ar
Feedback
Puisi

Puisi

الذهاب إلى القناة على Telegram

Kumpulan dan wadah berpuisi para pengguna telegram. Dikirim oleh warga telegram, dibaca oleh warga telegram. Kirim puisi original kamu ke @temanpuisi , nanti puisi akan dipilih secara acak oleh admin untuk dipost di channel ini. Paidpromote : @deemuaach

إظهار المزيد

📈 نظرة تحليلية على قناة تيليجرام Puisi

تُعد قناة Puisi (@puisi) في القطاع اللغوي الإندونيسية لاعباً نشطاً. يضم المجتمع حالياً 19 170 مشتركاً، محتلاً المرتبة 1 799 في فئة الكتب والمرتبة 3 857 في منطقة اندونيسيا.

📊 مؤشرات الجمهور والحراك

منذ تأسيسه في невідомо، حقق المشروع نمواً سريعاً وجمع 19 170 مشتركاً.

بحسب آخر البيانات بتاريخ 05 يونيو, 2026، تحافظ القناة على نشاط مستقر. خلال آخر 30 يوماً تغيّر عدد الأعضاء بمقدار -419، وفي آخر 24 ساعة بمقدار -14، مع بقاء الوصول العام مرتفعاً.

  • حالة التحقق: غير موثّقة
  • معدل التفاعل (ER): يبلغ متوسط تفاعل الجمهور 14.33‎%. وخلال أول 24 ساعة من النشر يحصد المحتوى عادةً 1.73‎% من ردود الفعل نسبةً إلى إجمالي المشتركين.
  • وصول المنشورات: يحصل كل منشور على متوسط 0 مشاهدة. وخلال اليوم الأول يجمع عادةً 332 مشاهدة.
  • التفاعلات والاستجابة: يتفاعل الجمهور بانتظام؛ متوسط التفاعلات لكل منشور يبلغ 0.
  • الاهتمامات الموضوعية: يركز المحتوى على مواضيع رئيسية مثل karya, cinta, puisi, angin, kisah.

📝 الوصف وسياسة المحتوى

يصف المؤلف القناة بأنها مساحة للتعبير عن الآراء الذاتية:
Kumpulan dan wadah berpuisi para pengguna telegram. Dikirim oleh warga telegram, dibaca oleh warga telegram. Kirim puisi original kamu ke @temanpuisi , nanti puisi akan dipilih secara acak oleh admin untuk dipost di channel ini. Paidpromote : @deemu...

بفضل وتيرة التحديث المرتفعة (أحدث البيانات بتاريخ 07 يونيو, 2026) تحافظ القناة على حداثتها ومستوى وصول مرتفع. وتُظهر التحليلات تفاعلاً نشطاً من الجمهور، ما يجعلها نقطة تأثير مهمة ضمن فئة الكتب.

19 170
المشتركون
-1424 ساعات
-1147 أيام
-41930 أيام
أرشيف المشاركات
Puisi
19 170
Karya : @asddd_4 U J U N G S E N J A Penghujung hari di depan mata Kapal-kapal membentang layar Pemuda memegang kemudi Menuju senja, membawa lara yang tak usai Menunggu pembebasan. Camar menari dan berkicau Karang kokoh, karam dibawa ombak Di tepi pantai terdiam Menatap warna senja yang tenggelam Ditutupi kisah seorang hawa Menunggu pembebasan darinya. Katakanlah, mungkin besok kita bersama. asdik___15,07,25 Gabung @puisi @temanpuisi

Puisi
19 170
Karya : @a_pangkatdua gemerlapkah rindu bertaburan di benak? lewat degup yang menyala serupa kembang api meletup-letup di kepala duar! letusannya menghias bibirmu merajut kembali senyummu B a s di mana namamu merekah di sana— sebuah detak berkobar menyambut setiap hangat maka bercahayalah tiap-tiap ujung asa yang pernah gulita seperti malam tak berbintang seperti kelam tak terbilang aku kembali memeluk sepersekian detik cumbu memagut candu agar tak kering rayu di helaan napasku B a s kulihat kau menari-nari lalu tertawa di bawah hujan yang kini kuyup menyampaikan rindu membasuh jelaga lukamu dan aku— memotret keindahan itu lewat langit yang masih menyembunyikan waktu mu; ketika tanganku berpayung mencegah hujan membasahi pipi membanjiri hati Gabung @puisi @temanpuisi @sedih dan selamat menikmati jamuan aksara para pujangga 🙌

