9 885
مشترکین
-224 ساعت
-127 روز
-10430 روز
آرشیو پست ها
9 885
Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, keikhlasan dalam beramal, serta keteguhan untuk berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat radhiyallahu 'anhum, serta menjauhkan kita dari syirik, bid'ah, dan segala bentuk penyimpangan dalam agama.
"Ikutilah sunnah, jangan membuat-buat perkara baru. Sesungguhnya kalian telah dicukupi dengan petunjuk yang telah Allah turunkan."
✍️FB: Andi Yushar
Reposted by : 👥 Grup wa manhaj salaf Channel telegram salafyways https://goo.gl/vLphkg
@salafyways_
@salafy_kids
9 885
Ritual Baru Generasi Z: Antara Tradisi, Hiburan, dan Jebakan Bid'ah dalam Tren Media sosial.
Channel telegram salafyways https://goo.gl/vLphkg
@salafyways_
@salafy_kids
Di era media sosial, berbagai tren muncul silih berganti. Ada tantangan (challenge), perayaan tertentu, ritual simbolik, hingga kebiasaan yang dilakukan secara serempak oleh banyak orang. Sebagian hanya berupa hiburan, namun tidak sedikit yang perlahan berubah menjadi ritual yang diyakini membawa keberuntungan, penolak bala, penghapus sial, pembuka rezeki, atau memiliki nilai ibadah tertentu tanpa dasar dari syariat.
Seorang muslim wajib berhati-hati. Islam telah sempurna. Tidak ada satu pun bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah kecuali telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Allah Ta'ala berfirman:
«"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian."
(QS. Al-Ma'idah: 3)»
Kesempurnaan agama ini menunjukkan bahwa siapa saja yang membuat tata cara ibadah baru seakan-akan mengatakan bahwa agama ini belum sempurna hingga perlu ditambah oleh manusia.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«"Barang siapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya, maka perkara itu tertolak."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)»
Dalam riwayat lain beliau bersabda:
«"Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan. Setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah kesesatan."
(HR. Muslim)»
Waspadai Ritual yang Dibungkus Tren
Tidak semua tren media sosial haram. Namun seorang muslim harus bertanya:
- Apakah ini hanya kebiasaan duniawi atau sudah menjadi ritual keagamaan?
- Apakah ada keyakinan tertentu di baliknya?
- Apakah ada dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah?
- Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat pernah melakukannya?
Jika suatu amalan dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah tetapi tidak memiliki tuntunan dari Nabi, maka itu termasuk bid'ah dalam agama.
Sebaliknya, perkara dunia seperti teknologi, alat komunikasi, atau cara menyampaikan dakwah bukanlah bid'ah syar'iyyah selama tidak dijadikan bentuk ibadah baru dan tidak bertentangan dengan syariat.
Jangan Tertipu Banyaknya Pengikut
Media sosial sering membuat seseorang mengikuti tren hanya karena sedang viral. Padahal kebenaran tidak diukur dengan jumlah orang yang melakukannya.
Allah Ta'ala berfirman:
«"Jika engkau menuruti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah."
(QS. Al-An'am: 116)»
Seorang muslim hendaknya mengukur setiap amalan dengan dalil, bukan dengan jumlah penonton, jumlah pengikut, atau banyaknya orang yang ikut tren.
Jalan Keselamatan Adalah Mengikuti Sunnah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«"Barang siapa di antara kalian hidup sepeninggalku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap bid'ah adalah kesesatan."
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh banyak ulama)»
Para sahabat memahami bahwa keselamatan ada pada ittiba' (mengikuti), bukan pada ibtida' (mengada-adakan).
Penutup
Jangan sampai media sosial menjadi pintu masuk munculnya ritual-ritual baru yang tidak dikenal dalam Islam. Seorang muslim yang mencintai Allah dan Rasul-Nya akan selalu bertanya:
"Apakah ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya?"
Jika jawabannya tidak, maka meninggalkannya lebih selamat bagi agama kita.
