uk
Feedback
ДЕТСКОЕ ПОР7

ДЕТСКОЕ ПОР7

Відкрити в Telegram

Majelis Ketarekatan

Показати більше
1 457
Підписники
Немає даних24 години
Немає даних7 днів
-6030 днів
Архів дописів
Ilustrasi kisah Nabi Khidir dengan Nabi Musa, dalam satu adegan.
Ilustrasi kisah Nabi Khidir dengan Nabi Musa, dalam satu adegan.

photo content

Terjemah 26 Jilid

photo content

KA’BAH TERLIHAT KECIL Oleh-oleh Umroh, 27 Februari 2025 Ada murid seorang ustadzah jamaah asal Cirebon. Ia berangkat umroh bersama suaminya. Tidak terbayang karena ini merupakan pengalaman baru pertama kali, ia selalu mengimajinasikan keagungan dan indahnya Ka’bah sejak dulu. Mulai start dari hotel menuju Masjidil Haram, doa dan manasik dipandu oleh Syekh Akbar melalui transmitter. Dan ketika turun dari tangga menuju Ka'bah Syekh Akbar mulai memandu doa dan diikuti jamaah, اللّٰهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَكَرَّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ وَاعْتَمَرَهُ تَشْرِيْفًا وَتَكْرِيْمًا وَتَعْظِيْمًا وَبِرًّا. Ya Allah, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya diantara mereka yang berhaji atau yang berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran dan kebaikan). Dalam perjalanan menuju ka'bah tersebut Ibu ustadzah kaget menyaksikan ka'bah menjadi kecil bentuknya dan lusuh, tidak ada wibawanya, di luar ekspektasinya. Melihat fenomena tersebut membuatnya menangis, karena khawatir ada sesuatu (kesalahan) dalam dirinya. Tapi saat melihat Syekh Akbar terlihat menjadi tinggi, besar, berwibawa. Sampai di Thaif pandangannya masih seperti itu. Syekh Akbar menjelaskan bahwa pengalaman itu pernah dialami oleh para Ulama besar. Si murid itu diberikan Allah kasyaf (tersingkap tirai kegaiban di balik dimensi yang zahir) tentang kemuliaan mursyidnya. Kabah itu patokan, arah shalat di mana pun di permukaan bumi. Ia sebagai hudan linnas (petunjuk bagi manusia). Tapi Kabah tidak memberikan petunjuk yang detail dan sempurna. Sedangkan mursyid tidak demikian. Kabah tetaplah benda, walau diberikan keberkahan padanya. Kasyaf adalah bagian dari mawahib yang bukan merupakan usaha, tapi Allah yang memberikannya tanpa usaha. Walau ia bodoh, tidak akan ada yang menghalangi jika Allah menghendakinya. Inilah anugerah yang tidak bisa diusahakan. Ia merupakan mutiara (berlian) ibadah yang mahal sekali. Dulu seorang Sufi besar yang bernama Abu Yazid al Bustami pernah melihat Kabah menjadi kecil dan tidak ada haibahnya. Ia terheran-heran, karena kabah itu diberkahi Allah. Ternyata ia sedang mengalami musyahadah kepada Pemilik Kabah sehingga pandangan lahir terhadap kabah terhalang. Menurut orang awam yang terlihat adalah kewibawaan Kabah, namun bagi orang yang haitnya terbuka akan melihat Keagungan Allah SWT. @MK_IDRISIYYAH

+1
The ROAD TO MAKKAH, BY, Muhammad Asad.pdf32.41 MB

Bukti sejarah. Karya seorang murid dan sahabat Syekh Ahmad Syarif As Sanusi ini diterjemahkan dari bahasa Inggris (Road to Meccca). Leopold Weiss (Muhammad Asad) merupakan jurnalis asal Polandia yang menyaksikan langsung kehidupan dan perjuangan Syekh Ahmad Syarif sewaktu di Mekkah. Ia juga menjadi saksi perjuangan heroik Sanusiyyah dan berjumpa dengan Umar al Mukhtar di Libya.

