uk
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Відкрити в Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Показати більше
1 829
Підписники
+124 години
+107 днів
+3030 день
Архів дописів
Ask The Experts Edisi Pengembangan Diri #edisi365 Salam Inisiatif ✅ Ada ungkapan yang mengatakan, berbusanalah untuk mendapatkan pekerjaan yang Anda inginkan, bukan untuk pekerjaan yang Anda punya sekarang. Sebab, di dunia kerja zaman sekarang, penampilan yang sempurna dan kinerja maksimal adalah dua hal pendukung yang wajib dimiliki oleh masing-masing pegawai. Berpenampilan layak ke kantor dapat meningkatkan kepercayaan diri saat bekerja, juga bisa menyebarkan aura positif pada lingkungan sekitar. Cara ini merefleksikan sikap penghargaan pada diri sendiri dan sifat profesionalisme pekerja modern. Tapi mengaplikasikan makeup memang memakan waktu. Sehingga dibutuhkan trik makeup yang tepat agar para perempuan kantoran bisa menghemat waktu. Gimana caranya? Yuk mari update ilmu kita dalam suasana fun and meaningful terkait "Do and Don't “Daily Makeup Untuk Ngantor" bersama pakar di bidangnya dalam kegiatan ATE Edisi ke 365 yang diselenggarakan oleh Community of Interest (COMMIT) Ask The Experts (ATE) BPJS Kesehatan 🔥🔥🔥 Mari terhubung bersama ATE untuk akses pengembangan diri tanpa batas (FREE 💯): https://bit.ly/33EaKPs

Pagi ini di ATE. Ilmu MUA ❤️❤️❤️
Pagi ini di ATE. Ilmu MUA ❤️❤️❤️

Tidak lama setelah Masayoshi menemui Jokowi, datang pula Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri yang meminta agar kontraktor negaranya dilibatkan dalam proyek mega raksasa di Kalimantan. Kehadiran Softbank menjadi pembicaraan di negeri jiran, yang tiba-tiba ingin dapat remah-remah dari ekonomi Indonesia yang kian menjadi gergasi. Saat ditanya kenapa menemui Jokowi, Masayoshi hanya menjawab singkat, “Saya tidak melihat sekarang. Tapi saya melihat masa yang akan datang.” Sumber FB: Yusran Darmawan

