ar
Feedback
Media🌞Dakwah

Media🌞Dakwah

الذهاب إلى القناة على Telegram

Ekspresi Ummat Yang Merindukan Ridho Allah Dunia Wal Akhirah... Dunia adalah jalan ke Surga...

إظهار المزيد
1 635
المشتركون
لا توجد بيانات24 ساعات
-117 أيام
-8330 أيام
أرشيف المشاركات
photo content

intelektual dan akademisi, politisi, pengusaha, dan seluruh komponen umat lainnya. Memang jalan itu lebih panjang, lebih berat, lebih sunyi. Tapi bukankah kemenangan selalu lahir dari kesabaran dan konsistensi? HTI terus berjalan di jalur dakwah, bukan jalur kursi. Jalur itu mungkin tidak populer dimata manusia, tapi insyaAllah mulia di sisi Allah SWT. Maka, jalan sunyi itu akan tetap dipilih HTI. Hingga kemenangan mewujud ditengah umat. Dan saatnya itu sungguh sudah sangat dekat. Insya Allah. Allahu 'a'lam bishawab. [AM]

JALAN SUNYI HTI Abu Miqdad Dalam sistem demokrasi yang melekat didalamnya kegiatan Pemilu, suara rakyat sering disebut sebagai “suara Tuhan”. Padahal, entah sejak kapan suara Tuhan bisa dihitung dengan kertas dan tinta. Di setiap musim politik, rakyat dibuai dengan janji perubahan, reformasi, kesejahteraan, keadilan, dsb..., tapi semua itu tidak lebih hanya sekedar pemanis kampanye pemilu, pencitraan dan tipu-tipu. Di tengah euforia demokrasi, disetiap pesta rakyat digelar di negeri ini, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) selalu memilih jalan sunyi yakni jalan dakwah, bukan jalan kursi. Banyak yang heran bahkan mencibir “Mengapa HTI tidak ikut pemilu saja? Bukankah lewat parlemen bisa mengubah hukum negara?” Pertanyaan yang tampak logis itu sesungguhnya berangkat dari asumsi yang keliru. Karena HTI sejak awal memahami, bahwa perubahan mendasar, perubahan yang menyentuh akar sistem tak akan pernah lahir dari ruang sidang yang aturannya dibuat oleh manusia. Bagaimana mungkin hukum Allah bisa ditegakkan melalui sistem yang menolak hukum-Nya?. Dan fakta membuktikan saat mereka telah masuk dalam parlemen, idealisme perjuangan pun pelan-pelan pudar dan hilang. Alih-alih mau merubah sistem dari dalam, yang terjadi mereka akhirnya turut "tenggelam" menjadi bagian dari orang dalam. HTI memandang bahwa kekuatan sejati tidak berada di gedung parlemen, melainkan di hati umat. Di sanalah sumber energi perubahan. Maka, jika umat belum sadar, belum tercerahkan, belum memahami arah perjuangan, maka seribu kursi di parlemen tak akan mengubah apa pun. Itulah sebabnya HTI memilih jalur edukasi, bukan elektoral. Menyapa umat di kampus, di masjid, di pasar, di media, dan di ruang-ruang diskusi lainnya. Mengajarkan Islam bukan sekadar syariat ibadah, tapi juga sistem kehidupan. Dalam bahasa Hizbut Tahrir, proses ini disebut tatsqif, yakni kegiatan pembinaan dan pencerdasan umat. Karena, bagaimana umat akan memilih jalan Islam jika mereka bahkan belum tahu arah kiblat politik Islam itu sendiri? Sungguh ironis, lebih dari separuh rakyat negeri ini masih menjatuhkan pilihan pada partai-partai sekuler. Mereka tidak tahu bagaimana memilih dengan ilmu. Mereka mewarisi kebingungan politik yang ditanamkan sejak masa Orde Lama dan dipupuk hingga tumbuh subur oleh Orde Baru. Sistem pendidikan politik Islam dicabut dari akarnya, lalu sekulerisme lah yang berkuasa. Padahal Allah telah menegaskan: أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Ma’idah: 50) Parlemen dalam sistem demokrasi hanyalah panggung sandiwara, tempat undang-undang diproduksi dengan logika mayoritas, bukan kebenaran. Dan ketika kebenaran hanya menang jika mendapatkan suara terbanyak, maka yang berkuasa bukan lagi kebenaran, tapi keramaian (baca : bagi-bagi jabatan) dan kepentingan. Gerakan dakwah ekstra-parlemen HTI adalah bentuk perlawanan terhadap ketidak rasionalan itu. HTI menolak tunduk pada mekanisme yang mengekang wahyu (Syariat Allah SWT) di bawah palu sidang. HTI memilih menghidupkan akal dan iman umat agar sadar, bahwa kekuatan sesungguhnya bukan di surat suara, tapi di suara yang menyeru kepada kebenaran. Ayat Suci harus diatas ayat konstitusi. Rasulullah SAW pun tidak memulai perubahan dari "parlemen" Quraisy, meski beliau bisa saja menuntut “kursi kompromi” di Darun Nadwah. Tidak !!. Beliau justru membina umat di rumah Arqam bin Abi Arqam, menanam ide, bukan ambisi, membangun kesadaran, bukan berkoalisi. Begitulah pola yang dihidupkan kembali oleh HTI. Sebuah gerakan dakwah yang sabar, sistematis, dan penuh keyakinan bahwa perubahan perbaikan yang sejati tidak datang dari dalam sistem yang rusak, tapi dari dalam diri umat menuju puncak kekuasaan yang diberkahi Dzat Yang Maha Suci. Maka jangan heran bila HTI tidak masuk dan berteriak-teriak di dalam gedung parlemen, tapi HTI lebih memilih untuk menyeru dengan lantang di hati-hati kaum muda dan mahasiswa, para ulama,

