Ask The Experts
前往频道在 Telegram
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
显示更多1 811
订阅者
无数据24 小时
+77 天
+2230 天
帖子存档
1 812
6 LATIHAN BERPIKIR STRATEGIS 👍
oleh: Vicario Reinaldo
Gimana caranya jadi tangan kanan atasan?
Salah satunya adalah punya kemampuan berpikir strategis
Caranya bisa dengan melatih kebiasaan ini ketika bekerja
Yuk kita bahas satu satu
1. Jelasin dampaknya ✅
Dalam 1 minggu Dalam 1 bulan Dalam 1 tahun
Orang yang berpikir strategis itu ga cuma mikirin jangka pendek, tetapi juga dampaknya di masa depan.
Mereka juga mikirin apa impact nya terhadap pencapaian tujuan organisasi.
2. Cari tau nilai prioritasnya ✅
Ketika ada masalah, pemikir strategis akan mikirin akar masalahnya di mana.
Sehingga mereka gak menyelesaikan permukaan masalahnya aja, tapi juga mencabut sampai ke akar. Jadi masalah yang sama gak berulang, dengan bertanya "Kenapa" sebanyak 5 kali.
3. Jika - Maka ✅
Jika rencana X gagal - maka gue akan ...
Pemikir strategis selalu punya lebih dari 1 rencana. Sehingga ketika gagal, mereka bisa lanjut strategi lain.
4. Selalu bawa data ✅
Bukan cuma ngandelin intuisi, tapi membuat keputusan berdasarkan data
• Hasil riset
• Tren terbaru
• Pendapat ahli
• Laporan keuangan
• Feedback pelanggan
5. Analisis SWOT ✅
Petakan dan pahami situasi sebelum buat keputusan strategis
• Apa kelemahan kita?
• Apa kekuatan kita?
• Apa peluang yang kita punya?
• Apa ancaman yang menghambat kita?
6. Six Thinking Hats ✅
Biasanya atasan butuh banyak perspektif berbeda sebelum membuat keputusan
Metode ini bantu lo memberikan pendapat yang kaya. Gak hanya fokus ke satu hal.
Adakah Sobat ATE yang beberapa kali atau bahkan hampir selalu dipercaya jadi tangan kanan atasan? kamu kelassss King 🫵💪#INISIATIF
1 812
TEMAN TAPI TOXIC 💔❤️🩹
Oleh: Emil Bachtiar
Selama ini, kita cenderung memahami toxic friendship sebagai persoalan orang lain. Teman yang suka mengatur, menyindir, atau membuat kita merasa tidak cukup baik. Namun dalam proses belajar dan merenung, kita mulai menyadari: bukan tidak mungkin, kitalah yang pernah menjadi teman yang toxic—bukan karena niat jahat, tetapi karena ketidaksadaran, luka lama, atau kebutuhan akan penerimaan yang berlebihan.
Toxic tidak selalu berarti keras atau menyakitkan secara langsung. Kadang ia hadir dalam bentuk perhatian yang memaksa, keinginan untuk selalu tahu, atau harapan-harapan yang tak diucapkan tapi membebani. Kita menyebutnya peduli, tapi bisa jadi orang lain merasa tertekan. Kita mulai mengenali pola-pola itu: Terlalu banyak memberi nasihat, padahal yang dibutuhkan hanya didengar. Mudah kecewa jika tak diutamakan, padahal semua orang punya prioritas masing-masing. Hadir dalam hidup orang lain, tetapi membawa harapan-harapan tersembunyi untuk dibalas.Dari sini, kita belajar bahwa niat baik saja tidak cukup. Dalam pertemanan, cara kita hadir bisa berdampak besar, bahkan ketika kita merasa sedang berbuat benar. Refleksi ini mengajak kita untuk mengenali, memperbaiki, dan tidak malu untuk berubah—demi hubungan yang lebih sehat dan lebih tulus. Setelah menyadari bahwa kita pernah, atau mungkin sedang, menjadi teman yang toxic, pertanyaan berikutnya sering muncul: apa yang akan terjadi? Apakah kita akan kehilangan semua teman? Apakah kita pantas berteman lagi? Realitasnya, perubahan tidak selalu langsung membawa perbaikan. Ada masa jeda. Ada jarak yang tercipta. Mungkin ada teman yang perlahan menjauh karena luka yang sudah terlanjur dalam. Mungkin ada rasa kehilangan dan kesepian yang datang ketika kita mulai menata ulang cara kita berteman. Namun proses ini penting. Karena dari sinilah kita mulai belajar membangun kembali relasi dengan cara yang lebih sehat—dengan tidak lagi menuntut, tidak lagi menekan, dan tidak lagi menjadikan orang lain sebagai tempat pelarian dari luka kita sendiri. Dalam proses ini, self-awareness menjadi titik tolak yang sangat penting. Tanpa self-awareness, kita hanya akan mengulang pola lama, mengira diri selalu benar, dan terus menyalahkan pihak lain ketika hubungan tidak berjalan baik. Self-awareness membantu kita: Mengenali pola perilaku yang tidak sehat, bahkan ketika niat kita baik. Membedakan antara kepedulian tulus dan kebutuhan tersembunyi akan pengakuan. Melihat bahwa pertemanan bukan hanya tentang “kita hadir”, tetapi bagaimana kita hadir. Menyadari bahwa tidak semua orang harus memberi kita tempat khusus, dan itu tidak berarti kita tidak berharga. Kesadaran ini juga mengajarkan bahwa pertemanan tidak selalu berarti kedekatan fisik atau intensitas komunikasi, tetapi rasa saling menghargai, memberi ruang, dan bertumbuh bersama. Kadang kita perlu kehilangan beberapa pertemanan agar bisa membangun ulang relasi yang lebih setara dan jernih. Kadang kita perlu menyendiri agar bisa menjadi teman yang lebih aman dan tidak lagi mengulang pola menyakiti. Dan mungkin, justru di titik inilah kita benar-benar belajar: bahwa berteman dimulai dari keberanian untuk melihat diri sendiri—dan mengubahnya.
