Ask The Experts
الذهاب إلى القناة على Telegram
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
إظهار المزيد1 811
المشتركون
+124 ساعات
+77 أيام
+2130 أيام
أرشيف المشاركات
1 811
HIDUP INI SEDANG MENGHUKUM MENGAJAR 💪🔥
Oleh: Suluksalik
"Mungkin segala sesuatu yang dulu kamu kira menenggelamkanmu, sebenarnya sedang mengajarkanmu cara berenang."
Kalimat ini mengingatkan kita bahwa penderitaan tidak selalu berarti akhir, melainkan bisa jadi proses pendewasaan.
Ketika hidup melemparkan kita pada situasi berat—rasa sakit, kegagalan, kehilangan—kita sering merasa seolah sedang “tenggelam”. Nafas sesak, pandangan gelap, dan harapan seakan habis.
Namun, justru di titik itulah kita belajar kekuatan yang sebelumnya tidak pernah kita sadari.
Seperti seseorang yang terpaksa belajar berenang karena tercebur ke air, kita pun seringkali menemukan cara bertahan hidup saat kondisi memaksa. Masalah yang terasa hendak menenggelamkan, perlahan menjadi guru yang melatih otot keberanian, kesabaran, dan kebijaksanaan kita.
Jika direnungkan, mungkin tanpa badai-badai itu kita tidak pernah benar-benar tumbuh. Luka yang dulu ingin kita lupakan, kini menjelma pijakan. Air yang dulu menakutkan, sekarang justru menjadi ruang kita belajar bergerak lebih luwes.
Jadi, mungkin bukan “hidup sedang menghukum”, melainkan “hidup sedang mengajar”.
Apa yang kamu kira akan mengakhiri langkahmu, ternyata justru sedang mengajarkanmu cara melangkah lebih kuat.
#INISIATIF
1 811
PIKIRAN = TAKDIR 👍
Oleh: Dedi Priadi
Pikiran kita bagaikan bibit. Pikiran yang kita tanam, baik maupun buruk, akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar dalam hidup kita.
Pepatah Arab mengatakan, "Pikiranmu adalah takdirmu." Tentu ini bukan sekadar kata-kata puitis, melainkan cerminan dari sebuah proses yang sangat nyata, seperti deretan domino yang saling terkait.
Semuanya berawal dari pikiran. 𝘗𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 yang terus-menerus kita biarkan berputar dalam benak akan mengalir keluar menjadi 𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢.
Kata-kata yang kita ucapkan, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, akan memengaruhi bagaimana kita bertindak.
𝘛𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬𝘢𝘯 yang diulang-ulang akan membentuk 𝘬𝘦𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯, dan kebiasaan inilah yang kemudian mengukir 𝘬𝘢𝘳𝘢𝘬𝘵𝘦𝘳 kita. Pada akhirnya, karakter itulah yang menjadi 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳 kita.
Jika kita membiarkan pikiran-pikiran negatif dan keraguan menguasai, kita sedang menanam benih kegagalan.
Sebaliknya, jika kita fokus pada pemikiran yang optimis, kita sedang membuka jalan menuju banyak kesempatan. Seperti yang dikatakan oleh Louis Pasteur, "𝘊𝘩𝘢𝘯𝘤𝘦 𝘧𝘢𝘷𝘰𝘳𝘴 𝘰𝘯𝘭𝘺 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘳𝘦𝘱𝘢𝘳𝘦𝘥 𝘮𝘪𝘯𝘥." Peluang hanya berpihak pada pikiran yang siap.
Kesiapan itu dimulai dari pikiran yang kita kelola. Kita adalah arsitek dari takdir kita sendiri, dan bahan bakunya adalah pikiran. Kelola pikiran kita dengan bijak, dan ia akan menuntun kita pada takdir yang kita inginkan.
"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢-𝘒𝘶."
#INISIATIF
1 811
Pantengin terus IG @lifeatbpjskesehatan ya!
https://www.instagram.com/lifeatbpjskesehatan?igsh=N2lpOXp5YndnYzZh
Mulai hari ini kita bakal hadir langsung dari gelanggang PORNAS KORPRI 2025 di Palembang!
