262
Підписники
Немає даних24 години
Немає даних7 днів
-230 днів
Архів дописів
Makin kesini, rasanya makin banyak tuntutan. Entah itu dari keluarga, pekerjaan, atau lingkungan sosial dsb.
Dulu waktu kecil pengen jadi "orang sibuk" karena keliatannya keren aja karena mikirnya makin sibuk makin banyak uangnya, tapi ternyata makin sibuk makin banyak pengeluarannya, buat ini dan itu sekedar untuk menghilangkan beban pikiran yang kerasa makin berat setiap harinya.
Entah karena saya yang belum siap, atau kereta yang ditumpangi terlalu kencang lajunya. Tapi kabar baiknya, saya masih bertahan hingga detik ini, kedengaran lebay tapi nyatanya merayakan kemenangan-kemenangan kecil setelah banyak kegagalan yang udah dirasain, rasanya kayak minum Paracetamol waktu tenggorokan udah kerasa mulai ngga enak buat nelen sesuatu.
Emang paling bener, pada akhirnya kehidupan ngga perlu terlalu dipikirin bakal kayak gimana ujungnya, yang penting bertahan, jalanin aja, lalui dan rasakan apa yang emang udah gabisa dihindari. Mungkin aja peran saya bukan sebagai striker yang bisa cetak banyak goal di kehidupan ini, tapi jadi bek yang tugasnya hanya bertahan dari berbagai serangan, sambil berharap bisa menangin pertandingan.
Serunya hidup, adalah tentang semua misteri yang menunggu kita besok, minggu depan, bulan depan dan tahun depan, atau bahkan sebentar lagi.
Jebakan Stereotip
Tulisan ini berisi tentang bagaimana stereotip sosial mempengaruhi pola pikir hingga tindakan individu di lingkungan sosialnya. Cukup lama saya sadar tentang hal ini, bedanya mungkin kali ini saya tulis untuk sewaktu-waktu bisa saya baca lagi atau bagikan kepada orang yang sedang merasakan hal yang sama.
Di dalam kehidupan ini, kita semua mempunyai peran yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, mungkin diantara kita ada yang menjadi pekerja kantoran, pekerja lapangan, pelajar, mahasiswa, seniman, musisi, pebisnis, ibu rumah tangga dan masih banyak lagi. Saat kita sedang berada pada peran tersebut, sebagian dari kita sesekali berpikir ingin menjadi yang terbaik di dalam bidangnya, atau setidaknya menjalankan peran dengan baik dan benar untuk mendapatkan pencapaian baik dalam skala sosial ataupun kepuasan pribadi.
Namun diantara itu semua ada stereotip sosial yang seringkali mempengaruhi pola pikir dan tindakan kita dan pada akhirnya menjadikan kita berusaha keras untuk menjadi "sesuatu" yang telah dijadikan standar bagi lingkungan sosialnya, dan mengorbankan eksistensi kita sebagai individu yang punya ciri khas dan karakter yang berbeda dari individu yang lain.
Sebagai contoh:
Menjadi "sukses" di usia tertentu
Ada juga anggapan bahwa usia 25 harus sudah punya pekerjaan bagus, usia 30 harus sudah menikah, punya rumah, kendaraan, dan sebagainya. Seseorang yang sebenarnya sedang menjalani hidup sesuai kemampuannya mulai merasa tertinggal. Dia melihat teman-temannya membeli rumah, menikah, mendapatkan promosi, lalu berpikir, "Kenapa saya belum seperti mereka?" Padahal sebelumnya dia tidak pernah menganggap hal-hal tersebut sebagai ukuran kebahagiaannya. Akhirnya dia mulai mengejar kehidupan yang terlihat sukses, bukan kehidupan yang benar-benar ia inginkan.
Stereotip menjadi berbahaya ketika pandangan masyarakat terhadap diri kita perlahan berubah menjadi pandangan kita terhadap diri sendiri.
Dan pada tahap paling jauh, kita bahkan tidak lagi mempertanyakan apakah standar tersebut benar-benar kita inginkan. Di situlah seseorang bisa menjalani hidup yang secara sosial terlihat "benar", tetapi secara personal justru terasa asing bagi dirinya sendiri.
Belajar dari google maps kalo seandainya kita melenceng dari jalur perjalanan, dia ngga pernah bilang "kamu salah jalan", tapi "mengubah rute" untuk sampai ke tujuan.