Sudahkah Sobat ATE melakukan self-awareness terlebih dahulu sebelum menuduh orang lain Toxic?
😇#INISIATIF
1 812
oleh: Yusran Darmawan
Pernikahan Luna Maya terasa seperti pelunasan yang lama ditunggu, seakan semesta akhirnya memberikan keadilan bagi kisah seorang perempuan yang terlalu lama ditempa prasangka dan luka.
SEBUAH CERITA TENTANG LUNA MAYA 🔗
"Pernikahan mereka adalah pengingat bahwa cinta yang dewasa tidak datang untuk menghapus masa lalu, tapi untuk menemani perjalanan ke depan". Sobat ATE sepakat dgn kutipan ini? 💍#INISIATIF #TGIF
1 812
JARANG DIPUJI, TIBA-TIBA.... 😊
oleh: Afif Luthfi
Cerita teman di Coffee Shop. Ketemu barista/kasir.
Kopinya enak. Pelayanannya ramah.
Spontan ia memuji:
"Mas/Mbak, service nya bagus banget deh! Kopinya enak! Nanti aku kesini lagi yaa!
Mereka sumringah, seneng, hasil kerja mereka dihargai 🫂Mereka sedang bad day, who knows. Kita puji. Hati mereka adem. Di lain waktu, "Mbak make up kamu baguus!" Dia tersipu, malah kita ikutan happy. Sama-sama senyum. Jadi, apa pesan moralnya? Kita gak pernah tau, seberapa lelah seseorang menjalani harinya. Tapi kadang satu kalimat sederhana bisa jadi obat pelipur yang sejuk 🫶 Dipandang biasa. Namun, mampu membuat hati mereka berbunga.
Rekan-rekan Sobat ATE sedang/pernah punya rekan kerja yg suka spontan memuji juga gak? Kalimat positif apa yang pernah Beliau sampaikan hingga masih terus membekas di hatimu?
🥰#INISIATIF
1 812
MARKETING CERDIK DI BALIK MELEDAKNYA FILM JUMBO 🎬
oleh: Yusran Darmawan
Yang dilakukan tim Jumbo di dunia maya bukan promosi. Mereka menciptakan narasi paralel. Sejak film masih dalam tahap pengembangan, akun Instagram dan TikTok mereka sudah aktif—membagikan sketsa karakter, potongan cerita, hingga proses rekaman suara.
https://unhas.tv/marketing-cerdik-di-balik-meledaknya-film-jumbo/1?
Yuk absen sobat ATE yang sudah menonton film Jumbo 🤚🏻#INISIATIF
1 812
Part 2
3. Buat 3 target vertikal di tiap opsi
Di sini lo perlu bikin 3 tingkat kesulitan di tiap opsi lateral
Elit: Standar paling tinggi dan challenging
Plus: Standar "cukup"
Mini: Standar paling rendah, jadi lo tetap bisa melakukan habit di si di hari-hari paling sibuk sekalipun
4. Evaluasi tiap 15 hari
- Masih ga konsisten dan bolong-bolong
Solusi: Ubah target mini jadi lebih mudah
- Target mini terlalu sering, Plus dan Elite jarang banget
Solusi: Ubah target Plus jadi lebih mudah, mengecilkan gap antara Mini dan Plus
- Target Elite terlalu sering
Solusi: Target kurang challenging, tingkatkan kadarnya
Sistem yang bagus adalah yang realisasinya seimbang antara Mini, Plus dan EliteManfaat nerapin elastic habits: - Cenderung lebih awet jangka panjang - Kita secara konstan merasakan sense of acomplishment, karena melakukan habit tiap hari - Gak terlalu membebani, karena kita bebas milih aktivitas sesuai kondisi kita
Apakah ada Sobat ATE yang pernah nyoba strategi Elastic Habits ini? Yuk sharing dong pengalamannya#INISIATIF
1 812
ELASTIC HABITS 📊
Oleh: Vicario Reinaldo
❌ STOP bangun habit dengan aturan gini - Olahraga 30 menit/hari - Baca buku 10 lembar/hari - Upgrade skill 1 jam/hari Bagi beberapa orang cara ini ga ampuh dan ga bikin habit awet jangka panjangCoba pake cara yang lebih fleksibel ini Bangun habit yang awet jangka panjang itu emang susah-susah gampang Biasanya kita terjebak di siklus begini berulang kali - Semangat bangun habit mulai awal - Rajin di minggu-minggu awal - Mulai bolong-bolong - Terus nyerah 3 penyebab yang mungkin lo alami: - Bikin target yang ga realistis - Ga fokus, karena terlalu banyak habit yang dibangun - Buat sistem yang terlalu kaku Coba jadiin proses lo lebih elastis Elastic Habits Cara membangun kebiasaan baru yang lebih fleksibel sehingga bisa bertahan lama Teori ini berasal dari buku berjudul Elastic Habits Selain Atomic Habits, buku ini juga bisa jadi referensi buat lo yang lagi bangun habit Caranya gimana? 🤔 1. Pilih maksimal 3 habit Pilih kebiasaan yang ga terlalu spesifik, karena detailnya di next step Pilih habit yang mendukung value dan tujuan lo Contoh: Olahraga, menulis, bangun pagi 2. Pilih 3 opsi lateral di tiap habit Di sini lo mulai masuk ke action yang lebih detail Aktivitas apa yang mau lo lakukan untuk membangun habit di step 1 tadi Contoh: Olahraga - Push up - Bersepeda - Jogging Lanjut part 2 👇
1 812
The Four Burners Theory ✍️
oleh: Vicario Reinaldo
Kita semua pengen punya:
• Karir cemerlang
• Sehat fisik dan mental
• Pertemanan berkualitas
• Keluarga harmonis
Tapi dikit banget yang bisa dapat itu semua. Jadi sebenernya work-life balance itu realistis ga sih?
