ch
Feedback
Kisah-Kisah Hikmah

Kisah-Kisah Hikmah

前往频道在 Telegram

Sejarah, Fenomenal, Biografi, Inspiratif, dll

显示更多

📈 Telegram 频道 Kisah-Kisah Hikmah 的分析概览

频道 Kisah-Kisah Hikmah (@kisah) 印度尼西亚语 语言赛道中的 是活跃参与者。目前社区聚集了 11 861 名订阅者,在 宗教与灵性 类别中位列第 7 696,并在 印度尼西亚 地区排名第 6 135

📊 受众指标与增长动态

невідомо 创建以来,项目保持高速增长,吸引了 11 861 名订阅者。

根据 25 六月, 2026 的最新数据,频道保持稳定运转。过去 30 天订阅人数变化为 -156,过去 24 小时变化为 -6,整体触达仍然可观。

  • 认证状态: 未认证
  • 互动率 (ER): 平均受众互动率为 15.19%。内容发布后 24 小时内通常能获得 N/A% 的反应,占订阅者总量。
  • 帖子覆盖: 每篇帖子平均可获得 0 次浏览,首日通常累积 0 次浏览。
  • 互动与反馈: 受众积极参与,单帖平均反应数为 0

📝 描述与内容策略

作者将该频道定位为表达主观观点的平台:
Sejarah, Fenomenal, Biografi, Inspiratif, dll

凭借高频更新(最新数据采集于 26 六月, 2026),频道始终保持新鲜度与高覆盖。分析显示受众积极互动,使其成为 宗教与灵性 类别中的关键影响点。

11 861
订阅者
-624 小时
-447
-15630
帖子存档
Begitulah Akhir Cerita Orang-Orang Zalim Cara Allah mengatur kehancuran orang-orang zalim sungguh menakjubkan… Kisah Fir‘aun berakhir dengan (air) Kisah Namrud berakhir dengan (seekor nyamuk) Kisah Qarun berakhir dengan (ditelan bumi) Kisah Abrahah berakhir dengan (batu-batu) Kisah Al-Ahzab berakhir dengan (angin) Allah mengakhiri kisah kebatilan dan para pelakunya dengan hal-hal yang sederhana! Dan untuk orang zalim zaman ini, kita akan segera menyaksikan berakhirnya kisah mereka, dengan izin Allah Ta‘ala. Allah berfirman: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.” (QS. Ibrahim: 42) t.me/kisah

Antara Kelakuan dan Keturunan Dikisahkan, di negeri Khurasan ada seorang bangsawan yang nasabnya sangat dekat dengan Rasulullah ﷺ. Namun ia dikenal sebagai orang yang terang-terangan berbuat maksiat. Di sana juga ada seorang syekh mantan budak berkulit hitam yang unggul dalam ilmu dan amal. Karena keutamaannya, orang-orang memuliakannya. Suatu hari, sang syekh keluar menuju masjid, orang-orang berbondong mengikutinya. Dalam perjalanan itu dia bertemu dengan sang bangsawan dalam keadaan mabuk. Orang-orang pun mengusirnya dari jalan dan menjauhinya. Ia melihat sang syekh, lalu bergelayut pada ujung pakaiannya sambil berkata, “Wahai si hitam, wahai anak orang kafir! Aku ini keturunan Rasulullah ﷺ, sementara engkau hanya budak hina. Mengapa orang-orang memuliakanmu dan menghinakanku?” Orang-orang hendak memukulnya. Sang syekh berkata, “Jangan lakukan itu. Itu maklum darinya karena ia mabuk berat. Dia dimaafkan walaupun sudah melampaui batas.” Lalu sang syekh berkata kepada si bangsawan: “Aku memutihkan batinku, sedangkan engkau menghitamkannya. Maka putihnya hatiku menutupi hitamnya kulitku, dan hitamnya hatimu menutupi putihnya wajahmu.” "Aku ambil jalan hidup bapakmu dan kamu ambil jalan hidup bapakku, sehingga orang-orang melihatku di jalan bapakmu dan melihatmu di jalan bapakku. Mereka lalu mengira bahwa aku adalah 'anak' bapakmu dan engkau adalah 'anak' bapakku. Akhirnya, mereka memperlakukanmu seperti bapakku dan memperlakukanku seperti bapakmu." --- Untuk kejadian seperti inilah dikatakan: "Tidaklah nasab Bani Hasyim (ahli bait) itu berguna, jika jiwa seseorang itu hina." Dan Al-Buhturi berkata: "Aku tidak menganggap eloknya keturunan seorang pemuda, Sampai dia buktikan itu dengan perbuatannya." 📔 Uluwwul Himmah 101 t.me/kisah

