A Veil of Blood: The Minjestic Castle.
الذهاب إلى القناة على Telegram
Ancient bloodlines whispered, crimson omens awakened beneath the moon. Midnight gathered its coven ‘&. immortal whispers unveiled the fate beyond @Minjesticbot’s veil. ㅤ(09/08) nocturnes became forbidden ㅤomens of eternity: @Minjesdraft.
إظهار المزيدلم يتم تحديد البلدالفئة غير محددة
2 113
المشتركون
+2424 ساعات
+367 أيام
+3630 أيام
أرشيف المشاركات
[Notification] | @AutoBlokirBOT
Terdeteksi seseorang keluar: 🐥
Orang tersebut telah berhasil diblokir.
Pesan ini akan terhapus dalam 10 detik
Huft jangen dibales nanti dia gak bisa lihat text kangen gw.
Kamu pernah berpikir nggak kalau mungkin kamu terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri sampai akhirnya menganggap aku sudah nggak merindukanmu? Kamu menulis seolah-olah cuma kamu yang masih mengingat semuanya, seolah-olah aku sudah benar-benar melupakan apa yang pernah terjadi di antara kita. Padahal, kamu juga nggak pernah benar-benar tahu apa yang ada di pikiranku. Aku cuma nggak selalu mengungkapkan semuanya lewat kata-kata seperti yang kamu lakukan. Bukan berarti aku nggak punya perasaan, bukan berarti aku nggak pernah ingat, dan bukan berarti semuanya nggak pernah berarti buatku.
Jujur, aku kurang paham kenapa kamu harus menyimpulkan sejauh itu hanya karena kamu merasa aku sudah nggak merindukanmu. Kalau memang kamu sedang merindukanku, ya, akui saja kalau kamu rindu. Nggak perlu membungkusnya dengan kalimat seolah-olah aku sudah menjadi seseorang yang cuma bisa kamu kenang dari kejauhan. Kamu bilang aku adalah masa lalu yang nggak akan pernah kembali ke pelukanmu, padahal siapa yang bilang semuanya harus berakhir seperti itu? Kamu sendiri yang membuat kesimpulan, kamu sendiri yang menyusun kemungkinan terburuk di kepalamu, lalu seolah-olah aku yang membuatmu sampai berpikir demikian. Aku nggak merasa perlu membuktikan perasaanku lewat tulisan yang sama panjangnya hanya supaya kamu percaya kalau aku juga bisa merasakan hal yang serupa.
Aku juga punya kehidupan yang harus dijalani, punya kesibukan, dan punya banyak hal yang nggak selalu bisa aku jelaskan satu per satu kepadamu. Jadi, kalau aku nggak menghubungimu setiap saat atau nggak mengatakan rindu sesering yang kamu harapkan, jangan langsung menganggap aku sudah melupakanmu. Kamu nggak bisa mengukur perasaan seseorang hanya dari seberapa sering dia mengatakannya. Aku paham kalau terkadang kamu ingin diyakinkan, tetapi kamu juga harus paham bahwa aku nggak mungkin terus-menerus menebak apa yang sedang kamu pikirkan, apalagi kalau kamu memilih menyimpulkan semuanya sendiri tanpa bertanya langsung kepadaku.
Dan satu lagi, jangan terlalu cepat menempatkan dirimu sebagai seseorang yang ditinggalkan hanya karena keadaan sekarang nggak sama seperti dulu. Aku nggak bilang perasaanmu salah, kamu berhak merindukan siapa pun dan mengingat apa pun yang pernah berarti buatmu. Namun, bukan berarti caramu memandang keadaan sudah pasti benar. Aku nggak pernah meminta kamu untuk melupakan semuanya, tetapi aku juga nggak ingin setiap perubahan di antara kita selalu dianggap sebagai bukti bahwa aku sudah nggak peduli. Kalau memang ada yang mengganjal, tanyakan. Kalau memang kamu ingin tahu apakah aku masih merindukanmu, katakan saja. Sederhana, sebenarnya. Daripada membuat kesimpulan sendiri lalu menyampaikannya lewat kalimat panjang yang seolah-olah sudah mengetahui akhir dari semuanya.
Aku nggak mau memperdebatkan siapa yang lebih merindukan siapa, siapa yang lebih banyak mengingat, atau siapa yang lebih sulit melupakan. Buatku, hal seperti itu nggak perlu dijadikan perlombaan. Aku hanya ingin kamu berhenti menganggap bahwa diamku berarti aku sudah nggak punya rasa apa-apa. Kamu boleh punya caramu sendiri dalam menghadapi rindu, begitu juga denganku. Jadi, jangan merasa paling tahu tentang perasaanku ketika kamu sendiri bahkan belum benar-benar menanyakannya. Kalau kamu masih ingin tahu tentang aku, tanyakan langsung kepadaku, bukan kepada pikiranmu sendiri. Karena sejauh apa pun kamu menulis tentang apa yang kamu rasakan, itu tetap nggak akan menjelaskan apa yang sebenarnya aku rasakan kalau kamu bahkan nggak memberiku kesempatan untuk menjawabnya.
• Ada satu waktu di mana merindukanmu bukan lagi tentang keinginan untuk bertemu, melainkan tentang ketidakberdayaan untuk melupakan. Aku mendapati diriku kerap terjebak di antara tumpukan memori lama, mengulang kembali setiap percakapan kita dalam kepala, dan menyadari bahwa sedalam apa pun rasa ini menghujam, kamu hanyalah masa lalu yang tak akan pernah kembali ke pelukanku."
Sepertinya dia tidak kangen aku "Ada satu waktu di mana merindukanmu bukan lagi tentang keinginan untuk bertemu, melainkan tentang ketidakberdayaan untuk melupakan. Aku mendapati diriku kerap terjebak di antara tumpukan memori lama, mengulang kembali setiap percakapan kita dalam kepala, dan menyadari bahwa sedalam apa pun rasa ini menghujam, kamu hanyalah masa lalu yang tak akan pernah kembali ke pelukanku." Mar-2026.
