Ask The Experts
رفتن به کانال در Telegram
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
نمایش بیشتر1 809
مشترکین
اطلاعاتی وجود ندارد24 ساعت
+97 روز
+2230 روز
آرشیو پست ها
1 809
+3
Siap mengasah logika, adu strategi, dan mengungkap misteri angka lawan? 🔥
Sebelum masuk ke arena Number Detective, pastikan seluruh tim memahami aturan permainannya. Silakan pelajari juknis berikut, diskusikan strategi terbaik bersama tim, dan coba bersiaplah menghadapi tantangan yang membutuhkan lebih dari sekadar keberuntungan. Karena mulai Babak Top 36 ini dstnya, kemenangan tim adalah hasil dari analisis dan kerja sama yang solid 💡🔍
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram
1 809
🔠🔠🔠🔠🔠🔠🫥 🇲🇨
GET READY!!! Babak 36 Besar
Number Detective ATE Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan tahun 2026 🇲🇨
Rabu, 3 Juni 2026 (Mulai Pukul 16.00 WIB - Selesai)
Hanya akan ada 1 tim terbaik dari setiap match yang akan lolos ke babak selanjutnya (Top 12 Besar) 💪
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram
1 809
🕵️ "Menurutku jawabannya ini..." bisa jadi kalimat seperti ini yang akan membawa timmu menuju kemenangan 🇮🇩
Di Top 36 Number Detective, setiap clue harus dianalisis, setiap pendapat perlu didengar, dan setiap strategi harus dijalankan dengan kompak. Tetap sportif, percaya pada rekan timmu, dan tunjukkan bahwa kolaborasi yang baik bisa memecahkan misteri apa pun 🚀
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram
1 809
🔠🔠🔠🔠🔠🔠 🔠🔠🔠🇲🇨
GET READY!!! Babak 64 Besar
Family 100 ATE Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan tahun 2026 🇲🇨
Jum'at, 5 Juni 2026 (Mulai Pukul 16.00 WIB - Selesai)
PIC Match 1 & 2:
PIC Match 3 & 4:
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram
1 809
🔠🔠🔠🔠🔠🔠 🔠🔠🔠🇲🇨
GET READY!!! Babak 64 Besar
Family 100 ATE Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan tahun 2026 🇲🇨
Kamis, 4 Juni 2026 (Mulai Pukul 16.00 WIB - Selesai)
PIC Match 1 & 2:
PIC Match 3 & 4:
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram
1 809
🔠🔠🔠🔠🔠🔠 🔠🔠🔠🇲🇨
GET READY!!! Babak 64 Besar
Family 100 ATE Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan tahun 2026 🇲🇨
Selasa, 2 Juni 2026 (Mulai Pukul 16.00 WIB - Selesai)
PIC Match 1 & 2:
PIC Match 3 & 4:
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram
1 809
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat pagi!
Selamat Hari Raya Idul Adha buat Sahabat yang merayakan.
Semalam di buku yang sedang saya baca, nemu satu quote dari Friedrich Nietzsche yang cukup terkenal:
“If you have a why to live, you can bear almost any how.”
Kalau diterjemahkan kira-kira artinya begini:
Kalau kita memiliki alasan untuk hidup, maka kita akan mampu menghadapi hampir segala kesulitan hidup.
Kalimat yang sederhana, namun punya pesan yang dalam.
Kadang kita berpikir seseorang itu kuat karena bakatnya, hartanya, jabatannya, koneksinya, atau ilmunya. Namun sering kali yang membuat seseorang mampu bertahan justru sesuatu yang sering luput dari perhatian, yaitu: alasan.
Alasan untuk tetap bangun pagi. Alasan untuk tetap pulang ke rumah. Alasan untuk tetap mencoba walaupun lelah. Alasan untuk tetap percaya bahwa hidup masih layak dijalani.
Ada kalanya orang yang secara fisik terlihat biasa saja, tapi ternyata mampu melewati masa-masa sulit. Dan di sisi lain, ada juga orang yang dari luar terlihat "punya segalanya," tapi diam-diam kehilangan semangat hidup.