https://irtaqi.net/2021/07/24/hukum-berharap-mati/ ..dalam mazhab Al-Syāfi‘ī ditegaskan, meminta mati karena kesususahan duniawi itu hukum makruh. Al-Nawawī berkata, يُكْرَهُ تَمَنِّي الْمَوْتِ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، (روضة الطالبين وعمدة المفتين (2/ 98) Artinya, “Dimakruhkan mengangankan kematian karena kesusahan (duniawi) yang menimpanya.” (Rauḍatu al-ṭālibīn, juz 2 hlm 98) Jika kondisi benar-benar berat dan seakan tidak kuat hidup lagi, maka maksimal boleh berdoa yang isinya meminta agar Allah mencabut nyawanya jika kematian lebih baik untuknya dan membiarkan tetap hidup jika kehidupan lebih baik baginya. Doa dengan makna seperti ini diajarkan Rasulullah ﷺ dalam hadis berikut ini, عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ: اللهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي ” (صحيح مسلم (4/ 2064) Artinya, “Dari Anas dia berkata: “Rasulullah ﷺ telah bersabda: ‘Janganlah ada seseorang di antara kalian yang mengharapkan kematian karena tertimpa kesengsaraan. Kalau terpaksa ia harus berdoa, maka ucapkanlah: ‘Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan tersebut memang lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian tersebut memang lebih baik untukku.'” (H.R. Muslim) Adapun jika mengharap mati karena kuatir din terfitnah, maka itu tidak makruh. Dasarnya adalah hadis berikut ini, عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” اثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ: الْمَوْتُ، وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ، وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ “( مسند أحمد مخرجا (39/ 36) Artinya, “Dari Mahmud bin Labid bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Dua hal yang dibenci oleh manusia: kematian padahal kematian itu lebih baik bagi orang mu`min dari pada fitnah dan benci sedikitnya harta padahal sedikitnya harta itu lebih ringan untuk hisab.” (h.R.Ahmad) Dalam hadis di atas Rasulullah ﷺ menyebut kematian lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah dalam agamanya. Ini menunjukkan mengharap mati untuk menyelamatkan din tidak tercela dan tidak dimakruhkan.

Document from Agung Sharea

Ini kitabnya dua jilid, bahas tentang orang Yahudi, agama yahudi dan zionisme, karya Dr. Abdul Wahhab Masiri, meneliti dan me
Ini kitabnya dua jilid, bahas tentang orang Yahudi, agama yahudi dan zionisme, karya Dr. Abdul Wahhab Masiri, meneliti dan menulis kitab ini selama dua puluh tahun dengan uang dari kantong sendiri

Document from Agung Sharea

Noor-Book.com التعليم ومستقبل المجتمعات الاسلامية في التخطيط الإسرائيلي

Kasus MC Perempuan Dan Sikap Islam Terhadap Kesetaraan Gender | Islam Kaffah https://share.google/1QTYyv6XYCNucOXHy

Hey, I think you should try Flip. It’s real money saver! You can transfer between banks and top up e-wallets with no fees. Pl
Hey, I think you should try Flip. It’s real money saver! You can transfer between banks and top up e-wallets with no fees. Plus, make everyday payments for less. Get Rp40.000 if you sign up with this link https://flip.id/s/ronku5931