Rangkaian Kabar tentang Orang-Orang Besar (2) 📌 Umar bin Khattab رضي الله عنه 🔎 Nama lengkap: Abu Hafs, Umar bin Khottob Al-'Adawyi Al-Qurosyi 🔎 Julukan: Al-Fārūq (yang membedakan antara haq & batil, karena ketegasannya dalam menegakkan kebenaran) 🔎 Kedudukan: Khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq 🔎 Termasuk 10 sahabat yang dijamin surga 🔎 Dikenal sebagai ulama dan ahli zuhud di kalangan sahabat 🔎 Menjadi khalifah sejak 23 Agustus 634 M / 22 Jumadil Akhir 13 H 🔎 Keadilannya mencakup muslim maupun non-muslim 🔎 Di masanya, kaum muslimin berekspansi hingga ke Persia, Syam, dan Mesir 🔎 Umar menetapkan kalender Hijriyah sebagai sistem penanggalan resmi umat Islam 🔎 Umar membangun baitul mal untuk mengelola harta negara dan menyalurkan kesejahteraan rakyat. t.me/kisah

Rangkaian Kabar tentang Orang-Orang Besar (1) 📌 Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu'anhu 🔎 Nama lengkap: Abdullah bin Abi Quhafah At-Taimyi Al-Qurosyi 🔎 Julukan: Ash-Shiddiq (yang membenarkan Rasulullah ﷺ tanpa ragu) 🔎 Sahabat paling dekat dan khalifah pertama sepeninggal Nabi ﷺ 🔎 Termasuk 10 sahabat yang dijamin surga 🔎 Orang pertama dari kalangan laki-laki yang masuk Islam 🔎 Teman Nabi ﷺ dalam peristiwa Hijrah ke Madinah 🔎 Dikenal sangat dermawan; menyerahkan seluruh hartanya untuk Islam 🔎 Masa kekhalifahan: 632–634 M / 11–13 H 🔎 Berjasa memerangi Riddah (orang-orang murtad) dan mengumpulkan mushaf Al-Qur’an 🔎 Sosok yang penuh ketaqwaan, kesabaran, dan kelembutan hati t.me/kisah

Bai'at Aqabah Kubro: Janji Pedang dan Surga Di antara seluruh peristiwa besar dalam sejarah, tetaplah sikap kaum Anshar pada hari baiat mereka kepada Rasulullah ﷺ menjadi momen yang tiada tandingnya. Hari itu, As‘ad bin Zurarah — yang termuda di antara tujuh puluh orang — berdiri dan berkata: “Pelan-pelan, wahai penduduk Yatsrib! Tahanlah sejenak, renungkan baik-baik apa yang kalian baiatkan, dan pikirkan akibatnya. Sesungguhnya kita tidak menempuh perjalanan jauh, menempuh letih perjalanan unta, kecuali karena kita yakin sungguh-sungguh bahwa beliau adalah Rasulullah ﷺ. Ketahuilah, membawanya ke sini berarti berpisah dengan seluruh bangsa Arab; berarti mengikat janji yang akan mendatangkan peperangan; berarti kematian para tokoh terbaik kalian; berarti pedang-pedang akan menebas kalian tanpa ampun. Maka, jika kalian siap bersabar menghadapi pedang yang akan melukai kalian, jika kalian siap kehilangan orang-orang terbaik kalian, dan siap berpisah dengan seluruh bangsa Arab, maka ambillah beliau, baiatlah beliau, lindungilah beliau, dan pahala kalian ada di sisi Allah. Tetapi jika kalian masih khawatir pada diri kalian sendiri, takut akan peperangan, belum memiliki kesabaran dan keteguhan, maka tinggalkanlah beliau sekarang, kembalikanlah beliau kepada kaumnya. Itu lebih ringan bagi kalian di hadapan Allah, daripada kalian membaiat beliau lalu kelak mengkhianatinya.” Namun, kaum Anshar menjawab dengan suara bulat: “Wahai As‘ad bin Zurarah, enyahlah dari hadapan kami dengan kata-katamu itu. Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan baiat ini dan tidak akan menarik kembali janji setia kami!” Maka berdirilah mereka, satu demi satu, memberikan janji mereka kepada Rasulullah ﷺ dengan syarat-syarat yang telah diteguhkan Abbas, dan Rasulullah ﷺ menjanjikan surga sebagai balasan. Itulah salah satu momen agung dari baiat kaum Anshar di Aqabah, menjelang hijrah Nabi ﷺ ke Madinah. Barangsiapa berjalan di jalan menolong agama ini, mengangkat tinggi kalimat Allah, maka ia harus bersiap menghadapi pedang dan kematian. Sebab apa yang dipikulnya adalah amanah yang maha besar, yang menuntut momen-momen pertempuran hingga akhir zaman. Atas makna-makna semacam inilah generasi pemenang dibangun, atas dasar inilah kejayaan ditegakkan, dan atasnya pula kubah kemenangan akan senantiasa berdiri. 📔 Cek tentang kisah bai'at ini di kitab al-Bidayah wan Nihayah t.me/kisah

