ru
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

Открыть в Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

Больше
1 812
Подписчики
+124 часа
+67 дней
+2030 день
Архив постов
“Managed Care Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Layanan“ Ikuti webinar PAMJAKI tentang Managed Care Sebagai Strategi Peningka
“Managed Care Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Layanan“ Ikuti webinar PAMJAKI tentang Managed Care Sebagai Strategi Peningkatan Mutu Layanan dalam Rangka Universal Health Coverage (UHC) Day 🇮🇩 📅 Jumat, 12 Desember 2025 ⏰ 10.00 - 11.30 WIB 🎙️ Speaker : 1. Prof. Dr. Atikah Adyas, MHP, AAK, CHIA 2. Arief Syaefudin, SKM, AAK, CHIA 3. Arpan Maulana, SE, AAK, CHIA, CHIP, QRGP Moderator: dr. A Mahathir Anas 💻 Link zoom: https://bit.ly/Webinar-JoinZoom 💻 Virtual Background https://bit.ly/VBWebinar-PAMJAKI GRATIS! Bagi yang ingin mendapatkan e-sertifikat, biaya registrasi IDR 50.000 Daftar sekarang : https://bit.ly/Registrasi-WebinarManagedCare

Oleh: Fahmi Hasan Nugroho Seorang mahasiswa datang untuk bimbingan. Berbulan-bulan ia ga pernah kelihatan entah ke mana, tern
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho Seorang mahasiswa datang untuk bimbingan. Berbulan-bulan ia ga pernah kelihatan entah ke mana, ternyata belakangan ia sambil bekerja serabutan dan ngojek. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia tertipu investasi bodong dan ia sedang menanggung akibatnya. Ia meminjam uang dari temannya, belasan juta, dengan harapan akan mendapatkan return tinggi. Namun ternyata keuntungan tak ada dan modal tak pernah kembali. Dua kesalahan yang bisa kita pelajari dari sini. Pertama, kita harus mengenal ragam instrumen investasi beserta karakteristik masing-masing. Aturan dasarnya seperti yang saya tampilkan di gambar ini. Jika ambil instrumen investasi yang aman maka harus siap dengan keuntungan yang rendah, tapi jika ingin mencari keuntungan tinggi maka harus siap dengan risiko kerugiannya, karena risiko dan potensi itu berjalan beriringan. Setelah kita tahu ragam instrumen investasi kita juga tau bahwa potensi paling tinggi dari suatu instrumen itu paling berapa persen dalam berapa lama. Saham, jika beruntung, analisisnya tepat, masuk dan keluar di saat yang tepat, satu hari bisa berpotensi memberikan keuntungan sampai 25%. Tapi siapapun yang sudah masuk pasar saham pasti tahu bahwa keuntungan segitu jarang banget didapat. Kesalahan kedua adalah investasi itu harus pakai uang dingin, uang yang kita "lupakan" keberadaannya, uang yang ada dan tidak adanya tidak akan mempengaruhi kebutuhan finansial kita dalam jangka waktu tertentu. Misalkan anda tahu dua atau tiga minggu lagi akan mendapatkan uang, anda sudah mengkalkulasikan bahwa hari ini hingga tanggal itu keuangan sudah cukup dan "uang dingin" itu ga akan dipakai dan tidak berpengaruh pada kebutuhan keuangan anda. Ini sangat penting karena katakanlah jika anda rugi maka kerugian itu tidak akan mengganggu pos-pos keuangan rutin dan wajib anda keluarkan. Anda tidak perlu menyesuaikan pos keuangan karena (sekali lagi) ada dan tidak adanya uang dingin itu ga mempengaruhi kebutuhan anda. Yang lebih penting adalah siapkan dana darurat sebesar 6x pengeluaran bulanan dan disimpan di instrumen yang low-moderate risk sebagai jaga-jaga jika ada kebutuhan mendadak, seperti sakit, kecelakaan, kendaraan rusak, ganti rugi, dsb. Ibaratnya seperti orang berjalan di atas tali di ketinggian, ia butuh safe net agar jika ia jatuh tidak langsung membentur tanah. #INISIATIF

LALI RUPANE, ELING RASANE (LUPA WAJAHNYA, INGAT RASANYA) 🧐 Oleh: Budiman Hakim “Eh bro… inget nggak gue siapa?” Pertanyaan i
LALI RUPANE, ELING RASANE (LUPA WAJAHNYA, INGAT RASANYA) 🧐 Oleh: Budiman Hakim “Eh bro… inget nggak gue siapa?” Pertanyaan itu muncul dalam sebuah reuni kecil. Seorang cowok menghampiri saya, mengulurkan tangan dengan senyum lebar. Senyum yang lahir dari keyakinan bahwa saya pasti masih mengingat namanya seperti dulu. Saya menatap orang tersebut. Wajahnya saya ingat dengan jelas. Terasa sangat familiar, membawa rasa hangat masa lalu. Fusiform Face Area (FFA) saya bekerja cepat, seperti satpam handal yang langsung mengenali penghuni lama. Tapi namanya? Namanya hilang entah ke mana. “Tampang lo sih gue inget,” kata saya akhirnya sambil nyengir kuda, “tapi kalo nama… gue emang sering lupa. Maap ya, Bro.” Satu meja langsung ribut. Ada yang menertawakan, ada yang langsung ngebully. Saya sendiri sedikit rikuh karena lupa. Sementara temen tadi sedikit kecewa, seolah merasa dirinya tidak cukup penting untuk diingat. Padahal bukan itu masalahnya. Ini cuma soal cara otak manusia bekerja. Nama dan wajah disimpan di dua sistem yang berbeda sama sekali. Wajah ditangani FFA, bagian otak yang memang spesialis mengenali muka. Tapi nama disimpan di semantic memory, yang banyak bergantung pada anterior temporal lobe (ATL) dan jaringan bahasa. Bagian ini jauh lebih sensitif, lebih mudah terganggu oleh stres, kurang tidur, gangguan fokus, bahkan sekadar kebisingan ruangan. Jika FFA bekerja secepat kilat, bagian yang menyimpan nama lebih seperti pegawai arsip yang gampang ngambek: pelan, penuh syarat, dan sering tersesat. Itulah kenapa wajah seseorang bisa melekat puluhan tahun, tapi namanya kabur tepat di detik yang kita butuhkan. Dan seiring bertambah usia, hubungan antara dua sistem ini makin sering desinkron. Hippocampus, yang biasanya membantu menghubungkan berbagai detail, mulai bekerja lebih lambat. Kadang ingatan episodik berupa momen, tawa dan cerita masih utuh, tapi semantic memory-nya bolong. Otak saya onget betul saya pernah ketawa bareng dia. Saya ingat suasana, ingat kelas, ingat gesturnya. Tapi jalur menuju namanya seperti jalan kecil yang sudah retak-retak. Ini bukan kehilangan memori, tapi retrieval failure, Informasinya ada, tetapi pintunya macet. Namun yang paling menarik adalah ini: Nama hilang. Rasa tidak. Sistem emosional kita, yang banyak dikendalikan oleh amygdala, menyimpan jejak yang lebih tahan lama daripada identitas verbal. Inilah sebabnya tubuh saya tetap bereaksi. Ada nostalgia lembut yang muncul. Ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika saja. Karena otak jauh lebih setia pada rasa dibandingkan pada kata. Nama adalah label yang disimpan memori semantik. Rasa adalah jejak yang disimpan memori emosional. Label mudah hilang. Jejak sulit hilang. Saat itu saya sadar bahwa manusia tidak diingat melalui nama, tapi melalui apa yang mereka tinggalkan di dalam diri kita. Kita mungkin lupa detailnya, tetapi kita jarang lupa bagaimana seseorang membuat kita merasa. Dan ketika saya pulang dari reuni itu, melaju pelan di Tol Simatupang sambil memikirkan semuanya, sebuah truk beewarna kuning berjalan di depan saya. Tulisan di belakangnya sederhana, dicat sedikit miring, tapi menusuk tepat di tempat yang barusan saya alami. "Lali Rupane, Eling Rasane" Hahahahahaha.....Alhamdulillah. Hari itu saya mendapat pelajaran lengkap: Sains menjelaskan prosesnya. Hidup menunjukkan contohnya. Dan hati mengerti artinya. #INISIATIF

