Sofyan Chalid bin Idham Ruray
Ir al canal en Telegram
5 142
Suscriptores
-324 horas
-167 días
-5530 días
Archivo de publicaciones
#Fatwa_Ulama:
📝 Hukum Meninggalkan Sholat Jum'at dan Jama'ah karena Pekerjaan yang Tidak Bisa Ditinggalkan 🕌
✍ Fatwa Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa:
إذا وجد عذر شرعي لدى من تجب عليه الجمعة كأن يكون مسؤولاً مسؤولية مباشرة عن عمل يتصل بأمن الأمة ، وحفظ مصالحها ، يتطلب قيامه عليه وقت صلاة جمعة كحال رجال الأمن والمرور والمخابرات اللاسلكية والهاتفية ونحوهم ، الذين عليهم النوبة وقت النداء الأخير لصلاة جمعة أو إقامة الصلاة جماعة ، فإنه وأمثاله يعذر بذلك في ترك الجمعة والجماعة
🌴 "Apabila orang yang wajib sholat Jum'at memiliki udzur syar'i seperti penanggung jawab langsung atas satu pekerjaan yang terkait keamanan banyak orang dan menjaga kemaslahatan mereka, yang dituntut untuk tetap melakukannya di waktu sholat Jum'at seperti para petugas keamanan, lalu lintas, jaringan radio dan telekomunikasi, dan yang semisalnya, yang mendapat giliran bekerja saat adzan akhir sholat Jum'at atau saat iqomah sholat jama'ah, maka ada udzur bagi mereka untuk meninggalkan sholat Jum'at dan jama'ah (dengan tetap melakukan sholat Zhuhur)."
📚 [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/188]
══════ ❁✿❁ ══════
➡️ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵️
📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Join Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547
🎬Youtube: Ta'awun Dakwah
➡ Wajibkah bagi Wali untuk Meng-qodho’?
Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum meng-qodho’ bagi wali adalah mustahab, tidak wajib, karena apabila wajib maka ia berdosa jika tidak melakukannya, sedang Allah ta’ala berfirman,
وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى
“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” [Al-An’am: 164]
🌴 Catatan Kaki:
[1] Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 19/391.
[2] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/367 dan Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 19/387.
[3] Lihat Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 295.
[4] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/367.
[5] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/449-451.
[6] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 15/367-368 dan Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 19/386.
[7] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/263-264 no. 17575.
[8] Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 2/312 dan 19/395.
[9] Lihat Taudhihul Ahkam, 3/525.
══════ ❁✿❁ ══════
➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵
📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Gabung Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547
🎬Youtube: Ta'awun Dakwah
📝 Hukum Meng-qodho’ untuk Orang Lain yang Telah Meninggal Dunia ⛵
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
➡ Orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan ada dua keadaan:[1]
1) Udzurnya berlanjut sampai setelah bulan Ramadhan dan sampai wafat, maka tidak wajib atasnya qodho’. Seperti orang yang tidak berpuasa Ramadhan karena sakit, lalu sakitnya berlanjut sampai setelah bulan Ramadhan dan sampai wafat, maka tidak wajib atasnya qodho’, karena ia masih memiliki udzur sampai wafat.[2]
2) Udzurnya berakhir setelah bulan Ramadhan dan sudah memungkinkan baginya untuk meng-qodho’ puasa, namun ia wafat sebelum meng-qodho’, apakah boleh bagi orang lain meng-qodho’ untuknya?[3]
✅ Pendapat Pertama: Qodho’ puasa untuk orang lain hanya dibolehkan untuk puasa nadzar, adapun untuk mengganti puasa Ramadhan hendaklah dengan membayar fidyah. Ini pendapat jumhur ulama; Malik, Syafi’i, Ahmad dan selain mereka rahimahumullaah.
✅ Pendapat Kedua: Qodho’ puasa untuk orang lain dibolehkan untuk semua puasa wajib, apakah Ramadhan, nadzar maupun kaffaroh. Ini pendapat para ahli hadits dari kalangan Syafi’iyyah dan selain mereka rahimahumullaah.
✅ Pendapat Ketiga: Qodho’ puasa untuk orang lain tidak disyari’atkan sama sekali, tidak puasa wajib dan tidak pula puasa sunnah. Pendapat ini juga dinukil dari Malik, Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i rahimahumullah dalam pendapat beliau yang baru (al-qoulul jadid).
