Ask The Experts
Kanalga Telegram’da o‘tish
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Ko'proq ko'rsatish1 861
Obunachilar
Ma'lumot yo'q24 soatlar
+27 kun
+1330 kun
Postlar arxiv
1 861
KEPEMIMPINAN AUTOPILOT
sumber : Experd.com
Dalam berbagai curhatan di media sosial, kita kadang melihat keluhan-keluhan mengenai atasan yang control freak, yang tidak percaya kepada anggota timnya, sehingga segala sesuatu harus ditanganinya sendiri. Orang menyebutnya micro management.
Bawahan bisa jadi merasa tidak dapat berkembang meskipun ada juga yang menyerah dan membiarkan atasannya yang berpikir, memutuskan, dan mengemban tanggung jawab penuh, tanpa menyadari hal tersebut merugikan diri sendiri karena membuatnya tidak berkembang. Ini berarti suksesi tidak berjalan mulus, organisasi kesulitan untuk menumbuhkan pemimpin-pemimpin baru pada masa mendatang.
Sebaliknya, kita mungkin melihat adanya pemimpin yang berada di posisinya, tetapi secara praktis tidak banyak terlibat dengan timnya. Bisa saja mereka hadir di setiap rapat, mempertanyakan beberapa laporan, data, atau tindakan tetapi arah, keputusan, maupun perbaikan kinerja tidak digalakkan sehingga kurang berdampak positif pada direktorat yang dipimpinnya.
Bila beruntung, divisinya bisa berjalan terus tanpa kendala. Namun, motivasi, pengembangan dan perbaikan tidak signifikan. Akibatnya, banyak anak buah yang merasa bahwa atasan tidak memahami apa yang mereka kerjakan. Di samping, ada juga atasan yang tidak segan-segan mengakui bahwa prestasi anak buahnya adalah hasil dari pengarahan dan bimbingannya.
Ketika pemimpin tidak memahami dengan baik sasaran kinerja dari masing-masing individu maupun antarbagian di bawahnya, mereka akan kesulitan menggarap kolaborasi dalam tim kerjanya. Padahal, kolaborasi bukanlah sekadar sumtotal kinerja para individu di dalamnya.
Dalam kepemimpinan autopilot seperti itu, koordinasi sangatlah minim, keputusan yang ada mengambang tanpa tujuan yang jelas. Di sinilah biasanya muncul kesempatan untuk “berpolitik”, seperti upaya mencari muka atau penyebaran gosip yang tidak jelas.
Mungkinkah bawahan bisa memiliki motivasi tinggi untuk bekerja dalam kondisi seperti itu? Dalam beberapa survei mengenai kepuasan kerja, ditemukan bahwa gaji yang tinggi ternyata bukan prioritas utama seseorang dalam meningkatkan motivasinya walaupun sering dijadikan alasan untuk berpindah pekerjaan.
Sikap pemimpinlah yang sebenarnya sering menjadi faktor terbesar seseorang untuk meninggalkan sebuah organisasi. “People leaves managers, not companies,” kata Marcus Buckingham, penulis buku-buku manajemen.
Pemimpin yang vakum
Pada banyak kasus, pemimpin yang vakum seperti ini terbiasa bekerja sendiri. Mereka berfokus pada dirinya sendiri, dengan keterampilan teknis yang dikuasainya.
Keterampilan teknis yang dimilikinya bisa jadi jauh di atas anak buahnya sehingga ia menjadi sulit untuk mengembangkan rasa percaya pada bawahannya. Pemimpin ini berfokus pada tugas dan targetnya sendiri dan membiarkan bawahan mengerjakan tugas-tugas lebih mudah, tanpa berpikir untuk mengembangkan keterampilan bawahannya.
Tak jarang pemimpin seperti ini berpikir bahwa tugas mengembangkan keterampilan individu merupakan tanggung jawab masing-masing individu. Mereka tidak sadar bahwa tuntutan peran seorang pemimpin tidak sekadar penguasaan keterampilan teknis.
