CLARA GABRIELLA
前往频道在 Telegram
Hiduplah seakan-akan kau akan mati besok. Belajarlah seakan-akan kau akan hidup selamanya. - (Mahatma Gandhi) Bot curhat / gabut : @Clrgbrllabot
显示更多845
订阅者
无数据24 小时
-377 天
-7030 天
帖子存档
Ch ini masih aktif jadi jangan seenaknya keluar tanpa ijin. Kalian sudah besar pasti di ajarkan sopan santun dong. Jadi biasakan konfirmasi ke bot jika ingin keluar.
Repost from RENTIK
Here we go again...
Aku tau ini akan terjadi lagi cepat atau lambat. Karena dari dulu siklusnya selalu sama. Dan slalu kamu yang pergi sedangkan aku kembali menata pecahan pecahan nya. Lucu ya? kadang aku berpikir selamanya itu milik kita. Tapi aku lupa 'selamanya' hanya ada dalam kata bukan realita.
Aku sempat terbuai dengan caramu membuat ku nyaman, sampai aku lupa bahwa kamu juga yang akan meninggalkan. Harusnya dari awal aku sudah tak membuka pintu itu lagi, tapi kamu.. kamu slalu punya kuncinya –kamu slalu tau kelemahan ku. Dan aku benci itu.
Kemarin kata mu "tak akan pergi" tapi kini kata itu tak lebih dari angin lalu.
Kemarin kata mu "akan tetap di sini" tapi kini kamu bahkan enggan melihatku.
Kemarin kata mu "aku tak akan mengecewakan" tapi kini kamu bahkan menghancurkan.
– Relung Kata
Kalau tau akan mendapatkan rasa sakit yang seperti ini , saya lebih memilih untuk mati rasa daripada harus merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa ini.
Seperti halnya senja yang mengalah pada malam, seperti halnya juga aku yang mengalah pada seseorang yang kau cintai, tak sopan bila aku tetap ada jika dihatimu saja bukan lah diriku.
Setidaknya sempat ada aku dihidupmu, menemani hari-hari mu yang sepi, tak apa bila hadirku kala itu hanya mengisi disela-sela kesepian mu, tak apa bila kau datang padaku hanya saat kau membutuhkan telinga yang setia mendengarkan cerita basa basi mu, tak apa bila aku pelarian dari rasa sakitmu dan luka mu dimasa lalu, bukan berarti aku bodoh, aku hanya ingin membuktikan bahwa wanita dengan hati yang tulus itu ada.
Walaupun setiap ketulusan itu kau hadiahi rasa sakit dan luka yang dalam, yang aku pun tak tau obat seperti apa yang menyembuhkan nya.
Setelah kau tancapkan belati pada dadaku, hingga membuatku hampir mati apakah aku akan membencimu? tidak, ribuan kali logika ku berkata "kau pantas untuk dibenci" namun hatiku berkata lain "aku masih tetap mencintaimu" ya lagi dan lagi logika ku terkalahkan oleh hati dan perasaan ku.