MASAYOSHI Pria Jepang itu bernama Masayoshi Son. Di tahun 2000, CEO Softbank itu mendarat di Beijing, Cina. Sebagai investor paling terkemuka di bidang DotCom, dia berencana untuk bertemu beberapa orang yang akan mempresentasikan bisnis. Dia bertemu lelaki Cina yang kurus, pendek, dan kepalanya agak kebesaran. Lelaki Cina itu sedang mencari investor untuk mendanai perusahaan e-commerce yang rencananya akan menghubungkan pabrik di pedalaman Cina ke seluruh dunia. Masayoshi memperhatikan pria yang memperkenalkan diri sebagai Jack Ma itu. Lelaki Cina itu tak membawa bussines plan. Dia hanya bercerita dengan penuh antusias tentang apa yang sedang dilakukannya. Biasanya, investor akan sangat teliti membaca bussines plan. Tapi entah kenapa, hari itu Masayoshi lebih mengandalkan intuisinya ketimbang rasionya. Keesokan harinya, setiba di Jepang, dia mengirimkan email kepada Jack Ma untuk menawar saham Alibaba sebesar 40 juta dollar. Orang-orang menyebut Masayoshi sudah gila. Perusahaan Alibaba, milik Jack Ma, saat itu tidak punya aset. Usianya baru setahun dan nilanya kecil. Tapi Masayoshi berani menawar dengan harga gila-gilaan. Seminggu kemudian, Jack Ma membalas email itu. Dia tidak bisa melepas saham sedemikian besar. Dia ingin tetap memegang saham mayoritas. Softbank hanya boleh berinvestasi sebesar 20 juta dollar untuk 30% saham Masayoshi membalas dengan dua kata: “Keep going.” Tidak lama setelah transaksi itu, pasar DotCom hancur. Kekayaan Softbank senilai 77 miliar dollar AS lenyap. Kekayaan Masayoshi hilang sampai 90 persen. Namun dia tetap konsisten untuk berinvestasi di Alibaba. Dia percaya, Alibaba akan jadi the next big thing. Walaupun orang mengatainya bodoh, dia tetap yakin dengan langkahnya. Saat itu, di kalangan orang Jepang, Cina dianggap negerinya para penipu. Banyak perusahaan merugi karena korupsi dan tata kelola yang buruk. Setelah 14 tahun berlalu, Alibaba go public. Jumlah 20 juta dollar yang ditanam Masayoshi telah bernilai 558 miliar dollar. Dalam semalam, Masayoshi menjadi orang terkaya di Jepang. Empat belas tahun lalu, Masayoshi melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Dia melihat api pada diri Jack Ma. Dia melihat antusiasme, serta gairah, dan kerja keras yang tak mungkin ditampilkan dalam presentasi. Dia bercerita, beberapa menit setelah melihat Jack Ma, dia melihat prospek bernilai miliaran dolar. "Aku bisa mencium baunya. Kami berdua sedikit gila," katanya. Masayoshi melihat langkah-langkah taktis dan kecerdasan melihat peluang, sesuatu yang tak bisa dilihat dengan kasat mata. Dia punya intuisi dan bakat rahasia untuk masuk ke investasi berisiko tinggi menurut ukuran rumus investasi kuno. Dalam satu kesempatan, Masayoshi pernah membocorkan rahasianya: “Orang lain melihat 10 tahun ke depan. Saya melihat 300 tahun ke depan.” Dalam hidup, kita sering mengabaikan intuisi. Kadang kita terjebak hanya melihat penampilan luar seseorang. Saat melihat seseorang yang tampak lusuh, biasa, dan berantakan, kita mudah mengabaikannya. Kita lebih mudah berpaling pada seseorang yang tampak necis, perlete, dan harum. Padahal ide-ide besar selalu muncul dari mereka yang melihat dunia dengan cara berbeda. Keajaiban datang pada mereka yang berani berpikir berbeda, tahu ke mana harus bergerak, dan punya banyak langkah kecil untuk menggapainya. Kini, Masayoshi dan Jack Ma tetap menjalin keakraban. Sebelum tidur, sering kali Jack Ma menggambar sesuatu dan mengirimkannya ke Masayoshi. Kolaborasi dua sosok penting dalam teknologi ini telah menjadi legenda yang akan diajarkan di berbagai sekolah bisnis. Di tahun 2020, Masayoshi mendatangi Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Media-media di Singapura dan Malaysia sontak heboh. Masayoshi menemui Jokowi dan mengaku siap menggelontorkan dana hingga 1.400 triliun rupiah untuk pembangunan ibukota baru. Masayoshi bersaing dengan pihak Uni Emirat Arab yang juga menawarkan rencana yang sama.

photo content

Seberapa INISIATIF-kah Kamu? 🔥🔥🔥
Seberapa INISIATIF-kah Kamu? 🔥🔥🔥

Waspada menjelang hari raya. Penjahat mengintai. 🥶🥶🥶

Coming Soon Babak Penyisihan ATE Family 100 Periode 18 sd 22 April 2022. 🆓 Daftarkan diri anda pada link berikut: https://do
Coming Soon Babak Penyisihan ATE Family 100 Periode 18 sd 22 April 2022. 🆓 Daftarkan diri anda pada link berikut: https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLScs4Ia7kmoeV3GotdKm9e0gJKJJa_tg6MAZGcubeoaSsA6lOA/viewform

