National Geographic Indonesia
رفتن به کانال در Telegram
Unofficial Telegram account National Geographic Indonesia Part of @ProjectUnofficialID
نمایش بیشتر2 084
مشترکین
اطلاعاتی وجود ندارد24 ساعت
+47 روز
اطلاعاتی وجود ندارد30 روز
آرشیو پست ها
+9
Apabila kita mengamati sampul majalah National Geographic Indonesia edisi Oktober 2025, tampak harimau dengan loreng yang janggal.
Edisi ini menyajikan kisah harimau India berjudul "Kasus Janggal Harimau yang Mengubah Pola Loreknya".
Sepupu harimau sumatra ini boleh dibilang lebih beruntung karena popu-lasinya mulai pulih di cagar alam. Ironisnya, keberhasilan ini menimbulkan tantangan baru, seperti populasi terisolasi yang rawan penyakit genetik.
Perkawinan sedarah menjadi masalah. Peneliti menemukan gen pseudo-melanisme resesif telah menyebar dalam populasi itu. Jika isolasi genetik tersebut diabaikan, harimau bengal akan binasa.
Terima kasih telah membaca National Geographic Indonesia.
Di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, hamparan tanaman gambir selama ini hanya dikenal sebagai sumber pewarna dan bahan tradisional. Namun bagi Aziza Nurul Amanah, sisa-sisa limbahnya menyimpan cerita lain: sebuah peluang untuk menjaga hutan dan memberdayakan perempuan.
Aziza tumbuh besar di wilayah yang akrab dengan kisah tentang hutan yang menyusut dan tanah yang rusak. Ia menyaksikan perubahan bentang alam yang lambat tapi pasti. Dari pengalaman itulah muncul gagasan untuk bergerak di jalur berbeda: mengolah apa yang ada di sekitar, sekaligus merawatnya.
Aziza mengubah ampas gambir yang biasanya terbuang menjadi pewarna alami tekstil. Ia melatih 45 perempuan pengrajin untuk menguasai keterampilan ramah lingkungan: mewarnai kain tanpa bahan kimia, meracik warna dari alam, hingga memasarkan hasilnya secara digital. Hasil karya itu bukan hanya potongan kain, melainkan simbol kemandirian ekonomi dan kepedulian ekologis.
Dari gambir yang dulunya dianggap limbah, ia menunjukkan bahwa...
View original post
+3
Adiwastra Tiga Negeri
Batik Tiga Negeri di Jawa Tengah memiliki ragam versi cerita. Ada yang meyakini sebutan itu merujuk pada batik yang mengalami proses pewarnaan di tiga tempat yaitu Lasem, Pekalongan, dan Solo.
Namun, ada juga yang menyakini sebutan itu merujuk batik tiga warna yang sejatinya terdiri atas warna merah, biru, kuning, soga. Coraknya pun diyakini sebagai motif akulturasi Jawa, Arab, Eropa, Cina.
Sejatinya, tak hanya ketiga daerah itu yang membuat batik tiga negeri. Cirebon, Kudus, Surabaya, Madura, Sidoarjo, sampai Pasuruan pernah disebut koran-koran Hindia Belanda awal abad 20 sebagai penghasil batik dengan ciri warna merah, biru, soga. Kabar itu mengutip C.T.H. Van Deventer dalam laporannya bertajuk "Overzicht van den Economischen toestand der Inlandsche Bevolking Java en Madoera" yang terbit pada tahun 1904.
Selamat Hari Batik!
Orang baik, gemar batik.
+9
Adiwastra Tiga Negeri
Batik Tiga Negeri di Jawa Tengah memiliki ragam versi cerita. Ada yang meyakini sebutan itu merujuk pada batik yang mengalami proses pewarnaan di tiga tempat yaitu Lasem, Pekalongan, dan Solo.
Namun, ada juga yang menyakini sebutan itu merujuk batik tiga warna yang sejatinya terdiri atas warna merah, biru, kuning, soga. Coraknya pun diyakini sebagai motif akulturasi Jawa, Arab, Eropa, Cina.
