Ask The Experts
Відкрити в Telegram
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Показати більше1 812
Підписники
+124 години
+67 днів
+2030 день
Архів дописів
1 812
Katanya Produktivitas itu nggak selalu soal niat, tapi kadang soal “teman kerja” juga 😆
Ada yang butuh kopi biar melek, musik biar fokus, cemilan biar happy, atau malah suasana tenang biar ide ngalir.
Kamu tim yang mana nih? Langsung vote
https://www.instagram.com/stories/lifeatbpjskesehatan/3764574371462687684?utm_source=ig_story_item_share&igsh=Mm5wOGMya3B0ZW9y
1 812
Tahan… tahan… 🥺
Sehubungan dengan Hari Ayah kemarin, Tuhan sedang menasihati kita lewat anak 5 tahun.
“Bahagia atas kebahagiaan orang lain, dan bahagia dan bersyukur atas kondisi apapun yang ada pada diri dan keluarga yang ada, what a mature person! Bukan anak anak lagi sebutannya.”
(Adlil Umarat)
#INISIATIF
1 812
Dari keringat, lahir semangat. Dari tawa, tumbuh kebersamaan 🇮🇩
Awalnya cuma ajakan kecil sepulang kerja. Sekarang, jadi komunitas besar yang nyatuin semangat sehat dan solidaritas 🤝
https://www.instagram.com/p/DQ89zdIicRz/?igsh=MXJjZ3k0eGprNHl3ZA==
1 812
Oleh: Dedi Priadi
Siapa yang bersikap 𝘲𝘢𝘯ā'𝘢𝘩—menerima dan merasa cukup dengan apa yang telah Tuhan berikan, tanpa ambisi duniawi berlebihan—ialah Raja dunia sesungguhnya. Takhtanya tidak terletak pada singgasana emas, melainkan bersemayam di dalam hati yang telah menemukan kedamaian.
Di tengah perjalanan hidup, jiwa kita rentan menerima godaan halus berupa keinginan untuk selalu menaikkan standar (𝘳𝘢𝘪𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘢𝘳). Bisikan ini sering kita anggap sebagai "ambisi sehat," padahal ia perlahan bergeser menjadi keinginan berlebih yang mengikis ketenangan jiwa kita.
Keinginan yang tak terpuaskan ini menjelma menjadi standar-standar fisik yang terus-menerus meminta pemenuhan lebih. Kita mengharapkan sekolah anak berlabel Internasional, rumah tinggal di kawasan elit, berkendara dengan mobil termahal, hingga gawai terbaru di genggaman tangan.
Tanpa disadari, kita terjebak dalam putaran yang melelahkan. Kita terus berlari seolah di atas 𝘵𝘳𝘦𝘢𝘥𝘮𝘪𝘭𝘭, tetapi kita tidak pernah merasa benar-benar sampai. Target kita adalah ilusi yang selalu bergerak menjauh, semakin kita kejar semakin ia meninggi.
Pencapaian materi yang besar jarang memberi jeda, apalagi rasa cukup. Kemewahan yang kita rasakan hari ini akan terasa biasa esok hari. Sebab itu, kita merasa terdorong untuk memiliki 𝘤𝘪𝘳𝘤𝘭𝘦 pertemanan yang berkelas, sesuai dengan standar kemewahan yang baru saja kita ciptakan.
Pada titik ini, cahaya syukur yang tadinya bersinar, spontan mulai meredup. Cahaya syukur menghilang begitu saja dari jiwa kita. Yang tertinggal hanyalah dorongan terus menerus untuk menjaga citra diri, agar sesuai dengan standar yang kian meninggi.
Kenali sisi pahit "Raising the Bar" ini. Di mata orang lain, kita mungkin terlihat sukses dan gemilang. Tapi, di lubuk hati, tersembunyi kekosongan dan rasa khawatir yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan dunia.
Dus, jika kita ingin menjadi Raja dunia, kita harus lebih dulu menjadi Raja atas keinginan dan hati kita sendiri. Jadilah 𝘲𝘢𝘯ā'𝘢𝘩. Hentikan kebiasaan kita menaikkan standar ekspektasi yang "panas" ini. Perlombaan ini tak berujung, hanya membuat pikiran kita kalut dan taman hati kita menjadi subur ditumbuhi rasa kufur.
