ar
Feedback
Ask The Experts

Ask The Experts

الذهاب إلى القناة على Telegram

Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨 https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn

إظهار المزيد
1 856
المشتركون
لا توجد بيانات24 ساعات
لا توجد بيانات7 أيام
+2730 أيام
أرشيف المشاركات
Oleh: Dedi Priadi Bayangkan jika organigram konyol berikut adalah struktur kepemimpinan sebuah negara. Di puncak, duduklah 𝘊
Oleh: Dedi Priadi Bayangkan jika organigram konyol berikut adalah struktur kepemimpinan sebuah negara. Di puncak, duduklah 𝘊𝘩𝘪𝘦𝘧 𝘚𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘘𝘶𝘰 𝘖𝘧𝘧𝘪𝘤𝘦𝘳 yang tugas utamanya adalah memastikan tidak ada yang berubah. Di sekelilingnya, ada 𝘝𝘗 𝘰𝘧 𝘞𝘢𝘪𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘚𝘦𝘦 yang menunda keputusan penting, 𝘝𝘗 𝘰𝘧 𝘗𝘭𝘢𝘺 𝘐𝘵 𝘚𝘢𝘧𝘦 yang anti-risiko, dan 𝘝𝘗 𝘰𝘧 𝘔𝘰𝘳𝘦 𝘈𝘯𝘢𝘭𝘺𝘴𝘪𝘴 yang tak pernah puas dengan data. Di level eksekusi, setiap ide cerdas dari rakyat langsung dipangkas oleh 𝘋𝘪𝘳𝘦𝘤𝘵𝘰𝘳 𝘰𝘧 𝘐𝘵'𝘭𝘭 𝘕𝘦𝘷𝘦𝘳 𝘞𝘰𝘳𝘬 dan 𝘋𝘪𝘳𝘦𝘤𝘵𝘰𝘳 𝘰𝘧 𝘛𝘳𝘪𝘦𝘥 𝘐𝘵 𝘉𝘦𝘧𝘰𝘳𝘦. Apa hasilnya? Sebuah bangsa yang terkunci rapat di masa lalu, kehilangan momentum emas, dan kehabisan energi hanya untuk melawan kelembaman dirinya sendiri. Kita harus segera menyadari, organigram itu bukan sekadar lelucon manajemen, ia adalah ancaman nyata terhadap kemajuan sebuah bangsa. Ketika pemimpin nasional mengadopsi mentalitas 𝘊𝘩𝘪𝘦𝘧 𝘚𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘘𝘶𝘰, mereka menciptakan sebuah birokrasi yang didesain untuk gagal. Mereka menyamarkan ketakutan akan perubahan sebagai kehati-hatian, dan menutupi ketiadaan visi sebagai stabilitas. Padahal, bagi negara yang sedang berkembang, stabilitas yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bertransformasi. Inilah mengapa peran pemimpin 𝘷𝘪𝘴𝘪𝘰𝘯𝘦𝘳 menjadi krusial. Visi adalah peta jalan kolektif, sebuah destinasi yang disepakati bersama. Visi yang kuat secara otomatis mendepak mentalitas 𝘋𝘪𝘳𝘦𝘤𝘵𝘰𝘳 𝘰𝘧 𝘐𝘵'𝘭𝘭 𝘕𝘦𝘷𝘦𝘳 𝘞𝘰𝘳𝘬, karena kini setiap langkah memiliki tujuan jelas: mencapai janji masa depan yang diidamkan. Visi yang jelas mengubah "inisiatif" menjadi "pergerakan nasional." Namun, visi harus ditopang oleh 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘨𝘳𝘪𝘵𝘢𝘴. Integritas membangun kepercayaan nasional, mata uang sosial paling berharga. Ketika rakyat percaya pada pemimpin, mereka rela berkorban dan mendukung kebijakan sulit sekalipun. Sebaliknya, ketiadaan integritas hanya melahirkan banyak 𝘔𝘢𝘯𝘢𝘨𝘦𝘳 𝘰𝘧 𝘐 𝘎𝘪𝘷𝘦 𝘜𝘱 yang apatis, tak bertanggung jawab, dan putus urat malu korupsinya. Indonesia bangsa yang besar. Bayangkan, jika para pemimpinnya hanya 𝘭𝘦𝘺𝘦𝘩-𝘭𝘦𝘺𝘦𝘩. Nggak kompeten, nggak tegas, dan nggak berintegritas. Kita punya segalanya: sumber daya alam yang masih melimpah, bonus demografi, potensi ekonomi yang luar biasa. Tapi jika di pucuk pimpinan hanya ada 𝘊𝘩𝘪𝘦𝘧 𝘚𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘘𝘶𝘰 dan bala tentaranya, semua potensi itu akan menguap. Proyek-proyek strategis mandek, korupsi merajalela, dan energi membangun habis melawan inersia. Untuk menanggulangi mentalitas inersia ini, kita butuh elemen ketiga: 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘨𝘢𝘴𝘢𝘯. Pemimpin yang tegas mampu mengurai "benang kusut" birokrasi dan berani membuat keputusan yang benar, meski tidak populer. Ketegasan adalah daya dorong untuk memberdayakan bahan bakar karakter kepribadian mayoritas masyarakat bangsa kita yang cenderung ekstrovert. Sifat ekstrovert masyarakat Indonesia memiliki dua mata pisau: sifat ekstrovert adalah bahan bakar pembangunan karena memicu semangat kolaborasi, namun juga memicu kelemahan dalam fokus jangka panjang dan memudahkan masyarakat mensiasati aturan demi menjaga harmoni sesaat. Ketegasan pemimpin menjadi pagar untuk memastikan keramahan kita tidak luntur menjadi kompromi pada kualitas dan akuntabilitas. Inilah Momennya. Setiap detik adalah 𝘸𝘪𝘯𝘥𝘰𝘸 𝘰𝘧 𝘰𝘱𝘱𝘰𝘳𝘵𝘶𝘯𝘪𝘵𝘺. Kita berada pada momentum sejarah di mana aset demografi mumpuni, sumber daya alam masih melimpah, dan potensi ekonomi yang siap melenting. Momentum kemajuan tidak menunggu 𝘝𝘗 𝘰𝘧 𝘞𝘢𝘪𝘵 𝘢𝘯𝘥 𝘚𝘦𝘦, ia menuntut kecepatan dan keberanian. Kunci untuk melompat dari jebakan 𝘊𝘩𝘪𝘦𝘧 𝘚𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘘𝘶𝘰 adalah kepemimpinan nasional yang memegang teguh tiga pilar: visi sebagai kompas, integritas sebagai perekat kepercayaan, dan ketegasan sebagai pedang yang membelah kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa. Dengan kepemimpinan yang utuh ini, seluruh potensi dan semangat gotong royong bangsa kita akan bergerak serentak, mengubah Indonesia dari hanya sekadar bangsa yang besar menjadi bangsa yang maju, sejahtera dan berkeadilan. Aamiin. #INISIATIF

