fa
Feedback
🔍DATA & FAKTA

🔍DATA & FAKTA

رفتن به کانال در Telegram

Pelajarilah KeJUJURan agar bisa selamat dan berusahalah untuk selalu berkata JUJUR

نمایش بیشتر
2 739
مشترکین
+224 ساعت
+37 روز
+5130 روز
آرشیو پست ها
⚠️LUQMAN BA'ABDUH PATOKAN KEBENARAN DAKWAH SALAFIYAH?!!!
⚠️LUQMAN BA'ABDUH PATOKAN KEBENARAN DAKWAH SALAFIYAH?!!!

💥wait and see.... One of Status 02 Bongkar Muat. Benarlah Ahlussunnah ketika dahulu kala sudah memperingatkan. Abul Harits a
💥wait and see.... One of Status 02 Bongkar Muat. Benarlah Ahlussunnah ketika dahulu kala sudah memperingatkan. Abul Harits adalah kaki tangan Luqman Ba'abduh untuk memata-matai aib-aib Syaikh Al-Bukhari.

💥wait and see.... Bongkar Muat. Benarlah Ahlussunnah ketika dahulu kala sudah memperingatkan. Abul Harits adalah kaki tangan
💥wait and see.... Bongkar Muat. Benarlah Ahlussunnah ketika dahulu kala sudah memperingatkan. Abul Harits adalah kaki tangan Luqman Ba'abduh untuk memata-matai aib-aib Syaikh Al-Bukhari.

💥Wait and see.... One of Status 02 Abul Harits, who has been disgraced because of what he has done all this time. Do you sti
💥Wait and see.... One of Status 02 Abul Harits, who has been disgraced because of what he has done all this time. Do you still trust Luqman?

⚠️💥wait and see.... Kalian-kalian wahai pengikut Luqman akan menunggu waktu saja ketika Luqman sudah tidak membutuhkan kalian lagi dan kalian sudah dianggap tidak tunduk lagi dengan kemauan Luqman Ba'abduh sang pengobar fitnah di tubuh salafiyun di Indonesia saat ini. Telah banyak berlalu para pengikutnya yang kemudian hari dijatuhkan dan direndahkan. Dan cukuplah yang terbaru dari seorang pendusta bernama Abul Harits yang dulunya begitu dielu-elukan oleh Luqman Ba'abduh sebagai utusan para ulama (ternyata ulama penyokong dewan transisi di Yaman), sekarang ditinggalkan dan di usir dari pondok pusaran fitnah MMA. Waspadalah dan persiapkan lah diri-diri kalian.💥

⚠️💥wait and see.... Kalian-kalian wahai pengikut Luqman akan menunggu waktu saja ketika Luqman sudah tidak membutuhkan kalian lagi dan kalian sudah dianggap tidak tunduk lagi dengan kemauan Luqman Ba'abduh sang pengobar fitnah di tubuh salafiyun di Indonesia saat ini. Telah banyak berlalu para pengikutnya yang kemudian hari dijatuhkan dan direndahkan. Cukuplah yang terbaru dari seorang pendusta bernama Abul Harits yang dulunya begitu dielu-elukan oleh Luqman Ba'abduh sebagai utusan para ulama (ternyata ulama penyokong dewan transisi di Yaman), sekarang ditinggalkan dan di usir dari pondok pusaran fitnah MMA. Waspadalah dan persiapkan lah diri-diri kalian.💥

NGERI! DO'A SHALAH KENTUSY DI DAURAH MUZANI YANG DIAMINI HADIRIN LUQMANI TELAH TERKABUL KINI اللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ بِدَعْوَ
NGERI! DO'A SHALAH KENTUSY DI DAURAH MUZANI YANG DIAMINI HADIRIN LUQMANI TELAH TERKABUL KINI اللَّهُمَّ مَنْ أَرَادَ بِدَعْوَتِنَا سُوءًا اللَّهُمَّ فَشَتِّتْ شَمْلَهُ وَفَرِّقْ جَمْعَهُ وَاجْعَلِ الدَّائِرَةَ عَلَيْهِ. Ya Allah, jika ada orang yang menginginkan kejelekan untuk dakwah kami, maka bubarkan persekongkolannya, ceraikan kesatuannya, serta timpakan bencana kepadanya. https://t.me/daurahimamalmuzani/284

KARUT MARUT LUQMAN BA'ABDUH DAN KELOMPOKNYA DI BALIK JARGON DI BAWAH BIMBINGAN ULAMA KIBAR PEMBERONTAK DEWAN TRANSISI (ARAFAT AL-MUHAMMADI) •••••• SURAT PERNYATAAN HASIL JALSAH BERSAMA USTADZ LUQMAAN BAABDUH Dengan ini kami memberikan pernyataan bahwa hasil jalsah dengan ustadz Luqman. BAABDUH di Bandar Lampung pada tanggal 14 syaban 1447H atau 2 Februari 2026 M adalah sebagai berikut: 1. Ustadz Luqman belum menyebarkan nasehat dari Syeikh arofat yang disampaikan pada bulan jumadil awwal 1447 H atau bulan November 2025M yang berkaitan dengan persatuan dan Jamul kalimah. 2. Ustadz Luqman masih menyebarkan informasi mengenai kekurangan Ustadz Abul Haris, antara lain: (a) tentang masalah kontrakan dan urusan dengan pak samsul. (b) tentang status istri nya yang belum disampaikan kepada ulama namun telah disebarkan kepada ikhwah pondok Al hanif 3. Ustadz Luqman menyampaikan nasehat Syeikh arofat yang berkaitan dengan Ustadz Abul Haris, diantaranya (a) agar segera melunasi hutang-hutangnya. (b) Agar segera meninggalkan jember. (C) Agar menjaga lisan nya. 4, Ustadz Luqman melarang ikhwah di Lampung untuk mengambil ilmu dari Ustadz Abul Haris baik melalui dauroh, muhadoroh maupun melalui telpon. Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya dan tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Lampung tengah, 4 Syawal 1447 H/ 24 maret 2026. Tertanda, 1. Abu ibrohim 2. Abu sofan Jalsah dihadiri oleh 1. Abu ibrohim 2. Abu sofan 3. Abu Abdurrahman 4. Abu Hamzah 5. Abu Nafi 6. Ustadz Faturrohman 7. Abu Salman 8. Ustadz Alfi 9. Ami ilyas 10. Ustadz Luqman

