fa
Feedback
✎﹏ᵀᴬᴿᵀᴱᴱᴸ ᴸᴬᴮ

✎﹏ᵀᴬᴿᵀᴱᴱᴸ ᴸᴬᴮ

رفتن به کانال در Telegram

بسم الله الرمن الرحيم مرحبا بطالب العلم “Welcome to seeker of knowledge.” 🔰تدربيات على مخارج الحروف العربية🔰 نفعنا الله وإياكم بما نشرناه🌹 ✎﹏ᵀᴬᴿᵀᴱᴱᴸ ᴸᴬᴮ

نمایش بیشتر
2 015
مشترکین
+324 ساعت
+197 روز
+23730 روز
آرشیو پست ها
sticker.webp0.02 KB

sticker.webp0.02 KB

Ilmu tidak akan berkurang karena dibagikan. Sebaliknya, manfaatnya akan terus meluas dan mengalir kepada lebih banyak orang. Jika tulisan ini memberi manfaat bagi teman-teman semoga teman-teman berkenan membagikannya kembali. Barangkali, melalui satu kali bagikan, Allah menghadirkan hidayah atau pemahaman yang baik kepada seseorang. Semoga setiap manfaat yang tersebar menjadi amal jariyah bagi kita semua.

sticker.webp0.02 KB

Qiraat Bukan Hanya Sekadar Membahas Cara Membaca Al-Qur'an
Banyak orang mengira bahwa ilmu qiraat hanya membahas perbedaan cara membaca Al-Qur'an. Padahal, hakikatnya jauh lebih luas dari itu. Perbedaan qiraat yang sahih sering kali membuka pintu-pintu pemahaman baru dalam tafsir, menguatkan istinbath fikih, bahkan menjadi landasan dalam pembahasan aqidah. Setiap qiraat merupakan wahyu yang diturunkan Allah dan memiliki hikmah yang saling melengkapi, bukan saling bertentangan. Salah satu contohnya terdapat pada QS. Maryam ayat 19. Pada salah satu qiraat yang mutawatir, terdapat bacaan yang menjadi dalil penetapan salah satu Asmaul Husna, yaitu Al-Wahhāb (الوَهَّاب), Dzat Yang Maha Pemberi. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu qiraat tidak hanya memperkaya cara membaca, tetapi juga memperluas pemahaman terhadap makna Al-Qur'an di dalamnya. Semakin seseorang mendalami ilmu qiraat, semakin tampak bahwa setiap variasi bacaan mengandung hikmah, faedah, dan kedalaman makna yang luar biasa. Inilah salah satu bukti kesempurnaan Al-Qur'an; satu kitab dengan bacaan yang beragam namun saling menguatkan, memperkaya makna tanpa menimbulkan pertentangan. Maa syaa Allah..Semakin dipelajari, semakin tampak keluasan ilmu Allah dan kesempurnaan firman-Nya.