Yuk kenalan sama Four Burners Theory
Apa itu The Four Burners Theory?
Bayangin hidup lo direpresentasikan seperti kompor dengan 4 tungku
Setiap tungku mewakili aspek utama dalam hidup
"Untuk jadi sukses, lo sebaiknya mematikan 1 tungku. Untuk jadi sangat sukses, lo sebaiknya mematikan 2 tungku."
Jadi, apa 2 tungku yang akan lo pilih?
Kalau memilih fokus di karir dan keluarga, lo mungkin perlu mengurangi fokus di teman dan kesehatan
Kalau memilih karir dan kesehatan, lo mungkin perlu mengurangi fokus di keluarga dan teman
Emang ga bisa ya pilih semuanya?
Tenang, James Clear menawarkan 3 opsi yang lebih balance untuk menerapkan ini
1. Pakai kompor lain
2. Maksimalin kondisi
3. Membagi hidup jadi musim-musim
1. Pakai kompor lain
Karena daya kompor kita terbatas, kita bisa pakai kompor lain
Caranya dengan mendelegasikan tugas atau menggunakan teknologi sehingga kita bisa fokus ke aspek lain
Misal
• Nitipin anak ke day care / mertua
• Pakai Chat GPT untuk bikin draf dokumen
2. Maksimalin keadaan
Kita semua punya energi dan waktu yang terbatas
Jadi sadari dan manfaatkan keterbatasan itu dengan optimal
Misalnya
• Gimana caranya bisa perform dengan maksimal tanpa perlu lembur?
• Gimana bisa maksimal quality time sama anak kalau cuma ada 1 jam?
3. Musim-musim hidup
Membagi hidup jadi beberapa musim
Di setiap musim, kita punya fokus dan prioritas yang berbeda
Misalnya:
• Usia 20-30: Karir dan kesehatan
• Usia 30-40: Karir dan keluarga
• Usia 40-50: Keluarga dan teman
• Usia 50-60: Keluarga dan kesehatan
Rumusan prioritas di tiap musim itu tergantung banget sama fase hidup yang lo jalani dan preferensi lo
#INISIATIF
1 812
Pilih Dikritik atau Dipuji? 🤔
oleh: Emil Bachtiar
Dalam kehidupan sosial, hampir semua orang lebih menyukai pujian daripada kritik. Pujian memperkuat rasa percaya diri, mempererat hubungan, dan memenuhi kebutuhan dasar manusia akan penghargaan. Secara biologis, pujian juga memicu pelepasan dopamin, meningkatkan rasa senang dan motivasi.
Sebaliknya, kritik — meskipun sering dimaksudkan untuk membangun — cenderung memicu ketidaknyamanan.
Penelitian neuroscience menunjukkan bahwa kritik, terutama yang menyentuh harga diri, direspons otak manusia sebagai ancaman sosial, bahkan mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik (Eisenberger et al., 2003).
Ini menjelaskan mengapa kritik sering terasa lebih berat, bahkan ketika kita memahami niat baik di baliknya.
Namun, sikap terhadap kritik tidak mutlak. Ada spektrum penerimaan terhadap kritik:
Ada yang sangat defensif,
Ada yang terganggu tapi bisa merenung,
Ada pula yang relatif lebih terbuka, meskipun tetap merasakan ketidaknyamanan sesaat.
Mengapa kritik sulit diterima?
Beberapa sebab utamanya adalah:
1. Ancaman terhadap harga diri: Kritik sering dipersepsikan sebagai penilaian terhadap nilai diri, bukan sekadar koreksi atas tindakan.
2. Reaksi ego: Ego berfungsi mempertahankan citra diri yang utuh, sehingga kritik dipandang sebagai serangan.
3. Pengalaman masa lalu: Mereka yang tumbuh dalam lingkungan keras cenderung lebih sensitif terhadap kritik karena mengaitkannya dengan rasa sakit atau penolakan.
4. Pola kepribadian: Individu dengan kecenderungan narsistik memandang kritik sebagai ancaman besar terhadap citra superioritas mereka, sehingga cenderung menyangkal atau menyerang balik.
Sebaliknya, pujian tidak menantang identitas, melainkan memperkuat rasa harga diri dan keterikatan sosial, sehingga hampir selalu diterima dengan tangan terbuka.