Sejatinya, tak hanya ketiga daerah itu yang membuat batik tiga negeri. Cirebon, Kudus, Surabaya, Madura, Sidoarjo, sampai Pasuruan pernah disebut koran-koran Hindia Belanda awal abad 20 sebagai penghasil batik dengan ciri warna merah, biru, soga. Kabar itu mengutip C.T.H. Van Deventer dalam laporannya bertajuk "Overzicht van den Economischen toestand der Inlandsche Bevolking Java en Madoera" yang terbit pada tahun 1904.
Selamat Hari Batik!
Orang baik, gemar batik.
+8
Selamat menuju keabadian, Jane Goodall (3 April 1934 - 1 Oktober 2025).
"Bahaya terbesar bagi masa depan kita adalah sikap apatis."
+9
UNESCO Tambah 26 Cagar Biosfer Baru, Salah Satunya Raja Ampat
Di tengah sorak-sorai kabar dunia, satu tempat dari Indonesia mencuat: Raja Ampat. Gugusan pulau di Papua Barat yang tersohor dengan lautnya yang jernih dan keanekaragaman hayati tertinggi di Bumi kini resmi ditetapkan sebagai cagar biosfer UNESCO.
Keputusan itu diumumkan pada Kongres Dunia Cagar Biosfer ke-5 di Hangzhou, Tiongkok, ketika UNESCO menetapkan 26 cagar biosfer baru di 21 negara—lonjakan terbesar dalam dua dekade terakhir. Dengan penambahan ini, jaringan World Network of Biosphere Reserves kini mencakup 785 situs di 142 negara, melindungi lebih dari 8 juta km² ekosistem darat dan laut, luasnya setara Australia.
Raja Ampat sering dijuluki “Amazon of the Seas”. Kawasan ini menjadi pusat segitiga karang dunia, rumah bagi lebih dari 1.600 spesies ikan dan lebih dari 550 spesies karang keras—rekor tertinggi di planet ini. Dari pari manta yang melayang anggun, hiu karpet berkamuflase di dasar laut, hingga...
View original post
Tomorrow we kick off Lestari Summit & Awards 2025!
Where changemakers meet, ideas collide, and impact begins! ✨
📅 October 2, 2025
🕘 09:00 – 17:00 WIB
📍 Raffles Hotel, Jakarta
Be there, be inspired at Lestari Summit 2025.
#LestariSummit2025 #LestariAwards2025
Setiap foto punya cerita. Namun, momen untuk mendapatkan cerita itu boleh jadi hanya bisa ditangkap sekali seumur hidup. Begitu juga dengan kisah Tavip Budiono, fotografer yang berkesempatan mengabadikan sosok maestro tari. Ia memotret penari Legong Bapang bernama Niang Soli. Sang maestro itu berusia lebih dari seabad. Dari raut wajah, gerak, dan setiap detailnya adalah cerita manusia. Ada jejak panjang tradisi dan kebijaksanaan seorang tetua Bali.
Kita akan berbincang santai tentang pengalaman di balik lensa, bagaimana budaya terjaga lewat gambar. Juga, apa makna dalam memotret seorang legenda. Bergabunglah bersama Donny Fernando dalam siaran langsung akun @natgeoindonesia pada Jumat, 3 Oktober 2025, pukul 16.00 WIB / 17.00 WITA
Mari resapi bersama bagaimana fotografi bisa menjadi cara merawat ingatan sekaligus merayakan kehidupan.
Pernah dengar Multatuli tetapi masih menebak-nebak siapa dia? Ia adalah nama pena dari Eduard Douwes Dekker. Novelnya yang berjudul Max Havelaar telah mendorong politik etis, antikolonialisme dan menginspirasi para pendiri bangsa untuk merdeka.
Menepi pada kisah ketidakadilan di Rangkasbitung, semangatnya hadir dalam Museum Multatuli, serta Festival Multatuli untuk ajang seni sampai diskusi penuh wawasan.