Ini adalah pendapat para imam di masa ini seperti: Abdul Aziz bin Baz, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani —rahimahumullah— serta lainnya seperti Mufti besar kita Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah. Demikian secara ringkas, karena keterbatasan waktu, mengingat telah datang pagi Idul Fitri yang diberkahi. Kita memohon kepada Allah agar mengembalikannya kepada kita dan kalian dengan kebaikan, keberkahan, dan agar menerima puasa, shalat, serta amal shalih kita, dan menjadikan hari-hari kalian penuh ketaatan dan keridhaan-Nya. Hendaknya kaum muslimin bersemangat mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat Id, dan tidak memperhatikan kegaduhan orang-orang yang mengacaukan serta ocehan mereka terhadap para imam besar. Sesungguhnya taufik dari Allah, dan yang menjadi ukuran adalah kebenaran dan dalil, bukan hawa nafsu dan sikap lancang terhadap ulama. Barangsiapa berpegang pada kebenaran, dia akan selamat dan diberkahi, dan yang tidak maka juga tidak. والله من وراء القصد وهو الهادي إلى سواء السبيل. Ditulis oleh: Abu al-‘Abbas Bilal bin Abdul Ghani as-Salimi, semoga Allah memaafkannya Iskandariyah, Mutiara Laut Mediterania Malam Idul Fitri, 1 Syawal 1447 H https://www.facebook.com/share/p/1CUD15eCF3/ (JUDUL DARI PENERJEMAH) https://t.me/jujurlahselamanya

Sandaran utamanya dalam melemahkan adalah dugaan adanya cacat tersembunyi yang dia kira jelas, yaitu bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Abu Yazid al-Khaulani, dan al-Hafizh menyebutnya majhul (tidak dikenal). Ini adalah kekeliruan yang timbul karena tergesa-gesa dan sengaja menyelisihi para imam, yang mengandung sifat suka tampil ditambah kurangnya ketelitian dalam ilmu biografi para perawi hadits, karena Abu Yazid al-Khaulani ada dua: Yang pertama: majhul. Yang kedua: shaduq (jujur), dan dialah perawi hadist ini. Tidak membedakan keduanya menyebabkan kesalahan ini, karena hukum salah satunya diterapkan pada yang lain tanpa bukti. Dengan demikian, klaim bahwa dia majhul tidak dapat diterima, karena lahir dari kekeliruan dan pencampuradukan antara dua perawi tersebut. Setelah diteliti, jelas bahwa sanad ini tidak mengandung cacat tersebut. Ini menunjukkan bahwa pembahasan tentang ‘illat (cacat hadis) membutuhkan ketelitian, pengkajian mendalam, dan pengumpulan pendapat para imam, bukan sekadar mengambil kutipan yang terpotong atau tidak akurat. Penjelasan: 1. Abu Yazid al-Khaulani al-Kabir: Namanya Yazid bin Rabah majhul (menurut adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar). 2. Abu Yazid al-Khaulani ash-Shaghir (perawi hadis ini): Namanya Yazid bin Muslim Diriwayatkan darinya oleh Marwan bin Muhammad, dan Ibnu Wahb juga meriwayatkan darinya. Marwan berkata: “Seorang syaikh yang jujur.” Ibnu Hajar berkata: “Shaduq.” Maka jelaslah bahwa perawi hadist ini bukan yang majhul, melainkan yang shaduq, sehingga alasan pelemahan gugur dari asalnya. Tidakkah kalian melihat —wahai para pembaca yang mulia— betapa dalam metode ini terdapat sikap tergesa-gesa dalam menyelisihi para imam, tampil sebelum memiliki alat penelitian yang memadai, serta menyendiri dalam membantah para ulama besar dalam masalah-masalah yang rumit, seakan tujuannya adalah mencari-cari kesalahan mereka? Tidak diragukan bahwa metode seperti ini akan menyeret kepada sikap lancang terhadap ilmu dan para ulama, dan tidak sesuai dengan jalan para peneliti yang memuliakan para imam, mengetahui kedudukan mereka, berbaik sangka kepada mereka, dan tidak menyelisihi mereka kecuali dengan bukti yang jelas, disertai adab dan keadilan. Ketiga: Kesimpulan hadits: Sanad hadits ini minimal berderajat hasan, bahkan bisa shahih dengan gabungan jalan-jalannya. Tidak ada perawi yang tercela, dan cacat yang diklaim (majhul) tidak benar. Hadits ini juga memiliki penguat dari hadits Ibnu Umar dan lainnya. Saya telah menemukan riwayat penguat yang meskipun tidak sempurna, namun sangat bermanfaat, yang menurut saya bisa mengangkat derajat hadits ini, khususnya pada bagian yang menjadi dasar tulisan Arafat yang licik seperti rubah dan suka berbuat makar, yaitu: تُخْرِجَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ قَبْلَ الصَّلَاةِ. "Mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat." Ini menguatkan derajatnya menjadi shahih dengan gabungan jalan-jalannya: Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (no. 5584, dan 3/169 no. 10424), dia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahim bin Sulaiman, dari Hajjaj, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: «إِنَّ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تُخْرِجَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ قَبْلَ الصَّلَاةِ، وَلَا تَخْرُجُ حَتَّى تَطْعَمَ» “Sesungguhnya termasuk Sunnah adalah mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat, dan jangan keluar (untuk shalat Id) sampai engkau makan terlebih dahulu.” Saya katakan: sanadnya mengandung kelemahan karena adanya Hajjaj bin Artha’ah, namun sebagian riwayatnya memiliki penguat; dia diikuti oleh Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dikeluarkan oleh ‘Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya (no. 5734), Ahmad (no. 2866), ath-Thabarani (no. 11296), dan ad-Daraquthni (no. 1709 dan 2136). Keempat: Dampak fikih: Berdasarkan kuatnya hadits: Wajib mengeluarkan zakat fitrah sebelum shalat Id. Barangsiapa mengakhirkan tanpa udzur, maka itu hanya sedekah biasa dan tidak sah sebagai zakat fitrah menurut mayoritas ulama.

