Ask The Experts
Kanalga Telegram’da o‘tish
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Ko'proq ko'rsatish1 812
Obunachilar
+124 soatlar
+67 kunlar
+2030 kunlar
Postlar arxiv
1 812
“Managed Care Dalam Credentialing & Contracting Provider“
Ikuti Webinar Gratis PAMJAKI Edisi Kedua tentang Managed Care Dalam Credentialing & Contracting Provider.
📅 Jumat, 9 Januari 2026
⏰ 10.00 - 11.30 WIB
🎙 Speaker :
1. Dr. dr. Andi Afdal Abdullah, MBA, AAK, CHIA
2. dr. Donni Hendrawan, M.P.H, AAAK, CHRM, CHIA, CGRCP, CGP
3. Arpan Maulana, SE, AAK, CHIA, CHIP, QRGP
Moderator: Iqbal Adiyat, S.T., CPR, AAAK
💻 Link zoom:
https://bit.ly/JoinZoomWebinarEdisiKe-2
💻 Virtual Background
https://bit.ly/VirtualBckgroundEdisi-Ke2
GRATIS!
Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000Daftar sekarang : https://bit.ly/Registrasi-Webinar-Managedcare2
1 812
WELAS ASIH 🥰
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Ketika petugas security Hotel Aston Solo yang mengurus parkir mobil saya dengan datang memberi tahu bahwa kunci mobil saya belum ditemukan, saya sebenarnya cukup kesal. Saya sudah menunggu lebih dari 30 menit. Tapi dia datang dengan menunduk-nunduk. Dengan perasaan kesal saya akhirnya memilih pesan ojek pulang pergi ke Notosuman.
Saat kembali ternyata kunci mobil saya belum ditemukan. Marah? Tidak. Saya tanya,"Mana manager on duty?" Setahu saya manager on duty itu stand by 24 jam di hotel, ternyata tidak.
Menanyakan manajer itu bagian terpenting. Yang kita hadapi di lapangan itu adalah petugas paling bawah. Mereka kerap melakukan kesalahan. Bisa jadi itu karena mereka tidak kompeten atau tidak disiplin. Tapi situasinya bisa lebih buruk daripada itu. Mereka hanya menjalankan sebuah sistem yang buruk.
Dalam kedua kasus, mereka tak kompeten atau sistemnya buruk, tanggung jawab yang lebih besar ada pada manajer. Ketika bawahan tidak kompeten, manajer bertanggung jawab untuk melatih mereka. Ketika mereka tidak disiplin, manajer bertanggung jawab untuk membina dan mendisiplinkan mereka. Lebih dari itu, manajer bertanggung jawab atas kinerja mereka.
Karena itu saya minta tanggung jawab ke manajernya. Selalu begitu tindakan saya. Untungnya selama yang saya alami, para manajer ini menyadari kesalahan, dan tidak berdalih macam-macam. Saya biasanya beri tambahan kritik, mengingatkan dia soal apa yang penting dalam pelaksanaan tugas dia.
Ada kalanya justru mereka yang malah petantang-petenteng tidak terima. Saya memilih tidak melanjutkan keluhan. Pernah saya sedang antre check in Batik Air, beberapa tahun yang lalu. Petugas bekerja sambil ngobrol dengan temannya. Padahal antrean sudah panjang. Saya tegur. Eh dia malah melawan dengan suara tinggi.
"Saya memang ngobrol, Pak. Tapi tangan saya tetap kerja. Bapak antre aja," katanya ketus. Ya tidak heran. Ini kan Babik Air. Saya tidak melanjutkan keluhan. Memanggil manajer pun sepertinya tidak akan berefek apa-apa. Ini sudah soal corporate culture.
Bagaimana kalau mereka menolak melayani? Kemarin di Hotel Dafam Wonosobo satpam menolak memberikan kunci mobil saat saya mau mengambil barang di mobil. Kenapa? Saya tidak membawa karcis valet. Apakah saya marah? Tidak. Saya justru senang dia bersikap begitu. Dia sedang menjalankan standar. Itu bagus. Saya sebagai konsumen harus tahu diri.
Ya, itu bagian yang sangat penting. Sebagai kustomer yang membayar mahal sekali pun kita harus tahu bahwa pelayanan yang kita terima itu hanya bisa diberikan kalau ada standar yang dipatuhi. Jangan meminta, apalagi memaksa orang untuk melakukan hal-hal di luar standar pelayanan mereka. Jangan mentang-mentang, jangan pongah karena kita membayar.
Tentu saja saya tak meludahi pegawai atau pelayan. Tidak marah-marah. Tidak merendahkan. Sesederhana karena mereka itu manusia. Kita perlakukan mereka dengan welas asih.
Dosen yang kemarin meludahi kasir itu entah mendapat pendidikan di mana, kok bisa seperti itu kelakuannya.
