𝐎𝐅𝐂 𝐌𝟎𝟑-𝐆 𝐀𝐄𝐓𝐇𝐄𝐑𝐈𝐗
الذهاب إلى القناة على Telegram
𝐎𝐅𝐂 𝐌𝟎𝟑-𝐆 𝐀𝐄𝐓𝐇𝐄𝐑𝐈𝐗 𝐆𝐔𝐈𝐃𝐄 ────────────── ☏ ➤ @OFCM03GAETHERIX ☏ ➤ @MPPS_M03GAETHERIX ☏ ➤ @POSTER_M03GAETHERIX ☏ ➤ @SHITP_M03GAETHERIX ☏ ➤ @FESS_AETHERIX ────────────── ⌥⌦ @OFCAETHERIX_BOT ⌥⌦ @HELPAETHER_BOT
إظهار المزيدلم يتم تحديد البلدالفئة غير محددة
1 603
المشتركون
+1724 ساعات
+477 أيام
-63430 أيام
أرشيف المشاركات
1 614
ᯓ-:: below are the routers you can
explore. To ensure the system
runs stably, please click on the
provided code to verify that you
are not a robot 💙
✨🐻─ 𝐂𝐎𝐖𝐍 𝐁𝐀𝐒𝐄 ╴╴🔥
✨🐻─ 𝐒𝐄𝐂𝐑𝐄𝐓𝐀𝐑𝐘 ╴╴╴╴ ✏️
✨🐻─ 𝐂𝐎𝐑𝐄 ╴╴╴╴╴╴╴🔉
✨🐻─ 𝐌𝐏𝐏𝐒 ╴╴╴╴🗂
✨🐻─ 𝐏𝐅𝐏 ╴╴╴╴╴╴╴╴🛫
✨🐻─ 𝐒𝐅𝐒 ╴╴╴╴╴ 💾
✨🐻─ 𝐄𝐃𝐈𝐓𝐎𝐑 ╴╴╴╴╴ ⌛
✨🐻─ 𝐂𝐎𝐍𝐓𝐄𝐍𝐓 ╴╴╴╴╴╴ 📷
✨🐻─ 𝐌𝐄𝐍𝐅𝐄𝐒𝐒 ╴╴╴╴ 🛫
✨🐻─ 𝐒𝐓𝐀𝐅𝐅 ╴╴╴╴🚗
🫱 ─── the 𝗥𝗨𝗟𝗘𝗦 that you have
selected the :: verified path,
tap 𝗙𝗢𝗥𝗠𝗔𝗧 to go through
the arguments you have.
After that, send the format
through the available
𝗦𝗬𝗦𝗧𝗘𝗠 𝗚𝗨𝗔𝗥𝗗 💣
미니특공대 :: we wait you for to be our
best part. with love, Aetherix
command 💾
1 614
ㅤㅤ➖🔠🔠🔠🔠🔠🔠🔠🔠🔠🔠🔠 ➖
🥺:: an institution is not defined by
its name, but by the people
entrusted to carry it. Behind
every decision lies a mind.
Behind every movement lies a
hand. And behind every
achievement stands
a collective built with purpose 🐍
🕝╴╴╴aetherix was never designed
to be ordinary. It was built
upon discipline, precision,
discretion, and the willingness
to move when others choose
to remain still. Now, the gates
are opening once again. Not
for everyone :: ⌥⚙️
💻 :: for those who possess the
composure to lead, the
discipline to execute,
the creativity to create, and
the commitment to become
part of something greater
than a title ──┄── •••👾
🔃──💬── a selection for individuals
ready to take their place
within the structure — not
merely as administrators,
but as the people who shape
what happens behind the
scenes ?
1 614
Part 3Keesokan harinya, Gilang, Bayu, Bagus, dan Abi kembali ke Tugu Palagan Ambarawa dan menemukan jejak kaki yang mengarah ke jalan kecil. Mereka kemudian menemukan sebuah kotak logam tua bertuliskan “Ambarawa — 1945” yang berisi surat dari seseorang pada masa perjuangan. Surat tersebut menyampaikan pesan bahwa perjuangan para pejuang tidak sia-sia dan generasi setelah mereka harus meneruskan cita-cita kemerdekaan. Setelah kembali ke desa, Gilang menemukan kain merah putih kecil dengan tulisan “Untuk mereka yang meneruskan perjuangan” serta tanggal 15 Desember 1945. Hal itu membuat mereka menyadari bahwa pengalaman yang dialami Gilang berkaitan dengan Pertempuran Ambarawa. Mereka memahami bahwa kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan tanggung jawab setiap generasi untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai perjuangan. Sejak saat itu, mereka tidak lagi memandang 17 Agustus hanya sebagai hari perlombaan, tetapi sebagai hari untuk mengenang jasa para pejuang, menghargai kemerdekaan, dan meneruskan perjuangan dalam kehidupan mereka.