BANTAHAN TERHADAP ARAFAT TENTANG WAKTU MENGELUARKAN ZAKAT (FITRAH) الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد: Sesungguhnya orang yang memperhatikan judul-judul sebagian tulisan Arafat al-Muhammadi akan mendapati di dalamnya ungkapan-ungkapan yang tidak lepas dari sikap gegabah secara ilmiah, kesombongan, dan sikap merasa lebih tinggi terhadap para imam besar. Diantaranya adalah judul risalahnya: “Memberi hadiah kepada penanya bahwa kewajiban keluarnya wanita untuk shalat Id tidak memiliki seorangpun yang berpendapat demikian.” Ini adalah klaim yang tidak tepat, karena telah tetap dari sekelompok ulama adanya pendapat yang mewajibkan hal tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh lebih dari satu peneliti, diantaranya Dr. Syarif at-Turbani —semoga Allah menjaganya— dengan menukil pendapat para imam yang diakui dalam masalah ini. Ungkapan yang bersifat mutlak dalam menafikan adanya pendapat sama sekali seperti ini tidak sesuai dengan metode para peneliti yang mendalam, karena mereka berhati-hati dalam ungkapan semacam ini. Mereka biasanya mengatakan: “Saya tidak mengetahui ada yang berpendapat demikian,” atau semisalnya, demi menjaga ilmu dari klaim tanpa penelitian menyeluruh. Demikian pula risalahnya yang berjudul: “Bolehnya mengeluarkan zakat fitrah setelah hari raya.” Lahiriah judul ini bertentangan dengan hadits-hadits sahih yang menunjukkan wajibnya mengeluarkannya sebelum shalat Id, seperti hadis Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum, yang menjadi pendapat mayoritas ulama, diantaranya para imam: Abdul Aziz bin Baz, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani. Maka yang wajib dalam masalah seperti ini adalah: menjelaskan letak perselisihan secara tepat, menukil pendapat dengan amanah, dan menolak yang menyelisihi dalil dengan hujjah dan bukti, disertai adab dalam perbedaan pendapat, serta menjauhi ungkapan-ungkapan yang menimbulkan kesalahpahaman atau bersifat mutlak yang bisa dipahami tidak sesuai maksudnya. Adapun hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang zakat fitrah dengan lafazh: «فرض رسول الله ﷺ زكاة الفطر طُهرةً للصائم من اللغو والرفث، وطُعمةً للمساكين، من أدّاها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة، ومن أدّاها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات» “Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat, maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat, maka itu hanyalah sedekah biasa.” Hadits ini berderajat hasan menurut sejumlah imam. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (1609), Ibnu Majah (1827), ad-Daraquthni (219), al-Hakim (1/409), dan al-Baihaqi (4/163) melalui jalur: Marwan bin Muhammad, dari Abu Yazid al-Khaulani —seorang syaikh yang jujur, dan Ibnu Wahb meriwayatkan darinya— dari Sayyar bin Abdurrahman ash-Shadafi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Pertama: Penilaian para imam terhadap hadits: 1. Ad-Daraquthni berkata: “Tidak ada diantara mereka yang tercela.” 2. Al-Hakim berkata: “Sahih sesuai syarat al-Bukhari,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi (meski ada catatan pada klaim syarat tersebut). 3. An-Nawawi menilainya hasan dalam al-Majmu‘. 4. Ibnu Qudamah dalam al-Mughni. 5. Al-Albani berkata dalam al-Irwa’ (3/332 no. 843): “Hasan.” Kemudian beliau (Al-Albani) menjelaskan sebab kesalahan orang yang melemahkannya, yaitu bahwa para perawi sanadnya adalah orang-orang yang jujur, dan Marwan adalah tsiqah, sehingga sanadnya hasan. Kedua: Menolak syubhat tentang kemajhulan Abu Yazid al-Khaulani: Arafat yang mengaku memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak dia miliki melemahkan hadits Ibnu Abbas, padahal telah dihasankan oleh imam besar di zaman kita, Al-Albani rahimahullah dalam al-Irwa’ (3/332 no. 843)?! Ini menunjukkan kebodohannya bahwa dia tidak memahami ilmu hadits kecuali cacat-cacat yang tampak jelas, adapun cacat-cacat halus yang hanya diketahui para imam besar dan penuntut ilmu yang kokoh, maka itu di luar jangkauannya.

ووقفت على متابعة قاصرة مفيدة جداً ترفع عندي الحديث وخاصة الفقرة الذي أنشأ عرفات الثعلب المكار رسالته الهاوية عليها وهي: (تُخْرِجَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ قَبْلَ الصَّلَاةِ) إلى درجة الصحة بمجموع الطرق: أخرجها ابن أبي شيبة في «مُصنَّفه» (٥٥٨٤، و ٣/ ١٦٩ (١٠٤٢٤) قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ حَجَّاجٍ، عَنْ عَطَاءٍ بن أبي رباح ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «إِنَّ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تُخْرِجَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ قَبْلَ الصَّلَاةِ، وَلَا تَخْرُجُ حَتَّى تَطْعَمَ» قلت: وإسناده فيه ضعف؛ لأجل حجاج بن أرطأة، لكنه توبع على بعضه، تابعه ابن جُريج، أخرجه عبد الرزاق في «مُصنَّفه» (٥٧٣٤) وأحمد (٢٨٦٦) والطبراني (١١٢٩٦)، والدارقُطني (١٧٠٩ و ٢١٣٦) رابعًا: الأثر الفقهي: بناءً على ثبوت الحديث: يتعين إخراج زكاة الفطر قبل صلاة العيد ومن أخرها بلا عذر فهي صدقة من الصدقات لا تُجزئ عن زكاة الفطر عند جمهور أهل العلم، وهو مذهب الأئمة المعاصرين كالإمام عبد العزيز بن باز والإمام محمد بن صالح العثيمين والإمام محمد ناصر الدين الألباني رحمهم الله جميعاً وغيرهم كسماحة المفتي شيخنا الإمام صالح الفوزان حفظه الله. هذا على عُجَالةٍ، نظرًا لضيق الوقت، إذ أطلّ صباح عيد الفطر المبارك، نسأل الله أن يعيده علينا وعليكم بالخير واليمن والبركات، وأن يتقبّل صيامكم وقيامكم وصالح أعمالكم، ويجعل أيامكم كلها طاعةً ورضوانًا. فليحرص الناس على إخراج زكاة الفطر قبل صلاة العيد، ولا يلتفتوا إلى صخب المشوشين وثرثراتهم التي تشوّش على الأئمة الأعلام، فإن التوفيق من الله، والعبرة بالحق والدليل لا بالهوى والجرأة على العلماء، ومن تمسَّك بالحق نجا وبارك الله له وفيه ومن لا فلا والله من وراء القصد وهو الهادي إلى سواء السبيل. وكتب: أبو العباس بلال بن عبدالغني السالمي عفا الله عنه الإسكندرية عروس البحر المتوسط ليلة عيد الفطر غرة شوال 1447هـ https://www.facebook.com/share/p/1CUD15eCF3/ https://t.me/jujurlahselamanya