#INISIATIF
1 812
Oleh: Izhhar Gemilang
Based on my personal experience, proses perjodohan itu ternyata bukan cuman soal usaha kita nyari, tapi juga soal usaha kita untuk memantaskan diri
Ceritanya gw ketemu sama istri dulu di apps. Kebetulan, dari awal doi emang udah tipe gw bgt, orangnya ceria dan supel, intinya bisa melengkapi dan mewarnai hidup gw yang saat itu sepi dan gitu2 aja
Cuman masalahnya, gw tuh pendiem dan pasif. ketika ketemu cewe yang "rame", gw langsung berniat utk jadi orang yg asik biar bisa ngimbanginnya selain itu gw juga ngepush diri gw untuk bisa jadi pendengar yang AKTIF, alias gak cuman "iya2" dan "ngangguk2" aja, soalnya istri gw suka cerita dan sharing tentang banyak hal. Bahkan dulu pas pdkt, doi tbtb pernah bahas ttg EKONOMI MAKRO yg untuk balesnya aja gw perlu googling dan baca jurnal dulu 😅
Itu dulu usahanya udah bukan susah lagi dah tapi SUSAH!
Tapi gw bersyukur gw bisa melaluinya, karena selain jadi dapet bini, gw juga merasa udah banyak dapet kemajuan dari diri gw dalam hal bersosialisasi.
Gw merasa usaha untuk memantaskan diri itu bukan berarti memaksakan diri kita untuk menjadi "orang lain", tapi lebih ke gimana kita jadiin momen perjodohan itu sebagai momentum untuk bisa mulai berubah. Karena simply ada urgensinya, alias kalo dibesokin ya paling si doi udah kegebet duluan sama yang lain 😂
Setuju gak?
#INISIATIF
1 812
Awal tahun bukan cuma soal ganti kalender. Ini tentang menyamakan niat, meneguhkan arah, dan memperkuat komitmen untuk melangkah bersama 🤝
Melalui Arahan Awal Tahun 2026, kita kembali diingatkan pada nilai-nilai fundamental sebagai Duta BPJS Kesehatan. Nilai yang tidak berhenti di kata, tapi hidup dalam setiap perilaku dan pelaksanaan tugas. Dengan semangat bertumbuh dan rasa tanggung jawab yang dijaga bersama, kita melangkah mantap menyongsong 2026 🔥
Apa kesan dan harapanmu di awal tahun ini? Yuk ceritakan di sini 👇
https://www.instagram.com/p/DTK0708CciX/?igsh=dWdkZmpnYnVrZzky
1 812
Oleh: Dedi Priadi
Di awal tahun baru, sebagian kita terjebak dalam berisiknya mimpi-mimpi besar. Namun, sejarah dan jiwa manusia mencatat bahwa sebuah peradaban, juga sebuah pribadi, tidak dibangun dari satu ledakan amarah atau ambisi semalam.
Kita sering terpukau pada puncak, lalu lupa pada kaki yang harus menapak. Padahal, sebuah perjalanan seribu mil selalu dimulai dari satu langkah yang sunyi, yang mungkin bagi orang lain terlihat tak berarti apa-apa.
Ketahuilah, dalam keheningan amal yang kecil namun terus-menerus, tersimpan kekuatan yang lebih dahsyat dari sekadar antusiasme sesaat. Sebaik-baiknya perbuatan adalah ia yang setia pada waktu, konsisten meski hanya seujung kuku.
Mari belajar dari ilustrasi ini: sebutir kelereng biru di tangan. Ia adalah sebuah awal. Jangan menunggu kesempurnaan untuk mulai bertindak, karena kesempurnaan seringkali hanyalah hantu yang justru membuat langkah kita menjadi kaku dan diam.
Setiap kemenangan kecil yang kau tumpuk adalah batu bata bagi bangunan jiwamu. Di sana, disiplin bukan lagi menjadi beban yang menindas, melainkan sebuah ritme yang menghidupkan, seperti detak jantung yang tak pernah alpa.
Mungkin di tengah jalan, kau akan merasa kehilangan sesuatu—waktu, kawan, atau barangkali harapan. Namun, janganlah hatimu layu dalam gelapnya kesedihan. Segala yang hilang sesungguhnya sedang bersiap untuk kembali kepadamu.
Ia akan datang lagi, mungkin bukan dalam rupa yang sama, melainkan dalam bentuk hikmah, ketegaran, atau pintu-pintu baru yang sebelumnya tertutup rapat. Kehilangan hanyalah cara semesta memberi ruang bagi sesuatu yang lebih bermakna.
Jangan biarkan resolusimu menjadi sekadar teks yang mati di atas kertas. Ubahlah ia menjadi gerak. Pecahlah mimpi yang kolosal itu menjadi tindakan-tindakan kecil yang bisa kau dekap erat-erat setiap pagi tanpa merasa terbebani.
Sebab, keberhasilan sejati bukanlah tentang melompat melampaui awan dalam sekejap. Ia adalah tentang keberanian untuk tetap bertahan, mengumpulkan butir demi butir keberhasilan kecil hingga tanpa kau sadari, kau telah berdiri di ketinggian.