Ada konten bagus nih ttg Penonaktifan PBI JK, tp koq konten bener dan mencerahkan seperti ini susah viralnya yaa... Yuk kita share biar makin banyak yang jadi paham 🤝🇲🇨 Algoritma please do your magic 🙏 https://www.instagram.com/p/DUmaV3NEqdN/?igsh=ODV4cnI1cGc0NjI1

Jauhkan Perasaan dari Pekerjaan Oleh: Hasanudin Abdurakhman Di tempat kerja saya berdebat dengan anak muda. Untuk mempertahankan posisinya dia menyerang personal saya, yang tidak relevan dengan urusan pekerjaan. Saya langsung menghentikan perdebatan. Sudah, begitu saja, saya hanya berhenti berdebat, tanpa marah. GM bawahan saya heran. "Kok Pak Hasan sabar banget?" Saya tertawa saja. "Kenyamanan dan ketenangan saya terlalu mahal harganya, saya tidak mau kenyamanan itu terganggu oleh urusan sepele. Kita sama-sama cari makan, kok. Bekerjalah dengan tetap menjaga emosi kita," kata saya. Dia kaget. Dia sendiri masih gregetan melihat saya diperlakukan tidak sopan. Saya malah santai saja. Bahkan selanjutnya saya tetap bekerja sama dengan anak muda tadi, tanpa ada perubahan sikap. Yang penting pekerjaan yang saya tugaskan dia jalankan. Kok bisa begitu? Ya itu tadi. "Kerja itu pakai nalar. Solve the problems! Emosi kita hanya dipakai untuk hal-hal yang memang memerlukan emosi. Emosi (perasaan) itu tempat utamanya dalam hubungan pribadi," kata saya. Dia tercengang. Dia belajar merenungi resep saya itu. "Benar juga ya, Pak," kata GM saya tadi. Dalam berbagai training saya bilang,"Jangan ada bestie, deh dalam hubungan kerja. Nanti kalian kehilangan objektivitas. Mau mengoreksi yang salah jadi segan." Hubungan pribadi yang dekat sama bahayanya dengan permusuhan di tempat kerja. Keduanya tidak perlu ada, karena tempat kerja bukan ranah pribadi. Kerja dilakukan, keputusan dibuat, semua berbasis pada standar dan nalar, bukan atas perasaan suka atau tidak suka. #INISIATIF