Apa yang bikin kami bangga bekerja di sini? Bukan hanya soal seragam dan ruangan kantor. Tapi tentang impact yang terasa, ten
Apa yang bikin kami bangga bekerja di sini? Bukan hanya soal seragam dan ruangan kantor. Tapi tentang impact yang terasa, tentang orang-orang yang tumbuh bersama, dan tentang misi besar yang selalu kami bawa setiap hari melayani Indonesia 🇲🇨 Di sinilah #lifeatBPJSKesehatan menemukan maknanya https://www.instagram.com/p/DSCkwDDiZsb/?igsh=MWplaHN6aXp5OHJqZA==

Part 2 4. Kemampuan Mengatur Uang Kecil Adalah Latihan Kepercayaan Diri Finansial Setiap kali kita berhasil mengatur uang kecil dengan baik, kita sedang membangun rasa percaya diri bahwa kita mampu mengendalikan hidup sendiri. Itu adalah bentuk kecil dari kemandirian dan kontrol diri. Mengatur seribu rupiah dengan bijak mungkin tampak sepele, tetapi ia melatih ketelitian, kesabaran, dan rasa tanggung jawab. Semua nilai itu yang akan menjadi dasar ketika kita dihadapkan pada tanggung jawab yang lebih besar. Jika kita tidak bisa memegang uang kecil tanpa tergoda menghabiskannya, bagaimana mungkin kita bisa dipercaya untuk mengelola uang besar? Dalam hal ini, uang berperan seperti cermin moral: ia mengukur kedewasaan, bukan hanya kecerdasan. 5. Orang yang Bijak Tidak Menunggu Kaya untuk Merasa Berkecukupan Salah satu kesalahan paling umum dalam berpikir tentang uang adalah menganggap kekayaan akan membawa rasa tenang. Padahal, ketenangan datang dari kemampuan mengatur, bukan dari jumlah yang dimiliki. Orang yang bisa mengelola uang sedikit akan merasa cukup karena ia memahami prioritas dan batas. Sebaliknya, orang yang tidak bisa mengelola uang besar tetap akan merasa cemas karena tidak pernah tahu kapan cukup itu tiba. Ketenangan finansial bukan hasil dari jumlah uang, melainkan hasil dari kesadaran dan kontrol diri. Seperti kata Lao Tzu, “Orang yang tahu kapan harus berhenti akan selalu punya cukup.” 6. Uang Kecil Adalah Ujian Karakter, Bukan Sekadar Ujian Angka Mengatur seribu rupiah bukan tentang nominal, tetapi tentang karakter. Apakah seseorang mampu menunda keinginan, menghargai hal kecil, dan menempatkan prioritas di atas kesenangan sesaat? Dalam dunia kerja, kepercayaan besar tidak pernah diberikan kepada orang yang gagal memegang tanggung jawab kecil. Prinsip yang sama berlaku dalam hal uang. Orang yang tidak bisa dipercaya dengan seribu tidak akan dipercaya dengan sejuta. Kemampuan mengatur uang kecil membentuk mentalitas tanggung jawab. Ia melatih seseorang untuk melihat uang bukan hanya sebagai alat belanja, tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga. 7. Mengatur Keuangan Adalah Mengatur Diri Sendiri Pada akhirnya, semua pembicaraan tentang uang bermuara pada satu hal: pengendalian diri. Uang hanyalah alat, dan alat itu bergantung sepenuhnya pada siapa yang memegangnya. Jika seseorang mudah tergoda, maka uang akan memperkuat godaan. Jika seseorang disiplin, maka uang akan memperkuat ketenangan. Mengatur uang bukanlah soal angka, tapi soal sejauh mana seseorang mengenal dirinya sendiri. Orang yang bisa mengatur seribu dengan baik telah melatih dirinya untuk hidup dengan kesadaran. Dan kesadaran itulah yang akan menuntun langkahnya ketika sejuta datang. __ Fakta pahit ini sederhana tetapi benar: uang tidak menyembuhkan keborosan, hanya memperbesarnya. Seseorang tidak tiba-tiba menjadi bijak ketika kaya, karena kebijaksanaan finansial bukan hasil dari kekayaan, melainkan hasil dari disiplin dan kesadaran yang dibangun sejak kecil. Jadi sebelum berharap mendapatkan sejuta, belajarlah mengatur seribu. Karena yang menentukan nasib seseorang bukan seberapa banyak uang yang datang, tetapi seberapa siap ia ketika uang itu datang. Oleh: Benua Sabda #INISIATIF