Stay tuned buat liputan eksklusif, momen behind the scene, dan semangat para atlet terbaik BPJS Kesehatan di arena! 🏆
#LifeAtBPJSKesehatan #PejuangJKN
1 811
Kuis Tebak Skor Indonesia Vs Arab Saudi 🇲🇨
3 Voucher Ovo/Gopay/Dana masing-masing 50K buat 3 Orang Beruntung (total 150K)
Wajib Ikuti syarat!!!
https://www.instagram.com/p/DPYnypyE4Mo/?igsh=OGoweGppNmJuZWE0
#INISIATIFDukungTimnas
1 811
SEORANG TEMAN MENINGGAL 😭
oleh: Budiman Hakim
Hari itu kami melayat seorang sahabat yang wafat. Di sebuah rumah yang dipenuhi kursi2 sewaan, suasana duka menempel di dinding seperti bayangan yang enggan pergi.
Orang-orang duduk berjejer. Sebagian sibuk saling berbisik. Sebagian lagi menunduk dengan tatapan kosong. Seakan kematian selalu datang terlalu cepat, meski sudah pasti. Satu persatu, kami menyalami orang-orang yang ada.
“Istrinya mana?” tanya saya pada salah seorang kerabat almarhum.
"Mereka sudah lama pisah. Jadi nggak datang.”
Jawaban itu membuat udara di sekitar saya semakin pengap. Saya coba bertanya lagi, kali ini lebih hati-hati, “Kalau anaknya mana?”
Dan jawaban yang keluar terasa lebih menyesakkan: “Anaknya sudah ditelepon, tapi nggak bisa datang. Katanya, di kantor lagi banyak kerjaan.”
Darah saya seketika membeku. Saya gak siap menerima jawaban itu. Bayangkan! Seorang ayah meninggal, tubuhnya terbujur kaku di ruang tamu, tapi anak kandungnya bilang nggak bisa datang karena banyak kerjaan.
Di komunitas kami, almarhum dikenal sebagai teman yang sangat baik. Dia selalu ceria dan helpful. Jadi di kepala kami selama ini tergambar, pastilah keluarganya sangat ideal. Nyatanya? Ck...ck...ck...
Tapi di saat yang sama, saya sadar, hidup sering lebih rumit daripada kalimat sederhana yang keluar dari mulut seseorang.
Mungkin, ada luka lama yang nggak pernah dibicarakan. Ada retakan hubungan yang tak pernah dijahit kembali, hingga akhirnya yang tersisa hanyalah formalitas: telepon, pesan singkat, lalu alasan untuk tidak datang.
Atau mungkin, dan ini yang paling menyakitkan, anak itu sudah lama merasa ayahnya bukan lagi rumah, tapi sekadar nama di kartu keluarga.
Mungkin, anak itu benar-benar terikat sistem kerja yang kejam. Sistem yang bikin manusia lebih takut kehilangan gaji daripada kehilangan kesempatan terakhir melihat wajah bapaknya. Mana yang benar? Saya gak pernah tau.
Yang jelas, saya melihat ada kursi kosong yang teriakannya lebih keras dibanding tangisan siapa pun. Kursi kosong itu berbicara tentang jarak yang tak terjembatani. Tentang luka yang terlalu dalam untuk dijelaskan. Tentang dunia yang perlahan kehilangan arah. Ketika seorang anak bisa memilih kerja di kantor daripada bersimpuh di sisi jenazah ayahnya.
Selesai pemakaman, kami pun pulang dengan hati yang pepat, sambil bertanya dalam hati, 'Apa sebenarnya yang lebih mahal dari detik terakhir menatap wajah orang tua?'
Sebuah keluarga, barangkali, baru benar-benar diuji bukan saat kita lahir dari rahim yang sama. Bukan saat kita makan di meja yang sama, tapi di saat kematian tiba. Kalau di detik terakhir pun kita tak bisa datang mengantarkan doa, lalu apa arti semua ikatan yang pernah ada?
Keluarga, pada akhirnya, bukan tentang darah yang mengalir, tapi tentang keberanian untuk hadir. Seburuk apa pun hubungan yang ada.