Betapa agungnya akhlakmu wahai Said bin al-Musayyib. Di manakah kita bisa menemukan orang sepertimu hari ini? 📚 Kisah ini diriwayatkan dalam Siyar A‘lam an-Nubala’ dan Hilyat al-Awliya’ karya Abu Nu‘aim. t.me/kisah

Mulianya Akhlak Said bin Musayyib --- Majelis Said bin al-Musayyib selalu dipenuhi puluhan bahkan ratusan pemuda salih. Suatu hari, salah seorang dari mereka yang biasa hadir, tiba-tiba tidak tampak. Beberapa hari kemudian ia datang kembali. Said menyapanya: “Ke mana engkau, wahai Abu Wada‘ah?” Ia menjawab, “Istriku wafat, aku sibuk dengan pemakaman dan urusan takziyahnya.” Said berkata: “Mengapa engkau tidak memberi tahu kami, agar kami bisa datang menghiburmu dan mendoakanmu?” Kemudian beliau bertanya lagi, “Apakah engkau sudah berniat menikah lagi setelahnya?” Pemuda itu menjawab, “Siapa yang mau menikahkan saya, sementara saya hanya memiliki tiga dirham?” Mendengar itu, Said berkata penuh takjub: “Subhanallah! Tiga dirham tidak bisa menjaga kehormatan seorang muslim? Allahu Akbar! Tiga dirham tidak bisa menjaga seorang muslim?!” Pemuda itu berkata lagi: “Tapi siapa yang mau menikahkan saya?” Said menjawab, “Saya.” Pemuda itu kaget: “Dengan siapa?” Said menjawab: “Dengan putriku.” Padahal, putri Said adalah wanita yang dipinang para bangsawan dan pejabat tinggi, namun beliau selalu menolaknya. Kemudian Said memanggil beberapa orang saksi yang ada di sudut masjid. Beliau memuji Allah, lalu melangsungkan akad nikah: “Aku nikahkan si fulan dengan putriku dengan mahar dua dirham.” Selesai akad, pemuda itu pulang dengan hati berbunga-bunga. Ia tidak percaya—putri Said bin al-Musayyib kini menjadi istrinya! Saat tiba di rumah menjelang maghrib, ia yang sedang berpuasa menyiapkan makanan berbuka—cuka dan sepotong roti. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. “Siapa?” tanyanya. “Said,” jawab suara dari luar. Ia berpikir, tentu bukan Said bin al-Musayyib. Sebab sudah empat puluh tahun, beliau hanya dikenal pergi dari rumah ke masjid, lalu kembali ke rumah. Tapi ternyata benar—yang datang adalah Said bin al-Musayyib sendiri. Ia pun terkejut: “Mengapa engkau datang sendiri? Bukankah cukup memanggilku agar aku mendatangimu?” Said menjawab lembut: “Orang seperti engkau yang baru saja kami nikahkan, lebih pantas untuk didatangi. Aku khawatir engkau bermalam dalam keadaan masih sendiri, lalu aku ditanya Allah tentang hal itu.” Lalu tampaklah sosok seorang wanita di belakang Said. Dengan penuh wibawa beliau mendorongnya masuk dan berkata: “Inilah istrimu. Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi kehidupan kalian. Semoga Allah memperbaiki hubungan kalian berdua.” Beliau pun pergi meninggalkan keduanya. Pemuda itu menatap wanita tersebut—ternyata ia adalah gadis yang sangat cantik, lebih cantik dari yang pernah dilihat matanya. Karena terlalu gembira, ia naik ke atap rumah dan berteriak kepada para tetangga: “Said bin al-Musayyib menikahkanku dengan putrinya, dan malam ini ia telah membawanya ke rumahku!” Ia lalu pergi menemui ibunya untuk menyampaikan kabar bahagia itu. Tapi sang ibu berkata tegas: “Demi Allah, wajahku haram bagimu bila engkau mendekatinya sebelum tiga hari. Aku ingin menghiasinya sebagaimana lazimnya seorang pengantin.” Tiga hari kemudian, barulah ia boleh masuk menemui istrinya. Dan benar, ia mendapati putri Said bukan hanya cantik wajahnya, tetapi juga santun tutur katanya, anggun diamnya, serta penuh ibadah dengan puasa dan qiyamullail. Sebulan kemudian, pemuda itu berkata kepada istrinya: “Aku ingin kembali ke majelis ayahmu untuk belajar ilmu.” Sang istri tersenyum: “Duduklah, karena seluruh ilmu Said sudah ada padaku.” Namun akhirnya ia tetap datang ke majelis Said. Begitu melihatnya, Said tersenyum, tapi tidak berkata apa-apa hingga majelis bubar. Setelah semua orang pergi, barulah ia menghampirinya. Said bertanya: “Bagaimana kabar tamu kalian?” (maksudnya: bagaimana keadaan putrinya). Ia menjawab: “Sebaik-baiknya keadaan.” Said berkata: “Kalau suatu saat engkau melihat sesuatu yang tidak engkau sukai, maka gunakanlah tongkatmu (didiklah ia dengan baik).” Lalu beliau memberinya dua puluh ribu dinar, seraya berkata: “Gunakanlah ini untuk memenuhi kebutuhanmu bersama istrimu.” Allahu Akbar!

