ch
Feedback
Winjo_h

Winjo_h

前往频道在 Telegram

One shot and drable📓

显示更多
印度尼西亚37 072未指定类别
822
订阅者
-124 小时
-17 天
-130 天
帖子存档
Semua

Kita

Semoga Nadira tidak lahir Saya tidak mau jadi peramal tapi nyatanya kita diambang hancur

What if…
+3
What if…

nitip

photo content
+1

Mau ngarsip ini soalnya di IGS udah kuhapus
+3
Mau ngarsip ini soalnya di IGS udah kuhapus

Mahendra kedua katanya? Bukannya mereka sudah sepakat juga tidak akan pernah lagi membawa laki-laki yang sempat disukainya itu ke dalam obrolan hubungan mereka? Gila juga jika cemburu itu masih ada di hati Denis padahal mereka sudah sejauh ini. “Shit!” Hanya umpatan itu yang bisa keluar mengingat lidah Wina juga tajam pada sang kekasih, overacting? Wah itu menyakitkan kalau mau tukar posisi Wina bisa saja berkata yang tidak-tidak jika dibilang over acting oleh Denis. Bagaimana bisa ya Denis begitu sabar menghadapinya? Wina tidak akan mampu jika menghadapi dirinya sendiri. Kalau sudah sampai di titik Denis tidak tahan lagi dengan sikapnya apakah dia akan ditinggalkan dan menjadi pengelana kesepian tanpa tempat pulang lagi? Wina tidak akan mau itu terjadi, buru-buru kolom chat mereka dibuka dan benar saja di sana ada nama hotel tempat Denis menginap, tidak butuh berpikir panjang Wina langsung beranjak. Telah ada air mata yang menggenang hampir keluar saat Denis membuka pintu tanpa sambut sepotong senyum yang selalu Wina dapat, seketika rasanya sakit, dia begitu takut kehilangan laki-laki ini. Akan jadi apa dia tanpa jaket Denis yang senantiasa menutupi tangisnya? Akan jadi apa dia tanpa lengan Denis bersedia patah demi menyelamatkan lengannya?  “Tangan penting buat drummer tau.” Wina ingat mengucapkan kalimat itu saat tahu tangan Denis sudah tidak bisa lagi bersenang-senang dengan stick drumnya. “Tangan lebih penting buat penulis, cintaku.” Akan jadi apa dia tanpa cinta sebesar itu? Mau hilang arah lagi? “Mas?” Panggil Wina lirih begitu Denis di hadapannya kini. “Udah ketemu inspirasinya?”  Bagaimana cara menahan tangis? Menggigit bibir? Menggeleng kuat? Semua Wina lakukan tapi tangisnya masih tidak terbendung juga, dia menangis sembari merapalkan maaf, terjatuh patuh di dada bidang Denis tanpa balasan dekap. “Aku keterlaluan, aku bohong, aku minta maaf aku enggak akan mengeluarkan pembelaan apapun mas, aku salah, Sena salah. Maafin Sena.” Rasanya ada lega begitu Wina merasakan rambutnya dibelai pelan dan dekapan balasan yang dia nanti akhirnya datang jua. “Sumpah demi Tuhan aku cuma cari inspirasi, aku enggak berniat nyari orang lain untuk jatuh cinta, terus Jogja aku enggak akan—” “Mas juga minta maaf, mas keterlaluan kayaknya. Maksud mas tuh… apa mas enggak bisa jadi inspirasi abadimu?” Pelukan itu terlepas, air mata itu dihapus. Katanya Denis rela jadi apapun juga, dibayangkan bagaimanapun juga. Biarlah dia selamanya menjadi yang Wina cari seperti inspirasinya. Lalu Wina bilang bagaimana caranya? Bahkan saat memutuskan menetap Wina akan punya titik jenuh hingga mencari potongan inspirasi lagi, entah di Joga, di Bali, di Solo dimanapun. Pintu kamar tertutup, ada bibir yang dibungkam dengan bibir lainnya. “Tokoh kamu berikutnya kayak gimana?” “Mas-mas Jawa, yang Jawa banget. Yang kalau dipanggil “Mas” jawabnya, “Dalem dek”.” Denis pecah tawanya, apa dia kali ini tidak bisa jadi muse karena setengah dari jiwanya adalah batak bukanlah Jawa yang tulen? Tapi kalau cuma jawab, “Dalem dek.” Ya Denis juga mampu. “Sexy aja tahu mas, kalau dipanggil dek sama mas-mas Jawa kayak— KYAAAA OPPPAAAA!” Sentilan di jidat Wina membuat perempuan itu meringis tapi juga tertawa setelahnya. Namun setelah tawa itu padam ada hening, jika biasanya hening itu identik dengan dingin kali itu heningnya terasa hangat, punggung Wina masih menempel di pintu hotel, jemari Denis masih melalang 4 jari di tengkuknya, ibu jadi di pipinya, ujung hidung mereka hampir saling tempel, jaraknya terasa tiada. “Mas?” “Dalem.” Wina hampir tertawa lagi. “Kenapa kok natapnya kayak begitu?” Hanya gelengan pelan dan senyum Denis yang Wina dapat sebagai jawaban. “Dek?” “Hem?” “Dek, mas nikahi mau po?” -Selesai-

