TIDAK BELAJAR ❓ ➖➖➖➖➖➖➖ 🌐 Turut publikasi: http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah

🗓 𝗞𝗔𝗟𝗘𝗡𝗗𝗘𝗥 𝗛𝗜𝗝𝗥𝗜𝗬𝗔𝗛 ➖➖➖➖➖➖➖ 🌐 Turut publikasi: http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah
🗓 𝗞𝗔𝗟𝗘𝗡𝗗𝗘𝗥 𝗛𝗜𝗝𝗥𝗜𝗬𝗔𝗛 ➖➖➖➖➖➖➖ 🌐 Turut publikasi: http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah

🎙 Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (wafat tahun 181 H) menyatakan: أَنْتُمْ إِلَى قَلِيْلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ إِلَى
🎙 Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah (wafat tahun 181 H) menyatakan: أَنْتُمْ إِلَى قَلِيْلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ الْعِلْمِ "Kalian lebih membutuhkan adab yang baik meski sedikit, dibandingkan ilmu yang banyak". 📚 Riwayat Ibnul Muqri’ dalam Mu’jamnya ======= Sumber: ⏩ https://itishom.org/blog/artikel/adab/ungkapan-kita-lebih-membutuhkan-adab-yang-baik-meski-sedikit-dibandingkan-banyaknya-ilmu/ Turut publikasi: 🌐 http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah. ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

••• ❝ Di saat jalan-jalan itu terasa semuanya tertutup, di saat seakan-akan sudah tidak ada pintu lagi, pintu doa tidak perna
••• ❝ Di saat jalan-jalan itu terasa semuanya tertutup, di saat seakan-akan sudah tidak ada pintu lagi, pintu doa tidak pernah tertutup. ❞ 💬 Kutipan nasehat Al-Ustadz Muhammad Rijal, Lc. hafizhahullah dalam rangkaian Daurah Pantura 1448 H di Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. ======= Sumber: ⏩ https://t.me/CatatanThuwailib/2457 Turut publikasi: 🌐http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

⚠️ JANGAN MENJADIKAN KELAPANGAN MANHAJ sebagian PARA ULAMA SEBAGAI PEMBENARAN BAGI DIRI SENDIRI Setiap orang hendaknya mengetahui kadar dirinya. Di antara fenomena yang cukup memprihatinkan pada sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Ahlus Sunnah adalah sikap yang terlalu mudah duduk bermajelis, bermuamalah, atau tampil bersama tokoh-tokoh Ahlul Bid'ah, kemudian ketika dinasihati, justru menjadikan para ulama sebagai tameng. Mereka berkata, "Mengapa ulama fulan tidak kalian salahkan?" "Ulama juga pernah duduk bersama mereka." "Seharusnya manhaj kita lapang sebagaimana manhaj para ulama." Padahal, sebelum berbicara demikian, hendaknya seseorang terlebih dahulu bercermin kepada dirinya sendiri. Apakah ia memiliki ilmu, hikmah, kewibawaan, keteguhan, dan pengaruh sebagaimana para ulama? Apakah keberadaannya di majelis tersebut mampu menjelaskan kebenaran dan membantah kebatilan? Ataukah justru kehadirannya dipahami masyarakat sebagai bentuk rekomendasi, pembelaan, atau promosi terhadap Ahlul Bid'ah? Inilah yang sering tidak disadari. Para ulama terkadang melakukan suatu tindakan karena adanya maslahat syar'i yang besar, kemampuan menjelaskan kebenaran, atau demi menolak mafsadah yang lebih besar. Sedangkan tidak setiap orang boleh mengqiyaskan dirinya kepada mereka. Banyak orang justru menjadi sebab tersebarnya syubhat karena masyarakat melihat dirinya sebagai seorang Salafi yang duduk akrab bersama Ahlul Bid'ah, lalu muncul anggapan: "Kalau begitu berarti tidak ada masalah." Bahkan lebih memprihatinkan lagi, ketika dinasihati dengan dalil dan ucapan para ulama Salaf, sebagian mereka justru berbalik menyerang saudara-saudaranya dari Ahlus Sunnah dengan berbagai tuduhan, seperti: * "Tahdzir serampangan." * "Hobinya menyalahkan orang." * "Manhaj gaya baru." * "Tidak lapang." * "Tidak berhikmah." Ironisnya, ketegasan terhadap Ahlul Bid'ah justru dianggap sebagai masalah, sedangkan kedekatan dengan Ahlul Bid'ah dianggap sebagai bentuk keluasan manhaj. Tidak jarang pula mereka mulai meremehkan penyimpangan dengan mengatakan, "Yang penting masih Ahlus Sunnah." "Perbedaannya hanya sedikit." "Ini hanya masalah khilaf fikih." Padahal, tidak semua penyimpangan dapat disederhanakan menjadi sekadar perbedaan fikih. Setiap perkara harus dikembalikan kepada Al-Qur'an, As-Sunnah, serta pemahaman para Salaf dan bimbingan para ulama. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa tawadhu', mengenal kadar dirinya, serta tidak menjadikan perbuatan para ulama sebagai pembenaran untuk sesuatu yang belum tentu sesuai dengan keadaan dirinya. Sebab para ulama memiliki ilmu, bashirah, hikmah, serta kemampuan menimbang maslahat dan mafsadah yang tidak dimiliki oleh kebanyakan manusia. Sebagaimana berkata Ibnu 'Aun rahimahullah: قَالَ ابْنُ عَوْنٍ: «مَنْ يُجَالِسُ أَهْلَ الْبِدَعِ أَشَدُّ عَلَيْنَا مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ» "Ibnu 'Aun berkata: 'Orang yang duduk bermajelis dengan Ahlul Bid'ah lebih kami khawatirkan daripada Ahlul Bid'ah itu sendiri.'" 📚 Al-Ibanah Al-Kubra (2/473) https://shamela.ws/book/8206/509 Mengapa ahlussunnah yang bermajelis dengan ahlubid'ah lebih berat bagi Ahlussunnah yang lainnya dibandingkan ahlubid'ahnya itu sendiri? 1. Karena dia dapat menjadi sebab menyebarnya pemahaman yang keliru 2. Dapat mengaburkan batas antara kebenaran dan kebatilan di mata sebagian orang 3. Dapat menjadi sebab fitnah bagi Ahlussunnah wal Jama'ah. Semoga Allah Ta'ala menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, keikhlasan, keteguhan di atas As-Sunnah, serta menjauhkan kita dari segala sebab yang dapat menimbulkan fitnah terhadap agama dan kaum muslimin. Aamiin. ======= Sumber: ⏩ https://t.me/abuhazim_faris/3335 Turut publikasi: 🌐http://t.me/MiftahDaarSaadah | @MiftahDaarSaadah ▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️▪️