#INISIATIF #Weekend #KetahananKeluarga
1 811
+3
✨ 𝗠𝗘𝗟𝗔𝗪𝗔𝗡 𝗞𝗘𝗠𝗨𝗦𝗧𝗔𝗛𝗜𝗟𝗔𝗡 ✨
Simulasi #WCQ2026 AFC R4 yang dilansir Football Meets Data memberikan kabar buruk bagi timnas Indonesia. 🇮🇩
Dari enam partisipan di babak ini, Indonesia disebutkan paling sulit untuk lolos langsung ke Piala Dunia 2026, yakni sebagai pemuncak klasemen Grup B. ❌
Sedangkan Arab Saudi dan Qatar, yang bertindak sebagai tuan rumah, difavoritkan untuk melaju. ⏩
Masih ada jalur alternatif melalui ronde 5 dengan finis kedua di grup, tapi kansnya juga tidak begitu besar. 📉
Pada akhirnya, simulasi ini hanyalah prediksi di atas kertas. Garuda masih berkesempatan untuk membuktikan diri di atas lapangan pada 9 dan 12 Oktober mendatang. 🤞🇮🇩
1 811
🔠🔠🔠🔠🔠2️⃣🔠🔠🔠🔠 🇮🇩
Federasi sepak bola Asia (AFC) telah mengumumkan hasil undian babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026. Enam tim yang tersisa dibagi ke dalam dua grup, masing-masing terdiri dari tiga negara. Keenam negara itu bakal memperebutkan dua tiket langsung ke putaran final Piala Dunia. Di Grup A, Qatar akan bersaing dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman. Adapun timnas Indonesia dipastikan masuk Grup B bersama Arab Saudi dan Irak. Dengan hasil undian ini, persaingan di kedua grup diprediksi berlangsung ketat. Di Grup B, Indonesia menghadapi tantangan berat melawan dua tim yang secara peringkat lebih tinggi. Pertandingan ronde keempat akan dihelat pada 8–14 Oktober 2025 mendatang. Format babak keempat menggunakan sistem round robin satu pertemuan. Setiap tim hanya akan bertemu sekali melawan dua lawan lainnya di grup. Juara dari masing-masing grup akan otomatis lolos ke Piala Dunia 2026 sebagai wakil Asia.Nah, sembari menyaksikan dan memberi dukungan buat Timnas, kembali ada peluang seru-seruan juga buatmu untuk memenangkan Souvenir ATE INISIATIF masing-masing untuk 3 (tiga) Sobat ATE beruntung yang berhasil menebak 2 opsi polling sekaligus dengan tepat 🤔 Periode partisipasinya dimulai saat ini dan akan ditutup pada Rabu, 8 Oktober 2025 pukul 17.00 WIB 🇲🇨
Syarat klaim : Sudah join di grup COMMIT ATE (Khusus Internal Duta BPJS Kesehatan) https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1#INISIATIFDukungTimnas
1 811
OVERTHINKING 🤯
Oleh: Dedi Priadi
Seringkah Anda merasa terperangkap dalam pusaran kekhawatiran yang tak ada habisnya? Itulah 𝘰𝘷𝘦𝘳𝘵𝘩𝘪𝘯𝘬𝘪𝘯𝘨, kebiasaan yang menyita kedamaian dan energi kita. Alih-alih merasa berdaya, kita malah sering terjebak dalam masalah yang di luar kendali kita.
Konsep dari Stephen Covey, penulis buku "𝘛𝘩𝘦 7 𝘏𝘢𝘣𝘪𝘵𝘴 𝘰𝘧 𝘏𝘪𝘨𝘩𝘭𝘺 𝘌𝘧𝘧𝘦𝘤𝘵𝘪𝘷𝘦 𝘗𝘦𝘰𝘱𝘭𝘦," mengajarkan kita untuk memahami tiga lingkaran ini. Ada Lingkaran Kekhawatiran (𝘊𝘪𝘳𝘤𝘭𝘦 𝘰𝘧 𝘊𝘰𝘯𝘤𝘦𝘳𝘯), di mana kita membuang waktu memikirkan hal-hal yang tidak bisa kita ubah, seperti politik atau cuaca.
Namun, di dalam lingkaran yang lebih kecil, ada Lingkaran Pengaruh (𝘊𝘪𝘳𝘤𝘭𝘦 𝘰𝘧 𝘐𝘯𝘧𝘭𝘶𝘦𝘯𝘤𝘦). Di sini, kita menemukan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya, tetapi bisa kita pengaruhi. Contohnya adalah kesehatan kita atau cara kita berinteraksi dengan orang lain.
Dan di pusatnya, ada Lingkaran Kendali (𝘊𝘪𝘳𝘤𝘭𝘦 𝘰𝘧 𝘊𝘰𝘯𝘵𝘳𝘰𝘭)—tempat di mana kita benar-benar memegang kendali penuh; mencakup pikiran, tindakan, dan reaksi kita. Inilah fondasi untuk hidup yang lebih proaktif, bukan reaktif.