#INISIATIF
1 812
🎥 Cikagooo lagi LIVE di TikTok nihh
https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-91HIfv6fpT8
👉 Jangan sampai kelewatan yaa
Bantu join, tap2, like n share yaa bapak/ibu, mas/mba. Hatur nuhunn🙏🏻
1 812
Oleh : Iwan Kusworo
Selamat pagi, Sahabat!
Pagi ini skip olah raga dulu. Menyempatkan diri untuk melanjutkan baca buku “Thanks for the Feedback.”
Saya mulai baca buku ini gara-gara terinspirasi sharing di EQ Spotlight yang bertema “Unhelpful Feedback” yang diasuh oleh Three Coaches.
Seringkali kita di-encourage oleh organisasi untuk selalu rajin memberikan feedback kepada tim, rekan kerja, atau bahkan atasan.
Namun seringkali pula, ketidakmampuan seseorang dalam menerima feedback menjadi isu tersendiri yang akan sangat berpengaruh dalam efektifnya budaya memberikan feedback di organisasi kita.
Buku ini mengulas tentang hal ini. Kita akan diajak mengenali faktor-faktor apa saja yang mencegah kita “legowo” dalam menerima feedback, dan menyiasati agar kita bisa semaksimal mungkin mengambil intisari dan kebermanfaatan dari feedback orang lain.
Feedback is a gift. 🥰Have a nice day, everyone! #INISIATIF
1 812
Kadang, alasan seseorang mengambil cuti bisa lebih dalam dari sekadar “butuh istirahat.” Yang penting bukan seberapa lama cutinya, tapi seberapa utuh hati kita setelahnya. 🥰
Kalau kamu, biasanya ambil cuti buat apa? Yuk drop komentarmu di sini
https://www.instagram.com/p/DQ348ZmCfl_/?igsh=MWR1MjhrbGNjdHVxaA==
1 812
+1
INFO PODIUM 🏆
Selamat kepada kk @ilhamakbarw (Staf Kesekretariatan Dewan Pengawas) yang berhasil keluar sebagai Juara 1 Kategori Tunggal Putra dalam Kejuaraan Tenis Lapangan ILTL support dari MyBCA yang dilaksanakan di Homeground Signature Pluit pada 8-9 November
#INISIATIF
1 812
Oleh: Ahmad Rifai Rifan
Mengapa ada orang yang saat sekolah ranking 1, tapi saat kuliah prestasinya biasa, bahkan tenggelam?
Mengapa ada orang yang saat kuliah akademisnya bagus, IPK nya cumlaude, tetapi setelah lulus, kesulitan cari kerja?
Atau mengapa ada orang yang saat kuliah prestasinya hebat, berhasil masuk perusahaan besar, tapi lantas di perusahaan, karirnya sulit berkembang?
(Ingat ya, saya mengatakan "ada". Jumlahnya bisa saja minoritas. Tapi faktanya, memang "ada".)
Jawaban mudahnya, "Ya karena udah takdir." Jawaban nakalnya, "Karena kita hidup di Konoha." Atau mungkin ada saja yang jawab, "Karena gak punya orang dalem." Atau bisa juga ada yang jawab, "Gak punya priviliage."
Tapi kali ini, mari sejenak mengabaikan faktor-faktor eksternal itu. Kita fokus pada yang bisa kita ubah. Karena nasehat klasik mengatakan, "Orang gagal suka cari alasan. Dan orang yang bertumbuh lebih suka cari solusi."
Jadi kali ini kita fokus pada faktor yang bisa kita ubah. Yakni faktor internal, yang ada dalam diri kita. Artinya, kita kini membahas yang disebut growth mindset.
Mari kembali ke pertanyaan: Mengapa ADA orang yang hebat, pintar, berprestasi di masa lalu, bisa menjadi seseorang yang biasa saja di masa depannya?
"Biasa" dalam arti: ilmunya, skillnya, karirnya, keluarganya, finansialnya, karakternya, pengaruhnya, atau manfaatnya bagi sesama.
Salah satu alasan klasiknya adalah kepintarannya di masa lalu menjadikannya terperangkap dalam bayang-bayang kejayaan lama.
Ia hidup dalam nostalgia prestasi, sehingga tanpa sadar menganggap masa kini akan selalu tunduk pada hukum yang sama seperti dulu: belajar → ujian → juara.
Maka tak heran, ada lulusan cumlaude yang gagap menghadapi dunia kerja. Ia mengira ijazah dengan tinta emas akan otomatis membuka pintu ke mana saja.