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد: فإن الناظر في عناوين بعض رسائل عَرَفات المحمدي يلحظ فيها إطلاقاتٍ لا تخلو من مجازفة علمية وكبر وتعالٍ على الأئمة الأعلام، ومن ذلك عنوان رسالته: «إتحاف السائل بأن وجوب خروج النساء للعيد ليس له قائل» وهذه دعوى غير محررة؛ إذ قد ثبت عن طائفة من أهل العلم القول بالوجوب، كما بيّنه غير واحد من الباحثين، ومنهم الدكتور شريف الترباني حفظه الله، بنقله أقوال أئمة معتبرين في ذلك. ومثل هذا الإطلاق بنفي القول مطلقًا لا يوافق صنيع أهل التحقيق، فإنهم يتحرّزون في مثل هذه العبارات، فيقولون: «لا أعلم به قائلًا»، أو نحو ذلك، صيانةً للعلم من الدعوى بغير استقراء تام. وكذلك رسالته المعنونة بـ: «جواز إخراج زكاة الفطر بعد العيد» فإن ظاهرها مخالف لما دلّت عليه الأحاديث الصحيحة من وجوب إخراجها قبل صلاة العيد، كحديث ابن عباس وابن عمر رضي الله عنهم، وهو الذي عليه جماهير أهل العلم، ومنهم الأئمة عبد العزيز بن باز ومحمد بن صالح العثيمين ومحمد ناصر الدين الألباني. فالواجب في مثل هذه المسائل: تحرير محل النزاع، ونقل الأقوال بأمانة، وردّ ما خالف الدليل بالحجة والبرهان، مع لزوم أدب الخلاف، واجتناب الألفاظ الموهمة أو المطلقة التي قد تُفهم على غير وجهها. فإن حديث ابن عباس رضي الله عنهما في زكاة الفطر بلفظ: «فرض رسول الله ﷺ زكاة الفطر طُهرةً للصائم من اللغو والرفث، وطُعمةً للمساكين، من أدّاها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة، ومن أدّاها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات» حديثٌ حسنٌ كما عليه جمع من الأئمة. وقد أخرجه أبو داود (١٦٠٩)، وابن ماجه (١٨٢٧)، والدارقطني (٢١٩)، والحاكم (١/٤٠٩)، والبيهقي (٤/١٦٣) من طريق: مروان بن محمد، قال: حدثنا أبو يزيد الخولاني —وكان شيخ صدق، وكان ابن وهب يروي عنه— قال: حدثنا سيار بن عبد الرحمن الصدفي، عن عكرمة، عن ابن عباس رضي الله عنهما. أولًا: حكم الأئمة على الحديث: ١- قال الدارقطني: «ليس فيهم مجروح» ٢- وقال الحاكم: «صحيح على شرط البخاري»، ووافقه الذهبي (وفيه نظر من جهة الشرط) ٣- وحسّنه النووي في المجموع. ٤- وابن قدامة في المغني. ٥- وقال الإمام محمد ناصر الدين الألباني في الإرواء (٣/٣٣٢ رقم: ٨٤٣): «حسن» ثم بيّن رحمه الله علّة من توهّم تضعيفه، فقال ما خلاصته: أن رجال الإسناد صدوقون، سوى مروان فهو ثقة، فالسند حسن. ثانيًا: دفع شبهة تجهيل أبي يزيد الخولاني: وعرفات المتشبع بما لم يعط يضعف حديث ابن عباس وقد حسنه إمام الأئمة في زماننا الألباني رحمه الله في (الإرواء) [٣/٣٣٢ رقم: ٨٤٣] ؟!! فدونك بيان جهله وأنه لا يعلم من علم الحديث إلا العلل الجلية أما العلل الخفية التي لا يعلمها إلا الأئمة الجهابذة وطلاب العلم الراسخين فدونه خرط القتاد. وعمدته في التضعيف علة خفية ظنها ظاهرة جلية لجهله ولقلة تمرسه في هذا الشأن وهي: أن الحديث من رواية أبي يزيد الخَوْلاني قال الحافظ عنه مجهول. وهذا وهمٌ ناشئ عن تسرع وتقصُّد مخالفة الأئمة بما فيها من حب الظهور ناهيك عن عدم التحرير والتثبت في باب التراجم، إذ إن أبا يزيد الخولاني اثنان: • أحدهما: مجهول. • والآخر: صدوق، وهو راوي هذا الحديث بعينه فعدم التمييز بينهما أوقع في هذا الغلط، إذ حَمل حكم أحدهما على الآخر بغير بيّنة. وعليه: فدعوى الجهالة هنا غير مسلَّمة، بل هي ناشئة عن التسرع والخلط بين الراويين، ومع التحرير يتبيّن أن الإسناد لا تقوم به هذه العلة. وهذا يؤكد أن باب العلل يحتاج إلى دقةٍ وتحرير، وجمعٍ لأقوال الأئمة، لا الاكتفاء بنقولٍ مجتزأة أو غير محررة. ١) أبو يزيد الخولاني الكبير: اسمه: يزيد بن رباح، وهو: مجهول (كما قال الذهبي وابن حجر) ٢) أبو يزيد الخولاني الصغير (وهو راوي هذا الحديث): اسمه: يزيد بن مسلم روى عنه: مروان بن محمد وقال: وكان ابن وهب يروي عنه. قال فيه مروان: «وكان شيخَ صدقٍ» وقال ابن حجر فيه: «صدوق» فتبين أن: راوي الحديث ليس المجهول، بل هو الصدوق، فتنتفي علة التضعيف من أصلها. أرأيتم –أيها القراء الكرام– ما في هذا المسلك من تسرّعٍ في مخالفة الأئمة، وتصدّرٍ قبل استكمال أدوات التحقيق، مع إفراد الردود على الأكابر في مسائل دقيقة، كأن المقصود تتبّع ما يُظنّ أوهامًا لهم؟ ولا ريب أن هذا المنهج يُفضي إلى الجرأة على العلم وأهله، ولا يوافق طريقة أهل التحقيق، الذين يُعظّمون الأئمة، ويعرفون أقدارهم، ويُحسنون الظنّ بهم، ولا يخالفونهم إلا ببينةٍ ظاهرة، مع لزوم الأدب والإنصاف. ثالثًا: النتيجة الحديثية: الإسناد أقل أحواله أنه حسن إذ لم يكن صحيحا بمجموع طرقه كما سيأتي، فلا يوجد فيه مجروح، العلة المدعاة (الجهالة) غير صحيحة. الحديث له شواهد من حديث ابن عمر وغيره.