SENTUHAN SPIRITUAL: Pengobatan "Aneh" yang Mujarab Dalam perjalanan awal spiritualnya, Hujjatul Islam Imam Al Ghazali (w. 505 H/1111 M), seorang ulama dengan kebesaran ilmunya yang tak terbantahkan, dipertemukan dengan seorang guru yang sederhana. Mursyid yang seolah telah lama mengenalnya memahami betul penyakit batin yang diidapnya. Sang Mursyid memerintahkan Imam Al Ghazali untuk membersihkan lantai dengan tangannya sendiri, mengambil kotoran yang ada di sana. Ketika Imam Al Ghazali hendak melaksanakan perintah itu, seketika itu pula guru spiritual itu menahannya dan berhasil menyembuhkan penyakit kronis yang diakibatkan oleh keagungan ilmunya: ego yang membumbung tinggi. Penyakit itu runtuh seketika. Betapa akurat dan mujarab metode penyembuhan yang dilakukan 'sang dokter'. Dalam kisah lain datang dari seorang nelayan sederhana yang menghampiri murid Syekh Abul Hasan asy Syadzili (w. 1258 M), seorang Mursyid yang dikenal berlimpah harta kekayaannya. Sang nelayan memohon doa kepada guru si murid agar disembuhkan dari penyakit batinnya. Si murid berkata dalam hatinya, 'Sungguh aneh, seorang fakir yang dikenal saleh dan taat masih meminta doa kepada gurunya yang kaya raya'. Ternyata si nelayan terdiagnosa secuil penyakit batin (hubbud dunya) yang membuatnya sulit khusyu' dalam setiap shalatnya. Dan ajaibnya, doa itu langsung terkabul. Seketika itu juga, si nelayan sembuh dari penyakit batinnya. Subhanallah. Dikisahkan seorang murid yang berhari-hari menderita sakit flu dan tenggorokan yang tak kunjung sembuh. Suatu hari, ketika sedang berjalan tanpa disengaja ia bertemu dengan gurunya. Dengan penuh harap, ia berdoa agar penyakitnya bisa disembuhkan. Dia pun bersalaman dengan gurunya dan berkata, "Madad, Syekh Akbar!" Sungguh ajaib, penyakitnya lenyap seketika, seolah tidak pernah ada. Ia menceritakan kisahnya dengan penuh keheranan. Benarlah apa yang dikatakan para ulama sufi, bahwa bertemu dengan seorang Mursyid adalah obat yang mujarab (tiryaq al-mujarrab). Hanya bertemu saja bisa menyembuhkan penyakit. Benar-benar aneh dan ajaib pengobatan para Sufi. Karena semua itu bersumber dari hati yang bersih, yang terbebas dari segala hijab noda dan dosa. @MK_IDRISIYYAH

AWAS DOKTER PALSU Salah satu yang membuat tenang seorang pasien adalah ketika penyakitnya diobati oleh seorang dokter ahli yang telah mengenyam pendidikan kedokteran di bidangnya. Izin praktek maupun obat yang diberikan merupakan keluaran resmi, bukan abal-abal. Semuanya bisa dipertanggungjwabkan secara hukum. Mursyid Hakiki seperti dokter ahli yang berizin resmi, ia mengeluarkan obat (wirid, doa, dzikir) yang resmi pula. Obat yang dikeluarkan oleh 'dokter' yang tidak resmi (mal praktek) akan beresiko terhadap penyakit pasien, di samping tidak ampuh, ia bisa menambah parah penyakit, dan yang mengeluarkannya tidak mau bertanggung jawab. Belakangan ini marak beredar obat-obat made in china dengan kemasan mirip produk 'barat', terutama beredar di pasar online. Obat itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Customer bisa tertipu dengan kemasan yang berbeda dengan tampilan iklan. Obat yang dibeli dengan harga miring dari aslinya tersebut ternyata palsu. Bisa dibayangkan bagaimana pengaruh obat tersebut berdampak kepada penyakit yang sudah kronis. Obat tersebut bisa berubah menjadi 'racun' yang mematikan. Ada seorang ustadz kondang yang pernah memimpin sebuah majelis zikir yang dihadiri ratusan ribu orang. Ceramahnya menggelegar di masjidnya nan megah. Ketika namanya sedang melambung dan dipuja-puja banyak orang tiba-tiba ia berpulang ke Rahmatillah. Jamaahnya merasa kehilangan. Orang-orang yang bertumpu padanya ditinggalkan. Majelis dan jamaahnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika ia berhadapan dengan Munkar Nakir. Jangankan mengurus jamaah atau keluarganya, mengurus dirinya pun ia sudah kerepotan. Ilmu, amal maupun pengajaran zikir yang telah diberikannya tidak berpengaruh apa-apa. Beruntunglah ia mengenal di masa hidupnya dengan sosok Mursyid Hakiki. Melalui usaha yang tak kenal menyerah akhirnya ia berhasil bertemu dan ditolong. Di sini ia harus menerima kenyataan bahwa posisinya bukanlah sebagai seorang dokter, tapi seorang pasien yang membutuhkan dokter sesungguhnya. @MK_IDRISIYYAH

