es
Feedback
Sastra Pembebasan

Sastra Pembebasan

Ir al canal en Telegram

Kumpulan para pecinta sastra yg bukan hanya mencintai keindahan tapi ingin mengembalikan kehidupan Islam

Mostrar más
1 379
Suscriptores
Sin datos24 horas
Sin datos7 días
Sin datos30 días
Archivo de publicaciones
Sering kali takdir itu "mentertawakan" ambisi, cita dan harapan manusia yang hidupnya hanya menggantungkan pada kekuatan diri, tapi selalu pura-pura beriman pada takdir. (Uus Rusad) #waktunyabelajartawakal https://t.me/SastraPembebasan

Mengatur diri, mengatur orang lain dan "mengatur" Allah dengan aturan sendiri(akal dan hawa nafsu), adalah realitas yang dominan menguasai kehidupan manusia di dunia saat ini, dan perjalanan kehidupan manusia sejak ada di dunia sampai hari kiamat tiba. Semua itu Allah ciptakan untuk menguji manusia, apakah manusia akan tetap komit dengan pernjanjian yang ia lakukan dengan Allah di alam ruh, ataukah manusia akan melanggarnya karena tertipu rayuan dunia, terperdaya oleh bisikan setan, terbelenggu oleh hawa nafsu dan akalnya sendiri? Allah sengaja ciptakan semua godaan tersebut sebagai ujian, akankah ia tetap menjadi hamba Allah, ataukah ia menjadi hamba selain Allah? ( Uus Rusad) https://t.me/SastraPembebasan

Bolehkah Aku MenungguMu? (2) Uus Rusad Tidak melihat Tidak mendengar Tidak membaca Tidak menulis Tidak berpikir Tidak merenung Tidak juga dengan hati Semua hanya sebatas, Sebatas nyawa gerakan raga dan panca indera Itulah wujud mahluk Yang lebih hina dari domba Anehnya, Masih mengaku paling mulia Padahal akalnya tunduk pada dunia Nafsunya habiskan untuk memanja raga Dan si "Aku" nya begitu pede Pemeluk agama yang paling setia Oh, itu aku Dan bisa juga kau Atau kita, kami, dia, mereka Serta semua yang pura-pura lupa Tugas hidup di dunia Karena ruh yang terkekang raga Bolehkah aku menunggu Engkau bebaskanku dari penjara raga? https://t.me/SastraPembebasan

Bolehkah Aku MenungguMu? Uus Rusad Di mana Dirimu? Di mana qolbuku? Adakah pertemuanku denganMu? Saat jasadku jadi hijab yang begitu tebal Padahal dulu aku menyaksikanMu Saat Engkau bertanya padaku Saat aku bertanya padaMu, Hanya segala ciptaMu yang menjawab akalku, Tapi tidak dengan hatiku Sebab nafsuku menutup hatiku Sebab keakuanku mengalihkan pencarianku Sebab hidupku melupakan pertemuan denganMu Jika hari ini aku tak pantas bertanya, Bolehkah aku diam menungguMu? https://t.me/SastraPembebasan

“Salah satu tanda orang yang belajar ilmu hanya untuk adu-aduan kehebatan, atau hanya sekedar mencari perhatian orang lain adalah rasa malas mengamalkan ibadah-ibadah sunnah padahal ia mengetahui hal tersebut. Beda dengan orang yang belajar dengan tujuan murni karena Allah, saat mengetahui ibadah sunnah, pasti sesegara mungkin ia melakukannya” (Syekh Abdul Karim Basyarahil) https://t.me/SastraPembebasan

Ketika Allah dibutuhkan Nafsumu Uus Rusad Orang yang butuh dunia berbeda dengan orang yang butuh kebenaran di akhir perjalanannya. Seperti itu juga orang yang butuh pemberian Allah dengan orang yang butuh Allahnya tentu akan berbeda dari niat, ucap, sikap, dan tingkahnya. Artinya, orang yang butuh dunia dan pemberian dunia dari Allah, tentu akan terlihat beda dari tujuan hidup yang dijalani dengan orang yang butuh kebenaran Allah dan Allah semata. Jika engkau memulai langkah hidupmu karena dunia, maka engkau hanya akan menjadikan Allah sebagai sandaran kebutuhan nafsumu, bukan tempat berlabuh iman dan cintamu. Sebab iman dan cintamu telah engkau gadaikan untuk dunia. Hingga saat dunia engkau dapat, Allah hilang dalam butuhmu, dan engkau genggam dunia dengan bangga sebagai jerih payahmu dan kekuatan hidupmu. Wallahu a'lam https://t.me/SastraPembebasan

Islam itu mengajarkan ketaatan pada penganutnya, bukan mengajarkan agar penganutnya punya penilaian tentang Islam. Jika taat yang dimiliki, seorang muslim akan dibimbing bagaimana ia memposisikan diri sebagai hamba di hadapan Tuannya. Sedangkan jika penilaian yang dimiliki, seorang muslim akan sibuk menuntut Tuhan agar ia diperlakukan sesuai akal dan keinginannya. (Uus Rusad) https://t.me/SastraPembebasan