— D E K ;  “Part of Makassar, Mantra tentang Hujan.” — Lelehan gelato membasahi punggung tangan Wina, prawirotaman begitu panas tapi Jogja padat entah apa bus-bus besar berisi para wisatawan itu cari? Begitu pula Wina, apalagi yang dia cari di kota lain ketika sudah menemukan belahan jiwanya di Malang?  Jawabannya inspirasi! Terbiasa untuk berpindah-pindah tempat, menetap baginya terlalu membosankan, dia bisa mati busuk di Makassar tanpa karya. Jadi Wina memutuskan ke Jogja (lagi) entah sudah berapa kali dia menginjakkan kaki ke sana, tapi Jogja memang tempat yang membuat rindu meski terkadang tidak cukup membuat Wina ingin menetap. Dia hanya suka berjalan kaki menelusurinya kemana-mana, mengisi kartu transportasi dan berkeliling dengan kendaraan umum jika langkahnya sudah lelah. Kota ini punya seribu museum dan sebagai penikmat seni meski menggambar gunung saja miring, Wina begitu terlarut. Jangan tanyakan persoalan makanan sebab sudah lama dia menggilai bakmi Jawa, nasi goreng Jawa dan mas-mas Jawa (ehhh) yang terakhir bukan makanan tapi bisa dimakan kok. “Mas siapa ya?”  Laki-laki itu hanya menyilangkan tangannya menatap Wina jengah, merogoh tas pinggangnya dan memberinya tissue sebelum perempuan itu menjilati lelehan es di tangannya. “Baru ga ketemu sebulan muka mas berubah apa di mata kamu?” “Hehehe.” “Hehe doang?” Dia rasa-rasanya ingin menjatuhkan satu jitakan kecil tapi setelah di-hehehe perempuan itu malah melengos melewatinya begitu saja. “Siapa lagi yang cepu gue di sini?” Itu gumaman namun masih bisa didengar si laki-laki. “Percuma ya kamu ngehide mas tapi ga ngehide Mahendra sama Niko.” Wina menepuk jidatnya begitu menyadari ketololan itu sebelum kembali melahap gelatonya.  “Sena! Lihat mas!” Barulah langkah itu berhenti, berbalik dan memasang wajah cemberut carut marut pada Mahadewa Denis siregar yang tiba-tiba juga ada di kota yang sama. “Lagian kenapa disusul sih? Ah~ Aku cuma mau cari inspirasi! Bentar doang.” “Tapi diem-diem ga ijin terus nyuruh orang rumah pada jangan ngelapor?”  Wina berjalan lagi satu tangannya dipakai menutup telinga seakan tidak mau mendengar lanjutan omelan itu. “Kan mas juga bilang kalau update di satu tempat tuh tunggu kamu pergi dulu dari sana baru diupdate di sosmed takutnya ada orang jahat yang ngikutin kamu nyusul karena tahu kamu di sana. Sena! Denger ga sih kamu?” Wina berbalik lagi. “Aku update biar kalau ada pembacaku yang dekat kita bisa meet up, pembacaku rata-rata cewek dan followersku bahkan ga nyampe 20 ribu mas.” “Aku nih khawatir loh Sen!?” “Sena sudah besar dan sudah sering begini mas Dewa. Okay? Stop overacting!”  Wina berjalan lagi namun kali ini sudah tidak diikuti oleh Denis, laki-laki itu hanya menatap punggung terdiam dan mulai mempertanyakan kenapa harus begitu khawatir? Benar kata Wina ini bukan pertama kalinya dia menetap di kota lain demi sepotong inspirasi, apa yang dia takutkan? “Kamu bohong! Minggu lalu pas kita video call aku udah sadar kamu enggak di rumah tapi kamu bilang di kamar tamu, kamu kirim PAP lagi jogging tapi kayak malioboro tapi kata kamu itu taman macan di Makassar, apalagi yang bakal kamu tutupi? Apa cari inspirasi cuma alibi? Cari apa sih kamu sebenarnya di kota ini? Mahendra kedua?” Ketika Wina berbalik jarak mereka sudah terlalu jauh tapi ekspresi kekecewaan Denis masih ditangkapnya. “Mas tinggal di hotel, udah mas kirim locationnya ke kamu. Lanjutin aja cari inspirasinya, jangan lupa pulang aja pesan Mas.” — Entah sudah berapa kali Wina menghapus draft naskahnya, lagi dan lagi kalimat panjang Denis menghancurkan rangkaian narasinya.  Dia juga marah dituduh yang tidak-tidak, okelah dia berbohong karena pasti tahu Denis dan rasa khawatir berlebihannya akan menyusul padahal mereka sudah sepakat ketemuan itu 2 bulan sekali aja buat budgeting yang lebih baik, sia-sia rasanya menghamburkan banyak uang demi pertemuan kan target mereka berdua pertemuan abadi di bawah satu rumah yang sama.  Lalu tuduhan tidak berdasar Denis juga menambah sakit hatinya.