Firasat macam apa dari seseorang yang memiliki pemikiran Khawarij?! Hal ini membuka pintu pertanyaan mengenai sejauh mana pengetahuan mereka sebelumnya tentang apa yang akan terjadi, atau bagaimana sebenarnya hubungan mereka dengan sebagian pimpinan separatis.PERTEMUAN ARAFAT DENGAN AIDARUS AZ-ZUBAIDI Diantara perkara lain yang semakin menimbulkan pertanyaan mengenai peran Arafat al-Muhammadi adalah bahwa setelah peristiwa tersebut dan setelah pertemuan dengan Syaikh Rabi‘, dia langsung menuju Riyadh untuk bertemu dengan Aidarus az-Zubaidi. Di sini para pengamat mengajukan pertanyaan yang wajar: Apa sebab pertemuan itu pada waktu tersebut secara khusus? Apakah itu sekadar pertemuan biasa, ataukah bagian dari pergerakan politik yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi saat itu? • FATWA SYAIKH KAMI, IMAM RABI‘ AL-MADKHALI –RAHIMAHULLAH– AGAR BERPEGANG PADA KEBIJAKAN KOALISI ARAB DAN KERAJAAN ARAB SAUDI Setelah berita tentang pertemuan antara para masyayikh pendukung Dewan Transisi dengan Syaikh Rabi‘ tersebar, Syaikh Ali al-Hudzaifi –hafizhahullah– mengirimkan pesan kepada Syaikh kami, sang imam, menjelaskan hakikat situasi di Yaman Selatan. Maka Syaikh Rabi‘ pun memberikan fatwa agar berpegang pada kebijakan koalisi Arab dan Kerajaan Arab Saudi, dengan mengatakan: "Hendaklah kalian bersama dengan koalisi… hendaklah kalian bersama dengan Saudi.” Dan inilah sikap beliau yang tetap hingga wafatnya. • MENYEMBUNYIKAN FATWA TERAKHIR SYAIKH RABI‘ OLEH PARA MASYAYIKH DEWAN TRANSISI Setelah fatwa terakhir dari Syaikh Rabi‘ –rahimahullah– ini keluar, para masyayikh Dewan Transisi berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyebarkannya dan tidak memviralkannya sebagaimana mereka menyebarkan ucapan pertama beliau. Padahal ucapan pertama itu membuat mereka mendapat kedudukan di sisi para pemimpin separatis di Yaman Selatan, serta memberi mereka kekuasaan dalam urusan agama dan dakwah di sana, sehingga mereka menjadikannya kedok agama bagi agenda-agenda partai tersebut. Maka apa yang mendorong Arafat al-Muhammadi dan para dai Dewan Transisi untuk menyembunyikan sikap akhir Syaikh kami Imam Rabi‘ terkait Yaman? Bukankah itu dorongan kepartaian? Bukankah kedustaan mereka atas Syaikh kami Imam Rabi‘ dalam masalah Yaman merupakan bukti pengkhianatan mereka semua terhadap amanah? Bukankah semua ini menunjukkan bahwa Arafat adalah ujung tombak dan kepala pengkhianatan pada apa yang terjadi, dan bahwa dialah penggerak sebenarnya di balik penyimpangan yang dilakukan oleh para masyayikh Dewan Transisi? Bukankah semua ini menempatkan Arafat al-Muhammadi dalam sasaran berbagai tuduhan? Bukankah semua ini menjadikannya sebagai sekutu dalam pengkhianatan besar terhadap negerinya, terhadap para penguasanya, dan terhadap Syaikh Rabi‘ rahimahullah? Setelah semua ini, apakah Arafat al-Muhammadi masih bisa dipercaya dalam urusan dakwah? Sesungguhnya keseluruhan peristiwa ini dan selainnya — jika diletakkan dalam konteksnya yang utuh — akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan serius tentang peran yang dimainkan oleh Arafat al-Muhammadi pada fase sensitif dalam sejarah Yaman tersebut. Jadi hubungan dengan para dai di Aden, upayanya mempengaruhi penyajian informasi kepada Syaikh Rabi‘ al-Madkhali, cepatnya berita berpindah kepada para pimpinan kelompok separatis —diantaranya Hani bin Buraik— kemudian pertemuan langsung dengan para pemimpin mereka… semuanya adalah mata rantai dalam satu rangkaian yang memerlukan penjelasan yang jelas dan terbuka dari para pelakunya. Pada masa-masa fitnah dan kegoncangan, transparansi dan kejujuran kepada manusia termasuk kewajiban yang paling penting. Karena sejarah tidak akan berbelas kasihan, dan fakta-fakta akan tetap menjadi saksi atas para pelakunya, betapapun sebagian orang berusaha menyembunyikan atau membenarkannya. Dan kami masih memiliki beberapa kritikan lagi tentang Arafat al-Muhammadi pada bagian berikutnya, insyaAllah. Fawwaz bin ‘Ali al-Madkhali Rabu, 22 Ramadhan 1447 H 11 Maret 2026 https://www.facebook.com/share/p/1DwuSoANfS/ https://t.me/jujurlahselamanya

UCAPAN YANG TERANG DALAM MENJELASKAN KEADAAN ARAFAT AL-MUHAMMADI BAGIAN KEDUA Diantara perkara yang menimbulkan keheranan adalah bahwa Arafat al-Muhammadi memandang tidak sahnya kepemimpinan mantan presiden Yaman Abdu Rabbih Manshur Hadi, walaupun dia mengetahui sikap Ahlus Sunnah terhadap peristiwa yang terjadi di Yaman, yaitu sikap yang berlandaskan berpegang pada jamaah dan tidak memecah barisan pada masa-masa fitnah. Masalah ini pernah didiskusikan dengannya oleh Syaikh Ali al-Hudzaifi, di mana terjadi perbincangan antara keduanya mengenai sikap tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa masalah itu bukan sekadar ijtihad yang lewat, tetapi merupakan pandangan yang dianut oleh orang tersebut pada masa itu. • BERDUSTA ATAS FATWA SYAIKH RABI‘ AL-MADKHALI Diantara peristiwa penting yang layak diperhatikan adalah apa yang terjadi pada awal perselisihan antara pemerintah Yaman dan kelompok separatis di Aden beberapa tahun lalu, ketika sebagian dai dari Aden berusaha mengunjungi Syaikh Rabi‘ al-Madkhali di Kerajaan Arab Saudi. Kunjungan tersebut —sebagaimana dinukil— diatur dan tiketnya disediakan oleh seseorang yang memiliki hubungan dengan kelompok separatis yang berafiliasi dengan partai, dengan kedok menunaikan umrah. Tujuan yang tampak adalah mengunjungi Syaikh Rabi‘, namun konteks umum menunjukkan adanya upaya mendapatkan fatwa yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan posisi kelompok separatis. Yang menarik dalam kisah ini adalah bahwa Arafat al-Muhammadi, sebelum mereka masuk menemui Syaikh, menyarankan agar mereka tidak menyebut nama Hani bin Buraik di hadapan Syaikh Rabi‘. Di sini muncul pertanyaan penting: Mengapa harus disembunyikan? Jawaban singkatnya: Karena Syaikh Rabi‘ al-Madkhali dikenal memiliki sikap menolak proyek-proyek pemisahan (separatis) di Yaman. Hal ini pernah beliau ungkapkan secara jelas ketika mengingkari gagasan pemisahan kepada Hani bin Buraik dengan mengatakan "Jika Yaman Selatan memisahkan diri, lalu kepada siapa kalian serahkan Yaman Utara? Kepada kaum Houthi?” Sikap dari Syaikh ini mencerminkan pandangan syar‘i yang berkaitan dengan menjaga persatuan barisan dalam menghadapi Houthi. • MAKNA SIKAP SYAIKH RABI‘ –RAHIMAHULLAH– Sesungguhnya sikap Syaikh Rabi‘ ini bukan sekadar pendapat yang lewat, tetapi selaras dengan realitas lapangan di Yaman. Sebab wilayah utara dihuni oleh persentase besar dari Ahlus Sunnah, dan jika wilayah itu dibiarkan untuk kaum Houthi dalam waktu lama, hal itu dapat menyebabkan perubahan madzhab dan politik yang berbahaya. Sebagaimana sesungguhnya sikap ini juga sejalan dengan kebijakan koalisi Arab yang dipimpin oleh Kerajaan Arab Saudi, serta dengan pemerintah sah Yaman yang menyatakan bahwa tujuannya adalah mengembalikan negara dan membebaskan Sana'a dari kekuasaan Houthi. Adapun yang terjadi dalam majelis tersebut —menurut yang dinukil— bahwa para dai dari Aden menyampaikan kepada Syaikh Rabi‘ bahwa Ikhwanul Muslimin akan menyerang Aden dan menumpahkan darahnya, sementara keluarga mereka tinggal di sana. Maka Syaikh menjawab bahwa mereka berhak membela diri jika diserang. Namun apa yang terjadi setelah itu menimbulkan pertanyaan besar: Karena mereka keluar dari majelis dalam keadaan gembira, dan berita tersebut menyebar dengan sangat cepat hingga sampai kepada Hani bin Buraik, yang kemudian menyebarkannya di kalangan para pendukungnya. Di sini muncul pertanyaan logis: Bagaimana berita itu bisa sampai begitu cepat kepada seseorang yang saat itu berada di Uni Emirat Arab? Bukankah ini menunjukkan adanya saluran komunikasi langsung, walaupun di depan umum dikatakan bahwa ada perselisihan? • SIKAP PARA DAI ADEN TERHADAP KEBOCORAN BERITA Perkara yang juga menarik perhatian adalah bahwa reaksi sebagian dai Aden terhadap tersebarnya berita itu bukanlah reaksi pengingkaran atau kemarahan, sebagaimana sikap Syaikh Ali al-Hudzaifi, tetapi seakan-akan perkara itu tidak mengejutkan mereka. Bahkan tokoh separatis Shalah Kantusy berkata kepada Syaikh al-Hudzaifi: “Mungkin itu firasat dari Hani.”