Dakwah itu Membangun Kesadaran, Bukan Memamerkan Diri yang Paling Benar Uus Rusad Jika menyalahkan sistem dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar, itu adalah benar secara syara. Namun, dalam praktek Amar ma'ruf nahi Munkar tsb, yang menonjolnya sikap merasa paling benar, itu mungkin persoalannya. Yang harus menjadi titik tekannya, setiap muslim wajib berdakwah, dan pada saat bersamaan setiap muslim wajib terus muhasabah dari setiap aktifitas dakwah yang dilakukannya. Dakwah itu menyadarkan, bukan menampakkan bahwa diri yang paling benar. Jika merasa metode dakwahnya yang merasa paling sohih, cukup itu diyakini dalam hati, atau di lingkungan internal kelompok dakwahnya. Sebab, kebenaran yang Allah berikan, bukan untuk satu kelompok atau segellintir orang, tapi untuk setiap manusia yang menyambut kebenaran Allah yang ditaburkan pada setiap saat setiap waktu pada seluruh jiwa manusia. Bisa jadi, inilah salah satu prasangka yang liar melihat para aktifis dakwah yang fokus pada perubahan sistem di satu sisi, namun, sering lupa untuk mengoreksi akan kealfaan dalam aktifitas dakwahnya, di sisi yang lain, yaitu sisi yang sangat jarang disadari, bahkan mungkin tidak dianggap sebagai suatu kekurangan sebagai keniscayaan selaku manusia yang lemah dan serba kurang serta serba terbatas Intinya, dakwah untuk perubahan sistem itu kewajiban. Memperbaiki uslub dakwah yang lebih Ahsan harus terus dilakukan. Dan terakhir, membersihkan hati dari berbagai penyakit hati merupakan sebuah kemestian khususnya, bagi para pengemban dakwah, agar dakwah perubahan sistem itu berangkat dari iman dan rasa cintanya pada umat dan agama, bukan berangkat dari sikap asobiyah dan keakuan diri. Inilah pentingnya menajamkan hati dengan kesadaran akan hubungan dengan Allah dalam setiap keadaan, dan menampakkan sikap Ihsan dalam interaksi dakwah. Agar hakekat dakwah itu nampak dalam kenyataan, bahwa yang mendakwahi dan yang didakwahi sama-sama ingat kepada Allah sehingga sama-sama sadar untuk taat kepada Allah, bukan sama-sama saling mencaci dan saling menyalahkan, sehingga Allah menjauhinya, dan dakwahpun hidup dalam kendali setan. Nau'dzubillah. Wallahu a'lam https://t.me/SastraPembebasan

Kaitan Niat, Ilmu, Amal dan Ma'rifatullah Uus Rusad Setiap amal yang dikerjakan, hasilnya tergantung pada niat yang ditanamkan dalam hati. Ketika kita hendak mencari ilmu atau mengamalkan ilmu, termasuk mengajarkan kembali ilmu yang dimiliki, akan melahirkan hasil sesuai dengan niat yang dimiliki dalam hati. Jika niat mencari ilmu untuk tujuan akhirat, maka Allah akan mengantarkan si pemilik niat sesuai dengan niatnya. Jika niat mengamalkan ilmu untuk mengenal Allah, maka amal tadi akan membawa si pelaku mengenal Allah dalam amalnya. Dan ketika niat mengajarkan ilmu hanya untuk taqorub kepada Allah, maka ilmu yang diajarkan tersebut akan membuat si pemilik ilmu itu merasa takut kepada Allah. Namun, jika niat mencari ilmu, mengamalkan ilmu, dan mengajarkan ilmu tujuannya untuk kehidupan dunia, maka ilmu itu hanya akan memberikan dunia dan akan berakibat mendapatkan dunia semata. Adapun akhirat dan mengenal Allah, hanya akan hidup di benak dan lisan semata. Ilmu yang kuat akan melahirkan niat yang kuat. Artinya, ilmu yang bermanfaat akan melahirkan niat yang benar. Niat yang kuat akan melahirkan kemampuan yang hebat. Kemampuan yang hebat akan melahirkan amal yang hebat. Amal yang hebat artinya amal Soleh yang ikhlas dan banyak. Amal yang hebat akan menjadi orang yang hebat. Selama kita punya niat yang baik, maka kita akan selalu dalam kebaikan. Kalau kita cerdas mengendalikan niat, maka waktu kita akan penuh dengan kebaikan. Artinya pintar memeriksa niat, selalu kontrol kesadaran. Banyak amal yang besar dikecilkan oleh niat. Artinya amal yang dipalingkan oleh niat yang salah. Banyak amal yang kecil dibesarkan oleh niat. Maksudnya, sekecil apapun amal akan menjadi besar dalam pandangan Allah ketika amal tersebut diniatkan semata-mata mengharap Wajah Allah. Niat yang kuat, yang baik, yang benar, dan yang ikhlas, adalah niat yang ditujukan hanya untuk wushul kepada Allah. Sampainya niat, ilmu, dan amal kepada Allah, tergantung dari seberapa sungguh-sungguh kita memperbaiki niat, memperbaharui orientasi ilmu yang dicari, dan meneguhkan amal dengan niat yang sempurna dan ilmu yang bermanfaat. Dan hakekat ilmu yang bermanfaat itu adalah ilmu yang selalu membimbing si pemiliknya untuk tiada henti membangun kesadaran akalnya dan hatinya, memperbaiki dohir dan batin dirinya hanya untuk mengenal Allah dalam arti yang sesungguhnya. Sehingga si pemilik ilmupun oleh Allah dibimbing, ditolong, dan selalu diberkahi, dan dengan Kuasa, Kehendak, dan Rahmat Allah ia pun sampai di Hadirat Allah. Tidak ada kata kegagalan dalam memperbaiki dan memperbaharui niat dalam mencari ilmu dan mengamalkan ilmu untuk mengenal dan sampai kepada Allah, kecuali hanya satu, yaitu ketika niat mencari ilmu, niat mengamalkan ilmu, dan niat mendakwahkan dan mengajarkan kembali ilmu itu, ketika hidup kita tidak bisa dibebaskan dari perbudakan hawa nafsu. Dan hawa nafsu inilah yang menjadi hijab ilmu menjadi tidak bermanfaat. Jika ilmu tidak bermanfaat, maka kita tidak akan pernah bisa marifatullah... Wallahu a'lam. https://t.me/SastraPembebasan