Ada pula yang berhasil lolos seleksi kerja, namun karirnya stagnan karena ia terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya “pintar”, bukan berusaha menjadi berguna bagi tim dan organisasinya.
Padahal dunia profesional lebih menghargai jejaring, kepribadian, integritas, dan keterampilan praktis. Tak penting lagi kamu lulusan mana, tapi kamu bisa apa?
Ketika masih sekolah, sistem penilaian relatif jelas, terukur, bahkan kaku. Siapa yang menghafal lebih banyak, lebih rajin mencatat, lebih disiplin mengerjakan tugas, dialah yang mendapat angka terbaik.
Namun, ketika memasuki jenjang kuliah, terlebih setelah keluar ke dunia kerja, rumus tersebut kehilangan daya magisnya. Dunia profesional tidak lagi menanyakan berapa panjang catatanmu, melainkan sejauh mana daya tahanmu terhadap tekanan, kreativitasmu dalam menyelesaikan masalah, serta kemampuanmu bekerja sama dengan orang yang tidak selalu sepemikiran.
Banyak orang yang tumbuh besar dengan label “cerdas” akhirnya terjebak dalam paradoks psikologis: merasa sudah cukup dengan kecerdasan yang pernah membawanya berhasil.
Ia lantas menolak untuk terus-menerus belajar, bereksperimen, berubah, dan berupaya melampaui dirinya yang lama. Ia sibuk menjadi pengagum masa lalu. Ia bersembunyi di balik piagam-piagam lama. Ia terus membanggakan prestasi dan trophy di masa lalu.
Padahal, yang hadir dan muncul adalah mereka yang terus belajar dan mau beradaptasi dengan perubahan yang ada. Jadikan semua prestasi dan pencapaian di masa lalu sebagai anak tangga untuk meraih pencapaian yang lebih baik.
Karena sebagaimana petuah klasik, kalau hari ini sama dengan kemarin, kita termasuk merugi. Tak ada pilihan lain kecuali terus bertumbuh. Ya ilmunya, prestasinya, ibadahnya, akhlaknya, dan kualitas hubungannya dengan sesama.
#INISIATIF
1 812
BIG RESPECT FOR VERIFIKATOR 🫡
Di balik setiap rupiah yang dibayar kepada Fasilitas Kesehatan yang melayani peserta program JKN, ada para Verifikator Klaim, mereka yang bekerja dengan integritas tinggi demi menjaga keberlangsungan layanan kesehatan untuk jutaan peserta di seluruh Indonesia 🇮🇩
Lewat kelengkapan dokumen klaim yang mereka verifikasi, ada kisah perjuangan pasien, dedikasi tenaga kesehatan, dan tanggung jawab untuk menjaga dana publik ini tetap aman dan berkeadilan.
https://www.instagram.com/p/DQvEuGbktfU/?igsh=MTlmdzBueXJrMWpmaA==
1 812
Oleh: Iqbal Aji Daryono
Ini sedang fyp di platform sebelah. Yang saya gatel adalah kenapa TS harus menegaskan "it's not about the money". Lha wong bilang "it's about the money, sebab money berarti apresiasi" juga gak papa kok.
Kenapa akademisi dan cendekiawan harus tampil seolah-olah jijik pada money, sih? Heran saya tu.
Yang menjijikkan itu cari money dengan melacur ke kekuasaan. Atau dengan ngembat duitnya liyan. Atau utang kancane trus macak lali ora mbayar. Atau pura-pura memperjuangkan ini-itu, padahal sebenarnya cuma cari tunggangan untuk menggemukkan saldo tabungan.
Tapi kalau secara profesional memberi harga pada kemampuan diri, saya kira itu sikap yang layak dihormati bahkan pantas dijadikan tradisi.
Saya tentu bukan akademisi seperti Mas Junayd ini. Tapi saya juga menjalankan profesi di bidang pengetahuan. Maka, dalam berbagai obrolan (termasuk di webinar personal branding saya), pernah saya sampaikan bahwa pasang tarif itu bukan sejenis kerakusan. Itu justru adalah ikhtiar bersama untuk membentuk ekosistem yang lebih sehat dan menyehatkan.
Tanpa mendidik publik untuk memberi harga yang pantas bagi pengetahuan, publik tidak akan beranjak dari model pikiran lama: hiburan jauh lebih bernilai daripada ilmu.
Hasilnya, untuk nonton ndangdutan koplo atau konser Blekpink mereka mau bayar muahal, sementara untuk ikut diskusi dan seminar or pelatihan pengennya olweis gretongan.