Pada akhirnya, kita hanya perlu menjadi setia pada yang kecil. Di sanalah letak martabat manusia: pada kemampuannya merajut hal-hal sederhana menjadi sebuah takdir yang megah dengan makna yang mendalam.
#INISIATIF
1 812
Lanjut Part 2
Yang bikin “Mens Rea” jadi spesial dan mungkin agak bikin beberapa orang keringat dingin adalah kolaborasi resminya dengan KPK. Iya, lembaga yang biasanya identik dengan konferensi pers serius dan rompi oranye, kali ini memilih panggung komedi sebagai medium edukasi publik. Uniknya, tanpa sensor. Pandji dibiarkan menembak ke mana saja, selama pelurunya bernama fakta dan pengalaman sehari-hari.
Tujuannya pun realistis. Bukan berharap penonton langsung jadi malaikat anti korupsi keesokan harinya. Tapi minimal, ada rasa tertampar. Rasa tidak nyaman yang sehat. Karena perubahan besar seringkali dimulai dari kalimat sederhana: “Oh… iya juga ya.”
Disitu Pandji menyebut nama. Dan ia tidak berbisik.
Prabowo, Gibran, Jokowi, Luhut, Ferdy Sambo, Tedy Minahasa, bahkan Rafi Ahmad semua hadir bukan sebagai tokoh suci atau penjahat tunggal, tapi sebagai simbol dari sistem, kekuasaan, dan cara kita memaknainya. Bahkan Harris Azhar muncul sebagai penanda bahwa kritik di negeri ini kadang perlu “tips bertahan hidup”. Humor Pandji bekerja seperti pisau dapur, tidak terlihat mewah, tapi tajam dan sering mengenai jari sendiri.
Namun sasaran utamanya bukan cuma para elite.
Pandji justru lebih sering menoleh ke arah penonton ke arah kita. Ke warga Bogor yang dua kali salah pilih bupati. Ke Bandung yang tergoda popularitas artis. Ke pemilih yang datang ke TPS dengan semangat, tapi pulang tanpa benar-benar tahu siapa yang dicoblos. Di sini, sarkasmenya halus tapi kejam, “Kalau kita malas cari tahu, jangan heran kalau yang terpilih juga malas kerja.”
Respons publik pun beragam, sebagaimana seharusnya sebuah karya satir bekerja. Banyak yang memuji “Mens Rea” sebagai edukasi politik yang tidak menggurui, materi berat yang bisa dicerna tanpa kamus hukum di tangan. Pandji dinilai piawai mengemas isu kompleks menjadi lelucon yang dekat dengan realita soal birokrasi, kekuasaan, dan kebiasaan kecil yang diam-diam memelihara sistem besar yang kita kutuk bersama.
“Mens Rea” pada akhirnya bukan soal Pandji ingin terlihat paling benar, atau KPK ingin terlihat paling progresif. Ini soal sebuah eksperimen sosial: bisakah komedi membuat kita berpikir tanpa merasa digurui? Bisakah tawa menjadi pintu masuk refleksi, bukan sekadar pelarian?
Di ujung pertunjukan, “Mens Rea” tidak menawarkan solusi instan. Tidak ada janji perubahan besar besok pagi. Yang ada hanyalah harapan kecil bahwa setelah tertawa, penonton pulang dengan satu pertanyaan mengganggu di kepala:
“Selama ini, niat kita sebagai warga negara sebenarnya apa?”
"Mens Rea” akhirnya terasa seperti cermin besar yang dipasang di tengah arena. Kita tertawa melihat pantulan orang lain,politisi, pejabat, sistem. Sampai di satu titik, kita sadar yang ada di dalam cermin itu juga kita. Dengan pilihan-pilihan kecil kita. Dengan sikap permisif kita. Dengan kebiasaan kita menormalisasi hal-hal yang seharusnya tidak normal.
Dan mungkin, di situlah kekuatan sebenarnya dari spesial ini. Bukan pada siapa yang disindir, tapi pada siapa yang pulang dengan perasaan sedikit terusik. Karena perubahan, seperti kata hukum yang jadi judulnya, selalu dimulai dari niat. Dari mens rea. Dari isi kepala.
Oleh: Andrian Saputra
---
Sobat ATE udah ada yang nonton Mens Rea di Netflix? gimana tanggapanmu sob?#INISIATIF
1 812
"Mens Rea" Ketika Kita Tertawa, Lalu Sadar yang Disindir Ternyata Diri Sendiri 😅
Oleh: Andrian Saputra
Di tengah negeri yang kalau dengar kata hukum sering refleks menoleh ke belakang bukan karena takut salah, tapi takut disalahkan, Pandji Pragiwaksono datang membawa sebuah judul yang terdengar berat: “Mens Rea.” Istilah hukum Latin yang biasanya nongol di ruang sidang, bukan di panggung komedi. Tapi justru di situlah lelucon dimulai.