STATUS HUKUM HARTA HASIL PENJARAHAN.pptx

Baru belakangan, ketika Hendra mengajak anak-anaknya ke Taman Mini Indonesia Indah, ketemu seseorang di anjungan Kalbar. Saling kenalan. Ketika tahu Hendra lahir di Kalbar terjadilah dialog panjang. Ternyata orang itu paman Hendra sendiri. Hendra pun memutuskan mencari ayahnya di Pontianak. Di Jalan Merak I Dalam. Ayah ibunya sudah tua tapi masih sehat. Hendra memutuskan pindah ke Pontianak. Anak Hendra kini sudah 16 orang. Yang tertua bekerja di Yamaha di Jepang. Dari Pontianak Hendra mengendalikan sembilan usaha atas nama pemegang saham tunggal. Meski orang Pontianak tapi darahnya Bugis. Di Kalbar memang banyak orang Bugis. Istrinya juga Bugis --karena itu Hendra memulai usaha pertama di Makassar. Hendra memutuskan tidak akan memiliki rumah, mobil, dan aset pribadi. Ia selalu sewa rumah. Sewa mobil. Ia mengaku ingin hidup sangat sederhana. Ia juga tidak ingin mewariskan apa pun ke anak-anaknya, kecuali ilmu pengetahuan. Begitu mendarat di Surabaya, saya ajak Hendra ke rumah. Makan siang di rumah. Saya ingin mengenal lebih jauh orang ini. Setelah makan saya tawari Hendra tidur di rumah saya. Lalu akan saya ajak ke Magetan –meresmikan bangunan kampus dua Islamic International School keesokan harinya. Tapi kedatangannya ke Surabaya sudah penuh agenda. Termasuk akan membicarakan konsep umrah Rp 12 juta itu dengan satu perusahaan umrah yang berpusat di Surabaya. Saya akan cari lagi orang ini. Saya penasaran. "Rasanya konsep Anda ini too good to be true," kata saya kepadanya. Saya pun menyinggung soal umrah Rp 15 juta yang ternyata menyengsarakan begitu banyak orang itu. Sampai pemilik perusahaan umrahnya masuk penjara. Hendra tahu semua itu. "Itu sih skema Ponzi," katanya. "Sedang ide saya ini jelas, baru bisa berangkat tujuh bulan kemudian," katanya. Saya iri dengan orang seperti Hendra: bisa hijrah begitu entengnya.(Dahlan Iskan) https://disway.id/catatan-harian-dahlan/893956/hijrah-riba Informasi Mojokerto dan sekitarnya Klik.. https://mojokerto.disway.id/read/6772/dari-bukit-krapyak-sampai-anjasmoro-pilihan-pendakian-seru-di-mojokerto