Allah-lah yang mengilhami seseorang bertobat dan Allah senang ketika seseorang bertobat. Tobat ini berasal dari karunia dan kemurahan Allah. Allah-lah yang mengilhami seorang hamba untuk taat, dan Allah pula yang menolongnya bisa melaksanakan ketaatan. Kemudian Allah memberi pahala atas ketaatannya, yang semuanya bermuara dan berasal dari karunia dan kemurahan Allah. Allah tidak membutuhkan segala sesuatu selainNya. Sebaliknya, segala sesuatu selain Allah, selamanya akan selalu membutuhkan Allah. Seorang hamba membutuhkan Allah dari mulai sebab sampai pada tujuannya. Apa yang tidak diinginkan oleh Allah, tidak akan pernah terjadi. Dan apa yang yang terjadi bukan karena Allah, tidak akan pernah memberikan manfaat. Wallahu a'lam. (Bersambung) https://t.me/SastraPembebasan

Hakekat Dunia Bagi Manusia adalah Proses Mengenal Allah (Bagian Enam) Uus Rusad Dengan uraian di atas, terbuktilah bahwa Allah semata yang memiliki segala puji. Pujian bagi Allah itu tidak dapat dihitung ketika mahluk memujiNya. Sehingga hanya Dzat Allah semata yang layak disembah, dicintai, disyukuri, dipuji, dan disanjung, sebagaimana yang dilakukan Allah terhadap DiriNya. Dzat Allah adalah seperti apa yang dipuji Allah Sendiri, yang tidak bisa dibandingkan dengan sebanyak apapun pujian yang mahluk tujukan kepada Allah SWT. Sebagaimana Dzat Allah yang layak dicintai, maka Sifat dan Perbuatan Allah juga layak dicintai. Semua Perbuatan Allah merupakan kebaikan dan harus dicintai. Kalaupun dalam Perbuatan Allah ada sesuatu yang dibenci hamba, hakekatnya itu sama sekali tidak layak untuk dibenci. Ketika Dzat Allah itu layak dicintai dan dipuji, maka apapun selain Allah yang dicintai, wajib mengikuti kecintaan kepada Allah, agar cinta itu berada dalam cinta yang benar. Dan inilah hakekat Ilahiah. Ilah yang hak adalah yang DzatNya dicintai dan dipuji. Apalagi kalau Dzat yang harus dicintai dan dipuji ini memiliki juga Sifat Kemurahan, Kenikmatan, Keindahan, Ampunan, dan yang memiliki Rahmat, maka harus semakin yakin, bahwa tiada ilah selain Allah, yang berkonsekuensi wajib mencintai dan memuji Allah SWT karena Dzat dan KesempurnaanNya. Seorang hamba wajib mengetahui, bahwa tidak ada yang berbuat baik dalam arti yang sebenarnya dengan memberikan berbagai nikmat yang nampak atau yang tersembunyi, kecuali Allah semata. Dengan istilah lain, seorang hamba wajib mencintai dan memuji Dzat Allah sebagai satu-satunya Ilah yang hak untuk dicintai dan dipuji; satu-satunya Dzat yang memiliki Kesempurnaan; dan satu-satunya Dzat yang memberi berbagai nikmat yang tidak akan pernah sanggup dihitung kepada seluruh mahluk yang Allah ciptakan. Karena Allah itu tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya, maka tidak boleh seorang hamba memiliki cinta yang juga menyerupai cinta kepada Allah. Sebagaimana tujuan manusia diciptakan hanya untuk menjadi hamba Allah saja, maka konsekuensi dari kehambaannya itu, manusia hidup di dunia hanya untuk tunduk kepada Allah yang disertai kecintaan kepada Allah SWT semata. Pujian kepada Allah SWT itu meliputi dua dasar, yang pertama, pengabaran tentang hal-hal yang memang Allah layak dipuji, di samping karena Allah memiliki sifat-sifat yang sempurna. Kedua, Allah layak dipuji karena sifat-sifat kesempurnaanNya, maka manusia wajib mencintai Allah dan haram menduakan cinta manusia kepada Allah SWT. Orang yang mengabarkan kebaikan seseorang tanpa disertai cinta kepada seseorang tersebut, maka itu bukan termasuk memuji orang yang dikabarkan punya kebaikan. Begitu juga, ketika ada seseorang yang mengaku mencintai orang lain tanpa mengabarkan kebaikan orang yang dicintainya tersebut, maka itu juga tidak termasuk orang yang sedang memuji. Sebab, inti memuji adalah mencintai, sekaligus mengabarkan kebaikan-kebaikan orang yang dicintainya. Pujian para Malaikat, para Rasul, para Nabi, dan hamba-hamba Allah yang mukmin merupakan wujud pujian Allah pada DiriNya Sendiri. Sebab, pujian mereka merupakan atas kehendak, perkenan, dan ciptaan Allah Sendiri. Allah-lah yang menjadikan seseorang memuji Allah. Ketika seorang hamba yang Allah pilih untuk memujiNya, maka si hamba tersebut termasuk hamba yang memuji Allah. Allah-lah yang menjadikan seseorang menjadi muslim, sehingga ia adalah seorang muslim. Begitu juga orang yang shalat dan yang bertobat, Allah-lah yang menjadikan seseorang yang menjadi ahli shalat dan ahli tobat. Dari Allah-lah datangnya segala kenikmatan dan kepada Allah-lah kembalinya segala kenikmatan. Nikmat memuji Allah berasal dari Allah, dan orang yang memuji Allah adalah orang yang Allah ilhamkan pada dirinya untuk memuji Allah. Awal dan akhir memuji berasal dan kembali kepada Allah. Sedangkan orang yang memuji Allah adalah orang yang mendapatkan nikmat dari Allah SWT.