---
“Mens Rea” (2025) bukan sekadar spesial stand-up berdurasi 2 jam 24 menit yang tayang di Netflix pada 27 Desember 2025. Ini lebih mirip seperti ruang kelas alternatif, di mana dosennya bercanda, mahasiswanya tertawa, tapi pulangnya membawa PR bernama kesadaran. Diselenggarakan di Indonesia Arena, Jakarta, 30 Agustus 2025, acara ini terasa megah, tapi isinya sangat membumi membahas hal-hal yang sering kita keluhkan sambil ngopi, tapi jarang kita renungkan sambil berpikir.
Pandji mengajak penonton menelusuri budaya hukum Indonesia dengan gaya khasnya: santai, tajam, dan penuh jebakan logika yang bikin ketawa dulu, baru sadar kemudian. Ia bicara soal korupsi bukan seperti jaksa, tapi seperti teman lama yang capek menjelaskan hal yang sama berulang kali, dengan nada, “Sebenernya ini tuh simpel, tapi kok ya…”
Lanjut Part 2 👇
1 812
Yang Merawat Kita di Hari Tua 👵🤷♂️
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Beberapa hari ini ada obrolan dengan istri dan anak-anak, terkait masa depan. Istri saya ingin membeli rumah di sekitar rumah kami. Dia ingin menyediakan rumah untuk anak-anak. "Aku ingin anak-anak tinggal di dekat kita, supaya ada yang merawat saat kita tua kelak," katanya.
Prinsip itu sangat berbeda dengan prinsip saya. Prinsip saya: "Tinggallah di dekat tempat sumber nafkah, bukan carilah nafkah di dekat tempatmu tinggal." Sepanjang hidup saya, tempat tinggal saya pindah-pindah. Sejak lulus kuliah saya tinggal di Pendopo-Pontianak-Kuala Lumpur-Sendai-Kumamoto-Pontianak-Sendai-Bekasi. Semua itu karena saya mengikuti sumber nafkah. Kalau memakai prinsip "cari nafkah di dekat tempatmu tinggal" artinya anak-anak saya harus bertahan dengan pekerjaan atau sumber nafkah di sekitar rumah kami di Bekasi.
Saat ini saya mendorong anak-anak untuk punya visi tinggal di luar negeri. Ketimbang membelikan rumah di dekat rumah kami, saya cenderung menginvestasikan uang untuk membuka jalur agar anak-anak saya pergi bekerja di luar negeri. Jadi sekali lagi, saya tidak tertarik untuk membeli rumah tadi.
Lalu, siapa yang akan merawat kalau sudah tua? Bagi saya itu bukan urusan anak-anak saya. Mereka akan punya hidup sendiri, tanggung jawab sendiri. Mereka tidak perlu menyediakan waktu untuk merawat saya. Sayang sekali potensi mereka kalau harus mengabdi untuk merawat saya.
Lalu, siapa yang merawat? Perawat profesional. Saya harus sediakan anggaran untuk membayar perawat profesional kalau saya harus hidup di hari tua dalam keadaan difabel. Impian saya sih tetap sehat sampai tua, sehingga tidak memerlukan bantuan khusus. Tapi kalau tidak, saya harus siap menggaji perawat.
Bagi saya tidak adil kalau beban itu harus dipikul oleh anak-anak saya. Mereka tanggung jawab yang lebih penting untuk hidup mereka sendiri.
Prinsip yang sama saya sampaikan ke Sarah saat dia bertanya. "Ayah, apakah aku punya kewajiban untuk merawat mertua?"
"Kalau bagi Ayah sih nggak. Jangankan sama mertua, sama orang tua kamu sendiri pun kamu nggak punya kewajiban."
"Kalau nanti suamiku minta aku merawat orang tuanya bagaimana?"
"Kamu mau nggak? Kalau mau, nggak masalah. Tapi sekali lagi, itu bukan kewajiban kamu."
Sarah tercenung.
"Hal beginian harus kamu bahas tuntas dengan calon suami kamu kelak. Bahas tuntas sebelum memutuskan untuk menikah. Jangan sampai sudah terlanjur menikah, lantas dituntut dengan beban-beban yang tidak kamu inginkan."
"Iya, yak Kan sama saja. Kalau dia menuntut aku untuk merawat orang tuanya, seharusnya dia juga punya tanggung jawab yang sama ke orang tuaku," kata Sarah.
"Nah, itu. Ayah, jangankan sama mantu, sama anak-anak sendiri saja nggak mau jadi beban. Jadi, kamu pikirkan itu. Hidup kamu adalah prioritas tertinggi kamu. Orang lain itu prioritas nomor sekian."
Bagi saya sama juga, berharap pasangan merawat kita saat tua itu kesalahan berpikir. Wong sama-sama tua, kok. Saya akan menyediakan perawat kalau istri saya butuh perawatan. Demikian pula untuk diri saya sendiri.
Sekarang tinggal mikir dan merencanakan, bagaimana terus produktif sampai segala kebutuhan di hari tua terpenuhi.
#INISIATIF #TGIF
1 812
Yang Merawat Kita di Hari Tua 👵🤷♂️
Oleh: Hasanudin Abdurakhman
Beberapa hari ini ada obrolan dengan istri dan anak-anak, terkait masa depan. Istri saya ingin membeli rumah di sekitar rumah kami. Dia ingin menyediakan rumah untuk anak-anak. "Aku ingin anak-anak tinggal di dekat kita, supaya ada yang merawat saat kita tua kelak," katanya.