ألا يدل هذا كله على أن عرفات رأس الحربة ورأس الخيانة فيما جرى، وأنه المحرك الفعلي لما وقع فيه مشايخ الانتقالي من الانحرافات؟ ألا يضع هذا كله عرفات المحمدي في مرمى الاتهامات؟ ألا يجعل منه شريكا في الخيانة العظمى لبلاده وولاة أمره، وللشيخ ربيع رحمه الله؟ أبعد هذا كله يُؤتمن عرفات المحمدي على الدعوة؟ إن مجموع هذه الوقائع وغيرها –إذا وضعت في سياقها الكامل– تطرح تساؤلات جدية حول الدور الذي لعبه عرفات المحمدي في تلك المرحلة الحساسة من تاريخ اليمن. فالعلاقة بدعاة عدن، ومحاولة التأثير في عرض المعلومات على الشيخ ربيع المدخلي، وسرعة انتقال الأخبار إلى قيادات الانفصاليين من بينهم هاني بن بريك، ثم اللقاء المباشر بقياداته… كلها حلقات في سلسلة واحدة تحتاج إلى توضيح صريح من أصحابها. وفي أوقات الفتن والاضطرابات، تكون الشفافية والصدق مع الناس من أهم الواجبات، لأن التاريخ لا يرحم، والوقائع تبقى شاهدة على أصحابها مهما حاول البعض إخفاءها أو تبريرها. ولنا وقفات أخرى مع عرفات المحمدي في حلقات مقبلة إن شاء الله. #فواز_بن_علي_المدخلي الأربعاء ٢٢ رمضان ١٤٤٧ ١١ مارس ٢٠٢٦ https://www.facebook.com/share/p/1DwuSoANfS/ https://t.me/jujurlahselamanya

#ولكل_قوم_وارث [القول الجلي في بيان حال #عرفات_المحمدي]| الحلقة الثانية من الأمور التي أثارت الاستغراب أن عرفات المحمدي لم يكن يرى ولاية حقيقية للرئيس اليمني السابق عبد ربه منصور هادي، رغم معرفته بموقف أهل السنة من الأحداث الجارية في اليمن، وهو موقف يقوم على لزوم الجماعة وعدم شق الصف في أوقات الفتن. وقد نوقش في هذه المسألة من قبل الشيخ علي الحذيفي، حيث دار بينهما نقاش حول هذا الموقف، مما يدل على أن المسألة لم تكن مجرد اجتهاد عابر، بل كانت رؤية تبناها الرجل في تلك المرحلة. • الكذب على فتوى الشيخ ربيع المدخلي ومن أبرز الوقائع التي تستحق الوقوف عندها ما حدث في بداية الخلاف بين الحكومة اليمنية والانفصاليين في عدن قبل سنوات، حين سعى بعض دعاة عدن إلى زيارة الشيخ ربيع المدخلي في المملكة العربية السعودية. وقد تمت تلك الزيارة –بحسب ما نُقل– بترتيب وتذاكر قدمها أحد المرتبطين بالانفصاليين الحزبيين تحت غطاء أداء العمرة، وكان الهدف الظاهر زيارة الشيخ ربيع، لكن السياق العام يوحي بمحاولة الحصول على فتوى يمكن توظيفها لصالح موقف الانفصاليين. واللافت في هذه القصة أن عرفات المحمدي –قبل دخولهم على الشيخ– أوصاهم بعدم ذكر اسم هاني بن بريك أمام الشيخ ربيع. وهنا يبرز سؤال مهم: لماذا هذا الإخفاء؟ الجواب باختصار: لأن الشيخ ربيع المدخلي كان معروفا بموقفه الرافض للمشاريع الانفصالية في اليمن، وقد عبّر عن ذلك صراحة حين قال مستنكرا فكرة الانفصال على هاني بن بريك: "إذا انفصل جنوب اليمن، فلمن تتركون الشمال؟ للحوثيين؟" وهو موقف من الشيخ يعكس نظرا شرعيا مرتبطا بالحفاظ على وحدة الصف في مواجهة الحوثيين. • دلالة هذا الموقف من الشيخ ربيع رحمه الله. إن هذا الموقف للشيخ ربيع لم يكن مجرد رأي عابر؛ بل كان منسجما مع الواقع الميداني في اليمن، حيث إن الشمال يضم نسبة كبيرة من أهل السنة، وفي حال تركه للحوثيين لفترة طويلة فإن ذلك قد يؤدي إلى تغيرات مذهبية وسياسية خطيرة. كما أن هذا الموقف يتوافق مع سياسة التحالف العربي بقيادة المملكة العربية السعودية، ومع الشرعية اليمنية التي أعلنت أن هدفها هو استعادة الدولة وتحرير صنعاء من سيطرة الحوثيين. ما حدث داخل المجلس بحسب ما نقل، فإن دعاة عدن أخبروا الشيخ ربيعاً بأن الإخوان المسلمين سيهاجمون عدن ويستبيحونها، وأن عائلاتهم تقيم هناك، فكان رد الشيخ أنه من حقهم الدفاع عن أنفسهم إذا تعرضوا للهجوم. لكن ما حدث بعد ذلك يثير تساؤلات كبيرة؛ إذ خرج هؤلاء من المجلس مسرورين، وانتشر الخبر بسرعة كبيرة حتى وصل إلى هاني بن بريك، الذي قام بدوره بترويجه بين أنصاره. وهنا يطرح سؤال منطقي: كيف وصل الخبر بهذه السرعة إلى شخص كان حينها في الإمارات؟ أليس هذا مؤشراً على وجود قنوات تواصل مباشرة، رغم ما يُقال في العلن من وجود خلافات؟ • موقف دعاة عدن من تسريب الخبر . الأمر اللافت أيضا أن رد فعل بعض دعاة عدن على انتشار الخبر لم يكن رد فعل مستنكرٍ أو غاضبٍ كما كان موقف الشيخ علي الحذيفي، بل بدا وكأن الأمر لم يفاجئهم. بل قال الانفصالي صلاح كنتوش للشيخ الحذيفي: (لعلها فراسة من هاني) !! وأي فراسة لشخص خارجي ؟!! وهذا يفتح باب التساؤل حول مدى علمهم المسبق بما سيحدث، أو طبيعة العلاقة بينهم وبين بعض قيادات الانفصاليين. • لقاء عرفات بعيدروس الزبيدي. ومما يزيد التساؤلات حول دور عرفات المحمدي أنه بعد تلك الأحداث ولقاء الشيخ ربيع مباشرة توجه إلى الرياض للقاء عيدروس الزبيدي. وهنا يطرح المتابعون سؤالا مشروعا: ما سبب هذا اللقاء في ذلك التوقيت تحديدا؟ وهل كان مجرد لقاء عابر، أم أنه جزء من تحركات سياسية مرتبطة بالأحداث الجارية آنذاك؟ • إفتاء شيخنا الإمام ربيع المدخلي رحمه الله بلزوم سياسة التحالف العربي والمملكة العربية السعودية. بعد أن انتشرت الأخبار حول اللقاء بين مشايخ الانتقالي وشيخنا العلامة ربيع، بعث الشيخ علي الحذيفي –حفظه الله– رسالة تشرح لشيخنا الإمام حقيقة الوضع في جنوب اليمن، فما كان من شيخنا الربيع إلا الإفتاء بلزوم سياسة التحالف العربي والمملكة العربية السعودية بقوله: "كونوا مع التحالف ...كونوا مع السعودية"، وهو الأمر الذي استقر عليه إلى وفاته. • إخفاء فتوى شيخنا الإمام ربيع المدخلي من طرف مشايخ الانتقالي. بعد صدور هذه الفتوى الأخيرة من شيخنا الربيع –رحمه الله–، قام مشايخ الانتقالي بعدم بثِّها بقوة وتداولها كما بثوا الكلام الأول للشيخ، الذي حصلت بموجبه لهم حظوة عند قيادات الانفصاليين في جنوب اليمن، ومكّن لهم من الشأن الديني والدعوي هناك، وأصبحوا يمثلون غطاء دينيا لأجندات هذا الحزب هناك. فما الذي حمل عرفات المحمدي ودعاة الانتقالي على إخفاء ما استقر عليه شيخنا الإمام ربيع فيما يتعلق باليمن؟ أليس هو الدافع الحزبي؟ أليس كذبهم على شيخنا الإمام ربيع فيما يتعلق بالشأن اليمني دليلاً على خيانتهم جميعا للأمانة؟