Napasnya tersengal. Keringat menetes di sekujur tubuhnya. Anak muda itu mendaki bukit demi mendatangi satu rumah reyot. Konon, di situ, ada seorang guru yang bijaksana dan sering jadi tempat bertanya. Di belakang rumah, di tengah padang berisi bunga-bunga, dia melihat sosok tua dengan wajah welas asih. Anak muda itu, langsung melempar tanya: “Guru, jika aku hendak masuk lingkar kuasa, apa yang harus aku lakukan?” Seulas senyum tersungging di wajah keriput lelaki itu. Dia menjawab singkat, “Jangan jadi ronin. Jadilah samurai.” Anak muda itu membatin. Ronin adalah sebutan untuk pendekar pedang tak bertuan. Para ronin berkelana seorang diri, tanpa terikat pada seorang tuan. Ronin bisa melesat cepat ke tangga kuasa, tapi dengan cepat pula bisa terpental. Dia jadi incaran banyak pendekar. Sekali dia terantuk, semua pedang segera menebas. Sejurus kemudian, anak muda itu mengenang para samurai. Mereka yang disebut samurai adalah mereka yang punya tuan. Samurai melindungi satu sosok penting. Samurai rela menyabung nyawa untuk tuannya. Jika samurai bersalah, maka sang tuan akan membela. Sang tuan akan menyediakan tangga demi tangga agar seorang samurai bisa melejit. Jika samurai terantuk, sang tuan akan memasang badan untuk melindunginya dari seliweran pedang. Hubungan mereka serupa mentor dan murid. Keduanya saling menopang, hingga kelak sang mentor undur diri dari hiruk-pikuk dunia, lalu membiarkan samurai menjadi tuan baru. Samurai tak pernah menjadi “kacang yang lupa akan kulitnya.” Hidup sebagai Samurai tidaklah mudah. Ada kesetiaan dan loyalitas yang terus diuji oleh waktu. Sering kali seorang mencapai puncak lalu jumawa kemudian meninggalkan tuannya. Dia lepas. Saat ada pedang menebas, sang tuan hanya akan menyaksikan dari jauh. Tanpa memasang badan, “Terima kasih Guru. Apa syarat yang lain?” kembali anak muda itu bertanya. “Jadilah sakura.” Anak muda itu menatap sekeliling. Dilihatnya pohon sakura dengan bunga-bunga yang mekar. Bunga-bunga itu tak mekar bersamaan. Ada yang mekar dan ada yang masih kuncup. Mereka tak saling cemburu. “Bunga sakura selalu tahu kapan saat mekar. Dia sabar. Dia menunggu,” kata sang guru. Anak muda itu terkenang dengan satu bunga yang tak mekar-mekar saat bunga lain sudah lama mekar dan berguguran. Hingga suatu waktu, bunga itu mekar dan menjadi bunga terindah di bukit itu. Bunga itu bersabar hingga waktu yang tepat. Bunga itu jadi yang terindah karena kesabarannya dalam menyerap energi semesta. “Apa lagi?” “Jadilah seperti pohon ek” Anak muda itu mengingat-ngingat pohon ek. Pohon itu bisa lurus tinggi bukan karena daya dan kekuatan pada diri pohon itu. Melainkan pada keikhlasan tupai untuk membersihkan kotoran di sekitarnya, keikhlasan tanah yang memberi kesuburan, dan kebaikan sungai yang menyediakan air. Pohon ek tahu kalau ketinggiannya didapatkan dari kebaikan banyak makhluk di hutan. Dia tak jumawa. Dia tak lelah merentangkan cabang dan dedaunan untuk melindungi yang lain. Dia mengingat semua kebaikan demi kebaikan yang diterimanya. “Apa lagi Guru?” “Jadilah matahari. Dia setia membagi cahayanya tanpa memandang siapa. Dia bagi sekuntum cahaya pada gunung, pada lembah, pada pantai, pada laut. Dia adil membagi cahayanya pada siapa saja,” katanya. Matahari adalah potret ketinggian, kekuatan, dan kehebatan. Tapi matahari tak pernah lelah untuk berbagi. Dia sebarkan cahayanya dengan adil. Sama rata. Setiap pagi dia sapa semua makhluk. Setiap sore, dia berpamitan pada semuanya melalui semburat cahaya merah di ufuk sana. Anak muda itu terdiam. Jalan menuju lingkar kuasa tak mudah. Dia mesti menekan ego dan hasrat yang menggelegak. Dia harus menenangkan banyak ambisi dalam diri yang tak sabar untuk menjebol. Dia ingin melejit, tapi tak sabar menunggu proses. Dia tak siap jadi kepompong yang sabar menunggu hingga tiba saatnya untuk merentang sayap sebagai kupu-kupu. “Guru, aku tak sanggup mengikuti disiplinmu.” “Maka bersiaplah untuk mati muda.” http://www.timur-angin.com  Yusran Darmawan