Prinsip itu sangat berbeda dengan prinsip saya. Prinsip saya: "Tinggallah di dekat tempat sumber nafkah, bukan carilah nafkah di dekat tempatmu tinggal." Sepanjang hidup saya, tempat tinggal saya pindah-pindah. Sejak lulus kuliah saya tinggal di Pendopo-Pontianak-Kuala Lumpur-Sendai-Kumamoto-Pontianak-Sendai-Bekasi. Semua itu karena saya mengikuti sumber nafkah. Kalau memakai prinsip "cari nafkah di dekat tempatmu tinggal" artinya anak-anak saya harus bertahan dengan pekerjaan atau sumber nafkah di sekitar rumah kami di Bekasi.
Saat ini saya mendorong anak-anak untuk punya visi tinggal di luar negeri. Ketimbang membelikan rumah di dekat rumah kami, saya cenderung menginvestasikan uang untuk membuka jalur agar anak-anak saya pergi bekerja di luar negeri. Jadi sekali lagi, saya tidak tertarik untuk membeli rumah tadi.
Lalu, siapa yang akan merawat kalau sudah tua? Bagi saya itu bukan urusan anak-anak saya. Mereka akan punya hidup sendiri, tanggung jawab sendiri. Mereka tidak perlu menyediakan waktu untuk merawat saya. Sayang sekali potensi mereka kalau harus mengabdi untuk merawat saya.
Lalu, siapa yang merawat? Perawat profesional. Saya harus sediakan anggaran untuk membayar perawat profesional kalau saya harus hidup di hari tua dalam keadaan difabel. Impian saya sih tetap sehat sampai tua, sehingga tidak memerlukan bantuan khusus. Tapi kalau tidak, saya harus siap menggaji perawat.
Bagi saya tidak adil kalau beban itu harus dipikul oleh anak-anak saya. Mereka tanggung jawab yang lebih penting untuk hidup mereka sendiri.
Prinsip yang sama saya sampaikan ke Sarah saat dia bertanya. "Ayah, apakah aku punya kewajiban untuk merawat mertua?"
"Kalau bagi Ayah sih nggak. Jangankan sama mertua, sama orang tua kamu sendiri pun kamu nggak punya kewajiban."
"Kalau nanti suamiku minta aku merawat orang tuanya bagaimana?"
"Kamu mau nggak? Kalau mau, nggak masalah. Tapi sekali lagi, itu bukan kewajiban kamu."
Sarah tercenung.
"Hal beginian harus kamu bahas tuntas dengan calon suami kamu kelak. Bahas tuntas sebelum memutuskan untuk menikah. Jangan sampai sudah terlanjur menikah, lantas dituntut dengan beban-beban yang tidak kamu inginkan."
"Iya, yak Kan sama saja. Kalau dia menuntut aku untuk merawat orang tuanya, seharusnya dia juga punya tanggung jawab yang sama ke orang tuaku," kata Sarah.
"Nah, itu. Ayah, jangankan sama mantu, sama anak-anak sendiri saja nggak mau jadi beban. Jadi, kamu pikirkan itu. Hidup kamu adalah prioritas tertinggi kamu. Orang lain itu prioritas nomor sekian."
Bagi saya sama juga, berharap pasangan merawat kita saat tua itu kesalahan berpikir. Wong sama-sama tua, kok. Saya akan menyediakan perawat kalau istri saya butuh perawatan. Demikian pula untuk diri saya sendiri.
Sekarang tinggal mikir dan merencanakan, bagaimana terus produktif sampai segala kebutuhan di hari tua terpenuhi.
#INISIATIF #TGIF
1 812
Apa yang "kadang" kita keluhkan, ternyata bagi sebagian orang adalah peluang yang mereka tunggu 🙏🏻
1 812
Cerita dari Lubuklinggau. Kalau ceritamu bgmn? Yuk ceritakan di kolom komentar, momen paling berkesanmu di Tahun 2025 👇
https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
1 812
Cerita dari Watampone. Kalau ceritamu bgmn? Yuk ceritakan di kolom komentar, momen paling berkesanmu di Tahun 2025 👇
https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
1 812
Terima kasih atas perjuangan dan kerja kerasmu, Duta BPJS Kesehatan 🇲🇨
Sebelum ganti tahun, izinkan diri untuk berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk mengapresiasi semua proses yang sudah dilalui 🏆
Yuk ceritakan di kolom komentar, momen paling berkesanmu di Tahun 2025 👇
https://www.instagram.com/p/DS6vXq1iZyx/?igsh=bmp2MnUwbjZxYnhp
1 812
Oleh: Muhammad Ahadun
Sadar nggak sih, bahwa ada momen-momen kecil yang sering kita hindari tanpa sadar.