dari mereka upaya mempolitisasi dakwah dan memecah barisan Ahlus Sunnah di Yaman. Perkara ini semakin jelas dengan adanya keterangan dari sejumlah masyayikh dan para penuntut ilmu yang terpercaya –diantaranya Syaikh Ali al-Hudzaifi, semoga Allah melindungi beliau– yang memperingatkan dari sikap-sikap Arafat al-Muhammadi dan menjelaskan dukungannya kepada para dai Aden serta permusuhannya terhadap para masyayikh yang berbicara tentang penyimpangan mereka. Bahkan ia turut berperan secara nyata dalam agenda dan pergerakan kelompok yang menyimpang tersebut. Orang ini juga dikenal di lebih dari satu negara sering memicu perselisihan dan fitnah, baik di Eropa maupun di beberapa negara Asia seperti Indonesia dan lainnya, di samping memerangi siapa saja yang tidak berjalan di bawah naungannya atau tidak sejalan dengan arahannya. Dan hal itu semakin memperluas lingkaran perselisihan dan perpecahan diantara para penuntut ilmu dan para dai. Diantara prinsip manhaj Salaf yang tidak boleh diremehkan adalah: 1. Menyuarakan kebenaran dengan terang-terangan. 2. Memperingatkan dari kebatilan dan para pengusungnya. 3. Tidak bersikap basa-basi dalam urusan agama. 4. Membela Ahlus Sunnah dan tidak membuat kegaduhan terhadap mereka demi menyenangkan pihak atau individu tertentu. Jika seseorang yang berbicara diam terhadap pelaku kebatilan namun bersikap keras terhadap Ahlus Sunnah, maka hal itu merupakan bukti yang menunjukkan adanya kerusakan dalam timbangan dan kegoncangan dalam manhaj. Dari sinilah muncul pernyataan-pernyataan ini: untuk menjelaskan hakikat dari sikap-sikap ini dan menyingkap berbagai kontradiksi di dalamnya, sebagai nasihat bagi umat serta untuk menjaga barisan dakwah Salafiyyah dari penyesatan dan kekacauan, dengan tetap berpegang pada keadilan dan objektivitas serta membatasi diri pada fakta-fakta dan indikasi yang telah terbukti. Kepada Allah saja kita memohon agar Dia memberi kita petunjuk kepada kebenaran, mengaruniakan keikhlasan dan keadilan kepada kita, menjauhkan kita dari fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, serta menjadikan amal kita ikhlas karena wajah-Nya yang mulia. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. Fawwaz bin Ali al-Madkhali Senin, 20 Ramadhan 1447 H 8 Maret 2026 M https://www.facebook.com/share/p/1HnRSYWySx/ https://t.me/jujurlahselamanya

PENJELASAN YANG TERANG DALAM MENJELASKAN KEADAAN ARAFAT AL-MUHAMMADI (BAGIAN PERTAMA) الحمد لله رب العالمين، نحمده سبحانه ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا. أما بعد: Diantara perkara terbesar yang dibawa oleh syariat yang suci adalah tegaknya para ulama dalam menjalankan kewajiban menjelaskan kebenaran, menampakkan yang hak, serta memperingatkan dari kebatilan dan para pengusungnya, demi menjaga agama, menasihati kaum muslimin, dan merealisasikan firman Allah Ta‘ala: وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ. “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari orang-orang yang telah diberi Kitab: "Hendaklah kalian benar-benar menjelaskannya kepada manusia dan tidak menyembunyikannya." (Ali Imran: 178) Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah –baik dahulu maupun sekarang– senantiasa berdiri di atas sikap menyuarakan kebenaran secara terang-terangan, memperingatkan dari penyimpangan dan bid‘ah, serta menyingkap berbagai bentuk penyesatan yang merusak dakwah dan memecah barisan, tanpa bersikap lembek atau basa-basi dalam agama Allah, demi menegakkan keadilan dan kejujuran serta melaksanakan kesaksian kebenaran yang Allah perintahkan. Dari landasan inilah datangnya penjelasan ini, setelah perenungan yang panjang terhadap sikap orang yang bernama Arafat al-Muhammadi dalam urusan Yaman secara khusus, dan dalam realitas dakwah Salafiyyah secara umum. Telah tampak sejumlah kontradiksi yang jelas dalam sikap-sikapnya, terutama sikapnya yang berkelit dalam memperingatkan dari Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council) dan sikap pembangkangannya terhadap pemerintahan yang sah di Yaman. Di sisi lain dia terus berdiri membela pihak yang dikenal sebagai para dai Aden, serta mendukung proyek-proyek mereka, sementara pada saat yang sama dia berulang kali membuat kegaduhan terhadap sejumlah masyayikh Salafiyyun yang dikenal jelas dalam manhaj dan sikap mereka. Sesungguhnya orang yang memperhatikan sikap-sikap tersebut tidak akan dapat menghindari kesimpulan bahwa terdapat kerusakan yang nyata dalam timbangan penilaiannya. Jadi bagaimana bisa dibenarkan sikap keras diarahkan kepada Salafiyyun yang dikenal berpegang teguh pada manhaj, sementara sikap toleran diberikan kepada orang-orang yang jelas melakukan pelanggaran politik dan kepartaian yang merugikan dakwah dan para pengikutnya? Perkara ini semakin jelas dengan munculnya sejumlah indikasi yang menjelaskan perubahan sikap tersebut. Diantaranya adalah fakta yang telah diketahui secara terbuka bahwa saudaranya, Ahmad bin Hasan al-Muhammadi, merupakan anggota resmi Dewan Transisi Selatan. Hal ini dipublikasikan di situs resmi dewan tersebut dan tercantum dalam daftar anggota mereka. Hal itu dapat dilihat pada tautan resmi Dewan Transisi Selatan, di mana namanya tercantum di antara para anggota (nomor 34): https://stcaden.com/posts/8083 Ini adalah perkara yang dipublikasikan secara terbuka, tidak mengandung tuduhan ataupun fitnah, walaupun sebelumnya sebagian mereka ada yang berusaha mengingkarinya atau mengklaim sebaliknya. Tidak diragukan bahwa hubungan kekerabatan jika bersatu dengan hawa nafsu, dapat mempengaruhi arah sikap seseorang, walaupun dia menyangka dirinya selamat dari hal tersebut. Karena inilah Allah Ta‘ala berfirman: كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ. “Jadilah kalian orang-orang yang menegakkan keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil, walaupun terhadap diri kalian, kedua orang tua, atau kerabat.” (An-Nisa': 135) Tujuan penyebutan indikasi ini bukanlah sekadar mencela atau mempermalukan, tetapi untuk menjelaskan banyak sikap yang muncul dalam beberapa tahun terakhir yang memiliki pengaruh besar dalam memicu perselisihan di dalam barisan Salafiyyun, serta pembelaannya terhadap para dai Aden yang telah tampak