Efeknya, anak-anak muda bakalan pada males untuk bergerak di bidang elmu dan pengetahuan. Lha nanti ujung-ujungnya hidup mereka gak akan dapat apresiasi yang wajar.
Ingat W.S. Rendra yang pernah marah-marah ke kelompok mahasiswa yang ngundang dia lalu cuma kasih plakat, padahal Rendra ngebis jauh pake duit. Ingat Pram yang murka karena naskahnya dibakar tentara, dan berkata "Itu kan mata pencaharian saya!" (Persisnya gimana kata-kata dia saya lupa, tapi lebih kurang begitu.)
Makanya, pake akad gentlemen agreement saja: semuanya harus klir di depan.
Saya kalo diundang lembaga gede atau perusahaan atau instansi pusat, gak pernah malu buat bilang: rate saya segini ya. Standar narsum ahli, bukan narsum biasa.
(Beda ya kalo sama komunitas atau sejenisnya--saya juga selalu punya porsi untuk sosial.)
Saya mendapatkan semua skill dan pengetahuan saya lewat perjuangan yang panjang, cibiran tanpa henti dari kiri dan kanan, juga biaya lahir-batin yang sangat mahal. Maka, saya merasa wajar memberi harga tertentu pada hasil usaha saya itu.
Nah, demikian pula mas-mbak akademisi, semestinya juga sama. Sebab nunggu orang lain peka dan sadar diri lalu dengan penuh kesadaran memberikan apresiasi itu ilusi belaka.
(Mau gak mau saya ingat kasus rame dulu kala ketika seorang kawan diundang jadi narsum di Mojokerto, lalu "Sekarang saya termenung di kos teman saya, memikirkan bagaimana caranya pulang ke Jogja, sambil memandangi kaos yang diberikan oleh panitia sebagai honor.")
Memang akan ada sebagian wong pinter yang pasang tampang begawan lalu sok jijik kepada mereka yang pasang tarif--kemudian para sok-begawan itu sendiri nyebar-nyebar gratisan. Tapi mereka itu gak sadar bahwa sikap demikian sebenarnya sangat merugikan ekosistem pengetahuan.
Ya bayangkan saja, nanti ruang ini akan terus diisi oleh orang-orang pinter yang sakit-sakitan, dan isinya ngeluuuuh terus sampai akhir zaman.
#INISIATIF #TGIF
1 812
Sistem kodenya belum diketahui sampai kini. Namun, kode ini diketahui mengandung kesan emosional yang diberikan amydala, organ kecil di ujung hippocampus.
Pemanggilan kembali memori mula-mula dengan memanggil salah satu kode elemen memori yang tersebar. Melalui amydala yang menyimpan catatan emosional, terjadi hubungan dengan kode lainnya. Setelah tahap ini, hippocampus melakukan pengumpulan seluruh elemen memori dan mengeluarkan memori terpadu.
Penyusunan memori, pembentukan kode, dan hubungannya dengan daya ingat terjadi melalui proses berpikir intelektual. Kualitasnya berbeda-beda pada tiap individu. Kemampuan kognitif (pemahaman) dan tingkat keaktifan otak mempunyai pengaruh besar pada bentuk penyusunan ini.
Kemampuan kognitif otak, menurut Ronald L. Graham, bisa dilatih dengan cara belajar, terus-menerus. Top executive AT&T Bell Laboratories ini dikenal sebagai manajer yang mampu belajar apa saja. Selain ulung dalam manajemen, ia ahli matematik, pemain piano, dan juara pingpong.
Pada usia 55 tahun Graham masih bersemangat mempelajari bahasa Jepang, bahasa Cina, melempar bumerang, loncat trampoline, dan seni sulap. "Esensi belajar adalah mempelajari bagaimana cara belajar," katanya. "Sekali Anda berhenti belajar, Anda akan memasuki proses kematian."
Bos macam Graham tak cemas bakal kena post-power syndrome. Pada masa pensiun, paling tidak, ia bisa menjadi pemain sirkus.