Sangat cocok dengan Membumi yang kalem itu😭👍👍👍 -eh emang bumi sekalem itu?😀🤏

TMI! Bumi emang orangnya tenang, kalem tapi bukan berarti dia laki-laki yang kurang menyenangkan. Bumi intinya kuat menahan ego dan pintar menempatkan diri, tipe orang yang kalau dilempar ke antartikapun bisa hidup.

Dan Bumi menahan tawanya, dia suka tantangan dan perang baginya bukan perlawanan tapi penaklukan.

Membelah Bumi (Lontara what if universe) Bumi yang masih muda tidak pernah terpikir untuk mengencani seorang perempuan, meski tidak ada yang melarang, sampai di tahun terakhir kuliahnya sang Ayah mulai bertanya-tanya. “Kok kamu enggak pernah ngenalin cewek kamu ya bang ke Ayah?” Bumi mengedip heran dan entengnya membalas, “ya karena ga punya hehe.” “Loh kenapa? Ayah enggak nerima alasan karena enggak ada yang mau ya bang.” Bumi menggaruk ujung alisnya, dia tidak pernah memperhatikan soal ada yang mau atau tidaknya… Bumi lebih ke tidak peduli urusan percintaan seperti itu. Dia terlatih untuk tidak menyimpan perasaan secara berlebihan pada sesuatu. “Hem… kata uncle Hamish—” “Aduh dia jangan didengerin bang!” Terkekehlah Bumi melihat respon sang Ayah. “Enggak, gini loh… ada benernya juga.” Bumi ikut duduk di sebelah Ayahnya, kamar kerjanya masih sama seperti hacker yang hidup dalam perpustakaan, ada dua buah layar komputer besar dan dikelilingi buku-buku yang sama sekali tidak menarik perhatian Bumi. ”Yah, Bumi tahu kali keluarga besar Bumi bukan keluarga sembarangan. Bumi ini nama belakangnya Kaliangga Yah, nama besar. Dari kecil Bumi udah diwanti-wanti jaga sikap karena seperti semua kebaikan yang Bumi lakukan, kecerobohan Bumipun enggak balik ke Bumi secara pribadi tapi ke Kaliangga.” Entah dari mana Bumi mewarisi sifat penuh hati-hati itu sebab seingat Ayahnya dia pribadi adalah orang yang gas ajalah, ngeremnya belakangan kalau ada tikungan. “Enggak perlu sampai segitunya apalagi soal cinta bang…“ “Perlu. Yah… Bumi orang yang meyakini perasaan Bumi enggak perlu berkelana dan capek akan patah hati karena ujungnya demi nama Kaliangga, keluarga tuh akan nyariin sendiri calon buat Bumi dan Bumi tahu itu pilihan terbaik…. TAKDIR.