|[القول الجلي في بيان حال عرفات المحمدي]| الحلقة الأولى الحمد لله رب العالمين، نحمده سبحانه ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا. أما بعد: فإن من أعظم ما جاءت به الشريعة المطهرة قيام أهل العلم بواجب البيان، وإظهار الحق، والتحذير من الباطل وأهله، صيانة للدين، ونصحا للمسلمين، وتحقيقا لقوله تعالى: ﴿وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ﴾ وقد جرى منهج أهل السنة والجماعة –قديما وحديثا– على الصدع بالحق، والتحذير من الانحرافات والبدع، وكشف التلبيسات التي تضر بالدعوة وتفرق الصف، دون مداهنة أو مجاملة في دين الله، تحقيقاً للعدل والإنصاف، وقياما بشهادة الحق التي أمر الله بها. ومن هذا الباب جاء هذا البيان، بعد تأمل طويل في مواقف المدعو عرفات المحمدي في الشأن اليمني خاصة، وفي واقع الدعوة السلفية عامة، وما ظهر من تناقضات ظاهرة في مواقفه، ولا سيما مراوغته في التحذير من المجلس الانتقالي الجنوبي، وتمرده على الشرعية في اليمن، مع وقوفه المستمر إلى جانب ما يعرف بدعاة عدن، ومناصرته لمشاريعهم، في مقابل تشغيبه المتكرر على عدد من المشايخ السلفيين المعروفين بالوضوح في المنهج والموقف. فإن المتأمل في هذه المواقف لا يسعه إلا أن يلحظ خللا بينا في الميزان؛ إذ كيف يشتد الخطاب على السلفيين المعروفين بالتمسك بالمنهج، بينما يُتسامح مع من ظهرت منهم المخالفات السياسية والحزبية التي أضرت بالدعوة وأهلها؟ وقد ازداد هذا الأمر وضوحا بظهور قرائن متعددة تفسر هذا التلون في المواقف، من أبرزها ما ثبت علنا من كون شقيقه أحمد بن حسن المحمدي عضوا رسميا في المجلس الانتقالي الجنوبي، وهو أمر منشور في الموقع الرسمي للمجلس الانتقالي، ومثبت في قوائم أعضائه. ويمكن الرجوع إلى ذلك في الرابط الرسمي للمجلس الانتقالي الجنوبي، حيث ورد اسمه ضمن الأعضاء (رقم 34): https://stcaden.com/posts/8083 وهذا أمر منشور علنا لا دعوى فيه ولا افتراء، وإن حاول بعضهم من قبل إنكار ذلك أو ادعاء خلافه. ولا يخفى أن القرابة إذا اجتمعت مع الهوى كان لها أثر في توجيه المواقف، ولو ظن صاحبها أنه سالم من ذلك؛ ولهذا قال الله تعالى: ﴿كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى﴾ والمقصود من ذكر هذه القرينة ليس مجرد الطعن أو التشهير، وإنما بيان ما يفسر كثيرا من المواقف التي ظهرت في السنوات الأخيرة، والتي كان لها أثر بالغ في تأجيج الخلافات داخل الصف السلفي، والدفاع عن دعاة عدن الذين ظهر منهم تحزيب الدعوة وتمزيق صف أهل السنة في اليمن. وقد زاد الأمر وضوحا بما نقل عن عدد من المشايخ وطلبة العلم الثقات وغيرهم –ومنهم الشيخ علي الحذيفي حفظه الله– من التحذير من مواقف عرفات المحمدي، وبيان ما وقع فيه من مناصرة لدعاة عدن، ومخاصمة للمشايخ الذين تكلموا في انحرافاتهم؛ بل مشاركة فعلية له في أجندات وتحركات هؤلاء المنحرفين. كما عُرف عن الرجل في أكثر من بلد إشعال الخلافات والفتن، سواء في أوروبا أو في بعض بلدان آسيا كإندونيسيا وغيرها، مع محاربته لكل من لا يسير تحت مظلته أو يوافق توجهاته، وهو ما زاد من اتساع دائرة النزاع والفرقة بين طلاب العلم والدعاة. ومن أصول المنهج السلفي التي لا يجوز التفريط فيها: ١- الصدع بالحق. ٢- التحذير من الباطل وأهله. ٣- عدم المداهنة في الدين. ٤- نصرة أهل السنة، وعدم التشغيب عليهم لإرضاء جهات أو أشخاص. فإذا سكت المتكلم عن أهل الباطل، واشتد على أهل السنة، كان ذلك دليلا على خلل في الميزان واضطراب في المنهج. ومن هنا جاءت هذه البيانات؛ لبيان حقيقة هذه المواقف، وكشف ما فيها من تناقضات، نصحا للأمة، وحفظا لصف الدعوة السلفية من التلبيس والخلط، مع الالتزام بالعدل والإنصاف، والاقتصار على ما ثبت من الوقائع والقرائن. والله نسأل أن يهدينا للحق، وأن يرزقنا الإخلاص والعدل، وأن يجنبنا الفتن ما ظهر منها وما بطن، وأن يجعل أعمالنا خالصة لوجهه الكريم. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. #فواز_بن_علي_المدخلي الإثنين ٢٠ رمضان ١٤٤٧ ٨ مارس ٢٠٢٦ https://www.facebook.com/share/p/1HnRSYWySx/ https://t.me/jujurlahselamanya