#INISIATIF
1 812
BELAJAR BAGAIMANA JANGAN PIKUN 🧐
oleh: Herry Anggoro Djatmiko
(TEMPO, No. 35, Tahun XXI, 26 Oktober 1991)
"Jika sewaktu masih memegang jabatan orang tak terbiasa menggunakan otak, itulah jalannya menuju pikun pada masa pensiun."Pejabat yang loyo setelah memasuki hari pensiun ternyata tak selalu akibat kehilangan kekuasaannya. Pangkal post-power syndrome ini sangat mungkin terletak pada kegiatan otak. Bila pada saat masih memegang jabatan orang tak mempunyai tradisi berpikir, apalagi pada masa pensiunnya. Hasil penelitian lima tahun terakhir membuktikan ada hubungan ketuaan dengan kegiatan otak. Manula (manusia lanjut usia) yang tingkat aktivitas mentalnya tinggi, seperti manajer, negarawan, intelektual, umumnya bisa aktif sampai usia lanjut. Mereka tak cepat uzur berkat tantangan yang terus-menerus menggunakan pikirannya. Ini dibuktikan neurolog Dr. John Stirling Meyer dari Baylor College of Medicine, Houston, Amerika Serikat. Penelitiannya itu dipublikasikan beberapa waktu lalu, hasil pengamatan yang intensif selama lima tahun terhadap kegiatan 94 sukarelawan usia 65 tahun. Sepertiga responden Meyer itu tidak pensiun dan tetap bekerja di bidangnya. Sepertiga lagi pensiun, tapi mempertahankan kegiatan yang berkaitan dengan belajar dan berpikir. Sisanya menikmati masa pensiun seraya ongkang-ongkang. Pada tahun keempat penelitian, terlihat kemunduran mutu hidup pada pensiunan yang tidak punya tradisi berpikir. Pemeriksaan klinis menunjukkan volume darah ke otak menurun. Tes IQ juga memperlihatkan kemunduran daya pikir. Kondisi mental mereka pun rata-rata tak stabil, sering pesimistis dan tidak bahagia. Pentingnya aktivitas mental bagi manula juga dibuktikan para ahli gerontologi (ilmu tentang manula) di Prancis. Lembaga dana pensiun di negara ini sampai membiayai penyelenggaraan latihan menjaga kebugaran otak bagi para pensiunan. Prinsip cerebral fitness yang disusun psikolog dan gerontolog ini sederhana: memberikan tantangan terus-menerus pada otak. Pada latihan itu kelompok pensiunan yang terdiri dari 20 sampai 25 orang diminta melakukan diskusi tetap. Salah satu latihannya, membahas berita-berita sepekan. Membaca secara tetap mingguan berita, menurut perancang latihan, bisa menjaga rasa ingin tahu. Mendiskusikan berita membuat daya analisa para manula tetap aktif. Pensiunan itu juga secara tetap dilatih mempertahankan memori. "Memori adalah puncak gunung es aktivitas mental," kata Jocelyne de Rotrou, psikolog dan salah satu perancang latihan itu. Menurut de Rotrou, latihan memori melibatkan berbagai aktivitas mental, persepsi, konsentrasi, imajinasi, reasoning, dan daya ungkap. Hubungan antara memori, ketuaan, dan degenerasi otak, menurut de Rotrou, salah satu misteri otak yang baru saja terungkap. Hasil penelitiannya ini dipublikasikan dalam Science Times, bulan lalu. Hasil penelitian mutakhir di University of California San Diego, John Hopkins, dan University of Washington, Amerika Serikat, secara umum membangun pemahaman baru mengenai memori. Para peneliti menemukan kendali memori jangka panjang ternyata berada di bagian bawah otak sebelah dalam, yang disebut hippocampus. Hippocampus memang dikenal sebagai bagian otak yang peka pada degenerasi. Sel-sel sarafnya paling cepat rusak ketika otak kekurangan oksigen. Bila sektor ini cedera – karena menurunnya volume oksigen ke otak – memori sulit dipanggil kembali. Inilah gejala pikun. Penelitian-penelitian terdahulu menyimpulkan memori pada otak disimpan tidak terpusat, melainkan tersebar di berbagai bagian otak. Ada benarnya, namun dalam penelitian mutakhir terungkap bahwa hippocampus yang mengendalikan penyimpanan tersebar itu. Memori yang tersimpan di hippocampus hanya "kode" memori terpadu, yang bagian-bagiannya disimpan tersebar tadi. Hippocampus menyimpan bagian paling penting, yaitu basis data yang berkaitan dengan fakta dan peristiwa. Memori hasil persepsi, yang berasal dari pengamatan, pencerapan, dan observasi, disimpan menyebar. Basis data yang disimpan di hippocampus membawa kode semua elemen memori yang tersebar. Lanjut part 2
1 812
+2
INFO PODIUM 🏆
Selamat dan sukses kepada Tim BPJS Kesehatan KC Purwokerto yang diwakili oleh kk Revia Tyas Renjani @tyasrj (PATT Telekolekting KC Purwokerto) dan kk Ildha Nurul Fajri @elde_enef (Kabag Yanfaskes KC Purwokerto) yang berhasil mempertahankan Juara 1 Double Perseorangan Putri pada HKN ke 61 Tahun 2025 Kabupaten Banyumas 💪
#INISIATIF
1 812
Oleh: Dedi Priadi
Hidup yang baik bukan soal keberuntungan semata, melainkan hasil yang tak terhindarkan dari serangkaian pilihan sadar yang kamu buat setiap hari.