Ikuti Channel WhatsApp 1Hari 1Hadis https://whatsapp.com/channel/0029Vb6PxjcI1rcflpSikD0y

Repost from Nasehat Ulama
Ikuti Channel WhatsApp 1Hari 1Hadis https://whatsapp.com/channel/0029Vb6PxjcI1rcflpSikD0y

#Bagian4 —- Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa pasukan Muslim akan terbagi menjadi tiga golongan dalam peperangan tersebut. Golongan Pertama: Beliau ﷺ bersabda: “Sepertiga dari pasukan ini akan melawan dan kemudian melarikan diri, dan Allah tidak akan menerima taubat mereka selamanya.” Mengapa Allah tidak akan menerima taubat mereka? Karena mereka adalah pengkhianat yang keluar dari agamanya. Mereka tidak hanya melarikan diri dari medan perang dan mengkhianati Allah, Rasul-Nya, serta kaum Mukmin, tetapi juga disebutkan oleh para ahli tafsir bahwa mereka akan bergabung dengan pihak Romawi, karena mereka merasa akan meraih kemenangan, terpedaya oleh godaan setan. Inilah sifat pengkhianat dari dahulu, Allah tidak akan menurunkan pertolongan hingga barisan pasukan muslim bersih, terpisah menjadi dua kelompok: satu islam yang murni tanpa kekufuran dan kemunafikan, dan satu lagi yang benar-benar kafir tanpa iman dan kejujuran. Golongan Kedua: Beliau ﷺ melanjutkan: “Sepertiga dari mereka akan dibunuh, dan mereka adalah orang-orang yang paling baik di antara para syuhada di sisi Allah.” Golongan Terakhir: Adapun sepertiga yang tersisa dalam pasukan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda tentang mereka: ”Tinggallah sepertiga pasukan dan Allah akan memberikan kemenangan kepada mereka, dan mereka tidak akan terkena fitnah lagi.” (Mereka akan menang atas Romawi). Bersambung... t.me/kisah

#Bagian3 --- Dan mulailah perang besar, di mana orang-orang Kristen akan berkumpul dengan delapan puluh bendera (80 pasukan) dari seluruh penjuru bumi, masing-masing pasukan tidak kurang dari 12 ribu jiwa (total hampir 1juta pasukan), dan mereka akan menguasai Syam dan berkumpul di Al-A'maq atau Dabiq. Umat Islam akan mengumpulkan pasukan dari orang-orang terbaik di muka bumi, dan mereka akan keluar dari Madinah menghadapi pasukan Kristen, seperti yang telah dinubuwatkan oleh Nabi ﷺ. Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Kiamat tidak akan terjadi hingga orang-orang Romawi turun ke Al-A'maq atau Dabiq, dan akan keluar kepada mereka pasukan dari Madinah yang terdiri dari orang-orang terbaik di bumi pada saat itu. Ketika kedua pasukan saling berhadapan, orang-orang Romawi berkata: 'Biarkan kami bertarung dengan saudara-saudara kami yang telah keluar dari agamanya kepada Islam, tidak ada urusan kalian, wahai umat Islam, dalam perkara kami.' Maka, umat Islam menjawab: 'Tidak, demi Allah, kami tidak akan membiarkan antara kalian dan saudara-saudara kami; kami akan bertarung bersama mereka.' (Riwayat Imam Muslim). Ibnu Kathir rahimahullah berkata: Dalam kalimat-kalimat nabawi ini terdapat bukti bahwa sebagian orang-orang Romawi (dari Eropa dan Amerika dalam bahasa zaman sekarang) akan masuk Islam dan beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, serta beriman kepada Muhammad ﷺ, dan akan bergabung dengan barisan umat Islam dan bertarung bersama umat Islam, karena mereka termasuk dalam pasukan Islam yang agung ini. Bersambung... t.me/kisah