Lalu, jika diberi pilihan, lebih baik dikritik atau dipuji?
Sebagian besar dari kita tentu lebih nyaman menerima pujian. Itu wajar. Namun dalam perjalanan pengembangan diri, kemampuan untuk menerima kritik dengan kedewasaan menjadi pembeda penting antara mereka yang bertahan di zona nyaman dan mereka yang bertumbuh.
Jawabannya bukan memilih salah satu, melainkan belajar menerima keduanya dengan bijaksana: - Menikmati pujian dengan syukur, - Menyambut kritik dengan ketangguhan, - Dan menggunakan keduanya sebagai sarana untuk menjadi lebih baik.#INISIATIF #TGIF
1 812
“KAMU GILA ATAU LINGKUNGAN KERJAMU YANG BIKIN GILA?”
(Tentang Bos Gaslighting dan Budaya Kantor yang Diam-Diam Merusak) 🫡
oleh : Afif Luthfi
Saya pernah mendampingi seorang profesional muda yang tiap minggu datang ke sesi coaching dalam keadaan lelah, bukan fisik—tapi mental. Dia bukan orang yang malas. Bahkan sebaliknya, dia rajin, komunikatif, dan punya inisiatif tinggi.
Tapi belakangan, dia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
“Jangan-jangan memang aku yang kurang kompeten…” katanya sambil tertawa getir.
Ternyata, bosnya sering membolak-balikkan fakta. Saat hasil kerja bagus, pujian diberikan ke orang lain. Saat ada kesalahan, tanggung jawab dilempar ke dia. Bahkan ide-ide orisinalnya sering dianggap remeh—lalu muncul kembali dalam presentasi atasan, seolah milik si bos sendiri.
Saya diam. Lalu bertanya pelan:
“Kamu sadar gak… kamu sedang mengalami gaslighting?”
Gaslighting di Tempat Kerja
Gaslighting bukan cuma istilah di hubungan romantis. Ia hidup dan berkembang juga di ruang meeting. Saat bos membuatmu ragu akan realita. Saat kamu dipermalukan di depan tim lalu disuruh ‘jangan baper’. Saat kamu dianggap ‘kurang inisiatif’, padahal kamu sebenarnya hanya takut dimatikan idenya.
Lingkungan yang Tidak Aman Secara Psikologis
Banyak organisasi gagal memahami satu hal penting:
Karyawan hanya bisa berkembang di lingkungan yang mendukung rasa aman.Bukan cuma soal keamanan fisik, tapi psikologis—tempat kita bisa jujur, bertanya tanpa takut dibodohi, mengkritik tanpa harus dimusuhi. Sayangnya, banyak tempat kerja masih mengedepankan fear-based culture. Pimpinan dijadikan sosok tak boleh dibantah. Feedback cuma formalitas. Kesalahan dipermalukan. Transparansi diganti dengan politik. Padahal, seperti yang dikatakan Amy Edmondson, “Psychological safety is not about being nice. It’s about candor, about being able to speak up.” (“Keamanan psikologis itu bukan soal bersikap manis atau baik-baik aja. Tapi soal keterbukaan, soal keberanian buat bicara jujur dan menyampaikan pendapat.”) Butuh Budaya Feedback, Bukan Budaya Takut Organisasi hebat bukan yang bebas dari kesalahan. Tapi yang membuat kesalahan bisa diolah jadi pembelajaran. Bukan tempat yang saling menghakimi. Tapi saling menguatkan. Bukan tempat yang membuatmu mempertanyakan kewarasanmu sendiri. Tapi tempat yang bertanya, “Apa yang bisa kita perbaiki bersama?”
Mari kita bangun budaya kerja yang sehat. Dimulai dari berani bicara—dan lebih berani mendengar
🤝#INISIATIF
1 812
“BISA KERJA TAPI GAK BISA INTERVIEW” — Apakah Dunia Kerja Cuma Buat yang Pandai ‘Acting’? 🤝
oleh : Afif Luthfi
Pagi itu, sambil nunggu loading Zoom meeting yang entah kenapa lemot banget, saya berselancar ke salah satu job portal. Lalu nemulah sebuah postingan yang meledak-ledak tapi jujur dan… menyayat.