Menunggu lift. Mengantre kopi. Duduk sendirian di kamar. Begitu ada jeda beberapa detik, tangan refleks meraih ponsel. Scroll. Tap. Swipe. Seolah-olah diam adalah ancaman.
Kita hidup sebagai homo smartphonicus, manusia yang alergi terhadap kebosanan.
Padahal, kebosanan bukan kesalahan sistem. Ia adalah sinyal.
Arthur Schopenhauer pernah menulis bahwa setelah kebutuhan terpenuhi, manusia dihadapkan pada kebosanan, sebuah penderitaan sunyi yang mengungkap kekosongan hidup.
“Life swings like a pendulum backward and forward between pain and boredom.” — Arthur Schopenhauer
Di dunia modern, pendulum itu macet di satu sisi: pelarian tanpa henti.
Bosan dianggap masalah yang harus dihilangkan secepat mungkin, bukan pesan yang perlu didengar.
Filsuf Byung-Chul Han melihat lebih jauh. Ia menyebut zaman ini sebagai achievement society, yaitu masyarakat pencapaian yang hiperaktif, selalu sibuk, selalu produktif. Ironisnya, di tengah kelelahan kolektif ini, kita kehilangan kemampuan untuk berpikir dalam.
Menurut Han, kebosanan yang mendalam bukan tanda kemalasan, melainkan puncak relaksasi mental.
“Without deep boredom, there is no creativity.” — Byung-Chul Han
Kebosanan adalah rahim kreativitas.
Ia memberi ruang bagi pikiran untuk mengembara, bagi imajinasi untuk tumbuh tanpa target. Namun budaya hyper attention, berpindah cepat dari satu stimulus ke stimulus lain, membunuh proses itu. Kita sibuk, tapi dangkal. Terhibur, tapi kosong.
Lalu apa yang harus dilakukan saat bosan datang?
Bukan melawannya.
Biarkan ia masuk.
Ada keberanian kecil dalam tidak melakukan apa-apa. Duduk tanpa distraksi. Mengamati napas. Menunggu tanpa ponsel.
Menjalani puasa dopamin. Membuat ritual sederhana yang tidak produktif: berjalan pagi, menyeduh teh, menatap langit sore.
Byung-Chul Han menyebutnya sebagai seni menunggu. Sebuah praktik yang mengembalikan ritme alami waktu. Ketika kita bertahan di ketidaknyamanan awal, kebosanan perlahan berubah menjadi ketenangan. Dari ketenangan itu, kejernihan muncul.
Mungkin yang kita butuhkan bukan hidup yang lebih seru, melainkan jiwa yang cukup tenang untuk merasakan hidup.
Karena saat kita belajar untuk bosan,
kita sedang belajar menjadi manusia kembali.
#INISIATIF #CeritaAkhir2025 #Optimis2026
1 812
RESOLUSI 2026 = FITLIFE ✊💪
Oleh: Dedi Priadi
Pusaran ambisi duniawi sering menyeret kita, memaksa kita mengejar pencapaian yang konkret. Fokus teralih pada tumpukan kekayaan, lupa bahwa aset paling berharga adalah denyut nadi yang stabil dan napas yang lapang. Inilah ironi kehidupan modern.
Seorang yang sehat menginginkan seribu hal, seribu cakrawala untuk ditaklukkan dan seribu pengalaman untuk dirasakan. Pikirannya dipenuhi visi masa depan dan 𝘱𝘢𝘴𝘴𝘪𝘰𝘯 yang tak terbatas, menjadikannya penjelajah sejati di dunia ini.
Namun, ketika sakit datang, seribu keinginan itu mendadak menyusut. Semua fokus terkunci pada satu hal, dan hanya satu keinginannya: pulih, kembali sehat seperti sediakala. Semangat petualangan berganti menjadi perjuangan melawan rasa nyeri dan keterbatasan fisik.
Inilah mengapa kekayaan materi sering disebut sebagai rezeki terendah dalam hierarki kehidupan yang sesungguhnya. Ia hanya bernilai sebagai alat, bukan sebagai tujuan utama dari sebuah eksistensi yang bermakna dan utuh.
Kesehatan adalah rezeki yang utama, fondasi tegak berdirinya segala impian dan harapan kita. Ia adalah izin bagi jiwa untuk menari, bagi raga untuk bekerja, dan bagi pikiran untuk berkreasi tanpa hambatan yang berarti. 𝘔𝘦𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯 𝘤𝘰𝘳𝘱𝘰𝘳𝘦 𝘴𝘢𝘯𝘰.
Jangan tunggu sakit menjemput untuk kembali mengingat nikmat yang hilang. Jangan biarkan lilin kehidupanmu meredup hanya karena lalai menjaga kesehatan. Sadari, tubuh ini adalah aset teramat berharga yang harus dijaga kemuliaannya.
𝘔𝘢𝘯𝘧𝘢𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵𝘮𝘶.