sticker.webp0.02 KB

sticker.webp0.02 KB

🪴 Jangan Terlalu Sering Pindah Kebun.
Ada pelajar yang hari ini belajar di tempat A. Besok pindah ke tempat B. Lusa ikut kelas C. Minggu depan mencoba metode D. Sebulan kemudian bergabung dengan komunitas E. Setiap tempat terasa menarik. Setiap guru terlihat memiliki kelebihan. Akhirnya ia terus berpindah-pindah. Sekilas tampak rajin mencari ilmu. Padahal belum tentu. Sering kali yang berpindah hanyalah tempatnya, bukan ilmunya yang bertambah. Bayangkan seseorang ingin menanam pohon mangga. Hari pertama ia menggali tanah. Hari kedua bibit itu dipindahkan. Hari ketiga dipindahkan lagi. Hari keempat dipindahkan ke tempat lain karena katanya tanahnya lebih subur. Lalu dipindahkan lagi. Apa yang terjadi? Bukan karena bibitnya jelek. Bukan karena tanahnya buruk. Tetapi karena akarnya tidak pernah diberi kesempatan untuk mencengkeram tanah. Akhirnya pohon itu tidak pernah tumbuh dengan baik dan tumbuh menjadi besar. Begitu pula ilmu. Ilmu membutuhkan waktu agar berakar. Ia tidak hanya masuk ke telinga, tetapi harus menetap di akal, dipahami, diamalkan, lalu menjadi kebiasaan. Dalam belajar Al-Qur'an pun demikian. Ada yang baru mengenal makhraj sedikit, sudah pindah mempelajari metode lain. Belum selesai memperbaiki satu huruf, sudah sibuk membandingkan guru yang lain. Belum menguasai dasar, sudah mengejar pembahasan yang lebih tinggi mengikuti apa yang tren, apa yang hits apa yang lagi booming. Akhirnya banyak istilah yang dihafal, tetapi sedikit yang benar-benar dikuasai. Seperti seseorang yang memiliki banyak peta, tetapi belum pernah sampai ke tujuan. Padahal tubuh kita sendiri mengajarkan sebuah pelajaran. Saat seorang anak belajar berjalan, otaknya membangun jalur-jalur baru melalui latihan yang diulang berkali-kali. Semakin sering gerakan yang sama dilakukan dengan benar, semakin kuat menyimpan jalur tersebut. Karena itulah berjalan akhirnya terasa mudah tanpa perlu berpikir lagi. Demikian pula saat melatih makhraj huruf. Lidah, bibir, rahang, dan tenggorokan semuanya memiliki otot-otot yang belajar melalui pengulangan. Jika setiap beberapa hari tekniknya berubah, arah latihannya berubah, dan kebiasaannya berubah, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Bukan berarti tidak boleh belajar kepada banyak guru. Justru para ulama terdahulu melakukan perjalanan jauh demi mencari ilmu. Namun mereka berpindah karena telah mengambil manfaat dari satu majelis hingga habis dan menguasainya dengan baik, bukan karena bosan apa lagi cuma buat ikut-ikutan dan gak enakan saat nolak ajakan atau undangan orang. Ketahuilah mereka berpindah untuk menyempurnakan bangunan, bukan membongkar pondasi yang baru dibuat. Belajar kepada banyak guru adalah kekayaan. Tetapi berpindah sebelum memahami dasar sering kali menjadi penghalang. Maka pilihlah guru yang manhajnya lurus, mutqin dalam ilmu teori dan praktik. Selesaikan pondasi, perbaiki niat, jagalah adab dengan gurumu, berlapang dalam menerima koreksian dan nurut saat dinasehati juga diarahkan jangan mendebat dan seolah engkau lebih mahir dari gurumu, ulangi latihan, dan bersabarlah. Karena pohon yang akarnya kuat tidak tumbuh dalam hanya semalam. Dan bacaan Al-Qur'an yang mahir bukan lahir dari banyaknya tempat belajar, melainkan dari latihan yang tekun dan istiqamah dalam belajar biidznillah.

sticker.webp0.02 KB

Repost from N/a
Bismillah..Yuk bantu share link channel ini Rasulullah ﷺ bersabda: من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه “Barangsiapa yang m
Bismillah..Yuk bantu share link channel ini Rasulullah ﷺ bersabda: من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893). نفعنا الله وإياكم بما نشرناه🌸 Link channel ; 👇 https://t.me/+scu2tMcWwDYwZmU9 بارڪ اللّـہ فيڪن  و جزاڪن اللّـہ خيـرا رزقنـا اللـہ علمـا نافعـا، ونفـع اللـہ بنـا الأمـة، ووفقنـا اللـہ لمـا يحـب ويرضـﮯ

sticker.webp0.02 KB

Kita tidak hanya mengetahui bahwa huruf ق berasal dari pangkal lidah, tetapi juga memahami mengapa bunyinya berbeda dengan ك. Kita tidak sekadar menghafal bahwa ض keluar dari sisi lidah, tetapi mulai memahami bagaimana sisi lidah berinteraksi dengan geraham hingga menghasilkan bunyi yang khas. Ketika proses terbentuknya bunyi dipahami, latihan menjadi lebih terarah. Kita tidak lagi sekadar mengejar suara yang terdengar mirip, tetapi memperbaiki gerakan organ yang menghasilkan suara tersebut. Meski demikian, satu hal tetap harus dijaga. Visualisasi anatomi tidak pernah menggantikan talaqqi. Al-Qur'an dipelajari dengan mendengar bacaan guru, membacakannya kembali di hadapan guru, lalu menerima koreksi. Inilah jalan yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabat, kemudian diteruskan oleh para ulama hingga hari ini. Visualisasi anatomi hanyalah sarana untuk membantu pelajar memahami penjelasan tersebut dengan lebih mudah, terutama bagi mereka yang tumbuh dalam lingkungan non-Arab dan belum memiliki kebiasaan menghasilkan bunyi-bunyi dengan huruf hijaiyah. Sehingga  kita tidak hanya mengetahui di mana makhraj sebuah huruf, tetapi juga memahami bagaimana Allah menciptakan organ-organ yang bekerja begitu sempurna hingga mampu melahirkan setiap huruf Al-Qur'an. Karena ketika ilmu dipahami dengan baik, latihan menjadi lebih mudah. Dan ketika latihan dilakukan di bawah bimbingan guru, insyaAllah bacaan kita akan semakin mendekati bacaan yang seharusnya. Semoga pembahasan-pembahasan di channel kami dapat menjadi wasilah yang memudahkan kita dalam belajar dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an .