➡ Pendapat yang kuat insya Allah adalah pendapat kedua, yaitu boleh untuk semua puasa wajib, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
“Barangsiapa yang wafat dan masih berhutang puasa maka hendaklah walinya berpuasa untuknya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Ibnu Baz[4] dan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahumallah.[5]
Dan apabila tidak ada yang meng-qodho’ puasanya maka hendaklah dibayarkan fidyah dari harta peninggalannya, sama seperti orang sakit yang tidak dapat diharapkan kesembuhannya atau orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa. Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,
إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِي رَمَضَانَ، ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَصُمْ أُطْعِمَ عَنْهُ
“Apabila seseorang sakit di bulan Ramadhan, kemudian wafat dan ia belum berpuasa maka dikeluarkan fidyahnya.” [Diriwayatkan Abu Daud, Shahih Abi Daud: 2078]
Namun apabila ia tidak memiliki harta peninggalan maka tidak apa-apa baginya.[6] Dan dibolehkan bagi ahli waris untuk mengeluarkan fidyah dari harta mereka.[7]
Lihat pembahasan fidyah lebih detail dalam artikel Cara Membayar Fidyah.
➡ Siapakah yang Dimaksud Wali yang Dianjurkan Meng-qodho’?
Wali yang dimaksud adalah ahli waris, seperti anaknya atau selainnya dari kalangan ahli waris, namun apabila ada selain ahli waris yang mau meng-qodho’ baginya atau membayarkan fidyahnya maka tidak apa-apa.[8]
Akan tetapi yang afdhal adalah ahli waris yang melakukannya, karena qodho’ baginya adalah termasuk sebesar-besarnya perbuatan ihsan kepadanya dari ahli waris, dan tidak mengapa jika ada beberapa ahli waris untuk membagi hari-hari puasanya, dan tidak mengapa juga walau para ahli warisnya terdiri dari laki-laki dan perempuan, kemudian mereka melakukan puasa di satu hari yang sama.[9]
#Fatwa_Ulama:
🚧 Boleh Mencium Mahram, Tapi...!
✒ Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah
السؤال : هل يجوز للرجل أن يقبل أخته أو بعض محارمه مثل تقبيله لزوجته مع أن هذا منتشر في بعض الجهات؟
الجواب : يجوز للإنسان أن يقبل محارمه مثل: أخته، وعمته، وخالته، وهذا لا حرج فيه، وقد ثبت أن الصديق رضي الله عنه دخل على ابنته عائشة وقد كانت توعك أصابها بعض الحمى، فقبلها مع خدها، فالتقبيل جائز، لكن لا يكون مع الفم، الأولى أن لا يكون مع الفم، الفم يكون للزوجة أو السرية، أما تقبيل المحارم فالأولى والأحوط أن يكون مع الخد، مع الأنف، مع الرأس، هذا هو الأولى، لأنه أبعد عن الشهوة.
📥 Tanya: Apakah boleh bagi seorang laki-laki mencium saudara perempuannya atau sebagian dari mahramnya seperti ketika dia mencium isterinya seperti yang dilakukan oleh banyak manusia di beberapa tempat?
📤 Jawab: Boleh bagi seorang laki laki mencium mahramnya seperti saudara perempuannya, bibinya dan tantenya. Ini tidak masalah.
Dan telah disebutkan di dalam riwayat yang shahih bahwa suatu ketika Abu Bakr radhiyallahu’anhu menemui Aisyah yang sedang menderita sakit demam, maka beliau pun mencium pipinya.
Maka mencium mahram itu boleh, akan tetapi tidak boleh mencium di mulut. Yang lebih selamat adalah tidak mencium pada bagian mulutnya. Karena mencium pada bagian mulut itu hanya boleh dilakukan terhadap isteri atau budak wanita.
Adapun mencium kerabat wanita yang masih ada hubungan mahram maka yang lebih selamat dan lebih hati-hati adalah pada bagian pipinya, hidung dan kepala. Inilah bagian yg lebih pantas untuk dicium karena lebih menjauhkannya dari hal-hal yg dapat membangkitkan syahwat."