Karena mungkin yang paling kita butuhkan sebagai manusia bukan sekedar rasa nyaman dan aman, melainkan juga makna.
Di buku Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl, dia bercerita bahwa di kamp konsentrasi Nazi di masa Perang Dunia II, mereka yang masih memiliki harapan, cinta, atau sesuatu yang ingin diperjuangkan, cenderung lebih mampu bertahan dibanding mereka yang kehilangan makna hidupnya.
Dan rasanya ini juga relevan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kadang pekerjaan terasa berat. Kadang rutinitas terasa melelahkan. Kadang hidup terasa berjalan terlalu cepat.
Tapi mungkin pertanyaan pentingnya bukan “Seberapa berat hidup kita?”
Melainkan “Apa alasan yang membuat kita terus melangkah?”
Karena bisa jadi, kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada fisik atau kecerdasannya, melainkan pada makna yang dia pegang di dalam dirinya.
Have a nice day! ❤️😊
#INISIATIF #TGIF
1 809
Oleh: Iwan Kusworo
Selamat pagi!
Selamat Hari Raya Idul Adha buat Sahabat yang merayakan.
Semalam di buku yang sedang saya baca, nemu satu quote dari Friedrich Nietzsche yang cukup terkenal:
“If you have a why to live, you can bear almost any how.”
Kalau diterjemahkan kira-kira artinya begini:
Kalau kita memiliki alasan untuk hidup, maka kita akan mampu menghadapi hampir segala kesulitan hidup.
Kalimat yang sederhana, namun punya pesan yang dalam.
Kadang kita berpikir seseorang itu kuat karena bakatnya, hartanya, jabatannya, koneksinya, atau ilmunya. Namun sering kali yang membuat seseorang mampu bertahan justru sesuatu yang sering luput dari perhatian, yaitu: alasan.
Alasan untuk tetap bangun pagi. Alasan untuk tetap pulang ke rumah. Alasan untuk tetap mencoba walaupun lelah. Alasan untuk tetap percaya bahwa hidup masih layak dijalani.
Ada kalanya orang yang secara fisik terlihat biasa saja, tapi ternyata mampu melewati masa-masa sulit. Dan di sisi lain, ada juga orang yang dari luar terlihat "punya segalanya," tapi diam-diam kehilangan semangat hidup.
Karena mungkin yang paling kita butuhkan sebagai manusia bukan sekedar rasa nyaman dan aman, melainkan juga makna.
Di buku Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl, dia bercerita bahwa di kamp konsentrasi Nazi di masa Perang Dunia II, mereka yang masih memiliki harapan, cinta, atau sesuatu yang ingin diperjuangkan, cenderung lebih mampu bertahan dibanding mereka yang kehilangan makna hidupnya.
Dan rasanya ini juga relevan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Kadang pekerjaan terasa berat. Kadang rutinitas terasa melelahkan. Kadang hidup terasa berjalan terlalu cepat.
Tapi mungkin pertanyaan pentingnya bukan “Seberapa berat hidup kita?”
Melainkan “Apa alasan yang membuat kita terus melangkah?”
Karena bisa jadi, kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada fisik atau kecerdasannya, melainkan pada makna yang dia pegang di dalam dirinya.
Have a nice day! ❤️😊
#INISIATIF
1 809
📢 CALL FOR PAPERS 2026 ACFE Indonesia Chapter mengundang Bapak/Ibu akademisi, praktisi, peneliti, mahasiswa, dan profesional untuk berpartisipasi dalam:
Seminar & Hybrid Conference:
Collaborative Anti-Fraud Ecosystem The Role of Civil Society in the Age of Digital Disruption
✨ Publication Opportunity:
Selected papers will be recommended for:
✔️ Asian Pacific Fraud Journal (Sinta 3 Indexed)
✔️ Partner Journals
✔️ Conference Proceedings
🏆 Best Paper Award
🏆 Best Presenter Award
📅 Deadline Submission: 8 Agustus 2026
📍 Seminar & Presentation: 8 September 2026
🌐 Guidelines and template artikel: bit.ly/ACFEIC_KetDanTemp_CFP2026
Mari bersama membangun ekosistem anti-fraud yang kolaboratif di era digital
1 809
Al-Qur'an menyebut ini dengan cara yang lebih tajam dari framework apapun.