Seberapa INISIATIF-kah Kamu? 🔥🔥🔥
Seberapa INISIATIF-kah Kamu? 🔥🔥🔥

KETIKA SEMUA MELAKUKAN HAL YANG SAMA Pas masih awal-awal belum ada yang menjadi streamer, maka streamer yang menang banyak. Tahu live streamer cuan banyak, maka semua berlomba menjadi streamer. Live streaming menjadi mainstream, semua orang ingin menjadi streamer. Saat semua berlomba menjadi streamer maka yang memiliki karakter paling kuat yang akan menjadi pilihan. Dunia marketing memang seperti itu. Dan terus seperti. Setelah live streaming tidak tahu nanti akan ada apa lagi. Pastikan posisi Anda adalah yang pertama kali mencoba. Be Early Adopter. Bukan follower yang menunggu yang lain berhasil baru masuk. Paling tidak bagi porsinya 70:30. Tujuh puluh persen aktivitas mengerjakan dan melakukan improvement di hal yang biasa kita lakukan (Business As Usual). Sisakan 30% nya untuk mencoba hal-hal baru (Experimenting). Jangan lelah bereksperimen dan mencoba hal-hal baru. Bereksperimen memang capek. Tapi lebih capek lagi keluar kerumunan saat sesuatu menjadi mainstream. Be the leader. Not the follower. #inboundmarketing #SamIpoel instagram.com/si.samipoel/