Pilihan yang terasa mudah di awal -- seperti menunda pengobatan atau pemeriksaan kesehatan, mengedepankan 𝘭𝘪𝘧𝘦𝘴𝘵𝘺𝘭𝘦 mewah daripada penyelesaian kewajiban, dan mengkompromikan integritas demi keuntungan yang cepat-- adalah jebakan psikologis. Pilihan ini bukanlah solusi, melainkan sekadar penundaan—menangguhkan kerja keras atau tanggung jawab moral yang seharusnya kamu tuntaskan saat itu juga.
Penundaan ini, yang terasa sepele, menciptakan akumulasi tak terlihat. Keputusan yang mudah ini terus menumpuk, menyerahkan beban dan masalah yang semakin besar untuk ditanggung di kemudian hari. Akibatnya, alih-alih menikmati kemudahan, kamu justru menciptakan masa depan yang sulit dan penuh kerumitan. Setiap kali kamu memilih jalan pintas, kamu menambah satu lapisan baru pada kompleksitas hidupmu esok hari.
Lebih dari sekadar beban praktis, setiap pilihan memiliki beban moral yang melekat. Pilihan yang mudah sering membujukmu untuk mengorbankan kejujuran, mengingkari janji, atau lari dari kewajiban moral.
Mengutamakan keuntungan pribadi sesaat adalah tindakan yang merusak integritasmu. Biaya batin dari perusakan ini sangat mahal: ia menghasilkan masa depan yang berat, yang terus-menerus digerogoti oleh rasa bersalah, gelisah dan penyesalan mendalam.
Sebaliknya, keputusan yang sulit adalah tindakan yang berani dan proaktif. Kamu memilih disiplin, tanggung jawab, atau kejujuran meskipun hal itu saat ini terasa memberatkanmu. Gesekan awal ini, meski terasa berat, adalah investasi terbaikmu. Ia bekerja membersihkan jalanmu dari kerikil penundaan dan keraguan moral, memastikan kamu berjalan di jalur yang lurus menuju hidup yang mudah dan damai.
Pilihan terbaik semestinya selalu selaras dengan dua kompas utama: nilai moral terdalammu dan visi jangka panjang hidupmu. Kompas ganda ini tidak boleh dikorbankan, karena ketika hati nurani dan tujuanmu sejalan, kamu akan menemukan kedamaian batin sejati—sebuah ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan kenyamanan sesaat.
Jangan gentar menghadapi kesulitan hari ini. Pilihan sulit yang kamu ambil—disiplin, kejujuran, dan kesabaran diri—adalah fondasi kokoh yang akan menjamin ketenangan dan kebebasanmu di masa depan. Yakinilah, kemudahan hidupmu esok hari adalah hadiah tulus atas setiap pilihan sulit dan jujur yang kamu ambil hari ini.
#INISIATIF
1 812
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho
Kita memiliki tiga sumber daya dalam hidup yang mana kita harus mengorbankan dua sumber daya dari tiga itu untuk menambah salah satunya. 1. Waktu, 2. Uang, 3. Pengetahuan/skill.
Jika ingin menambah pengetahuan/skill maka kita perlu membayar dengan uang dan waktu agar bisa belajar. Kita kuliah, bayar UKT dan mengorbankan waktu sekian tahun untuk ngampus, bayar ikut kursus dan menyediakan waktu untuk menyimak materi, bayar ikut sertifikasi dan menyediakan waktu untuk belajar dan persiapan ujiannya.