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia." — QS. Al-Qashash: 77
Ini bukan perintah untuk meninggalkan dunia. Ini arsitektur prioritas. Dunia bukan tujuan akhir — ia adalah medium. Yang dibangun di dalam medium itu, itulah yang menentukan koordinat akhir seseorang.
Dan di ayat yang lain:
"Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan keturunan." — QS. Al-Hadid: 20
Bukan seruan untuk berhenti berprestasi. Ini peringatan tentang hierarki makna. Perlombaan itu nyata. Tetapi ia dimainkan dalam frame waktu yang salah jika tidak disertai pertanyaan yang lebih dalam.
Banyak manusia menang dalam annual report. Tetapi kalah dalam final report.
Polanya tidak butuh nama besar untuk dijelaskan. Nama besar selalu membawa distorsi — kita melihat tokohnya, bukan mekanismenya.
Ada guru yang tidak pernah viral. Tidak punya buku. Gajinya tidak besar. Tetapi ada puluhan manusia yang berhasil melewati titik kritis dalam hidup mereka karena satu percakapan dengannya — bukan karena ia mengatakan sesuatu yang brilliant, tapi karena ia hadir sepenuhnya ketika orang lain tidak punya waktu.
Ada ayah yang bekerja di posisi biasa selama tiga puluh tahun. Tidak pernah jadi direktur. Tetapi ia membesarkan anak-anak yang tahu bagaimana menepati janji, bagaimana hadir ketika dibutuhkan, bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat — tanpa menghitung apa yang kembali. Legacy itu tidak muncul di CV-nya. Tapi ia terus berjalan dalam perilaku generasi berikutnya, dalam keputusan-keputusan kecil yang tidak ada kamera yang merekam.
Ada juga pemimpin yang memiliki kekuasaan nyata tetapi menggunakannya untuk melindungi yang lemah dan membangun sistem yang tetap berfungsi bahkan setelah ia pergi. Posisi dan legacy sejajar. Ini kombinasi yang hampir tidak pernah terjadi secara kebetulan. Yang membedakan bukan kecerdasan atau sumber daya — tapi pilihan tentang untuk apa kekuasaan dan waktu itu digunakan, ketika tidak ada yang melihat, ketika pilihan yang benar lebih mahal dari pilihan yang menguntungkan.
Sejarah sering mengingat kekuasaan. Tetapi peradaban bertahan karena kontribusi yang sunyi.
Jabatan berhenti di hari terakhir kerja. Kekayaan berpindah tangan melalui dokumen hukum. Nama perlahan memudar dari ingatan orang-orang yang tidak pernah benar-benar mengenal siapa kita di balik title itu.
Yang tidak bisa berpindah adalah dampak. Yang tidak bisa dihapus adalah cara seseorang membuat orang lain merasa lebih manusiawi. Yang tidak bisa diwariskan secara legal tetapi terus berjalan adalah keputusan-keputusan kecil yang benar— dilakukan berulang-ulang, dalam kondisi di mana tidak ada yang memaksa untuk melakukannya.
Kematian adalah auditor terbaik. Ia tidak bisa dilobi. Tidak bisa diberi spin komunikasi. Ia hanya merekam apa yang sebenarnya terjadi — siapa yang menangis, siapa yang lega, dan apa yang benar-benar diingat ketika nama itu disebut.
Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan Gondrong. Mungkin ia hanya sedang sakit dan akan kembali minggu depan. Mungkin tidak. Tapi gerobak itu masih di sana. Terpal birunya sudah mulai kusam. Dan pagi tadi saya melewatinya dua kali.