Puisi
19 170
Karya : @the19755555 Rinduan kita sisir semenanjung haru kita kita padu euforia rasa kita berjalanlah kini air mata tetaplah kini bersama Canda candu lamanya tawa senang bertanpa durjana risau pupus sekejap tubuh satu erat mendekap Kasihku, matipun kaulah kuncinya Manisku, jiwa ini teruntukmu abadinya O Kerinduan, lagikah bertahun kan kembali? 30 Januari 2025. Join @temanpuisi @puisi @sedih Open paid promote juga kita🥳

Puisi
19 170
Kalau nemuin postingan bok ep dkk, lgsg chat Mimin di @ephemeraleunoia yes

Puisi
19 170
Halo, grup temanpuisi kena suspend. Tolong batalkan report atas grup temanpuisi ya. Mimin tidak pernah memposting hal-hal berbau kekerasan, porn dkk. Minta tolong dibantu. Terima kasih. Chat Mimin di @eunoiaephemeral

Puisi
19 170
Karya : @justklairo Sakit Aku seringkali butuh rinai hujan untuk mendung yang kian gelap menyelimuti, Namun, meminta saja tak cukup untuk membuat hujan, Dan tak mungkin juga aku bertahan hingga guntur memaksa diriku untuk jujur ke semua orang. Aku merasa terhimpit diantara dinding ekspektasi, Aku gelisah di dalam sepi, Aku ingin lari menjauh sebelum kepalaku meledak begitu keras, Keringatku mengucur deras menahan pikiran yang kacau tak karuan. Aku ingin menjemput pelangi di akhir Februari, Aku ingin menemukan ujungnya untuk melihat warna-warna yang selama ini membuatku menangis, Aku tidak tau apakah itu sebuah jawaban, Itu adalah usahaku untuk sembuh, Untuk hilang ingatan pada perasaan mengerikan. Feel free to follow @puisi @temanpuisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @relaaxsayaaaaang Perlahan, aksaraku mengikis dialog-dialog drama bersama teman tanpa nama; berjuang mengais waktu menemukan kebenaran. Dalam pekatnya kata yang berdarah-darah, ia susah payah berdiri dengan tubuh yang lebam-lebam nan bungkam. Menggapai ujung temali baik-baik saja agar kesadarannya tak sepenuhnya buram atau menghitam. Meski sesekali bertaruh pada kertas yang hampir di robeknya berkali-kali; atau sekarat menanggung putusnya cerita yang tidak percaya diri—semoga tak pernah lenyap kata maaf yang dimuntahkan bersama sesaknya gundah yang ramah tamah. AIUEO, 8 Juli 2024. ¶|• SL Join saja untuk kirim puisinya @temanpuisi @puisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @Katemiddletonnnn 2025 dua detik setelah mengeja cahaya mimpi buruk berterbangan lagi-lagi jatuh, segalanya luruh separah dan separuh aku tenggelam dalam kenang yang menolak pulang batinku menangis di jalan rumpang memohon agar dicukupkan segala yang hilang bagaimana mungkin kekosongan dapat terasa sesesak ini? lampu-lampu mati, pintu-pintu terkunci namun aku tetap hidup, sekalipun dalam kealpaan semesta dan akan terus hidup, memeluk jiwa yang nyaris redup -z Bogor, 31.12.25 Langsung join @temanpuisi @puisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @Ginfreccs Naii hari ini rintik hujan dari air matamu telah penuh kutampung segera kuambil ranting dari pohon jiwaku, kupatahkan, lalu kubiarkan api dari marah dan kecewamu melumatnya air matamu kumasak dengan dandang yang terbuat dari kedua tanganku kutunggu hingga hangat, lalu kuberikan lagi padamu Naii mandilah Naii,  air hangat itu akan sedikit membuatmu sedikit enakan selepas itu sejenak beristirahatlah teh hangat kesukaanmu kuletakan di tempat biasa aku memandang indah matamu sebahagian akan tetap kusimpan di kampung halamanku. Bandung Gabung langsung ke chanel @puisi @temanpuisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @Jfjdiidd Pencarianku Pencarianku tak kadung temu kepada ia (Kepada ia yang sirna) Buram parasnya di pikiranku (Kepada gelap aku izin melihat) sungguh amat melelahkan .... (Kepada hati dalam keluhan) Berjalan saja hingga kakiku mengeluh Berlari saja hingga keduanya patah Duduk saja hingga niat berdiri. Angin berhembus kencang namun sehelai rambutmu tak terbawa ..., Gemuruh petir berdentum kencang namun teriakanmu tak terdengar ..., Apalagi hujan deras yang bercampur dengan tangismu. wajar saja aku begini Biarkan saja aku begini Mereka-mereka tidak memberiku kewarasan untuk kali ini R. Afrians Jambi, 20 Oktober 2025. Follow @sedih @temanpuisi @puisi Open paid promote juga ya!