Hijrah Riba Oleh: Dahlan Iskan Selasa 26-08-2025 -- Saya bertemu seorang pimpinan sembilan perusahaan. Ia bukan pemegang saham. Ia bilang pemegang sahamnya tunggal: Allah. "Kan tidak bisa Allah jadi pemegang saham," kata saya. "Bisa," jawabnya. "Notarisnya pasti tidak mau bikinkan akta pendirian perusahaan. Kan melanggar hukum." "Notarisnya mau." "Tidak mungkin. Pasti di akta pakai nama orang. Nama Anda sendiri?" "Betul," jawabnya. "Lalu Anda bikin pernyataan notariel bahwa saham Anda itu sebenarnya milik Allah?" "Betul. Begitu," jawabnya. Nama orang itu: Hendra Firmansyah. Hendra lahir di Pontianak. Tumbuh besar di Jakarta. Ikut pertukaran pelajar ke Jepang dan Jerman. Belajar ilmu logika di Beijing. Mulai usaha di Makassar –sampai punya perusahaan eksporter lada hitam. Sembilan bulan terakhir Hendra kembali ke Pontianak: agar dekat dengan ayah-bundanya yang sudah tua. Tahun 2016 Hendra "hijrah"' –meninggalkan apa pun yang dilarang agama. Termasuk yang riba. Saat itu sebenarnya Hendra aman: tidak punya utang bank. Asetnya pun sudah Rp 500 miliar. Semua tidak lagi ia urus –konsentrasi memikirkan datangnya ''Hari Perhitungan'': apakah dosanya lebih besar dari pahalanya. Hendra pun jatuh miskin. Anaknya sudah 10 orang. Sebagian besar masih kecil-kecil. Hendra tidak lagi punya rumah. Perusahaannya sudah ia serahkan ke Allah. Ia tidur di rumah sewa. Kadang di masjid. "Apakah waktu memutuskan akan hijrah istri Anda setuju? Istri diajak bicara?" "Istri sangat setuju. Mendukung. Biar pun saya beri tahu risikonya akan hidup miskin," ujar Hendra. "Apakah Anda tergabung dalam komunitas masyarakat tanpa riba (MTR)?" "Tidak. Saya mandiri," katanya. Pelan-pelan usahanya hidup lagi. Ekspornya jalan lagi. Semua dividen diserahkan ke satu lembaga yang ia bentuk: WGS –Win Global Solusitama. Ekspor ladanya bangkit lagi. Lalu punya usaha Pomigor –pompa mini minyak goreng. Punya usaha konsultan –utamanya untuk orang-orang yang ingin bebas dari utang riba. Dan banyak lagi. Membantu melunasi utang adalah kegiatan sosial utamanya. Uangnya diambilkan dari kas WGS. Orang yang utangnya dilunasi harus tunduk pada aturan WGS –melunasi utangnya ke WGS tanpa bunga. Orang itu dididik untuk punya usaha. Agar utangnya ke WGS bisa lunas. Ide baru yang lagi ia bicarakan dengan travel umrah adalah ini: calon jamaah cukup membayar Rp 12 juta ke WGS. Bulan ketujuh mereka diberangkatkan ke Makkah-Madinah. WGS yang akan membayar lunas ke perusahaan umrah. Uang itu, kata Hendra, dibelikan mesin pomigor. Tiap bulan laba satu pomigor Rp 4 juta. Dalam tujuh bulan terkumpul laba Rp 28 juta. Masih ada Sisa laba. Diputar oleh WGS untuk berbagai usaha sosial. "Rombongan pertama umrah yang berangkat dengan skema ini di bulan Maret tahun depan," kata Hendra. Mereka adalah orang-orang Kalbar yang percaya dengan skema itu. Bulan ini mereka melunasi Rp 12 juta/orang. Pomigor adalah mesin yang bentuknya mirip pompa bensin di SPBU. Lebih kecil. Satu mesin berisi 110 liter. Disediakan kantong plastik. Boleh juga bawa botol sendiri. Mesin pomigor sudah disetel hanya bisa melayani satu pembelian satu liter. Kalau mau beli lima liter harus bawa jeriken sendiri. Atau diberi lima kantong plastik. Mesin pomigor juga sudah disetel harganya. Kalau operator membuat harga lebih tinggi mesinnya otomatis tidak bisa bekerja. Di Kubu Raya saja WGS sudah punya 16 pomigor. "Di seluruh Indonesia sudah ribuan," kata Hendra. Saya menyesal tidak mampir ke pomigornya yang di Kubu Raya. Sudah keburu ke bandara. Lain kali saya akan melihatnya. Agar tahu apakah yang ia ceritakan benarkah adanya. Sebenarnya Hendra tidak tahu siapa ayah ibunya. Sejak kecil ia diasuh kakeknya yang hidup sendiri –istrinya meninggal dunia. Umur enam tahun sang kakek meninggal. Hendra kecil jalan ke pelabuhan Pontianak. Ia naik kapal kayu. Ikut berlayar ke Sunda Kelapa, Jakarta. Di Jakarta Hendra dipungut orang Depok. Tokoh Muhammadiyah setempat. Disekolahkan. Sampai dapat kesempatan pertukaran pelajar ke dua negara.

#KhilafahAjaranIslam #BukaJalurGaza #Khilafah #StopIslamophobia #PalestinaButuhKhilafah #BukaPintuRafa #TNIbersamaRakyat #TNIdukungKhilafah #IslamKaffah #DemocrasyDie  #UrgensiTegaknyaKhilafah #SavePalestina #KhilafahSolusiUmmat #SaatnyaTNISadar