Jika ingin menambah uang maka kita perlu menjual skill dan waktu untuk bekerja. Kita bisa lebih banyak mengorbankan waktu, bekerja di beberapa tempat sekaligus agar mendapatkan uang lebih banyak meski waktu kita untuk diri dan keluarga kita jadi sedikit. Kita bisa lebih banyak menggunakan skill dan pengetahuan, kita belajar finansial, metode mengelola keuangan, mulai investasi, dari situ diharapkan kita bisa mendapatkan keuntungan ketika waktu kita digunakan untuk pekerjaan lain.
Nah, adapun untuk sumber daya pertama, yaitu waktu, sayangnya kita tidak bisa menambah waktu karena waktu kita sama-sama terbatas, 24 jam sehari. Maka yang bisa dilakukan untuk waktu adalah efisiensi waktu, menggunakan waktu yang terbatas untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Kita mengorbankan uang demi kelancaran, kecepatan dan kenyamanan, kita membayar servis kendaraan rutin agar kendaraan selalu dalam kondisi fit hingga seluruh kegiatan perjalanan menjadi lancar, membayar lebih mahal agar tidak antri pertalite atau naik ojol/taksi/woosh agar bisa lebih cepat sampai tujuan, membayar orang untuk melakukan sesuatu agar bisa fokus mengerjakan hal lain di waktu yang sama.
Tiga sumber daya inilah modal kita untuk hidup, kita gunakan dengan bijak dan kembangkan agar hidup kita menjadi lebih baik.
#INISIATIF
1 812
Setiap kantor pasti punya satu orang yang selalu bawa vibes positif yang bikin hari-hari di kantor nggak terasa berat, selalu bantu, ngingetin, dan bikin kantor berasa kayak rumah kedua.
Senyumnya, bantuannya, dan ketulusannya bikin tim makin solid. Good people create good energy dan itu nyata banget di sini 🥰
Siapa sosok “penyemangat” kamu di kantor? Tag dia di kolom komentar dan yuk kita kasih apresiasi kecil hari ini 💬
https://www.instagram.com/reel/DQlsGy9iXo5/?igsh=ZWVlaDV4YnZ4eDB1
1 812
+1
INFO PODIUM 🏆
Selamat kepada kk @dayatpasau (Staf HAL Kepbid HALREG) yang berhasil keluar sebagai Juara 2 Kategori Fighter Eksekutif dalam Kejuaraan Tenis Meja IAPW Cup II yang dilaksanakan di Mall WTC Mangga Dua pada 31 okt-2 nov 2025 🇮🇩
#INISIATIF
1 812
Sementara itu, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘦𝘢𝘭𝘪𝘴 akan mengesampingkan perasaan dan hanya melihat fakta: 'segelas air.' Pandangan mereka tenang, karena mereka lebih mengutamakan data atau kenyataan yang bisa dibuktikan, daripada hanya mengikuti perasaan. Seorang realis biasanya hanya mengamati sebuah situasi apa adanya, tanpa terburu-buru menilai apakah itu positif atau negatif.
Ada juga orang yang berpandangan seperti 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘍𝘪𝘴𝘪𝘬𝘢𝘸𝘢𝘯, yang hanya melihat dari sisi ilmiah: 'hanya ada zat cair dan zat gas.' Cara pandang ini sangat fokus pada profesionalisme mereka dan cenderung mengabaikan perasaan atau drama, karena yang penting adalah solusi teknis. Seorang fisikawan perlu menyelesaikan masalah menggunakan data dan langkah-langkah yang terstruktur, bukan dengan melibatkan emosi atau keributan.
Lalu ada orang yang berpikir seperti 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘶𝘳𝘦𝘢𝘭𝘪𝘴, yang malah membongkar konsep gelas itu sendiri, menantang semua aturan yang sudah biasa. Cara pandang ini mewakili kekuatan berpikir yang tidak linear dan berani menerima hal-hal yang tidak masuk akal. Dalam pandangan surealis, masalah yang terlihat di awal mungkin bukan masalah yang sesungguhnya. Ini membuka jalan untuk menemukan solusi yang sangat berbeda dan unik.
Ada juga orang yang berpikir seperti 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘷𝘪𝘴, yang mengakui bahwa keduanya benar: itu adalah 'setengah kosong' dan juga 'setengah penuh.' Cara berpikir yang fleksibel ini memahami bahwa kebenarannya sangat bergantung pada situasinya—apakah airnya sedang diisi atau sedang diminum? Sudut pandang ini mengajak kita untuk menghargai bahwa dua pandangan yang berbeda, bahkan berlawanan, bisa sama-sama benar pada waktu yang bersamaan.