9 885
🍃# Mengqhada Shalat Witir Besok Di Waktu Dhuha🍃
Channel telegram salafyways https://goo.gl/vLphkg
@salafyways_
@salafy_kids
🌴🌴🌴
Pertanyaan:
إذا نمت عن صلاة الوتر ولم أؤدها في الليل فهل أقضيها وفي أي وقت؟
Jika saya ketiduran (kelewatan) shalat witir dan saya tidak menunaikannya di malam itu, kapan boleh saya mengqhadanya?
السنة قضاؤها ضحى بعد ارتفاع الشمس وقبل وقوفها، شفعاً لا وتراً، فإذا كانت عادتك الإيتار بثلاث ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصليها نهاراً أربع ركعات في تسليمتين، وإذا كان عادتك الإيتار بخمس ركعات في الليل فنمت عنها أو نسيتها شرع لك أن تصلي ست ركعات في النهار في ثلاث تسليمات، وهكذا الحكم فيما هو أكثر من ذلك، لما ثبت عن عائشة رضي الله عنها قالت: (كان رسول الله، صلى الله عليه وسلم إذا شغل عن صلاته بالليل بنومٍ أو مرض صلى من النهار اثنتي عشرة ركعة) رواه مسلم في صحيحه.
وكان وتره صلى الله عليه وسلم، في الغالب إحدى عشرة ركعة، والسنة أن يصلي القضاء شفعاً ركعتين ركعتين لهذا الحديث الشريف ولقوله صلى الله عليه وسلم: ((صلاة الليل والنهار مثنى مثنى)) أخرجه أحمد وأهل السنن بإسنادٍ صحيح وأصله في الصحيحين من حديث ابن عمر رضي الله عنهما لكن بدون ذكر النهار وهذه الزيادة ثابتة عند من ذكرنا آنفاً وهم أحمد وأهل السنن. والله ولي التوفيق.
Jawaban:
Yang sunnah diqhada (besok harinya) waktu dhuha ketika matahari telah meninggi dan sebelum berhenti ( menjelang masuk waktu dzuhur) dengan jumlah rakaat genap bukan ganjil.
-Jika kebiasaan engkau shalat waitir ganjil tiga rakaat pada malam hari kemudian engkau tertidur atau terlupa maka disyariatkan bagimu (qhada) shalat siang hari empat rakaat dalam dua kali salam (dua rakaat-dua rakaat).
-jika kebiasaan engkau shalat ganjil lima rakaat malam hari kemudian engkau tertidur atau terlupa maka disyariatkan bagimu (qhada) shalat siang hari enam rakaat dalam tiga kali salam (dua rakaat-dua rakaat).
🌴🌴🌴
Demikianlah hukumnya dan umumnya seperti itu sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:
“Dahulu jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terluput dari shalat malam (termasuk witir) karena ketiduran atau sakit, maka ia shalat (qhada) pada (besok) siang (dhuha) 12 rakaat” (HR. Muslim)
Kebanyakan jumlah shalat witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 rakaat dan termasuk sunnah mengqhadanya dengan rakaat yang genap dengan cara dua rakaat-dua rakaat (salam setiap dua rakaat) sebagaimana dalam Hadits yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Shalat malam dan siang itu dua rakaat-dua rakaat” (HR. Ahmad)
Dan hadits shahih dari Ibnu Umar akan tetapi tanpa penyebutan kata “siang”, ini adalah tambahan dari apa yang kami baru saja sebutkan. Wallahu waliyyut taufiq
Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/4532
Reposted by : 👥 Grup wa manhaj salaf Channel telegram salafyways https://goo.gl/vLphkg
@salafyways_
@salafy_kids
Raehanul Bahraen, @pogung-lor, 28 Jumadil Awwal 1434 H
Link Artikel:
https://muslimafiyah.com/mengqhada-shalat-witir-besok-di-waktu-dhuha.html
=====🌴🌴🌴🌴🌴=====