1 614
Part 2BUM! DOR! Suara ledakan yang memekakkan telinga seketika menyengat indra pendengar Gilang. Bau mesiu, debu, dan anyir darah langsung memenuhi rongga hidungnya. Gilang mengerjap kesakitan, mencoba menyesuaikan penglihatannya yang kabur. Ia tak lagi berada di padang rumput desa. Kini ia mengenakan celana loreng lusuh, dan sebuah senjata yang tergenggam kaku di tangannya-senjata yang sama sekali tidak ia tau cara penggunaan nya. "Gilang! jaangan melamun, tiarap! sekutu mengamuk dari arah barat" Sebuah teriakan panik membuatnya menoleh. Di sebelah kanannya, Bayu dengan seragam yang sama persis sepertinya, merangkak di balik gundukan tanah sambil memegang lengan kanan nya yang berdarah. Ia menoleh ke belakang, disana ada Bagus, Abi dan 4 warga lainnya yang sedang megangkat batang pohon pinang, yang seharusnya untuk perlombaan mereka kini menjadi bahan tempur. Suara tembakan bergemuruh di desa yang kini berubah menjadi medan perang. Gilang masih terpaku sebelum Bagus menariknya berteriak, “Ikut kami kalau mau selamat!” Mereka berlindung di balik reruntuhan bangunan, mereka menubduk ketika suara tembakan kembali terdengar. "Ini... benar-benar Ambarawa?" bisik Gilang. Abi menganggu pelan, "memang sepertinya, kita benat-benar ada dimasa itu." Bayu menunjuk ke arah batang pohon pinang, "bahkan kita masih membawa itu." Gilang menatap batang pinang itu. Aneh rasanya benda yang seharusnya untuk perlombaan kini menjadi alat tempur. "Pasukan kita mundur! Mereka datang dari arah barat!" Keempat sahabat itu saling berpandangan. Mereka ingin lari, tetapi dibelakang mereka terdengar banyak sautan pribumi yang meminta bantuan. Untuk pertama kalinya, Gilang sadar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut. “Kalau kita pergi sekarang, mereka yang di belakang bakal tertinggal,” ujar Gilang. Bagus menatapnya. “Terus kita harus apa?” Gilang terdiam sejenak, lalu menunjuk jalan sempit di samping mereka. “Kita bantu mereka lewat sana.” Mereka bergerak bersama warga mengevakuasi jalur aman menggunakan batang pohon pinang untuk menyingkirkan penghalang. Di tengah kekacauan, seorang pejuang tua berpesan.
“Jangan melawan dengan amarah. Lawan dengan keberanian dan persatuan.”Kalimat itu membuat Gilang mengerti bahwa perjuangan bukan tentang senjata terkuat, melainkan keberanian, strategi, dan persatuan. Namun sebelum Gilang sempat menjawab, terdengar suara ledakan keras. BRUUM! Gilang terjatuh, pandangannya menggelap diiringi teriakan Bayu yang memanggil namanya, hingga semuanya lenyap.
1 614
ᯓ★ 🎙. [ CONTENT & STAFF ]
Haii Haii sobat ATHERIX! Selamat datang di konten ATHERIX, cerita ini akan dibawakan oleh @eunieca dan ditulis oleh @SwettieLovess @kshbeyy @iBLIEZT @CH4SEATLA dan @eunieca , happy reading love 💕!
Part 1Menjelang 17 Agustus, kesibukan warga desa sudah biasa terlihat. Sore itu, di bawah terik matahari, Gilang, Bagus, Abi, dan Bayu berjuang menyeret batang pohon pinang yang licin dan berat untuk keperluan lomba panjat pinang menuju balai desa. Sambil beristirahat di dekat tugu Palangan Ambarawa, Gilang melontarkan keraguannya kepada teman-temannya. "Gus, lo ga merasa aneh apa sama cerita orang-orang tentang pertempuran Ambarawa itu? Masa iya jaman dulu cuma pakai bambu runcing bisa ngepung tentara sekutu bersenjata lengkap. Kayak... ga masuk akal." Abi dan Bayu langsung menepis argumen tersebut, menyebut Gilang terlalu banyak menonton fiksi dan kurang menghargai sejarah. Namun, sebelum perdebatan itu berlanjut, suhu udara mendadak drop secara drastis dan langit sore berubah menjadi gelap pekat dalam hitungan detik. Panik dengan perubahan cuaca yang tidak wajar, mereka memutuskan untuk segera pulang. Di tengah pelarian, angin kencang menerjang tubuh Gilang hingga ia kehilangan keseimbangan. Kepala belakang Gilang terbentur keras pada bebatuan jalan. Suara teman-temannya yang memanggil perlahan menjauh dan menggema, sebelum akhirnya kesadaran Gilang ambruk sepenuhnya dalam kegelapan.