Oleh: Benua Sabda Banyak orang berpikir bahwa masalah keuangan akan selesai jika mereka punya lebih banyak uang. Mereka yakin
Oleh: Benua Sabda Banyak orang berpikir bahwa masalah keuangan akan selesai jika mereka punya lebih banyak uang. Mereka yakin, ketika penghasilan bertambah, hidup akan lebih mudah, tabungan lebih aman, dan tekanan finansial akan berkurang. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Dalam banyak kasus, ketika jumlah uang meningkat, masalah yang muncul justru ikut membesar. Dalam bukunya The Millionaire Next Door (1996), Thomas J. Stanley dan William D. Danko menulis bahwa kebanyakan orang kaya bukanlah mereka yang berpenghasilan tinggi, melainkan yang memiliki kebiasaan mengelola uang dengan disiplin sejak kecil. Mereka tidak menunggu kaya untuk belajar mengatur keuangan, justru karena kebiasaan itu mereka akhirnya menjadi kaya. Artinya, kemampuan mengelola uang tidak datang setelah punya banyak, tapi sebelum itu. Ungkapan “orang yang tidak bisa mengatur seribu, tidak akan bisa mengatur sejuta” bukan hanya pepatah keuangan, tetapi juga refleksi karakter. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan kecil dalam mengelola sumber daya menentukan seberapa siap seseorang menghadapi kelimpahan yang lebih besar. Berikut penjelasan mengapa pepatah ini begitu relevan dan pahit untuk diakui. 1. Masalah Keuangan Jarang Berasal dari Jumlah, Tapi dari Kebiasaan Kita sering berpikir bahwa kekurangan uang adalah akar dari semua masalah finansial. Padahal, masalah keuangan lebih sering muncul karena kebiasaan buruk yang terbentuk lama sebelum uang itu datang. Seseorang yang terbiasa menghabiskan seluruh gajinya tanpa perencanaan akan melakukan hal yang sama ketika gajinya naik. Polanya tidak berubah, hanya jumlahnya yang berbeda. Ia tidak kekurangan uang, tetapi kelebihan keinginan. Kebiasaan mengatur uang bukan tentang besar kecilnya nominal, melainkan tentang bagaimana seseorang menghargai nilai dari setiap rupiah yang ia miliki. Orang yang tidak bisa menghargai seribu rupiah akan menganggap remeh sejuta, dan ketika uang datang lebih banyak, kesalahannya ikut membesar. 2. Disiplin Finansial Tidak Tumbuh dari Kelimpahan, Tapi dari Keterbatasan Banyak orang menunda disiplin keuangan dengan alasan, “Nanti kalau gajiku sudah besar, aku akan mulai menabung.” Namun mereka tidak sadar bahwa kemampuan menabung bukan soal nominal, tapi soal kebiasaan. Disiplin sejati justru lahir ketika seseorang belajar menahan diri di masa sempit. Menyisihkan lima ribu dari seratus ribu terasa kecil, tapi kebiasaan kecil itu yang membentuk karakter finansial. Ketika jumlahnya meningkat, kebiasaan itu sudah menjadi naluri. Keterbatasan memberi pelajaran yang tidak bisa dibeli oleh kekayaan, yaitu rasa cukup. Orang yang belajar cukup ketika sedikit, akan tetap cukup ketika banyak. Sebaliknya, orang yang rakus ketika kekurangan akan tetap merasa kurang walau sudah berlimpah. 3. Uang Tidak Mengubah Pola Hidup, Hanya Memperbesar Skalanya Ketika seseorang mendapat penghasilan tambahan, kebanyakan akan segera meningkatkan gaya hidupnya. Ia makan di tempat lebih mahal, membeli barang yang lebih mewah, dan memanjakan diri dengan dalih “reward” atas kerja keras. Fenomena ini disebut lifestyle inflation, dan hampir semua orang pernah terjebak di dalamnya. Jika seseorang tidak bisa menahan diri dengan uang sedikit, maka uang banyak hanya akan membuatnya lebih boros. Sebaliknya, orang yang mampu hidup sederhana meski penghasilannya besar akan memiliki ruang finansial yang stabil dan tahan krisis. Seperti kata Dave Ramsey, pakar keuangan pribadi asal Amerika, “Masalah finansial bukan masalah uang, tapi masalah perilaku.” Artinya, uang tidak akan memperbaiki cara hidup, justru memperjelas pola yang selama ini tersembunyi. Lanjut part 2 👇

Konsekuensi Jangka Panjang: • Financial Fragility: Jika terjadi PHK, sakit, atau krisis ekonomi, mereka tidak memiliki dana untuk bertahan hidup lebih dari 1-2 bulan. • Kehilangan Peluang: Mereka tidak bisa mengambil peluang investasi yang memerlukan dana tunai cepat (misalnya, membeli properti saat harga diskon). Artinya, kemewahan yang mereka tunjukkan adalah ilusi yang rapuh. Kesuksesan finansial mereka hanyalah fatamorgana yang dipertahankan oleh gaji bulanan yang harus selalu datang tepat waktu. Harus Jujur Pada Neraca Keuangan Sendiri Fenomena ini menjadi peringatan keras: Gaji tinggi tidak sama dengan kaya. Kekayaan sejati diukur dari Net Worth (Aset dikurangi Utang), dan lebih penting lagi, dari jumlah uang tunai yang dapat Anda akses tanpa harus menjual aset atau berutang lagi. Untuk keluar dari jebakan "Kaya Rasa, Miskin Nyata," profesional bergaji tinggi harus melakukan financial detox: 1. Stop Lifestyle Creep: Paksakan hidup dengan standar gaji lama dan alokasikan selisihnya ke rekening investasi. 2. Lunas Utang Konsumtif: Prioritaskan pelunasan semua utang kartu kredit dan PayLater. 3. Bangun Dana Darurat: Targetkan dana darurat 6 hingga 12 bulan pengeluaran wajib, simpan di rekening yang sulit diakses. Waktunya berhenti membiayai image Anda di media sosial dan mulai membiayai keamanan finansial Anda di masa depan. Oleh: Nuari Hayati #INISIATIF