Seberapa INISIATIF-kah Kamu? 🔥🔥🔥
Seberapa INISIATIF-kah Kamu? 🔥🔥🔥

UNBOSS Di satu kafe di sudut kota Jakarta, saya bertemu seorang teman. Dia berkeluh kesah tentang atasannya. Dia kehilangan semangat untuk bekerja. Atasannya bukan hanya memaksanya untuk “kerja keras bagai kuda”, tapi juga suka menuntut penghormatan. Dia seperti hamba yang melayani majikan. Di negeri kita, orang melihat ada hierarki dalam pekerjaan. Seorang bos adalah titik paling penting di satu kantor. Dia jadi sentrum. Karyawan lain bertugas sebagai hamba dan menjalankan perintah. Bahkan di luar kantor, penghormatan dan rasa segan itu tetap dipelihara. Birokrasi kita masih warisan kolonial. Di situ tidak berlaku asas profesionalitas. Yang berlaku adalah feodalisme. Masih seperti zaman kerajaan. Atasan harus ditinggikan, dijunjung tinggi, bahkan dihormati. Bos harus selalu dilayani, baik di kantor maupun di luar kantor. Seorang karyawan menemui atasan dengan kepala menunduk. Takut salah. Kalimat bos adalah sabda. Berani membantah, maka dituduh tidak loyal. Saya ingat cerita beberapa kawan di daerah. Sering kali atasan bertindak hanya berdasar gosip. Saat ada indikasi seorang anak buah tidak loyal, langsung mutasi ke titik terjauh. Di luar negeri, di negara-negara yang penduduknya jarang bergelar haji, kita melihat kenyataan berbeda. Seorang kawan pernah menunjukkan foto sedang makan siang bersama bosnya. Dia bekerja sebagai pencuci piring di situ. Namun saat makan siang, semua duduk di meja yang sama. Di sana, orang melihat pekerjaan sebagai fungsi. Seorang bos dan karyawan sama-sama punya fungsi . Keduanya penting. Saat bekerja, semua punya tanggung jawab masing-masing. Tak ada hierarki. Yang ada adalah kolaborasi. Semua punya peran. Bahkan saat istirahat, tetap tak ada hierarki. Bos dan karyawan bisa saling bercanda “lu-gua,” bisa makan siang bersama, bisa saling santai bersama, bisa dugem sama-sama. Saya ingat buku berjudul UNBOSS, yang ditulis Lars Kolind & Jacob Botter. Buku ini semacam panduan untuk organisasi di era 4.0. Saya suka dengan cerita mengenai Alfred P West yang menjabat sebagai CEO SEI Investment Corporation. Saat ke kantornya, Anda tidak akan menemuinya di satu ruang khusus. Dia duduk di tengah karyawannya. Penampilannya sama dengan yang lain. Tak ada yang menyangka dirinya adalah bos. Dia mendengar masukan semua orang, lalu membuat banyak keputusan penting, yang dilaksanakan semua karyawannya. Dia tidak peduli jabatan, tapi dia akan fokus pada keahlian dan potensi terbaik semua orang. Dia tak terlihat oleh orang luar. Tapi semua karyawan adalah mitra yang akan mengenalinya. Dia bukan sosok pemberi perintah. Dia memimpin tim dengan cara menjadi bagian dari tim. Dia punya passion kuat pada kerja, sesuatu yang kemudian menjalar ke semua karyawannya. Hal yang sama bisa disaksikan pada bos-bos perusahaan yang jadi titan teknologi. Anda yang terbiasa bekerja dengan bos yang suka pakai jas, akan terkejut berjumpa Mark Zuckerberg yang kelihatan kayak anak kemarin sore dan selalu berbaju kaos oblong. Anda yang punya bos dengan rumah seperti istana akan kaget melihat Warren Buffets, sosok miliader yang tinggal di rumah sederhana, yang dibelinya pada tahun 1958 di Omaha, Nebraska. Mereka memimpin dengan cara berbeda. Bukan menegakkan kuasa perintah-perintah. Tapi memperkuat visi dan passion, lalu menjadi dirigen yang menggerakkan orkestra satu organisasi. Kata penulis buku ini, di era digital, pemimpin harus berani meng-UNBOSS dirinya. Jangan jadi bos, tapi jadilah sosok yang punya visi kuat sehingga menggerakkan semua orang. Lihatlah orang lain sebagai mitra sejajar lalu berkolaborasilah untuk menghasilkan banyak hal hebat. Saya masih memikirkan beberapa bagian dari buku UNBOSS. Tetiba, ponsel kawan saya berdering. Ada suara membentak: “Di mana ko? Carikan saya kapurung trus antar ke hotel, lantai 12. Kalo ko nda antar, saya nda tanda-tangani ko punya kenaikan pangkat.” Ada rona panik di wajahnya. Dia bergegas meninggalkan saya yang masih sibuk melinting tembakau lalu mengisapnya. Di sudut sana, ada sosok manis yang sesekali melirik. Hmm Dia menarik www.timur-angin.com Yusran Darmawan

photo content

H - 4 ICE 2022 🔜
H - 4 ICE 2022 🔜

Ngabuburit kamis sore akan membekalimu agar kelak bisa menjadi seorang Leader yang berkarakter jelas (tidak plin plan)🔥🔥🔥
Ngabuburit kamis sore akan membekalimu agar kelak bisa menjadi seorang Leader yang berkarakter jelas (tidak plin plan)🔥🔥🔥 https://instagram.com/tino_salim?igshid=YmMyMTA2M2Y=

Ngabuburit Rabu sore, kita akan bincang santai terkait inseminasi dan bayi tabung bersama ahlinya. Stay tuned ❤️❤️ https://in
Ngabuburit Rabu sore, kita akan bincang santai terkait inseminasi dan bayi tabung bersama ahlinya. Stay tuned ❤️❤️ https://instagram.com/malvinemeraldi?igshid=YmMyMTA2M2Y=