Organisasi pun sering tidak menyadari akibat dari pemimpin disfungsional seperti ini karena umumnya pemimpin-pemimpin ini memiliki prestasi yang baik sebagai kontributor individual, sehingga mereka pun biasanya akan disegani organisasi.
Namun, kondisi dengan pemimpin-pemimpin disfungsional ini dapat berakibat fatal bagi organisasi karena menjadi semacam silent killer dalam organisasi.
Apa bahaya dari kepemimpinan vakum ini untuk jangka panjang? Bayangkan, sebuah orkestra yang terdiri atas pemain-pemain musik terbaik yang bermain musik dengan egonya masing-masing, sementara konduktornya pun sibuk dengan musiknya sendiri.
Tidakkah para pemain itu tidak merasa bahagia dan bangga dengan musik yang mereka hasilkan? Pemain-pemain berbakat tentunya akan segera pergi mencari orkestra lain yang dapat membantu mereka menghasilkan simfoni terbaik.
1 861
MEMBANGUN HABIT
sumber: FB Iim Fahima Jachja
Sejak kecil saya biasa tidur jam 9 malam, sampai sekarang umur 40+, kebiasaan itu terus berlanjut. Sejak SMA saya punya kebiasaan tahajud, sampai sekarang kebiasaan itu masih terus berlanjut. Sejak SMP saya punya kebiasaan hidup rapih, bersih; kamar ga pernah berantakan, begitupun meja belajar. Sampai sekarang masih sama; rumah selalu bersih, meja kerja selalu rapih, even desktop komputer pun semua rapih tertata dengan folders.
Belakangan saya sering posting nge gym, lalu ada yang komen: “Wah sekarang rajin olahraga” Ini ngga tepat, karena sejak remaja saya rutin olahraga dari mulai ikut beladiri, renang, sampai lari. Saat WFO, saya biasa datang ke kantor jam 7.00 pagi, lari 5K, mandi lalu lanjut kerja. Bahkan 40 hari setelah operasi cesar kelahiran anak ke 2 dan jahitan dinyatakan aman oleh dokter, saya merayakannya dengan lari 10K.
Habit atau kebiasaan adalah perilaku/aktivitas yang dilakukan secara terus menerus yang pada titik tertentu menjadi identitas dan sikap yang otomatis. Habit tidak dibangun dalam jangka pendek hitungan bulan, melainkan bertahun-tahun -- dan juga tidak berupa garis lurus alias konsisten sempurna terus, tapi dipenuhi dengan jatoh bangun tapi ujungnya ya bangun lagi.
Bagaimana cara membangun kebiasaan baik? Kalo saya ditanya begitu, akan menjawab bahwa semua dilakukan secara natural, ngga ada metode khusus karena I am naturally a driven person. Tapi ternyata yang natural buat saya, bisa dijabarkan secara metodologis dan scientific di buku "Atomic Habits" karya James Clear sehingga bisa diikuti khalayak umum. Beberapa diantaranya:
Pertama, mulai dengan mindset “Sedikit tapi rutin”. Misal: Mulai besok pagi setelah sholat subuh, saya akan olahraga 15 menit. Lakukan olahraga 15 menit ini seminggu 3x dulu. Setelah 3 bulan, tingkatkan menjadi seminggu 5x. Pertahankan rutinitas ini selama 3 atau 6 bulan, lalu ditingkatkan durasinya perlahan.
Kedua, kombinasikan dengan aktivitas rutin yang biasa kamu jalani. Perhatikan kalimat “Setelah sholat subuh, saya akan olahraga 15 menit”. Sholat subuh adalah rutinitas lama, olahraga adalah rutinitas baru. Dengan strategi ini, kamu ngga perlu dedikasi waktu khusus olahraga, instead, “numpang’ sama waktu sholat subuh
Ketiga, make it easy, bikin aktivitas yang eksekusinya mudah. Kebanyakan orang salah strategi dalam membangun kebiasaan dengan setting goal yang eksekusinya susah. Misal: Aku akan lari di GBK seminggu 3x. Padahal buat jalan ke GBK harus menerabas macet, harus pulang kantor tepat waktu dll. Itu perjuangan berat yang bikin kita males duluan. Instead of menjalankan hal yang eksekusinya ribet, pilih yang eksekusinya gampang, contohnya ya olahraga 15 menit habis subuhan kayak di atas.