Oleh: Nuari Hayati Di linimasa media sosial, mereka adalah simbol kesuksesan: liburan ke luar negeri, tas branded, ngopi di k
Oleh: Nuari Hayati Di linimasa media sosial, mereka adalah simbol kesuksesan: liburan ke luar negeri, tas branded, ngopi di kafe premium, dan cicilan mobil Eropa. Mereka adalah manajer muda, talent digital, atau profesional IT yang gajinya sudah mencapai dua digit tinggi (Rp 15 juta ke atas). Namun, ironi pahitnya, banyak dari mereka hidup dalam kondisi kerapuhan finansial yang ekstrem. Mereka adalah Generasi Kaya Rasa, Miskin Nyata—terlihat makmur dari luar, namun sebenarnya satu gaji lagi menuju kebangkrutan. Fenomena ini adalah hasil dari tabrakan antara peningkatan penghasilan, kemudahan kredit, dan tekanan untuk flexing (pamer) di media sosial. 1. Lifestyle Creep: Menetapkan Standar Kemewahan sebagai Kebutuhan Begitu gaji naik dari Rp 8 juta ke Rp 18 juta, kebanyakan orang tidak akan menabung selisihnya (Rp 10 juta). Sebaliknya, baseline kebutuhan hidup mereka akan ikut naik. Inilah yang disebut Lifestyle Creep atau Inflasi Gaya Hidup. Dulu, transportasi publik sudah cukup. Sekarang, harus naik mobil pribadi (yang dibayar dengan cicilan). Dulu, HP mid-range sudah memadai. Sekarang, harus iPhone terbaru. Setiap kenaikan gaji dihabiskan untuk membeli perceived status—status yang dirasakan, bukan status nyata. Mereka membeli barang yang memberi kesan sukses, yang seringkali berarti membeli barang yang nilainya terdepresiasi (turun) dengan cepat. Contoh Nyata: Seseorang bergaji Rp 25 juta per bulan, namun cicilan mobil dan KPR-nya sudah memakan 45% gajinya. Ditambah fine dining dan langganan gym premium, Net Cash Flow mereka di akhir bulan nol. Mereka kaya aset (di atas kertas), tapi miskin uang tunai. 2. Utang Konsumtif: Membiayai Gaya Hidup dengan Dana Masa Depan Bagi generasi ini, utang bukanlah alat untuk investasi produktif (modal usaha atau properti yang menghasilkan), melainkan jembatan untuk mendapatkan kepuasan instan. Utang yang menumpuk bukan berasal dari kebutuhan pokok, melainkan dari utang konsumtif seperti: • PayLater & Kartu Kredit: Digunakan untuk membeli barang sekunder, bahkan tersier, seperti tiket konser atau fashion. • Cicilan Barang Mewah: Memaksakan diri membeli mobil atau rumah yang melebihi kemampuan finansialnya, sehingga rasio pembayaran utang (Debt-Service Ratio / DSR) mereka melonjak di atas batas aman 35%. Ketika DSR terlalu tinggi, mereka tidak hanya miskin di akhir bulan, tetapi juga miskin untuk 5 hingga 10 tahun ke depan, karena sebagian besar pendapatan mereka sudah "diamankan" oleh lembaga keuangan. 3. Nol Tabungan, Nol Jaring Pengaman Inti dari 'Miskin Nyata' adalah tidak adanya Dana Darurat (Emergency Fund). Ketika seseorang berpenghasilan Rp 20 juta, tekanan untuk menjaga penampilan di depan kolega, klien, dan pengikut sosial media sangatlah tinggi. Mereka tidak bisa tiba-tiba "turun kasta" karena hal itu akan merusak citra profesional mereka. Namun, karena seluruh gaji mereka terserap oleh cicilan dan gaya hidup, mereka tidak memiliki uang tunai yang likuid. Lanjut Part 2 👇

Oleh: Nuari Hayati Jika Anda adalah seorang profesional di kota besar dengan gaji Rp 10.000.000 per bulan, Anda mungkin serin
Oleh: Nuari Hayati Jika Anda adalah seorang profesional di kota besar dengan gaji Rp 10.000.000 per bulan, Anda mungkin sering mendengar ucapan iri: "Gaji segitu sih sudah enak banget!" Faktanya? Bagi banyak orang, gaji Rp 10 juta di tahun 2025 kini terasa seperti "Gaji Numpang Lewat." Uang itu singgah sekejap di rekening, lalu menghilang begitu saja di pertengahan bulan. Anda tidak hidup di garis kemiskinan, namun Anda juga tidak merasa kaya. Anda terjebak di batas tipis yang kami sebut Kemiskinan Gaya Hidup (Lifestyle Poverty). Bagaimana mungkin penghasilan dua kali lipat UMR masih terasa miskin? Inilah tiga alasan utamanya. 1. Beban Tetap (Fixed Cost) yang Tidak Kompromi Gaji Rp 10 juta memang tinggi, tetapi pengeluaran wajib di kota besar juga ikut meroket. Komponen terbesar yang menggerus gaji Anda adalah biaya yang tidak bisa Anda tawar A. Jebakan Properti: KPR & Sewa yang Mencekik • KPR/Sewa: dikota besar cicilan rumah/sewa minimal yang layak huni sudah memakan 30% hingga 40% dari total gaji (Rp 3,5 - 4 juta) • Transportasi: Cicilan kendaraan (mobil/motor) beserta bensin, tol, dan biaya parkir bisa mencapai Rp 1,5 - 2 juta per bulan Setelah dipotong pajak (PPh 21), BPJS, KPR, dan cicilan kendaraan, sisa gaji bersih Anda mungkin hanya menyisakan Rp 4 juta untuk bertahan hidup selama sebulan—nominal yang terasa sangat mepet B. "Pajak" Generasi Sandwich Bagi Milenial dan Gen Z awal, gaji Rp 10 juta seringkali datang dengan "pajak" tak tertulis: kewajiban membantu finansial orang tua atau keluarga di kampung Kontribusi wajib yang bersifat kultural ini bisa memotong gaji hingga 10%-15% di awal bulan. Gaji Anda sejatinya bukan hanya untuk Anda, tapi untuk menopang dua rumah tangga 2. Inflasi Gaya Hidup (Hedonic Treadmill) Ini adalah faktor psikologis yang paling kejam. Ketika gaji Anda naik, standar hidup Anda juga ikut naik. Fenomena ini disebut Hedonic Treadmill. Ketika bergaji Rp 5 juta, Anda puas makan siang di warteg dan minum air mineral. Begitu bergaji Rp 10 juta: • Minum: Air mineral berganti kopi branded Rp 35.000 (yang jika dikali 20 hari kerja = Rp 700.000 per bulan) • Makan Siang: Warteg berganti lunch box dari restoran yang lebih baik (Rp 50.000/hari) • Hiburan: Nonton di rumah berganti langganan tiga layanan streaming berbeda, weekend getaway, dan hangout di kafe mahal Anda merasa berhak atas kenyamanan ini, dan pengeluaran ini pun dianggap sebagai "kebutuhan" untuk menjaga kesehatan mental—padahal inilah yang membuat rekening Anda kering 3. Tidak Ada Jaring Pengaman (No Safety Net) Perasaan miskin muncul bukan karena kurang uang untuk hidup hari ini, melainkan karena ketidakmampuan untuk membeli masa depan. Dengan gaji Rp 10 juta, banyak orang merasa stuck: • Dana Darurat: Sulit menabung Rp 100 juta yang diperlukan untuk dana darurat ideal (6x pengeluaran) • Investasi: Uang yang tersisa seringkali terlalu kecil untuk investasi serius (saham/properti) yang dapat menjamin masa tua • Pensiun: Jika semua gaji habis untuk lifestyle dan cicilan, Anda tidak memiliki jaring pengaman finansial. Ketakutan akan masa depan inilah yang membuat Anda merasa "miskin" secara finansial, meskipun Anda kaya saat ini Solusi: Pindah dari Gaji Nominal ke Gaji Riil Untuk keluar dari jebakan ini, Anda harus berhenti melihat angka Rp 10 juta sebagai uang saku, tapi sebagai modal bisnis 1. Hitung Real Disposable Income: Hitunglah berapa sisa uang Anda setelah dikurangi semua fixed cost (KPR/Sewa, cicilan, BPJS, kontribusi keluarga). Angka ini adalah gaji riil Anda, dan seringkali jauh di bawah Rp 10 juta 2. Automasi Tabungan: Bayar diri Anda (investasi dan dana darurat) sebesar 20% di awal bulan. Uang yang tersisa barulah untuk biaya hidup 3. Hentikan Lifestyle Creep: Paksakan diri untuk tetap hidup dengan standar gaji Rp 7 juta, dan alokasikan sisa Rp 3 juta untuk investasi dan tujuan jangka panjang Gaji Rp 10 juta adalah gaji yang baik, tetapi hanya terasa "enak" jika Anda berhasil menaklukkan Inflasi Gaya Hidup Anda sendiri dan berani memprioritaskan masa depan daripada kopi hari ini #INISIATIF #TGIF