photo content

Bukan Dalilnya Tapi Sosoknya Firman Allah SWT: قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Ali Imran: 31) Dari ayat diatas dapat dipahami jika kita ingin dicintai Allah maka diperintahkan untuk mengikuti sosok Nabi Muhammad Saw., yang menuntun manusia ke jalan yang benar. Ayat tersebut tidak mengisyaratkan kepada dalil tapi kepada figur pembawa agama. Maka yang dapat disimpulkan adalah bahwa yang diikuti bukan dalil tapi sosok. Setelah Nabi Saw wafat, pembawa agama selanjutnya adalah para Khalifah dan Ulama pewaris Nabi. Masa kekhalifahan yang empat telah berakhir, dan menyusul figur Ulama Rabbani yang mewarisi Kenabian. Warisan itu jika jatuh kepada ahli waris akan dilimpahkan seluruhnya, tidak ada yang tersisa. Karena yang mewariskan tidak membawa apa-apa lagi. Para Nabi dan Ulama mewariskan Ilmu agama, bukan harta atau kekayaan. Orang-orang giat berkhidmat kepada sosok Ulama karena gurunya mewariskan ilmu agama. Banyak orang beranggapan bahwa orang yang menguasai agama dianggap tidak memiliki prospek hidup. Padahal itulah harta karun sesungguhnya yang dilimpahkan para Nabi dan Ulama kepada umat. Warisan Nabi adalah ilmu zahir dan batin (lengkap). Maka jika ia sudah mendapatkan Ulama Pewaris Nabi maka tidak perlu lagi dalil, karena sosoklah yang menjelaskan dalil. Nilai-nilai agama senantiasa terjaga sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw: يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ. ”Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, ta’wil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang bathil”. [Al-Jaami’ li-Akhlaqir-Raawi wa Adabis-Saami’oleh Al-Khathib Al-Baghdadi]. Dalil akan melahirkan pemahaman. Sementara pemahaman setiap orang berbeda-beda. Hafalan ilmu hanyalah kulit belaka, adapun pemahaman adalah isinya. Nabi Saw tidak memukul rata penerapan suatu dalil hukum kepada umatnya. Pemahaman agama bersifat bimbingan praktis bukan teoritis. Kesalahan Ulama pewaris dalam menentukan hukum dinilai benar di sisi agama, dengan syarat Ulamanya memang benar-benar pilihan. Allah menghargai buah ijtihad Ulama. Nabi Saw bersabda: إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَفَلَهُ أَجْرٌ. “Ketika seorang hakim hendak memutuskan hukum, lalu berijtihad, kemudian benar, ia mendapatkan dua pahala. Jika ia hendak memutuskan hukum, lalu berijtihad kemudian ternyata salah, ia dapat satu pahala.” (HR. Muslim) Pandangan Ulama Rabbani jauh ke depan dalam melihat kondisi umat. Saat ini yang harus dilakukan umat Islam adalah mengejar ketinggalan dari bangsa lain di bidang iptek (sains).Cukuplah kajian Tafsir, Hadis, Ushul, dsb. Sudah cukup banyak kitab-kitab Ulama membahasnya. Umat dalam kehidupan ini harus melirik kepada sisi yang lebih penting yang dikuasai oleh bangsa lain, sementara umat Islam amat bergantung kepadanya. Dalam hal ini kita mesti berjihad untuk mewujudkannya. Dan kunci berjihad adalah mencintai  Ulama Pewaris Nabi. (Hikmah Pelepasan Umroh, 19 Februari 2025/20 Sya'ban 1446 H) @MK_IDRISIYYAH

