uk
Feedback
Terapi Penyakit Hati (الدَّاءُ وَالدَّوَاءُ)

Terapi Penyakit Hati (الدَّاءُ وَالدَّوَاءُ)

Відкрити в Telegram

Arsip Rekaman | Kitab : Ad-Daa' Wad Dawaa' | Al-Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه الله | Kajian Rabu malam ba'da magrib di Masjid As-Sakinah Nogosari Boyolali

Показати більше
Країна не вказанаКатегорія не вказана
1 415
Підписники
+424 години
+297 днів
+38130 днів
Архів дописів
❀ من القلب إلى القلب ❀ Dari Hati ke Hati ┈┉┅━❀━┅┉┈ Kebodohan Bukan Alasan Tak ada lagi ucapan, "Aku tidak tahu," sementara jalan menuju ilmu begitu lapang terbentang. Tak ada lagi dalih, "Aku tidak pernah diperingatkan," sementara Allah telah menurunkan Al-Qur'an dan mengutus Rasul-Nya sebagai pembawa kabar gembira sekaligus pemberi peringatan. Allah Ta'ala berfirman: ﴿يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ عَلَىٰ فَتْرَةٍ مِنَ الرُّسُلِ أَنْ تَقُولُوا مَا جَاءَنَا مِنۢ بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ﴾ "Wahai Ahli Kitab! Sungguh telah datang kepada kalian Rasul Kami yang menjelaskan (syariat) kepada kalian setelah terputusnya para rasul, agar kalian tidak mengatakan: 'Tidak datang kepada kami seorang pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.' Maka sungguh telah datang kepada kalian pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan." (QS. Al-Mā'idah: 19) Jangan biarkan hari-harimu berlalu tanpa duduk bersama ilmu. Jadikan menuntut ilmu agama sebagai bagian dari perjalanan hidupmu, sebagaimana engkau membutuhkan makanan untuk tubuhmu. Sebab yang paling menyakitkan bukanlah kebodohan yang kita rasakan hari ini. Yang paling menyakitkan adalah ketika kebodohan itu dibawa sebagai alasan di hari persidangan nanti, sementara dahulu majelis-majelis ilmu telah memanggil, nasihat telah datang silih berganti, namun hati memilih untuk tidak peduli. Maka datanglah kepada ilmu sebelum datang penyesalan. Karena hari ini, mungkin kita masih berlindung di balik kebodohan. Namun kelak, ketika hujjah telah ditegakkan dan seluruh amal dipertontonkan, kebodohan bukan lagi alasan. ┈┉┅━❀━┅┉┈ 005. Dari Hati Ke Hati http://t.me/Terapi_PenyakitHati

Audio dari Abdul Aziz snack dan herbal

🔈🔈 AUDIO REKAMAN : TERAPI PENYAKIT HATI 📖 Kitab : الداء والدواء ::: Pertemuan ke 20 ::: 💺Oleh : Al Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه اللــــــــه 🕌 Masjid As-Sakinah Gununglondo, Nogosari, Boyolali. ::: t.me/Terapi_PenyakitHati ◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️

🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿 038 | Tertipu Oleh Istighfar Sebagian orang mengira setiap kali bermaksiat lalu mengucapkan "Astaghfirullah," maka dosanya langsung hilang. Akhirnya ia merasa tenang, padahal tidak pernah benar-benar meninggalkan maksiatnya. Keadaannya seperti seseorang yang melukai dirinya sendiri setiap hari, lalu hanya mengoleskan obat tanpa berhenti menyayat lukanya. Kapan luka itu akan sembuh jika penyebabnya terus diulang? Allah ta'ala berfirman: ﴿وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾ "Dan mereka tidak terus-menerus melakukan dosa yang telah mereka perbuat, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali 'Imran: 135) Istighfar bukanlah izin untuk bermaksiat. Ia adalah tangisan seorang hamba yang menyesal, lalu berusaha menjauh dari dosa yang dahulu dicintainya. Jangan jadikan "Astaghfirullah" sebagai kunci untuk membuka pintu maksiat berulang-ulang. Sebab istighfar yang sejati bukan hanya meninggalkan dosa dari lisan, tetapi juga dari kehidupan. http://t.me/Terapi_PenyakitHati

🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿 038 | Tertipu Oleh Istighfar Ada orang yang menjadikan Astaghfirullah sebagai sapu untuk membersihkan dosa, namun tidak pernah berhenti mengotori hatinya. Lisannya sibuk memohon ampun, tetapi kakinya tetap melangkah menuju maksiat yang sama. Ia mengira setiap dosa akan terhapus hanya dengan ucapan, padahal istighfar yang jujur bukan sekadar suara di bibir, melainkan penyesalan di hati dan tekad tuk tidak terjatuh lagi. Allah ta'ala berfirman: ﴿وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾ "Dan mereka tidak terus-menerus melakukan dosa yang telah mereka perbuat, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali 'Imran: 135) Maka jangan sampai istighfar menjadi alasan untuk bermaksiat, karena yang diterima bukan banyaknya ucapan Astaghfirullah, tetapi kejujuran hati yang benar-benar ingin berubah. Betapa banyak lisan yang beristighfar, namun hatinya masih betah bersama dosa. Dan betapa sedikit istighfar yang terucap, namun mampu mengantarkan seorang hamba kepada taubat yang sebenarnya. http://t.me/Terapi_PenyakitHati

📖 Kajian Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa' "Jika harapanmu kepada Allah tidak membawamu kepada ketaatan, mungkin itu bukan husnuzan, melainkan angan-angan." ✨ Pembahasan: Tertipu Oleh Husnuzan 👤 Bersama: Al-Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه الله InsyaAllahu ta'ala : 🗓 Rabu, malam ini 🕕 18.07 WIB 📡 Live t.me/taklimnogosari 📲 Rekaman t.me/Terapi_PenyakitHati "Hamba yang benar-benar berhusnuzan kepada Allah akan memperbaiki amalan bukan memperbanyak alasan."

❀ من القلب إلى القلب ❀ Dari Hati ke Hati ┈┉┅━❀━┅┉┈ Terlalu Berharga tuk Terluka Tidak semua ucapan manusia layak mendapat tempat di hati. Betapa sering kita kehilangan ketenangan berhari-hari hanya karena satu kalimat yang menyakitkan. Padahal, yang melukai bukanlah ucapan itu sendiri, melainkan ketika kita terus membawanya ke mana-mana dalam pikiran dan perasaan. Ketahuilah kapal tidak akan tenggelam selama air tetap berada di luar, demikian pula hati tidak akan rusak oleh perkataan manusia selama tidak kita izinkan masuk ke dalamnya. Allah Ta'ala berfirman: ﴿ وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا ﴾ "Apabila orang-orang jahil menyapa mereka dengan ucapan yang menyakitkan, mereka mengucapkan kata-kata yang baik." (QS. Al-Furqan: 63) Mereka tidak membalas, tidak memperpanjang, dan tidak membiarkan hati mereka menjadi tawanan ucapan manusia. Karena hati seorang mukmin terlalu berharga untuk disibukkan oleh setiap celaan. Jika ada yang meremehkanmu, ingatlah bahwa gunung tidak menjadi rendah hanya karena dilempari batu kecil. Nilaimu tidak ditentukan oleh pujian manusia, dan tidak berkurang karena celaan mereka. Yang terpenting adalah bagaimana engkau di sisi Allah. Maka biarkan sebagian ucapan mereka sebagaimana angin yang berlalu, terdengar sesaat lalu menghilang tanpa bekas. Sebab ada hal-hal yang memang lebih baik dilupakan daripada dipikirkan, lebih baik dimaafkan daripada diingat, dan lebih baik diserahkan kepada Allah daripada dipikul sendirian. Karena hatimu terlalu berharga untuk terus terluka. ┈┉┅━❀━┅┉┈ 004. Dari Hati Ke Hati http://t.me/Terapi_PenyakitHati

🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿 037 | Setiap Akibat Memiliki Sebab [21] Al-Qur'an, dari awal hingga akhirnya, mengajarkan sebuah hakikat yang agung: bahwa setiap balasan memiliki sebab, setiap hukum memiliki hikmah, dan setiap akibat lahir dari perbuatan yang mendahuluinya. Tidaklah kebaikan turun begitu saja, dan tidak pula keburukan menimpa tanpa sebab. Rahmat memiliki pintunya, sebagaimana azab memiliki jalannya. Hidayah memiliki sebab-sebab yang mengundangnya, sementara kesesatan memiliki sebab-sebab yang menyeret kepadanya. Karena itu, keadaan seorang hamba di dunia maupun di akhirat bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa alasan. Kebahagiaan dan kesengsaraan, kemuliaan dan kehinaan, ketenangan dan kegelisahan, semua terkait dengan sebab-sebab yang ia tempuh dengan tangan, lisan, dan hatinya. Barangsiapa menanam, ia akan memanen. Barangsiapa berjalan menuju Allah, Allah akan membukakan jalan baginya. Dan barangsiapa berpaling, maka akibat dari keberpalingannya akan kembali kepadanya. Maka orang yang berakal tidak hanya menunggu hasil, tetapi memperbaiki sebab. Sebab, ketika sebab diperbaiki, dengan izin Allah, akibat pun akan mengikuti. http://t.me/Terapi_PenyakitHati