Staf Kerja Sama Faskes mana suaranya? 👏 Kualitas layanan JKN bukan hanya tentang sistem dan proses. Ada tim yang memastikan
Staf Kerja Sama Faskes mana suaranya? 👏 Kualitas layanan JKN bukan hanya tentang sistem dan proses. Ada tim yang memastikan hubungan kerja sama dengan faskes berjalan tepat, terukur, dan profesional 🤝 Staf Kerja Sama Fasilitas Kesehatan menjalankan peran strategis: meningkatkan akses pelayanan kesehatan, mengawal mutu, memperkuat komunikasi dan kolaborasi strategis, serta memastikan standar layanan diterapkan dari kota besar hingga daerah kepulauan 🇮🇩 https://www.instagram.com/p/DR0sT22icbl/?igsh=cWNieGlsYms4dG1n

Jabatan yang Tak Abadi 🤝 Oleh: Nadirsyah Hosen Jabatan sering kali diperlakukan seolah mahkota abadi. Kursi empuk, tanda pangkat, serta hiruk-pikuk penghormatan membuat orang merasa dirinya istimewa. Namun sejatinya, jabatan hanyalah kontrak singkat, titipan sementara yang kapan saja bisa berakhir. Hari ini disambut dengan karangan bunga, besok bisa ditinggalkan dengan sepi dan dilupakan. Machiavelli pernah menasihati penguasa untuk cerdik menjaga kursi, tetapi ia pun mengakui: kekuasaan ditentukan oleh fortuna—nasib yang mudah berbalik. Hobbes menegaskan bahwa legitimasi jabatan hidup dari kepercayaan rakyat; begitu kepercayaan hilang, jabatan pun kehilangan daya. Sementara Foucault mengingatkan, jabatan bukanlah milik permanen, melainkan bagian dari jaringan relasi kuasa yang terus bergeser. Tradisi Islam juga menegaskan kefanaan jabatan. Al-Ghazali menyebut jabatan sebagai amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan sekadar kehormatan. Ibn Khaldun menggambarkan jabatan dan kekuasaan sebagai siklus: lahir, berjaya, lalu rapuh. Tiga generasi cukup untuk meruntuhkan sebuah dinasti, apalagi hanya satu periode jabatan. Sejarah membuktikan, tidak ada jabatan yang abadi. Kaisar, khalifah, presiden, raja—semua akhirnya turun, entah dengan hormat atau dipaksa. Nama mereka terukir sebentar, lalu diganti nama lain. Hari ini seseorang dipanggil “Yang Mulia”, besok ia kembali menjadi manusia biasa yang berjalan tanpa pengawalan. Betapa singkatnya kemegahan sebuah jabatan dibanding panjangnya sejarah. Refleksi ini menyingkap kenyataan: jabatan bukan tujuan, melainkan sarana. Ia bukan hak, melainkan amanah. Maka kesalahan terbesar adalah melekatkan diri pada jabatan seolah hidup tak berarti tanpanya. Yang abadi bukanlah kursi, melainkan amal dan nilai yang ditinggalkan saat kursi itu dilepas. Jabatan hanyalah panggung singkat; lakon sejatinya adalah apakah kita gunakan ia untuk menindas atau melayani. Sebab ketika panggung gelap dan tirai ditutup, yang tinggal hanyalah jejak kebaikan atau luka yang kita wariskan. Tabik, #INISIATIF

KITA SEMUA UNDERDOG ✊ Oleh: Budiman Hakim “Gue pegang Muhammad Ali. Dia pasti menang!” Kalimat itu meluncur dari mulut teman
KITA SEMUA UNDERDOG Oleh: Budiman Hakim “Gue pegang Muhammad Ali. Dia pasti menang!” Kalimat itu meluncur dari mulut teman saya ketika kami masih SD. Waktu itu kami lagi menonton siaran langsung pertandingan legendaris The Rumble in the Jungle: Muhammad Ali melawan si raksasa, George Foreman. Saya ingat benar momen itu. Foreman sedang berada di puncak. Dia lebih muda, lebih kuat, pukulannya dianggap paling mematikan pada zamannya. Semua analis menyebut Ali akan kalah telak. Pasar taruhan juga jomplang banget, 80% memenangkan Foreman. Tapi teman saya tetep keukeuh. Tanpa ragu dia menunjuk layar TV dan berteriak lantang, “Ali pasti menang!” Saya waktu itu bingung. Dalam benak saya: Foreman yang jelas lebih kuat, kenapa dia bela Ali yang underdog? Membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai akhirnya saya memahami : ada tiga alasan psikologis kenapa manusia cenderung membela underdog. Otak kita suka cerita atau storytelling. Cerita yang paling memuaskan adalah: yang kecil melawan yang besar, yang serba-kekurangan melawan yang serba-berkecukupan. Pola itu sudah terlihat kalo kita mengamati dongeng2 mitologi klasik: David vs Goliath, Si Kancil, Cinderella, Rocky Balboa sampai Naruto, Begitu melihat underdog, otak otomatis menyambungkan ribuan pola lama yang memuliakan kemenangan orang kecil. Kita ingin itu terjadi lagi. Lalu ada dorongan keadilan dalam diri manusia. Kalau satu pihak terlihat terlalu kuat, terlalu kaya, atau fasilitasnya terlalu lengkap, otak menganggap pertandingan itu “tidak seimbang”. Ketika ketidakseimbangan muncul, ada dorongan biologis untuk meratakan atau menyeimbangkan hal tersebut. Makanya saat Leicester City juara EPL, seluruh dunia ikut heboh; saat tim gurem menang adu penalti lawan raksasa. stadion pecah akibat ledakan kegirangan. Alasan ketiga: sebagian besar manusia merasa hidupnya lebih mirip underdog. Kerja keras yang tidak selalu dihargai, kalah start, berjuang sendirian, sering nyaris, jarang di atas. Saat melihat underdog, kita seakan melihat cermin diri sendiri. “Kalau dia menang, rasanya seperti gue yang menang.” Tapi ada satu hal penting yang harus digarisbawahi. Kecenderungan membela underdog itu hanya berlaku saat kita netral. Teman saya membela Muhammad Ali waktu itu karena dia tidak punya jagoan sebelumnya. Dia nonton pertandingan itu tanpa beban apa-apa. Maka otaknya otomatis memihak ke sisi yang lebih “heroik”. Kalau seseorang sudah punya jagoan, logika underdog langsung gugur. Begitu seseorang sudah punya loyalitas, otaknya pindah ke mode lain: in-group favoritism, identitas, dan ketakutan kalah. Fans MU tetap bela MU walaupun performanya jatuh. Fans Real Madrid tidak tiba-tiba mendukung klub gurem hanya karena status underdog. Begitu ada ikatan emosional, underdog bukan lagi pertimbangan: yang penting “tim saya”. Dan ini bagian yang menarik. Setelah bertahun-tahun meninggalkan ring tinju dan menjadi pendeta, George Foreman sekonyong-konyong muncul lagi. Dia yang dulu dianggap monster, kembali naik ring di usia yang cukup tua. Ketika Foreman memasuki ring, saya melihat lelaki berusia 45 tahun. Gerakannya lambat, Tubuhnya sudah gombyor dipenuhi lemak. Kepalanya sudah membotak. Sementara lawannya Michael Moorer adalah juara dunia bertubuh atletis dan usianya baru 26 tahun. Sekonyong-konyong temen saya menunjuk layar dan berkata: “Gue bela Foreman. Dia pasti menang!” Dulu dia membela Ali karena Ali underdog. Sekarang dia membela Foreman karena Foreman underdog. Ternyata manusia berubah kubu bukan karena hasil pertandingan… tapi karena hati kita selalu mencari siapa yang paling layak dibela. Dan sering kali, yang kita bela itu tampak paling kecil, paling rapuh, paling tidak mungkin menang. Tapi keajaiban itu memang ada. Foreman berhasil mengkanvaskan lawannya dan merebut kembali gelar juara dunia. Luar biasa. Jadi underdog itu bukan sekadar atlet. Bukan sekadar tim. Bukan sekadar kisah. Underdog adalah kita. #INISIATIF