#Bagian2 --- Kedua pihak akan beraliansi untuk menghadapi musuh ini (di mana Nabi tidak menyebutkan sifat dari musuh tersebut), dan yang penting bagi kita adalah bahwa umat Islam dan Kristen yang beraliansi bersama-sama akan menang. Kemudian, mereka akan kembali ke daerah yang disebut (Merj Dzi Tullul) di Syam (daerah hijau yang luas di mana kedua pasukan berkumpul). Seorang lelaki dari keturunan Bani Asfar (Romawi) akan mengangkat salib dan mengatakan: Salib telah menang, maka seorang Muslim yang marah akan membunuhnya dan memecahkan salib tersebut. Selanjutnya, sekelompok orang Kristen akan berkumpul untuk membunuhnya, kemudian orang-orang Kristen berkhianat (dan ini adalah kebiasaan mereka sejak zaman dahulu) dan menyerang umat Islam, kemudian umat Islam berkumpul dan mengalahkan mereka. Rasulullah ﷺ bersabda: “Kalian akan melakukan perjanjian damai dengan Romawi, lalu kalian akan menyerang musuh di belakang kalian, maka kalian akan mendapat pertolongan, akan menguasai, dan akan selamat, kemudian kalian akan kembali sampai turun di Merj Dzi Tullul. Ketika itu, seorang lelaki dari kalangan Kristen akan mengangkat salib dan mengatakan: 'Salib telah menang', maka seorang lelaki dari umat Islam akan marah dan membunuhnya. Pada saat itu, orang-orang Romawi akan berkhianat dan mengumpulkan diri untuk peperangan. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud). Bersambung... t.me/kisah

Pertempuran Besar 🚨 #Bagian1 Pertempuran terakhir dalam sejarah dunia. Kata pendeta Amerika Jimmie Swaggart dalam salah satu debatnya dengan Sheikh Ahmad Deedat رحمه الله: (Saya berharap bisa berkata bahwa kita akan mendapatkan kedamaian, tetapi saya percaya bahwa Armageddon akan datang, dan kita akan memasuki hari-hari kelam). Apa sebenarnya hari-hari kelam yang dibicarakan oleh kaum Nasrani?! Dan apa kisah pertempuran besar yang diberitakan oleh Nabi?! Pertempuran besar adalah perang yang besar yang akan terjadi antara Romawi dan kaum Muslim di akhir zaman, tepat sebelum kemunculan Dajjal. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud, Nabi ﷺ bersabda: “Kalian akan berdamai dengan Romawi dalam perjanjian yang aman, kemudian kalian akan berperang melawan mereka dan mereka akan menjadi musuh yang ada di belakang kalian.” Nabi ﷺ mengabarkan kepada kita tentang pertempuran besar yang akan terjadi di akhir zaman, yang dimulai dengan perjanjian damai antara kaum Muslim dan Bani Ashfar (Eropa dan Nasrani). Kita akan meninggalkan Romawi untuk sementara dan memerangi musuh lain yang lebih penting. Kita semua tahu bahwa kita akan bersekutu, tetapi melawan siapa?! Dan mengapa Allah dan Rasul-Nya tidak menyebutnya?! Wallahua’lam Bersambung... t.me/kisah

Surga dan Ridha Allah Pantas untuk Dibayar dengan Jiwa dan Seluruh Harta Kita Ketika Suhaib ar-Rumi ingin berhijrah, Quraisy berkata: Engkau datang kepada kami sebagai seorang yang miskin, lalu harta bendamu bertambah banyak di sini, dan sekarang kau ingin pergi membawa diri dan harta bendamu? Suhaib menjawab: Apakah kalian mau melepaskan saya jika saya memberikan harta saya kepada kalian? Mereka menjawab: Ya, kami akan melepaskanmu. Suhaib mengatakan: Kalau begitu, saya menyerahkan harta saya kepada kalian. Kabar ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau berkata: Sungguh, engkau telah mendapatkan keuntungan, wahai Abu Yahya. Kemudian, turunlah ayat: {وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ} (Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah). 📔 Sirah Nabawiyah karya Ibn Hisyam. t.me/kisah Dalam kisah ini, kita melihat keteguhan iman Suhaib ar-Rumi yang rela mengorbankan harta demi agama dan cintanya kepada Allah.