Itu cukup untuk membuat saya berpikir tentang pertanyaan yang tidak pernah diajarkan di sekolah bisnis manapun.
Bukan: seberapa tinggi posisi kita?
Tapi: seberapa besar bubble yang tertinggal setelah kita pergi?
#INISIATIF
1 809
Legacy Is Not a Position (Tentang kekuasaan, umur, dan nilai yang tersisa setelah hidup selesai)
Oleh: Budiawan
---
Pagi tadi saya gowes melewati Pengkolan Jalan di sudut Perumahan Puri Cinere.
Di situ biasanya ada seorang penjahit. Orang sekitar memanggilnya Gondrong. Mesin jahitnya ditaruh di atas gerobak dorong. Sederhana sekali. Kadang saya ke sana hanya untuk membetulkan resleting tas yang rusak atau memotong celana jeans yang kepanjangan.
Sudah beberapa kali saya lewat dalam tiga bulan terakhir. Gondrong tidak ada. Gerobaknya masih di situ. Diam. Ditutup kain terpal biru yang mulai kusam.
Tadi pagi saya berhenti agak lama.
Muncul pikiran yang tidak nyaman: jangan-jangan ia sakit keras. Atau mungkin sudah meninggal. Meninggal dalam keadaan sangat miskin.
Lalu muncul pertanyaan lain yang lebih mengganggu.
Kalau Gondrong benar-benar sudah tidak ada — apakah hidupnya berarti gagal?
Ia tidak punya jabatan. Tidak punya kekuasaan. Tidak punya LinkedIn profile. Tidak pernah masuk ruang direksi. Mungkin tidak pernah naik pesawat bisnis seumur hidupnya. Tetapi selama bertahun-tahun ia memperbaiki barang-barang kecil milik orang lain agar bisa dipakai kembali. Tas yang masih bisa dipakai kerja. Celana sekolah yang masih bisa dipakai anak seseorang. Resleting yang membuat orang tidak perlu membeli barang baru.
Kontribusi kecil. Berulang. Sunyi.
Dan pagi tadi saya sadar: saya bahkan tidak tahu nama aslinya. Tetapi saya mengingat keberadaannya.
Saya bekerja di dunia yang sangat pandai mengukur hal yang mudah diukur. Revenue per kuartal. Market share. Employee engagement score. Setiap orang punya title. Setiap title punya level. Setiap level punya angka kompensasi. Sistem ini konsisten, dapat diverifikasi, dan menjadi dasar keputusan bernilai miliaran.
Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dibaca oleh semua sistem itu.
Dua orang bisa memiliki title yang identik, budget yang sama, tim yang sebanding. Satu meninggalkan organisasi dan orang-orang di dalamnya bernapas lega. Satu meninggalkan organisasi dan ada yang menangis — bukan karena kehilangan kapasitas, tapi karena kehilangan orang.
Spreadsheet tidak bisa membedakan itu. Tapi semua orang di dalam ruangan itu bisa merasakannya.
Ada orang yang setiap kali hadir membuat ruangan jadi lebih sehat — percakapan lebih jujur, keputusan lebih berani, orang-orang lebih berani mengatakan yang sebenarnya. Ada juga yang setiap kali naik jabatan membuat organisasi makin penuh ketakutan. Meeting makin banyak. Yang dikatakan dalam meeting makin sedikit yang sungguhan.
Perbedaan itu tidak muncul di annual report.
Kalau saya gambarkan ini sebagai grafik, ada dua sumbu.
Sumbu vertikal: jabatan, kekayaan, pengaruh, status sosial. Manusia dilatih sejak dini untuk mendaki ini. Rapor, ranking universitas, jalur karir — semua adalah latihan untuk naik secara vertikal.
Sumbu horizontal: waktu. Ia berjalan terus tanpa pengecualian. Ujungnya adalah kematian. Tidak ada yang lolos dari sumbu ini, tidak peduli seberapa tinggi posisi seseorang di sumbu yang pertama.