THE SISYPHUS OF THE MIND 🙃 Oleh: Dedi Priadi Pernah dengar kisah metaforis 𝘛𝘩𝘦 𝘚𝘪𝘴𝘺𝘱𝘩𝘶𝘴 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘔𝘪𝘯𝘥? Kis
THE SISYPHUS OF THE MIND 🙃 Oleh: Dedi Priadi Pernah dengar kisah metaforis 𝘛𝘩𝘦 𝘚𝘪𝘴𝘺𝘱𝘩𝘶𝘴 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘔𝘪𝘯𝘥? Kisah ini berakar dari mitologi Yunani, di mana Raja Sisyphus, karena tipu dayanya, dikutuk oleh para dewa. Hukuman yang ia terima sangat kejam: selamanya mendorong batu besar ke puncak bukit. Namun, setiap kali hampir mencapai puncak, batu itu akan menggelinding turun lagi ke bawah. Kutukan ini adalah simbol dari usaha yang sia-sia dan pengulangan pengambilan keputusan yang salah. Metafora Raja Sisyphus menggambarkan perjuangan batin yang dalam. Bukan batu fisik yang kita dorong, melainkan pola pikir yang salah. Kita berulang kali mendapati diri di persimpangan yang sama, membuat pilihan yang telah terbukti gagal, dan berakhir dengan hasil yang sama pula. Di titik kritis ini, pikiran kita terperangkap dalam lingkaran tanpa henti, karena kekalutan dan kegelisahan membelenggu setiap niat untuk mengambil langkah strategis baru. Kita punya kesempatan untuk memilih jalan baru yang lebih baik, tetapi alih-alih melakukannya, kita justru kembali ke kebiasaan atau pola pikir lama yang terbukti hanya akan membawa kita kembali ke dasar masalah—sama seperti Sisyphus yang harus memulai dorongan batunya dari awal lagi. Fenomena ini terjadi bukan karena kita bodoh atau tidak mampu. Seringkali, hal tersebut terjadi karena kita terjebak dalam pola pikir tetap (𝘧𝘪𝘹𝘦𝘥 𝘮𝘪𝘯𝘥𝘴𝘦𝘵) yang enggan melihat kegagalan sebagai guru. Kita melihatnya sebagai vonis, bukan sebagai umpan balik untuk bertumbuh. Mindset bertumbuh (𝘨𝘳𝘰𝘸𝘵𝘩 𝘮𝘪𝘯𝘥𝘴𝘦𝘵) adalah kunci emasnya. Cara pandang ini mengajarkan bahwa kemampuan dan kecerdasan kita bisa berkembang melalui dedikasi dan kerja keras. Kegagalan bukan akhir, melainkan awal dari penemuan strategi baru. Saat kita mengubah cara pandang, kita mulai membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan menemukan jawaban dan peluang baru. Bukan itu saja, cara pandang yang benar juga menurunkan level kegelisahan pikiran dan batin kita. Ketika kita panik, masalah terasa seperti tembok besar. Namun, dengan ketenangan, kita melihat bahwa tembok itu ternyata hanyalah ilusi atau memiliki celah yang selama ini kita abaikan. Solusi yang kita cari, yang tersembunyi di balik kekacauan emosi, kini terungkap dengan sendirinya karena ketenangan hati kita. Mari lepaskan beban batu lama itu. Izinkan pikiran kita berkreasi, berani mencoba jalur berbeda di titik yang sama. Setiap "kesalahan" adalah langkah maju, sebuah pembelajaran berharga yang memimpin pada solusi yang selama ini kita cari. Kita memiliki kekuatan untuk mengukir sejarah baru. Jangan jadi Sisyphus yang terus-menerus jatuh di lubang yang sama, tetapi jadilah seorang petualang yang berani menemukan jalan keluar dari labirin pola pikir lama, menuju kebebasan dan pertumbuhan sejati. #INISIATIF