Wahai Laki-Laki, Jadilah Singa di Tengah Kumpulan Anjing dan Serigala! Suatu ketika, datanglah seorang wanita ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Ia dikenal sebagai wanita yang sangat cantik. Ketika ia sedang melaksanakan salah satu ritual haji, yakni melempar jumrah, tampaklah dirinya oleh seorang penyair terkenal bernama Umar bin Abi Rabi’ah, yang memang dikenal sangat gemar menggoda dan menulis syair tentang wanita. Pada malam pertama, Umar mencoba mendekatinya dan mengajaknya berbicara, namun wanita itu tidak menanggapinya sama sekali. Namun, Umar tidak menyerah. Pada malam kedua, ia kembali mencoba mendekati wanita itu. Kali ini wanita itu membentaknya dan berkata: "Menjauhlah dariku! Aku sedang berada di tanah suci Allah dan di hari-hari yang penuh kehormatan!" Namun Umar tetap bersikeras dan terus berusaha. Wanita itu pun mulai khawatir menjadi aib jika terlihat orang lain, maka ia memilih untuk pergi dan kembali ke tendanya. Malam itu, ia berkata kepada saudara laki-lakinya: "Besok malam, temani aku keluar, tunjukkan padaku manasik haji." Ketika Umar melihat wanita itu keluar bersama saudaranya pada malam ketiga, ia tidak berani mendekatinya. Ia hanya diam di tempatnya. Melihat hal itu, wanita tersebut tersenyum dan mengucapkan kalimat yang kemudian sangat terkenal: "Anjing hanya berani menggonggong pada siapa yang tak punya singa, Tapi mereka akan takut menghadapi auman singa buas yang garang." Ketika kisah ini sampai ke telinga khalifah Abbasiyah, Abu Ja’far al-Manshur, beliau berkata: "Andai seluruh wanita Quraisy mendengar kisah ini, pasti akan menjadi pelajaran berharga bagi mereka semua." .............. Di salah satu negeri, hiduplah seorang wanita yang salehah dan bijaksana. Ia memiliki seorang anak perempuan. Setiap kali anak gadisnya hendak keluar rumah, wanita itu selalu berkata kepada putranya: "Keluarlah bersama saudarimu. Sebab wanita tanpa laki-laki yang menjaganya dan membuka jalan untuknya, bagaikan domba di tengah kawanan serigala — bahkan serigala yang paling lemah pun akan berani menyerang nya." 📚 Uyūn al-Akhbār, Ibn Qutaybah. t.me/kisah

Bukan Kekuasaan Dunia yang Kita Cari, Bukan Pula Demi Dunia Kita Bekerja -Abu Ubaidah bin Al-Jarroh Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu ingin meninjau langsung pasukan kaum Muslimin yang sedang berada di Syam (wilayah Syiria dan sekitarnya). Beliau pun menunggangi untanya dan melakukan perjalanan hingga tiba di perbatasan Syam. Sesampainya di sana, beliau beristirahat di sebuah tenda milik panglima perang saat itu, yaitu Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Abu Ubaidah menyambut beliau dengan penuh hormat dan kehangatan. Saat itu bertepatan dengan waktu makan siang. Lalu seseorang bertanya kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau ingin disuguhi makanan seperti yang dimakan pasukan, atau makanan seperti yang dimakan panglima pasukan?” Umar menjawab, “Bawakan keduanya.” Maka dihidangkanlah terlebih dahulu makanan pasukan. Ternyata isinya adalah daging yang dimasak berkuah (mirip semur) dan roti yang dicelupkan dalam kuah itu (tsarid). Melihat itu, Umar bertanya, “Ini makanan pasukan?” Mereka menjawab, “Benar, wahai Amirul Mukminin.” Lalu Umar berkata, “Sekarang bawakan makanan panglima pasukan.” Mereka pun membawakan makanan Abu Ubaidah: hanya remah-remah roti kering dan sedikit susu. Melihat itu, Umar bin Khattab pun menangis. Beliau berkata, “Benarlah (Rasullullah) yang menjulukimu sebagai ‘Aminu hadzihil ummah’—Orang yang paling dapat dipercaya di umat ini.” Abu Ubaidah bin al-Jarrah pernah menjadi prajurit di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid ketika mereka sedang berjihad dan menaklukkan negeri-negeri. Suatu hari, Umar bin Khattab mengirim surat dari Madinah yang berisi keputusan untuk memberhentikan Khalid bin Walid dari jabatan panglima, dan mengangkat Abu Ubaidah sebagai penggantinya. Namun, ketika menerima perintah itu, Abu Ubaidah berkata kepada Khalid: “Demi Allah, aku sebenarnya tidak suka memutus perjuanganmu ini. Bukan kekuasaan dunia yang kita cari, bukan pula demi dunia kita bekerja. Kita semua adalah saudara karena Allah.” --- 📔 Siyar A’lam an-Nubala’ dan Al-Bidayah wan-Nihayah karya Ibn Katsir, jilid ketujuh. t.me/kisah