“MUAK BANGET SAMA STANDAR INTERVIEW INDO! Sampe kapan sih perusahaan-perusahaan mau sadar kalo kita BISA KERJA tapi cuma GA BISA INTERVIEW?!”Seketika, saya diam. Bukan karena gak setuju. Tapi karena… saya paham. Kita hidup di dunia yang menjadikan komunikasi sebagai “mata uang” utama untuk masuk ke gerbang kerja. Tapi sayangnya, gak semua orang dilahirkan dengan skill komunikasi yang sama. Bahkan, banyak dari kita yang sebenarnya jago ngerjain tugas, tapi gugup saat harus “menjual diri” di depan pewawancara. Lalu… jadi gagal. Padahal skill komunikasi dan skill kerja itu dua hal yang beda dimensi. Satu tentang performa sosial, satu tentang kemampuan teknis. Tapi kenapa yang lebih berat malah pintu masuknya? Apakah Interview Itu Sekadar Ajang ‘Acting’? Pertanyaan ini menyengat. Benarkah interview itu hanya menguji siapa yang paling pintar “acting”, bukan siapa yang paling siap kerja? Di satu sisi, ya. Kita gak bisa munafik. Banyak banget proses rekrutmen yang masih menilai siapa yang paling lancar ngomong, paling percaya diri, paling “jualan” dengan gaya CEO TikTok. Padahal di balik panggung, yang kerja keras mati-matian belum tentu yang paling vokal. Tapi di sisi lain… kita juga harus ngerti perspektif recruiter. Bayangkan kamu disuruh memilih partner kerja. Kamu cuma punya waktu 30 menit buat mengenal mereka. Gak ada CV, gak ada portofolio yang bisa bicara sendiri. Yang kamu punya cuma obrolan singkat. Nah, apa yang akan kamu nilai? Ya, gimana mereka menjawab. Gimana mereka merespons. Gimana mereka membaca situasi. Makanya, bukan karena dunia kerja gak adil, tapi karena dunia kerja gak punya waktu buat mengenal kita sedalam itu. Maka ‘kesan pertama’ jadi satu-satunya pintu. Jadi, Haruskah Kita Semua Jadi Extrovert? Nggak. Tapi kita perlu belajar tampil. Bukan buat fake atau acting, tapi buat menyampaikan: “Hey, gue punya kemampuan. Tapi lo harus tahu dulu caranya gue nunjukin.” Komunikasi itu bukan tentang jadi cerewet. Tapi tentang bisa menjelaskan siapa kita dan apa yang bisa kita bawa ke meja kerja. Bahkan introvert pun bisa jago interview, asal tahu cara memetakan kekuatan mereka dan menyampaikannya dengan jujur dan tenang. Interview bukan ajang siapa paling heboh. Tapi siapa yang paling siap menyampaikan esensi dirinya, dengan cara yang paling autentik. Ayo, Re-design Proses Rekrutmen! Sisi lainnya adalah… kita juga bisa mulai push back. Generasi kita gak cuma boleh ngeluh, tapi bisa ngajak perusahaan duduk bareng, redesign proses rekrutmen biar lebih adil dan manusiawi. Misalnya: 1. Ada tes kerja nyata sebagai bagian dari proses seleksi 2. Interview dua arah, bukan interogasi satu arah 3. Ada pilihan untuk menjawab via video pre-record, bagi yang grogi live Karena zaman berubah, maka sistem pun harus ikut berubah.
Penutup: Yang Jago Acting Boleh Masuk, Tapi yang Jago Kerja Harus Diundang Duduk
Interview
itu penting. Tapi jangan sampai dia jadi satu-satunya alat ukur.
Karena dunia kerja butuh
doers
, bukan cuma
talkers
. Butuh
builders
, bukan hanya
debaters
.Kalau kamu merasa bisa kerja tapi susah interview — bukan berarti kamu gagal. Mungkin kamu cuma perlu satu langkah lagi: belajar menyampaikan nilai dirimu, bukan jadi orang lain. Karena di dunia yang keras, kadang cara kita “masuk” lebih menentukan dari apa yang bisa kita “kasih”. #INISIATIF
1 812
Salam INSIATIF ✅
✨🔥 COMING SOON 🔥✨
Ask the Experts #Edisi414
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts✨
Pernah gak sih kamu penasaran, strategi apa yang dipakai para pemimpin hebat sampai bisa membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi414 📝
⏰ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI ✨
Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram#INISIATIF #GrowthMindset
1 812
𝗠𝗲𝗺𝗯𝗮𝗰𝗮 𝗣𝗲𝘀𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗗𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮 𝗧𝗮𝘁𝗮𝗽𝗮𝗻 📱
oleh: Wicaksono
Orang bilang generasi sekarang lebih fasih mengusap layar gawai daripada mengangkat telepon. Anak muda bisa menghabiskan tiga jam menyusun takarir, tapi bingung saat harus menyusun dua kalimat dalam rapat.
Di ruang kelas atau kantor, mereka tampak hadir fisiknya, namun absen maknanya. Mereka tumbuh di dunia di mana emoji menggantikan ekspresi wajah, tanda baca mewakili intonasi, dan 𝘥𝘰𝘶𝘣𝘭𝘦 𝘵𝘢𝘱 di Instagram dianggap bentuk valid dari empati.
Fenomena ini bukan sekadar soal 𝘬𝘪𝘥𝘴 𝘯𝘰𝘸𝘥𝘢𝘺𝘴 yang terlalu sibuk main TikTok. Ini adalah bukti bahwa kita tengah mengalami revolusi komunikasi—sunyi, tapi mengguncang. Kita hidup di zaman ketika bahasa tubuh sudah tidak lagi terlihat, namun dampaknya tetap terasa.
Erica Dhawan menyebutnya sebagai era 𝘿𝙞𝙜𝙞𝙩𝙖𝙡 𝘽𝙤𝙙𝙮 𝙇𝙖𝙣𝙜𝙪𝙖𝙜𝙚, dan ia mengajukan pertanyaan penting: “Bagaimana kita membangun kepercayaan di dunia yang makin kehilangan tatapan mata?”
Bayangkan kita sedang menulis surat cinta, tapi tak bisa menambahkan aroma parfum, tak bisa melipat kertasnya, tak ada bekas coretan tangan. Yang ada hanya teks, terkirim dalam hitungan detik, dan entah bagaimana harus bisa menyampaikan rindu. Inilah tantangan komunikasi hari ini.