Oleh: Dedi Priadi Apa yang menjadi milikmu tidak akan melewatkanmu, dan apa yang melewatkanmu memang bukan milikmu. Cicak tid
Oleh: Dedi Priadi Apa yang menjadi milikmu tidak akan melewatkanmu, dan apa yang melewatkanmu memang bukan milikmu. Cicak tidak memiliki sayap untuk terbang, namun ia tenang menunggu nyamuk yang terbang menghampirinya tanpa pernah merasa salah alamat. Begitu pula kucing yang tak pandai menyelam, namun takdirnya tetap dipertemukan dengan ikan yang hidup di kedalaman air yang tak terjangkau olehnya. Bagaikan sungai yang mengalir tenang, rezeki akan selalu menemukan jalannya sendiri melewati bebatuan rintangan menuju muara takdir yang telah ditetapkan tanpa pernah tertukar. Dunia ini adalah panggung simfoni yang maha rapi, di mana setiap makhluk telah diatur jatah energinya oleh Sang Maha Pemberi tanpa ada yang tertukar. Lantas, mengapa engkau yang dikaruniai akal budi dan kemuliaan batin masih sering merasa cemas dan ragu akan jaminan esok hari? Rezeki bukanlah tentang apa yang kau kejar hingga sesak napas, melainkan tentang apa yang ditetapkan menjadi milikmu secara presisi dan abadi. Harta itu seperti bayangan; jika kau kejar ia lari, namun jika kau berjalan menuju cahaya Sang Pencipta, bayangan itu yang akan mengikutimu. Tugasmu hanyalah menyempurnakan ikhtiar lahiriah, sementara urusan hasil adalah wilayah Tuhan Sang Pengatur Rezeki yang tak pernah sekali pun tidur memantau kebutuhan hamba-Nya. Para guru mulia mengajarkan kita untuk meletakkan dunia di tangan, bukan di hati, agar saat rezeki itu datang kita bersyukur dan saat pergi kita tak hancur. Hiduplah dengan penuh keyakinan, karena rezekimu telah mencari alamatmu sejak sebelum kau lahir, melebihi caramu mencari rezeki itu sendiri setiap harinya. Keajaiban rezeki akan selalu menghampiri jiwa yang pasrah namun tidak menyerah, yang percaya bahwa setiap tarikan napas sudah sepaket dengan jaminan hidupnya. #INISIATIF

ZERO ERROR MINDSET 👏 Kalau kamu pikir kerjaan kasir cuma “klik bayar”, wah… kamu perlu lihat proses di baliknya 😄 Jangan lu
+6
ZERO ERROR MINDSET 👏 Kalau kamu pikir kerjaan kasir cuma “klik bayar”, wah… kamu perlu lihat proses di baliknya 😄 Jangan lupa berikan dukunganmu di sini 👇 https://www.instagram.com/p/DUaTlufCdX2/?igsh=MWdrcTI2NGlzdjBvaw==

ZERO ERROR MINDSET 👏 Kalau kamu pikir kerjaan kasir cuma “klik bayar”, wah… kamu perlu lihat proses di baliknya 😄 Jangan lu
+6
ZERO ERROR MINDSET 👏 Kalau kamu pikir kerjaan kasir cuma “klik bayar”, wah… kamu perlu lihat proses di baliknya 😄 Jangan lupa berikan dukunganmu di sini 👇 https://www.instagram.com/p/DUaTlufCdX2/?igsh=MWdrcTI2NGlzdjBvaw==