Pemikiran Multatuli bukanlah masa lalu semata. Justru, menjadi cermin untuk menilai wajah masyarakat di masa kini. Melalui bahasa yang disusun kembali untuk menyuarakan hal yang sama: keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan.
Sosok Multatuli melalui museum dan festivalnya di Rangkasbitung tidak hanya menjadi tempat mengenang sejarah, tetapi juga menjadi pusat pencerahan yang menginspirasi generasi baru untuk terus mempertanyakan dan memperbaiki keadaan di sekelilingnya.
Reporter dan narator oleh @sophiseptiani
Editor dan videographer oleh @amntf
+5
Di balik luasnya Nusantara, terdapat jejak warisan yang menyatukan kita: Austronesia. Migrasi dari Taiwan memulai perjalanan panjang, hingga 4.000 tahun silam gelombang besar Austronesia tiba di kepulauan ini. Para leluhur pelaut yang membuat revolusi pertama peradaban dengan membawa bahasa, pengetahuan bercocok tanam, hingga tradisi yang masih berdenyut dalam kehidupan kita hari ini.
Kilasan sebagian kisah Austronesia terbentang hadir dalam empat lanskap berupa batu megalitik Pasemah di lereng Dempo, pondasi umpak di Lembah Lore, jejak kuno di Pulau Kapotar Papua, hingga rumah adat Tengger di Jawa Timur yang masih hidup hingga kini. Masing-masing menjadi potongan cerita tentang manusia yang membangun relasi dengan alam, mencipta arsitektur, menjaga tradisi, dan merawat harmoni sosial.
Seperti ditegaskan para peneliti, mengurai jejak warisan Austronesia bukan sekadar masa lalu, tetapi juga pondasi dinamis identitas yang dapat memperkuat rasa persatuan di tengah keberagaman bangsa....
View original post
+9
Di balik luasnya Nusantara, terdapat jejak warisan yang menyatukan kita: Austronesia. Migrasi dari Taiwan memulai perjalanan panjang, hingga 4.000 tahun silam gelombang besar Austronesia tiba di kepulauan ini. Para leluhur pelaut yang membuat revolusi pertama peradaban dengan membawa bahasa, pengetahuan bercocok tanam, hingga tradisi yang masih berdenyut dalam kehidupan kita hari ini.
Kilasan sebagian kisah Austronesia terbentang hadir dalam empat lanskap berupa batu megalitik Pasemah di lereng Dempo, pondasi umpak di Lembah Lore, jejak kuno di Pulau Kapotar Papua, hingga rumah adat Tengger di Jawa Timur yang masih hidup hingga kini. Masing-masing menjadi potongan cerita tentang manusia yang membangun relasi dengan alam, mencipta arsitektur, menjaga tradisi, dan merawat harmoni sosial.
Seperti ditegaskan para peneliti, mengurai jejak warisan Austronesia bukan sekadar masa lalu, tetapi juga pondasi dinamis identitas yang dapat memperkuat rasa persatuan di tengah keberagaman bangsa....
View original post
+9
Di balik luasnya Nusantara, terdapat jejak warisan yang menyatukan kita: Austronesia. Migrasi dari Taiwan memulai perjalanan panjang, hingga 4.000 tahun silam gelombang besar Austronesia tiba di kepulauan ini. Para leluhur pelaut yang membuat revolusi pertama peradaban dengan membawa bahasa, pengetahuan bercocok tanam, hingga tradisi yang masih berdenyut dalam kehidupan kita hari ini.
Kilasan sebagian kisah Austronesia terbentang hadir dalam empat lanskap berupa batu megalitik Pasemah di lereng Dempo, pondasi umpak di Lembah Lore, jejak kuno di Pulau Kapotar Papua, hingga rumah adat Tengger di Jawa Timur yang masih hidup hingga kini. Masing-masing menjadi potongan cerita tentang manusia yang membangun relasi dengan alam, mencipta arsitektur, menjaga tradisi, dan merawat harmoni sosial.