Hakekat Dunia Bagi Manusia adalah Proses Mengenal Allah (Bagian Lima) Uus Rusad Yang kedua, mengenal Allah melalui keindahanNya. Jenis pengetahuan yang paling mulia itu adalah mengetahui dan mengenal Allah melalui keindahan. Pengetahuan jenis ini dimiliki oleh sedikit orang. Mereka mengetahui dan mengenal Allah melalui salah satu dari sifat-sifat Allah. Dan yang paling sempurna diantara yang sedikit ini adalah mereka yang mengenal Allah melalui kesempurnaan, keagungan, dan keindahan Allah. Segala sesuatu selain Allah tidak ada satupun yang menyerupai sifat-sifat Allah. Hingga sudah cukup bukti tentang keindahan Allah, andaikan hijab yang menutupi Wajah Allah disingkap, maka mahluk apapun yang memandang Allah tentu akan terbakar oleh kemuliaan Allah ( HR. Muslim dan Abu Musa al-Asy'ary). Semua keindahan lahir dan batin di dunia dan akhirat merupakan hasil dari ciptaan Allah. Lalu, bagaimana dengan Dzat yang menjadi sumber keindahan itu? Allah semata yang memiliki seluruh kekuatan, kemurahan, kemuliaan, ilmu, dan karunia. Dengan cahaya Wajah Allah, semua kegelapan menjadi terang benderang. Sebagaimana doa Rasulullah Saw untuk. Tha'if: "Aku berlindung kepada cahaya WajahMu, yang dengan cahaya WajahMu, kegelapan menjadi bersinar, urusan dunia dan akhirat menjadi baik".( HR. Ibnu Ishak dan Thabrany). Abdullah Bin Mas'ud berkata,"Bagi Rabb kalian tidak ada istilah siang dan malam. Cahaya langit dan bumi berasal dari Cahaya WajahNya".( HR. Thabrany). Allah adalah cahaya langit dan bumi. Jika tiba saat pengadilan pada hari kiamat, maka bumi bersinar karena CahayaNya. Diantara salah satu asma Allah adalah al-Jamil( Yang Maha Indah). "Sesungguhnya Allah itu indah dan Mencintai keindahan". (HR. Muslim). Keindahan Allah itu memiliki empat tingkatan. Yang pertama, keindahan Dzat. Yang kedua, keindahan Sifat. Yang ketiga, keindahan perbuatan. Yang keempat, keindahan Asma. Semua Asma' Allah itu baik. Semua sifat Allah itu sempurna. Semua perbuatan Allah itu mengandung hikmah, maslahat, adil, dan mencerminkan Rahmat Nya. Sedangkan, keindahan Dzat Allah itu merupakan keindahan apa adanya Allah, sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh siapapun selain Allah. Mahluk hanya memiliki definisi-definisi yang diberikan Allah kepada siapapun yang dimuliakan oleh Allah. Keindahan Allah itu tidak terusik oleh siapapun, terhalang oleh tabir jubah(Kemahabesaran) dan mantel( Kemahaagungan) Allah ( HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah). Ibnu Abbas berkata,"Tabir Dzat adalah Sifat, dan tabir Sifat adalah Perbuatan. Keindahan Allah ditabiri sifat-sifat kesempurnaan dan ditutupi dengan sifat-sifat keagungan dan kemuliaan". Tingkatan pengetahuan dan pengenalan hamba tentang keindahan Allah dimulai dari pengetahuan tentang perbuatan, dari perbuatan ke pengetahuan tentang sifat, dari pengetahuan tentang sifat ke pengetahuan tentang Dzat. Jika seorang hamba menyaksikan sesuatu dari keindahan perbuatan Allah, dia menggunakannya sebagai dalil tentang keindahan Sifat, kemudian dia menjadikan keindahan Sifat sebagai dalil untuk keindahan Dzat. Wallahu a'lam.(Bersambung) https://t.me/SastraPembebasan