😀😃😄😁 Inilah 5 peserta paling sat set, paling gacor, dan paling aktif di kegiatan NGED-ATE EDUC-ATE Edisi 419 🔥 1️⃣ @Nera
😀😃😄😁 Inilah 5 peserta paling sat set, paling gacor, dan paling aktif di kegiatan NGED-ATE EDUC-ATE Edisi 419 🔥 1️⃣ @Nera2703 – KC Lubuk Linggau 2️⃣ @tiara19mustika - KC Lubuk Linggau 3️⃣ @Firdauscinghu - KC Bima 4️⃣ @khayamirrotul - KC Selong Terima kasih buat semua peserta yang selalu semangat dalam rangkaian kegiatan. Sampai bertemu kembali di challenge ATE berikutnya. Stay tuned & stay competitive 🏆 https://www.instagram.com/p/DUX0gRREzQu/?igsh=ODBxZHlmb3Qzbnlu #INISIATIF

PACARAN SETELAH MENIKAH 🥰 Oleh: Budiman Hakim “Kenapa suamiku berubah, ya?” kata Nani sambil mengaduk kopi yang sudah dingin. "Berubah gimana?" tanya Sisca. “Waktu pacaran dia baik banget. Kalo jalan tanganku digandeng, chat panjang-panjang, suka bawain bunga. Sekarang? Pulang kerja capek, main HP lalu tidur. Aku kayak gak kelihatan.” Sisca cuma terdiam mendengarkan. Curhat seperti ini bukan hal baru. Hampir semua perempuan pernah mengucapkannya. Beda versi tapi hakikatnya sama. Yang sering dijadikan kambing hitam selalu pernikahan. Padahal yang berubah bukan statusnya, tapi cara kerja otaknya. Yuk, kita eksplorasi, apa sebenernya yang terjadi. Saat pacaran, otak cowok didominasi oleh sistem dopamin. Ini adalah sistem di masa berburu. Otak fokus pada sesuatu yang belum sepenuhnya dimiliki. Dopamin membuat seseorang lebih perhatian, lebih sabar, lebih peka pada respons pasangan. Setiap senyum dan sentuhan terasa seperti hadiah. Itu sebabnya cowok terlihat “berbeda” saat pacaran. Bukan karena pura-pura, tapi karena otaknya sedang dalam mode berburu. Setelah menikah, sistem otak bergeser. Dopamin menurun, digantikan oleh oksitosin dan vasopresin, hormon keterikatan dan rasa aman. Otak berhenti mengejar, lalu mulai menetap. Hubungan berubah dari sensasi menjadi stabilitas. Secara psikologis, ini fase yang sehat. Tapi memang ada efek sampingnya. Otak manusia suka efisiensi. Begitu sesuatu dianggap aman, otak menghemat energi. Gesture kecil yang dulu dilakukan dengan sadar, menggandeng tangan, menatap lama, berbicara lembut, dianggap tidak lagi krusial untuk bertahan hidup. Masalahnya, banyak cowok tidak pernah diajari bahwa rasa aman tidak sama dengan berhenti berusaha. Di sisi lain, perempuan tetap membaca cinta lewat simbol: sentuhan, perhatian, kehadiran emosional. Maka terjadilah benturan. Yang satu merasa sudah memberi, yang lain merasa ditinggalkan. “Iya, itu terjadi sama semua cowok,” kata Sisca. "Suamiku juga berubah." "Masak? berubah gimana?" “Waktu baru nikah, suamiku kalo tidur maunya hadap-hadapan. Setelah 6 bulan, tidurnya punggung-punggungan. sampe sekarang.” “Kalo suami juga berubah,” katanya pelan, “kenapa kamu kayaknya gak terganggu?” Sisca tersenyum penuh simpati. “Karena kami punya ritual Jumat." "Maksudnya?" “Setiap Jumat malam, kami pacaran lagi.” Nani mengangkat kepala. “Kami pakai baju bagus, kayak dulu. Pergi ke bioskop yang dulu. Kadang ke tempat yang dulu sering kami datangi. Kadang cuma duduk, ngobrol, ketawa. Pernah juga ke diskotek lama, joget di dance floor, keringetan, pulang capek.” "Wah, seru, tuh. Buat nostalgia ya?" kata Nani seraya menyeruput kopinya. “Bukan buat nostalgia,” lanjut Sisca. “Tapi buat ngingetin otak bahwa orang ini pernah jadi sesuatu yang dikejar.” Nani terdiam. “Kami tahu cinta berubah,” kata Sisca. “Makanya keindahan waktu pacaran harus dipanggil pulang." "Bisa ya?" tanya Nani takjub. "Memang gak sama persis, tapi pacaran lagi setelah menikah itu bagus untuk membuat hubungan kita kembali membara.” Kopi di depan Nani sudah dingin. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, kepalanya terasa hangat. #INISIATIF #TGIF