Document from Agung Sharea

photo content

an Islam ini. Karena itu banyak di antara mereka kemudian masuk Islam. Kisah lainnya, dalam Al-Bidâyah wa an-Nihâyah karya Ibn Katsir (10/275) disebutkan bahwa Khalifah Harun ar-Rasyid biasa mengangkat para qâdhi (hakim) yang adil dan tidak segan-segan mencopot para pejabat yang zalim. Keadilan Tidak Akan Terwujud Tanpa Islam Jelas, keadilan sejati tidak akan pernah lahir dari sistem sekuler yang menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan. Selama hukum tunduk pada hawa nafsu dan kepentingan manusia dan bukan tundak pada wahyu Allah SWT, selama itu pula ketidakadilan dan kezaliman akan terus merajalela. Islam hadir membawa sistem peradilan yang adil, tegas dan tidak tebang pilih. Di dalam sistem Khilafah Islamiyah, tidak ada seorang pun yang kebal hukum, termasuk Khalifah sekalipun. Tidak ada satu pun keputusan pengadilan yang bisa dibatalkan, termasuk oleh penguasa, hanya karena tekanan politik. Karena itu saatnya umat kembali pada sistem Islam secara kâffah. Tidak lain dengan menerapkan seluruh sistem Islam, termasuk sistem peradilan Islam, dalam institusi pemerintahan Islam, yakni Khilafah Islam. Hanya dengan itu, keadilan sejati akan benar-benar hadir di tengah-tengah umat manusia. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [] ---*--- Hikmah: Allah SWT berfirman: يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٰمِينَ لِلَّهِ شُهَدَآءَ بِٱلۡقِسۡطِ ۖ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَئَانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْ ۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰ ۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kalian sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah kalian! Karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh, Allah Mahatahu atas apa saja yang kalian kerjakan. (TQS al-Maidah [5]: Ayat 8). [] ---*--- UPDATE PALESTINA JANGAN LUPAKAN GENOSIDA PALESTINA Anak anak Gaza Ditembak Tepat Jantungnya "Saya yakin itu penembak jitu karena hanya satu tembakan yang mengenai jantungnya," kata seorang ayah yang kehilangan anaknya di Gaza. BBC mewawancarai puluhan dokter dan perawat yang menceritakan kejadian serupa. "Sebuah peluru benar-benar bersarang di otak anak tiga tahun," ujar seorang dokter. Di Tengah Kelaparan Gaza, Israel Cegat 22.000 Truk Bantuan Masuk Kantor Media Pemerintah di Gaza mengonfirmasi bahwa Israel sengaja menghalangi lebih dari 22.000 truk bantuan kemanusiaan memasuki wilayah tersebut. Dibunuh Saat Menunggu Bantuan Makanan Sedikitnya tiga warga Palestina tewas dan beberapa lainnya terluka saat menunggu bantuan makanan di utara Rafah, Gaza, menurut laporan rekan-rekan kami di Al Jazeera Arabic. Berikut terjemahan lengkapnya dalam bahasa Indonesia: "Kelelahan fisik ini begitu mendalam." Dewan Pengungsi Denmark (DRC) menyatakan bahwa 70% warga Palestina di Gaza menderita "kelemahan ekstrem akibat kelaparan" yang membuat mereka kesulitan untuk mendapatkan bantuan. Sumber : Al-Jazeera, BBC, dll TOTAL KORBAN Korban tewas total: > 60.000 jiwa Meninggal akibat kelaparan: ~180 jiwa (termasuk ~93 anak) Korban meninggal saat cari bantuan: > 1.000 orang sejak Mei 2025 Rumah sakit rusak/hancur: ~94% (hanya 16–19 beroperasi parsial) Serangan terhadap fasilitas medis: ~670–700 hingga Januari 2025 Tenaga kesehatan tewas: > 1.000 orang; ambulans rusak > 144 unit Cedera parah: ~22.500 orang hingga September 2024 Pengungsi internal: ~1,9–2 juta orang (~90% dari ~2,1–2,2 juta total) Hunian rusak/hancur: ~60% unit Sekolah/universitas rusak: > 300 fasilitas (puluhan total hancur) Masjid dihancurkan: > 200 masjid total Masjid rusak sebagian: > 140 masjid Kamp pengungsi diserang Al‑Shati: >90.000 pengungsi, beberapa masjid hancur