photo content

Nafsu Bagaikan Anak Kecil Nafsu seringkali irasional. Seperti anak kecil, nafsu cenderung bereaksi berlebihan dan tidak mau melihat gambaran yang lebih besar. Bayangkan seorang anak kecil yang baru saja keluar dari ruang periksa dokter mata. Air matanya bercucuran, tubuhnya meronta-ronta menolak tetes obat yang akan diberikan. Asisten dokter dan orang tuanya berusaha keras membujuk, memberikan berbagai sugesti untuk meredakan ketakutannya. Akhirnya, setelah dibujuk dengan sabar, ia bersedia. Namun, baru setetes obat menyentuh kelopak matanya, ia menjerit kesakitan seolah matanya disayat pisau. Tangisannya yang berlebihan menggema di seluruh ruang tunggu, membuat asisten dokter kebingungan. Di satu sisi, ia ingin membantu menyembuhkan, namun di sisi lain, si anak menolak mentah-mentah. Padahal, tanpa disadari, obat itu akan membawa kesembuhan dan kenyamanan yang jauh lebih besar daripada rasa sakit sesaat yang dibayangkannya. Ketakutan akan rasa sakit telah membutakan matanya dari kebaikan yang menantinya. Seperti itulah nafsu kita. Ketika dihadapkan pada sesuatu yang baik untuk kebahagiaan sejati, ia memberontak seperti anak kecil yang ketakutan. Shalat, dzikir, dan ibadah lainnya terasa pahit dan menakutkan di matanya. Nafsu sulit dikendalikan, selalu ingin menempuh jalan pintas menuju kebahagiaan semu. Ia menolak obat yang diberikan Allah, padahal obat itulah yang akan menyembuhkan penyakit jiwanya. Ketika penyakit itu sembuh, kebahagiaan dan ketenangan sejati akan diraih tanpa halangan. Orang dewasa akan menyikapi anak kecil yang meronta tadi dengan senyuman. Begitu pula mereka yang telah dewasa imannya, akan memandang kepahitan ibadah itu tidak seberapa dibanding akibat yang akan diraihnya kelak. @MK_IDRISIYYAH

MATERI_SERAMBI_ISLAMI,_SENIN_3_FEB_2025_TASAWUF_DALAM_PANDANGAN.pdf1.64 KB

SYEKH MUTAWALLI DITANYA TENTANG BERGOYANG KETIKA DZIKIR Surat kabar Al-Mujahid yang diterbitkan oleh angkatan bersenjata Mesir pernah memberikan sebuah pertanyaan kepada Ulama besar Mesir, Syekh Mutawally al Sya'rawi (w. 1419 H/1998 M) tentang irama tubuh ketika melaksanakan ritual zikir. Tentunya irama tersebut bukanlah tarian-tarian yang sering kali dipraktikkan oleh mereka yang sedikit mempunyai pemahaman dalam masalah ini. Jawab Beliau: "Timbulnya irama tubuh pada saat seseorang melaksanakan zikir, karena pengaruh rasa cinta yang menguasainya, maka hal tersebut tidak dilarang. Tetapi jika irama tersebut adala perilaku yang dibuat-buat, maka hal tersebut merupakan sebuah perilaku yang tak pantas". Sesungguhnya zikir boleh saja dilakukan dalam berbagai keadaan, sebagaimana yang Allah SWT ungkapkan dalam Al-Quran, الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi,” (Q.S. Ali Imran [3]: 191). Tidak diragukan lagi bahwa zikir mempunyai dampak terhadap ketenangan jasmani dan ruhani. Intinya, mereka yang berzikir disertai dengan irama tubuh masih lebih baik dari orang yang tubuhnya bergerak dalam irama tarian dansa dan sejenisnya. (Abjadiyyah al Tashawwuf, oleh Syekh M. Zaki Ibrahim) @MK_IDRISIYYAH