Puisi
19 170
Karya : @Rhoomie Mata Rantai Sebuah mata menginap semalam berkutat diri dalam rumah kamar melepas yang telah longgar Mata yang tak kuasa itu, menghilang dalam sekejap terjerembap gelora pesta gelap; Memandang sesama mata, mati nikmat mereka berbagi mengalir pada sungai-sungai panas itu menjelajah dalam hutan yang tak segan disambut meriah itu. Mata dalam mata; tersesat dia dalam semak belukar hutan itu, mengakar mati dalam tanah. RHM, 10 Agustus Please join @temanpuisi @puisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @D_M_Warokka Mari, berkunjung ke tubuhku yang hutan tanpa perlu khawatir tergelincir. Kan kujamu kau dengan murai-murai yang memberi salam, akar liana yang merambat mencari dan mencuri cahaya pagi .... Lalu menetaplah, jika ingin, biar di dadaku kau menjelma debar yang berirama sama dengan debur ombak. Dan kita yang saling berupaya meninju lirih, agar segala pesakitan dapat luruh, sebab itu yang kau mau. Datanglah, pada ingatanku, agar kau tahu, di sana kau begitu riuh, menaiki bianglala di pasar malam kepalaku. Kau tak akan hilang, sebab di sajak-sajak yang pernah kutulis untukmu, di antara diksi-diksi, kau tak lelah-lelahnya menari. Olang.tukik✍🏻☕️ Jakarta Selatan, 2025. Feel free to join @puisi @temanpuisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @Feinmorph La vie en rose, Rabu gelap kembali kabut Eiffel menjulang tinggi beriringan pekat menyambut Ini juga di hadapan muka belum berselang rindu Luruh mencium dinding di antara tubuh-tubuh waktu Aneka ungu telah bermuara nikmati kesepianmu Rose, dimanakah letak pintu terbuka Angin berhembus cumulonimbus bawa suka cita Sajak di etalase, telah dingin tubuhnya 16 derajat Celcius Hawa dan keberadaan sebelum sepenuhnya ketus Inagurasi, kesendirian sebelum kembali suci Dalam susunan kata yang paling sulit dimengerti Aku telah terbakar derita sendiri Jakarta, 2023 Gabung saja, FREE @temanpuisi @puisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @yhharahap Cemburu di dada perempuan setelah lebih dewasa, kita mahir membunuh hal-hal yang terdengar kekanakan, seperti cemburu dan cinta yang tanpa syarat. aku juga bersikap sama, apalagi jika tidak untuk gelar; perempuan dewasa dengan emosional stabil dan tak tergoyahkan. hanya saja, perasaan mana yang turut hilang jika kita masih manusia dengan segala emosi yang tak bisa dihapuskan dari amigdala. tetap saja bara yang lahir dari cemburu berkobar sebagaimana api yang disulut. konon lagi jika si penyulut tak paham seberapa besar kalori yang telah ia panaskan. begitulah adanya cinta, usia hanya membuat kita banyak menekan emosi yang lahir dari damba. sisanya, tinggal pilih saja. kau mau kalah oleh rasa, atau menang menghabisi seluruh bara yang tak pernah mau padam. tentu aku memilih menang. kemenangan yang tetap tak membuat lelaki berwajah bara itu melunturkan sedikit saja sikapnya untuk membuat dadaku lebih tenang. tentu saja, ia tak paham sudah meninggalkan kobaran di hati perempuan yang enggan bicara; berhentilah membuat dadaku panas, sayang. —nonaabuabu Paluta, 27 September 2025. Gabung langsung @temanpuisi @puisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @udaaaaaaaaaaaa KIAMAT Ada luka di tubuh cinta Kala ia disusupi oleh rindu Di antara aliran darah Yang mengalirkan amarah Pada setiap pembuluh Yang setia menyalakan detak Pada jantung yang dirundung Rasa sakit yang