😀😃😄😁 Sebagai anak perusahaan BPJS Kesehatan, PT CMS Duta Solusi senantiasa berfokus untuk menghadirkan solusi Business Ed
😀😃😄😁 Sebagai anak perusahaan BPJS Kesehatan, PT CMS Duta Solusi senantiasa berfokus untuk menghadirkan solusi Business Edu Tech, Man Power Provider, dan IT Solution untuk mendukung kebutuhan seluruh unit kerja baik di kantor pusat, kedeputian wilayah, maupun di kantor cabang 🇲🇨 Layanan yang tersedia dirancang untuk membuat operasional makin efektif mencakup: 1. Pengadaan Seminar Kit 2. Tiket Perjalanan 3. Payment System 4. Sertifikasi Kompetensi dan Pelatihan 5. Event Management 6. WhatsApp Blast Payment 7. Sistem Rekonsiliasi 8. dll Nggak perlu cari jauh, Mari manfaatkan layanan CMS sebagai solusi internal terpercaya untuk mendukung kinerja kita. Saatnya pilih solusi dari ekosistem kita sendiri karena CMS dari kita untuk kita 🤝 Info lebih lanjut kunjungi cmsdutasolusi.co.id

People Pleasing 🤝 Oleh: dr Dastin Andre Dalam psikologi, People Pleasing seringkali adalah bentuk dari Fawn Response (Respon Menyenangkan Musuh). Ini berasal dari luka masa kecil (mungkin Father Hunger atau orang tua otoriter). Otakmu belajar: "Agar aku selamat dan dicintai, aku harus berguna. Aku nggak boleh punya keinginan sendiri. Aku harus bikin orang tua/orang lain senang." Jadi, kamu berbuat baik karena TAKUT DITOLAK, bukan murni karena ingin memberi. Bahayanya, People Pleaser sering punya Kontrak Terselubung dalam hati: "Aku kan udah berkorban banyak buat kamu, harusnya kamu sadar diri dong balas kebaikanku." Tapi orang lain nggak tahu kontrak itu! Akhirnya, saat mereka nggak membalas setimpal, kamu jadi Dendam (Resentment). Kamu meledak marah: "Kamu gak tau diri!" Padahal salahmu sendiri yang nggak pernah bilang "Nggak". Gimana cara berhentinya? Susah kan langsung bilang "Nggak"? Pakai teknik "Beli Waktu". Saat ada yang minta tolong, JANGAN langsung jawab. Katakan ini: - "Boleh aku cek jadwal dulu? Nanti aku kabari 1 jam lagi." - "Aku pikir-pikir dulu ya." Jeda waktu ini memutus refleks "Iya" otomatis kamu, dan memberi otakmu kesempatan mikir: "Aku beneran mau, atau cuma takut?" Saat kamu pertama kali menolak (bilang "No"), rasanya bakal Gak Enak Banget. Jantung deg-degan, merasa jahat, takut dia marah. Itu wajar. Itu namanya "Guilt Withdrawal". Tahan rasa itu. Jangan buru-buru meralat jadi "Iya" cuma buat menghilangkan rasa cemasmu. Rasa bersalah itu cuma sementara. Kebebasanmu itu selamanya. Ingat mantra ini: "No" is a complete sentence. (Kata "Tidak" adalah kalimat lengkap). Kamu nggak butuh alasan berbelit-belit, nggak perlu bohong sakit, nggak perlu minta maaf berlebihan. Kamu berhak menolak hanya karena kamu tidak mau. Dan itu cukup. Menjadi baik itu bagus, tapi baiklah pada dirimu sendiri dulu. ✨ #INISIATIF