Ia terdiam sejenak. Lalu berkata: "Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dari keturunanku seorang pun yang bermaksiat kepada-Nya, hingga kelak disiksa dalam api neraka." Kemudian ia mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un", menarik napas panjang, dan wafat. Aku pun menangis. Sungguh besar musibahku... Jika aku tinggalkan jenazah ini, ia akan dimangsa binatang buas. Tapi jika aku menetap, aku pun tak mampu berbuat banyak. Maka, aku menutup tubuhnya dengan kain yang ada, dan duduk di dekat kepalanya, menangis. Tiba-tiba, datang empat orang lelaki. Mereka bertanya: "Wahai hamba Allah, apa yang terjadi? Ceritakanlah padaku kisahmu." Aku pun menceritakan semuanya. Mereka berkata, "Bukalah penutup wajahnya, barangkali kami mengenalnya." Ketika aku membukanya, mereka langsung tersungkur mencium matanya dan berkata: "Inilah mata yang selalu tertunduk dari hal-hal yang haram." "Inilah tubuh yang senantiasa bersujud di malam hari saat manusia terlelap." Aku bertanya, “Siapa dia, semoga Allah merahmati kalian?” Mereka menjawab: "Ini adalah Abu Qilabah Al-Jarmi, murid dari Ibnu Abbas. Ia adalah orang yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya." Kami pun memandikannya, mengkafaninya, menyalatinya, dan menguburkannya. Setelah itu mereka kembali, dan aku pun kembali ke tempat tugasku. Malam pun datang. Ketika aku tertidur, aku melihatnya dalam mimpi, berada di sebuah taman surga. Ia mengenakan dua pakaian indah dari surga, dan sedang membaca firman Allah: سلام عليكم بما صبرتم، فنعم عقبى الدار "Salam sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (QS. Ar-Ra’d: 24) Aku bertanya, "Bukankah engkau sahabatku?" Ia menjawab, “Benar.” Aku bertanya, "Dari mana engkau mendapatkan semua ini?" Ia berkata: "Sesungguhnya Allah memiliki derajat-derajat yang tidak bisa diraih kecuali dengan kesabaran saat tertimpa musibah, rasa syukur terhadap kenikmatan, dan rasa takut kepada-Nya dalam kesendirian maupun di hadapan orang lain." 📔 Ats-Tsiqat – Ibnu Hibban 📔 Ash-Shabr wa Ats-Tsawab – Ibnu Abi Dunya 📔 Tarikh Dimasyq – Ibnu Asakir 📔 Siyar A’lam An-Nubala – Adz-Dzahabi Ya Allah, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. t.me/kisah