#INISIATIF #Fitlife
1 812
JANGAN SALAHKAN RIDWAN KAMIL 💔
Oleh: Yusran Darmawan
Tentu saja saya ingin membela Ridwan Kamil. Siapa yang tega tidak membela lelaki dengan paket lengkap seperti dia. Tampan, pintar, arsitek, lulusan luar negeri, kaya, sukses, berkuasa.Ada tulisan keren nih sob terkait isu yang lagi trending, yuk kita daras 👇 https://unhas.tv/jangan-salahkan-ridwan-kamil/1?fbclid=IwZnRzaAO6-e1zcnRjBmFwcF9pZAo2NjI4NTY4Mzc5AAEeY_GIvpRVFPnmZn0Ei9Qrrx3CorFzmol1rz6p0IoN4w_H_bLIqm2P7mNKDRI&brid=TzpqZQgtEg9ehgNHm0tr7Q #INISIATIF
1 812
Ada bacaan bagus nih sob, silakan didaras 📖
https://majalahindonesia.online/kesehatan/epaper/edisi-04-desember-2025
1 812
Selamat Hari Natal bagi Bapak/Ibu dan rekan2 Sobat ATE Selindo yang merayakan 🎄🇲🇨❤️🤝
Credit: KC Makale
#INISIATIF
1 812
Oleh: Shofia Ishar
Habis nonton Podcast-nya Jay Shetty sama James Sexton (seorang lawyer yang sudah menangani 1000 kasus perceraian selama 25 tahun) tentang kenapa lebih dari 50% orang yang menikah itu bercerai. Sini aku rangkum:
1. Banyak orang yang menyangka bahwa alasan utama orang bercerai adalah masalah finansial dan perselingkuhan. Padahal hal2 tsb hanyalah symptoms. Akar permasalahnnya bukan di situ melainkan: DISCONNECTION.
2. Ketika seseorang merasa disconnected sama pasangannya, maka ketidakharmonisan akan terjadi dan terwujud dalam bentuk konflik: perselingkuhan, pertengkaran2 dengan alasan lain. Disconnection berarti seseorang berhenti merasa dicintai, dilihat, didengar, dan dimengerti.
3. Ketika sudah menikah, orang punya kecenderungan merasa ‘aman’ untuk tidak berusaha lagi. Analogi yang Sexton pakai: menikahi seseorang ibarat memiliki sofa. Ketika sofa-nya masih baru, kita akan jaga baik-baik. Takut bikin kotor dan takut bikin rusak. Tapi ketika sudah berusia agak lama, kita mulai cuek. Kenapa cuek? Karena sudah tidak BARU lagi.
4. Disconnection tadi membuat seseorang merasa tidak ‘dilihat’. Orang berpikir, halah masalah sepele aja bikin cerai?
Contoh: bertengkar ttg cucian piring. Padahal cuci piring itu cuma gejala. Akarnya adalah seseorang merasa tidak dilihat. Bahwa dia sudah kelelahan seharian namun pasangan gagal melihat kesusahan tsb.
5. Perceraian terjadi cepat atau lambat ketika kita sebagai pasangan berhenti melakukan small gestures: perilaku yang membuat seseorang merasa disayang. Kadang bukan soal dibelikan berlian. Bukan wisata ke tempat2 mahal. Tapi memberikan gestur sederhana seperti memberikan sesuatu tanpa harus diminta. Contoh: mencuci piring tanpa diminta, mengambilkan air tanpa diminta, dll. These small and nice gestures matter in relationship.
6. Lalu caranya gimana supaya pernikahan bisa sustain? Perlakukan layaknya KARIR. Jadi harus disiplin! Disiplin untuk connect to one another: weekly check in to one another, and ask:
- am I making you feel loved this week?
- I want you to tell me where I got it wrong?
- tell me what can I do next week to make you feel loved?
Disiplin, terstruktur, dan konsisten. Put in your mind that you wanna be GOOD at this ‘job’ as being a partner.
7. Tadi ada yang nanya ya klo udah disiplin masih cari yang lain gimana?
Oke jadi di podcast ini, perceraian bukan sesuatu yang dianggap ‘salah’ ya. Jadi kita pandang netral dulu.
Di sana dibahas juga, kapan seharusnya kita meninggalkan pernikahan? Yaitu ketika kita sudah memberikan effort yang konsisten untuk memperbaiki hubungan namun pasangan tidak mengindahkannya. In that case, it’s time to leave the marriage.
8. Kurangnya edukasi tentang pernikahan:
- Seseorang harus baca data statistik ttg perceraian dulu untuk berpikir untuk menikah. Marriage is scary, and it’s obviously shown by the data.
- Seseorang harus takut menikah untuk mereka secara hati2 memutuskan dan kalau masih mau menikah, mereka akan berhati-hati mempertahankannya.
- Seseorang harus bertanya dulu ke diri sendiri: emang problem apa sih yang mau gue selesaikan dan solusinya adalah menikah.
9. Edukasi tentang pernikahan harusnya didapat dari:
1) Orang yang pernikahannya gagal.
2) Orang yang pernikahannya sukses.
3) Orang yang menjadi pengacara perceraian.
Nah coba cari orang-orang ini sebelum kalian menikah dan minta input tentang pernikahan. Mereka lebih relevan untuk dijadikan sumber referensi.