Seperti ditegaskan para peneliti, mengurai jejak warisan Austronesia bukan sekadar masa lalu, tetapi juga pondasi dinamis identitas yang dapat memperkuat rasa persatuan di tengah keberagaman bangsa....
View original post
Perahu kayu itu bergerak meninggalkan Alor Kecil, membelah laut biru yang pagi itu tampak jinak. Perjalanan menuju Baranusa di Pulau Pantar memakan waktu lima jam. Di sinilah kita bisa melihat laut sekaligus menjadi jalan raya, ruang jeda, dan batas yang sering kali menyingkap betapa rapuhnya sistem transportasi antar-pulau kita.
Sesampainya di Baranusa, saya melihat kehidupan yang dirajut dari laut dan tanah. Rumput laut dijemur di halaman rumah, dan masyarakatnya berdiri tegak dengan daya tahan yang lahir dari kepercayaan leluhur. Mereka tidak hanya bekerja untuk hidup, mereka hidup dengan kesadaran bahwa alam pun punya kehendak dan ritmenya sendiri.
Dari orang tua kampung saya mendengar tentang Hading dan Hoba Mulung. Dua ajaran yang diwariskan untuk menjaga keseimbangan. Hading adalah jeda, sebuah kesepakatan untuk memberi ruang alam pulih dari eksploitasi. Sementara Hoba Mulung adalah wujud kebersamaan: menahan diri dari laut agar ikan bisa kembali berkembang biak. Pengetahuan...
View original post
+9
Di balik luasnya Nusantara, terdapat jejak warisan yang menyatukan kita: Austronesia. Migrasi dari Taiwan memulai perjalanan panjang, hingga 4.000 tahun silam gelombang besar Austronesia tiba di kepulauan ini. Para leluhur pelaut yang membuat revolusi pertama peradaban dengan membawa bahasa, pengetahuan bercocok tanam, hingga tradisi yang masih berdenyut dalam kehidupan kita hari ini.
Kilasan sebagian kisah Austronesia terbentang hadir dalam empat lanskap berupa batu megalitik Pasemah di lereng Dempo, pondasi umpak di Lembah Lore, jejak kuno di Pulau Kapotar Papua, hingga rumah adat Tengger di Jawa Timur yang masih hidup hingga kini. Masing-masing menjadi potongan cerita tentang manusia yang membangun relasi dengan alam, mencipta arsitektur, menjaga tradisi, dan merawat harmoni sosial.
Seperti ditegaskan para peneliti, mengurai jejak warisan Austronesia bukan sekadar masa lalu, tetapi juga pondasi dinamis identitas yang dapat memperkuat rasa persatuan di tengah keberagaman bangsa....
View original post
+2
Di sebuah sudut kecil di Alor, hadir Mama Martha Lothang dengan senyum sederhana dan tubuh renta yang menyimpan keteguhan. Penghargaan demi penghargaan telah diberikan padanya oleh lembaga dalam dan luar negeri. Namun sejatinya bagi saya penghargaan terbesarnya bukanlah yang tertulis di kertas itu, melainkan jejak hidupnya yang tertanam di sepanjang garis pesisir.
Mama mengerti laut bukan sekadar hamparan biru tempat perahu berlabuh, melainkan nadi kehidupan. Dari cerita leluhur, Mama Lothang belajar bahwa mangrove adalah benteng yang menjaga daratan dari amukan gelombang. Maka batang demi batang ditanamnya, ribuan bibit disiapkan, seakan menanam doa untuk masa depan Alor yang lestari.
Namun, perjuangan itu tak pernah mudah. Di saat tangannya sibuk menancapkan akar kehidupan, penambangan pasir justru menggerogoti garis pantai. Abrasi kian cepat, meninggalkan luka di bibir pulau. Mama Lothang hanya bisa menahan air mata, tubuhnya yang mulai rapuh berusaha menjadi suara. Suara yang...