Tumbler, Mindset, dan Cara Kita Melihat Dunia 🫶 Oleh: Firman Pratama Beberapa hari terakhir, timeline saya dipenuhi satu top
Tumbler, Mindset, dan Cara Kita Melihat Dunia 🫶 Oleh: Firman Pratama Beberapa hari terakhir, timeline saya dipenuhi satu topik sederhana tapi hebohnya luar biasa: sebuah tumbler yang tertinggal di kereta. Sebuah tumbler, satu buah saja. Tapi efeknya? Petugas kereta dibebastugaskan sementara, dan si mbak pemiliknya pun akhirnya berhenti dari pekerjaannya sendiri. Semua gara-gara satu benda yang… ya ampun, harganya hanya ratusan ribu. Saya jadi tersenyum sendiri saat melihat koleksi tumbler saya di rumah. Kalau salah satu hilang? Saya tinggal beli lagi. Atau pakai yang lain Tidak ada drama. Tidak ada heboh. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada “nyalahin petugas”. Karena pada akhirnya, yang mahal itu bukan tumblernya tapi mindset-nya. Dan di kasus si mbak ini, kita melihat dengan sangat jelas: harga barangnya murah, tapi harga pelajarannya mahal. Itu yang sering memiskinkan banyak orang. ✅️1. Mindset Miskin Fokus pada Kekurangan Saat cara berpikir masih terjebak pada rasa kurang, hal yang kecil terasa sangat besar. Hal yang sepele terasa seperti bencana nasional. Tumbler hilang → marah. Telat sedikit → panik. Tidak sesuai ekspektasi → ribut. Semua karena kepalanya penuh rasa takut dan ingin diakui. Sementara orang dengan mindset kaya, tidak hidup dari drama. Mereka hidup dari solusi. Kalau hilang? Ya beli lagi. Selesai. ✅️2. Sikap Mengontrol Semua Orang, Bukan Mengontrol Diri Sendiri Ironisnya, tumbler itu akhirnya membuat publik tahu brand kopi tersebut jauh lebih luas. Marketing gratis. Dari video viral. Ini contoh lucu bagaimana hidup bekerja: yang ribut paling keras justru tidak dapat apa-apa yang tenang malah dapat rezeki. Sama seperti hidup. Banyak orang marah-marah pada keadaan, minta semua orang mengikuti kemauannya, tapi lupa bahwa yang harus dikendalikan itu pikiran sendiri, bukan dunia luar. Itu yang saya tekankan di AMC: kamu bukan mengontrol dunia, kamu mengontrol pikiranmu. Dan pikiranmu lah yang nanti mempengaruhi duniamu. ✅️3. Semua Berawal dari Cara Kita Memaknai Sesuatu Dalam hidup, yang membuat seseorang naik kelas bukan gelarnya, bukan pekerjaannya, bukan barang yang ia pakai. Tapi cara ia menyikapi sesuatu yang kecil. Ada orang yang bisa mengelola miliaran dengan tenang. Ada yang tumbler hilang saja ambruk mentalnya. Ini bukan masalah tumbler. Ini masalah program pikiran. Tulisan ini bukan untuk menghakimi si mbak. Justru sebagai pengingat kita semua: hal kecil itu menguji kualitas pikiran kita yang sebenarnya. Dan semakin saya memperdalam ilmu pikiran, semakin saya melihat… Banyak orang menjadi miskin bukan karena tidak bekerja tapi karena cara berpikir salah. Tumbler hilang bisa diganti. Tapi pikiran yang salah, kalau tidak diperbaiki, efeknya bisa hilangkan masa depan. Makanya saya selalu bilang: belajarlah mengolah pikiran sejak sekarang, agar hidupmu tidak terseret oleh hal-hal kecil yang tidak penting. Kalau tumbler saja bisa bikin hidup seseorang berantakan, bayangkan apa yang bisa dilakukan pikiran yang tidak pernah diatur.😊 hati-hati.. #INISIATIF

INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN 😭 Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @primanoval. Semoga segal
INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN 😭 Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @primanoval. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhum kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin 🤲 Selamat jalan, Pahlawan JKN 🥀

Terpengaruh 🤝 Oleh: Hasanudin Abdurakhman Orang zaman dulu punya pepatah,”Berteman dengan tukang minyak wangi, kita akan ket
Terpengaruh 🤝 Oleh: Hasanudin Abdurakhman Orang zaman dulu punya pepatah,”Berteman dengan tukang minyak wangi, kita akan ketularan wanginya.” Saya ledekin,”Itu artinya kamu ndak sanggup beli minyak wangi, jadi cuma ketularan.” Itu adalah ajaran tentang keterpengaruhan. Tepatnya, sekelumit ajaran. Di sisi lain juga ada peribahasa,”Ikan hidup di laut, tak membuat dagingnya asin.” Paham kan maknanya? Manusia dipengaruhi lingkungan. Itu sebuah kepastian. Tapi pengaruh tidak sama dengan mengikuti. Pengaruh itu adalah perangsang, atau stimulan. Reaksi orang terhadap perangsang bisa berbeda-beda. Ada yang mengikut, ada yang menolak. Keduanya tetap bisa disebut terpengaruh. Artinya tidak hanya yang mengikut saja yang disebut terpengaruh. Artinya, manusia sebenarnya punya pilihan. Pilihan apa yang ia buat, tergantung pada prinsip yang dia anut. Ia akan memilih sesuatu yang sesuai dengan prinsip dia, dan menolak sesuatu yang melanggar prinsip. Jadi, kita tidak perlu khawatir soal pengaruh, selama kita punya prinsip. Waktu SMA saya berteman dengan anak-anak nakal. Banyak teman saya yang suka mabuk. Saya berprinsip untuk tidak minum. Saya tidak ikut terpengaruh. Di Jepang semua teman Jepang saya minum. Saya juga tidak ikut. Demikian pula, bergaul dengan orang yang berbeda agama dengan kita tidak akan membuat kita pindah agama, kalau kita punya prinsip. Orang yang gampang terpengaruh adalah orang yang tidak punya prinsip. Itulah yang saya gambarkan dengan orang yang tidak sanggup membeli parfum tadi. Kita berteman dengan penjual parfum. Kalau kita anggap parfum itu baik, kita beli dan kita pakai, dong. Tanggung amat kalau cuma tertular baunya. Faktanya, bau parfum itu tidak menular, kecuali kalau Anda berpelukan dengan tukang parfum. Maksudnya, kalau mau mencari hal positif dari orang lain, jangan tanggung hanya dengan tertular atau terpengaruh. Ambil dan anutlah prinsipnya. Jadilah, bukan tertularlah. Menjadi itu hal yang sangat berbeda dengan terpengaruh. Terpengaruh itu reaktif, menjadi itu proaktif. Proaktif adalah 1 dari 7 kebiasaan orang efektif yang diajarkan oleh Stephen Covey. Intinya, anutlah prinsip-prinsip, hiduplah dengan prinsip itu. Setiap tindakan Anda diambil atas dasar prinsip itu, bukan sebagai reaksi atas apa yang Anda hadapi, atau reaksi atas sikap orang lain. #INISIATIF #TGIF