Lain halnya, orang yang berpikir seperti 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘜𝘵𝘰𝘱𝘪𝘴 akan mengkhayalkan kenyataan ideal, di mana kekurangan itu tidak penting dan segala sumber daya selalu berlimpah. Walaupun mungkin tidak realistis, cita-cita tinggi seorang utopis adalah pendorong impian terbesar. Sudut pandang ini menantang kita agar kesulitan praktis tidak pernah boleh memadamkan keyakinan kita pada segala hal hebat yang bisa kita wujudkan.
Ada juga orang yang bersikap seperti 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘬𝘦𝘱𝘵𝘪𝘴. Mereka tidak ikut berdebat tentang berapa banyak isinya, melainkan mempertanyakan isinya itu sendiri: 'Apakah ini benar-benar air?' Cara berpikir kritis ini mengutamakan pemeriksaan dan memastikan identitasnya. Bagi seorang skeptis, sangatlah penting untuk mempertanyakan dasar-dasar pemikiran kita secara mendalam sebelum kita menerima suatu hal sebagai kebenaran.
Terakhir, ada orang yang bertindak seperti 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘚𝘦𝘯𝘪𝘮𝘢𝘯, yang melakukan perubahan paling besar: mereka menggunakan air itu untuk melukis. Mereka mengubah seluruh persoalan, beralih dari hanya merenungkan situasi menjadi menciptakan sesuatu yang aktif.
Ini menunjukkan bahwa nilai dari sebuah sumber daya tidak ditentukan oleh jumlahnya, tetapi oleh tujuan indah yang kita berikan padanya.
Inti dari semua sudut pandang ini adalah: Anda memiliki kendali penuh atas keadaan batin Anda. Anda tidak harus menjadi seorang pesimis. Anda punya kekuatan untuk mengganti 'lensa' yang Anda gunakan untuk melihat hidup.
Tugas Anda adalah mengenali pikiran negatif yang muncul, lalu dengan sengaja memilih cara pandang yang paling bermanfaat dan memberdayakan hidup Anda. Pilihlah 'bingkai' Anda dengan penuh kesadaran, sebab itulah kuas terkuat Anda.
Alihkan fokus batin Anda—ubah pandangan dari rasa kekurangan menjadi rasa keberlimpahan, dari hanya melihat fakta menjadi melihat lautan kemungkinan.
Lakukanlah penyesuaian kecil di dalam jiwa Anda, dan bersiaplah untuk terpukau melihat bagaimana perubahan internal yang sederhana ini akan mewarnai, menerangi, dan memperindah seluruh kanvas kehidupan Anda di dunia nyata.
Btw, dalam menilai suatu masalah, Anda biasanya masuk tim mana? :)
Oleh: Dedi Priadi
#INISIATIF
1 812
Oleh: Dedi Priadi
Cara Anda melihat masalah, dalam banyak hal, adalah masalah itu sendiri. Hidup menawarkan peristiwa-peristiwa yang pada dasarnya netral, namun lensa yang Anda pilih—bingkai yang Anda terapkan—secara mendasar mendikte seluruh pengalaman Anda. Anda sesungguhnya tidak terikat oleh realitas, tetapi oleh cerita yang Anda pilih untuk Anda ceritakan tentangnya.
Mari lihat bagaimana berbagai perspektif membingkai "gelas setengah penuh/setengah kosong":
𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘖𝘱𝘵𝘪𝘮𝘪𝘴 akan langsung melihat gelas sebagai 'setengah penuh.' Mereka berfokus pada hal-hal baik dan sumber daya yang sudah ada, karena ini akan membuat mereka lebih kuat dan lebih mudah menemukan jalan keluar dari masalah. Dengan memandang segala sesuatu dari sisi positif, orang optimis percaya bahwa apa yang sudah mereka miliki adalah kunci untuk memiliki harapan dan terus maju.
Sebaliknya, 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘗𝘦𝘴𝘪𝘮𝘪𝘴 melihat gelas yang sama itu sebagai 'setengah kosong.' Mereka hanya berfokus pada apa yang kurang, apa yang hilang, dan merasa khawatir akan kekurangan di masa depan. Cara berpikir yang negatif ini sering kali membuat mereka merasa cemas, curiga, dan terlalu takut menghadapi hari esok.
Lanjut part 2 👇
Вже доступно! Дослідження Telegram за 2025 — головні інсайти року 
