6 862
订阅者
无数据24 小时
无数据7 天
无数据30 天
帖子存档
KISAH YANG MENYENTUH HATI
Kisah yang begitu menyentuh tentang seorang pemuda yang bergelimang dosa dan seorang ibu yang begitu sabar menasehatinya.
Disampaikan Ustadz Al-Ustadz Abu Amr As-Sidawy hafizhohullah di sela-sela daurah Ramadhan 1444 H.
📚❓✔️ Shalat Witir yang Afdal
❓ Pertanyaan:
Shalat witir yang paling afdal berapa rakaat? Tiga rakaat dengan sekali salam atau satu rakaat satu salam?
✔️ Jawaban:
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (5/123), Abu Dawud (no. 1423) dan an-Nasai (3/235—236) dengan sanad yang sahih dari sahabat Ubai bin Ka’b radhiallahu anhu, beliau berkata,
كَانَ يُوتِرُ بِ{سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى} وَ{قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} وَ{قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ}
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam shalat witir. Setelah membaca surah al-Fatihah, beliau membaca ‘sabbihisma rabbikal a’la’ (surah al-A’la), dan ‘Qul ya ayyuhal kafirun’ (surah al-Kafirun, dan ‘Qul huwallahu ahad’ (surah al-Ikhlas).”
Hadist ini mengisyaratkan bahwa Rasulullah melakukan shalat witir sebanyak tiga rakaat. Pada setiap rakaat, beliau membaca surah-surah tersebut setelah membaca al-Fatihah.
❓Namun, apakah shalat witir tersebut dilakukan dengan tiga rakaat sekali salam atau dua kali salam (dua rakaat dan satu rakaat)?
Yang jelas, menurut pendapat jumhur ulama, kedua cara tersebut boleh. Imam al-Auza’i rahimahullah berkata,
كِلَاهُمَا حَسَنٌ
“Kedua-duanya baik.”
Namun, witir dengan dua kali salam lebih afdal menurut jumhur ulama. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab (4/24).
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/shalat-witir-yang-afdal/
📚💻💎 Bacaan Qunut Witir
Dari al-Hasan bin Ali radhiallahu anhuma, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajariku kalimat-kalimat untuk kubaca pada qunut witir,
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.
ALLAAHUMMAH DINII FIIMAN HADAIT, WA ‘AAFINII FIIMAN ‘AAFAIT, WA TAWALLANII FIIMAN TAWALLAIT, WA BAARIK LII FIIMAA A’THAIT, WA QINII SYARRA MAA QADHAIT, FAINNAKA TAQDHII WALAA YUQDHAA ‘ALAIK, WA INNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIT, WA LAA YA’IZZU MAN ‘AADAIT, TABAARAKTA RABBANAA WA TA’AALAIT
“Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang Engkau beri hidayah. Berilah aku keselamatan dunia akhirat bersama orang-orang yang Engkau beri keselamatan dunia akhirat. Perhatikan dan jagalah urusan-urusanku bersama orang-orang yang Engkau perhatikan dan jaga urusannya. Berkahilah aku pada apa-apa yang yang Engkau berikan. Jagalah aku dari kejelekan apa saja yang Engkau tetapkan. Sesungguhnya Engkau yang memutuskan dan tidak ada yang bisa menolak keputusan-Mu. Sesungguhnya tidak akan hina orang yang menjadi wali-Mu (dalam penjagaan dan pertolongan-Mu) dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Mahaberkah Engkau, wahai Rabb kami, lagi Mahatinggi.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, dan lainnya. Hadits ini dinilai sahih oleh al-Albani dalam al-Irwa’ [2/no. 429] dan al-Wadi’i dalam al-Jami’ ash-Shahih [2/144—147])
Pada riwayat Ibnu Mandah dalam kitab at-Tauhid ada tambahan lafaz doa di akhir yang dinilai tsabit (benar) oleh al-Albani dan ditetapkan olehnya pada kitab Qiyam Ramadhan, yaitu,
وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ
“Tidak ada tempat berlindung dari-Mu kecuali hanya kepada-Mu.”
🖥 Simak selengkapnya:
🌏 https://asysyariah.com/bacaan-qunut-witir/
📚❓✔️ Shalat Tarawih Sendiri-Sendiri dalam Satu Rumah
❓Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya, di dalam rumah kami shalat tarawih sendiri, tidak berjamaah? Apakah hal tersebut tidak boleh? Sebab, saya pernah mendengar perkataan teman saya, bahwa dalam satu rumah tidak boleh ada beberapa imam. Mohon penjelasannya.
✔️Jawaban:
Shalat tarawih boleh dikerjakan di rumah baik berjamaah bersama keluarga atau dikerjakan sendiri-sendiri. Namun, dikerjakan berjamaah lebih utama, dan lebih utama lagi ikut bersama jamaah di masjid.