Dalam bukunya 𝘿𝙞𝙜𝙞𝙩𝙖𝙡 𝘽𝙤𝙙𝙮 𝙇𝙖𝙣𝙜𝙪𝙖𝙜𝙚: 𝙃𝙤𝙬 𝙩𝙤 𝘽𝙪𝙞𝙡𝙙 𝙏𝙧𝙪𝙨𝙩 𝙖𝙣𝙙 𝘾𝙤𝙣𝙣𝙚𝙘𝙩𝙞𝙤𝙣 𝙉𝙤 𝙈𝙖𝙩𝙩𝙚𝙧 𝙩𝙝𝙚 𝘿𝙞𝙨𝙩𝙖𝙣𝙘𝙚, Erica Dhawan menjelaskan bahwa kesenjangan dalam komunikasi modern bukan karena kurangnya teknologi, melainkan kurangnya pemahaman terhadap isyarat digital yang tak kasatmata.
“Reading messages carefully is the new listening. Writing clearly is the new empathy.” — Erica Dhawan
Membaca dengan cermat kini menjadi bentuk mendengarkan. Menulis dengan jernih kini menjadi ungkapan empati. Betapa ironisnya: di tengah kelimpahan alat komunikasi, justru makin banyak orang yang merasa tak dipahami.
Di banyak organisasi dan kelompok kerja, pertengkaran kecil biasanya berakar dari pesan yang salah tafsir. Seseorang tak menanggapi email dalam dua hari—yang lain menganggap itu sikap pasif-agresif. Seseorang menulis pesan singkat tanpa emoji—yang lain membaca itu sebagai marah.
“In the absence of body cues, we’re all just guessing.” — Erica Dhawan
Tanpa nada suara, anggukan kepala, atau senyuman di ujung kalimat, kita menjadi penebak emosi. Dan seperti permainan tebak gambar tanpa gambar, hasilnya bisa kacau. Komunikasi pun berubah dari seni menjadi arena perang sunyi.
Dhawan menawarkan panduan praktis: kapan harus memakai email, kapan lebih baik menelepon, dan bagaimana membangun koneksi hanya dengan teks. Ia mengidentifikasi empat prinsip utama:
1. 𝗩𝗮𝗹𝘂𝗲 𝗩𝗶𝘀𝗶𝗯𝗹𝘆 – Tunjukkan penghargaan secara eksplisit.
2. 𝗖𝗼𝗺𝗺𝘂𝗻𝗶𝗰𝗮𝘁𝗲 𝗖𝗮𝗿𝗲𝗳𝘂𝗹𝗹𝘆 – Kata-kata adalah senjata. Gunakan dengan presisi.
3. 𝗖𝗼𝗹𝗹𝗮𝗯𝗼𝗿𝗮𝘁𝗲 𝗖𝗼𝗻𝗳𝗶𝗱𝗲𝗻𝘁𝗹𝘆 – Jangan takut memperjelas atau bertanya.
4. 𝗧𝗿𝘂𝘀𝘁 𝗧𝗼𝘁𝗮𝗹𝗹𝘆 – Asumsikan niat baik, bukan kesalahan.
Tulisan ini bukan hendak menyalahkan generasi muda. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk memahami bahwa mereka sedang bertarung di medan yang tak kita kenal: dunia tanpa pelukan, tanpa tatap muka, tanpa jeda napas dalam percakapan. Mereka butuh kompas baru, dan buku ini mungkin salah satu peta jalan terbaik yang bisa diberikan.
𝘿𝙞𝙜𝙞𝙩𝙖𝙡 𝘽𝙤𝙙𝙮 𝙇𝙖𝙣𝙜𝙪𝙖𝙜𝙚 adalah jembatan—bukan hanya antar individu, tapi antar generasi. Ia menjelaskan bahwa empati kini tak bisa hanya diandalkan dari wajah, melainkan dari pilihan kata, kejelasan kalimat, bahkan kecepatan membalas pesan.
Di zaman di mana suara bisa dikalahkan oleh notifikasi, dan tatapan digantikan oleh titik tiga yang sedang berkedip, 𝘿𝙞𝙜𝙞𝙩𝙖𝙡 𝘽𝙤𝙙𝙮 𝙇𝙖𝙣𝙜𝙪𝙖𝙜𝙚 mengajak kita untuk tidak hanya berkomunikasi, tapi berempati. Karena kadang, yang tak tertulis bisa lebih keras dari yang diketik.
Siapakah yang akan mengajarkan generasi baru untuk membaca ‘bahasa tubuh digital’ jika bukan kita sendiri?
“The most important skill of the 21st century is not coding. It’s the ability to connect,” tulis Erica.