📚 [Fatawa Nur 'alad Darbi, 1/1563]
✏ Al-Ustadz Almanazil Billah, Lc hafizhahullah
💻 Sumber: http://sofyanruray.info/boleh-mencium-mahram-tapi/
══════ ❁✿❁ ══════
➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵
📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Gabung Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547
🎬Youtube: Ta'awun Dakwah
#Fatwa_Ulama:
🚧 Imam Besar Mazhab Syafi'i Membid'ahkan Sholat Roghaib dan Nishfu Sya’ban
✅ Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi'i rahimahullah berkata,
الصلاة المعروفة بصلاة الرغائب وهي ثنتى عشرة ركعة تصلي بين المغرب والعشاء ليلة أول جمعة في رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وهاتان الصلاتان بدعتان ومنكران قبيحتان ولا يغتر بذكرهما في كتاب قوت القلوب واحياء علوم الدين ولا بالحديث المذكور فيهما فان كل ذلك باطل ولا يغتر ببعض من اشتبه عليه حكمهما من الائمة فصنف ورقات في استحبابهما فانه غالط في ذلك
🌴 “Sholat yang dikenal dengan nama sholat roghoib, yaitu sholat 12 raka’at antara maghrib dan isya pada malam Jum’at pertama bulan Rajab, demikian pula sholat malam nishfu Sya’ban sebanyak 100 raka’at, maka dua sholat ini adalah bid’ah yang mungkar lagi jelek. Dan janganlah tertipu dengan penyebutan dua sholat ini dalam kitab Quthul Qulub dan Ihya ‘Ulumud Diin, dan jangan pula tertipu dengan hadits (palsu) yang disebutkan pada dua kitab tersebut, karena semua itu batil. Jangan pula tergelincir dengan mengikuti sebagian ulama yang masih tersamar bagi mereka tentang hukum dua sholat ini, sehingga mereka menulis berlembar-lembar kertas tentang sunnahnya dua sholat ini, karena mereka telah salah besar dalam hal tersebut.” [Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 4/56]
✅ Dalam kitab Asy-Syafi’iyah yang lain difatwakan bagi pemerintah untuk menindak tegas para pelaku bid'ah, berkata Ad-Dimyathi rahimahullah,
قال المؤلف في إرشاد العباد: ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الامر منع فاعلها: صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب. وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة، وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة، بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها. وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر. وصلاة الاسبوع، أما أحاديثها فموضوعة باطلة، ولا تغتر بمن ذكرها. اه.
🌴 “Berkata penulis dalam kitab Irsyadul Ibad: Dan termasuk bid’ah yang tercela, yang pelakunya berdosa, serta wajib bagi pemerintah untuk mencegah pelakunya adalah:
(1) Sholat raghoib 12 raka’at yang dikerjakan di antara Maghrib dan Isya pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab,
(2) Sholat nishfu Sya’ban 100 raka’at,
(3) Sholat Jum’at terakhir Ramadhan 17 raka’at dengan niat qodho sholat 5 waktu yang belum ia kerjakan,
(4) Sholat hari Asyuro 4 raka’at atau lebih,
(5) Sholat sunnah pekanan.
Adapun hadits-haditsnya palsu lagi batil, dan janganlah tertipu dengan orang yang menyebutkannya –Selesai-.” [Haasyiah I’anatit Thalibin, 1/312]
Selaras dengan fatwa ulama Arab Saudi,
وبالجملة فإنه لم يصح شيء من الأحاديث التي وردت في فضيلة إحياء ليلة النصف من شعبان وصوم يومها عند المحققين من علماء الحديث؛ ولذا أنكروا قيامها وتخصيص يومها بالصيام، وقالوا إن ذلك بدعة، وعظم جماعة من العباد تلك الليلة اعتمادا على ما ورد من الأحاديث الضعيفة واشتهر عنهم ذلك فتابعهم عليه الناس، تحسينا للظن بهم
“Dan secara umum, sesungguhnya tidak ada satu pun hadits yang shahih tentang keutamaan menghidupkan (ibadah) malam Nishfu Sya’ban dan puasa pada siangnya menurut para peneliti dari kalangan ulama ahli hadits, oleh karena itu para ulama mengingkari sholat khusus di malam itu dan puasa khusus di waktu siangnya, dan mereka berpendapat bahwa itu adalah bid’ah. Adapun sekelompok ahli ibadah yang mengagungkan malam tersebut karena bersandar pada hadits-hadits yang lemah, dan menjadi terkenal amalan ini dari mereka, kemudian diikuti oleh manusia karena berprasangka baik kepada mereka saja.” [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 3/61, no. 884]
══════ ❁✿❁ ══════
➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵
📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Gabung Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547
🎬Youtube: Ta'awun Dakwah
⛔ Empat Dosa Besar yang Mengundang Laknat Allah 'Azza wa Jalla 🚫
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
➡ Rasululullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ
• Allah melaknat orang yang menyembelih hewan untuk persembahan kepada selain Allah,
• Allah melaknat orang yang melindungi pencetus dosa,
• Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya,
• Allah melaknat orang yang merubah batas tanah orang lain.