Kisah Mengharukan Seorang Hamba yang Bersyukur di Tengah Ujian Berat Al-Awza'i meriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad, ia berkata: Suatu hari, aku keluar menuju pesisir laut untuk berjaga di perbatasan. Saat itu, tempat kami berjaga berada di daerah Arisy, Mesir. Ketika aku sampai di pantai, aku melihat sebuah rawa, dan di sana terdapat sebuah tenda. Di dalamnya ada seorang lelaki yang telah kehilangan kedua tangan dan kakinya, pendengarannya sudah lemah, penglihatannya hampir hilang, dan tak ada satu pun anggota tubuhnya yang berfungsi selain lidahnya. Namun, ia terus mengucapkan doa ini: "Ya Allah, anugerahkanlah aku kemampuan untuk memuji-Mu dengan pujian yang layak sebagai ungkapan syukur atas nikmat-Mu kepadaku, dan atas karunia-Mu yang telah mengutamakan diriku dibandingkan banyak makhluk yang Engkau ciptakan." Abdullah berkata: Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, aku akan mendatangi orang ini dan bertanya kepadanya: dari mana ia mendapatkan ucapan seperti itu? Apakah dari pemahaman, ilmu, ataukah ilham dari Allah?” Lalu aku mendekatinya, mengucapkan salam, dan berkata: "Aku mendengar engkau mengucapkan doa itu. Nikmat Allah yang mana yang engkau syukuri? Dan keutamaan apa yang telah Dia berikan kepadamu hingga engkau merasa layak memuji-Nya seperti itu?" Ia menjawab: "Tidakkah kau lihat apa yang telah Tuhanku lakukan padaku? Demi Allah, seandainya Dia menurunkan api dari langit lalu membakarku, memerintahkan gunung-gunung menghancurkanku, laut menenggelamkanku, dan bumi menelanku, aku tetap tidak akan berhenti bersyukur kepada-Nya karena nikmat yang luar biasa ini — yaitu lisanku." "Namun, wahai Hamba Allah, jika engkau datang ke sini, aku ingin memohon satu hal. Seperti yang kau lihat, aku tidak mampu melakukan apa pun untuk diriku. Dahulu aku memiliki seorang anak kecil yang senantiasa merawatku: membantu berwudu saat waktu salat tiba, memberiku makan saat aku lapar, dan memberiku minum saat aku haus. Tapi, sudah tiga hari aku kehilangan dia. Tolong, carikan dia untukku. Semoga Allah merahmatimu." Aku pun berkata, “Demi Allah, tidak ada langkah yang lebih agung pahalanya di sisi Allah daripada langkah seseorang yang menolong orang seperti dirimu.” Lalu aku berangkat mencarinya. Tidak jauh dari tempat itu, di antara gundukan pasir, aku menemukan anak itu — telah diterkam oleh binatang buas, dan dagingnya telah habis dimakan... Aku pun mengucap, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Hatiku gundah. Bagaimana aku bisa kembali membawa kabar seperti ini? Di tengah langkahku yang berat, tiba-tiba terlintas di hatiku kisah Nabi Ayyub ‘alayhis salam. Saat aku kembali dan menemuinya, aku mengucapkan salam. Ia menjawab, lalu berkata: "Bukankah engkau orang yang tadi?" Aku menjawab, “Benar.” Ia bertanya, "Bagaimana kabar tentang anakku?" Aku berkata, “Aku ingin bertanya terlebih dahulu: siapakah yang lebih mulia di sisi Allah, engkau atau Nabi Ayyub?” Ia menjawab, “Tentu saja Nabi Ayyub.” Aku bertanya lagi, “Tahukah engkau ujian yang Allah timpakan kepadanya? Harta, keluarga, dan anak-anaknya semua hilang.” Ia menjawab, “Ya.” Aku bertanya, “Bagaimana sikap Ayyub terhadap Tuhannya?” Ia menjawab, “Ia tetap sabar, bersyukur, dan memuji Allah.” Aku melanjutkan, “Namun Allah tidak langsung meridhainya. Bahkan, Dia menjauhkan Ayyub dari kerabat dan orang-orang tercintanya.” Ia mengangguk, “Benar.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana sikapnya kepada Tuhannya?” Ia menjawab, “Ia tetap sabar, bersyukur, dan memuji Allah.” Aku menambahkan, “Allah tidak juga meridhainya hingga menjadikan tubuhnya sasaran cemoohan orang-orang yang berlalu-lalang.” Ia berkata, “Ya, aku tahu.” Aku bertanya, “Dan bagaimana ia saat itu di hadapan Tuhannya?” Ia menjawab, “Ia tetap sabar, bersyukur, dan memuji Allah. Ringkaslah, semoga Allah merahmatimu.” Aku pun menundukkan kepala dan berkata pelan, “Anakmu... yang engkau minta aku carikan itu... aku menemukannya telah diterkam binatang buas dan dimakan. Semoga Allah membesarkan pahalamu dan menganugerahkan kesabaran kepadamu.”

"Kaum Luth sepakat untuk melakukan penyimpangan seksual." Dari sudut pandang demokrasi: Luth tidak berhak melarang mereka karena mereka mayoritas. Dari sudut pandang liberalisme: Manusia bebas melakukan apa yang mereka inginkan! Dari sudut pandang sekularisme: Apa hubungannya agama dengan hubungan seksual yang dilakukan dengan persetujuan? Dari sudut pandang pemikiran modern: Mereka memiliki kelainan genetik yang membenarkan perilaku mereka. Dari sudut pandang negara sipil: Kelompok homoseksual adalah bagian dari masyarakat yang harus dihormati dan diwakili di parlemen. Namun dalam Islam yang agung: Nabi Luth tidak memiliki kekuatan untuk mencegah mereka atau memaksa mereka pada kebenaran, sebagaimana dalam firman Allah:
"Dia (Luth) berkata: Seandainya aku memiliki kekuatan untuk menolak kalian atau aku dapat berlindung pada kekuatan yang besar!" (QS. Hud: 80)
Maka datanglah hukuman Allah:
"Ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri itu dan menghujaninya dengan batu dari tanah keras yang bertubi-tubi." (QS. Hud: 82)
Demokrasi, sekularisme, dan negara sipil dalam hal ini bertentangan dengan Islam, sebagaimana kekufuran bertentangan dengan keimanan. Istri Nabi Luth tidak ikut dalam perbuatan kaumnya, tetapi dia bersikap "terbuka" (open-minded), menerima dan tidak mengingkari perbuatan mereka. Maka hukumannya disebut dalam firman Allah:
"Lalu Kami selamatkan dia dan keluarganya, kecuali istrinya, yang termasuk orang-orang yang tertinggal (ditimpa azab)." (QS. Al-A’raf: 83)
Ini adalah pelajaran keras bagi mereka yang mengaku toleran dan terbuka dalam batasan yang telah ditetapkan Allah.
"Maka berilah peringatan dengan Al-Qur'an kepada orang yang takut akan ancaman-Ku." (QS. Qaf: 45)
t.me/kisah

Kisah-Kisah Hikmah - Telegram 频道 @kisah 的统计与分析