💡Sahabat Abu Dzar radhiallahu anhu berkata,
“Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau tidaklah shalat (malam) mengimami kami dari bulan tersebut hingga tersisa darinya tujuh malam. Beliau mengimami kami sampai melewati sepertiga malam. Pada malam berikutnya, beliau tidak mengimami kami. Kemudian, pada malam berikutnya (sisa lima hari), beliau mingimami kami sampai melewati tengah malam.
Kami pun berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, sekiranya engkau tambahkan untuk kami ibadah qiyam malam ini.’
Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا صَلَّى مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى انْصَرَفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
‘Sesungguhnya, apabila seseorang shalat bersama imamnya, ditulis untuknya ibadah qiyam satu malam.’
Kemudian pada malam berikutnya, beliau tidak mengimami. Pada malam berikutnya lagi, beliau mengumpulkan keluarganya, istri-istrinya, dan orang-orang, lalu beliau shalat mengimami kami hingga kami khawatir terlambat sahur. Setelah itu, beliau tidak mengimami kami pada hari yang tersisa dari bulan tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 1375 dari sahabat Abu Dzar radhiallahu anhu. Syaikh al-Albani rahimahullah menghukumi hadits ini sahih dalam kitab Shalat at-Tarawih hlm. 16—17)
Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga melakukan shalat malam secara sendirian pada malam-malam beliau yang beliau tidak mengimami para sahabat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar)
🌏
https://asysyariah.com/shalat-tarawih-sendiri-sendiri/
📚🖊💎 Di Antara Keutamaan Bulan Sya'ban
💡Dari sahabat Muadz bin Jabal radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Allah subhanahu wa ta’ala akan melihat kepada para makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, lalu Dia akan mengampuni segenap makhluk-Nya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan (sesama muslim).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh al-Albani menilainya sahih dalam kitab ash-Shahihah no. 1144)
🌏 https://asysyariah.com/menyambut-datangnya-bulan-syaban/
💫 *Nikmat Berjumpa dengan Bulan Ramadhan*
Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu mengisahkan,
أَنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ بَلِيٍّ قَدِمَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ إِسْلَامُهُمَا جَمِيعًا فَكَانَ أَحَدُهُمَا أَشَدَّ اجْتِهَادًا مِنَ الْآخَرِ فَغَزَا الْمُجْتَهِدُ مِنْهُمَا فَاسْتُشْهِدَ ثُمَّ مَكَثَ الْآخَرُ بَعْدَهُ سَنَةً ثُمَّ تُوُفِّيَ
“Ada dua orang dari kabilah Baliy datang menghadap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mereka berdua masuk Islam pada waktu yang sama. Namun, salah satu dari mereka lebih bersungguh-sungguh beribadah daripada yang satunya. Suatu ketika, orang yang lebih rajin beribadah ikut berjihad dan wafat memperoleh syahid. Adapun yang satunya, dia hidup setahun lebih lama, kemudian wafat.”
Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu anhu melanjutkan ceritanya,
فَرَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ بَيْنَا أَنَا عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ إِذَا أَنَا بِهِمَا فَخَرَجَ خَارِجٌ مِنَ الْجَنَّةِ فَأَذِنَ لِلَّذِي تُوُفِّيَ الْآخِرَ مِنْهُمَا ثُمَّ خَرَجَ فَأَذِنَ لِلَّذِي اسْتُشْهِدَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَيَّ فَقَالَ: ارْجِعْ فَإِنَّكَ لَمْ يَأْنِ لَكَ بَعْدُ
“Suatu malam, aku bermimpi. Dalam mimpiku, aku sedang berada di pintu jannah (surga) dan bertemu dengan dua orang yang sudah wafat tersebut. Tiba-tiba, ada sosok yang keluar dari dalam jannah (surga). Dia mengizinkan orang yang meninggal setahun lebih lama untuk masuk ke dalam jannah (surga). Kemudian, sosok itu keluar lagi dari dalam jannah (surga) lalu dia mengizinkan orang yang wafat dalam jihad untuk masuk ke dalam jannah (surga). Dia pun menghampiriku seraya mengatakan, ‘Kembalilah! Sekarang belum waktumu.’”
فَأَصْبَحَ طَلْحَةُ يُحَدِّثُ بِهِ النَّاسَ فَعَجِبُوا لِذَلِكَ فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَدَّثُوهُ الْحَدِيثَ
Pada pagi harinya, Thalhah menceritakan mimpinya kepada para sahabat. Setelah mendengarnya, mereka pun heran dengan mimpi Thalhah. Akhirnya hal tersebut sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat pun memperbincangkannya kepada beliau.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
فَقَالَ: مِنْ أَيِّ ذَلِكَ تَعْجَبُونَ؟
“Apa yang membuat kalian heran?”
فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا كَانَ أَشَدَّ الرَّجُلَيْنِ اجْتِهَادًا ثُمَّ اسْتُشْهِدَ وَدَخَلَ هَذَا الْآخِرُ الْجَنَّةَ قَبْلَهُ
Mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, orang yang lebih dahulu wafat adalah orang yang lebih bersungguh-sungguh beribadah dan wafat dalam syahid di medan jihad. Namun, (mengapa) justru orang yang kedua lebih dahulu diizinkan masuk ke dalam jannah (surga) sebelum orang yang pertama?”
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: وَأَدْرَكَ رَمَضَانَ فَصَامَ وَصَلَّى كَذَا وَكَذَا مِنْ سَجْدَةٍ فِي السَّنَةِ؟ قَالُوا: بَلَى
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Bukankah orang yang kedua hidup setahun lebih lama daripada orang yang pertama?”
Para sahabat menjawab, “Benar.”
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kembali bertanya, “Bukankah orang yang kedua menjumpai bulan Ramadhan, lalu dia berpuasa, shalat demikian dan demikian, dengan melakukan sujud demikian dan demikian; dalam setahun?”
Para sahabat menjawab, “Benar.”
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, antara mereka berdua, jaraknya lebih jauh daripada langit dan bumi.”
📖 HR. Ibnu Majah no. 3925. Hadits ini dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah no. 3185
🌏 https://asysyariah.com/bersyukur-atas-kesempatan-bertemu-bulan-ramadhan-tahun-ini/
Menyambut Datangnya Bulan Sya’ban
Alhamdulillah, kita sekarang sudah memasuki bulan Sya’ban. Sebagai umat Islam, ada beberapa hal yang barangkali perlu untuk kita ketahui bersama, di antaranya:
Disunnahkan banyak berpuasa
Bulan Sya’ban termasuk yang bulan disunnahkan untuk banyak berpuasa. Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha berkata,
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
وَفِي رِوَايَةٍ: كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa dalam suatu bulan (selain Ramadhan) lebih banyak daripada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.”
Dalam riwayat lain, “Beliau berpuasa (selama) Sya’ban kecuali beberapa hari (tidak berpuasa).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Segera membayar utang puasa Ramadhan
Barangkali di antara kita ada yang masih punya utang puasa Ramadhan sebelumnya. Sebaiknya kita segera meng-qadha (melunasinya). Jangan sampai kita memasuki bulan Ramadhan yang akan datang sebagai golongan yang mufarrith (yang lalai). Yang dimaksud mufarrith di sini ialah orang yang memasuki bulan Ramadhan dalam keadaaan masih punya utang puasa Ramadhan sebelumnya, kecuali ada uzur.
Mari kita sambut Ramadhan tahun ini dan seterusnya dengan meningkatkan ketakwaan kita.
Allah akan mengampuni segenap makhluk pada bulan Sya’ban
Di antara keutamaan bulan Sya’ban adalah yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sabdakan dalam hadist berikut ini.
Dari sahabat Muadz bin Jabal radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
يَطَّلِعُ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Allah subhanahu wa ta’ala akan melihat kepada para makhluk-Nya pada malam nisfu Sya’ban, lalu Dia akan mengampuni segenap makhluk-Nya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan (sesama muslim).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh al-Albani menilainya sahih dalam kitab ash-Shahihah no. 1144)
Nabi tidak pernah mendapati banyak makanan dalam kesehariannya
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dan keluarga tidak mendapati makanan yang melimpah dalam kesehariannya. Namun hanya sekedar tidak kelaparan dan terpenuhinya kebutuhan pokok saja
Dari Malik bin Dinar radhiallahu’anhu, beliau mengatakan:
“Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti atau kenyang karena makan daging, kecuali jika sedang menjamu tamu (maka beliau makan sampai kenyang)” (HR. Tirmidzi dalam Asy Syamail no. 70, dishahihkan Al Albani dalam Mukhtashar Asy-Syama’il Al-Muhammadiyah no. 109).
Sebagian kita setiap hari merasakan kenyang bahkan tidak hanya sekali, namun berkali-kali dalam satu hari. Karena melimpahnya makanan yang kita dapati. Namun sangat sederhananya kehidupan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sampai-sampai hanya merasakan kenyang hanya sekali dalam dua hari atau tiga hari.
https://t.me/kisah_nabi
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat di atas dengan menyatakan,
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah amal saleh apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal pada hari kebangkitan dan hari kalian dihadapkan kepada Rabb kalian.” (al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hlm. 1388)
https://t.me/kisah_nabi
Ilustrasi Kota Madinah 1400 Tahun yang lalu
Semoga menambah kecintaan kita kepada baginda Nabi shallallahu'alaihi wasallam dan menambah semangat kita untuk selalu mengikuti bimbingannya..Aamiin
MANFAATKAN NIKMAT ALLAH DENGAN SEBAIK-BAIKNYA
“Dua nikmat, kebanyakan manusia
tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)
https://t.me/kisah_nabi