📒 [HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu]
📙 #Beberapa_Pelajaran:
✅ Asy-Syaikhul ‘Allaamah Prof. DR. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,
المعنى الإجمالي للحديث: يحذِّر -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أمته من أربع جرائم، فيخبر أن الله تعالى يطرد من رحمته من ارتكب واحدةً منها
الأولى: التقرب بالذبح إلى غير الله، لأنه صرفٌ للعبادة إلى غير مستحقِّها
الثانية: من دعا على والديه باللعنة أو سبَّهما أو تسبب في ذلك بأن يصدرَ منه ذلك في حق أبوي شخص فيردُّ عليه ذلك الشخص بالمثل
الثالثة: من حمى جانياً مستحقاً للحد الشرعي فمنعه من أن يقام عليه الحد، أو رضي ببدعة في الدين وأقرّها
الرابعة: من تصرّف في مراسيم الأرض التي تفرز الحقوق فقدّمها أو أخرها عن مكانها، فينشأ عن ذلك اقتطاع شيءٍ من أرض غيره ظلماً
“Makna hadits ini secara global: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam memperingatkan umatnya dari empat kejahatan besar, seraya mengabarkan bahwa Allah ta’ala menjauhkan orang yang melakukan salah satu dosa besar tersebut dari rahmat-Nya:
➡ Pertama: Mendekatkan diri kepada selain Allah dengan menyembelih hewan, karena itu adalah persembahan ibadah kepada yang tidak berhak (syirik kepada Allah ta'ala).
➡ Kedua: (Orang yang melaknat kedua orang tuanya ada tiga makna):
• Mendoakan laknat untuk kedua orang tuanya,
• Atau mencaci kedua orang tuanya,
• Atau menyebabkan itu terjadi, yaitu ia melaknat orang tuanya orang lain, lalu orang tersebut balas melaknat orang tuanya.
➡ Ketiga: (Allah melaknat orang yang melindungi pencetus dosa ada dua makna):
• Orang yang melindungi pihak yang seharusnya mendapatkan hukuman pidana syari’at, maka ia menghalangi agar tidak ditegakkan hukum syari’at atasnya,
• Atau makna yang lain adalah ia meridhoi perbuatan bid’ah dalam agama dan membenarkannya.
➡ Keempat: Orang yang merubah batas-batas tanah yang memisahkan hak-hak kepemilikan, maka ia mengedepankan atau pun mengakhirkannya, sehingga terjadi perampasan bagian kepemilikan tanah orang lain secara zalim.
📚 [Al-Mulakhkhos fi Syarhi Kitab At-Tauhid, hal. 98]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
💻 Sumber: http://sofyanruray.info/empat-dosa-besar-yang-mengundang-laknat-allah-azza-wa-jalla/
══════ ❁✿❁ ══════
➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵
📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Gabung Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547
🎬Youtube: Ta'awun Dakwah
🚧 Hukum Meng-qodho’ Puasa di Hari Jum’at atau Sabtu
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
✅ Boleh qodho’ puasa di hari Jum’at atau hari apa saja selain dua hari raya (1 Syawwal dan 10 Dzulhijjah) dan tiga hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah).
Hanyalah yang terlarang puasa di hari Jum’at adalah puasa sunnah dengan maksud mengkhususkan hari Jum’at saja tanpa berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.[1]
➡ Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ
☘ “Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at untuk sholat tahajjud tanpa dilakukan di malam-malam yang lain, dan janganlah kalian mengkhususkan puasa di hari Jum’at tanpa hari-hari yang lain, kecuali bertepatan dengan hari puasa yang biasa dilakukan oleh seorang dari kalian.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
➡ Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,
لاَ يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ، إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ
☘ “Janganlah seorang dari kalian berpuasa di hari Jum’at, kecuali ia berpuasa sehari sebelumnya atau setelahnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Adapun larangan berpuasa di hari Sabtu maka haditsnya lemah.[2] Andai haditsnya shahih[3] sekali pun maka yang terlarang hanyalah mengkhususkan puasa sunnah di hari Sabtu, tanpa berpuasa di hari sebelumnya atau setelahnya.[4]
________________
🌴 Catatan Kaki:
[1] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 9/283 no. 16744.
[2] Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baz rahimahullah, 25/213 dan Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 20/36.
[3] Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan haditsnya shahih, sebagaimana dalam Tamaamul Minnah, hal. 406.
[4] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/463 dan Majmu’ Fatawa wa Rosaail Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 20/37.