jiban atas pihak yang menuduh, sementara sumpah adalah keharusan bagi pihak tertuduh (HR at-Tirmidzi). Demikianlah. Sistem pembuktian dalam Islam memastikan: tidak ada orang yang dizalimi, tidak ada vonis tanpa dasar dan tidak ada yang kebal hukum. Dalam peradilan Islam, putusan qâdhi (hakim) dalam sistem Islam bersifat mengikat dan tidak dapat dibatalkan, kecuali adanya kesalahan prosedural atau bukti baru; atau jika belakangan terbukti putusan hakim tersebut bertentangan dengan nas-nas al-Quran dan as-Sunnah mutawatir, atau hadis-hadis shahih, atau Ijmak Sahabat dan Qiyas Syar’i (Dr. Mustafa al-Khan dll, Al-Fiqh al-Manhaji ‘alâ Madzhab al-Imâm asy-Syâfi’i, 8/172). Sebabnya, kata Imam an-Nawawi: وَاِنَّ الرُّجُوْعُ إِلَى الْحَقِّ أَوْلَى مِنَ التَّمَادِي فِي الّبَاطِلِ Sesungguhnya kembali pada kebenaran lebih utama daripada tetap bersikukuh dalam kebatilan (An-Nawawi, Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, 20/138). Namun, jika keputusan hakim sudah benar dan sudah sesuai dengan kaidah-kaidah ijtihad syar’i, maka keputusannya tidak bisa dibatalkan oleh siapapun, bahkan oleh Khalifah sekalipun. Dalam hal ini Imam an-Nawawi menegaskan bahwa jika seorang hakim telah memutuskan perkara maka keputusan tersebut tidak boleh dibatalkan oleh seorang pun kecuali jika tampak adanya cacat dalam keputusan itu (An-Nawawi, Al-Majmû ‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, 20/285). Karena itu dalam sistem peradilan Islam tidak dikenal sistem banding, kasasi, atau intervensi penguasa melalui abolisi dan amnesti. Ini adalah mekanisme penting untuk menjaga independensi dan kredibilitas pengadilan. Kisah Nyata Keadilan dalam Peradilan Islam Dalam Al-Kâmil fî at-Târîkh karya Ibn al-Atsir (3/98), dikisahkan bahwa Imam Ali ra., yang saat itu berkedudukan sebagai khalifah, pernah mengadukan seorang kafir dzimmi kepada Qadhi Syuraih ra. Beliau mengklaim baju besi milik beliau yang ternyata ada pada orang kafir tersebut. Qadhi Syuraih bertanya kepada Imam Ali ra., “Apa bukti Anda?” Imam Ali ra. menjawab, “Baju itu milikku. Aku tidak menjualnya dan tidak memberikannya kepada orang lain.” Imam Ali ra. lalu menghadirkan salah satu putranya untuk memberikan kesaksian di hadapan hakim. Namun, Qadhi Syuraih menolak kesaksiannya. Lalu Qadhi Syuraih memutuskan baju itu milik orang kafir tersebut. Imam Ali ra. pun menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Imam Ali ra. tidak menggunakan kedudukannya sebagai khalifah untuk membatalkan putusan. Ketika orang kafir tersebut menyaksikan sendiri keadilan yang luar biasa, dia akhirnya masuk Islam. Kisah lainnya, dalam Târîkh Dimasyq karya Ibn ‘Asakir (44/156), disebutkan bahwa Sahabat Salman al-Farisi ra. pernah berkata kepada Khalifah Umar ra., “Kami tidak suka Anda mengambil jubah itu sebelum Anda menjelaskan dari mana Anda mendapatkan jubah tersebut.” Khalifah Umar ra. menjawab, “Aku tahu engkau tidak menyukai ini. Sesungguhnya aku mempunyai seorang budak. Dialah yang memberi aku jubah ini.” Demikianlah. Khalifah Umar ra. tunduk pada pengawasan rakyat dalam urusan harta negara. Beliau tidak marah saat dikritisi oleh rakyatnya. Ini adalah prinsip keadilan yang tak terbantahkan. Kisah lainnya, dalam Musannaf Ibn Abi Shaybah (5/539) disebutkan bahwa Khalifah Umar ra. memotong tangan pencuri pada saat ekonomi masyarakat dalam keadaan normal, tetapi beliau tidak memotong tangan pencuri pada masa paceklik (krisis ekonomi). Ini menunjukkan pertimbangan kondisi darurat sosial dalam penerapan hudûd, bukan sekadar formalitas hukum. Kisah lainnya lagi, dalam Futûh al-Buldân karya al-Baladzuri (hlm. 422) disebutkan bahwa penduduk Samarkand pernah menulis surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dalam surat itu disebutkan bahwa pasukan Qutaibah tiba-tiba memasuki dan menyerang negeri mereka tanpa peringatan atau seruan (untuk masuk Islam) lebih dulu. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun segera menulis surat kepada qâdhi agar segera mengadlili perkara ini. Qadhi akhirnya mengeluarkan keputusan agar pasukan kaum Muslim segera keluar dari Samarkand. Keputusan ini ditaati oleh pasukan Islam. Penduduk Samarkand sangat kagum pada keadil