صوت لله @pemungutansuara_bot
صوت لله @pemungutansuara_bot

Vote for Allah and make the world a bigger place @pemungutansuara_bot @pemungutansuara_bot @pemungutansuara_bot

BERAWAL DARI IG & TIKTOK "Masjidnya bagus kayak masjid Nabawi", ujar si kecil yang baru duduk di kelas 5 SD kepada ibunya. Ucapan itu terlontar saat sang ibu melihat-lihat medsos yang diidam-idamkan. "Pokoknya aku nanti mau mondok di tempat ini, gak mau ke tempat lain," lanjut si kecil. Seiring waktu berjalan, akhirnya si kecil sudah mendapatkan keinginannya. Kini ia sudah kelas 8 Tsanawiyah (SMP) di Idrisiyyah. Sebelumnya sang ibu sempat tergila-gila dengan Idrisiyyah. Selama 2 th lamanya ia mengamati berbagai tokoh Ulama, Ustadz dan lembaga yang akan dijadikan tempat ia mendalami agama. Ia lihat IG, Tiktok, dan medsos lainnya setiap hari. Ia sempat mengamati beberapa ustadz beken, seperti UAS, UAH, dll. Ia berhati-hati sekali dengan kelompok yang di anggap menyimpang atau kurang sreg di hatinya. Ia akhirnya bisa membedakan mana ibadah yang sekadar mencari berkah dan tidak. Pada satu kesempatan anaknya ingin mendaftar ke pendidikan kepolisian. Di dalam visi spiritualnya ia melihat sekumpulan anak yang sedang duduk-duduk menunggu hasil keputusan tes. Tiba-tiba muncul di tengah-tengah kumpulan tersebut sosok berjubah putih yang ternyata adalah Syekh Akbar M. Fathurahman. Lalu Beliau menyebut nama 'Muhajir!' Betapa kaget ia mendengar nama anaknya satu-satunya disebut. Saat itu ia belum tahu sosok Syekh Akbar itu siapa, dan tidak mengerti kenapa anaknya disebut oleh Beliau. Suatu ketika ia lalai tidak ikut menghadiri pengajian selama 40 hr. Ketika itu ia sedang merawat ibunya yang sedang sakit di Rumah Sakit. Dalam kondisi tersebut datanglah seorang ustadz menjenguk. Kebetulan ustadz ini bisa berinteraksi dengan hal-hal yang gaib. Lalu ia mendeteksi diri si ibu dikelilingi hijab tebal, entah sebabnya apa. Setelah diberitahu bahwa dirinya tidak mengaji, sang ustadz mengatakan bahwa itulah sebabnya mengapa gurunya marah padanya. Mendengar hal tersebut si ibu bertaubat dan tidak akan meninggalkan pengajian Syekh Akbar lagi. Di lain kesempatan dalam keadaan sadar ia melihat Syekh Akbar masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan yang biasa-biasa saja mendadak berubah menjadi penuh dengan emas permata. Seakan-akan ia menyaksikan hal itu dalam mimpi (tidur). Banyak peristiwa ruhani yang dialaminya dan semakin menguatkan jiwanya sebagai seorang murid. Demikianlah kisah seorang ibu yang menjadi murid setelah mendapatkan info dari medsos. Medsos dijadikan sarana untuk meraih petunjuk, bukan menjauhkannya. Wallahu A'lam. @MK_IDRISIYYAH