Langkah awal untuk mengenal Allah adalah dengan menelaah kitab Allah yang tertulis dan yang terlihat. Kedua, mengenal Allah melalui keindahan Allah. Allah menyeru manusia untuk menelaah alQuran melalui dua jalan. Pertama, memperhatikan objek perbuatan pada seluruh mahluk dan alam. Kedua, memikirkan dan mengkaji tanda-tanda kekuasaan Allah yang bisa di lihat, di dengar dan yang bisa di nalar. Dalil-dalil yang terkait seruan untuk menelaah al-Quran diantaranya dalam surat al-Baqarah ayat 164, surat Ali Imron ayat 190, surat an-Nisa ayat 82, surat al-Mukminun ayat 68, dan surat Shad ayat 29. Berbagai macam objek perbuatan seluruh mahluk dan alam menunjukkan adanya perbuatan dan yang berbuat. Perbuatan menunjukkan kepada sifat, dan objek perbuatan menunjukkan adanya pelaku. Artinya, seluruh objek perbuatan mahluk dan alam semesta ini sebagai bukti keharusan akan keberadaan, kehendak, kekuasaan, dan ilmu Sang pemilik seluruh objek perbuatan mahluk dan alam semesta. Seluruh objek perbuatan mahluk dan alam semesta ini memiliki ragam spesifikasi yang menunjukkan kehendak pembuatnya, yaitu Sang pencipta, bahwa yang diperbuat Allah itu sekaligus dan tidak berulang. Jika dalam suatu objek perbuatan mahluk dan alam ada kemaslahatan, hikmah, dan tujuan yang terpuji, maka itu menunjukkan hikmah Allah. Jika dalam suatu objek perbuatan mahluk dan alam ada manfaat, kebajikan, dan kebaikan, berarti itu menunjukkan adanya Rahmat Allah. Jika dalam suatu objek perbuatan mahluk dan alam itu ada kekerasan, penyiksaan, dan adzab, berarti itu menunjukkan adanya murka Allah. Jika dalam suatu objek perbuatan mahluk dan alam itu ada kemuliaan dan perhatian, berarti itu menunjukkan adanya cinta Allah. Jika dalam suatu objek perbuatan mahluk dan alam terdapat penelantaran dan pengabaian, berarti itu menunjukkan adanya kebencian dan kemarahan Allah. Jika dalam suatu objek perbuatan mahluk dan alam itu ada kekurangan dan kelemahan, berarti itu menunjukkan adanya wujud janji Allah. Jika dalam suatu objek perbuatan mahluk dan alam itu ada pengaruh rahmat dan nikmat atas mahluk Allah, berarti itu menunjukkan adanya kebenaran Nubuwah. Jika dalam suatu objek perbuatan mahluk dan alam itu terdapat kesempurnaan, yang andaikan ditiadakan, tentu akan menjadi sesuatu yang kurang, berarti itu menunjukkan bahwa pemberi kesempurnaan itu lebih berhak atas segala yang terjadi. Dengan demikian, semua objek perbuatan Allah merupakan bukti akurat atas sifat-sifat Allah dan kebenaran apa yang pernah disampaikan oleh para Nabi dan Rasul. Objek perbuatan merupakan sesuatu yang terlihat mata, membenarkan tanda-tanda kekuasaan yang bisa didengar, yang dikuatkan dengan tanda-tanda kekuasaan yang memang telah diciptakan (QS. Fusilat: 53). Dengan kata lain, alQuran itu benar. Allah menjelaskan kepada manusia tanda-tanda kekuasaan Allah yang dapat diindera, untuk menunjukkan akurasi pengaruh Allah yang hanya datang dari Allah semata, yaitu dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran para Rasul Allah SWT. Tanda-tanda kekuasaan Allah membuktikan akan kebenaran Allah, sekaligus membenarkan kebenaran para Rasul Allah dengan ayat-ayat Allah. Rasul merupakan alat bukti dan yang diberi alat bukti, penguat dan yang diberi penguat. Bagaimana mungkin kita menuntut dalil terhadap Rasul, yang Rasul itu sendiri merupakan dalil akurat (QS Ibrahim: 10). Seorang Rasul lebih tahu tentang segala sesuatu yang perlu diketahui. Dan hakekat sesuatu yang bisa diketahui melalui Rasul, perbuatan Rasul, dan hukum yang dibawa oleh Rasul itulah yang dijadikan sebagai dalil. Itulah uraian singkat dari kitab Fawaidul Fawaid, Ibnu Qayyim alJauziyah yang terkait dengan proses mengenal Allah melalui telaah kitab Allah yang tertulis dan terlihat. (Bersambung). Wallahu a'lam https://t.me/SastraPembebasan

Hakekat Dunia Bagi Manusia adalah Proses Mengenal Allah (Bagian Tiga) Uus Rusad Kembali pada pokok pembahasan, bahwa hakekat dunia bagi manusia adalah proses mengenal Allah. Ada dua hal pokok yang menjadi objek pembahasan, pertama, makna proses dalam mengenal Allah. Yang kedua, makna mengenal Allah itu sendiri. Makna proses di sini tiada lain, bahwa apapun yang kita inginkan di dunia ini pasti menempuh yang namanya proses. Apapun yang kita kerjakan pasti ada prosesnya. Apapun yang menjadi aktifitas kehidupan kita sehari-hari akan selalu di hadapkan dengan yang namanya proses. Mau makan ada prosesnya. Mau minum ada prosesnya. Mau tidur ada prosesnya. Begitu juga mau shalat, bahkan bermaksiat sekalipun ada prosesnya. Hidup di dunia tidak cukup dengan berpikir atau berhayal tentang sesuatu, lalu sesuatu itu terwujud. Semua ada sunatullahnya, semua ada aturan mainnya. Lantas, apa yang menjadi pelajaran berharga, bahwa hidup di dunia itu adalah proses? Jawabannya, dunia ini adalah ladang amal, dunia ini adalah tempatnya berkeringat, dunia ini tempatnya berjuang, dan dunia ini adalah tempatnya beraktifitas. Jika dunia tidak dijalani dengan proses, maka kita sedang berhayal, bermimpi, dan berangan-angan. Kita tahu Allah itu yang menciptakan kita. Kita tahu dunia ini tempat beramal untuk bekal akhirat. Dan kita tahu bahwa kehidupan sebenarnya bagi manusia adalah akhirat. Pertanyaannya, apakah dengan tahu dan dengan harapan saja kita mampu mewujudkan semua fakta tadi? Tentu tidak jawabannya. Begitu juga ketika kita hendak berproses mengenal Allah. Ketika kita wajib mengenal Allah, bukan berarti kewajiban itu sebatas tahu dan paham. Mengenal Allah perlu bukti dan kesungguhan. Artinya, pengetahuan dan pemahaman tentang Allah wajib diturunkan dalam gerak dohir dan bathin manusia. Sebab manusia punya dua peran pokok dalam menjalani kehidupan, yaitu menempuh proses dohir dan batin dalam setiap aspek kehidupan, termasuk ketika hendak mengenal Allah. Wallahu a'lam (Bersambung) https://t.me/SastraPembebasan