══════ ❁✿❁ ══════
➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵
📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Gabung Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547
🎬Youtube: Ta'awun Dakwah
📝 Bolehkah Berpuasa Sunnah Sebelum Meng-qodho’ Puasa Wajib?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
✅ Pendapat Pertama: Tidak boleh berpuasa sunnah sebelum qodho’, tidak sah dan berdosa orang yang melakukannya. Ini pendapat Hanabilah.[1]
✅ Pendapat Kedua: Boleh selama waktunya masih lapang, tetapi lebih afdhal mendahulukan qodho’ Ramadhan. Ini pedapat jumhur ulama dan dikuatkan oleh Al-Lajnah Ad-Daimah[2] dan Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahumullah.[3]
➡ Pendapat yang kuat adalah pendapat yang kedua karena keumuman dalil. Hanya saja Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah memperkecualikan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal, bahwa seseorang tidak akan meraih keutamaannya sebelum qodho’ Ramadhan, karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian ia ikutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” [HR. Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshori radhiyallahu’anhu]
Dalam hadits yang mulia ini Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menetapkan dua syarat untuk memperoleh pahala puasa setahun, yaitu berpuasa Ramadhan dan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka siapa yang hanya berpuasa di sebagian Ramadhan dan belum meng-qodho’, ia tidak akan meraih pahala puasa setahun.[4]
Dan tidak boleh berpuasa dengan niat qodho’ dan niat puasa sunnah sekaligus.[5]
🌴 Catatan Kaki:
[1] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/442.
[2] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/382 no. 2232 dan 10/299 no. 2178.
[3] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/443.
[4] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/444.
[5] Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 10/383 no. 6497.
══════ ❁✿❁ ══════
➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵
📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Gabung Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547
🎬Youtube: Ta'awun Dakwah
📝 Kapan Awal dan Akhir Waktu Qodho’ Puasa Ramadhan?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Waktu awal qodho’ adalah sejak tanggal 2 Syawwal dan seterusnya selain di hari-hari yang diharamkan berpuasa, yaitu dua hari raya (1 Syawwal dan 10 Dzulhijjah) dan tiga hari tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah).
Adapun akhir waktu qodho’ maka tidak ada batasan waktu sahnya qodho’, hanya saja yang diwajibkan adalah sebelum Ramadhan berikutnya.
Dan dibolehkan menunda qodho’ sampai bulan Sya’ban sebelum Ramadhan berikutnya, akan tetapi lebih cepat lebih afhdhal, kecuali terdapat udzur syar’i.
➡ Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata,
كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ
🌱 “Aku pernah memiliki kewajiban qodho’ puasa, maka aku tidak bisa meng-qodho’ kecuali di bulan Sya’ban.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
✅ Apa Kewajiban Orang yang Menunda Qodho’ Sampai Ramadhan Berikutnya?
Orang yang menunda qodho’ karena udzur syar’i sampai Ramadhan berikutnya maka tidak apa-apa baginya, dan wajib baginya meng-qodho’ sesuai jumlah hari-hari puasa Ramadhan yang ia tinggalkan, tidak menjadi berlipat ganda.
Adapun orang yang menundanya tanpa udzur syar’i hendaklah bertaubat kepada Allah ta’ala dan wajib baginya meng-qodho’, juga sesuai jumlah hari-hari puasa Ramadhan yang ia tinggalkan, tidak menjadi berlipat ganda.
Dan pendapat yang kuat insya Allah adalah tidak wajib atasnya fidyah, karena hadits yang mewajibkannya lemah.[1]
✅ Bolehkah Qodho’ Puasa Tanpa Berurut?
Boleh qodho’ puasa tanpa berurut namun yang lebih afdhal berurut karena tiga alasan:[2]
1) Dikerjakan berurutan lebih menyerupai puasa di bulan Ramadhan.
2) Lebih cepat dalam menjalankan kewajiban.
3) Lebih berhati-hati, karena seseorang tidak mengetahui halangan-halangan berpuasa yang akan terjadi padanya.
🌴 Catatan Kaki:
[1] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/445-446.
[2] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/441.
══════ ❁✿❁ ══════
➡ Bergabunglah dan Sebarkan Dakwah Sunnah Bersama⤵
📡Markaz Ta’awun Dakwah dan Bimbingan Islam:
📮Gabung Channel Telegram: http://goo.gl/6bYB1k
📲Gabung Group WA: 08111377787
🌍www.facebook.com/taawundakwah
🌐www.taawundakwah.com
📱PIN BB: 5D4F8547
🎬Youtube: Ta'awun Dakwah
¡Ya disponible! Investigación de Telegram 2025 — los principales insights del año 