Setiap pegawai punya cara sendiri untuk menjaga energi dan semangat saat bekerja 💪 Melalui spot favorit di kantor, kita bela
+9
Setiap pegawai punya cara sendiri untuk menjaga energi dan semangat saat bekerja 💪 Melalui spot favorit di kantor, kita belajar bahwa produktivitas juga butuh ruang untuk fokus, refleksi, dan recharge 🔥 Kalau kamu, di mana tempat favoritmu? Ceritain di bawah yah 👇 https://www.instagram.com/p/DUVLPiXiY3j/?igsh=Y2trMGtwcHVyYW1y

🔍🔍🔍 Ijin share #rekaman kegiatan ATE #Episode419 dengan Tema Tips Membuat Ide Cerita dalam Menulis Novel ataupun Film bers
🔍🔍🔍 Ijin share #rekaman kegiatan ATE #Episode419 dengan Tema Tips Membuat Ide Cerita dalam Menulis Novel ataupun Film bersama Uray Dwiyanti SN ❤️ https://youtu.be/gzqpxruaT3Y

Oleh: Fahmi Hasan Nugroho Dalam fikih harta orang lain adalah barang suci yang tak boleh diganggu. Ia hanya boleh dibiarkan t
Oleh: Fahmi Hasan Nugroho Dalam fikih harta orang lain adalah barang suci yang tak boleh diganggu. Ia hanya boleh dibiarkan terserah pemiliknya mau berbuat apa dengan barangnya. Jika ia salah bersalahlah ia, jika ia benar ya beruntunglah ia. Makanya Rasulullah bersabda, "Darah kalian, harta kalian haram bagi kalian seperti haramnya hari ini, di bulan ini, di tempat ini..." Maksudnya, haram untuk diganggu. Jambu di dalam pekarangan itu ya punya pemiliknya. Meski ia berjatuhan dan mubadzir orang luar tak berhak untuk mengambil tanpa seizin pemiliknya. Uang 20 ribu yang tergeletak di jalan, selamanya tetap menjadi milik pemilik aslinya. Jika anda menemukannya, anda tidak berhak untuk memilikinya kecuali setelah anda umumkan di tempat itu selama satu tahun dan tak ada yang merasa kehilangan uang itu. Kehilangan bukanlah sebab lepasnya hak seseorang dari suatu harta, dan penemuan bukanlah sebab munculnya hak kepemilikan terhadap barang yang pasti ada pemiliknya. Hal ini sederhana, tapi semua orang patut untuk mengetahuinya. Sering kali karena bercanda kita mengambil hak orang lain, karena marah kita merusak hak orang lain. Jangan dibiasakan karena setiap pengambilan harta tanpa hak harus dikembalikan dan setiap pengrusakan harus diganti kerugiannya. Ini cuplikan dari video. Orang mukul kaca mobil sampai pecah. Lumayan, ganti kaca doang bisa sampai 4 juta lebih. Kadang kalo emosi memang gitu, logika kita tersumbat sejenak oleh adrenalin, ketika adrenalin habis dan kita kena perkara barulah kita menyesal karena harus berurusan dengan hukum. #INISIATIF

🔔🔔🔔🔔 Siap-siap adu cepat dan adu tepat di Kuis Trivia COMMIT ATE 🏆 🗓 Selasa, 3 Februari 2026 ⏰ 16.15 WIB 📍 Grup Telegr
🔔🔔🔔🔔 Siap-siap adu cepat dan adu tepat di Kuis Trivia COMMIT ATE 🏆 🗓 Selasa, 3 Februari 202616.15 WIB 📍 Grup Telegram ATE (Grup khusus Internal Duta BPJS Kesehatan (pegawai dan PATT) https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1 📤 10 soal pilihan ganda (Durasi 30 detik/soal) 🎁 4 souvenir dengan rincian: 2 pcs untuk 2 peserta terbaik (sesi kuis) dan 2 pcs untuk 2 peserta terbaik (sesi live kelas) ⚠️ Kuis akan berjalan otomatis oleh sistem (pastikan hadir tepat waktu yah karena yang telat akan otomatis ketinggalan) Stay tuned, pastikan kamu sudah standby sebelum jam mulai. See you on the leaderboard 🏅