#INISIATIF
1 812
Mengapa Lapar itu ada? Siasat Atasi Lapar Masalah Sejuta Ummat✍️💪
oleh: Ade Rai
https://www.instagram.com/reel/DI3O7Y1zVAi/?igsh=cjVocmc3NnU1cHAx
#fitlife
1 812
RECHARGE YOUR ENERGY 👑
FYI. Besok kami akan coba spill salah satu contoh jenis game yang akan dimainkan pada kompetisi VG semarak HUT BPJS Kes. Semoga ujicoba besok bisa bermanfaat terutama bagi rekan-rekan yang sebelumnya belum pernah mencoba bermain Virtual Games karena baru join di Grup ATE. 😇
Jangan lupa bersiap ujicoba Sabtu (26/4) mulai pukul 16.00 WIB sd 19.00 WIB). Sampai bertemu buat keseruannya 🇲🇨
FYI, pada kompetisi resmi HUT nanti itu akan tersedia 10 jenis VG berbeda dengan ragam filosofi dan jenis tantangannya 🥳
1. Jangan lupa join di Grup Telegram ATE (Khusus Internal) 📱 https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1 2. Kami lagi mempertimbangkan untuk menggunakan juknis yang baru dalam proses perhitungan dan penetapan poin di kompetisi VG Tahun 2025 nanti (Kalau kalian ada ide dan masukan, boleh banget japri ke Tim ATE yah) 🫡 3. Biar makin semarak dalam sesi ujicoba game besok sore, ATE menyiapkan 1 buah souvenir kaos/Tote INISIATIF 2025 buat 1 orang pemain dengan peringkat terbaik 🥰#Weekend
1 812
Tuhan Tidak Bermain Dadu 😇
Seekor cheetah berlari sambil berdoa, “Tuhan, aku lapar...”
Seekor gazelle berlari sambil memohon, “Selamatkan aku, Tuhan...”
Lalu, doa siapakah yang akan dikabulkan?
Pertanyaan ini bukan untuk dijawab—tapi untuk direnungkan. Karena hidup bukan tentang siapa yang Tuhan bela, melainkan tentang peran, kesadaran, dan keikhlasan yang kita jalani.
Sering kali kita menilai doa dari hasilnya. Tapi semesta tidak bekerja sesederhana itu. Terkadang, kita adalah pemburu yang merasa pantas menerima hasil karena usaha.
Di waktu lain, kita adalah yang diburu—yang hanya ingin bertahan dalam rasa takut dan harap.
Namun di balik semuanya, Tuhan sedang menyusun harmoni, bukan drama acak. Tuhan tidak sedang melempar dadu untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Setiap peristiwa, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun, adalah bagian dari orkestra agung bernama kehidupan.
Mungkin si cheetah gagal hari ini, tapi tetap hidup untuk esok. Mungkin si gazelle selamat sekarang, namun tetap harus waspada di lain waktu. Dan mungkin, keduanya dikabulkan—dengan cara yang tidak kita pahami, tapi mereka butuhkan.
Karena dalam spiritualitas yang sejati, Doa bukan hanya soal dikabulkan atau tidak, tapi soal keikhlasan dan kesadaran.
Sudahkah kita hadir penuh dalam doa kita?
Sudahkah kita menjadi bagian dari keseimbangan semesta?
Tidak ada yang kebetulan. Semua adalah pesan. Termasuk rasa lapar... dan rasa takut.
Kalau kamu sendiri, menurutmu… doa siapa yang seharusnya dikabulkan?
#INISIATIF #TGIF
1 812
YOUR GROWTH'S STEPS 💪
oleh: Paulus Aditya Hernawan
Punya ide keren tapi takut memulai?
Sepertinya ini masalah banyak orang.
- Takut dihujat?
- Merasa belum pantas?
- Merasa bukan siapa-siapa?
Apapun alasannya, ide dan potensi yang ada dalam diri kita layak untuk dikulik lebih lanjut dan dibagikan kepada dunia.
Bagaimana caranya?
Yuk kita explore dengan roadmap simple ini 👇
1. Kelilingi Dirimu dengan Komunitas Tepat ✅
Inovasi lahir dari interaksi! Temukan 2 komunitas yang sesuai dengan minat kalian—baik online maupun offline.
Gabung, diskusi, dan bagikan ide. Jangan hanya pasif atau jadi silent reader.
Kreativitas berkembang saat ada inspirasi dari berbagai sudut!
2. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil Akhir ✅
Terlalu perfeksionis ternyata tidak membuat kita menjadi produktif, malah justru sebaliknya: stuck.
Lalu harus gimana?
Luangkan waktu untuk berkarya. Lepaskan beban untuk jadi sempurna. Fokus ke prosesnya. Catat progres agar tetap termotivasi.
Hasil memang penting, tapi proses untuk menuju hasil harus menjadi fokusnya. Dalam hal ini konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan.
3. Berani Eksperimen! ✅
Inget gak waktu kecil, kita sering mencoba melakukan banyak hal tanpa dipusingkan hasilnya akan gimana.
Dulu, kita bebas mencoba apa saja tanpa takut gagal. Kenapa sekarang ragu?
Sekarang:
- Coba hal baru, apa saja bebas.
- Catat pengalamanmu.
- Bagikan apa yang sudah dilakukan.
Kalau gagal gimana? Bahkan kegagalanpun adalah sebuah pengalaman yang bisa dijadikan bahan belajar.
Kadang ide terbaik muncul dari kegagalan yang tak terduga!
4. Bangun Jejak Digital ✅
Di jaman sekarang ini, tanpa kehadiran online, kita seakan-akan tidak ada. Pilih salah satu platform dan tunjukkan diri kita.
Buat blog, Instagram, X, Threads, LinkedIn, atau media sosial yang mencerminkan siapa dirimu.
Post agar orang-orang tahu siapa kita.
Apa yang kita tulis?
- Siapa kita.
- Apa yang kita suka.
- Apa yang kita bisa.
- Sudut pandang kita terhadap sesuatu.
Pilih yang paling nyaman.