❀ من القلب إلى القلب ❀ Dari Hati ke Hati ┈┉┅━❀━┅┉┈ Sebelum Menjadi Kenangan Hari ini kita masih bisa membaca tulisan ini. Masih bisa menghirup udara pagi. Masih bisa tersenyum dan berbagi. Masih bisa bermimpi tentang hari-hari yang akan datang nanti. Namun siapa yang dapat menjamin bahwa malam ini kita masih berada di sini? Betapa banyak yang pagi harinya berbincang hangat bersama keluarga, lalu sore harinya telah terbaring kaku menunggu liang kuburnya. Betapa banyak yang menunda taubat karena merasa waktu masih tersedia, padahal kematian tidak pernah bertanya apakah kita sudah siap menerimanya. Allah Ta'ala berfirman: ﴿حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ﴾ "Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, ia berkata: 'Ya Rabbku, kembalikanlah aku, agar aku dapat beramal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.'” (QS. Al-Mu'minun: 99–100) Tetapi permintaan itu tidak akan pernah dikabulkan. Karena kesempatan beramal hanya ada di dunia. Maka sungguh mengherankan, ada manusia yang menjadikan dunia seolah-olah surga tempat memuaskan semua keinginan. Ia mengejar kesenangan, melalaikan shalat, meremehkan dosa, dan menunda taubat. Seakan-akan ia telah mendapatkan jaminan umur yang panjang. Padahal setiap hari yang berlalu sedang mengurangi jatah hidupnya. Setiap terbit matahari membawa kita lebih dekat kepada kubur. Setiap malam yang berlalu membawa kita lebih dekat kepada hari ketika nama kita dipanggil untuk menghadap Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: «الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ» "Orang yang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian." (HR. At-Tirmidzi) Wahai jiwa... Jika saat ini masih ada dosa yang belum ditinggalkan, tinggalkanlah. Jika masih ada shalat yang diremehkan, perbaikilah. Jika masih ada maksiat yang dilakukan diam-diam, hentikanlah. Jangan menunggu hati menjadi lembut, karena bisa jadi kematian datang sebelum dikunjungi kelembutan. Jangan menunggu usia tua, karena banyak penghuni kubur yang tidak sempat merasakan usia senja. Jangan sering mengira masih akan bertemu esok pagi, padahal betapa banyak penghuni kubur yang kemarin menatap senja dengan harapan yang sama, namun fajar berikutnya terbit tanpa mereka. Sebelum dunia ini menjadi kenangan... Pastikan engkau telah memiliki sesuatu yang dapat engkau bawa menghadap Allah selain penyesalan. ┈┉┅━❀━┅┉┈ 003. Dari Hati Ke Hati http://t.me/Terapi_PenyakitHati

❀ من القلب إلى القلب ❀ Dari Hati ke Hati ┈┉┅━❀━┅┉┈ Tempat Bahagia Dititipkan Banyak manusia mengejar kebahagiaan ke arah yang jauh. Ada yang mencarinya di tumpukan harta, namun semakin banyak yang terkumpul, semakin banyak pula yang dikhawatirkan. Ada yang mencarinya di puncak popularitas, namun pujian manusia tak pernah mampu mengenyangkan jiwa yang lapar. Ada yang mencarinya di singgasana jabatan, namun kedudukan yang tinggi sering kali tidak mampu mengangkat hati yang sedang tenggelam. Padahal Allah tidak menjadikan sumber kebahagiaan pada sesuatu yang hanya dimiliki oleh sebagian manusia. Allah meletakkan pintu kebahagiaan pada sesuatu yang dimiliki oleh setiap manusia yaitu hati. Sebab hati yang mengenal Rabb-nya akan tetap tenang meski harta melayang. Hati yang dekat dengan Allah akan tetap lapang meski pujian manusia menghilang. Dan hati yang dipenuhi iman akan tetap merasa kaya, meski tak pernah berdiri di puncak kuasa. Karena kebahagiaan sejati bukanlah ketika dunia berada di genggaman, tetapi ketika hati mengingat Allah dengan iman. Allah Ta'ala berfirman: ﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾ "Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) Dan Rasulullah ﷺ bersabda: « أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ » "Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari & Muslim) Maka sibukkanlah dirimu memperbaiki hati. Sebab ketika hati telah mengenal Allah, ia akan menemukan kebahagiaan yang tidak mampu dibeli oleh harta, diberikan oleh jabatan, ataupun dihadiahkan oleh popularitas. 002. Dari Hati Ke Hati http://t.me/Terapi_PenyakitHati