Oleh: Dedi Priadi Coba tatap ilustrasi itu dengan rasa. Ada samudera merah yang begitu luas berisi ribuan masukan positif dan
Oleh: Dedi Priadi Coba tatap ilustrasi itu dengan rasa. Ada samudera merah yang begitu luas berisi ribuan masukan positif dan apresiasi, namun mengapa batinmu justru terpasung pada satu titik biru mungil yang berisi kritik atau cemoohan? Masukan negatif itu ibarat setetes tinta di dalam segelas air bening. Ia tak sanggup mengubah volume kebaikanmu, namun ia mampu mengubah seluruh warna harimu jika kau biarkan hatimu terus-menerus mengaduknya tanpa henti. Bayangkan dirimu adalah pemilik kebun mawar yang sangat luas. Ribuan bunga mekar indah mewakili dukungan tulus dari orang-orang sekitarmu, namun di sudut pagar ada sebatang benalu kecil berupa satu komentar pedas yang menyakitkan. Jika kau menghabiskan seluruh harimu hanya dengan meratapi benalu itu tanpa menyirami mawar-mawarmu, maka perlahan keindahan jiwamu akan layu. Jangan biarkan satu kata negatif mencuri kebahagiaan yang dibangun dari ribuan doa dan dukungan. Secara naluriah, ego kita memang lebih "haus" pada ancaman atau kritik demi melindungi harga diri. Namun, saat kau memberikan seluruh perhatianmu pada titik biru itu, kau sedang membiarkan satu masukan negatif mencekik akar kedamaianmu. Untuk menghadapinya, gunakan teknik "Jeda Kesadaran". Saat kritikan tajam menyerang, berhentilah sejenak, tarik nafas dalam, dan katakan: "𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢." Berikan jarak antara dirimu dan kata-kata mereka. Tenangkan batinmu dengan berdzikir memanggil nama-Nya, 𝘠𝘢 𝘔𝘶𝘥𝘢𝘣𝘣𝘪𝘳, wahai Dzat Yang Maha Mengatur segala urusan manusia. Serahkan penilaian orang lain kepada-Nya, karena hanya Dia yang benar-benar tahu niat dan tulusnya perjuanganmu. Biarkan masukan negatif itu menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri tanpa perlu merusak harga dirimu. Saat kau melepaskan kendali atas pendapat orang lain, kau sedang membiarkan Tuhan menata kedamaianmu. Janganlah terlalu keras menghukum diri hanya karena satu penilaian buruk dari manusia, padahal Tuhan saja selalu memandangmu dengan kasih sayang. Mengapa kau memilih mengurung diri dalam rasa malu, bukannya melangkah maju dengan hati yang tenang? Jadilah pribadi yang tenang dan penuh penerimaan. Saat kau mampu mensyukuri masukan positif sekaligus memilah masukan negatif dengan bijak tanpa rasa dendam, maka tak ada lagi "titik biru" yang mampu melukai cahaya jiwamu. #INISIATIF

Perkenalan singkat narsum 🏆

😂🤣🥲☺️😊🙂 Punya banyak ide tapi bingung mulai dari mana? Atau sering ngerasa idenya mentok di kepala tapi susah dituangkan
😂🤣🥲☺️😊🙂 Punya banyak ide tapi bingung mulai dari mana? Atau sering ngerasa idenya mentok di kepala tapi susah dituangkan jadi cerita utuh? Tenang, kamu nggak sendirian, proses kreatif memang sering penuh kebingungan di awal. Di kelas ini, kita bakal ngobrol santai bareng Kk @uraydwi salah satu tim penulis Film Ipar adalah Maut the Series tentang cara menemukan dan mengembangkan ide cerita, menyusun plot yang kuat, hingga membuat draft skenario yang rapi, praktis, dan aplikatif untuk novel maupun film Join ATE Edisi 419 🗓 Selasa, 3 Februari 2026 ⏰ 18.45 WIB – selesai 📍 Grup Telegram ATE (Khusus Internal Pegawai & PATT) https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1 🎁 Ilmu + 2 JP + Doorprize #INISIATIF