Setiap manusia bergerak menuju satu titik akhir koordinat. Yang berbeda hanya di mana mereka berhenti — dan apa yang tertinggal di sana.
Ada variabel ketiga yang hampir tidak pernah dibahas: ukuran dari titik itu sendiri. Seberapa besar jejak yang tersisa ketika koordinat akhir tercapai. Dalam kerangka Human Legacy Mapping, ini yang disebut bubble — representasi dari moral dan spiritual legacy. Dampak. Kebaikan yang ditinggalkan. Nilai yang tidak bisa berpindah tangan melalui dokumen hukum.
Dan ukurannya tidak ditentukan oleh seberapa tinggi sumbu Y seseorang.
Lanjut part 2 👇
1 809
Oleh: Ranggie Ragatha
Saya termasuk orang yang ga hitungan soal kerjaan, dulu waktu masih sekolah Saya sering bantu-bantu senior kalau ada keperluan. Kadang nyuci piring pas hajatan, bantu pindahan, dll. Saat mulai kerja Saya juga ga pernah nolak disuruh bantuin ini itu. Pernah disuruh fotocopy 500 halaman, ngerjain kerjaan departemen lain, ngirim barang, dll. Saya selalu inisiatif nawarin diri ketika ada yang minta bantuan.
Semua hal itu bikin karir Saya lumayan lancar. Dalam 3 tahun Saya udah jadi Superintendent (Asst. Manager), 5 tahun jadi Manager, dan 7 tahun Saya udah Senior Manager/GM. Pernah dulu Saya naik jabatan gara-gara rekomendasi senior Saya yang temennya bos Saya. Pernah juga naik gaji karena jadi ketua panitia sebuah acara kantor.
Orang itu lupa, ada namanya SKA (Skill, Knowledge, Attitude) dalam penilaian di dunia kerja. Orang pinter, skill-nya bagus, tapi jutek dan ga bersosialisasi ya sulit juga. Ada yang skill-nya pas-pas tapi bisa ngebakar semangat tim. Kerja itu bukan soal siapa yang paling pinter, tapi siapa yang paling bisa membuat perusahaan untung. Gitu sih ya…….
#INISIATIF
1 809
Work-life balance check: kompetisi seru tetap jalan, quality time bareng keluarga juga tetap aman 😎
Biar momen Hari Raya & cuti bersama tetap bisa dinikmati dengan maksimal, jadwal Lomba-Lomba ATE Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan kami atur supaya semuanya tetap nyaman
Yang lagi ambil cuti silakan nikmati momennya, recharge baterainya, dan jangan lupa balik dengan energi juara 🔋🔥
Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram#INISIATIF
1 809
Selamat kepada 4 tim berikutnya hasil match day Jum'at, 22 Mei 2026 yang berhasil melangkah ke Babak Top 32 Family 100 Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan 2026. Arena boleh panas, persaingan boleh ketat, tapi rasa hormat harus tetap jadi juara 🏆🇮🇩
#INISIATIF
1 809
Sebagian orang menebak. Sebagian lagi… seperti sudah lihat spoiler masa depan 👀🔮
Inilah 2 penebak jitu yang berhasil membaca arah pertandingan dan menebak dengan tepat tim pemenang pada Kick Off Family 100 Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan 2026 💥
🏆 The chosen ones:
1️⃣ @edorinalde – KC Jayapura (Insting paling akurat dengan benar 4 opsi)
2️⃣ Ibu Mondang – KC Palu (Benar 3 opsi & terpilih sebagai lucky winner)