Oleh: Fahmi Hasan Nugroho Untuk memberikan motifashit kepada mahasiswa, saya sering menjelaskan bahwa kita punya empat modal
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho Untuk memberikan motifashit kepada mahasiswa, saya sering menjelaskan bahwa kita punya empat modal dalam hidup yang menjadi pintu kesuksesan kita ke depan: 1) Ilmu (dan ijazah), ini adalah sumber paling mahal karena dibayar dengan UKT dan waktu perkuliahan (termasuk mesantren) yang tidak sebentar. Jika kita kuasai benar materi yang kita dapatkan selama masa belajar, kemudian kita bisa bertanggung jawab dengan ilmu itu, kita pede dengan itu, maka itu bisa kita jual. Sayangnya tidak selalu apa yang kita pelajari ternyata membawa kita pada kesuksesan, karena tidak sedikit orang yang bekerja di luar dari bidang yang ia pelajari sebelumnya, maka modal kedua adalah: 2) Skill, ini adalah sumber yang sebenarnya bisa dicari dengan mudah. Menulis, mengetik cepat, mengetik Arab, menerjemahkan, public speaking, mempengaruhi orang, mediasi, negosiasi, storytelling, memasak, barista, dan banyak skill lain yang bisa dipelajari baik secara gratis ataupun dengan mengikuti pelatihan dan sertifikasi. Terkait dengan ini saya teringat dawuh alm. KH. Imam Badri yang mengutip satu ayat dari Surat Yusuf, "Jangan kalian cuma masuk dari satu pintu saja, tapi masuklah dari banyak pintu", maksudnya adalah jika kita punya banyak skill maka kita kita punya banyak alternatif skill yang bisa dijual. 3) Reputasi, nama baik, attitude, bagaimana kita menjaga kepercayaan orang, menjaga amanah orang, menjaga uang orang, komitmen dengan setiap keputusan. Ini penting karena sering kali kesempatan datang melalui rekomendasi dari orang lain. 4) Relasi, dan ini harus disimpan paling akhir agar fokus utama membangun 3 poin pertama dulu. Jika tiga modal sudah kita miliki, ketika kita masuk ke suatu tempat melalui relasi, kita bisa mempertanggungjawabkan bahwa kita memang pantas untuk mendapatkan itu. Nah, masalahnya, banyak orang yang menjadikan relasi sebagai modal utama, padahal dia ga punya ilmu dan skill yang menjual, attitude-nya juga buruk, orang seperti ini hanya akan mempermalukan orang yang mengajaknya masuk. Orang masuk, bekerja, menempati posisi penting hanya karena bapaknya berpengaruh, tapi ternyata ilmunya kosong, skillnya kosong, yang terjadi malah malu-maluin. Dan ketika ini sudah menjadi budaya, "orang dalam" membawa masuk orang-orang karena kedekatan dan bukan karena kompetensinya, maka kebobrokan itu menjadi massif terlihat di setiap lini. #INISIATIF

Clash Of Champions (COC) BPJS Kesehatan 2025 udah masuk fase paling panas dan 10 champions kita siap banget unjuk kemampuan t
Clash Of Champions (COC) BPJS Kesehatan 2025 udah masuk fase paling panas dan 10 champions kita siap banget unjuk kemampuan terbaiknya. Sebelum kita masuk ke arena paling bergengsi, kenalan dulu yuk sama mereka biar makin bangga sama talenta-talenta terbaik di BPJS Kesehatan 🇮🇩
Sekarang saatnya kamu ikutan meramaikan: - Dukung jagoanmu - Sekalian tebak siapa yang bakal ngisi Top 3 (Juara 1, 2, 3) di kolom komentar - Prediksi paling akurat berpeluang dapetin gift kece (YES, cuma buat 3 orang paling jago nebak) 🎁
https://www.instagram.com/p/DRhLdmaCeis/?igsh=MWxoMTZuc2c0bnpieg==

Oleh: Sucipto Hadi Saputro Sekarang ini banyak orang yang sibuk bersenang-senang dan menikmati hidup bersama pasangannya, tap
Oleh: Sucipto Hadi Saputro Sekarang ini banyak orang yang sibuk bersenang-senang dan menikmati hidup bersama pasangannya, tapi tanpa sadar orang tua mulai terabaikan. Ada juga yang membenci mertuanya seolah-olah mertua itu musuh. Padahal, tanpa mertua, tidak akan ada pasangan yang kini kita sayangi dan banggakan. Sebagai menantu, kita tidak selalu dituntut untuk sepenuhnya cocok dengan mertua. Karakter setiap orang jelas berbeda, dan sikap mertua tidak selalu ideal di mata kita. Tapi membalas ketidakbaikan mereka dengan kebencian hanya akan menambah masalah. Sementara bersabar, berakhlak baik, dan menjaga hubungan adalah bagian dari menjaga rumah tangga kita sendiri. Hati-hati, setiap perbuatan itu ada balasannya. Suatu hari nanti, kita bisa saja mendapatkan menantu yang sifatnya mirip seperti cara kita bersikap hari ini, yakni malas menghormati, mudah merasa muak, dan hanya peduli pada kenyamanan diri sendiri. Saat itu tiba, barulah kita mengerti pahitnya diabaikan. Mungkin anak tetap memberi uang, tapi hatinya sudah jauh. Dan ketika usia makin lanjut, tenaga berkurang, dan tubuh tidak sekuat dulu, barulah terasa bahwa yang benar-benar kita rindukan adalah kehadiran dan perhatian anak-anak kita. Bukan liburan, bukan kesenangan sesaat, dan bukan pembelaan egonya. Maka jadilah anak dan menantu yang berbakti. Dukung pasangan agar semakin dekat dengan orang tuanya. Jangan justru menambah permusuhan dan memperlebar jarak. Karena rumah tangga yang baik bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai, tapi juga tentang bagaimana mereka menjaga hubungan dengan orang yang dulu mendidik dan membesarkan mereka. #INISIATIF

Oleh: Ibrahim Vatih Banyak orang berpikir bahwa untuk berubah, yang paling utama adalah niat. Padahal, sekuat-kuatnya niat, d
Oleh: Ibrahim Vatih Banyak orang berpikir bahwa untuk berubah, yang paling utama adalah niat. Padahal, sekuat-kuatnya niat, dia bisa habis jika berada di tempat yang salah. Coba lihat satu contoh: Orang yang punya semangat untuk disiplin, tapi setiap hari berada di lingkungan yang santai, ngga ada target, ngga ada evaluasi, lama-lama semangat itu ikut melempem. Sebaliknya, orang yang awalnya biasa-biasa aja, ketika masuk ke lingkungan yang penuh energi, standar tinggi, dan orang-orang yang serius dengan hidupnya, perlahan ikut berubah. Kenapa bisa begitu? Karena ekosistem membentuk karakter dan mindset seseorang. Lingkungan itu punya kekuatan untuk: 1. Menularkan semangat. 2. Menaikkan standar. 3. Membentuk cara pikir. 4. Bahkan mengubah kebiasaan tanpa sadar. Apa yang awalnya terasa berat, jadi ringan. Yang awalnya asing, jadi biasa. Semua karena lingkungan sekitar ikut mengarahkan. Kita ini makhluk yang adaptif. Kita menyesuaikan diri baik dalam hal positif, maupun negatif. Maka penting untuk berhenti sejenak dan bertanya: Ekosistem seperti apa yang sedang saya jalani sekarang? Apakah ia membawa saya lebih dekat ke cita-cita dan nilai-nilai ideal? Atau malah menjauhkan saya pelan-pelan? Jika ingin berubah, jangan hanya ubah cara pikir. Ubah juga tempat berpijak. Karena tempat itu bisa menentukan arah dan kecepatan pertumbuhanmu. Kadang, kamu nggak butuh lebih banyak motivasi. Kamu hanya butuh pindah ekosistem. #INISIATIF