Salah satu strategi supaya lebih mudah membangun kebiasaan baru adalah dengan membuatnya visible/keliatan di depan mata. Contoh: Mau membiasakan makan sehat, ya taro semua jenis makanan sehat di rumah. Taro buah di meja makan, jangan nyempil ga kliatan di dalam kulkas.
Mau rajin baca buku, ya taro bukunya di meja kerja ato di lokasi yang sering kamu duduk santai. On my case, buku yang saya target selesaikan buat dibaca, saya taro di meja kerja, karena itu meja yang paling sering saya kunjungi.
Selamat mencoba ya!
1 861
WANITA
Ketika Tuhan menciptakan wanita, dia bekerja terlambat pada hari ke-6.
Seorang malaikat datang dan bertanya. "Kenapa menghabiskan begitu banyak waktu dengannya?"
Tuhan menjawab. "Apakah kamu sudah melihat semua spesifikasi yang harus aku temui untuk membentuknya?"
"Dia harus berfungsi dalam semua jenis situasi, Dia harus bisa merangkul beberapa anak sekaligus, Memiliki pelukan yang dapat menyembuhkan apa saja dari lutut yang lebam hingga hati yang terluka, Dia harus melakukan semua ini hanya dengan dua tangan, Dia menyembuhkan dirinya sendiri ketika sakit dan bisa bekerja 18 jam sehari"
Malaikat terkesan" Hanya dua tangan? Tidak mungkin! Dan ini adalah model standar"
Malaikat itu mendekat dan menyentuh wanita itu"
"Tapi Engkau telah membuatnya begitu lembut, Tuhan".
"Dia lembut", kata Tuhan,
"Tapi aku telah membuatnya kuat. Kamu tidak bisa membayangkan apa yang bisa dia tahan dan atasi"
"Bisakah dia berpikir?" Malaikat bertanya...
Tuhan menjawab. "Tidak hanya bisa berpikir, dia juga bisa beralasan dan berunding"
Malaikat menyentuh pipi nya....
"Tuhan, tampaknya ciptaanmu ini bocor! Kamu sudah terlalu banyak memberi beban kepadanya"
"Dia tidak bocor...itu adalah air mata" Tuhan mengoreksi Malaikat...
"Lalu untuk apa air mata ini?" Tanya Malaikat.....
Tuhan berkata. "Air mata adalah caranya untuk mengekspresikan kesedihannya, keraguannya, cintanya, kesepiannya, penderitaan dan harga dirinya.
Malaikat sangat terkesan,
"Tuhan, Engkau jenius. Kamu memikirkan segalanya.
Seorang wanita memang luar biasa"
Tuhan berkata. "Memang benar.
Dia memiliki kekuatan yang membuat seorang pria takjub, Dia bisa menangani masalah dan membawa beban berat, Dia memegang kebahagiaan, cinta, dan opini. Dia tersenyum ketika dia merasa ingin berteriak, Dia bernyanyi saat dia merasa ingin menangis, menangis saat bahagia dan tertawa saat takut, Dia berjuang untuk apa yang dia yakini.
Cintanya tanpa syarat.
Hatinya boleh hancur ketika saudara terdekat atau teman meninggal tetapi dia masih akan menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup"
Malaikat bertanya: Jadi dia adalah makhluk yang sempurna?
Tuhan menjawab: Tidak. Dia hanya memiliki satu kekurangan.
"Dia sering lupa apa yang berharga untuknya".
Penulis Tidak Diketahui
1 861
Komunikasi itu seringkali Overrated. Dianggap faktor penentu langgengnya rumah tangga. Menurut Mark Manson ada yg lebih penting dari sekedar jago komunikasi.