View original post
Sekitar 200 ribu tahun silam, Gunung Sunda Purba berdiri gagah dengan ketinggian yang diperkirakan mencapai 3.000–4.000 meter di atas permukaan laut. Para peneliti menyebutnya sebagai salah satu gunung api terbesar di Jawa Barat kala itu. Antara 210.000 hingga 105.000 tahun lalu, terjadi letusan maha dahsyat. Tubuh gunung runtuh, kaldera terbentuk, dan dari reruntuhannya lahir tiga gunung yang masih kita kenal hari ini: Tangkuban Parahu, Burangrang, dan Bukit Tunggul.
Letusan ini memang tak sebesar Toba yang mengubah iklim dunia, tetapi bagi tanah Priangan, dentumannya adalah titik balik. Material vulkanik yang meluncur menutup aliran Sungai Citarum Purba di kawasan barat Bandung. Sumbatan inilah yang kelak mengubah cekungan Bandung menjadi sebuah danau raksasa.
Sekitar 16.000 tahun lalu, lereng longsor membuka celah bagi air. Perlahan tapi pasti, danau surut. Alirannya menembus utara, menyusuri jalur yang kini menjadi Sungai Citarum. Air pergi, meninggalkan endapan lumpur yang...
View original post
+1
Big changes are born from ideas shared together. 🌳
Lestari Summit 2025 unites leaders, practitioners, and communities to collaborate and exchange ideas toward a resilient and sustainable future.
With the theme:
“Thriving Together and Cultivating Resilience for a Sustainable Future,” we believe that every voice matters in facing the challenges of climate and sustainability.
📅 Thursday, October 2, 2025
🕘 09:00 – 17:00 WIB
📍 Raffles Hotel, Jakarta
Registration closes on September 29, 2025 at lestarisummit.id
Join the movement toward a more sustainable future.
#LestariSummit2025 #Sustainability #KGMediaLestari #TrustedConnected
+1
Big changes are born from ideas shared together. 🌳
Lestari Summit 2025 unites leaders, practitioners, and communities to collaborate and exchange ideas toward a resilient and sustainable future.
With the theme:
“Thriving Together and Cultivating Resilience for a Sustainable Future,” we believe that every voice matters in facing the challenges of climate and sustainability.
📅 Thursday, October 2, 2025
🕘 09:00 – 17:00 WIB
📍 Raffles Hotel, Jakarta
Registration closes on September 29, 2025 at lestarisummit.id
Join the movement toward a more sustainable future.
#LestariSummit2025 #Sustainability #KGMediaLestari #TrustedConnected
+3
Pagi di Alor Kecil, Nusa Tenggara Timur. Hari pasar adalah hari yang banyak dinanti, di antara kerikil hitam dan perahu kayu, para mama menuang ikan-ikan hasil tangkapan nelayan ke lapak dagangan mereka, menimbang dan menghitung harga yang akan menentukan nasib dapur mereka hari ini.
Gunung juga mengirmkan dari kejauhan sayur, ubi, dan jagung. Laut menyumbangkan ikan tongkol, kerapu, hingga gurita. Di pasar ini, gunung dan laut saling bertemu, seperti nadi dan darah yang mengalir menjaga hidup tetap berjalan.
Hari ini laut yang memberi kini kian tak pasti. Data resmi menyebut potensi lestari perikanan Alor sekitar 45.714 ton per tahun, dengan batas aman tangkap 36.571 ton. Lebih dari 2.000 rumah tangga nelayan bergantung pada angka ini. Jika dilewati, stok ikan bisa runtuh.
Perubahan iklim memperparah keadaan: badai seperti Seroja (2021) menghancurkan terumbu, angin dan musim melaut kian sulit ditebak, abrasi dan rob merusak pesisir. Sering kali, nelayan pulang dengan ember separuh...
View original post
Sejak 1950, Indonesia telah kehilangan lebih dari 70 juta hektare hutan yang sebagian besar diakibatkan oleh deforestasi dan alih fungsi lahan, menjadikannya salah satu penyumbang terbesar emisi karbon dunia.
Video oleh @maximigeorgius
Takarir dan editor oleh @dendimanaaa