10. Terakhir ya:
Pernikahan yang memuaskan adalah di mana seseorang bisa membantu pasangannya untuk menjadi diri mereka yang autentik. Untuk membuat hidup pasangan kita lebih baik. Maka, komitmen seharusnya berwujud disiplin untuk menjaga connection. Bukan sekedar untuk tidak becerai.
Sekian. Semoga bermanfaat 🙏
#INISIATIF #MenujuLongWeekend
1 812
Oleh: Shofia Ishar
Habis nonton Podcast-nya Jay Shetty sama James Sexton (seorang lawyer yang sudah menangani 1000 kasus perceraian selama 25 tahun) tentang kenapa lebih dari 50% orang yang menikah itu bercerai. Sini aku rangkum:
1. Banyak orang yang menyangka bahwa alasan utama orang bercerai adalah masalah finansial dan perselingkuhan. Padahal hal2 tsb hanyalah symptoms. Akar permasalahnnya bukan di situ melainkan: DISCONNECTION.
2. Ketika seseorang merasa disconnected sama pasangannya, maka ketidakharmonisan akan terjadi dan terwujud dalam bentuk konflik: perselingkuhan, pertengkaran2 dengan alasan lain. Disconnection berarti seseorang berhenti merasa dicintai, dilihat, didengar, dan dimengerti.
3. Ketika sudah menikah, orang punya kecenderungan merasa ‘aman’ untuk tidak berusaha lagi. Analogi yang Sexton pakai: menikahi seseorang ibarat memiliki sofa. Ketika sofa-nya masih baru, kita akan jaga baik-baik. Takut bikin kotor dan takut bikin rusak. Tapi ketika sudah berusia agak lama, kita mulai cuek. Kenapa cuek? Karena sudah tidak BARU lagi.
4. Disconnection tadi membuat seseorang merasa tidak ‘dilihat’. Orang berpikir, halah masalah sepele aja bikin cerai?
Contoh: bertengkar ttg cucian piring. Padahal cuci piring itu cuma gejala. Akarnya adalah seseorang merasa tidak dilihat. Bahwa dia sudah kelelahan seharian namun pasangan gagal melihat kesusahan tsb.
5. Perceraian terjadi cepat atau lambat ketika kita sebagai pasangan berhenti melakukan small gestures: perilaku yang membuat seseorang merasa disayang. Kadang bukan soal dibelikan berlian. Bukan wisata ke tempat2 mahal. Tapi memberikan gestur sederhana seperti memberikan sesuatu tanpa harus diminta. Contoh: mencuci piring tanpa diminta, mengambilkan air tanpa diminta, dll. These small and nice gestures matter in relationship.
6. Lalu caranya gimana supaya pernikahan bisa sustain? Perlakukan layaknya KARIR. Jadi harus disiplin! Disiplin untuk connect to one another: weekly check in to one another, and ask:
- am I making you feel loved this week?
- I want you to tell me where I got it wrong?
- tell me what can I do next week to make you feel loved?
Disiplin, terstruktur, dan konsisten. Put in your mind that you wanna be GOOD at this ‘job’ as being a partner.
7. Tadi ada yang nanya ya klo udah disiplin masih cari yang lain gimana?
Oke jadi di podcast ini, perceraian bukan sesuatu yang dianggap ‘salah’ ya. Jadi kita pandang netral dulu.
Di sana dibahas juga, kapan seharusnya kita meninggalkan pernikahan? Yaitu ketika kita sudah memberikan effort yang konsisten untuk memperbaiki hubungan namun pasangan tidak mengindahkannya. In that case, it’s time to leave the marriage.
8. Kurangnya edukasi tentang pernikahan:
- Seseorang harus baca data statistik ttg perceraian dulu untuk berpikir untuk menikah. Marriage is scary, and it’s obviously shown by the data.
- Seseorang harus takut menikah untuk mereka secara hati2 memutuskan dan kalau masih mau menikah, mereka akan berhati-hati mempertahankannya.
- Seseorang harus bertanya dulu ke diri sendiri: emang problem apa sih yang mau gue selesaikan dan solusinya adalah menikah.
9. Edukasi tentang pernikahan harusnya didapat dari:
1) Orang yang pernikahannya gagal.
2) Orang yang pernikahannya sukses.
3) Orang yang menjadi pengacara perceraian.
Nah coba cari orang-orang ini sebelum kalian menikah dan minta input tentang pernikahan. Mereka lebih relevan untuk dijadikan sumber referensi.
10. Terakhir ya:
Pernikahan yang memuaskan adalah di mana seseorang bisa membantu pasangannya untuk menjadi diri mereka yang autentik. Untuk membuat hidup pasangan kita lebih baik. Maka, komitmen seharusnya berwujud disiplin untuk menjaga connection. Bukan sekedar untuk tidak becerai.
Sekian. Semoga bermanfaat 🙏
#INISIATIF
Endi mavjud! Telegram Tadqiqoti 2025 — yilning asosiy insaytlari 