kian menjangkit Cinta menjelma ranggas Pada dedaunan pohon Yang menamatkan riwayatnya Dalam sebuah kemarau panjang Yang meracau ihwal perpisahan Di antara udara yang pekat polusi Untuk kuhirup bagi paru yang dirundung pilu Sebagaimana sejarah telah mencatat ihwal nestapa Engkau menjelma taufan Dari arah yang tak pernah kubayangkan Menghantam segenap bangunan harap Merobohkan segala yang tersisa Dari aku yang pernah menjadi pusat Gravitasi, arah dan tujuanmu Namun kini telah menemui ajalnya Yang kusebut ia sebagai: kiamat Tanjungpinang, Desember 2024 | Randai Gabung langsung @temanpuisi @puisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @c0br4n Awas ‎Hujan sore ini menyejukkan bumi ‎yang tadinya panas dan gersang ‎Panas bumi menyebabkan jidatku jadi padang ilalang ‎Semoga jembar pula caraku menulis dan mengarang ‎ ‎Belakangan aku menyadari bahwa para penulis terkenal itu adalah pasien rawat jalan dari rumah sakit khayalan ‎Hanya menulis yang membuat mereka agak baikan ‎ ‎Sebagai pasien kelas satu, kuminum obatku tepat waktu, dengan resep buatan tanganku: ‎ ‎Untuk gejala melankolis seperti aku ‎Obat kimia dan herbal pasti mental ‎Cukup satu sendok teh yang manisnya ada di kamu, serta selimut kata bermerek rindu Wonogiri, 24/ 07/ 2025 Follow @temanpuisi @puisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @florahalfan Dari Balik Tirai Siapa lagi kalau bukan kau yang mengetuk pintu dimalam itu. Aku terlalu lihai memang, menilik itu sudah sering kulakukan. Mencatat setiap ketukan iramamu. Apa kau tak bosan memandangku dari bayang tirai, bahkan kau tak suka kopi pahit yang kuseduh untukmu. _Flora Meielka Halfan Sumbawa, 19 April 2025 Follow @puisi @temanpuisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @arifaugust Cerita itu. langit bercerita, tentang senja yang jatuh berdenting pada jalan-jalan tak berpelita aku menjadi kabut yang bercerita pada bayangmu yang menyulam kegundahanku. ini bukan persoalan arah. ini tentang kelabu, yang kau bingkai dalam tawamu. robeklah keluh kesahku. kumohon ... jangan biarkan aku, menjadi pecahan yang riuh sebelum keheningan membakar. aku tak berpelita, tapi engkau .... kehilangan rindu. arifaugust Jambi, 27 Mei Follow @puisi @temanpuisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @Melki_Unnu PERJUANGAN IMAN Dan murka terus menerka, Di pintu dua kuping Meraung di saung budiman mematikan langkah Tetapi masih ada suara berkutik Mengulik pelik, menilik sulit Perangi rengit, di teras rumah Tuhan Dan orang muda berladang Di kandang radang Menenang garang, memanis asin Melucui batu, dan Perangi kaku Hingga tertawa di awang-awang. Di atas kepala, di mekar pipi Di cerah tatapan Sampai pada tak bersuara Di berbagai nestapa, serupa kehilangan sebuah genggaman Sang yang dikenang. Surabaya, 19 Maret. Follow @temanpuisi @puisi @sedih

Puisi
19 170
Karya : @mhdikhsann00s makan puisi bu, kota ini telah menjadi tempat di mana sastra mati. semua orang, entah kenapa, tiba-tiba saja memiliki jiwa kapitalis. mereka membunuh benih seni & sastra dalam jiwa mereka sendiri. "hari esok kaumakan apa? makan puisi?" barangkali puisi bisa dimakan jika kau (yang dalam tanda kutip) menciptakan ladang bagi puisi. "barangkali kau—yang mengadu kepada ibumu—masih bocah yang belum pernah merasakan mati kelaparan." ah, dasar tuhan. Padang, 2025 Gabung langsung ke chanel @temanpuisi @puisi @sedih