BERUNTUNG 😎 Oleh: Hasanudin Abdurakhman Kita sering salah lihat. Salah melihat kesuksesan orang. Dia sukses karena beruntung. Dia beruntung. Saya tidak. Dia sukses, wajar saja karena dia orang beruntung. Saya tidak sukses, wajar saja, karena saya bukan orang beruntung. Ini takdir. Masa sih? Iya, benar. Dia itu selalu beruntung. Selalu ada saja kesempatan dia untuk sukses, lebih maju lagi. Saya ini sangat jarang dapat kesempatan bagus. Kenapa Tuhan begitu pilih kasih? Ah, ini bukan soal Tuhan yang pilih kasih. Ini soal salah lihat. Sebenarnya kita mendapat banyak kesempatan. Kesempatan kita untuk sukses selalu datang seperti oksigen mendatangi hidung kita, atau seperti titik-titik air hujan menerpa tubuh kota. Soalnya tinggal, apakah kita menghela napas menghirup oksigen atau tidak. Apakah kita membuka mulut untuk minum air atau tidak. Tapi kenapa ada orang-orang tertentu yang selalu dapat kesempatan bagus, yang kemudian mengantarkan mereka ke jenjang sukses berkali-kali, sedangkan orang lain tidak? Begini. Ini sekali lagi soal salah lihat. Orang yang kita sangka beruntung itu mendapat peluang atau kesempatan. Ia siap menerima peluang itu. Ia mempersiapkan diri, ia mengolah kesempatan itu. Persiapannya sungguh panjang sehingga kita bahkan tidak bisa mendeteksi bahwa ia sudah melakukan persiapan. Kita hanya sekedar melihat ia, sama seperti kita. Padahal berbeda. Pemenang bahkan mencari kesempatan itu, menciptakan kesempatan. Peluang yang sebenarnya tidak begitu besar ia olah menjadi peluang dan kesempatan besar. Yang agak mustahil ia ubah menjadi kenyataan. Maka setiap peluang meninggalkan jejak dalam sejarah hidupnya, karena peluang itu menjadi faktor sukses dia. Adapun para pecundang, mereka tidak siap mengolah kesempatan. Ada kesempatan datang, ia biarkan berlalu, karena tak sanggup mengolahnya. Bahkan sering kali ia tak sadar bahwa ia berhadapan dengan kesempatan bagus. Maka kesempatan itu lewat begitu saja. Kesempatan itu tidak meninggalkan jejak apapun dalam hidupnya. Kita melihat seakan ia tak pernah mendapat kesempatan. Ia pun merasa tak pernah mendapat kesempatan. Padahal kesempatan itu selalu datang. Sejak kecil saya bermimpi untuk bisa sekolah ke luar negeri. Sejak SMP saya sadar bahwa saya harus fasih berbahasa Inggris untuk mewujudkan mimpi saya. Orang tua saya tidak punya uang untuk membiayai kursus bahasa Inggris. Tapi saya selalu mencari jalan agar bisa belajar. Akhirnya ada guru saya yang mau membiayai kursus itu sampai saya mahir. Saat mulai bekerja sebagai dosen, saya selalu mencari informasi beasiswa. Saya sudah siap dengan proposal riset. Ketika ada kesempatan melamar, saya langsung masukkan. Saya ingat, pada kesempatan pertama wawancara beasiswa, saya berangkat berdua dengan rekan sekampus. Dia diwawancarai terlebih dahulu. Tak sampai 5 menit dia sudah keluar, karena bahasa Inggrisnya tak lancar. Saya masuk setelah dia, diwawancara hampir 1 jam. Saya lulus, dia tidak. Kami mendapat kesempatan wawancara. Saya siap, dia tidak. Saya lulus, dia tidak. Saya mengenang kesempatan itu sebagai kesempatan berharga. Dia mungkin sudah lupa bahwa dia pernah ikut wawancara, karena wawancara itu tidak meninggalkan bekas bagi sejarah hidupnya. Luck = Preparation + Opportunity! #INISIATIF

Menjadi Staf Promotif Preventif ngajarin kami satu hal bahwa kesehatan itu bukan cuma soal mengobati, tapi soal mencegah seja
+6
Menjadi Staf Promotif Preventif ngajarin kami satu hal bahwa kesehatan itu bukan cuma soal mengobati, tapi soal mencegah sejak dini 🇲🇨 Beri dukunganmu kepada rekan-rekan staf Promprev 🙌 https://www.instagram.com/p/DUIQaCeCQUA/?igsh=MzE1aHQ4ODVsNml6