Orang-orang reaktif membiarkan Lingkaran Kekhawatiran mendominasi hidup mereka, terus mengeluh dan merasa menjadi korban. Sebaliknya, orang-orang proaktif fokus pada Lingkaran Kendali mereka, menginvestasikan energi pada apa yang bisa mereka lakukan.
Dengan berfokus pada apa yang ada dalam kendali kita, kita tidak hanya mengurangi 𝘰𝘷𝘦𝘳𝘵𝘩𝘪𝘯𝘬𝘪𝘯𝘨, tetapi juga memperluas Lingkaran Pengaruh kita. Semakin kita proaktif, semakin besar dampak positif yang bisa kita ciptakan.
Alih-alih tenggelam dalam kekhawatiran yang tak berujung, mari kita pilih untuk membangun kekuatan dari dalam. Masa depan kita bukanlah takdir yang pasif; ia adalah hasil dari setiap tindakan, setiap pilihan, dan setiap momen yang kita putuskan untuk dikendalikan, bukan dipermasalahkan.
#INISIATIF #TGIF
1 811
+1
MISTERI DI BALIK PUNGGUNG 🤳
oleh: Budiman Hakim
Sejak dulu, gue selalu suka moto orang dari belakang (Seperti foto di bawah). Temen-temen sering komentar, “Lo demen banget moto orang dari belakang? Apa sih bagusnya?”
Terus terang gue gak bisa jawab. Gue suka aja… gak tau kenapa. Lucunya, lama-lama temen-temen pada ketularan. Mereka ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Terus mereka bilang, "Eh, iya, loh! Ternyata foto orang dari belakang itu lucu dan punya daya pikat tersendiri. Seakan ada misteri di sana."
Mendengar omongan mereka, gue memutuskan untuk mempelajari lebih jauh. Sebagai trend setter, masak sih gue sendiri gak ngerti latar belakangnya. Jadi gue coba menggali dari sudut pandang neurosains. Penjelasannya begini.
Secara ilmiah, otak manusia memang benci pada sesuatu yang tidak lengkap. Otak diciptakan untuk mencari pola, keteraturan, dan makna. Begitu ada bagian yang hilang, otak langsung beraksi. Mekanisme ini dijelaskan dalam Gestalt Principle of Closure: kecenderungan alami otak untuk menutup celah, melengkapi kekosongan dengan data dari memori, pengalaman, atau imajinasi.
Dalam bahasa neurosains modern, hal ini erat kaitannya dengan predictive coding: otak selalu berusaha menebak input sensorik berikutnya, lalu mengisinya dengan informasi yang disimpan di hippocampus (memori) dan diproses oleh prefrontal cortex (prediksi dan imajinasi). Proses ini berjalan lewat top-down processing, yaitu otak menafsirkan dunia bukan hanya dari apa yang kita lihat (bottom-up), tapi juga dari ekspektasi, memori, dan konteks.
Foto orang dari belakang adalah contoh sederhana tapi kuat bagaimana mekanisme ini bekerja. Ada beberapa ruang kosong yang memicu otak untuk segera bereaksi. Berikut pembahasannya:
Wajah yang tak terlihat
Otak membuka “folder memori” lalu mencari kemungkinan wajah, menempelkan bayangan wajah yang kita kenal atau membangun imajinasi wajah anonim.
Kaki yang melangkah
Gerakan itu menyisakan pertanyaan: “Dia mau ke mana?” Otak membangun skenario apakah menuju rumah, mengejar mimpi, atau sekadar berjalan tanpa arah.
Latar belakang jalan dan horizon
Otak menyambungkan garis jalan dan batas pandangan, lalu menambahkan narasi tentang perjalanan yang sedang ditempuh.
Ransel di punggung
Benda sederhana, tapi cukup untuk memancing otak menebak isinya: buku, kamera, laptop, kondom atau mungkin hanya sebotol air.
Konteks sosial
Kalo subyeknya sendirian, otak segera mengisi celah dengan pertanyaan: apakah dia memang suka sendiri? Apakah ada seseorang yang menunggu di ujung jalan? Atau justru dia sedang melarikan diri dari sesuatu?
Semua proses ini melibatkan Default Mode Network (DMN), jaringan otak yang aktif ketika kita berkhayal, merenung, atau membangun narasi. Artinya, sebuah foto sederhana bisa menyalakan area otak yang sama dengan saat kita bermimpi.
Meskipun otak membenci yang tidak lengkap, justru di situlah letak keindahannya. Ruang kosong itu, yang semestinya jadi kekurangan, malah membuat otak kita ikut bekerja: menebak, membangun, dan menyulam cerita.