❀ من القلب إلى القلب ❀ Dari Hati ke Hati ┈┉┅━❀━┅┉┈ Rahasia di Balik Kecewa Kadang hati terasa kecewa lalu sakit ketika kebaikan yang kita berikan seolah tak bernilai di mata manusia. Namun jika direnungi, luka kecewa itu bukan karena mereka tidak menghargai. Luka kecewa itu lahir karena kita berharap kepada tempat yang salah. Bagaimana mungkin kita menggantungkan harapan kepada manusia, sementara Allah sendiri menggambarkan mereka: ﴿ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا ﴾ "Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh." (Al-Ahzab: 72) Mereka mudah lupa, lalai, berubah, bahkan terkadang membalas kebaikan dengan keburukan. Kita pernah mengulurkan tangan saat mereka tenggelam, namun ketika mereka telah sampai ke tepian, nama kita pun mereka lupakan. Kita pernah menjadi tempat mereka bercerita saat gelap, namun ketika hidup mereka terang, keberadaan kita tak lagi dianggap. Demikianlah manusia, hari ini memuji, esok bisa mencaci. Hari ini mendekat, esok bisa menjauh. Karena itu saat memberi jangan gantungkan hatimu kepada mereka, tetapi gantungkanlah setiap pemberian itu kepada Asy-Syaakir yang tidak pernah lupa terhadap satu pun kebaikan hamba-Nya. ﴿ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا ﴾ "Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui." (An-Nisa': 147) Bahkan Allah menjanjikan bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak akan pernah hilang dari catatan-Nya: ﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴾ "Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." (Az-Zalzalah: 7) Betapa banyak air mata yang jatuh karena berharap kepada manusia, dan betapa banyak luka yang sembuh ketika berharap kepada Allah. Maka lepaskan hatimu dari makhluk yang fana, lalu tambatkan ia kepada Rabb semesta. Karena semua penghargaan manusia akan berakhir menjadi kenangan, sedangkan balasan Allah akan berakhir menjadi kenikmatan. ┈┉┅━❀━┅┉┈ 001. Dari Hati Ke Hati http://t.me/Terapi_PenyakitHati

Pert ke 18: Terapi Penyakit Hati

🔈🔈 AUDIO REKAMAN : TERAPI PENYAKIT HATI 📖 Kitab : الداء والدواء ::: Pertemuan ke 19 ::: 💺Oleh : Al Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه اللــــــــه 🕌 Masjid As-Sakinah Gununglondo, Nogosari, Boyolali. ::: t.me/Terapi_PenyakitHati ◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️◼️

بِسْمِ اللهِ Sahabat TPH, yang semoga Allah jaga hatinya. Selain Rubrik At-Tadzkir Min Kitab Ad-Da' wa Ad-Dawa', insyaAllah kami akan menyisipkan sebuah rubrik baru: من القلب إلى القلب Dari Hati ke Hati Sebuah ruang kecil untuk berbagi renungan, nasihat, dan pelajaran kehidupan yang lahir dari perjalanan hati menuju Allah. Bukan karena kami telah sampai, tetapi karena kita sama-sama sedang berjalan. Semoga ada hati yang teringat saat lalai, terhibur saat terluka, dan kembali kuat saat hampir menyerah. من القلب إلى القلب Dari hati yang penuh kekurangan, menuju hati yang sama-sama merindukan ampunan. Tim TPH, http://t.me/Terapi_PenyakitHati

📖 Kajian Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa' "Betapa banyak orang mengetuk pintu rahmat dengan amalnya, namun tetap tertutup dengan dosa yang enggan ia tinggalkan." ✨ Pembahasan: Tertipu di Pintu Rahmat (Bagian ke 2) 👤 Bersama: Al-Ustadz Teuku Abdurrahman Abu Nabil At-Tuwasza حفظه الله InsyaAllahu ta'ala : 🗓 Rabu, malam ini 🕕 18.07 WIB 📡 Live t.me/taklimnogosari 📲 Rekaman t.me/Terapi_PenyakitHati "Jangan hanya memandang luasnya lautan rahmat, tapi perhatikan rantai dosa pada kakimu yang masih mengikat.

🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿 036 | Setiap Akibat Memiliki Sebab [20] Allah ta'ala berfirman: ﴿فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ "Maka sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾ niscaya dia akan tetap tinggal di dalam perut ikan itu sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Ash-Shaffāt: 143–144) Ketika Yunus berada dalam gelap yang berlapis-lapis, Allah tidak menyebut kekuatannya, tidak pula kecerdasannya. Allah menyebut tasbihnya. Seolah mengajarkan kepada kita bahwa pertolongan yang besar sering lahir dari amal yang dianggap kecil. Jangan remehkan tasbih yang terucap dari lisan yang lelah, karena bisa jadi ia kelak menjadi cahaya di saat hidupmu kehilangan arah. Itulah sebab yang mungkin hari ini terlupakan, padahal bisa menyelamatkanmu saat semua jalan berujung kebuntuan. http://t.me/Terapi_PenyakitHati

Rasulullah ﷺ bersabda: إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا،
Rasulullah ﷺ bersabda: إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ "Apabila seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulannya (Ramadhan), menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: 'Masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki.'" HR. Ahmad no. 1661 Adinda itu kau kah.. ? http://t.me/Terapi_PenyakitHati

🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿 035 | Setiap Akibat Memiliki Sebab [19] Nuh 'alaihissalam berdiri di hadapan kaumnya bukan sehari atau setahun. Beliau memanggil mereka kepada Allah siang dan malam. Dengan kelembutan. Dengan kesabaran. Dengan air mata yang mungkin tak pernah diketahui selain oleh Rabbnya. Namun setiap nasihat dibalas dengan penolakan. Setiap peringatan dibalas dengan ejekan. Setiap kebenaran dibalas dengan kesombongan. Bertahun-tahun. Berpuluh-puluh tahun. Berabad-abad. Hingga Allah berfirman: ﴿إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ﴾ maka Kami tenggelamkan mereka semuanya." [Al-Anbiyā: 77] Perhatikan... Allah menyebut sebab sebelum akibat. Banjir itu bukan awal cerita. Banjir hanyalah halaman terakhir dari dosa-dosa yang telah lama mereka tulis sendiri. Dan sering kali, yang paling menakutkan bukanlah ketika azab itu datang. Tetapi ketika seseorang terus menanam sebab-sebabnya, sementara ia merasa semuanya baik-baik saja. http://t.me/Terapi_PenyakitHati

🌿 التَّذْكِيرُ مِنْ كِتَابِ «الدَّاءِ وَالدَّوَاءِ» 🌿 034 | Setiap Akibat Memiliki Sebab [18] Ada yang hanya melihat jawaban doa, namun lupa panjangnya jalan yang mengantarkannya. Mereka melihat akhirnya Yahya lahir di rumah Zakaria, tetapi tidak melihat rumah itu malam-malamnya penuh dengan doa. Mereka melihat Allah datangkan pertolongan, tetapi tidak melihat langkah-langkah kebaikan yang setiap hari disegerakan. Allah tidak sekadar menyebut hasilnya: {فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ "Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya (seorang anak bernama) Yahya, serta Kami jadikan istrinya dapat mengandung" [Al-Anbiya: 90] Namun Allah sebutkan pula sebabnya: إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ} "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan berbagai kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." [Al-Anbiya: 90] Begitulah ketetapan-Nya. Buah tidak tumbuh tanpa akar. Panen tidak datang tanpa benih. Dan pertolongan Allah tidak turun tanpa sebab yang dicintai-Nya. Maka jika hari ini kita menginginkan akibat yang indah, perbaikilah sebab-sebabnya. Karena sering kali yang terlambat bukan jawaban, melainkan sebab yang belum sempurna kita usahakan. Jangan hanya menunggu hasil berubah. Perhatikan sebab yang sedang engkau tanam. http://t.me/Terapi_PenyakitHati

Pert ke 18: Terapi Penyakit Hati