Hakekat Dunia Bagi Manusia adalah Proses Mengenal Allah (Bagian Dua) Uus Rusad Singkatnya, tugas pokok manusia adalah mengenal Allah melalui petunjuk Wahyu dan mengenal Allah melalui pengelolaan segala sesuatu yang Allah ciptakan kepada manusia. Yang pertama menjadi hamba Allah. Dan yang kedua menjadi Kholifah Allah di muka bumi. Proses menjadi hamba Allah adalah proses mengenal Allah melalui pengajaran yang diberikan oleh para utusan Allah. Inti ajaran para utusan Allah adalah tauhid dan tata cara menjalani hidup di dunia dengan cara yang sesuai dengan petunjuk Allah melalui para RasulNya. Adapun proses menjadi Kholifah Allah di muka bumi adalah dengan menggali seluruh tanda-tanda ciptaan Allah sebagai proses mengenal Allah. Dalam proses menjadi hamba Allah seorang hamba harus mengawali langkah mengenal Allah dengan menyadarkan hakekat dirinya, yaitu dari mana dia berasal, untuk apa dia hidup dan akan kemana dia setelah mati. Sedangkan langkah awal proses menjadi Kholifah Allah adalah dengan menyadari akan peran dirinya di muka bumi. Peran dasar manusia hidup di dunia adalah menerima amanah untuk mencari, menggali, dan meyakini segala sesuatu yang Allah ciptakan di alam semesta ini adalah objek bagi manusia mengenal Allah melalui ciptaanNya, sekaligus memanfaatkan ciptaanNya untuk mengenal Allah dan menjaga ciptaan Allah agar tetap berlangsung sesuai aturan Allah. Dari sini, kita akan menemukan titik temu antara menjadi hamba Allah dengan menjadi Kholifah Allah di muka bumi. Titik temu itu terdapat pada proses mengenal Allah melalui Wahyu dan melalui ciptaan Allah. Satu sisi, manusia dituntut untuk mengenal dirinya untuk mengenal Tuhannya. Sisi yang lain, manusia dituntut mengenal ciptaanNya untuk mengenal Allah. Wallahu a'lam. (Bersambung) https://t.me/SastraPembebasan

Hakekat Dunia Bagi Manusia adalah Proses Mengenal Allah Uus Rusad Semua hal dalam hidup pasti menempuh proses. Sebab hidup itu sendiri adalah proses menuju mati. Matipun juga bagian dari proses menuju hidup abadi. Proses dalam hakekat hidup di dunia adalah inti tujuan hidup. Sedangkan hasil bukan bagian dari tujuan, tapi hanya sebagai motifasi agar proses hidup terus berjalan sampai proses itu berhenti dengan istilah kematian. Ketika Allah menegaskan dalam alQuran bahwa manusia diciptakan oleh Allah tiada lain hanyalah untuk menjadi hamba Allah. Makna lain menjadi hamba Allah adalah bahwa manusia disuruh Allah untuk mengenal Allah, sebagaimana sebelum Allah menciptakan jasad manusia di dunia, Allah mengenalkan pada ruh manusia bahwa Allah sebagai Tuhan manusia. Mengenal Allah di dunia adalah tugas satu-satunya manusia ada di dunia. Agar proses mengenalnya manusia kepada Allah sesuai dengan persaksian ruh manusia di hadapan Allah, maka Allah mengutus manusia-manusia pilihan Allah untuk mengenalkan manusia pada Allah. Itulah para Nabi dan Rasul yang Allah perintahkan untuk memperkenalkan Dirinya kepada manusia. Dengan adanya para Nabi dan Rasul yang ditugaskan Allah untuk membimbing manusia cara mengenal Allah dan bagaimana ruh manusia yang sudah berjasad ini bisa kembali mengenal Allah sebagaimana ruhnya dulu bersaksi bahwa Allah adalah Tuhannya manusia. Inilah hakekat hidup manusia di dunia. Manusia hanya ditugaskan untuk menempuh proses mengenal Allah dan mengelola alam semesta ini sebagai bagian dari proses mengenal Allah melalui berbagai ciptaan Allah di alam semesta. Wallahu a'lam (Bersambung) https://t.me/SastraPembebasan

paling tinggi? Semua perjuangan mengembalikan kehidupan Islam, tetap akan berada dalam perjuangan yang tidak akan beranjak pada pertolongan Allah, selama perjuangan tadi tidak dibarengi dengan kesadaran hanya untuk menjadi hamba Allah semata. فادخلي في عبادي وادخلي جنتي (QS. Al-Fajr: 29-30). Wallahu a'lam Daftar Rujukan: Kitab Syakhsiyah Islam Jilid 1 Kitab Daulah Islam Kitab Min Muqowimat Kitab Fikrul Islam https://t.me/SastraPembebasan