Dibandingkan dengan foto orang sedang berpose, foto candid saja sudah menarik. Apalagi foto orang dari belakang. Daya tariknya buat saya jauh lebih kuat. Unik. Ia bukan hanya gambar, tapi undangan bagi otak kita untuk ikut bermain. Ia sederhana, tapi kaya. Ia tidak lengkap, tapi justru terasa penuh. Ia bukan jawaban, melainkan pertanyaan. Dan pertanyaanlah yang membuat kita selalu ingin kembali melihatnya.
#INISIATIF
1 811
BPJS CALLING: Road to Pornas KORPRI 2025 🇲🇨
18 pegawai terpilih siap mengukir cerita, berjuang bukan hanya untuk kemenangan, tapi juga untuk nama baik BPJS Kesehatan 🙌
Satukan semangat dan dukungan:
https://www.instagram.com/p/DPQBTijiQAT/?igsh=YmIzcTlzdDJrNWNm
#LifeAtBPJSKesehatan #PejuangJKN
1 811
THE CULTURE CLASH IN LEADERSHIP STYLES 🤝
Oleh: Dedi Priadi
Berdasarkan pengamatan Erin Meyer, seorang penulis dan ahli budaya, 𝘕𝘦𝘸 York 𝘛𝘪𝘮𝘦𝘴 𝘉𝘦𝘴𝘵 𝘚𝘦𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘈𝘶𝘵𝘩𝘰𝘳, gaya kepemimpinan di Indonesia cenderung sangat top-down dan hierarkis. Hal ini membentuk budaya di mana wewenang atasan mutlak dihormati.
Akibatnya, banyak karyawan merasa ragu dan takut untuk menyampaikan ide-ide inovatif mereka. Kondisi ini membuat inovasi menjadi terhambat dan komunikasi mengalir satu arah.
Hal ini juga mengikis engagement atau keterlibatan antara atasan dan bawahan, memutus aliran komunikasi yang seharusnya menjadi jembatan kolaborasi.
Motivasi internal karyawan pun menjadi prevention-focused, sekadar untuk tidak membuat kesalahan, bukan untuk menciptakan terobosan yang memajukan perusahaan.
Karyawan pun kehilangan dorongan intrinsik mereka untuk memberikan yang terbaik. Mereka tidak lagi merasakan dorongan untuk tumbuh atau berkontribusi lebih.
Berbeda dengan Jepang, yang juga sangat menghormati otoritas, tetapi memiliki gaya kepemimpinan yang lebih kolegial dan konsensual.
Para pemimpin di Jepang lebih memilih untuk mendiskusikan gagasan dan mengambil keputusan penting secara bersama-sama dalam sebuah forum yang saling menghormati.
Ini memicu para bawahan untuk berani menyampaikan ide-ide mereka, karena mereka merasa didengarkan dan dihargai. Inovasi pun berkembang, dan produktivitas meningkat.
Untuk bertransformasi, Indonesia harus menggeser paradigma. Mengadopsi dialog terbuka dan penghargaan terhadap setiap gagasan adalah langkah krusial, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘰𝘷𝘢𝘴𝘪 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘵𝘪 𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢.
#INISIATIF
1 811
BERITA DUKA 😭
Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu rekan kita Sobat ATE kakak @Kezia_Eva. Semoga segala amal ibadah dan dedikasi beliau diterima oleh Tuhan YME. Perjuanganmu akan kami lanjutkan 🤲
Selamat jalan, Pahlawan JKN 🥀
1 811
5 TINGKAT MENDENGARKAN 👂
oleh: Dedi Priadi
Mendengarkan lebih dari sekadar menunggu giliran untuk berbicara. Sebenarnya, kita bisa menganggapnya sebagai sebuah perjalanan dengan lima tingkatan yang berbeda.
Tingkat pertama, menunggu giliran bicara (𝘸𝘢𝘪𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘰 𝘵𝘢𝘭𝘬), adalah titik awal yang umum. Ini saat Anda diam, tetapi hanya karena Anda memikirkan apa yang akan Anda katakan selanjutnya, bukan apa yang dikatakan orang lain. Ini tentang fokus pada diri sendiri.
Tingkat berikutnya adalah mendengar kata-kata (𝘩𝘦𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘩𝘦 𝘸𝘰𝘳𝘥𝘴). Pada tahap ini, Anda menangkap sebagian dari percakapan, tetapi perhatian Anda sering melayang. Anda mendengar, tetapi tidak benar-benar menyerapnya.