“ Ayahnya memutar mata malas. “Kuno bener dah isi kepalamu bang. Kalau ayah lahir dengan privilege kayak kamu beuh udah deh…” Ditatap lagilah Bumi yang nampak tanpa beban, ah… ayahnya hanya terlalu khawatir. “Tapi mungkin karena itu ya Ayah enggak dikasi hal demikian, takut jadi the next Hamish alias beban doang.” Bumi terbahak, dia paling suka memang kalau uncle Hamish diroasting. Tapi tawa Bumi membuat sang Ayah memandangnya lama, waah…. anak yang dinanti-nanti ini betulan beranjak dewasa dengan caranya. “Curang deh… Mama kamu tuh ninggalin Ayah tanpa apa-apa tahu bang. Enggak ada jejaknya, kamu mirip ayah enggak ada Mamanya sama sekali.” Bumi tertegun, bisa dihitung jari percakapan mereka menyinggung sang Ibu. Bumi takut membicarakan dan menanyakannya pada sang Ayah, lebih banyak Bumi mendengar tentang ibunya dari Hamish. Warna matanya, cara jalannya, bau kasturinya, pembawaannya, sikapnya yang lembut tapi terlalu kuat dari dalamnya. “Tapi pas kamu ketawa, kamu tuh mirip Mama kamu banget. Banyak-banyak ketawa ya Bang, Ayah seneng lihatnya.” Disuruh banyak ketawa Bumi malah mau menangis mendengarnya. Dan seperti TAKDIR yang dipercaya Membumi, diusia yang sudah sepantasnya menikah dia betulan dijodohkan dengan yang menurut keluarga besarnya setara dan seimbang. Perasaannya tidak sia-sia dan jatuh ke tempat yang tidak seharusnya, besarnya rasa cinta yang tidak pernah tercurah akhirnya jatuh pada satu perempuan saja, tapi TAKDIR seperti kata Ayahnya tidak pernah seindah itu. Takdir itu potongan dari drama juga tragedi, ada bahagia juga dukanya sebab saat Membumi percaya seluruh cintanya akan ada di tempat yang tepat dia malah mendapat… “Jangan sok baik, gue tuh mau dijodohin sama lo karena lo Kaliangga. Kalau bukan gue…. enggak tertarik. Your personality is suck tahu enggak, lo pasti tipe orang kaya yang enggak tahu party, having fun dan cuma bergelut sama bisnis keluarga—” Si perempuan mengacak rambutnya. ”I’m traped! Gue mau hidup keliling dunia pake canver fan, gue pengen mendaki everest, gue pengen bikin bom atom… you know what? I’m a chemistry freak! Persetanlah sama binis farmasi keluarga gue, gue ga mau bikin obat kanker terus mati karena diburu kaum elit global ya!!! Gue mau bikin bom atom aaaaaa!”

Guys mau what if cerita lain di luar titik nadir universe ga? Kalau mau drop aja requestnya, kalau bisa gue bikinin