Ketika seorang muslim meningkatkan tsaqofah Islamnya untuk meningkatkan pola pikirnya, dan meningkatkan ketaatannya untuk memperkuat pola sikapnya; ketika ia berjalan menuju puncak kemuliaan, dan teguh dalam mengarungi puncak kemuliaan, bahkan semakin tinggi, dari yang tinggi ke yang lebih tinggi lagi; dalam kondisi seperti ini, dia bisa menguasai kehidupan dunia dengan sesungguhnya, serta memperoleh kebahagiaan akhirat melalui segala usahanya ke sana, dengan keyakinan penuh. Dia akan menjadi orang yang senantiasa dekat dengan mihrab, pada saat yang sama menjadi pahlawan perang (jihad). Predikatnya yang tertinggi adalah bahwa dia merupakan hamba Allah SWT. Dari sudut pandang aktifitas dakwah, pembentukan dan pengembangan kepribadian Islam ditujukan untuk menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya pemikiran dan perasaan, baik secara individu, masyarakat, ataupun Negara. Sedangkan dari sudut pandang kesadaran berhubungan dengan Allah, proses pembentukkan dan pengembangan kepribadian Islam adalah untuk menjadikan setiap pribadi muslim sebagai hamba Allah semata, bukan hamba akal, perasaan, atau segala sesuatu selain Allah. Dengan demikian, para pengemban dakwah ideologis yang sedang dan terus berjuang mengembalikan kehidupan Islam dalam seluruh aspek kehidupan, bukan hanya fokus pada aktifitas dakwah ideologis di tengah-tengah umat, namun pada saat bersamaan para pejuang ideologis memiliki semangat yang sama besar perhatiannya untuk menjadi hamba Allah. Karena hal ini seiring dengan konsep kepribadian Islam yang menuntut setiap muslim pada umumnya, dan para pengemban dakwah ideologis pada khususnya, bahwa dibentuknya konsep kepribadian Islam bukan sebatas membentuk pola pikir saja atau pola sikap saja yang tercerabut dari hakekat dimensi hubungan kehidupan manusia yang tidak akan pernah terpisah dengan penciptanya, dengan dirinya sendiri, dan dengan sesama manusia. Maksudnya, bahwa dalam proses pembentukan dan pengembangan kepribadian Islam, bukan hanya untuk mewujudkan terciptanya tatanan kehidupan di luar diri sendiri, tapi lupa pada diri sendiri. Bukan semata menuntut umat Islam untuk mengembalikan kehidupan Islam, tapi para penyerunya sendiri lupa untuk menghidupkan Islam dalam dirinya sendiri. Singkatnya, pada saat menyeru umat untuk menjadikan Islam sebagai agama sekaligus sebagai sistem kehidupan dalam masyarakat dan Negara, pada saat bersamaan harus menanamkan kesadaran berhubungan dengan Allah, baik ketika berhubungan dengan Allah, dengan diri sendiri, maupun dengan sesama dalam rangka menumbuhkan kesadaran hanya ingin menjadi hamba Allah semata. Dengan kesadaran hanya ingin menjadi hamba Allah semata, maka para pengemban dakwah ideologis yang sedang berjuang menegakkan kalimat Allah di muka bumi, lisan mereka senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah; hati mereka senantiasa dipenuhi dengan ketakwaan kepada Allah; anggota badannya senantiasa bergegas melaksanakan berbagai kebaikan. Mereka membaca Alquran dan mengamalkannya, serta mencintai Allah dan Rasul-Nya. Suka dan benci mereka hanya karena Allah. Mereka senantiasa mengharapkan Rahmat Allah, dan takut akan adzab Allah. Bersabar sambil terus melakukan introspeksi, disertai kepatuhan penuh dan bertawakal kepada Allah. Mereka konsisten dalam memegang kebenaran. Mereka selalu bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada orang mukmin, dan bersikap keras dan berwibawa di hadapan orang kafir. Akhlak mereka baik, tutur katanya penuh hikmah dan santun, hujjahnya kuat, dan mereka senantiasa menyerukan kepada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran. Jika para pengemban dakwah tidak menghidupkan kesadaran tertingginya, yaitu sebagai hamba Allah, di tengah-tengah guncangan yang bertubi-tubi dari musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, sementara mereka tidak bersama Allah di tengah malam dan di ujung waktu siangnya, bagaimana mungkin mereka bisa membuka jalan di tengah-tengah berbagai kesulitan? Bagaimana mungkin mereka bisa meraih apa yang mereka harapkan? Dan bagaimana mungkin mereka bisa mendaki tempat yang tinggi dan menuju ke tempat yang lebih tinggi dan

Menjaga supaya tidak terjadi perubahan pada pemikiran dan kecenderungannya, maka harus terus menerus diperhatikan bangunan pemikiran dan kecenderungannya di setiap waktu sepanjang hidupnya agar seseorang selalu memiliki kepribadian Islam--harus terus menerus adanya pengembangan dan peningkatan pola pikir dan pola sikapnya sampai akhir hayatnya. Istilah lainnya, harus menanamkan konsep nuju' Ilal Kamal (Menuju kepada kesempurnaan). Pengembangan pola sikap dilakukan dengan melakukan berbagai ketaatan dan selalu membangun setiap kecenderungannya terhadap sesuatu berdasarkan akidah Islam. Dan pengembangan pola pikir dilakukan dengan menjelaskan (mensikapi) setiap pemikiran berdasarkan akidah Islam dan memaparkannya dengan tsaqofah Islam. Inilah metode pembentukkan dan pengembangan kepribadian Islam. Ini pula metode yang ditempuh Rasulullah Saw. dalam mengajak manusia untuk memeluk Islam dengan mendakwahkannya pada akidah Islam. Ketika sudah memilih Islam, Rasulullah Saw. memperkuat akidah mereka dan memperhatikan keterikatan ini dengan pemikiran dan kecenderungan mereka berdasarkan akidah Islam. Secara ringkas, ada tiga tahapan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. dalam membentuk kepribadian Islam. Pertama, menanamkan akidah Islam. Kedua, membangun pemikiran dan kecenderungan berdasarkan akidah Islam. Ketiga, bersungguh-sungguh melakukan ketaatan dan mendalaminya dengan berbagai pemikiran Islam. Bagaimana dulu Rasulullah Saw. membina para sahabatnya dengan konsep kepribadian Islam untuk mempersiapkan mereka terjun di tengah-tengah masyarakat untuk menyerukan ide Islam. Dan ketika Allah memerintahkan pada Rasulullah Saw. dakwah secara terang-terangan, saat itu pula Rasulullah Saw. melaksanakan dakwah secara terbuka, yang sebelumnya, selama tiga tahun lamanya Rasulullah Saw. membina kepribadian para sahabat dengan akidah dan syariat Islam. Adapun indikator kesiapan para sahabat menyambut perintah dakwah secara terbuka, yaitu ketika tsaqofah para sahabat sudah matang, yakni akal mereka sudah menjadi jiwa yang islami dalam kurun waktu tiga tahun. Rasulullah Saw. pun merasa tenang dan meyakini kematangan pemikiran dan keluhuran jiwa mereka. Rasulullah Saw. menyaksikan kesadaran mereka atas hubungannya dengan Allah tampak menonjol pengaruhnya dalam perilaku mereka. Karena itu, Rasulullah Saw. menjadi sangat senang karena kutlah (kelompok) kaum muslim telah sangat kuat dan mampu menghadapi seluruh kekuatan yang ada dalam masyarakat Makkah pada saat itu. Mencetak Pejuang Islam dan Menjadi Hamba Allah Berkaca pada proses pembentukkan kepribadian Islam yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. kepada para sahabatnya dalam rangka mempersiapkan mereka terjun di tengah-tengah masyarakat untuk menyerukan Islam dan mengubah kondisi pemikiran dan perasaan masyarakat dengan ajaran Islam, maka proses pembentukkan kepribadian Islam itu tidak cukup dengan pola pikirnya saja yang landasannya Islam, atau pola sikapnya saja yang islami. Namun, kedua-duanya harus dibentuk secara bersamaan dan berkesinambungan. Bersamaan artinya, tidak boleh ada anggapan meremehkan salah satunya, dan menganggap lebih penting yang lainnya. Berkesinambungan maksudnya, selalu memperbaiki, mengembangkan, dan meningkatkan di setiap waktu sepanjang hidupnya, pola pikir dan pola sikapnya agar tetap mencerminkan kepribadian Islam. Kepribadian Islam tidak akan berjalan dengan lurus, kecuali jika pola pikir tersebut adalah pola pikir yang islami, yaitu yang mengetahui hukum-hukum yang dibutuhkannya, dengan senantiasa menambah ilmu-ilmu syariah sesuai dengan kemampuannya. Pada saat yang sama, pola sikapnya juga merupakan pola sikap yang islami, sehingga dia akan melaksanakan hukum syara bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk diterapkan dalam segala urusannya, baik dengan penciptanya, dengan dirinya sendiri, maupun dengan sesamanya, sesuai dengan cara yang memang disukai dan diridhoi oleh Allah SWT.