Tingkat ketiga adalah saat mendengarkan yang sebenarnya dimulai: memahami pesan (𝘶𝘯𝘥𝘦𝘳𝘴𝘵𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘩𝘦 𝘮𝘦𝘴𝘴𝘢𝘨𝘦). Di sini, Anda benar-benar fokus. Anda tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga maknanya. Tujuannya adalah untuk memahami, bukan hanya untuk membalas.
Saat Anda menyelam lebih dalam, Anda mencapai tingkat keempat: mengenali emosi (𝘳𝘦𝘤𝘰𝘨𝘯𝘪𝘻𝘪𝘯𝘨 𝘦𝘮𝘰𝘵𝘪𝘰𝘯𝘴). Ini adalah mendengarkan secara empatik. Anda melampaui kata-kata untuk merasakan keadaan emosional orang lain dan memahami bagaimana perasaan mereka.
Tingkat terakhir, dan yang paling dalam, adalah mendengar apa yang tak terucap (𝘩𝘦𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨 𝘸𝘩𝘢𝘵'𝘴 𝘶𝘯𝘴𝘢𝘪𝘥). Ini tentang hadir sepenuhnya. Anda menangkap makna yang lebih dalam dan hal-hal yang mereka sulit ungkapkan—apa yang mereka butuhkan untuk Anda dengar, bukan hanya apa yang mereka katakan.
Dengan bergerak melampaui sekadar mendengar dan berjuang untuk mendengarkan pada tingkat yang lebih dalam, kita dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan benar-benar memahami orang-orang dalam hidup kita.
Credit: Justin Wright
#INISIATIF
1 811
Buat kami, BPJS SATU bukan cuma slogan. Ini wujud nyata pengabdian. Dan kami bangga bisa jadi bagian dari barisan itu 💪
https://www.instagram.com/p/DPLzOHBCdGp/?igsh=MTQ5M2EyZ2Fua3UzbQ==
#LifeAtBPJSKesehatan #PejuangJKN
1 811
MELIHAT MASALAH SEBAGAI PELUANG 👍
Oleh: Dedi Priadi
Mari belajar dari ilustrasi pensil yang patah. Sebuah pensil yang utuh melambangkan masa-masa ketenangan. Namun, perjalanan hidup pasti akan membawa tantangan, sama seperti pensil yang patah menjadi dua.
Dari pada melihat patahan itu sebagai sebuah akhir, ilustrasi ini mengajak kita untuk mengubah perspektif tentang bagaimana melihat sebuah permasalahan. Kita didorong untuk melihat setiap kesulitan sebagai kesempatan untuk pertumbuhan spiritual.
Setelah patah, kedua potongan pensil itu disatukan kembali, tetapi dengan cara yang baru. Pelajaran dari hal ini adalah kita tidak hanya memperbaiki apa yang rusak, tetapi juga membentuk sesuatu yang lebih kuat dan lebih bermakna dari pengalaman tersebut.
Sebuah masalah bukanlah jalan buntu, melainkan ujian untuk membangkitkan kekuatan batin kita. Dua bagian pensil yang terpisah kini menjadi satu kesatuan yang unik dan kreatif, hasil dari transformasi kita menghadapi masalah.
Ingat, sesungguhnya bersama kesulitan ada dua kemudahan. Masa-masa sulit tidaklah permanen; ia adalah bagian dari siklus kehidupan yang pada akhirnya akan membawa ketenangan.
Dengan melihat setiap cobaan sebagai peluang, kita tumbuh lebih bijaksana, belajar, dan menjadi pribadi yang lebih utuh.
Percaya bahwa ada tujuan yang lebih besar di balik setiap tantangan akan memberikan kita kekuatan untuk terus melangkah.
Kemenangan terbesar kita sering kali datang setelah kita berhasil melewati ujian terberat. Setiap kesulitan adalah pintu gerbang menuju pertumbuhan spiritual yang lebih luas.
#INISIATIF
1 811
INNALILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN 😭
Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu sobat ATE kakak @Muhammad_Hanafi91. Semoga segala pengabdian dan dedikasi almarhumah kepada Organisasi, Nusa dan Bangsa dapat diterima oleh Tuhan YME menjadi amal jariyah dan mendapat tempat terbaik di Sisi-Nya, aamiin 🤲
Selamat jalan, Pahlawan JKN 🥀
متاح الآن! بحث تيليغرام 2025 — أهم رؤى العام 