Terima kasih untuk seluruh peserta yang telah ikut berpartisipasi dan membawa energi positif dalam setiap rangkaian kegiatan ATE. Sampai bertemu kembali di event berikutnya. Stay tuned & stay competitive 🇮🇩
https://www.instagram.com/p/DYqqgPLz_wo/?igsh=dHVnMXV0b3oyb2oy
#INISIATIF
1 809
+7
Behind every solid team, there’s connection ❤️
Kerja yang baik nggak cuma dibangun dari sistem, target, atau proses kerja yang rapi. Tapi juga dari trust, komunikasi yang sehat, dan chemistry yang tumbuh antartim. Karena saat orang-orang di dalamnya saling memahami dan punya energi yang sama, kolaborasi jadi lebih kuat, koordinasi jadi lebih efektif, dan layanan terbaik jadi lebih mungkin untuk diwujudkan 🇮🇩🤝
Gimana dengan mu? kamu tipe yang bonding lewat apa? 😄
https://www.instagram.com/p/DYoqDKYCWVz/?igsh=aDBrcXljeTdkN21t
1 809
Saling Respect Antar Tim, karena lawan di arena hari ini tetaplah rekan seperjuangan yang sama-sama hadir dengan semangat, strategi, dan performa terbaiknya 🇮🇩
Selamat kepada 4 tim lainnya (Hasil Match day Kamis, 21 Mei 2026) yang berhasil menyusul menuju Babak Top 32 Family 100 Semarak HUT ke-58 BPJS Kesehatan 2026 👏
Terus jaga semangat kompetisi yang sehat dan tunjukkan nilai #INISIATIF dalam setiap pertandingan 🔥
1 809
Tubuh itu ditemukan setelah pagi bergerak seperti biasa. Di sebuah sudut kampus di Makassar, ketika sebagian mahasiswa sedang bersiap masuk kelas, seorang mahasiswa ditemukan tak lagi bernyawa setelah diduga melompat dari sebuah gedung 😭
Baca selengkapnya 👇
https://www.timur-angin.com/2026/05/di-tengah-keramaian-anak-anak-itu.html?fbclid=IwdGRjcAR7S2JleHRuA2FlbQIxMQBzcnRjBmFwcF9pZAo2NjI4NTY4Mzc5AAEeYRehc2u9RCgXEBpFcupLI9irEICXauglixZlES62GpqL-vkSK93KS-GQiEw_aem_si3EtqGQ0F_CIVhbaAa02Q&m=1
#INISIATIF #TGIF
1 809
Kadang kemenangan dimulai bahkan sebelum pertandingan dimulai yakni ketika instingmu berhasil membaca siapa yang akan melangkah lebih dulu 🏆
Pada hari kick off Family 100 2026 kemarin, kami mengajak rekan-rekan Sobat ATE untuk ikut dalam challenge seru menebak 4 tim pertama yang akan menembus Babak Top 32 Besar. Ternyata, ada loh Sobat ATE yang benar-benar berhasil membaca arah permainan sejak awal
Tebak Benar 4 Opsi Sekaligus (otomatis berhak mendapatkan souvenir spesial)🏆 The one and only Kk @edorinalde (Plh. Kepala Kabupaten Puncak KC Jayapura) Tebak Benar 3 Opsi (akan diikutsertakan dalam pengundian untuk memilih 1 orang pemenang beruntung penerima souvenir)🎯 1. Kk @dzulhijjahazis (PATT EP3RS KC Makassar) 2. Kk @Servinashrman (PATT Telekolekting KC Muara Bungo) 3. Kk @rakhapkp (PATT Petugas Pemeriksa KC Banyuwangi) 4. Kk @anggisutan1906 (Staf Promprev KC Cibinong) 5. Kk @PapaNyaRanger (Verifikator Klaim KC Tigaraksa) 6. Kk @Jennyanggraini (Staf Perencanaan dan Pembukuan KC Sampit) 7. Kk @rizeuka (PATT Penagihan KC Medan) 8. Kk @abniamz (PATT Staf Mutu Layanan Faskes KC Mataram) 9. Kk @fridavanny (Verifikator Klaim KC Gunungsitoli) 10. Ibu Mondang (Kepala KC Palu) 11. Kk @ErniEkawaty (Staf Perencanaan dan Pembukuan KC Makassar)Stay tuned buat pengumuman selanjutnya
اکنون در دسترس! پژوهش تلگرام ۲۰۲۵ — مهمترین بینشهای سال 