Sebuah Pengantar Konsepsi Kepribadian Islam: Mencetak Pejuang Islam dan Menjadi Hamba Allah SWT Oleh Uus Rusad Konsep Pembentukkan Kepribadian Islam Kepribadian pada setiap manusia tersusun dari dua unsur, yaitu pola pikir dan pola sikap. Dua unsur ini sebagai pembeda manusia dengan mahluk lain berdasarkan akal dan tingkah lakunya. Akal dan tingkah laku manusia menjadi penentu tinggi rendahnya seorang manusia. Tingkah laku manusia dalam kehidupan berjalan sesuai dengan pemahaman yang dimilikinya. Sehingga tingkah laku manusia terikat dengan pemahamannya secara pasti dan tidak bisa dipisahkan. Tingkah laku adalah aktifitas-aktifitas manusia yang dilakukan dalam rangka memenuhi naluri-nalurinya dan kebutuhan jasmaninya. Tingkah laku ini berjalan seiring dengan kecenderungan yang ada pada manusia untuk melakukan pemenuhan. Singkatnya, pemahaman dan kecenderungan manusia merupakan pilar kepribadian. Adapun yang dimaksud dengan pola pikir adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu--cara mengeluarkan keputusan hukum tentang sesuatu berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan diyakininya. Sedangkan pola sikap adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan naluri dan kebutuhan jasmaninya berdasarkan kaidah yang diimani dan diyakininya. Kaidah yang dimaksud dalam konteks pembentukkan pola pikir dan pola sikap ini adalah asas berpikir--akidah rasional--yang di atas akidah tersebut dibangun seluruh pemikiran tentang kehidupan secara praktis dan riil. Jika akidah yang digunakan untuk pola pikir dan pola sikapnya jenisnya sama, maka kepribadiannya merupakan kepribadian yang khas dan unik. Kepribadian yang khas dan unik dalam sudut pandang Islam adalah kepribadian yang lahir dari akidah Islam. Meskipun ada juga akidah selain Islam, entah itu sekuler atau sosialis-komunis, tetap dikatakan kepribadian yang khas dan unik. Sebab, yang menjadikan kepribadian itu khas dan unik terletak pada kaidah yang melandasi pola pikir dan pola sikapnya yang lahir dari akidah yang sama. Akidah yang rasional, yang mampu mengarahkan pada asas yang sohih harus lahir dari akidah rasional yang sesuai dengan fitrah manusia. Maksud dar fitrah ini yaitu, akidah rasional itu harus menetapkan bahwa fitrah manusia itu hakekatnya lemah dan selalu butuh kepada Sang Pencipta yang Maha Mengatur. Dengan kata lain, akidah yang mencerminkan sebagai asas yang sohih itu pasti sesuai dengan naluri beragama manusia. Dan akidah Islam merupakan satu-satunya asas yang sohih dalam pembentukkan kepribadian manusia dibanding dengan akidah sekuler atau akidah sosialis-komunis. Alasannya, Islam sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah agama Allah dan manusia adalah ciptaan Allah. Sehingga Allah Maha Tahu yang terbaik bagi manusia. Buktinya, bahwa akidah Islam mampu menemukan fitrah manusia itu beragama dengan melalui proses berpikir. Sedangkan akidah selain Islam, menemukan fitrah beragama melalui proses perasaan, atau menetapkan fitrah manusia melalui proses berpikir, tetapi tidak mengakui fitrah manusia yang butuh terhadap agama. Metode Rasulullah Saw dalam Pengembangan Kepribadian Islam Dengan menjadikan akidah Islam sebagai asas dalam pembentukkan kepribadian, konsekuensinya akidah Islam harus menjadi asas berpikir dan kecenderungan bagi seorang muslim--membangun kecenderungan dan pemikiran secara bersamaan pada seseorang berdasarkan akidah Islam. Namun perlu dicatat, proses pembentukkan kepribadian Islam itu tidak bersifat permanen. Karena tidak ada jaminan bahwa kepribadian ini selalu berasaskan akidah Islam. Adakalanya pada seseorang itu terjadi perubahan akidah pada aspek pemikirannya. Kadang juga perubahan itu terjadi pada aspek kecenderungannya. Yang menjadikannya berubah itu bisa karena seseorang itu lengah meninggalkan mafahim dan akidahnya; bisa karena tidak mengetahui bahwa mafahimnya bertentangan dengan akidah dan perilakunya; dan bisa juga karena setan tengah menguasai dirinya sehingga perbuatannya bertentangan dengan akidahnya.