PDF_Transkrip_Daurah_Pantura_MAJT_Masjid_Agung_Jawa_Tengah_Ke_2.pdf1.42 MB

PDF_Transkrip_Daurah_Pantura_MAJT_Masjid_Agung_Jawa_Tengah_Ke_2.pdf1.35 MB

PDF_Transkrip_Daurah_Pantura_MAJT_Masjid_Agung_Jawa_Tengah_Ke_2.pdf1.27 MB

🕌 PDF Transkrip Daurah Pantura MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) Ke-2 (Sesi 7-9) 📑 Pilar-Pilar Mewujudkan Kejayaan Bangsa & Negara ⏺️ Sesi 7: Menghadapi Musibah Dengan Iman & Takwa 🎤 Al-Ustadz Muhammad as-Sewed حفظه الله 📥 https://drive.google.com/file/d/1THB3U-MmKECNDWM_nj0ff3vj4idqbu-8/view?usp=drivesdk ⏺️ Sesi 8: Membangun Negeri Dengan Semangat Thalabul 'Ilmi 🎤 Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله 📥 https://drive.google.com/file/d/15seISeIRySkOcu3LQu7DwwvluYnPYLqu/view?usp=drivesdk ⏺️ Sesi 9: Bekal Seorang Muslim Dalam Menghadapi Perkembangan Zaman 🎤 Al-Ustadz Qomar Suaidi حفظه الله 📥 https://drive.google.com/file/d/1qV8syleGXZOUuMu9xXNm7ixWQSlMP3Zq/view?usp=drivesdk 🔗 Pautan semua PDF: https://drive.google.com/drive/folders/1i5zMwEJP41xWBPeXVW892j209p3qmYBz https://t.me/daurahpantura2026 📚 ll مجموعة طريق السلف ll 📚 🌐 www.thoriqussalaf.com 🌐 http://telegram.me/thoriqussalaf 🌐 http://instagram.com/majmuahthoriqussalaf 🌐 http://m.youtube.com/@MajmuahThoriqusSalaf 🌐 https://www.tiktok.com/@majmuah.thoriqussalaf

PDF_Transkrip_Daurah_Pantura_MAJT_Masjid_Agung_Jawa_Tengah_Ke_2.pdf1.37 MB

PDF_Transkrip_Daurah_Pantura_MAJT_Masjid_Agung_Jawa_Tengah_Ke_2.pdf1.14 MB

PDF_Transkrip_Daurah_Pantura_MAJT_Masjid_Agung_Jawa_Tengah_Ke_2.pdf1.32 MB

🕌 PDF Transkrip Daurah Pantura MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) Ke-2 (Sesi 4-6) 📑 Pilar-Pilar Mewujudkan Kejayaan Bangsa & Negara ⏺️ Sesi 4: Membangun Bahtera Penyelamat, Mensinergikan Ulama & Umara Dalam Menghadapi Musibah 🎤 Al-Ustadz Abdush Shomad Bawazer حفظه الله 📥 https://drive.google.com/file/d/13uL2FsUmwdIuauy43QEXgB6ibTzDZWz_/view?usp=drivesdk ⏺️ Sesi 5: Sabar & Syukur Di Saat Musibah 🎤 Al-Ustadz Abdurrahman Lombok حفظه الله 📥 https://drive.google.com/file/d/1o_Pw4bXA9wdiqHyHPY6h39TICA1yUg7o/view?usp=drivesdk ⏺️ Sesi 6: Keamanan Negeri Buah Dari Ketaatan Kepada Allah & RasulNya 🎤 Al-Ustadz Muhammad Afifuddin حفظه الله 📥 https://drive.google.com/file/d/1wXpHaz7x860Ar07uJNBJ52Sy4GtqDQx8/view?usp=drivesdk 🔗 Pautan semua PDF: https://drive.google.com/drive/folders/1i5zMwEJP41xWBPeXVW892j209p3qmYBz https://t.me/daurahpantura2026 📚 ll مجموعة طريق السلف ll 📚 🌐 www.thoriqussalaf.com 🌐 http://telegram.me/thoriqussalaf 🌐 http://instagram.com/majmuahthoriqussalaf 🌐 http://m.youtube.com/@MajmuahThoriqusSalaf 🌐 https://www.tiktok.com/@majmuah.thoriqussalaf