photo content

ㅡ G O N D R O N G ; “Kamu ganteng gondrong gitu, kayak bapak waktu masih muda.” — Kata bapakku rambutnya tidak pernah panjang terlalu lama, bukan karena termakan stereotype kalau laki-laki harus punya potongan pendek hanya saja dia mudah gerah. Waktu mahasiswa rambut terpanjangnya adalah seleher, saat aku tanya kenapa dipotong? Jawabannya sama katanya karena gerah. Saat aku tanya kenapa dipanjangin? Katanya buat perlawanan dan akhirnya aku paham maksud bapakku di umur 20ku. Aku masih tahun kedua di universitas saat itu lalu tiba-tiba ada sebuah kegiatan dimana mahasiswa diperkenankan ke capitol, kami menyebutnya demikian seperti istilah di film lawas kesukaan ibuku the hunger game. Capitol adalah lambang kemewahan juga keserakahan dalam waktu yang sama, modern dan ketimpangan juga termasuk di dalamnya. Hanya orang-orang tertentu yang menikmati capitol, masyarakat biasa seperti aku hampir mustahil menginjakkan kaki di sana kecuali jadi kacung, kuli, atau pesuruh. Kota itu juga alergi akan mahasiswa kata Sona mungkin takut dikritik, takut buka boroknya, takut ini dan takut itu. Tapi kenapa takut sama mahasiswa? Yang penguasakan mereka. Singkat cerita ke capitol lah aku dan beberapa mahasiswa lain, sayang sekali Sona tidak termasuk karena catatan panjang bapaknya. Lalu bukannya sedih dia malah bangga dibanned dari tempat ini. Lalu apa yang aku lihat di Capitol? Bangunan megah luar biasa, taman-taman besar, semuanya serba wah. Kami diperlihatkan yang indah-indah saja, aku yakin begitu. Aku tidak cukup terkesan karena mengingat sejarah tempat ini adalah bagian paru-paru dunia, tempat suku asli dan semua itu dilenyapkan demi sebuah kota ‘masa depan’. Malamnya saat semua asik menikmati kamar-kamar dengan lampu gantung dan kasur empuk mereka, aku berjalan-jalan ke sekitar sebab rasa penasaran kira-kira dengan kota sebegini lengkap bagusnya apa yang dilakukan penduduknya? Apakah sama seperti Capitol di film? Hanya pesta, makan, saat perut mereka penuh mereka meminum obat agar bisa muntah dan kemudian makan lagi. Semoga Capitol ini tidaklah demikian. Semoga ruang-ruang bacanya penuh orang-orang ingin tahu, semoga fasilitas olahraganya bukan hanya pajangan dan semoga— “Apa tidak cukup kalian rampas semua ini?!! Tanah itu tanahku!!” ”Diam!!” Aku bergeming saat kepalanya dihantam sepatu laras. ”Kota ini sudah cukup besar pak, kenapa kami harus pindah juga? Kenapa harus diperluas lagi? Tanah itu tanah nenek moyang!” Satu orang lagi yang mulutnya sudah berdarah-darah tetap berbicara meski tetap berusaha dibungkam. Aku ingat memang ada rencana pembersihan di sekitar kota ini agar terlihat tetap ‘KOTA’ tidak peduli tanah perluasan itu tanah adat, tanah pertanian, tanah tempat tinggal. Penguasa tidak takut arwah, tidak takut petani apalagi sipil biasa. Aku menyaksikan dalam diam 4 orang itu disiksa dan dibotaki hingga habis. Rambut-rambut mereka lenyap dalam mesin cukur. Sejak itu aku membiarkan rambutku panjang. — ”Bang, kamu kok gondrong sekarang? Pusing Ibu lihatnya, kayak hippies.” ”Kuno banget dah istilahnya.” Cibir salah seorang adikku. Aku tidak menanggapi mereka, aku merasa ada kebanggan dalam rambut gondrongku, tidak perlulah orang tahu makna dan tujuan aku memanjangkannya. Lalu tangan-tangan yang lebih besar membelainya, menyisir dengan jari-jarinya, kudengar kekehan keluar dari bibirnya. ”Enggak gerah bang? Udah panjang banget ini.” ”Enggak pak.” Aku menggeleng. Kami terdiam lama tapi bapak Rahardjo alias bapakku sendiri ini tidak henti-hentinya membelai-belai rambut gondrong sebahuku, sekilas aku melihat senyuman tipis di wajahnya. “Ael enggak boleh gondrong ya pak?” “Siapa yang larang bang? Boleh. Perlawanan Kan milik semua orang,” Bapak mengambil gelas kopinya setelah menepuk bahuku. “Kamu ganteng gondrong gitu, kayak bapak waktu masih muda.”

POV bapaknya Ael bikin warung kopi
POV bapaknya Ael bikin warung kopi

TMI ‼️ Petra tuh pengen banget punya anak perempuan makanya dia ke Nadira tuh kayak sayanggggggg seperti anak sendiri. Tapi ya namanya bocah ngeliat Petra kayak pahatan berjalan gitu Nadira be like…. “i love you om” 🫶🏻 Terus Om Petranya cium pipi terus bilang I love you too, terus disaranin “Dira kalau sudah besar cari pacar kayak om Petra ya.” “Kenapa enggak sama om Petra aja?” “Ya enggak boleh dong sayang. Kan om seumuran bapak kamu, gimana kalau kamu sama Sona aja?” Terus Nadira pura-pura muntah.

Om Petra kesayangan Nadira dan kita semua🫶🏻
Om Petra kesayangan Nadira dan kita semua🫶🏻