5. Rayakan Kemenangan Kecil ✅
Banyak orang yang malu membagikan apa yang sudah mereka bisa/pelajari/hasilkan karena merasa belum pantas.
Namun, bagaimana orang lain tahu progres kita kalau kita sendiri tidak merayakannya?
Jangan tunggu sempurna baru berbagi!
Posting progres harian:
Bisa sketsa, insight, atau behind-the-scenes.
Orang lebih relate dengan perjalanan kita daripada hanya hasil akhirnya!
6. Cari Feedback & Terus Belajar ✅
Berbagi karya berarti siap menerima opini, baik yang membangun maupun yang kurang relevan.
Kuncinya?
Jangan baper, kritik bukan serangan pribadi, tapi peluang untuk berkembang.
Buat sesi feedback dengan mentor, komunitas, atau audiens. Dengarkan, saring pola yang muncul, lalu eksekusi.
Tetap percaya pada insting kreatifmu!
Banyak orang stuck karena ingin hasil sempurna. Namun, kunci berkembang adalah pada prosesnya.
Luangkan waktu untuk berkarya. Hilangkan tekanan untuk jadi sempurna.
Catat progres, sekecil apa pun. Karena konsistensi lebih penting dari kesempurnaan. Semakin kita berproses, semakin kita berkembang.
Jadi, sudah siap mulai hari ini? 🤝
#INISIATIF
1 812
Mahkotamu sedang dalam Perjalanan King/Queen 🔗
Selamat kepada Bapak/Ibu dan rekan-rekan yang terpilih dalam kegiatan ATE Edisi 413 dengan Tema Dari Gugup ke Glowing (Kuasai Panggung dan Presentasi dengan Teknik 10-20-30 & 4MAT), yaitu:
1. Kak @Rama_Isya (PATT RO KC Sukabumi)
2. Ibu Desvita Yanni (Kepala KC Sintang)
2. Kak Sri Adhiyati @Sriadh (Staf PMPF KC Kisaran)
3. Kak Dheaaa @deyaaaq (PATT Adm Klaim KC Sidoarjo)
Terima kasih atas partisipasi Sobat ATE, semoga ilmu yang telah diberikan narasumber itu dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya Narasumber dan keluarga. Amin ya Rabb
Sampai bertemu kembali pada kelas pembelajaran selanjutnya. Tetap CONTINUOUS LEARNING 🇮🇩📖
#INISIATIF #FunandMeaningful
1 812
#rekaman Ijin share link rekaman kegiatan ATE Edisi 413 "Dari Gugup ke Glowing (Kuasai Panggung dan Presentasi dengan Teknik 10-20-30 & 4MAT) bersama M. Firdaus Ramadhan". Semoga ilmunya bermanfaat 💯
https://youtu.be/qkhtSWP7M-Y
1 812
Kalau Ide Tak Diakui, Haruskah Kita Berhenti Berkarya? 🤝
oleh : Afif Luthfi
Ada satu cerita yang sering kali berulang dalam dunia kerja, tapi jarang disuarakan. Seorang karyawan muda dengan segudang ide datang dengan semangat. Ia duduk rapat, lempar ide brilian, dan merasa sudah memberi kontribusi besar.
Namun beberapa hari kemudian—ide itu muncul lagi. Di presentasi kawan atau atasan. Tanpa namanya disebut. Tanpa sepatah pun pengakuan bahwa itu berasal dari dirinya.
Kalau kamu yang mengalami, apa yang akan kamu lakukan?
Ini bukan soal pencitraan. Ini soal rasa memiliki.
Ketika sebuah ide dicuri atau tidak diakui, yang tercuri bukan cuma konsep. Tapi juga harga diri, semangat, dan bahkan harapan.
Karyawan merasa tidak dihargai, seolah-olah dirinya hanyalah mesin penghasil solusi—tanpa ruh dan tanpa nama.
Tapi begini, mari kita tarik napas dan melihatnya dari sudut yang berbeda👇1. Pertama, kamu harus belajar membedakan antara pencurian ide dengan strategi organisasi. Tidak semua ide yang digunakan tanpa namamu itu artinya kamu dikhianati. Ada organisasi yang memang budaya pengakuannya rendah, tapi tetap mendengarkan. Mereka menyimpan ide baik, lalu mengemasnya ulang agar lebih layak dipresentasikan ke level yang lebih tinggi. Jika kamu marah duluan, kamu kehilangan kesempatan untuk tetap didengar. 2. Kedua, ada cara lain untuk tetap berkarya. Mulailah membiasakan mendokumentasikan idemu. Kirim email. Simpan jejak digital. Sampaikan dalam forum-forum resmi. Dengan begitu, kamu mengirim sinyal bahwa kamu bukan cuma kreatif, tapi juga punya keberanian intelektual. 3. Ketiga, ide itu seperti benih. Kadang kita yang menanam, tapi bukan kita yang panen. Dan itu tak selalu buruk. Kalau kamu bekerja di tempat yang benar, lambat laun orang akan melihat siapa yang konsisten menanam. Jadi, kalau ide tak diakui—apakah harus berhenti berkarya? Tidak. Karena berhenti berkarya adalah cara tercepat untuk dilupakan. ✍️
“Anda bisa mencuri ide seseorang, tapi Anda tidak bisa mencuri cara berpikirnya.” – Anonim#INISIATIF
现已上线!2025 年 Telegram 研究 — 年度关键洞察 
